ponakan dan eek-nya

Sudah menjadi kebiasaan kedua keponakanku, bahwa setiap habis be-ol, mereka tunjukkan sejumlah kotorannya ke ibunya. Lantai kamar mandi belepotan eek. Dan yang menjadi standar kualitas adalah dimensi panjang dan kuantitas atau jumlah. Jika kotorannya panjang-panjang dan banyak maka berarti dia “sukses”.
Karena dengan demikian maka berarti dia telah makan makanan bergizi dan sayuran dengan cukup baik, seperti yang dianjurkan, seperti yang ditentukan dan terlebih, telah memenuhi semacam SOP (Standar Operational Procedure ) .

Dan apabila warna kotorannya sudah bisa berwarna kuning, panjang dan banyak, dengan bahagia bakal ditunjukkan ke mama-nya. “maa…eek-ku banyak…panjang2…..yang paling panjang ini papanya, trus ini mamanya, dan ini anak-anaknya..!”. respon sang mama pun baik, agar anaknya tetap termotivasi untuk makan makanan sehat..…”lhooo iyaa….…mas pinter…adik juga pinterr..sehat yaa..!!”.
Demikian berulang kali hal itu terjadi. Hal itu berawal dari nasihat yang dibungkus dalam bentuk fabel dan cerita2. dan kemasan nasehat untuk terbiasa makan sehat dan doyan sayuran itu cukup mengena, sangat menarik minat dan perhatian kedua keponakanaku.

Ada kejadian menarik, ketika tadi siang, si rifki, menangis sejadi-jadinya. mau tahu sebabnya? karena eek-nya disiram oleh sang ibu. Dalam pandangannya eek-nya itu amat berharga, karena dengan demikian dia dapat menunjukkan pada ibunya, betapa dia sudah sangat sesuai dengan nasihat2 dan harapan sang ibu seperti yang termaktub dalam fabel gajah yang pernah diceritakan kepadanya.

“Ya Allah….mana eek-ku!” ” mana eek-ku, Ya Allah…!!” …begitu teriaknya berkali2 …sambil terus memukul2 ibunya, agar tidak jadi menyiram eek-nya. saat itu, eek-nya terlihat menjadi mahapenting bahkan lebih penting dari ibunya sendiri.

Kakakku, sang ibu, sejurus kemudian, terduduk lesu di ruang tamu, berpikir keras, mengevaluasi dan mengkoreksi cara penyampaian, merekonstruksi bentuk dan alur cerita,menundukkan kepala sambil bergumam lirih, “mudah-mudahan masih belum terlambat !!”

NB :
anak kecil dan kita, adalah sama2 manusia, hanya berbeda level kesadarannya. Kita adalah “anak kecil” bagi seseorang / zat yang berkesadaran lebih tinggi dari kita. Kita mungkin juga sering menangisi “tai / eek” kehidupan yang semestinya dibuang, sebagai sirkulasi kesetimbangan dari mekanisme sistem. Tapi kita tak mengerti dan ingin terus mendekap tai yang “berharga” itu bersama kita, bahkan, mungkin, kita berdoa untuk hal itu.

tahu-tidak tahu

orang 1 : “Untuk apa kau disini ( dunia ) ?”
orang 2 : ” Saya tidak tahu ”
orang 1 : “Darimanakah engkau datang?”
orang 2 : “Saya tidak tahu”
orang 1 : “Kemanakah engkau akan pergi?”
orang 2 : “Saya tidak tahu”
orang 1 : “Apakah kamu tidak tahu?”
orang 2 : “Ya. Saya tahu.”
orang 1 : “Apakah kamu tahu?”
orang 2 : “Saya tidak tahu.”

hehe..

Dari obrolan fahri dan si maria dalam filem ayat-ayat cinta membuat saya berkhayal tentang gimana ya perasaan kita kalau ketemu jodoh. karena ini memang obrolan ngalor ngidul. Maka saya juga ngomong ngalor ngidul alias ngawur tentang perasaan kita ketika bertemu dengan jodoh kita untuk pertama kalinya. Ciri-cirinya mungkin bisa digambarkan seperti ini :

1. Ndas theng-theng.
2. Sirah munyeng.
3. Awak nggliyeng.
4. Moto peteng.
5. Omong gayeng.
6. Ati seneng.
7. “burung” nga…eng ( sensor ).

Nah, bagi cowok yang bertemu cewek pertama kali sudah ada ketujuh tanda2 itu..nah itu jodohnya paling.. .:)) hauhauha

heuheueh…( guyonan ).