siapa yang tidak kenal dengan permainan bola. permainan yang mengutamakan kekompakan dan kejelian pelatih mempersiapan materi pemain yang mempunyai skill serta dukungan modal yang besar sudah menjadi santapan umum. permainan yang berkembang pesat diEropa abad 19 ternyata usut punya usut yang menemukannya ternyata bangsa china. dalam kenyataanya permainan ini juga menjadi perlambang dari kemajuan peradaban suatu bangsa atau negara. pembanguna stadion megah dengan peralatan canggih dan kapasitas penonton puluhan ribu. hal ini juga dapat dilihat dari struktur organisasi yang menaungi club besar. Katakanlah Inggris, dimana liga sepak bola di negara ini sangatlah subur. pada setiap awal dan tengah musim terjadi bursa transfer besar-besaran. sehingga dalam “perdagangan” pemain terjadi peredaran uang sangat besar. angka transfer pemain mencapai jutaan dollar. ironis, ditengah kemelaratan, kemiskinan dan keterbelakangan dinegara “dunia ketiga” dinegara maju hanya sekedar permainan “mereka” rela merongoh kocek sebesar jutaan dollar untuk pembelian pemain. Kemudian timbul pertanyaan dari mana uang pembelian pemain dapat dikembalikan.
kenyataan diatas tidak dapat dipungkiri, sebab semua negara bangsa dewasa ini sudah masuk kewilyah dimana sepak bola sudah menjadi tontonan utama. kapitalisme sebagai aktor utama mengambil peran sehingga sepak bola menjadi komoditas paling laris. dengan larisnya tontonan ini laiknya industri musik yang mendapat double platinum menyebabkan perusahaan meraup keuntungan sangat besar. kemudian sebagai jaminan adalah kinerja dari pemain dan kecerdikan pelatih dituntut kerja optimal. hal ini dapat digamabarkan dengan super sibuknya club bertanding di berbagai event. misalkan saja di Inggris ada beberapa event, Liga primier ship, FA, Carling, dan bagi club masuk kualifikasi championship akan bertambah lagi kerja. artinya semakin club tersebut banyak menuai prestasi semakin memiliki jam terbang, sehingga terkuras juga tenaga club. kenyataan ini ditandai oleh banyak cideranya para pemain. kemudian, akibat dari semakin tinggi jam terbang akan pula diiringi melimpah ruah pemasukan club. ada pun pemasukan club yaitu dari penjualan aksesoris club, ticket, dan pembayaran dari perusahaan yang beriklan.
Munculnya sepak bola sebagai permainan modern tidak lepas dari watak industrialisasi dan kapitalisme yang berkembang pesat di Eropa. Lahirnya klub-klub lokal mulai akhir Abad ke-19 dan awal Abad ke-20 menandai sebuah perubahan besar dalam sejarah sepak bola. Watak industrialisasi menyusup dalam permainan tersebut. Sistem industri dan kapitalisasi, seperti yang digambarkan Adam Smith, dicirikan dengan proses spesialisasi pekerjaan untuk mengejar produksi massal yang berorientasi pasar. Singkatnya, ada pembagian kerja yang jelas dalam ekonomi industri.
Demikian pula, yang akhirnya terjadi pada sepak bola. Sepak bola yang mungkin awalnya sekadar permainan keroyokan dan asal tendang bola, lalu berkembang menjadi sepak bola yang canggih. Spesialisasinya cukup jelas, ada striker bertugas menyerang, ada gelandang menyuplai bola, dan ada pula bek yang bertugas mempertahankan gawang. Pola pembagian kerja ini sama dengan buruh dalam sebuah pabrik mobil, ada yang bertugas mengelas, ada yang memasang baut, ada yang mengecat, dan sebagainya. Pembagian tugas itu semakin dipertegas dengan istilah-istilah posisi pemain yang cukup rumit, ada defender, sweeper, stopper, libero, playmaker, dan bomber.
Contoh penegasan pembagian tugas itu, misalnya seorang bek yang ikut maju menyerang dan melupakan tugasnya bertahan akan dimaki pelatih jika timnya kebobolan. Selain itu, sangat jarang pemain yang biasa bermain sebagai bek dipasang oleh pelatih di posisi striker karena akan mengacaukan pekerjaan. Spesialisasi tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Pelatih cukup mengamati pertandingan, mengatur strategi, dan mengganti pemain. Sedangkan penonton boleh bersorak mendukung timnya, petugas medis hanya menolong pemain yang cedera, dan petugas keamanan hanya menjaga ketertiban penonton. Namun, pembagian kerja seperti ini ternyata tidak berlaku di negara agraris yang secara sosiologis masih mempunyai kultur komunalitas, ketimbang spesialisasi pekerjaan. Kecenderungan untuk konsentrasi pada satu hal kerap kali muncul dalam sepak bola. Misalnya di Inggris, polisi di pinggir lapangan menghadap ke penonton dan mewaspadai jika ada penonton yang ingin berbuat kerusuhan, jelas sesuai tugasnya.
melihat struktur, spesialisasi dan kinerja dari organisasi persepakbolaan, maka layaklah industri ini sebagai usaha alternatif. kemudian dapat juga dilihat bahwa dalam industri ini terjadi eksploitasi tenaga manusia.