Sapi Kurban Naik Kelas

Boleh saja Lebaran Idul Adha 1444 H berbeda. Namun, kekhusyukan ibadah dan kemeriahannya, nyaris tak terganggu. Lihat lah sendiri di masjid-masjid atau musala. Bahkan, tak sedikit pula pengurus menunda penyembelihan hewan kurban keesokan harinya. Dengan begitu, penyembelihan hewan kurban bisa dilakukan sama-sama.

Menariknya, pembicaraan masyarakat bukan melulu soal perbedaan lebaran. Munculnya sapi-sapi kurban ukuran jumbo, salah satunya. Ya, bagi sebagian masyarakat melihat sapi-sapi dengan berat di atas 1 ton, sebuah pemandangan langka. Saking langkanya, sampai-sampai kedatangan sapi disambut dengan karpet merah.
Kejadian unik ini terjadi di Masjid Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/6) lalu. Adalah sapi bantuan Presiden Jokowi. Entah wujud penghormatan kepada presiden, atau bentuk syukur menerima bantuan presiden. Yang jelas, sapi berjenis limosin dengan berat 1,15 ton itu, disambut bak raja-raja. Karpet merah pun dibentangkan.
Sapi jumbo presiden bukan hanya satu, namun sampai 38 ekor sapi. Di mana, masing-masing provinsi memperoleh bantuan seekor sapi berukuran jumbo. Bobotnya berkisar 900 kg-1,2 ton. Khusus Sumbar, Presiden Jokowi menyerahkan seekor sapi jenis limosin cross seberat 1,2 ton.
Bicara sapi kurban jumbo, bukan melulu juga milik presiden. Sederetan artis maupun masyarakat ”seakan-akan” berlomba-lomba menghadirkan sapi-sapi berukuran jumbo. Khusus Sumatera, sapi berukuran jumbo bukanlah milik presiden. Namun, milik dr Arya Tjipta Sp BP RE, pemilik The Clinic Beautylosophy Medan. Sapi kurban jenis brahman tersebut dibeli Rp 140 juta dengan berat 1,3 ton.
Tradisi sapi-sapi jumbo juga diperlihatkan artis sekaligus presenter kondang, Irfan Hakim. Pencinta hewan tersebut, tahun ini membeli dua ekor sapi berukuran jumbo. Salah satunya, diberi nama Wariso dengan bobot 1,363 ton. Irfan Hakim rupanya sudah mengincar Wariso sejak tiga tahun lalu. Selain Wariso, Irfan juga membeli sapi jumbo berukuran lebih dari satu ton bernama Golden dari peternakan di Bogor untuk sang ibunda.
Youtuber kondang Atta Halilintar tak mau ketinggalan. Atta sempat spill penampakan salah satu sapi kurbannya seberat 1,2 ton. Dalam video singkat, Atta dan timnya mengarahkan sapi-sapi berukuran jumbo itu ke tempat yang telah disediakan. Tak hanya satu, menantu Anang Hermansyah itu menyiapkan beberapa ekor sapi. Tapi, Atta Halilintar enggan menyebutkan berapa jumlah sapi yang dibelinya.
Begitu pula Youtuber lainnya Ria Ricis, membeli sapi jumbo bernama Hayabusa. Untuk mendapatkan sapi jumbo yang diinginkan, Ricis sampai berburu ke Purworejo hingga Yogya. Hayabusa merupakan sapi kurban dengan bobot 1,1 ton yang diperuntukan untuk putri semata wayangnya, Moana.
Artis kondang Raffi Ahmad juga menyiapkan beberapa ekor sapi ukuran jumbo untuk menjadi hewan kurbannya. Saat dibeli dari penjual hewan, sapi-sapi tersebut diperhatikan langsung oleh Raffi Ahmad. Dua ekor sapi milik Raffi Ahmad diberi nama Berkah dan Champion. Sapi-sapi bertubuh kekar yang dipilih oleh Raffi Ahmad ini memiliki bobot kurang lebih 1,1 ton per ekornya.
Kehadiran sapi-sapi ukuran jumbo ini jelas menarik dicermati. Cuma saja, jangan menghilangkan esensi ibadah kurban. Esensi semangat kurban sebenarnya bukan hanya sekadar berkurban kambing atau sapi, namun semangat untuk membantu sesama terutama bagi mereka yang membutuhkan. (*)
(pandeka2011@gmail.com)

Anwar Ibrahim

“Jurang kemiskinan antara yang kaya dan miskin mesti diberi tumpuan. Jurang mesti dirapatkan demi kemakmuran dan kesejahteraan kita bersama.”
Anwar Ibrahim

Dielu‐elukan. Ya, begitulah situasi yang dirasakan Anwar Ibrahim. Keberhasilannya memenangkan pemilu Malaysia 2022, membuat dia menjadi buah bibir. Bukan hanya dalam negeri, namun juga luar negeri. Tak tanggung-tanggung, pemberitaan soalnya, benar-benar paling ditunggu.
Anwar bukanlah orang barù di dunia perpolitikan. Rekam jejaknya bisa ditelusuri sendiri via Google. Sempat digadang-gadang menjadi penerus “guru” sekaligus mentornya. Mahathir Mohammad. Namun nyatanya, Anwar harus melewati jalan berliku sebelum menghantarkannya menjadi perdana menteri.
Anwar terpilih menjadi PM baru usai drama di pemilihan umum (Pemilu) yang berlangsung pada Sabtu lalu, karena tak ada pemenang mutlak. Di Pemilu pekan lalu, Koalisi pimpinan Anwar, Pakatan Harapan (PH) meraih suara 82 kursi, terbanyak dalam Pemilu. Sedangkan, aliansi Muhyiddin Yassin, Perikatan Nasional (PN) mendapat 73 kursi dan Barisan Nasional punya 30 kursi.
Berdasarkan hasil Pemilu, tak ada satu pun partai atau koalisi yang memegang suara mayoritas. Menurut konstitusi Malaysia, untuk membentuk kabinet batu, partai atau koalisi harus mengantongi 112 suara dari total 222 kursi parlemen. Pemegang mayoritas inilah yang berhak memberikan nama calon PM ke raja.
Kehidupan politik Anwar tak jauh dari drama. Semuanya bermula ketika tokoh kelahiran 10 Agustus 1947 itu aktif memimpin gerakan siswa Islam di Malaysia pada medio 1960 hingga 1970-an. Sebagai aktivis yang lantang menyuarakan reformasi, Anwar pertama kali merasakan dingin lantai bui pada 1974.
Dia ditangkap di bawah Undang-Undang Keamanan Internal (ISA) karena menggelar unjuk rasa menentang kemiskinan dan kelaparan di daerah pinggiran. Berlandaskan aturan tersebut, Anwar dijebloskan ke penjara selama 20 bulan tanpa perlu menjalani proses peradilan
Meski vonis bui akhirnya dibatalkan dalam pengadilan banding pada 2004 dan Anwar dibebaskan, empat tahun kemudian pendiri Partai PKR itu kembali dijebloskan ke penjara akibat tuduhan sodomi Pangkas Mahathir Mohamad. Anwar akhirnya dibebaskan pada 2018 oleh ampunan Raja Malaysia saat itu atas permintaan Mahathir yang saat itu kembali menjadi PM Malaysia.
Sebagai negara mayoritas muslim yang didominasi kaum konservatif, sebagian besar warga Malaysia melihat hubungan homoseksual sebagai suatu kejahatan yang sangat hina, termasuk sodomi.
Orang yang melakukan hal itu dipandang lebih rendah dibandingkan pelaku kejahatan seksual terhadap lawan jenis. Namun, kenapa citra Anwar Ibrahim di politik masih kuat dan tetap banyak orang yang mendukungnya menjadi PM Malaysia walau pernah terseret kasus sodomi?
Sultan Zainal Abidin selaku Pengamat hubungan internasional dari Universitas di Malaysia, Suyatno Ladiqi menyebut, masyarakat di Malaysia banyak yang memandang kasus dugaan sodomi Anwar sebagai sebuah “konspirasi”.
Menurut Suyatno, masyarakat terutama basis pendukung Anwar, menaruh curiga bahwa ada rekayasa politik untuk “melenyapkan karier” pemimpin koalisi Pakatan Harapan itu. Kini, kita tunggu saja gebrakan Anwar Ibrahim? (*)

One Way, Solusi atau Masalah?

Hiruk-pikuk mudik Lebaran Idul Fitri 1444 H sudah berlalu. Kini, berlanjut arus balik pemudik. Seperti diperkirakan sebelumnya, animo pemudik tahun ini termasuk luar biasa. Bukan apa-apa tentunya. Banyaknya penyekatan dilakukan pemerintah bentuk antisipasi penyebaran Covid-19 dua atau tiga tahun terakhir, jadi penyebabnya. Makanya, wajar saja sejumlah terobosan diambil Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumbar, salah satunya penerapan on way (jalan satu arah). Tepatnya, mulai simpang Sicincin-Padanglua.

Bagi kita orang awam, jelas tak pernah terpikirkan one way diterapkan di Sumbar. Bahkan, tak sedikit orang meragukan kebijakan ini bisa berhasil. Bukannya men-support, sejumlah meme-pun sempat beredar. Salah satunya, ”one way urang, one way juo awak”. Mengingat, selama ini kepadatan arus lalu lintas di Sumbar masih dinilai wajar. Kalaupun terjadi macet, hanya terjadi di beberapa titik. Itu pun, cepat terurai.
Tak sedikit pula, masyarakat melihat penerapan one way pada H-3 dan H+3 Lebaran, hanya bakal menambah masalah di lapangan. Terlebih, kebijakan ini diterapkan di jalan utama Padang-Bukittinggi. Ruas jalan terpadat bukan hanya selama mudik lebaran, juga hari-hari biasa. Bila kebijakan one way ini diterapkan, diyakini banyak kalangan bukannya menyelesaikan masalah. Namun, menimbulkan persoalan baru.
Begitulah, namanya sebuah terobosan bisa memicu pro-kontra di lapangan. Namun bila masyarakat sudah merasakan dampak positif one way ini, barulah mereka percaya dan berubah pikiran. Sebaliknya, hujatan-hujatan masyarakat tak bisa dihindarkan. Begitulah kultur di lapangan. Perlu diingat, namanya sebuah kebijakan atau terobosan, jelas tak bisa menyenangkan semua orang.
Penulis termasuk salah seorang yang sempat meragukan keberhasilan kebijakan ini. Namun di balik keraguan itu, penulis ingin merasakan sendiri bagaimana dampak kebijakan ini. Jadilah, hari ”H” Lebaran, Sabtu (22/4) lalu, penulis sengaja menunda kebarangkatan menuju Padanglua sampai pukul 13.30. Sebelumnya, boleh dibilang penulis tak pernah nekat pulang kampung selepas Zuhur. Paling lambat biasanya pukul 08.00.
Awal-awal berangkat menuju Padanglua, penulis sempat dihantui sejumlah kekhawatiran. Jangan-jangan nanti terperangkap macet parah di sejumlah titik yang biasa terjadi. Tentunya, paling ditakutkan ketika tanjakan di kawasan Silaing. Sudahlah banyak tanjakan, macet pula. Jelas berabe. Bila tak hati-hati, bukan tak mungkin mesin bisa mengeluarkan asap akibat kepanasan. Mujurnya, hal itu tidak terjadi.
Boleh dibilang perjalanan penulis dari Padang-Padanglua berjalan lancar. Cuma saja, sepanjang perjalanan menuju Padanglua, penulis tak terlalu berani mengambil jalur kanan. Bukan apa-apa, ternyata masih banyak ditemukan mobil atau sepeda motor berjalan dari arah Bukittinggi menuju Bukittinggi. Bila kita tidak terlalu berhati-hati, bukan tak mungkin kecelakaan tak bisa dihindarkan. Artinya, tak sepenuhnya masyarakat sadar sewaktu sistem one diterapkan.
Nah, kini penerapan sistem one way sudah selesai. Jelas diperlukan evaluasi menyeluruh mengatasi persoalan ini. Biarpun, nyatanya banyak membantu masyarakat di lapangan. Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumbar sendiri mengklaim, penerapan sistem satu arah di ruas jalan Padang-Bukittingi berjalan efektif. Meskipun demikian, kemacetan tetap terpantau di sejumlah ruas jalan. Namun, durasi macetnya jauh lebih singkat dibandingkan tahun lalu.
Bahkan, selama penerapan one way system tidak ada pemasalahan. Hal ini terbukti dengan tidak adanya kecelakaan di jalur satu arah tersebut. ”Selain itu, tidak ada kemacetan. Kalaupun ada di kawasan Padanglua (Kabupaten Agam) dan itupun tidak panjang dan (bisa) terurai,” sambungnya. Jika dibandingkan tahun-tahun lalu lebih merayap. Macet tidak, tapi padat kendaraan. Jadi tidak ketemu macet hingga 10 jam di jalan tahun ini. Paling (macet hanya) antara tiga hingga empat jam saja. Ini adalah adalah suatu keberhasilan.
Pengamat transportasi Yostrizal PhD memiliki sejumlah catatan terhadap penerapan sistem satu arah ini. Menurutnya, ada beberapa tinjauan dan solusi yang harus dilakukan stakeholder terkait, guna memaksimalkan sistem satu arah ini pada momen liburan selanjutnya. Pertama, belum optimalnya pengendalian lalu lintas pada Simpang Padanglua di Kabupaten Agam dan Simpang Sicincin di Kabupaten Padangpariaman, tempat entry point jalur satu arah.
Kedua, terjadinya penumpukan kendaraan pada sore hari setelah berakhirnya jam operasional one way. Terutama pada Senin (24/4) lalu. Ketiga, potensi kecelakaan masih ada karena masih ada beberapa kendaraan terutama sepeda motor yang melawan arah, selain ambulance dan pemadam kebakaran yang memang diizinkan. Dengan demikian, dia menyarankan untuk memperbaiki geometrik persimpangan di Padanglua dan Sicincin. Jika memungkinkan menyegerakan pembangunan simpang susun sesuai rencana.
Ketiga, mengupayakan penyediaan jalur paralel di bahu jalan untuk sepeda motor arah berlawanan yang melakukan perjalanan jarak dekat tentu dengan pembatas yang aman. “Ketiga, meskipun ini sulit, namun mungkin bisa diusahakan dengan teknologi, yaitu meningkatkan fasilitas jalan dan memperbaiki jalur Malalak agar layak dan aman untuk dilewati kendaraan sampai malam hari. Sehingga, jam operasional one way bisa ditambah sampai malam. Kendala utamanya pada jalur Malalak adalah kabut tebal yang biasa turun sejak sore hari,” ujar akademisi dari Universitas Andalas ini.
Keempat, memasang beberapa titik CCTV di sepanjang jalur Padang–Bukittinggi yang bisa diakses publik. Sehingga masyarakat sebelum berangkat melalui jalur tersebut bisa mengetahui kondisi kepadatan lalu lintas dan memilih opsi-opsi jalur yang lainnya. Opsi lain dalam mengatasi macet mudik tahun-tahun mendatang, sambungnya perlu juga dilakukan genap-ganjil pada ruas tertentu, pembangunan jalan alternatif yang sekelas dengan jalan utama untuk jalur padat, dan pengoperasian kembali kereta api pada semua jalur lama di Sumbar. (*)
pandeka2005@yahoo

Serba Salah Migor

Bukan Covid-19, bukan pula hepatitis akut misterius, atau penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun, minyak goreng (migor) lah kisah tak berkesudahan dilekatkan. Hampir setahun terakhir, semua seakan “tersandera” migor. Bahkan, pemerintah pun seakan-akan serba salah menangani kasus ini. Setiap kali mengambil kebijakan, bukan melahirkan solusi namun sebaliknya. Semua bertambah runyam. Bikin pusing!   

Sebutlah kebijakan migor satu harga. Rp 14 ribu per 19 Januari 2022 lalu. Maksud hati ingin membuat pengusaha ataupun pedagang mempermainkan harga. Emak-emak pun tak lagi mempergunjingkan pemerintah. Namun, hasilnya lebih menyakitkan. Migor tiba-tiba saja hilang di pasaran. Semua bertambah panik.

Antrean mengular panjang di titik-titik pasar murah atau operasi pasar pun tak terelakan. Saking parahnya, sampai-sampai pemain sepakbola “tergusur” oleh emak-emak atau masyarakat guna memperoleh migor. Orang rela antre panjang sampai berpanas-panasan hanya untuk memberi migor murah. Rp 14 ribu per liter. Tak bisa pula banyak-banyak. Sudahlah terbatas, syarat mendapatkannya juga tak mudah.

Saling tuding pun tak terelakan. Tentu paling disorot jiwa nasionalisme pengusaha migor. Mereka dituduh hanya bisa mengeruk sumberdaya alam negeri ini. Ketika negeri ini menyerit, mereka terlihat seakan-akan ogah-ogahan. Setiap kali disalahkan, merekapun seakan punya jurus sendiri ngeles. Inilah atau itulah, pokoknya seribu alasan. Mau menang sendiri!        

Gelombang protes pun mengular sampai jauh. Pemerintah dinilai tak berkutik di hadapan pengusaha. Isu mafia migor yang coba dihembuskan pemerintah, seakan tak mempan. Begitu pun psywar sanksi dan hukuman berat yang coba dihembuskan pemerintah kepada mereka bermain migor, nyatanya tak menyelesaikan masalah. Migor tetap hilang di pasaran. Mau panik, ya panik sendiri lah.

Hanya bertahan lebih kurang dua bulan, tepatnya 17 Maret, pemerintah pun “kalah”. Migor satu harga pun dicabut. Bak sulap, simsalabin rak-rak minimarket dan supermarket-pun tiba-tiba dipenuhi migor kemasan. Mengembirakan? Bukan. Yang membikin perih itu harganya. Bak kata urang Minang, hargonyo ndak basiagak (harganya tidak menenggang, red). Melambung berkali-kali lipat. Harga migor pun melonjak sampai Rp 60 ribu per dua liter di pasaran. Lagi-lagi, masalah baru pun tak bisa dielakan.

Jelas, pemerintah bertambah pusing, biarpun tak sepusing emak-emak yang belanja bulanannya membuat kantong menjerit. Keputusan hebat pun kembali dikeluarkan pemerintah. Aturan larangan ekspor pun dikeluarkan. Tepatnya Kamis (28/4). Nah, giliran pengusaha pun menjerit. Pemerintah pun sebenarnya ikut meradang. Menyusul anjloknya pendapatan daerah lewat bea-ekpor atau lainnya.  Jelas-jelas baru saja dinikmati pemerintah daerah seiring melonjaknya harga tandan buah segar (TBS) sawit.

Kembali, pemerintah dibuat putar otak mencarikan solusi. Kebijakan ini juga berimbas kepada anjloknya TBS petani. Semua imbas tak terserapnya TBS di pasaran. Gelombang demo pun Kembali marak. Tak terkecuali di Sumbar, salah satunya di Pasaman Barat. Petani sawit mendatangi bupati, minta aspirasinya disampaikan kepada pemerintah pusat. Cabut kebijakan larangan ekspor CPO. Lebih-lebih, kebijakan ini tak efektif membuat harga migor turun. Harga migor seakan tak tersentuh. Tetap bikin kantong menangis.

Dan, akhirnya pemerintah luluh juga. Kurang tiga pekan paska-melarang ekspor CPO, pemerintah kembali harus “menjilat lidahnya” sendiri. Larangan ekspor CPO pun kembali dicabut. Sorak-sorai pengusaha sawit pun, jelas tak bisa dibendung. Di balik kebijakan ini, masyarakat kembali dihantui dengan semakin melonjaknya harga migor. Apalagi Kemendag hanya menetapkan domestic marcet obligation (DMO) 10 ton saja.

Nah, bagaimana sekarang? Hampir dipastikan drama migor tetap tak berkesudahan. Tidak seperti sinetron Ikatan Cinta yang diputar di salah satu tv swasta nasional yang diprediksi bakal tamat. Harusnya, pemerintah benar-benar cermat setiap kali membuat kebijakan. Bila ingin masalah migor ini cepat selesai, kalau tak ingin dianggap tak cakap. Kalau hanya mengelola satu kebutuhan masyarakat ini saja tak mampu, bagaimana bisa dianggap pemerintah berhasil. Bagaimana episode migor selanjutnya, mari kita tunggu saja. (*)

QRIS Bank Nagari Membuat Semuanya lebih Mudah

Pelayanan Bank Nagari di Masa Pandemi Covid-19
Siapa bilang pandemi Covid-19 hanya bisa menebar ketakutan dan kecemasan? Nyatanya, berkat pandemi inilah inovasi-inovasi baru yang bisa jadi tak pernah terpikirkan selama ini, kini hadir di hadapan kita. Bahkan, membuat kita geleng-geleng kepala. Lihat lah, apa yang dilakukan manajemen Bank Nagari setahun terakhir. Salah satunya lewat Quick Responses Code Indonesia Standard (QRIS)-nya.
”QRIS Bank Nagari membuat saya tak perlu lagi ribet-ribet. Untuk memenuhi kebutuhan selama pandemi Covid-19 ini, saya merasa bisa lebih tenang. Semuanya, ya pakai layanan QRIS Bank Nagari,” ucap Cindy Paloma MSi, 33, dosen Prodi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Unand, ketika ditemui Padang Ekspres di salah satu Coffee Shop merchant QRIS Bank Nagari di kawasan Padangbaru, Padang, Minggu (14/3) lalu.
Tagline ”Belanja Gaul dengan QRIS Nagari Mobile Banking: Universal, Gampang, Untung dan Langsung”, benar-benar dirasakan lulusan Magister Pascasarjana IPB Bogor ini. Penyuka kopi ini, tak perlu khawatir berbelanja apa saja, biarpun uang cash di kantong terbatas. Lebih-lebih, sekarang ini merchant QRIS Bank Nagari ada di mana-mana.
”Dulu, tak terpikirkan bisa seperti ini. Ke mana-mana, uang cash dalam jumlah cukup harus tersedia di dompet. Lebih-lebih berbelanja bulanan. Uang cash harus disiapkan lebih banyak lagi. Kan, kita jadi malu nanti. Barang sudah terlanjur diambil, uangnya tidak cukup. Apalagi, saya tidak terbiasa pakai debit/ ATM. Khawatir saja,” aku Cindy.
Afrianingsih Putri MSi, 38, kolega Cindy di Prodi Agribisnis, memiliki pengalaman berkesan pula menggunakan QRIS Bank Nagari. Perempuan penyuka seafood ini kerap senyum-senyum sendiri sewaktu membayar kuitansi pembayaran makanan yang dipesan.
”Sering dapat discount. Ka¬dang-kadang gede pula. Apalagi, kita kan sering bawa keluarga hunting kuliner seafood. Ee, sewaktu bayar dapat discount. Gimana nggak senyum-senyum. ‘Ibu beruntung sekarang QRIS Bank Nagari lagi bagi-bagi discount’. Begitu sang kasir bilang. Maunya sih, sering-sering dong Bank Nagari seperti ini. Kan bisa hemat,” ujar alumni SMAN 1 Padang ini.
Yang makin membuat perempuan penyuka drama Korea ini tambah takjub, mau apa saja sekarang bisa pakai QRIS Bank Nagari. Termasuk, berbelanja di minimarket, supermarket, atau pun membayar infak bisa pakai QRIS. Jadi, tak perlu lagi berinfak menggunakan uang cash. Cukup, pakai QRIS Bank Nagari saja.
”Pokoknya, sangat memudahkanlah. Apalagi, selama pandemi Covid-19 saya parno bila memegang uang cash. Waswas saja, takut tertular Covid-19 usai memegang uang. Bila sudah pakai QRIS Bank Nagari, belanja terasa lebih gaul,” ucap alumni SMPN 8 Padang ini.
Semakin Diminati
Mengantongi izin Bank Indonesia per 5 Februari 2020 dan di-launching secara resmi pada puncak HUT ke-58 Bank Nagari tepatnya 12 Maret 2020 lalu, atau bank BPD kedua di Indonesia dan pertama di Sumatera mengimplementasi QRIS, kini QRIS Bank Nagari berkembang pesat.
Tak hanya frekuensi transaksi meningkat, namun merchant yang tergabung. Bila awal-awal rata-rata nilai nominal transaksi QRIS sebulan hanya sekitar Rp 93 juta dengan frekuensi transaksi sekitar 3.000-an. Namun, posisi QRIS Bank Nagari per tanggal 31 Januari tercatat 6.736 merchant jumlah outlet 7.093 unit dengan nominal transaksi Rp 15.924.926.270. Tahun ini, ditargetkan merchant QRIS mencapai 17.654 merchant.
Keberhasilan ini mengantarkan Bank Nagari meraih penghargaan dari Bank Indonesia (BI) sebagai Perbankan Terbaik 1 Tahun 2020 Kategori Pelaksana Perluasan QRIS pada 3 Desember 2020 lalu. Capaian ini, jelas tak diperoleh dengan mudah. Salah satu kunci keberhasilan ini, massifnya sosialisasi. Bahkan, Dirut Bank Nagari Muhammad Irsyad terlibat langsung menyosialisasikan QRIS ini, seperti terlihat di Masjid Al Hakim, Pantai Padang, akhir Januari 2021 lalu.
Berhasil membukukan laba bersih Rp 332,7 miliar pada akhir 2020 dan mampu mencatatkan aset senilai Rp 25,70 triliun atau bertumbuh 5,18 persen, Irsyad mengaku tak main-main mengembangkan transformasi digital berupa QRIS ini. Berulang kali, Irsyad menyebutkan termasuk pada puncak perayaan HUT ke-59 Bank Nagari, Jumat (12/3) lalu, pihaknya intens menggiatkan penggunaan QRIS ke nasabah.
Terdapat sejumlah keunggulan penggunaan QRIS ini. Pertama, mengakomodir perubahan perilaku masyarakat yang beralih ke transaksi non tunai atau cashless. Ke¬dua, penggunaan tidak bersifat ek¬sklusif hanya kepada satu bank. Namun, lewat satu QR Code dapat di-scan semua aplikasi seperti, Nagari Mobile Banking, Gopay, OVO, Da¬na, dan lainnya. Ketiga, proses tran¬saksi le¬bih transparan, akurat, dan akun¬ta¬bilitas dalam pengelolaan keua¬ngan, dan juga me¬mu¬dah¬¬kan pembuatan laporan keuangan.
Terpenting, tambah dia, salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19. “Karena pembayaran nontunai, maka penggunaan QRIS akan mengurangi risiko pe¬nularan Covid-19 dengan memini¬malisir kontak fisik dengan uang tunai yang bisa menjadi salah satu media penularan virus atau penya¬kit menular,” ucapnya.
Proaktif Respons Peluang
Keberhasilan Bank Nagari me¬lakukan transformasi digital salah satunya lewat QRIS, patut diapresiasi. Selaku bank regional kebanggaan masya¬rakat Sumbar, manajemen Bank Nagari dinilai proaktif merespons peluang teknologi pembayaran digital ini lewat pelucuran QRIS. Nasabah terhubung lewat aplikasi mobile banking dengan mudah bisa melakukan pembayaran via memindai barcode.
Konsumen tidak direpotkan dengan membawa uang tunai yang juga berpotensi berisiko, sebaliknya dari sisi pedagang/merchant juga tidak direpotkan dengan kembalian uang atau risiko uang palsu ketika menerima pembayaran. Dari sisi Bank Nagari sebagai bank penyelenggara jasa pembayaran, tentunya memberikan keuntungan karena dana atas transaksi akan langsung masuk ke bank, tidak seperti transaksi cash di mana merchant/penyedia produk/jasa mengumpulkan uang dan menyetorkan ke bank.
Sejalan perubahan perilaku konsumen yang semakin menyukai teknologi, perluasan akses jejaring pembayaran digital ini dapat menjadi momen penting yang harus diimplementasikan. Mengingat, masyarakat atau generasi milenial yang melek teknologi pasar potensial bagi perbankan.
”QRIS ini bisa menjadi program unggulan sepanjang Bank Nagari memiliki kemampuan yang cepat menggarap potensi pasar nasabah yang melek teknologi. Tentunya ini harus didukung kemampuan inovasi dalam teknologi perbankan yang mempu memenuhi kebutuhan konsumen kapanpun dan di mana pun,” sebut mantan Dekan Fakultas Ekonomi Unand, Harif Amali PhD.
Perlu diingat pula, pengguna jasa keuangan dengan sistem digital bisa saja dengan mudah berpindah (switch) ke bank lain dengan alasan sederhana, misalnya system error, gangguan server, call centre yang sulit dihubungi, dan lainnya. Namun, perlu pula diwaspadai sampai kapan program QRIS akan menjadi program unggulan.
”Sebagai kompetitor yang menggarap segmen sama, tentunya bank-bank pesaing kemungkinan juga su¬dah mendisain strategi yang jitu dan ekspansif menggarap potensi pasar pengguna teknologi digital. Makanya, pengembangan inovasi teknologi dan building image sangat penting membangun kepercayaan,” ucapnya.
Ekonomi Unand, Prof Elfindri melihat, sejauh ini Bank Nagari sudah menyamai digitalisasi yang lebih dahulu dilakukan bank-bank umum pemerintah, maupun swasta besar. ”Mungkin karena lebih ke follower, sebenarnya bagus dikembangkan fasilitas-fasilitas lain yang bank lain sudah lebih dahulu. Misalnya, mengecek mana pembayaran SPP siswa yang menunggak, lalu memberikan info lebih advance kepada siswa atau orangtua,” ujar dia.
Artinya, tambah dia, digitalisasi tidak saja model ketersediaan konvensional, namun lebih menjangkau layanan lebih advance. Termasuk, investasi pada SDM menjadi sangat urgen. ”Harusnya ini dipikirkan direksi dan didesak-desak komisaris,” tukas Elfindri.
Mantan Komut Bank Nagari yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Unand, Dr Eva Yonedi menyebut, tranformasi digital Bank Nagari salah satunya lewat QRIS, bisa meningkatkan daya saing. Dengan ”going digital”, Bank Nagari tentunya mampu memenuhi kebutuhan nasabah.
”Butuh, edukasi dan sosialisasi produk-produk digital yang dimiliki Bank Nagari. Sehingga, nasabah menjadikan Bank Nagari untuk melakukan transaksi. Namun, perlu juga diingat bahwa ekspektasi pasar juga berubah cepat. Jadi, strategi digital bisa mempercepat bank untuk beradaptasi dengan ekspektasi yang cepat berubah itu,” ucap dia.
Khusus QRIS, industri jasa keuangan seperti Bank Nagari perlu lebih mendorong pelaku usaha dan UMKM Sumbar akan pentingnya digitalisasi pembayaran. Sehingga, perkembangan adopsi transaksi non-cash meningkat di kalangan UMKM. Namun, tentunya, perlu evaluasi internal dan bukti lapangan kendala yang dihadapi. (***)

Lanjutkan atau Ganti?

wordAkhirnya, sesuai prediksi rematch/ tarung ulang Jokowi versus Probowo tersaji dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Bedanya, keduanya bertukar pasangan. Bila Jokowi memilih Ketua MUI Ma’ruf Amin, sedangkan Probowo lebih memilih Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Kali ini Jokowi diusung 7 parpol pengusung plus 2 pendukung. Di kubu sebelah, diusung 4 parpol plus 1 pendukung. Lantas siapa bakal melenggang kali ini, kubu teruskan atau ganti presiden? (lebih…)

Pemberitahuan

Sekaitan handphone Rommi sedang diperbaiki, bagi yang ingin berkomunikasi dengan Rommi, mohon kiranya via WhatApps atau Line untuk sementara waktu dengan menggunakan nomor yang biasanya.Terima kasih banyak sebelumnya.Ws.

 

Raja Salman

raja-salman1LAWATAN bersejarah pertama kali setelah 40 tahun Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia, benar-benar mencengangkan. Bukan apa-apa, Raja Salman bin Abdulaziz al Saud, 81, turut membawa keluarga besarnya mencapai 1.500 orang. Sebanyak 200 orang di antaranya disebut-sebut anggota kerajaan tergolong super tajir. (lebih…)

Wisata Halal
paket-wisataKeberhasilan Sumbar memenangkan dua kategori umum plus satu kategori khusus di kompetisi halal tingkat dunia  “The World Halal Tourism Award 2016”, benar-benar melegakan. Inilah kali pertama Sumbar memenangkan kompetisi wisata halal tingkat dunia. (lebih…)