
(Puncak Bogor, awal Mei 2010)
Cahaya bulan sabit yang cukup terang tiba-tiba meredup tertutup arak-arakan awan gelap yang tertiup angin. Awan gelap bergerak cukup cepat, seolah memberikan sinyal bahwa dia tak mau mengganggu manusia-manusia di bumi yang sedang mengandalkan cahaya bulan untuk beraktivitas, apapun aktifitasnya...(hayooo aktifitas apa?)
Kelip lampu hias berwarna-warni pada deretan toko sepanjang jalan utama dibawah sana memendarkan cahaya yang rupawan, serasa melihat komedi putar dengan semarak cahaya. Lalu lalang beraneka macam kendaraan semakin menegaskan bahwa malam ini adalah malam minggu. Sesekali terdengar raungan knalpot motor yang nampak begitu angkuh ingin menguasai jalanan. Semuanya seperti diorama bagiku.....
Aku masih terduduk disini dengan sebuah buku dipangkuanku yang tak kunjung kubaca. Elang pun sepertinya lebih memilih menikmati malam ini tanpa banyak bicara, hanya memandang ke jalanan di bawah sana sambil sesekali menghirup
hot coffee late nya di sebelahku. Dia dengan kaos coklat tanah, warna kesukaannya, dipadu celana bermuda, tampak santai namun tetap mampu membuatku tak ingin memalingkan pandanganku darinya. Cafe langgananku mulai memperdengarkan musik jazz, life...selalu menyenangkan dan menenangkan mendengarkan alunan musik ini dan mampu membuatku bersemangat. Hmmhhpp...
Brrr, dingin sekali malam ini, aq membetulkan syal yang tergantung di pundakku. Dia menengok ke arahku, membantuku membetulkan syalku dan kemudian kembali asyik dengan rokoknya, entah sudah berapa batang dihisapnya.
"Permisi, satu
hot hazelnut coffee", seorang pramusaji menyodorkan gelas kopiku yang ke dua. Kopi dengan berbagai macam campurannya ataupun sekedar kopi murni selalu menjadi minuman pilihanku. "Thank u", ujarku. Aku melirik ke arah lelaki yang telah dua tahun itu menjadi kekasihku. Lelaki yang telah membuat hatiku penuh, penuh dengan buncahan emosi bahagia...entahlah, orang bilang, berbunga-bunga...aahh terlalu berlebihan menurutku. Tapi aku selalu bahagia menatap matanya yang tajam dan terkesan galak itu. Lagi, sebatang rokok disulutnya dan seperti biasa dihisapnya dalam, khas dengan gayanya. "Wkaakakaka", aku kaget mendengar suara tawa sekelompok remaja di ujung sana. "Huuhhff", gumamku. Namun Elang tidak bergeming, dia masih asyik dalam diamnya menikmati malam yang kian larut dan aku tak mau menganggunya, karena aku bisa berpuas diri meliriknya ato memandangnya cukup lama. Satu jam berlalu dan tak terasa....
(Yogyakarta, di sebuah asrama)
Pikiranku menerawang pada 14 Juli 2008.
"Elang", ucapnya, sambil menjabat tanganku,
"Andity", kusebutkan namaku. Kulepaskan jabatan tangannya, dia menatapku lekat dan tersenyum singkat. Dia duduk disampingku, menyalakan laptop kemudian menyulutkan api pada rokoknya dan menghisapnya dalam. Aku pun kembali menekuni buku "New Moon, Dua Hati". Diam dan sepi, tanpa obrolan hangat, tanpa canda tawa, tanpa basa basi. Hanya sesekali dia menawariku rokok dan melirik ke arahku. Dan sekali waktu mata kami beradu ketika diam-diam saling mencuri pandang, diakhiri dengan sebuah senyuman, sambil buru-buru kembali pada kesibukan masing-masing. "Teng-teng-teng", terdengar bunyi dentang jam, "Aaahh, sudah jam 2 pagi rupanya" aku membatin. Tidak ada kalimat-kalimat panjang yang terucap, sampai akhirnya kami berpisah kembali ke kamar masing-masing sebelum kena semprot pengawas.
Aku tersenyum mengingatnya, sedikit terkikik sambil menatapnya lekat. Dia menoleh, melihatku terseyum, membalas senyumku dan mengelus pipiku dengan lembut dan sejurus kemudian kembali lagi menatap langit dan jalanan. Masih dalam diam. Aku pun kembali menikmati bintang-bintang di langit yang perlahan mulai tertutup awan gelap. Mendung sepertinya ingin mengambil bintang dan bulan di langit untuk sejenak memberikan waktu bagi kami bisa saling merasakan kehadiran masing-masing, memandang penuh kehangatan, meski dalam diam tanpa banyak kata. Dan ya, aku tidak keberatan begini, meski tidak ada pembicaraan seru dan hangat, gelak tawa, deretan canda dan belaian manja seperti yang pernah ada. Aku masih mampu merasakan hangatnya cintamu lewat mata itu. Hanya dengan tatapanmu.....
Dua jam berlalu dan tak terasa.....
Terdengar denting piano dan sebuah lagu Trisha Yearwood - How do I live without you dinyanyikan oleh band tamu malam ini, masih terasa alunan jazz nya...
How do I
Get through one night without u
If I had to live without u
But candle live would that be...
Oohh I need u in my arm need u to hold
Ur my world my heart my soul
If u ever leave
Baby u'd take away everything
Good in my life
And tell me now
How do I live without U
I want to know
How do I breath without U
If u ever go
How do I ever..ever survive
How do I, how do I, oohh how do I live
Without U...
There'll be no sun in my sky
There would be no love in my life
There'll be no world have for me
And I need baby I dont know what I would do
I'd be lost if I lost U
If U ever leave
Baby u'd take away everything
Real in my life
And tell me now
How do I live without U
I want to know
How do I breath without U
If U ever go
How do I ever..ever survive
How do I, how do I, oohh how do I live
Please tell me baby..
How do I go on
If U ever leave
Baby u'd take away everything
Need u with me
Baby dont u know that's u'r everything
Good in my life
And tell me now
How do I live without U
I want to know
How i breath without U if U ever go
How do I ever..ever survive....
How do I, how do I, oohh how do I live
How do I live without U....
How do I live without U baby....
How do I live.....
Sekali lagi, Ya, aku tidak protes dengan kebersamaan kita kali ini, karena sepanjang lagu itu, kau terus mengenggam tanganku....
Note: Untuk cinta luar biasa
gambar diambil dari getty images