
Tidakkah menggemaskan melihat kucing-kucing ini ? Ya, merekalah yang dulu menemaniku dan suami di rumah baru kami saat itu di Tahun 2017, setelah tiga tahun hidup bersama di pondok mertua indah. Mereka adalah Tracy si belang tiga, yang berusia sekitar 5 tahun saat RIP di halaman SDN Kandangan 1 pada 18 Desember 2021. Ya, bocah cantik ini kuambil dari belakang rumah mertua, entah kenapa suka kucing belang tiga dan pas kutanya tetangga belakang rumah ngga ada yang punya, ya sudah kubwa masuk dan awalnya dia masih malu-malu, mainnya suka di dapur saja dan ngga mau dipegang, tapi lama-lama manja juga hehehe… Dan Tracy-lah satu-satunya kucing di foto ini yang ikut pindahan denganku dan suami ke Sleman saat pandemi melanda di Bulan Juli 2020. Bersama delapan adiknya yang ikutan pindahan (Timy, Milo, Nora, Ma’il, Ciko. Cenil, Lupis dan Monas) kami hijrah ke tempat baru yang lebih nyaman buat bermain mereka dibanding tinggal di Perumahan DGC Depok yang tidak begitu ramah dengan kucing-kucing, maklumlah padat penghuninya meski kini sebagian rumah ditinggalkan pemilik aslinya seperti diriku dan suami, rumah-rumah yang kemudian dijual atau dikontrakkan. Tracy adalah gadis cantik yang selalu sehat, kepergiannya yang mendadak (kata orang-orang sini kemungkinan kesembur bisa ular, maklumlah banyak semak-semak di kawasan tanah kas desa yang kami kelola ini) di kala aku baru saja pulang dari bepergian membuatku tidak lagi beraktivitas selama berbulan-bulan kemudian di sekitar bagunan SD itu, juga tidak belanja apapun di warung sebelahnya yang biasanya kudatangi kala abis pulang bersepda dan Tracy yang sudah makan abis subuh dan langsung main ke SD itu menghampiriku untuk ikutan belanja dan ngikut pulang ke rumah sebentar dan kemudian main lagi ke SD itu hingga petang menjalang. Tracy saat RIP dalam gerimis hujan kugendong dan kuciumin, suami dan dua orang yang bantu menguburnya, Pak Tri dan Pak Apud penjaga SD hanya bisa terdiam ikutan sedih karena mereka tahu betapa sayangnya aku sama Tracy. Tracy pernah terkunci di dalam kelas sehingga aku harus minta tolong Pak Apud yang rumahnya belakang SD untuk bukain kelas, saat kucari ngga ada dimana-mana dan kuteriakin barulah dia menyahut dari dalam salah satu kelas. Tracy emang terkenal di SD itu, suka main sama guru-guru dan murid-murid SD (yang posisinya setelah dia tiada digantikan oleh Harum kucing asli sini yang sempat tergusur kepopulerannya oleh Tracy dan akhirnya dia jadi penghuni sekitar SD, kini pun di usianya antara 7 – 8 tahun Harum juga sudah sakit dan tinggal menunggu waktu untuk pergi). Tracy wajib tidur di dalam rumah jika malam, sementara kalau lainnya sudah kubiarkan main bahkan ngga harus tidur di rumah jika malam karena semua kucing memang sudah disteril sejak sebelum pindahan ke Sleman. Tracy kalo pas hujan kadang suka males lari dan tetap kehujanan dimana dia pas nongkrong. Pernah beberapa kali pas hujan dan dia belum pulang aku cariin pake payung hingga basah kuyub dia tetap diam dan seolah nunggu aku untuk menjemput dan menggendongnya pulang, oalaah Nak ! Prinsipku untuk kucing yang lain biarlah mereka bebas bermain, jika lapar mereka tahu harus pulang tidak berlaku untuk Tracy. Karena pada kubebasin main itulah walhasil Ciko dan Lupis menghilang dan entah dimana mereka kini atau sudah RIP karena kami cari-cari ngga ketemu, tetapi insyaallah apapun yang terjadi sudah kuikhlaskan. Sementara Nora dan Milo juga sudah RIP yang ketahuan dan kukubur secara layak sebagaimana Tracy. Jadi sekarang tinggal empat ekor saja kucing-kucing pindahan dari Depok yang ada bersama kami di Sleman, lainnya yang masih ada hingga kini adalah kucing-kucing yang dibuang atau kurawat sejak mereka kitten yang kutemukan di jalan sekitar rumah.
Kucing kedua di foto ini yang di tengah adalah Pipin. Dia dan Tracy adalah dua kucing yang kubawa pindahan dari rumah mertua ke rumah di DGC itu. Pipin kutemukan saat saya dan suami masih sedih dengan RIP-nya Josy yang mendadak setelah muntah. Dalam perjalanan pulang ke rumah mertua kala itu ada kucing kecil jelek di pinggir jalan yang sepertinya ditaruh gitu saja setelah kecemplung di got, badannya bau dan Pipin rupanya pincang, mungkin abis ketabrak motor, jatuh ke got dan dibawa keluar got, dibiarkan duduk di pinggir jalan. Kasihannya kamu Naak…akhirnya kami bawa Pipin naik motor pulang dan kubawa ke petshop yang ada dokternya deket rumah mertua, punyanya Bu Dewi. Pipin dibersihan badannya dan karena ngga ada dokter, pas aku lagi ngantor di Bandung ditelpon tentang kondisi Pipin. Buru-buru aku nyari info alternatif vet di Depok, dan pas-lah saat itu Pusat Kesehatan Hewan Kota Depok baru dibuka, akhirnya aku bisa kontak dokter hewannya dan mereka minta saya untuk mengantarkan Pipin ke Puskeswan. Berbekal hubungan baik dengan para staf pethopnya Bu Dewi aku minta mereka kirim Pipin pake Gojek ke Puskeswan, ongkos dihitung belakangan, jadilah akhirnya Pipin dirawat inap di Puskeswan Depok dan alhamdulillah kakinya Pipin ngga patah, cukuplah diolesin minyak sereh atau minyak gosok pelan-pelan lama-lama akan normal kembali. Jadi sepulang dari Bandung kami pun bawa Pipin pulang dan dirawat di rumah hingga sembuh. Pipin ini jugalah yang membuat kami jadi takjub dengan penemuan hp suami setelah hilang sebulan ! Jadi ceritanya suami mau berangkat ke Pekanbaru untuk membenahi sistem administrasi perkara di Kejaksaan Negeri Riau, berangkat pagi hari banget dan sudah dibelikan tiket pesawat. Eeeh sore itu Pipin yang mulai sakit-sakitan dan dirawat di Ratu Petshop yang ada vet-nya (drh. Rizky) bisa pulang katanya, jadi kami jemput Pipin dan kok ya pas di depan gang ketemu kitten mirip Pipin warna oren, akhirnya aku ambil untuk dirawat (kami beri nama Tory). Sepulang dari petshop sudah malam sekitar jam 21 dan suami baru menyadari hp-nya ngga ada, waduuh gimana ini ? Aku nelpon ke Ratu Petshop ngga ada hp ketinggalan, tapi suami tetap berusaha menyusuri jalanan antara rumah dan petshop, dicari hingga malam tetap ngga ketemu. Pasrahlah kami mengingat semua data dan informasi ada di hp tapi untungnya info tiket ke Riau dikirim juga ke email suami, jadilah suami mencatat dan bisa berangkat naik pesawat ke Pekanbaru. Seminggu berlalu dan suami pulang ya kami anggap hp sudah hilang, rupanya Kejari Pekanbaru memberikan hp baru ke suami, jadilah kami akhirnya lapor ke Grapari tentang peralihan hp hilang tsb dan memasukkan chip nomor yg sama ke hp yang baru. Kejadian itu sekitar Bulan September 2018, dan saat sebulan kemudian ketika aku ada acara di Jogja, suatu malam suami telpon kalo hp lama ketemu, diduduki Pipin di deket pos satpam komplek rumah yg berada di blok yang sama dengan rumah kami ! Kok bisa ?? Entahah, kata suami saat itu pas malam-malam cari Pipin untuk dibawa pulang, karena Pipin suka nongkrong di sekitar pos satpam ya suami kesana…dan dia lihat Pipin menduduki hp, ternyata itulah hp suami yang hilang sebulan sebelumnya, sungguh ajaib ! Entah dimana sebelumnya kok ya ngga terlihat sama-sekali sebelumnya, karena sepulang dari Pekanbaru pun suami sempat cari juga tapi ya seantusias sebelumnya karena sudah ada hp baru pemberian Pak Kajari Pekanbaru hehehe…. Dan, ternyata sakitnya Pipin makin parah, dia kena gagal ginjal, sempat masuk klinik lagi dirawat drh. Rizky yang menganjurkan agar Pipin dirawat di RSH Ragunan, tapi aku ngga mau. Biarlah Pipin kubawa pulang saja, dia suka tiduran di bantal besar yang kuletakkan di atas sofa depan TV, jadi kalaupun dia ingin jalan-jalan di dalam rumah kami meski kecil areanya dia tetap bisa, aku suapin Pipin setiap saat kalo dia mau makan meski badannya sudah kurus sekali tinggal tulang dan kulit, Pipin adalah anakku yang kucintai sepenuhnya. Suatu malam tanggal 26 Desember 2018 seusai dia kusuapi sedikit aku menoleh melihat TV di depan, dan rupanya itulah terakhir kali kulihat Pipin hidup, setelahnya saat kulihat lagi dia sudah pergi meninggalkan kami di rumah, yang penting kamu pergi dengan cara yang baik di rumah ya Nak ! Malam itu juga Pipin kami bawa ke rumah mertua untuk dikuburkan karena halaman mertua sangat luas, dan disanalah kuburan para kucing-kucing kami selama ini. Akan halnya Tory yang kutemukan di jalan saat mengambil Pipin dari petshop, jadi kucing sehat dan bereinkarnasi seperti pengganti Pipin, sayangnya beberapa bulan kemudian dia kena virus Panleu dan pergi meninggalkan kami di Bulan Juli 2019. Saat itu kami juga kehilangan Ettore dan Enrico, dua bersaudara yang juga kena virus yang sama, kepergian 3 ekor kucing dalam waktu berdekatan membuatku sedikit trauma tapi yaa karena takdir pulalah yang akhirnya aku tetap rescue kucing-kucing berikutnya hingga saat kepindahan kami ke Sleman setahun kemudian.
Kucing paling ujung di sofa dalam foto ini adalah Puput. Dia kutemukan di malam menjelang Idul Fitri tahun 2017. Saat itu Tracy kutitipkan ke Bu Dewi untuk disteril hingga dirawat sementara karena beberapa hari setelah lebaran aku dan suami mau pulang ke Ngawi. Jadilah karena Pipin sendirian di rumah maka si Puput aku ambil dan bawa pulang untuk menemani Pipin, selama kami di Ngawi aku minta tolong Bapak petugas kebersihan perumahan yang rumahnya di belakang komplek untuk nengok dan ngasih makan tiap hari. Dan rupanya beberapa saat setelah kami pulang dan menjemput Tracy juga (foto ini diambil sesaat kami balik dari Ngawi) kami ketahui kalo Puput ini lagi bunting ! Waduuh dengan siapa ya, masa dengan Pipin ? Dan di Bulan Agustus 2017 Puput pun melahirkan tanpa ribut di bawah kolong dipan kami di dalam kamar, langsung bersih tanpa ada bekas darah, sungguh luar baisa dan tahu anaknya kaya’ apa ? Semuanya tiga ekor dan bercorak tabby alias mujaeeeerrr hahahaha kukasih nama Bubu, Bebe, dan Bobo padahal Puput rambutnya putih dan cuma ada corak hitam di kepalanya ! Berarti pejantannya bukan Pipin hehehe, kata suami : kan pas ditemukan dulu Puput berusaha nyeberang jalan yang ruameee, kaya’nya dia stress karena bunting, untung diselamatkan. Nah, Puput ini akhirnya aku steril setelah dia birahi lagi dan berusaha kabur dari rumah melalui jendela bagian atas, dia berusaha nyari pejantan sepertinya dan untung ketahuan jam 3 pagi yang langsung diamankan di kandang sebelum dibawa ke vet paginya untuk disteril. Awalnya dia sudah ada tanda birahi tapi aku steril Pipin duluan karena dia pejantan dewasa saat itu, dimana selain Puput, aku sempat rescue kucing dari Stasiun Cikini (kukasih nama Celly plus dua kittennya namanya Coky dan satunya setelah direscue trus RIP di rumah). Si Celly juga birahi saat itu sehingga Pipinlah yang kukandangin biar dia ngga ngawinin Celly dan Puput, hingga esoknya disteril. Nah si Celly akhirnya ada yang mau adopsi bersama Coky juga, sehingga aku dengan senang hati memberikannya setelah Celly kubayarin sterilnya. Saat Puput akhirnya disteril rupanya badannya besar sehingga vet kesulitan untuk menjahit perutnya, haduuuuh dia sampe diblebet pake kain kassa biar jahitannya segera rapat dan kering. Pas di bawa pulang ketiga anaknya masih berusaha menyusu dan sempat pula kain kassanya lepas atas kolaborasi bersama antara Puput yang gigit-gigit plus ketiga anaknya hahaha pokonya drama deh hingga harus dijahit beberapa kali dan akhirnya kemudian jahitannya beres lagi dan bisa mengering. Sekitar Desember 2017 salah satu anaknya, Bobo. terlihat punya luka di badannya dan mungkin karena infeksi akhirnya dia RIP. Tinggallah Bubu dan Bebe yang masih bertahan hingga kemudian kami sterilin juga karena keduanya betina, menjaga biar mereka ngga bunting. Sementara Puput setelah disteril badannya membesar seperti beruang kutub dan susah banget untuk dipegang, akhirnya kami berinisiatif untuk membawa Puput, Bubu dan Bebe untuk dilepaskan di rumah mertua saja karena halaman rumah luas (kucing kami saat itu masih ada Tracy, Pipin, juga bertambah ada Acil, Timy, Sisi dan Blacky). Akhinya kami bawa mereka sekitar Bulan Mei 2018 ke rumah mertua, tapi kata mertua si Puput ngga kelihatan lagi sementara kalo Bubu dan Bebe terlihat kerasan di rumah. Ya sudahlah, kami pasrah dan ikhlas saja karena Puput toh sudah disteril, insyaallah semesta menjaganya. Sementara itu si Bubu belakangan kerasan di tetangga belakang rumah mertua, badannya besar sekali hahaha…sementara Bebe tetap ada di rumah mertua hingga kami pindahan ke Jogja. Dia ditemani Acil yang tidak ikutan pindah karena sudah kami taruh di mertua sejak Oktober 2019 barengan dengan Blacky yang kemudian juga lebih kerasan di tetangga belakang rumah mertua. Acil dan Bebe kini juga sudah RIP, sepertinya Bubu dan Blacky juga kerena sudah tidak pernah terlihat lagi. Dan di rumah mertua sekarang ada kucing-kucing milik kakak suami yang ditaruh situ yang dikasih makan secara patungan oleh para saudara suami di Depok.
Panjang banget ya tulisanku kali ini, sudah lama ngga nulis jadi kangen. Awalnya dari satu foto tentang Tracy, Pipin dan Puput jadinya juga cerita cabang-cabang perkucingan yang pernah kami rawat. Mereka insyaallah menunggu kami kelak jika sudah dipanggi. Mama kangen kalian semuanya Nak !




















