Hari telah gelap. Tibalah malam yang ditunggu. Sesorean tadi sungguh rintang kami dengan tugas kelompok. Dan inilah malam yang dijanjikan Muchtar, cerita! Yang lain sudah. Cerita keluarga dan bagaimana sampai ke kampus gajah. Hampir semua, kami adalah pejuang. Aku anak penjual gorengan di kebun binatang Bandung, Aziz anak guru madrasah di Solo dan Bimbo, hm… anak sastrawan pinggiran. Hanya Okan anak berada. Di rumahnya, mobil parkir tiga. Bapaknya pejabat PU (Pekerjaan Umum). Muchtar? Masih gelap.
Selepas magrib, kami langsung menyawang. Bukan membakar patung, itu istilah kami untuk perbincangan malam sambil bersantap. Di sebut nyawang karena kami sering melakukannya di jalan Gelap Nyawang. Siapa tak kenal Gelap Nyawang patih sang Prabu Siliwangi? Hampir semua, karena namanya jarang sekali muncul di buku sejarah atau tak pernah?!
“Aku traktir semuanya ya? Makan malam kali ini gratis!”
“Serius Muchtar? Gratis?”
Muchtar sehari-hari terlihat berkecukupan. Buktinya dia satu-satunya yang tak pernah meminjam uang Okan. Tapi tidak juga berlimpahan dan sekarang dia mentraktir kami?
“Iya, serius ini!”
“Perasaan ulang tahunmu masih lama deh?”
“Alhamdulillah Okan, cerpen saya dimuat di koran. Jadi mari makan.”
“Dan berbincang . . .”
Okan tersenyum dan menyipitkan mata sambil mengangguk-anggukan kepala. Kami memesan makanan.
“Jadi . . .”
“Eh kebiasaanmu banget. Belum apa-apa sudah membuat kesimpulan. Mulai dari awal dong Muchtar.”
“Baiklah Bimbo!”
Muchtar membelalangkan matanya sambil senyum menyeringai lalu kemudian tergelak geli. Begitulah memang Muchtar seorang yang terlihat selalu ceria.
“Bapakku, jangan kalian tanya tentang dia. Ibuku, bidadari senja.”
“Eh..eh.. Bimbo tolong jelaskan apa maksud anak ini?”
Bimbo hanya menggeleng dan mengangkat bahunya untuk tanyaku ini.
“Tenang Riki. Kujelaskan nanti. Bapakku, pergi. Ibuku sakit saat dia pergi. Sekarang ibu sudah begitu renta. Bapakku belum pulang juga. Ibu masih tetap menunggu. Dia hanya datang ketika aku hendak kuliah di sini. Memberi uang. Untuk kuliahku katanya. Tak banyak, tapi cukup untuk daftar kuliah.”
Suasana jadi sunyi. Beberapa pengamen yang datang kami beri uang untuk tak bernyanyi. Pedagang yang berteriak mencari pemesan makanannya kami hus-kan sambil memasang telunjuk di bibir.
“Ih kalian kenapa sih, biasa aja kali.”
“Kami ini sedang khidmat mendengar ceritamu, ayo lanjutkan.”
“Sudah kok ceritanya. Segitu aja ah.”
“Kakakmu?”
“Perempuan.”
“Kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, lainnya?”
“Kepanjangan kalau diceritain semuanya mah atuh.”
“Oke. Kesimpulannya, Ibumu tinggal sama, ehm, kakak perempuanmu kan? Lalu, bapakmu di mana sekarang?”
“Betul Aziz! Bapakku, entahlah.”
“Baiklah. Itu saja Muchtar?”
“Kukira.”
Makanan sudah datang. Kami pun mulai sibuk dengan santapan masing-masing. Pengamen silih berganti berdatangan, sendiri, berdua bahkan ada yang bertiga. Ada yang bergitar dan suaranya parau. Mukanya memelas tapi bengis.
“Pengamen tadi ya, pernah kukasih dua ratus, itu malah dilempar. Dibuang coba.” Bimbo mulai bercerita.
“Iya sih, sebenarnya kita juga gak tega ngasih gede. Suaranya gak bagus. Nyanyinya asal-asalan. Gak pake hati.” Aku menambahkan pendapatku.
“Tapi kalian tahu enggak? Dia tuh sering ngasih makan anak jalanan sekitar Dago loh. Aku pernah melihatnya.”
“Oh begitu Ziz. Ah jadi seperti pengamen yang suka bertiga itu dong.”
“Maksud Okan yang satunya membawa drum ganda kecil, satunya gitar kecil dan satu lagi bergitar besar?” tanya Muchtar.
“Iya. Mereka kan sering makan-makan sama anak jalanan juga ya.”
“Itu keluarga mereka Okan. Aku pernah mewawancarai mereka.”
“Oh . . . “
Dan inilah pengamen yang kami tunggu. Suaranya bagus. Dia menyanyi dari hati. Kurus dan bertinggi sedang. Kaos oblong dan celana jin biru agak longgar. Senjatanya adalah gitar dan pita suaranya yang adaptif untuk berbagai jenis lagu. Kami senang memesan lagu darinya. Kalau dia tak hafal lagunya, kami beritahu judul, beberapa hari kemudian, dia sudah bisa menyanyikannya.
Sepuluh ribu, itu jumlah yang kami berikan untuk dua lagunya, Everybody’s Changing-nya Keane dan Negeri di Awan-nya Katon. Tentu saja dengan tepuk tangan meriah setiap usai lagunya.
“Dia memang keren, sepuluh jempol untuknya!” Okan berseloroh dengan semangat. Kemudian datang pengamen lagi. Separuh baya kalau tak mau bilang tua. Ubannya sudah berlomba ingin jadi yang paling kelihatan di antara hitam rambutnya. Jenggotnya cukup lebat sedang kumis malu-malu menongol seperti hendak tak kebagian tempatnya di bawah hidung. Dia mulai dengan lagu “Ayah” Ebiet G Ade. Suaranya lumayan.
Badannya kurus sedikit tak terurus. Jaketnya hitam lusuh mengabu-abu. Gitar kayunya tampak rapuh. Tanpa diminta, dia menyanyikan lagu kedua, masih dari penyanyi yang sama: “Aku Ingin Pulang.” Nyanyiannya menggetarkan hati. Dia bernyanyi dengan hati. Membuatku ingat rumah. Malam ini aku tak akan ke asrama, aku pulang Ibu.
Ketika usai, kami lagi-lagi bertepuk tangan. Mata kami semua berkaca-kaca. Kecuali Muchtar. Dia menangis. Ah dia pasti rindu Ibunya. Jangan bayangkan dia menangis seperti perempuan dengan senggukannya. Hanya airmatanya saja meleleh dan jatuh dari mata.
Gelas plastik bening bapak pengamen kini akan makin penuh dengan tambahan uang kami. Aku seribu, Aziz dan Bimbo dua, Okan sepuluh. Muchtar masih diam kemudian lima puluh! Aku melongo, menggosok-gosok mata. Seumur hidupku di Gelap Nyawang, baru kali ini aku melihat ada orang yang berani merelakan lima puluh ribunya untuk pengamen.
Bapak pengamen itu membungkukkan badannya berterimakasih. Kami tersenyum haru dan menganggukkan kepala. Setelah bapak pengamen itu pergi, kami semua menatap Muchtar meminta jawaban.
“Kenapa?” Tanpa berdosa Muchtar bertanya heran.
Kami semua makin menatapnya dengan sengit. Mengadukan bibir kami masing-masing sampai sedikit mengerut. Dahi kami ikut berkerut juga. Dan gigi-gigi mulai bergemeretakan.
“Dia bapakku!”