
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Karawang hari ini, Minggu (23/3/2014) menggelar acara Silaturahmi Akbar dengan tema “Menuju Pemilu Damai Untuk Melahirkan Wakil Rakyat dan Pemimpin Bangsa Yang Amanah”.
Acara yang dirangkaikan dengan pelantikkan Pimpinan Cabang IPPNU dan PC Fatayat NU Kabupaten Karawang ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah NU Jawa Barat, Dr.H. Eman Suryaman, Wakil Ketua PWNU Jabar, Drs.H. Ardani Ahmad segenap jajaran PCNU Karawang baik Mustasyar, Syuriah, Tanfidziyah, Lembaga, Lajnah dan Badan Otonon di lingkungan PCNU Karawang juga para pengurus MWC dari 30 Kecamatan di Kabupaten Karawang serta para Pengurus Rantingnya.
Dalam sambutannya, Ketua PWNU Jawa Barat yang juga merupakan calon anggota DPD RI dari PWNU Jabar menyatakan bahwa saat ini banyak faham-faham baru yang ingin merongrong keutuhan NKRI yang kita bangun. Sebagaimana kita ketahui bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Meski pemerintah kolonial Belanda maupun Jepang dengan berbagai cara menekan bahkan melarang aktivitas pondok pesantren, tetapi dengan gigih dan keikhlasan para kiai terus berjuang mendidik anak-anak bangsa yang kemudian tidak sedikit menjadi tokoh bangsa baik pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, pra kemerdekaan maupun setelah merderka hingga saat ini.
Sebagai contoh, salah satu keputusan Muktamar di Banjarmasin adalah tuntutan agar di Nusantara segera terbentuk negara Darussalam, negara yang memberi kedamaian dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya. Negara yang mampu melindungi segenap warganya yang terdiri dari ratusan suku bangsa dan bahasa dalam satu kesatuan, Bhinneka Tunggal Ika.
Namun mereka (para pembawa faham baru) dengan seenaknya ingin merubah tatanan yang telah menjadi konsensus bersama dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu Nahdlatul Ulama harus berada di garda terdepan dalam melawan faham merka.
Sebagaimana amanah dari Ketua Umum PBNU bahwa perjuangan harus dilakukan bersama-sama mulai dari tingkatan kepengurusan yang paling bawah, ranting dan anak rantingnya hingga tingkatan kepengurusan yang paling tinggi, PBNU. Mari kita rapatkan barisan untuk berjuang bersama-sama dalam wadah Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, Rois Syuriyah PCNU Karawang, KH. Hasan Nuri Hidayatullah menyatakan bahwa Yahudi telah berhasil mengkampanyekan dikotomi ilmu menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Seolah-olah yang akan mendapat pahala hanyalah mereka yang mempelajari ilmu agama, sedangkan yang mempelajari ilmu umum tidak akan dapat pahala. Padahal islam tidak pernah mengajarkan dikotomi dalam ilmu. Semua ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum (matematika, ipa, kedokteran dan lain-lain) semuanya berasal dari Al-Qur’an yang Allah ajarkan melalui baginda Nabi Muhammad SAW. Berbuah pahala atau tidak dalam belajar ilmu bukan karena ilmu agama atau ilmu umum melainkan karena niat.
Kita suka menganggap politik itu kotor, padahal Imam Ghazali mengatakan bahwa agama dan siyasah (politik) itu ibarat saudara kembar. Politik tanpa agama akan rusak dan kotor, sementara perjuangan agama tanpa politik akan berjalan lamban. Kita belajar dari apa yang Rasulullah SAW lakukan di Makkah, beliau berdakwah dor to dor (tanpa siyasah) selama 13 tahun sangat jauh berbeda hasilnya dengan apa yang beliau lakukan di Madinah yang hanya dalam 7 tahun mampu mengislamkan penduduk Makkah bahkan sampai ke Mesir, Roma, Syam dan lain-lain.
Oleh karenanya, untuk melahirkan pemimpin yang baik menjadi kewajiban bagi warga Nahdliyin ikut andil dalam memilih pemimpin. Dengan kata lain, HARAM bagi warga NU menjadi GOLPUT.