kepada : Eyang Sapardi Djoko Damono

Apa kabar, eyang? Sudah dua tahun juni terasa begitu kering tanpa Eyang membaca puisi untuk kita semua. Desember banyak hujan eyang, ia sering menyapaku di jalan pulang. Ia turut bergabung di wajahku, menyaru air mata yang mengutuk hari buruk. Di tanah rantau yang jauh dari tangan hangat Ibu, aku belajar berkawan dengan angin dan panasLanjutkan membaca “kepada : Eyang Sapardi Djoko Damono”

yesterday, we talked about love.

the feeling still lingers until now. that day was so bright,  sky was so nice, air hugged me warmly. i was doing my theater project in jakarta timur and i didn’t know what you were doing in whole different side of indonesia—we’re distant. it was the exact same morning that i had broken with myLanjutkan membaca “yesterday, we talked about love.”

#hasmusic : Puisi-puisi Justin Vernon (Bon Iver, 2011)

Berkenalan dengan Bon Iver seperti bertemu dengan teman yang dingin dan diam, kami tidak selalu bertemu, Bon Iver tidak selalu berada di top #3 yang aku dengar, tetapi entah mengapa selalu menjadi rumah ketika aku ingin pulang. Tempat paling hangat sekaligus menyejukkan dari hingar-bingar. Mereka yang sederhana tetapi magis, yang kaku tetapi paling hangat. BonLanjutkan membaca “#hasmusic : Puisi-puisi Justin Vernon (Bon Iver, 2011)”

akhir tahun dan perayaan

Akhir tahun seringkali akrab dengan festival, bazaar, konser-konser musik; seakan semua orang berlomba merayakan sebuah perguliran tahun, merayakan upaya menjemput masa depan. Padahal manusia tidak punya apa-apa selain harapan dan doa yang dipilin hingga ke langit-langit, akankah sampai pada Tuhan? tidakkah sedikit manusia itu berpikir, bahwa di langit yang penuh asap pabrik, rokok, dan umpatan,Lanjutkan membaca “akhir tahun dan perayaan”

#hasmusic: Next Episode by AKMU (2021)

Baru sejak lulus SMA aku punya sedikit banyak waktu mengulik lagu dan menelusuri genre yang aku suka. Aku suka berkelana, mencari dan merasakan hal baru, apa saja, termasuk musik. Mungkin itu kenapa aku tidak pernah bisa berpuas hanya hidup dalam satu fandom saja, memang ada karya-karya dan musisi yang tidak akan pernah lekang oleh waktu,Lanjutkan membaca “#hasmusic: Next Episode by AKMU (2021)”

mimpi di fajar hari

Aku terbangun jam tiga pagi. Lalu memutuskan tidur lagi barang sejam dua jam sebelum tiba waktu subuh. Seakan dibisiki mantra dari kehidupan lampau yang begitu panjang, pagi itu aku bermimpi tentangmu. Lagi-lagi bermimpi tentang kamu meski sudah berbulan berlalu dan rasanya angin sudah terlalu bosan melihatku jatuh hati pada manusia yang sama bertahun lamanya. MimpiLanjutkan membaca “mimpi di fajar hari”

perjalanan ke alam tidur.

istirahatlah hati-hati yang lelah, di tanah panjang berakar pelajaran, lelap dan bertumbuhlah reranting yang sarat akan kebaikan, hingga tiba masanya berbuah dan berbunga rekah-rekah. gelombang itu senyap, ombak itu suaramu; gemericik tenang dan mengalir lembut di balik telinga orang-orang dungu. kami terlelap sebab peri berkata esok telah diculik rembulan, mentari bersembunyi di balik bintang danLanjutkan membaca “perjalanan ke alam tidur.”

impian kecilku tentang komunitas buku.

Aku di masa SMA adalah si periang ambisius yang punya banyak hal untuk diwujudkan. Project, karya, hal-hal besar yang dibangun melalui obrolan kecil kala sarapan atau makan malam dengan teman-teman sebayaku. Aku dulu senang sekali dengan teater, punya kesempatan menulis cerita, memandu latihan, dan menjadi narator sekaligus. Membuat festival, pentas kesenian, class meeting: aku merasaLanjutkan membaca “impian kecilku tentang komunitas buku.”

attachment.

Hai, akhir-akhir ini (berbulan-bulan maaf) aku jarang menulis apapun. Aku menulis pakai ponsel, laptopku (masih) rusak, setelah drama konyol dengan teknisi tidak responsif dab mencurigakan itu, akhirnya laptopnya aku bawa pulang, belum menyala juga, tapi biarlah. Tersisa satu mata kuliah lagi untuk jawaban 3 halaman dan aku akan menyelesaikannya di warnet (benar, kamu ga salahLanjutkan membaca “attachment.”

menjemput realita.

Sepetak layar berukuran 18 inci memantulkan wajahku yang tersenyum disamping belasan kotak lainnya yang saling melempar tawa dan canda, lalu beringsut membahas hal serius, lantas tertawa kembali. Dunia tidak pernah menyangka akan terlipat demikian erat, menjadi satuan entitas yang dapat dipertemukan lewat satu kali tekan. Dunia itu membentuk degup dan nafasnya sendiri, merekonstruksi masyarakatnya sendiri,Lanjutkan membaca “menjemput realita.”