[FF100Kata] Sel di Ujung Koridor

“Jangan dekati sel di ujung koridor!”

Desas-desus itu tetap menjadi misteri karena tak pernah ada seorang pun yang berani melanggar.

Malam itu giliranku yang berjaga. Sendirian. Aku merutuk kesal pada seniorku yang tadi kalap makan rujak.

“Uhuk…”

Terdengar suara batuk dari sel itu. Mendadak wangi khas bedak bayi beraroma strawberry semerbak di hidungku.

“Air…”

Kuberanikan diri menoleh. Seorang kakek tua menempel di jeruji besi dengan tampang memelas.

Begitu aku mendekat, kakek tua itu menyambar kuat pergelangan tanganku. Lalu, semuanya gelap.

Aku terbangun dengan tenggorokan yang terasa gatal dan perih.

“Selamat tinggal, Nak,” lirih seseorang yang berwajah aku. Dari luar sel.

———–

15/12/14

Tantangan : menyertakan kata sel, tua dan strawberry.

Baca juga, yuk!

Panggilan Tak Terjawab@vandaaa_

[FF100Kata] Pohon Apel

Aku memacu kudaku secepat mungkin. Semoga Sang Ratu tidak tiba lebih dulu.

Segera kudobrak pintu kayu itu sesampainya di sana. Namun, tak ada siapa pun.

Aku berlari ke halaman belakang. Ia ada di sana membelakangiku, menatap lurus ke arah pohon apel.

“Snow?”

Perlahan ia memutar tubuh dan menatapku. Wajahnya pucat pasi. “Kau mau apel?” ia menyodorkan sebuah apel dari genggamannya.

Kupandangi apel di tangannya, lalu menatapnya. Aku terlonjak, wajah Snow mengelupas. Apel ditangannya telah berubah menjadi gumpalan otak yang berlumuran darah. Begitupun seluruh apel di pohon itu.

“Makan ini… makan…” lirihnya sambil terus berjalan ke arahku yang sudah terpojok.

176a8fb6417ff40a58508f846a4f7c8a

pict from here

Tantangan FF 100 Kata dari gambar.

———

11/12/14

Baca juga kisah-kisah sahabat yang lain di sini :

Di Ruang Investigasi@Harry_Bawole

Puteri Salju dan Otak Ibu Tirinya@aa_muizz

Seorang Perempuan dan Rencana di Kepalanya@vandaaa_

[FF100Kata] Malam Itu

Ia memandangi lagi cincin berlian yang dipajang di etalase toko. Matanya berbinar-binar membayangkan kekasihnya pasti terharu saat menemukan kotak kecil dan setangkai mawar di dalam tas sekolahnya.

“Ini akan jadi proyek terbesar kita!” seru temannya.

Dan akan menjadi proyek terakhirku, lirihnya.

Ia menatap lekat-lekat selembar foto perempuan cantik berseragam pramuka. Setelah puas, diselipkannya kembali foto itu di bawah tumpukan kertas ulangan yang baru ia periksa.

Malam itu mereka mengendap-endap masuk ke dalam rumah besar itu. Namun, langkahnya terhenti dan semakin mundur ketika menyadari siapa orang di balik kamar yang lampunya menyala terang. Seorang pria tua dan kekasihnya sedang bergumul mesra.

———
10/12/14

FF 100 kata dari Fiksimini :

@fiksimini RT @Harry_Bawole: TARGET SUDAH DITENTUKAN. “Saya tidak ikut.” | “Ini rumah orang kaya!” | “Tapi anaknya, muridku.”

Intip juga karya-karya sahabat yang lain di sini :

Lelaki di Tengah Pernikahan@Harry_Bawole

Mata Cokelat Muthia@AjenAngelina

Rencana Busuk@vandaaa_

Uang dan Harga Diri@aa_muizz

[FF100Kata] Sungai di Dekat Kampung

Danang mengerutkan kening sesampainya di tepian sungai. Airnya begitu keruh, kotor dan bau. Matanya memandang sekeliling, tak ada lagi akses seperti perahu atau jembatan untuk menyebrang menuju kampungnya.

“Apa yang terjadi di sini?” gumamnya.

Baru beberapa langkah menjauh, terdengar seseorang berteriak dari arah sungai.

“Tolong… tolong….”

Seseorang terseret arus. Di atas permukaan air, kedua tangannya terlihat berusaha meraih udara.

Danang spontan melompat ke sungai, diraihnya kedua tangan itu menuju tepian.

Hanya butuh beberapa detik saja untuk membuat sekujur tubuhnya kaku. Danang baru saja melempar  apa yang tadi diraihnya.

Mendadak air sungai memerah. Sepasang tangan sebatas lengan menggelepar-gelepar di pinggir sungai.

——-
24/09/14
Tantangan : menulis FF dari PoV orang ketiga (pria)

[FF100Kata] Kejutan

Aku memasukkan kode-kode rahasia ke layar laptop untuk pergi ke masa depan. Tugas dari Prof. Rumple membuatku depresi. Aku penasaran apakah formula yang kubuat berhasil memekarkan kembali bunga dari laboratorium. Sekaligus mengintip pesta kejutan ulang tahunku.

Selepas menekan enter, aku tersedot ke dalam layar dan muncul di ruang bawah tanah.

“Berhasil!” pekikku takjub. Bunga itu merekah sempurna.

Sekembalinya ke kamar, langkahku terhenti di tangga. Ada banyak kado, balon-balon dan karangan bunga.

“Ini kejutannya?” ujarku tersipu.

Suara bel membuyarkan lamunanku. Seorang petugas membawa paket berupa seikat bunga mawar.

Aku tersentak membaca pesannya. “Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Emma Jasmine.”

Itu namaku.

——-
18/09/14
Tema : Karangan Bunga

[FF100Kata] Naik Bianglala

Sudah berhari-hari Adik terserang demam. Tiap malam ia mengigau ingin pergi ke Taman Hiburan. Ayah menyerah, lalu membawanya ke sana.

Adik melonjak kegirangan sesampainya di sana. Demamnya seolah hilang. Pandangannya langsung tertuju pada bianglala yang berdiri megah di tengah keramaian. Matanya berbinar-binar kala menyaksikan bianglala itu berputar-putar dengan anggunnya.

“Semua sudah siap?” tanya petugas. Adik dan anak-anak yang lain menjawabnya dengan bersorak. Bianglala itu mulai berputar, pelan, semakin cepat, lalu kian meninggi.

“Kita sudah sampai!”

Bianglala itu berhenti di sebuah pemberhentian. Mereka turun teratur sambil menunggu gerbang terbuka.

“Ibu, kangennnnnn!” teriak Adik saat salah satu bidadari muncul dari balik awan.

——-
18/09/14
Tantangan : setting di Taman Hiburan 

[FF100Kata] Pengorbanan

“Jika kau mati, siapa yang akan memerintah kerajaan?”

Namun, tekadmu sudah bulat. Kerajaan harus diselamatkan. Kau mulai merobek dadamu dan mengeluarkan hatimu. Perihnya seperti tersayat pedang. Lalu, kau meletakkannya ke sebuah panci yang berisi pasir ajaib.

Kau menunggu. Selepas bunga itu mekar, kau tak bisa bertahan hidup.

Perlahan tangkai, daun dan kelopak bunga keabadian kembali merekah.

Kau bersorak. Tiba-tiba, hatimu terpental keluar, masuk kembali ke dadamu.

Kekagetanmu terjawab ketika di sudut altar seorang pria terduduk, tak bergerak. Kau mulai terisak saat ucapan Perdana Menteri kembali terngiang-ngiang.

“Hanya dua orang yang mampu melakukannya, yaitu kau…”

“…atau anakmu di masa depan.”

——–
18/09/14
Tantangan : Menyertakan kata bunga, panci dan pasir.

[FF100Kata] Inem

Ibu dibuat pusing oleh pegawai barunya.

Bayangkan, tungku kayu bakar yang digunakan Ibu untuk menanak nasi, disiramnya begitu saja. Alasannya, tak tau cara memadamkan api.

“Dandangnya tinggal diangkat dan kayunya ditarik, Nem.” Ibu mengelus dada sambil menjemur kayu-kayu yang sudah terlanjur basah.

Ibu sedang memecahkan telur-telur saat teleponnya berdering.

“Inem, tolong ini dipecahin telurnya semua. Terus langsung aja dikocok lepas.”

“Siap, Nyah! Laksanakan!”

Setelah dua puluh menit kemudian, Ibu heran mendapati Inem yang asyik selonjoran.

“Loh, mana telurnya, Nem?”

“Tadi katanya disuruh kocok lepas. Jadi, sehabis saya kocok, langsung saya lepas, Nyah! Tuh, ada di drum belakang.”

“HIIIIYYYYYYAAAAAAAAAATTTTTTT!”

——-
12/09/14
Tema : Budak. Genre : Komedi.

[FF100Kata] Kursi Kebanggaan

“Kursi bukan sekedar tempat duduk, Nak. Ia juga bisa menjadi kebanggaan bagi siapa pun yang mendudukinya,” ujar Ibu saat kami sedang menyaksikan panen raya dari pohon kebanggaan kami.

Petani itu mulai memilah semua buah.

“Apa bedanya buah-buah itu, Bu?”

“Berdasarkan kualitas. Yang terbaik akan diletakkan di istana.”

“Lalu sisanya?”

“Akan disebar ke rumah-rumah rakyat.”

Buah terakhir telah diturunkan. Petani itu mulai memecah buah-buah tersebut dengan hati-hati.

Ibu membimbingku melihat ke arah buah yang baru saja terbelah. Aku terpana, ukirannya sungguh luar biasa.

“itu saudaramu, Nak. Kelak, kalian berdua akan menjadi kursi kebanggaan Yang Mulia Raja dan Ratu.”

——-
12/09/14
Tema : Kursi. Genre : Sureal

[FF100Kata] Tiga Potong Cerita

1.
KARTU MERAH

Tiga pemain dari tim lawan berhasil ia lewati sekaligus. Beberapa meter lagi dari mulut gawang, ia bersiap. Tendangannya hampir mengenai sasaran sebelum sesuatu menyandung kakinya. Ia terjungkal, dan tanpa sengaja menginjak kepala kiper.

“Pritttttttttttt!” Tiba-tiba, Wasit mengeluarkan kartu merah.

Ia baru saja ingin membela diri sebelum akhirnya tercekat saat melihat sekeliling. Hanya ada dirinya, kiper dan wasit.

“Ada yang menjegalku!” Protesnya. Ia terduduk lemas, masih mencerna apa yang sedang terjadi.

Tak ada yang bisa membantunya. Keputusan wasit adalah mutlak.

“Maaf, Nak! Kau harus mengulangi siksaanmu.”

Pusaran angin mulai membentuk lubang hitam, menariknya masuk ke dalam sebuah lautan api yang menjilat-jilat.

Tema : Merah

2.
BADAI

Kau menutup semua lubang dan celah sekecil apa pun dari tempatmu. Di luar sedang ada badai salju yang dahsyat. Badai yang sanggup membekukan apa pun.

“Tuan, kita kehabisan kayu.” Ujar pengawalmu, panik. “Apinya semakin padam!”

“Kirim semua prajurit ke pintu, lubang dan celah apa pun!” Perintahmu. “Jangan biarkan satu tawanan pun lepas.”

Terlambat. Hawa dingin mulai masuk dan memadati ruangan demi ruangan. Perlahan sel-sel penjara yang tercipta dari api mulai membeku, lalu hancur berkeping-keping.

Kau mengerahkan seluruh tenagamu untuk menawan kembali semua tawanan. Namun, sia-sia belaka. Roh roh jahat itu berhamburan keluar, melesat secepat kilat kembali ke permukaan bumi.

Tema : Setan

3.
PETAK UMPET

Aku memeriksa seluruh lemari, laci dan kotak kotak mainanku. Namun, tak ada tanda-tanda dari Susan, bonekaku. Aku tersenyum geli membayangkan ia ketakutan saat berhasil kutangkap.

“Tadi ada di sini. Siapa yang memindahkan?” Gumamku. Sekali lagi, kuperiksa kolong kolong tempat tidur, meja dan lemari. “Kamu di mana?”

Pencarian kumulai dari kamar Ayah, mungkin saja Ibu yang memungutnya, pikirku. Akhirnya aku menemukannya di lantai dapur, terduduk membelakangiku, menatap punggung Ibu yang sedang memasak.

Sedikit lagi tanganku hampir meraihnya saat Ibu menjulurkan tangan, menggendongnya.

“Kita makan dulu ya, Nak.”

Tubuhku mendadak kaku, lidahku kelu. Bisa kulihat Ia tersenyum menyeringai dari balik tubuh Ibu.

Tantangan : PoV Aku (7 tahun)