Another episode of free writing

In college, I remember sitting at the table for the late dinner with the other three friends. It was a simple dinner at “Pecel Lele” near where we stayed during college.

We talked about the future and what motivated us.

I said that I think my life in the future (which is now) will be okay as long as I have enough money to buy at least one book each month.

I remember one of my friends really frowned his eyebrows when I said that.

He said, “No way, I could never be like that.” Because this person admitted what motivates him is power. He wants to be on the top of hierarchy, have a sense of control, and giving command. Yeah at least this person knew himself well. It’s not a problem to realize that someone can’t stand a simple life–as long as this person really make effort towards the life they crave.

Turns out this person becomes a CEO today.

And me? I am still a simple, average person from then until now.

I live in my parents’ house, save a big amount of my income (which I also don’t know what it’s for other than for retirement or emergency), and then what else…. hmm I feed the stray cats who often comes to my house every day.

Somehow that last activity gives me most enjoyment these days. Especially when a mother cat that I used to feed came with her two children. Almost a month they hang out in front of the house everyday.

Every time I open the window at night and find this mother cat and two kittens sleep peacefully outside, I feel really calm and happy.

I remember one time when I was in my second year of career. One of the most difficult times. 2019. I was at my worst condition that year. It felt like nothing made me happy except feeding stray cats in Tebet.

Until my landlord told me to stop. Lol.

I remember reading his WA chat in the cafe and I thought I’d cry when actually all I experienced is just numb.

Until today I still wonder is it okay though to feel satisfied with simple thing?

Rutinitas Evaluasi 2020 & Resolusi 2021 (tapi boong)

Sengaja bikin judul yang boring karena memang ini postingan sekadar melanjutkan tradisi terdahulu sejak zaman blogspot, tidak menarik untuk dibaca orang.

Tahun lalu, gue nulis Resolusi 2020 tanpa pernah ngebayangin akan ada apa di 2020, jadi wajar aja kalo banyak resolusi yang gak tercapai (halah alesan). Kalo dulu gue bilang 2019 aja bisa mengajarkan gue untuk expect the unexpected, apalagi 2020 :))

Ya walopun 2020 itu indeed shitty tapi dipikir-pikir banyak banget sih hal yang gue pelajari di tahun itu, seperti:

  • Understand, but not necessarily always agree
  • Feel enough with our own self & simplicity
  • Appreciate the closest ones around me
  • Understand that people do what makes sense to them
  • Let go and look outside

Sebenernya banyak sih tapi jadi 5 poin aja biar cakep.

Sebelum membahas resolusi 2020, gue mau nyebutin dulu hal-hal yang gue syukuri di 2020 atau hal yang berhasil gue capai walaupun nggak gue tulis di resolusi:

  1. Survive and still in a good form–ini aja menurut gue udah pencapaian terbaik di 2020 Dan bener sih, di 2020 gue terbilang jarang banget sakit dan kayaknya untuk pertama kalinya gue nggak ke dokter sama sekali selama setahun (kalo Halodoc beda cerita yha). Maybe wearing a mask does work.
  2. I save great amount of money–karena tidak lagi ngekost dan menumpang tinggal di rumah ortu, hehe. Tapi selain itu juga karena dulu sempet double job di Warpin & Barexa + dapet double THR dari keduanya sih… Saya hanya bisa bersyukur.
  3. Unexpected opportunities–ditawarin jadi pembicara, jadi juri, jadi mentor, ngajar, bantuin dosen, dsb dsb, beberapa ada yang benefitnya berupa material maupun tidak, bersyukur banget sih banyak hal yang ternyata masih bisa dilakukan secara jarak jauh. Thanks technology.
  4. Completed driving school–setelah sekian lama menunda belajar mobil, akhirnya memberanikan diri invest some of my saving here, dan lumayan sih walopun perlu ngelancarin sendiri lagi.
  5. Start investing in stocks–seneng bangetlah ini kejadian, padahal dulu ga jadi-jadi sampe akhirnya di 2020 gue ga taro sebagai resolusi eh malah kejadian wkwk
  6. Put effort to maintain relationship with others–mungkin poin terakhir ini agak susah, dan bisa dibilang mungkin nggak bagus juga hasilnya karena ya semuanya lelah dengan situasi ini. But i want to appreciate myself aja sih yang tetep kadang-kadang ngontakin temen, ngajak morning strolling ama tetangga, dan juga jadi kenal dengan orang baru yang jadi cukup akrab di akhir 2020 hingga saat ini. Terima kasih untuk tidak benar-benar menyendiri, Mir.

Oke sekarang untuk evaluasi resolusi 2020…

1. Bikin detail resolusi
Berupa: define success metrics, divide resolution into concrete and visible task, bikin time-bound, bikin sistem monitoringnya supaya nggak skip. Probably gw akan bikin di Spreadsheet dan gue deadline-in ke diri gue sendiri paling telat gw bikin Spreadsheet ini by the end of January 7!
Hasil: tercapai tapi tidak guna ternyata yauda gt aja

2. IELTS 7.5
Tidak bosan-bosan la aku bikin ni item. Tapi tentunya yang sekarang akan gue perjelas jadi…misalnya… tiap hari Senin – Selasa listening, Rabu – Jumat speaking, Sabtu writing, Minggu reading. Tiap harinya minimal 20 menit. Gue juga akan ngedeadline-in max gue take the test itu bulan Maret akhir.

Hasil: Ga tercapai juga, latihan sih latihan ya (walopun ga rutin), tapi ya ga tercapai karena memang nggak ikut tes/prediction-nya. Tahun ini gw ikut les & prediction-nya sih (bayar) jadi semoga bener

3. Olahraga ringan tiap hari + Jogging 1x seminggu
Olahraga yang bisa dilakukan di kamar plus Jogging. Sebagai penyemangat gw keknya mau beli celana training yg ena dah agar mindset gue itu udah invest di jogging

Hasil: lebih ke tercapai dibanding tidak tercapai, karena dari 366 hari di 2020 (ini tahun kabisat kan ye), paling cuma 20 hari-an gue ga olahraga samsek (seminimal mungkin plank). Jadi ya less than 10% lah.

4. Tetep sharing di Youtube dan Medium masing-masing 1x tiap bulan
Lanjutkeun

Hasil: too bad ini jangka waktu post ke post lainnya jauh sih, jadi gue liat cenderung ga tercapai dibandingkan tercapai. Tapi agak maklum karena gue banyak kesibukan lainnya(?)

5. Travel abroad
Hahaha pengen aja. Ini bonus deh resolusi yang ga jelas dan ga ada urgensinya (ada deng, ngejar sebelum expiry passport), tapi ya moga aja bisa diwujudkan walopun gajelas

Hasil: wkwkwk definisi sesungguhnya dari tumben ga traveling ke luar negeri karena covid biasanya karena gada duit

6. Namatin XXXXX
Penasaran aja si buat namatin ni novel, dan… kangen aja nerbitin novel lagi. yah, moga bisa. Sementara ini sih gw bikin alarm nulis tiap hari 30 menit tapi kurang efektif. Maybe harus nyoba ganti waktunya jadi… pagi dan maximize di weekend?

Hasil: kenapa ya nulis fiksi susah banget? Ini belum tamat. Tapi gue sempet nulis fiksi pendek gt sih bisa dicek di https://www.wattpad.com/878822276-catatan-karantina-sang-rusa-percakapan-antara/page/2

7. Tetap donate tiap bulan
Lanjutkeun (2)

Hasil: donate is a good thing especially in this current situation

8. Belajar SQL dan Python
For the sake of bisa riset kuanti tanpa merepotkan anak data mulu hahaha dan hopefully juga membantu kalo (jadi) S-2

Hasil: ada hal lain yang lebih esensial untuk dipelajari

9. Ikut 1 kompetisi
IKUT YE DI SINI IKUT. BUKAN MENANG. Jadi gausah ngerasa takut, ga usah ngerasa beban, yang penting ikut. Gue ga peduli lo menang atau nggak. Nggak menang pun jadi pengalaman, nggak buang-buang waktu kok.
Hasil: tercapai, jenius & thenextdev. satu jadi finalis, satu ngga gimana2.

10. Daftar S-2
Ini juga daftar for the sake of experience sendiri daftar S-2 tuh gimana sih. Nggak menuntut diri untuk langsung berhasil on the first try, gapapa banget untuk nyoba lagi berkali-kali atau tahun depannya. Tapi, yang penting nyoba.

Hasil: tidak mencoba karena perubahan situasi. tapi mungkin akan mencoba di 2022

Resolusi 2021

Gamau gue tulis di sini. Lol. Makanya judulnya ada “tapi boong”.

Gimane ya, walopun udah dari 2010 gue selalu nulis resolusi tahun baru di blog (jaman dulu di blogspot), lama-lama gua ngerasa sepertinya makin lu gede tuh hidup makin privasi gasih, dan goal mungkin juga bukan hal yang harus dibagikan ke public secara detail.

Jadi gue memutuskan, mulai tahun ini, gue nggak nulis list resolusi tahun baru di blog. Gue akan tulis di tempat yang lebih private, seperti misalnya Notion pribadi.

Tapi gue nggak nyesel sih di zaman kanak-kanak(?) gue terbiasa nulis resolusi di blog, ya itu kan buat seru-seruan aja ya sebenernya.

Sooo yaudah jadi tahun depan gaada evaluasi resolusi, mungkin lebih ke grateful note aja tiap akhir/awal tahun.

Begitulah, sekian~~~

Lost puppies yang mulai menemukan jalannya

“Xel, yang tadi baru deket apa udah jadi pacar?”

“Pacar.”

“Oh… Laki-laki apa perempuan?”

Axel membuka mulutnya dan menjawab, “La–“

Degg!

“KOK GUA MAU JAWAB LAKI-LAKI YA, PEREMPUAN KOK!”

***

Sudah lama tidak bersua, salah satu geng gue zaman kuliah, KP Anjing, staycation di suatu tempat di Jakarta.

Nama KP Anjing tercetus ketika menghadiri kelas gabungan di auditorium F.Psi UI di mana salah satu dosen kami sedang membahas anjing-anjing liar di kampus dan bilang kalau harusnya ada KP (Kelompok Peminatan) Anjing untuk memerhatikan kesejahteraan anjing-anjing tersebut. Entah siapa yang kemudian mengganti nama grup Line kami jadi “KP Anjing”

Berasal dari peer group yang berbeda-beda, kami ajaibnya bisa maintain friendship sejak kuliah. Axel sehari-hari main dengan anak kampus yang aktif kepanitiaan, Dyah got AIESEC in her back, Iska dengan sahabat kelas paralelnya, Leo dengan kelompok Lampung x Asrama UI-nya, Retno dengan Ghosty dkk & guru ngaji 30 murid dkk, dan gue yang dari dunia perwibuan. Anehnya ya, tetep ada waktu aja buat kita quality time.

***

Btw, lama juga gue ga nulis sesuatu kayak gini. Sebenernya gue ga pengen cerita full staycation kemarin sih, paling gue kasih cuplikan-cuplikan menggelitik aja yang masih gue inget.

***

Leo: “Gue dulu pas kelas MAC (Metode Asesmen Center) biasanya duduk di belakang buat tidur. Pernah suatu saat si Si X dkk duduk di depan gua, parfumnya kuencenggg banget. Jadi gue kebangun in an unpleasant way. Abis kelas gue langsung ke toilet. Muntah.”

Leo lagi (pas Dyah lagi minjem kacamata gue): “Pernah gue minjem kacamata temen gue yang minusnya gede, muntah itu gue.”

Kesimpulan: Leo selalu muntah.

But plot twist: Leo sekarang kerja di bidang asesmen center dan jago bgt despite waktu kelas dulu tidur mulu. Pasti dosen kami bangga. Leo harus jadi dosen tamu pokoknya.

***

Ada pula Axel yang dateng nyusul, halu dari Sunter, duduk, ambil pizza topping marshmallow lalu automatically tangannya nyaosin itu pizza manis pake sambel. Kami liatin kayak ada yang salah, akhirnya Dyah yang duluan nyadar dan kami semua menggobloki kehaluan Axel.

***

Nyambung ke cerita yang paling awal, memang udah biasa bagi kamu kalo ada kabar ada seseorang yang baru jadian ama orang yang gak kami kenal, bakal kami tanya “Pacarnya laki-laki atau perempuan?”

No judgment here.

***

Ngomongin jaket almamater kampus ternama di Lampung yang anak-anaknya bangga make itu di seluruh penjuru provinsi terutama di tugu Pringsewu.

“Apalagi anak-anak FEB pasti jaketnya dipress, naik motor, paling ganteng dah.”

***

Omongan ngalor ngidul yang lagi ngomongin Luhut tiba-tiba ga nyampe berapa detik bahas masyarakat Eskimo bisa bedain 50 macam warna putih.

90% selalu Retno yang menyadarkan kami:

“Tadi lagi bahas apa sih?”

“Lu kayak murid gue dah.”

Nb: Retno itu guru Anak Berkebutuhan Khusus dan tiap ketemu selalu cerita kelakuan muridnya yang kalo ngobrol suka ga nyambung lagi belajar malah bahas langit, bahas apa lagi yak lupa pokoknya ga nyambung dah.

Dan sadly, kelakuan temen-temen Retno juga sama aja.

***

Tapi di samping hiburan-hiburan di atas, gue ga pernah nyesel punya kelompok sesama anak psikologi yang masih in contact sampe sekarang. Pembahasannya pasti sedalem itu, sepersonal itu, dan (kadang) seanalitis dan sefilosofis itu.

Suatu saat, Dyah nanya: “Emang kalo menurut lu apa yang khas ada di anak psiko?”

“Gue gak bisa bilang ini cuma ada di anak psiko sih, tapi paling nggak ini ada di orang yang bener-bener aware dengan mental health. Dan ini gue alami sendiri. Gini, kalo gue bilang gue ada suicidal thought, terus gue bilang ke lo, Leo, Retno, Iska, Axel, atau bahkan anak psiko yang peernya sangat jauh dari gue, jawaban kalian pasti sama: ‘lo bisa cerita sama gue kalo ada apa-apa ya’.”

“Iya sih, hal-hal kayak ‘reach out’ and when to stop sebelum kepalang burnout itu udah jadi common sense buat anak psikologi, tapi buat yang lain belum tentu. Terus juga tentang eustress dan distress.”

“Yes, dan kapan gue harus pake problem-focused coping, kapan pake emotional-focused coping.”

In the end, walau nggak bener-bener yakin ilmu yang kita pelajari di kuliah itu kepake banget di dunia kerja, kami semua sepakat ilmu psikologi seenggaknya kami pake banget untuk at least… take care diri kami sendiri.

Makanya syarat bahagia lo jangan susah-susah

Sebuah racauan di tengah malam.

Lama tidak menulis informal. Lama tidak free-writing. Uh, yeah. *meregangkan tangan*

Biasanya nulis di medium yang diusahakan berfaedah haha. Kalo WordPress rencananya memang untuk rant aja, versi rant lebih panjang dari Twitter, atau kalo udah nggak ketolong dengan Twitter. Jadi ini kayak…. random train of thought gue aja. Nggak ada kerangka. Nggak ada struktur.

Kalimat yang jadi judul di atas itu adalah kalimat yang beberapa bulan ini sering gue ucapkan ke diri gue sendiri sih.

In this unexpected period, banyak dari kita yang punya battle-nya masing-masing. Battle with money. Battle with family. Battle with partner. Battle with self.

Susah ya.

Ada yang dari berpenghasilan stabil lalu kena PHK.

Ada yang baru lulus siap menjunjung masa depan cerah, ternyata lulus di saat susah banget nyari kerja dan jadi diam lemas di rumah tidak tahu arah.

Ada yang retak hubungannya karena–entah kenapa tapi gue juga sering dengar–katanya sih orang-orang belakangan jadi lebih sensitif(?) kayak, lo aja belum tentu bisa handle emosi lo sendiri, terus lo ketemu ama orang yang lagi emosi juga. Udah deh.

Susah ya. (2)

Gue juga bingung sih gimana, mana orang-orang di luar rese-rese ga sih wkwkwk apa cuma gue doang yang mikir gini. Gatau ya, tapi biasanya lo kan sebel/bermasalah tuh sama orang-orang yang sering komunikasi ama lo aja kan, atau orang-orang di sekitar lo, tapi gatau kenapa belakangan gue malah lebih sering kesel sama orang di luar sana yang bahkan gue gak kenal. Dan gue juga, tentunya, kesal dengan beberapa orang di pemerintahan negara kita ini. Atau bahkan kesal dengan kelakuan di negara lain. Entahlah.

Lalu tiba-tiba ingat one of Chester’s latest tweet adalah how he perceives this world as rotten–yang mana gue agak bisa relate. Tapi selalu gue berusaha netralin juga dengan consume konten-konten yang “baik-baik”, yang bikin gue percaya lagi ama humanity. Nggak harus orang juga gapapa dah, gua liat video hewan berkelakuan baik aja jadi percaya dengan kindness, dan…. itu udah cukup.

Karena banyak di rumah, karena interaksi sosial terbatas, kita-kita pasti jadi lari ke media sosial (eh, pasti gak sih?), buat tau update di luar sana. Tapi seperti yang (mungkin) kita semua tau, konten sosial media itu dikurasi. Ya lo harusnya akan lebih banyak liat temen-temen lo hidupnya baik-baik aja, semakin produktif, dkk dkk yang akhirnya bikin lo ngebandingin ama diri lo yang misserable dan yap… selamat (atau sial?) lo terjebak di lubang yang sama lagi.

Since the beginning of pandemic, I knew myself very well kalo gue akan cenderung lebih sering buka sosmed, to anticipate/prevent the bad impact, akhirnya gue memutuskan untuk punya aturan2 sendiri ketika buka socmed. Di Twitter, misalnya, gue cuma buka pake web, bukan app. Karena dengan gue pake web, kecenderungan gue untuk mindless scrolling akan berkurang. Begitu juga di IG, I mute >70% of my followings. Mungkin yang gue sisain akun2 kayak Kinokuniya, HBR, gitu2 aja. Toh, daripada passively gue liat orang2 lagi pada ngapain, I better reach them out langsung, nanya kabar etc.

Balik lagi ke judul di atas, yah, dengan berbagai usaha yang udah gue lakukan untuk stay sane during this hard times, ternyata gue masih aja kadang feeling miserable. Salah satu struggle gue sekarang adalah sleep disturbance, Idk why. Atau mungkin disturbance terlalu berat kali ya, more like circadian rhythm gue ngaco aja sih.

Walopun gue ga abis pikir sama orang yang pesta gatau diri dengan alesan bosen, gue paham banget sih rasa bosen itu gimana. Wah, gue juga suntuk abis sih. Bosen abis gila. Wah—- *ga ada abisnya sih gue ngomong wah kalo ngebahas bosen.

Tapi ya gimane ya, sebagai orang yang ngehe juga kadang2 metode yang gue lakuin buat bersyukur juga adalah bandingin diri ini sama orang yang lebih ga beruntung *gampar diri sendiri*

Walopun cara lain yang lebih halus adalah…. yaudalah, syarat bahagia lo jangan susah-susah amat.

Emang lo harus punya gaji di atas 20 juta dulu per bulan supaya bisa bahagia?

Emang lo harus dielu-elukan orang lain tiap hari dulu baru bahagia?

Emang lo harus jadi CEO startup sukses dulu baru bahagia?

Emang lo harus tinggal di apartemen lantai 20 ngadep sunrise dulu baru bahagia?

Gue pernah dulu kerja di konsultan yang sesibuk itu mo mati dan pas lagi perjalanan di field study gue liat ada pedagang asongan yang tidur di rumput beralaskan kardus di bawah pohon rindang terus mukanya pas tidur tuh damai nyerempet senyum gitu.

Wah anjir, di situ gue yang cuma bisa tidur <5 jam sehari dan weekend sering kerja iri banget sih ngeliatnya.

Tapi ngeliat wajah damai pedagang itu, gue jadi mikir… mungkin emang ya syarat bahagia tuh ga susah–atau ya jangan bikin syarat yang susah buat bahagia ke diri lo.

Kayak, bisa lho lo bahagia dengan lo inget lo nggak punya penyakit yang ngeharusin lo keluar biaya >10jt per bulan buat berobat.

Kalopun lo sakit, lo bisa tetep bahagia karena ada yang ngebantu lo berjuang untuk sembuh, sekalipun orang itu mungkin dokter yang lo gak kenal secara personal.

Atau setidaknya kita bisa bahagia tiap kita bisa fokus sama tarikan dan hembusan nafas kita.

Atau bahagia karena seenggaknya lo masih punya diri lo sendiri, yang lo percaya akan jadi kawan pertama dan terakhir lo selama hidup.

Atau kalo semuanya udah terasa sumpek, mungkin ada dunia lain yang perlu ditengok, mungkin kita yang harus expand wilayah kita, kayak…. mungkin aja hidup di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota lebih menyenangkan?

Entahlah, tapi… banyak dan simpel kan ya sebenarnya cara untuk bahagia?

Mandatory 2019 Evaluation & 2020 Revolution (huft)

Lel setelah terbengkalai setengah tahun lebih gegara gue pindah ke Medium, akhirnya gue nulis lagi juga di sini! Somehow, mungkin gue akan mengkhususkan WordPress sebagai tempat misuh dan tempat bikin evaluasi dan resolusi tahunan meanwhile Medium adalah tempat nulis yang lebih serius untuk sharing knowledge & experience.

Oke, jadi pernah pada suatu hari gue masuk ke kamar, rebahan, feel the serenity, sambil mikir: “ah, today was a really great day.”

Lalu mikir, kayaknya kalo hidup ini kayak film, ya gue maunya momen itu jadi cut-off, bikin jadi happy ending.

But yeah, life doesn’t work that way. Setelah hari yang menyenangkan di kantor, bersama teman, atau bersama pasangan–mau seberapa menyenangkan pun hari tersebut, gue harus tetep sadar dan menerima kenyataan kalau masih ada hari esok, esoknya lagi, dan seterusnya–yang mungkin tidak semenyenangkan hari itu.

Yang mana ketika gue pulang hari Minggu habis diskusi yang sangat deep dan eye-opening dengan pasangan (which I really like)–ya who knows Senin besoknya ternyata gue dan dia bubar?

Atau ketika gue pulang dari kantor dengan perasaan senang karena meeting yang sangat bikin anxious ternyata lancar–ya mana tau ternyata minggu depannya semua yang dibahas di meeting malah berubah haluan?

Ya itu sih, di 2019, gue belajar untuk expect the unexpected

Bahwa, prior knowledge gua tentang sesuatu yang sebelumnya gue anggep adalah yang terbaik, ya belum tentu. Bahwa misalnya prior knowledge gua tentang pertemanan berkata bahwa selagi temen gua open-minded, gue dan dia bisa terus berteman… atau selagi value perusahaan dan value gue selaras, gue akan terus betah kerja di perusahaan… ya belum tentu.

Bisa aja tiba-tiba ada hal lain yang muncul–yang di luar prior knowledge gua akan suatu hal—dan kalo gua gabisa nerima itu, gua akan gagal adapt, dan itu destruktif.

Tapi side-effect–dan kinda negative–dari hal ini yang gue rasakan adalah gue justru jadi cenderung indifferent. Misal, ketika ternyata gue menemukan value perusahaan sedikit bergeser dan jadi kurang relevan dengan value gue, gue bisa aja tetep stay di perusahaan tanpa misuh sama sekali. Tapi, mungkin aja gue tetep stay di situ dengan sikap indifferent.

It also applies to other case, pertemanan, keluarga, dsb… Ketika hubungan itu ternyata nggak berjalan sesuai keinginan gua, ya gua jadinya cenderung tetep bertahan menjalani itu, tapi ya indifferent aja ngejalaninnya.

Dan ketika indifferent, gue jadi nggak mindful ngejalaninnya. Makanya, tau-tau 2019 lewat begitu aja dengan cepat :))

 

Oke, sekarang mari bahas soal resolusi tahun 2019

Sebelum mulai mereview, gue sebenernya belakangan baru ngeh kesalahan gue dalam bikin resolusi tuh apa. I admitted I was wrong to only post the resolution here without any monitoring system and even too lazy to divide the target into small tasks. YA GIMANA GA PADA TERCAPAI ANJER. Ya gpp, gue belajar kok dari hal ini.

Tapi ya mari kita coba lihat apa aja yang tercapai dan tidak tercapai.

1. IELTS 7.5
Gue taro nomer satu nih biar tahun ini jadi prioritas dan semoga bisa tercapai!!!
Hasil: Tidak tercapai. Wokwokwok taro resolusi utama di nomer satu tidak sama dengan menambah probabilitas pencapaian. Tapi gue nyesel gak nyesel sih ini tercapai atau nggak. Soalnya, ternyata prioritas gue tahun kemaren emang lebih ke advance skill yang emang berhubungan langsung ama kerjaan, jadi kayak… emang belom waktunya untuk IELTS… maybe? Huh, ngeles.

2. Jogging paling nggak 3x seminggu
Karena efeknya bagus coy, kerasa mental w jadi lebih stabil dan peaceful aja rasanya jogging pagi-pagi gitu ena. Hopefully bisa bikin kerjaan lebih produktif dan tidur lebih berkualitas juga.
Hasil: Tidak tercapai. WOKWOKWOK sedi amat dua resolusi teratas udah dua-duanya aja ga tercapai. Sedih aink. Soal ini gak kecapai karena dulu kantor lama gue itu masuknya pagi banget. Terus, di kantor yang baru, jauh, jadi suka takut telat kalo jogging dulu paginya. Jadinya, ganti jogging ini ama olahraga yang bisa dilakukan di matras di kamar sih… hhh.

3. Berkarya di kantor yang baru
Kok aku agak segan nyebut namanya ya wk. Tapi intinya semoga gue bisa menghasilkan riset-riset yang berkualitas dan bisa diimplementasikan dengan baik di sana! Semoga juga makin terlatih critical thinkingnya, kemampuan analisis, kemampuan memecahkan masalah, public speaking, kemampuan presentasi, dan interviewing!
Hasil: Tercapai…? Yah i mean riset yang diimplementasi: yep, ada beberapa hasil riset gue yang diimplementasi ke produk internal maupun eksternal perusahaan. Critical thinking dkk harusnya sih semakin terasah ya since kerjaan gue tuh banyak nemu konteks yang unfamiliar dan harus bisa problem solving dengan cepat. Public speaking ini juga gue kelatih banget karena di kantor lama, gue sempet pitching ke klien dan presentasi waktu community development. Di kantor yang sekarang juga cukup sering presentasi depan orang, terutama pas jaman jadi fasilitator Design Sprint dan jaman ngurusin anak volunteer. Di UXiD, gue juga sempet jadi moderator acara. So far so good. Interviewing, nah ini gue mungkin ada di grade B- ya haha, khususnya harus lebih banyak belajar untuk approach-nya sih. Ngegali gw confident, approach dan awalannya yang suka masih sulid~

4. Sharing di youtube, routinely. Minimal 1x tiap bulan.
Ini harus sih apalagi udah dipanas-panasin Kak Harry HAHAHA
Hasil: Tidak tercapai. Tapi nggak seburuk itu juga sih. 8/12 lah. 67% lumayan lah ya, cuma karena resolusinya minimal 1x, jadi ya tetep ga tercapai sih wkwkwk

5. Mulai invest saham
Mantap.
Hasil: Tidak tercapai. Yaiyala deskripsinya aja mantap doang kzl

6. Keep in touch with good ones, let go of toxic ones
Mantap bethul. Ini mah biar gue aja ya yang define good ones itu siapa toxic ones itu siapa.
Hasil: Tercapai. Wkwkwkwk gajelas anjir tp tercapai kok aku yakin

7. Publish di medium minimal 1x tiap bulan
Mantap nih spesifik dan terukur ya resolusi gue. Gak sia-sia pernah magang di Youthmanual.
Hasil: Tidak tercapai. Wkwkwk jangan salahkan Youthmanual karena mereka sudah berganti nama 5/12, 41% sih pencapaiannya, ya sebenernya sih banyak ide untuk nulis cuma susah meet aja waktunya atau ya prokras xD

8. Bangun paling telat jam 6 tiap weekday
Karena fun(?) fact: kantor baru gue masuknya jam 7:45, dan no mercy kalo telat. Jam 6 bangun, 6:15 – 6:30 jogging lucu, abis itu mandi dan siap-siap ampe jam 7an, jam 7:15 berangkat jalan kaki ke kantor 15 menitan nyampe jam 7:30 bisa lah ya tiap hari heuheu (lalu membayangkan meme tidak semudah itu ferguso)
Hasil: Tidak tercapai. Tapi bodo amat kan kantor gua emang pindah lagi hahahahahahah.

9. Lebih banyak makan sayur, junk food maksimal 3x sebulan lah ye
Demi kesehatan yang lebih bhaiq
Hasil: Tidak tercapai. Ini gue gagal di monitoring, lebih tepatnya.

10. Tetap donate tiap bulan, jumlahnya mah sans yang penting ikhlas (ahsyek)
Karena apalah arti dari hidup ini jika tidak berbagi (asyek #2)
Hasil: Tercapai. Money manager luv. Celengan babi kuning luv.

11. Namatin course yang berhubungan dengan kerjaan dan dapet sertif
Apapun sih, mau yang UX-related, basic r, basic python, digital marketing, dll
Hasil: Tercapai. Sebenernya lebih banyak yang nggak tamat sih, tapi untungnya ada 2 course UX related yang tamat wakakak eh lupa gue upload di linkedin sampe sekarang sertifnya lol xD

Hahahaha tercapai 4/11 cuma 36% uuuu so bad~ *nanges

Oke, lalu untuk resolusi 2020:

1. Bikin detail resolusi
Berupa: define success metrics, divide resolution into concrete and visible task, bikin time-bound, bikin sistem monitoringnya supaya nggak skip. Probably gw akan bikin di Spreadsheet dan gue deadline-in ke diri gue sendiri paling telat gw bikin Spreadsheet ini by the end of January 7!

2. IELTS 7.5
Tidak bosan-bosan la aku bikin ni item. Tapi tentunya yang sekarang akan gue perjelas jadi…misalnya… tiap hari Senin – Selasa listening, Rabu – Jumat speaking, Sabtu writing, Minggu reading. Tiap harinya minimal 20 menit. Gue juga akan ngedeadline-in max gue take the test itu bulan Maret akhir.

3. Olahraga ringan tiap hari + Jogging 1x seminggu
Olahraga yang bisa dilakukan di kamar plus Jogging. Sebagai penyemangat gw keknya mau beli celana training yg ena dah agar mindset gue itu udah invest di jogging

4. Tetep sharing di Youtube dan Medium masing-masing 1x tiap bulan
Lanjutkeun

5. Travel abroad
Hahaha pengen aja. Ini bonus deh resolusi yang ga jelas dan ga ada urgensinya (ada deng, ngejar sebelum expiry passport), tapi ya moga aja bisa diwujudkan walopun gajelas

6. Namatin XXXXX
Penasaran aja si buat namatin ni novel, dan… kangen aja nerbitin novel lagi. yah, moga bisa. Sementara ini sih gw bikin alarm nulis tiap hari 30 menit tapi kurang efektif. Maybe harus nyoba ganti waktunya jadi… pagi dan maximize di weekend?

7. Tetap donate tiap bulan
Lanjutkeun (2)

8. Belajar SQL dan Python
For the sake of bisa riset kuanti tanpa merepotkan anak data mulu hahaha dan hopefully juga membantu kalo (jadi) S-2

9. Ikut 1 kompetisi
IKUT YE DI SINI IKUT. BUKAN MENANG. Jadi gausah ngerasa takut, ga usah ngerasa beban, yang penting ikut. Gue ga peduli lo menang atau nggak. Nggak menang pun jadi pengalaman, nggak buang-buang waktu kok.

10. Daftar S-2
Ini juga daftar for the sake of experience sendiri daftar S-2 tuh gimana sih. Nggak menuntut diri untuk langsung berhasil on the first try, gapapa banget untuk nyoba lagi berkali-kali atau tahun depannya. Tapi, yang penting nyoba.

Sepertinya, gue jadikan resolusinya 10 itu dulu aja. Detailnya, akan gue bikin di Spreadsheet sesuai dengan resolusi nomor 1. Itu aja ga jalan, gue yakin bawah-bawahnya akan berantakan.

Oke, yang pasti… gue berterima kasih pada semua pihak yang pernah berjalan, atau bahkan berpapasan sama gue selama menjalani 2019 kemarin. I experienced many things–jatuh bangunnya berasa banget. Sekalinya jatuh beneran trombosit gua yang jatoh lagi hahaha.

Special thanks untuk Iska, yang udah bantu gue banyak banget pas terutama lagi… jatoh. Like, literally jatoh ampe keseleo itu dia yang nolong + Kak April. Demam berdarah juga dia yang pertama nolong. Dan sakit-sakitan lainnya, haha.

Thanks untuk teman kantor dan you-ex, yang akhirnya menyadarkan gue kalo lingkungan kerja yang growing dan penuh acceptance tanpa senggol-senggolan menjatuhkan tuh beneran ada.

Thanks untuk teman kuliah yang sampe sekarang masih menyempatkan waktunya untuk ngobrol walau mungkin obrolannya gak akan sebanyak dulu lagi.

Thanks untuk pasangan saya di akhir 2019 dan masih hingga saat ini yang udah sama-sama membuka luka dan perih banget aslinya hahahaha gila tapi abis itu diskusi dengan sangat konstruktif dan gue nggak tau gue ternyata bisa kayak gini juga dalam relationship–sakit sih, nggak expect, nggak pacaran yang lucu-lucu doang, tapi ya, ternyata itu yang bikin tumbuh

Thanks untuk keluarga yang masih menerima gue kembali, se-detach apapun gue dan sejarang pulang apapun gue.

Dan thanks untuk orang-orang baru yang gue kenal di tahun 2019. Walaupun baru, gue banyak belajar dari kalian semua.

Selamat ber-2020!

Whether to be a human or a robot…

You choose.

I once didn’t want to make friends with anyone in the workplace.

But then I realize that laugh with them…

Makes me more human.

It’s funny when the quality of a person
Is merely measured by numbers
Again.

This is Mr. Wealth with revenue more than 5000 dollars per month
Pay more respect to him!
And that is… uh, some Outsider with 50 dollars per week
Just ignore him, he’s lower than us!

And there are also people who glorify those numbers
To talk about it
Envy at a person who gains the numbers above them
Laugh at a person who gains the number below them

It’s still funny that the numbers are their favorit topic
And how they use it as a tool
To assess the quality of a person
When there are so many other important things to be considered
And so many things that is worth to talk about

Review 2018; Ready for 2019!

So I come back here just to review 2018 and make resolution for 2019!!

Iya, aslinya gue udah lama banget meninggalkan wordpress, dan cenderung ingin belajar nulis artikel yang lebih berfaedah di medium.com. Tapi mungkin karena review 2018 dan resolusi 2019 ini memang selalu informal, gue akan balik lagi ke wordpress khusus untuk hal-hal kayak gini, hehe!

Kalo dulu gue bilang 2017 itu not my year, sekarang gue gak bisa bilang gitu sih ke 2018. Gimana ya, 2018 itu menyadarkan gue kalo kita nggak bisa semerta-merta ngecap “bad year” atau “good year” ke suatu tahun, karena ya… pasti kita mengalami keduanya dalam 365 hari itu. Cuma ya sering kali kita ingetnya yang akhir-akhir aja. Nggak salah sih, karena menurut teori serial-order effect, manusia emang cenderung mengingat “yang awal” dan “yang akhir”.

Di awal tahun 2018 sendiri, seinget gue sih itu jaman-jaman lagi overwhelmed skripsi ya. Oh, dan di situ juga gue ketemu Putra! Pada dasarnya, ini anak sih yang beneran nemenin gue sepanjang tahun. Gue nggak tahu harus bilang makasih kayak gimana lagi untuk ini anak.

Balik lagi ke skripsi. Ini emang capek banget asli dan pas ngambil data sempet kayak menyalahkan diri sendiri kenapa sih gue segala gegayaan pake eksperimen, variabelnya banyak pula dan ada moderatornya? Kadang masih nggak percaya gue lulus sidang dalam waktu yang cenderung singkat dan dengan feedback yang cukup baik.

Di saat skripsian, gue juga magang di Manulife Asset Management. Akhirnya untuk pertama kali nyobain kerjaan yang cukup melenceng dari psikologi. Somehow seneng banget karena jadi tahu banyak hal dan side-effectnya ya jadi lebih melek tentang pengetahuan finansial. Hal ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh sering ngobrol dengan supervisor gue waktu itu yang sampai sekarang tetap menjadi bro gue, yakni Kak Harry. Selain belio juga orang-orang di sana baik-baik sih, kayak Pak Ilham, Pak Arif, dan Pak BW. Kecuali Anom. Wkwk. Soalnya kalo Anom baik banget bukan baik aja, lel.

Memasuki quarter-life-crisis, gue yang harusnya ambil gap months buat nafas dulu malah langsung kerja di suatu start-up dan kerjaan gue juga cukup melenceng di situ, yakni User Experience Designer. Sebenernya harusnya ga melenceng sih, cuma karena porsi kerjaannya lebih banyak design dibanding research, jadinya kerasa melenceng. Belakangan udah mulai on-track sebenernya, dengan gue mulai inisiasi rapiin riset di Confluence.

Tapi yah, I tidak bisa membohong diri sendiri bahwa I tertarik untuk nyari opportunity lain yang bisa memungkinkan I mengembangkan diri lebih lagi, menempa diri lebih lagi.

Jadilah I resign dan akan memulai karier di bidang consulting di suatu kantor yang berada di sebelah Kota Kasablanka~ Sebenarnya sejak dulu penasaran ingin coba di bidang consulting, dan bahkan sebenernya dulu pas masih fresh grad gue pernah apply ke ini kantor cuma belum berhasil, makanya cukup dream comes true sih bisa berkesempatan berkarier di sana nanti. Walaupun yah, gue sekarang punya mindset cari kerja itu gampang, bertahannya yang susah. Jadi, gue sama sekali belum puas sih dengan gue bisa kerja di sana. Hopefully I can do my best, produce high quality of research, and develop things in a long term there!

Ya itu sih sekilas 2018 gue. Kebanyakan ngomongin karier ya karena udah nggak kuliah lagi :”) Tapi di samping itu ya gue cukup senang karena secara subjektif gue menilai bahwa gue overall memiliki mindset yang lebih dewasa dan tenang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

—————————————–yak sekian kilas balik dikitnya————————————————-

Sekarang mari memasuki sesi mengkritisi resolusi yang dibuat di awal tahun 2018 dulu

1. GUE WISUDA AGUSTUS
Ini hukumnya wajib. No excuse. Dan insya Allah, semoga cum laude.
Hasil: Tercapai. Woah! Seneng banget-banget-banget sih bisa wisuda di waktu yang lebih tepat, karena dulu sebenernya sempet kepikiran apa 3.5 aja… Ternyata ya memang ada ketepatannya masing-masing buat tiap orang. Mau itu 3.5, 4, 4.5, 5… dan seterusnya. Gue juga berharap semoga teman angkatan gue yang belum lulus segera dilancarkan urusannya… amin.

2. SKRIPSI GUE LANCAR PLIS
try out lancar, alat ukur lancar, ngambil data lancar, laporan lancar, sidang lancar Yaa Allah aaaamin
Hasil: Tercapai (?) Sebenernya definisi “lancar” ini nggak jelas sih wkwkwk. Tapi ya gue anggap aja lancar karena lulus hhh dasar malas mikir.

3. Magang sebelum lulus
Tempatnya belum terlalu kepikiran sih, tapi paling yang berhubungan dengan dunia digital gitu
Hasil: Tercapai! Tempatnya di Manulife Asset Management di divisi Business Transformation yang memang cenderung ke sisi digitalnya bisnis, wahai diriku di masa lalu (lel)! And it’s awesome!

4. Dapet kerjaan tetap dan bisa hidup tanpa duit bulanan orang tua pasca wisuda
Ehehe tiba juga ya saat seperti ini
Hasil: Tercapai. Memang beda ya rasanya ngatur keuangan yang bukan dari orang tua tuh…. (Terlihat bahwa saya jadi jarang nongki-nongki)

5. Sampe 2018 berakhir lo tetep harus jaga komunikasi dengan temen-temen kuliah lo
because they make you the present you, and we are growing together for years omg pls don’t just let em go
Hasil: Tercapai. At least I don’t let go the good ones. Beberapa masih rutin chat, ketemu, nongki, dan bahkan ada yang emang suka ketemuan di weekend buat belajar bahasa inggris bareng, huehe.

6. Seperti tahun lalu, banyak-banyaklah kenalan dengan orang baru yang keren
Karena perspektif dari mereka sangat menarik dan berfaeda, dan lo bisa tumbuh dengan itu
Hasil: Tercapai. Gue jadi inget dulu postingan gue yang ini: “2017: Evaluation; 2018: Resolution!” pernah dibaca keras-keras di kantor dan pas baca poin yang ini, Kak Harry langsung nunjuk Anom. “Tuh Anom keren tuh!”. Jadi yauda gue anggep tercapai ya karena gue ketemu Anom(???) Err, tapi asli sih gue di tahun kemarin emang ketemu banyak orang keren yang mungkin bukan public figure tapi yah, selagi gue bisa belajar sesuatu yang keren dari dia, maka dia keren lah.

7. Banyakin nabung wey, jangan hedon mulu, ayo demi #umur25bisapunyarumah
Jangan ngandelin tapenas doang wey :””””)
Hasil: Tercapai. Aku sekarang main reksa dana dan obligasi qaq. Malah mau dicairin tapenasnya wkwk. Tapi somehow beli rumah udah ga terlalu pengen.

8. Berkaryalah
Hasil: Tercapai??? Tapi duh ini nggak spesifik sih ya resolusinya. Wkwkkwwk gapapa anggep aja bonus.

9. Banyak-banyak membacalah dan tetap 1 week 1 movie
Hasil: Tercapai. Karena baca buku dan nonton film yang keren-keren tahun kemarin. Walaupun nggak bener-bener 1 week 1 movie sih. Kadang bisa jadi sebulan cuma nonton 1, atau kadang bisa jadi juga seminggu nonton 2 atau 3, haha.

10. IELTS minimal 7.5 oh come on~
Hasil: Belum tercapai. Wah akhirnya ada juga yang belum. Sedih sih. Kemaren dapetnya di prediction 6.5. Masih perlu berjuang lagi!!!

11. This will be a tough year tapi apapun yang terjadi lo survive ya mir
Hasil: Tercapai. Shiapppp aku survive!!!

——————————————————Hhh capek kak———————————————————-

Ayo bikin resolusi buat 2019!

1. IELTS 7.5
Gue taro nomer satu nih biar tahun ini jadi prioritas dan semoga bisa tercapai!!!

2. Jogging paling nggak 3x seminggu
Karena efeknya bagus coy, kerasa mental w jadi lebih stabil dan peaceful aja rasanya jogging pagi-pagi gitu ena. Hopefully bisa bikin kerjaan lebih produktif dan tidur lebih berkualitas juga.

3. Berkarya di kantor yang baru
Kok aku agak segan nyebut namanya ya wk. Tapi intinya semoga gue bisa menghasilkan riset-riset yang berkualitas dan bisa diimplementasikan dengan baik di sana! Semoga juga makin terlatih critical thinkingnya, kemampuan analisis, kemampuan memecahkan masalah, public speaking, kemampuan presentasi, dan interviewing!

4. Sharing di youtube, routinely. Minimal 1x tiap bulan.
Ini harus sih apalagi udah dipanas-panasin Kak Harry HAHAHA

5. Mulai invest saham
Mantap.

6. Keep in touch with good ones, let go of toxic ones
Mantap bethul. Ini mah biar gue aja ya yang define good ones itu siapa toxic ones itu siapa.

7. Publish di medium minimal 1x tiap bulan
Mantap nih spesifik dan terukur ya resolusi gue. Gak sia-sia pernah magang di Youthmanual.

8. Bangun paling telat jam 6 tiap weekday
Karena fun(?) fact: kantor baru gue masuknya jam 7:45, dan no mercy kalo telat. Jam 6 bangun, 6:15 – 6:30 jogging lucu, abis itu mandi dan siap-siap ampe jam 7an, jam 7:15 berangkat jalan kaki ke kantor 15 menitan nyampe jam 7:30 bisa lah ya tiap hari heuheu (lalu membayangkan meme tidak semudah itu ferguso)

9. Lebih banyak makan sayur, junk food maksimal 3x sebulan lah ye
Demi kesehatan yang lebih bhaiq

10. Tetap donate tiap bulan, jumlahnya mah sans yang penting ikhlas (ahsyek)
Karena apalah arti dari hidup ini jika tidak berbagi (asyek #2)

11. Namatin course yang berhubungan dengan kerjaan dan dapet sertif
Apapun sih, mau yang UX-related, basic r, basic python, digital marketing, dll

Yha udah itu dulu aja mungkin

Selamat menjalankan resolusi!

 

 

If

“Problem” is always defined as

“A gap between reality and ideal condition”

Then, problem is definitely a satellite that always accompanies us every time.

No matter how you lower your ideal condition,

reality is always sucker.

And no matter how much our reality improves,

we always look up and expect better ideal alternatives.

.

Yet it is much better to have ideal condition in our minds.

Rather than trapped in a hole of

“nothing is worth fighting for,

anymore.”

How his words soothe my soul

“Yah…,
mau sesulit apapun keadaan,
orang tua nggak akan biarin anaknya kelaparan,”

***

MINERAL

“Pu,” I touched his sleeve as I talked to him. “Ng… Bapak-bapak yang jualan donat tadi… ng… Aku mau nanya. Kalau ada orang jualan donat, jualan tisu… itu beneran kerjaan utama dia itu doang?”

“Iya.”

“Beneran? Aku kira… Dia kayak, punya kerjaan lain… Dan cuma jualan donat di weekend doang gitu.”

“Nggak. Itu emang pekerjaannya dia.”

But then he added, “Ya mungkin aja sih dia sambil ngelakuin pekerjaan yang lain. Tapi pemasukkan utamanya ya dari itu. Serabutan.”

I nodded.

I looked at the ground where my feet stepped on. And then, my eyes came back to his face, and realized that we really came from different sides of the track.

I rarely talk to the homeless/asongan/abang gorengan/store keeper. But Pupu, Pupu talks with everyone. He always knows that being a storekeeper or street vendor is a very monotonous job, so he always put an effort to talk to them, not only as buyers and sellers, but more than that, he sees them as a human being. He told me that some “abang-abang telor gulung”, they even once told Pupu about a woman they were ‘approaching’ and they continued to talk for hours. I don’t know how he does that.

Because, I am just the opposite. I was born from upper middle class family. And I am capitalist. I am not really concerned with the lives of people from working class or lower. I mean, I thought I cared enough for them, but now I think about it… I am not. Never. I don’t even let “mbak-mbak kasir alfa” finish their sentence.

“Ada member alf–”
“Nggak.”
“Mau isi puls–”
“Nggak.”

See? I don’t see them as a human. I just want to do my business which is buying and paying as fast as possible and then I leave. I don’t want to talk more with them, particularly small talk things.

Yet he made me become more sensitive to them. Now I even think of them as “romantic”. Like, that old man who sells the doughnuts, he must be a father and a husband whose children and wife are always waiting for him at home. He must be think of his son/daughter and wife when he is working hard. That’s how he makes money and survive. Because he always know that there is always someone he must protect and take care of. I think that’s what really deserves to be called “romantic”.

Yeah, every single person in this world will always have something they struggle with… and my father is no exception.

There just came a day when my father’s company is in difficult situation and that time I was really worried about the worst, and… I couldn’t help myself but talk to Putra.

I didn’t regret my decision.

Because his words never fail to soothe me.

Kamu tenang saja.
Setidaknya…

Orang tua tidak akan membiarkan anaknya kelaparan.
Orang tua tidak akan membiarkan anaknya kelaparan.
Orang tua tidak akan membiarkan anaknya kelaparan.

Orang tua yang sesungguhnya… Mereka akan berusaha sekeras mungkin untuk itu.

two-cute-boys-laying-on-ground-in-nature-and-happily-eating-healthy-food_21730-76