1.
KARTU MERAH
Tiga pemain dari tim lawan berhasil ia lewati sekaligus. Beberapa meter lagi dari mulut gawang, ia bersiap. Tendangannya hampir mengenai sasaran sebelum sesuatu menyandung kakinya. Ia terjungkal, dan tanpa sengaja menginjak kepala kiper.
“Pritttttttttttt!” Tiba-tiba, Wasit mengeluarkan kartu merah.
Ia baru saja ingin membela diri sebelum akhirnya tercekat saat melihat sekeliling. Hanya ada dirinya, kiper dan wasit.
“Ada yang menjegalku!” Protesnya. Ia terduduk lemas, masih mencerna apa yang sedang terjadi.
Tak ada yang bisa membantunya. Keputusan wasit adalah mutlak.
“Maaf, Nak! Kau harus mengulangi siksaanmu.”
Pusaran angin mulai membentuk lubang hitam, menariknya masuk ke dalam sebuah lautan api yang menjilat-jilat.
Tema : Merah
2.
BADAI
Kau menutup semua lubang dan celah sekecil apa pun dari tempatmu. Di luar sedang ada badai salju yang dahsyat. Badai yang sanggup membekukan apa pun.
“Tuan, kita kehabisan kayu.” Ujar pengawalmu, panik. “Apinya semakin padam!”
“Kirim semua prajurit ke pintu, lubang dan celah apa pun!” Perintahmu. “Jangan biarkan satu tawanan pun lepas.”
Terlambat. Hawa dingin mulai masuk dan memadati ruangan demi ruangan. Perlahan sel-sel penjara yang tercipta dari api mulai membeku, lalu hancur berkeping-keping.
Kau mengerahkan seluruh tenagamu untuk menawan kembali semua tawanan. Namun, sia-sia belaka. Roh roh jahat itu berhamburan keluar, melesat secepat kilat kembali ke permukaan bumi.
Tema : Setan
3.
PETAK UMPET
Aku memeriksa seluruh lemari, laci dan kotak kotak mainanku. Namun, tak ada tanda-tanda dari Susan, bonekaku. Aku tersenyum geli membayangkan ia ketakutan saat berhasil kutangkap.
“Tadi ada di sini. Siapa yang memindahkan?” Gumamku. Sekali lagi, kuperiksa kolong kolong tempat tidur, meja dan lemari. “Kamu di mana?”
Pencarian kumulai dari kamar Ayah, mungkin saja Ibu yang memungutnya, pikirku. Akhirnya aku menemukannya di lantai dapur, terduduk membelakangiku, menatap punggung Ibu yang sedang memasak.
Sedikit lagi tanganku hampir meraihnya saat Ibu menjulurkan tangan, menggendongnya.
“Kita makan dulu ya, Nak.”
Tubuhku mendadak kaku, lidahku kelu. Bisa kulihat Ia tersenyum menyeringai dari balik tubuh Ibu.
Tantangan : PoV Aku (7 tahun)