Tulisan ini milik Rusdi Amrullah Mathari. Saya unggah kembali di blog pribadi dalam rangka memperingati World Press Freedom Day 2018. Dan juga dalam rangka mengenang bang Rusdi. Dia adalah jurnalis tangguh. Penghormatan yang setinggi-tingginya saya berikan pada “guru menulis via virtual” saya itu. Alfatihah.
oleh: Rusdi Amrullah Mathari
Mobil pick-up dua gardan yang saya tumpangi melonjak-lonjak menapaki jalan darurat yang hanya berupa timbunan pasir dan kerikil. Berkali-kali mobil itu harus dikendalikan dengan terampil untuk menghindari kubangan lumpur, jembatan darurat, atau genangan air laut yang menggerus daratan.
Di kiri kanan jalan, beberapa dari genangan air laut itu terlihat membentuk telaga seolah terjebak oleh daratan dan tak bisa kembali ke samudra. Di kejauhan di atas bukit tampak satu tenda putih bertuliskan U.N yang sudah kusam, sebagian terlihat sudah sobek. Dari Banda Aceh, perjalanan saya awali pada sebuah pagi di bulan Agustus tiga tahun lalu. Tujuannya menyusuri garis pantai barat Aceh sebuah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami 26 Desember 2004. Baca lebih lanjut


