Belakangan ini muncul kasus penipuan di industri keuangan. Banyaknya korban, justru membuat saya semakin yakin bahwa penipu terbesar justru berasal dari isi kepala kita sendiri. Sesuatu yang tersembunyi dalam pikiran kita.
Penipuan paling efektif jarang datang dari luar. Kalaupun datang, ia mudah dikenali. Tanpa disadari, bekerja dari dalam, dari pikiran kita sendiri. Dari sistem belief yang terbentuk perlahan, diwariskan, diperkuat, lalu diterima sebagai kebenaran mutlak tentang diri, dunia, dan tujuan hidup.
Dalam psikologi kognitif, keyakinan inti ini dikenal sebagai core beliefs. Aaron T Beck menjelaskan bahwa core beliefs adalah asumsi paling dasar yang kita miliki tentang siapa diri kita, seberapa berharga kita, dan bagaimana dunia memperlakukan kita. Masalahnya, core beliefs sering kali terbentuk bukan dari fakta objektif, melainkan dari pengalaman emosional awal, pola asuh, trauma, dan figur otoritas yang kita percayai tanpa reserve.
Di sinilah penipuan itu dimulai.
Seseorang yang sejak kecil terus mendengar bahwa dirinya kurang mampu, tidak cukup pintar, atau hanya dicintai jika berprestasi, akan membawa narasi itu hingga dewasa. Pikiran lalu bekerja dengan cognitive bias, kecenderungan mental yang membuat kita hanya menyerap informasi yang mengonfirmasi keyakinan lama, dikenal sebagai confirmation bias. Setiap kegagalan dianggap bukti bahwa keyakinan itu benar. Setiap keberhasilan dianggap kebetulan.
Psikologi menyebut pola ini sebagai self fulfilling prophecy. Keyakinan membentuk perilaku, perilaku memengaruhi hasil, lalu hasil memperkuat keyakinan. Lingkaran tertutup. Rapi. Kejam.
Trauma memperkuat mekanisme ini. Dalam kerangka trauma psychology, terutama yang dijelaskan oleh Bessel van der Kolk, trauma tidak hanya disimpan sebagai ingatan naratif, tetapi sebagai sensasi tubuh dan respons otomatis. Maka seseorang bisa tahu secara logis bahwa ia aman, namun tubuhnya tetap bereaksi seolah dunia sedang mengancam. Pikiran lalu menciptakan rasionalisasi untuk perasaan itu. Realita disesuaikan dengan luka.
Belief system yang keliru sering diwariskan oleh role model. Orang tua, guru, pemimpin, bahkan figur publik yang kita kagumi. Albert Bandura menyebut ini sebagai social learning theory. Kita belajar bukan hanya dari pengalaman langsung, tetapi dari observasi. Ketika role model memandang dunia dengan rasa takut, sinisme, atau kontrol berlebihan, cara pandang itu diserap tanpa disadari. Bukan karena kita bodoh, tetapi karena otak manusia memang dirancang untuk meniru demi bertahan hidup.
Masalahnya muncul ketika sistem belief tersebut tidak lagi relevan dengan realita dewasa. Dunia berubah, kapasitas kita berubah, tetapi narasi di kepala tertinggal. Inilah yang dalam psikologi disebut maladaptive belief. Ia pernah berguna, kini justru merusak.
Kepercayaan diri yang rontok sering bukan karena kegagalan aktual, melainkan karena internalized criticism. Suara di kepala yang terus mengoreksi, meremehkan, dan mengancam. Freud menyebutnya superego yang terlalu keras. Psikologi modern menyebutnya inner critic. Apa pun istilahnya, efeknya sama. Kita hidup seolah diawasi hakim internal yang tidak pernah puas.
Ironisnya, pikiran merasa sedang melindungi kita. Dengan membuat kita waspada. Dengan menahan kita dari risiko. Dengan berkata jangan mencoba, nanti sakit lagi. Namun perlindungan ini sering berubah menjadi penjara.
Kesadaran adalah titik awal pembebasan. Dalam terapi kognitif, proses ini disebut cognitive restructuring. Mengidentifikasi pikiran otomatis, menantang validitasnya, lalu membangun narasi yang lebih akurat dan berbelas kasih. Bukan afirmasi kosong, melainkan evaluasi berbasis bukti.
Carl Rogers menekankan pentingnya unconditional positive regard. Penerimaan tanpa syarat. Bukan berarti pasrah, tetapi mengakui bahwa nilai diri tidak harus dinegosiasikan dengan performa atau validasi eksternal. Dari sinilah self worth yang stabil mulai tumbuh.
Penipu terbesar kita bukan pikiran itu sendiri, melainkan keyakinan lama yang tidak pernah diperiksa. Pikiran adalah alat. Sangat canggih. Sangat setia. Namun seperti semua alat, ia bekerja sesuai program yang ditanamkan.
Resonansi adalah tahap lanjut dari penipuan yang halus. Ia tidak lagi bekerja lewat keyakinan eksplisit, melainkan lewat keterhubungan makna yang terasa intim dan personal. Pikiran tidak berkata ini benar. Pikiran berkata ini terasa cocok.
Seorang penulis naskah, misalnya, menulis tentang kehilangan, pengkhianatan, atau kehancuran relasi. Ia merangkai adegan, dialog, gestur kecil yang penuh emosi. Dalam proses kreatif itu, otaknya sedang melakukan deep simulation. Dalam psikologi kognitif, ini berkaitan dengan mental imagery dan narrative transportation, kondisi ketika seseorang masuk terlalu jauh ke dalam dunia naratif hingga batas antara pengalaman imajiner dan pengalaman personal menjadi kabur.
Setelah itu, realitas mulai terasa akrab.
Seseorang berbicara dengan nada tertentu.
Sebuah peristiwa terjadi.
Satu adegan kehidupan sehari-hari lewat begitu saja.
Namun pikiran penulis segera beresonansi. Ia mengasosiasikan kejadian itu dengan naskahnya sendiri. Ini disebut pattern matching, kemampuan otak mengenali pola dan memberi makna. Masalahnya, otak tidak netral. Ia bekerja berdasarkan salience. Apa yang baru ditulis, dipikirkan, dan dirasakan akan menjadi lebih menonjol.
Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai availability heuristic. Kita menilai realitas berdasarkan informasi yang paling mudah muncul di kepala, bukan yang paling akurat. Akibatnya, penulis merasa kejadian itu relevan secara personal, seolah hidup sedang berbicara langsung kepadanya. Padahal bisa jadi itu hanya kebetulan statistik yang diberi makna berlebih.
Di titik ini, resonansi berubah menjadi identifikasi.
Identifikasi emosional membuat seseorang merasa naskahnya bukan sekadar cerita, melainkan cermin. Ini wajar dalam proses kreatif. Namun tanpa kesadaran metakognitif, batasnya mudah runtuh. Pikiran mulai berkata, ini tentang aku. Dunia seakan mengonfirmasi cerita yang sedang ia tulis.
Psikologi menyebut ini sebagai apophenia, kecenderungan melihat hubungan bermakna di antara peristiwa yang sebenarnya tidak saling terkait. Bukan gangguan. Bukan delusi. Melainkan fitur otak manusia yang terlalu rajin mencari makna.
Di sinilah analogi Tachyon anti-telephone menjadi menarik.
Dalam fisika teoretis, tachyon anti-telephone adalah eksperimen pikiran tentang partikel hipotetis yang bergerak lebih cepat dari cahaya dan memungkinkan informasi dikirim ke masa lalu. Jika itu mungkin, maka sebab dan akibat runtuh. Pesan dari masa depan bisa memengaruhi masa kini. Realitas menjadi loop.
Dalam konteks psikologis, resonansi bekerja mirip.
Narasi yang kita tulis hari ini terasa seolah berasal dari pengalaman masa depan.
Pengalaman hari ini terasa seolah sudah ditulis sebelumnya.
Pikiran menciptakan causal loop. Cerita memengaruhi persepsi. Persepsi memperkuat cerita. Waktu psikologis menjadi non linear. Kita merasa sedang menemukan makna, padahal sedang mengurung diri dalam gema sendiri.
Fenomena ini diperkuat oleh confirmation bias. Setiap kejadian yang sesuai dengan naskah dianggap bukti. Yang tidak sesuai diabaikan. Maka resonansi terasa semakin nyata, semakin personal, semakin tak terbantahkan.
Padahal yang terjadi bukanlah dunia berbicara pada kita, melainkan pikiran kita sedang berbicara terlalu keras.
Kesadaran kritis diperlukan di sini. Dalam psikologi, ini disebut metacognition, kemampuan mengamati proses berpikir itu sendiri. Menyadari bahwa rasa relate tidak selalu berarti relevan secara faktual. Menyadari bahwa kedalaman emosi bukan jaminan kebenaran objektif.
Resonansi bukan musuh. Ia sumber empati, kreativitas, dan seni. Tanpanya, tulisan akan kering. Namun tanpa jarak, resonansi berubah menjadi penjara makna. Kita berhenti melihat dunia apa adanya. Kita hanya melihat pantulan cerita sendiri.
Maka tugas penulis, dan manusia pada umumnya, bukan mematikan resonansi, melainkan mengelolanya. Mengingat bahwa cerita adalah alat, bukan ramalan. Bahwa pikiran bisa menciptakan koneksi yang indah, sekaligus ilusi yang meyakinkan.
Di titik itu, kita kembali pada disiplin dasar.
Mengamati.
Memverifikasi.
Memberi jarak.
Agar narasi tetap hidup, tanpa mengambil alih realitas. Agar kita menulis dunia, bukan terjebak di dalam gema kepala sendiri. Refleksi adalah bentuk debugging paling manusiawi. Duduk sejenak, mengamati isi kepala, dan bertanya dengan jujur. Apakah ini fakta, atau hanya cerita lama yang terus diputar ulang.
Di titik itu, kita tidak sedang melawan diri sendiri. Kita sedang memperbarui sistem operasi batin, agar lebih selaras dengan realita, dengan pertumbuhan, dan dengan hidup yang sedang kita jalani sekarang.


