Alhamdulillah kami telah menerima HIBAH berupa buku bacaan dari DIREKTORAT PEMBINAAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR DIREKTORAT JENDRAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL pada bulan September dan Oktober 2009. Jumlah buku yang telah kami terima sebanyak 45 judul masing-masing sebanyak 20 buku. Total buku yang kami terima adalah 900 buku.
Buku-buku tersebut sungguh sangat bermanfaat bagi kami, dan disambut gembira oleh para santri. Penyegaran yang telah lama dinanti. Terima kasih yang mendalam dari kami dan para santri, salam sejahtera bagi pak Dirjen. Sekali lagi terima kasih atas bingkisan lebaran bagi para pecinta buku di bani Hasyim
DENGAN BACA TULIS, AL QUR’AN MEMBANGUN PERADABAN
Dikutip dari buku berjudul “Mendidik Anak Membaca, Menulis dan Mencintai Al Quir’an karya Ahmad Syarifuddin yang diterbitkan oleh Gema Insani Press, Jakarta, 2004.
Segala puji hanya patut menjadi milik Allah swt., Zat Yang Menurunkan Al Qur’an, mengajarkannya sekaligus membuatnya mudah dipelajari, di awal maupun di akhir. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah , Muhammad saw., yang memiliki misi mengajarkan Kitab Suci Al Qur’an kepada Alam Semesta, berikut keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kemudian. Amin.
“Membaca” dalam Aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban. Ilmu baik yang kasbi (acquired knowledge) maupun yang ladunni (abadi, perennial) tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qiraat ‘bacaan’ dalam artinya yang luas.
Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Sementara kehadiran Al Qur’an melahirkan peradaban Islam, khususnya dipicu oleh daya kekuatan yang tumbuh dari semangat ayat-ayat Al Qur’an yang awal mula diturunkan yaitu perintah membaca dan menulis.
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” ( QS Al Alaq: 1-5)
Dalam rangkaian wahyu Al Qur’an yang turun perdana ini, iqra’ atau perintah membaca merupakan kata pertama dan alangkah pentingnya kata ini ketika diulang dua kali.
Kata iqra’ yang terambil dari kata dasar qara’a pada mulanya berarti ‘menghimpun’. Arti kata ini menunjukkan bahwa bahwa iqra’ yang diterjemahkan dengan ‘bacalah’ tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Dalam kamus bahasa, ditemukan aneka ragam dari kata iqra’ tersebut, antara lain : ‘menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya’ dan sebagainya yang kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat ‘menghimpun’ yang merupakan arti akar kata tersebut.Perintah membaca, dengan demikian, berarti perintah untuk menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dan sebagainya.
Iqra’, demikian perintah Tuhan. Akan tetapi apa yang harus dibaca, tidak disebutkan di situ. Sementara kaidah bahasa Arab menyatakan bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebut objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dijangkau oleh kata tersebut. Oleh karena objek dari kata iqra’ tidak disebutkan maka objek kata tersebut mencakup segala yang terjangkau, baik bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun yang bukan, baik menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, ayat suci Al Qur’an, majalah, koran dan sebagainya.
Perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan kalimat ‘bismi rabbika” ‘dengan menyebut nama Tuhanmu’. Hal ini memberikan isyarat bahwa membaca apapun disyaratkan harus ikhlas, di samping tuntutan memilih bacaan yang tidak mengantarkan kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah itu.
Bersama dengan seruan membaca, wahyu perdana di muka juga memadukan perintah menulis, yang tersirat dari kata : “al qalam” ‘pena’. Demikian pakar tafsir kontemporer memahami kata “qalam” sebagai segala macam alat tulis menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih. Anjuran menulis ini ditegaskan pada wahyu yang turun menyusul wahyu perdana itu.
‘Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.’ (Al Qalam:1)
Al Qur’an sendiri diberikan nama Al Kitab yang berarti ‘tulisan yang tercatat dalam lembaran’. Tersirat dari sini pentingnya menulis disamping membaca.
Perintah iqra’ mendorong agar umat manusia berpikir dan bertafakur mempergunakan potensi akalnya, sementara kata “Al Qalam” menyeru mereka untuk menulis dan mencatat (mengikat makna dan memonumenkan gagasan). Bisa dibayangkan bila ayat-ayat tersebut turun pada masyarakat yang tidak pandai membaca dan menulis (ummah ummiyah). Dari seruan ini lahir revolusi di masyarakat. Mereka menjadi gemar menulis dan mengkaji apa saja, ayat-ayat kauniyah, lebih-lebih ayat-ayat Al Qur’an.
Pada siang hari, masyarakat giat bekerja atau konsentrasi menuntut ilmu laksana singa, sementara malam hari mereka laksana pendeta tekun beribadah. Mereka tidak banyak tidur di malam hari demi shalat dan membaca ayat-ayat Al Qur’an. Di setiap malam, dari dalam rumah mereka, terdengar gema untaian ayat-ayat Al Qur’an. Di kota Madinah, pada dini hari terdengar suara gemuruh laksana gemuruh suara lebah, karena membaca Al Qur’an. Mereka juga bersemangat mengajarkan Al Qur’an dan membimbing umat di berbagai belahan bumi. Sementara dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai Al Qur’an dipraktikkan. Tidak ada penyembahan terhadap berhala. Tidak ada tradisi khamr, zina dan membunuh anak perempuan tidak berdosa. Berbagai tradisi jahiliyah terkikis dan berubah menjadi tradisi yang ber-tamaddun ‘beradab’. Secara otomatis, sejak itu lahirlah peradaban baru, peradaban Islam, karena dipicu oleh oleh Al Qur’an dan hanya dalam waktu tidak lebih dari 23 tahun. Peradaban itu tegar dan kokoh menandingi peradaban-peradaban yang telah ada sebelumnya.
Dari sini, bila bacaan dan materi Al Qur’an disuguhkan kepada suatu generasi muda dengan benar, maka sekitar dua puluh tahun kemudian akan lahir generasi yang qur’ani, yang elegan, bersahaja, dan progresif. Sebaliknya, bila suatu generasi dijauhkan dari Al Qur’an maka lihatlah pada masa dua puluh tahun kemudian akan muncul generasi yang ‘sontoloyo’. Demikian penelitian dari isyarah masa diturunkannya Al Qur’an kepada Rasulullah saw.. O
Filed under Berbagi Ilmu
Berita Perpustakaan
Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
Alhamdulillah Allah masih memberikan kepada kami panjang umur dan kesehatan sehingga dapat berbagi cerita kembali dengan pembaca.
Pada tahun ajaran baru ini perpustakaan Masjidil ‘Ilm Bani Hasyim mengalami beberapa perubahan. Alhamdulillah sekarang kami telah berkesempatan untuk lebih mendekatkan diri dengan pembaca utama kami yaitu santri SD Bani Hasyim Bertaraf Internasional. Sejak Juli 2008 kami menempati ruang baru di Gedung Dayang Yah Lantai 3. Namun ruang perpustakaan yang lama tetap kami fungsikan khusus bagi bacaan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak Bani Hasyim Bertaraf Internasional.
Kami berharap dengan semakin dekatnya kami dengan para santri akan semakin meningkatkan minat anak-anak untuk berkunjung dan membaca di perpustakaan. Karena jujur saja, perpustakaan pada saat ini mendapat tantangan yang lebih besar dalam membangun minat para santri. Salah satu sebabnya adalah penerapan IT class bagi santri kelas 5 dan 6, dimana masing-masing santri mendapat fasilitas komputer yang bisa on line. Keadaan tersebut memberikan kemudahan dan kecepatan dalam mengumpulkan berbagai bahan pustaka yang mereka butuhkan.
Oleh karena itu, kami harus mengedepankan fungsi rekreasi pustaka. Artinya kami harus benar-benar memikirkan bagaimana cara agar perpustakaan menjadi pilihan bagi para santri dalam mengisi waktu luangnya. Sekarang sih beberapa kelebat tentang perpustakaan yang nyaman, sehat dan lengkap telah terbayang, semoga dalam waktu dekat kami segera dapat kembali berbagi kabar tentang upaya-upaya kami untuk menjadi yang lebih baik. Aamin. Jadi kalau pembaca mau urun rembug kami tentu sangat berterima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarokaatuh.
Filed under Tak Berkategori
MEMOHON PERBAIKAN DALAM SEGALA URUSAN
Mengikuti perkembangan informasi yang paling aktual mengenai kehidupan bangsa ini sungguh membuat hati menjadi miris. Betapa tidak, silih berganti terungkap betapa kesulitan hidup telah melanda warga negeri ini secara merata. Paling akhir, semalam diberitakan bahwa warga Nganjuk dilanda banjir dengan ketinggian air sudah mencapai satu meter, sementara di Jawa Barat puluhan penduduk kehilangan tempat tinggal karena diterjang angin puting beliung. Hampir setiap minggu, media menyampaikan kabar baru tentang kemarahan alam pada kita. Lantas bagaimana dengan kita yang sedang sedikit beruntung karena tidak turut dimurkai alam? Ternyata kondisinya juga tidak lebih mudah untuk dijalani. Akibat harga beras,minyak goreng, terigu dan kedelai yang terus melonjak dalam waktu yang hampir bersamaan , seorang pedagang gorengan di Jakarta memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Belum lama juga terkuak sebuah kabar memilukan tentang saudara kita di Makassar yang meninggal karena kelaparan.
Ironisnya, para pembesar dan orang kaya sibuk untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Berulang kali DPR menunda penetapan Undang-undang pemilu yang terbaru karena setiap partai memperjuangkan kepentingan partainya hingga titik darah penghabisan. Sementara orang yang sebelumnya telah dicurigai merugikan negara dalam kasus BLBI, membagikan uang sebesar tidak kurang dari 60 milyar Rupiah kepada orang yang seharusnya membuktikan kecurigaan tersebut. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.
Dalam situasi yang memang serba sulit seperti ini, besar sekali kemungkinan seseorang akan kehilangan akal sehatnya. Hanya keimanan yang kuat kepada Tuhannya yang dapat menguatkannya untuk bertahan. Sebagai seorang muslim, bersyukur Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada kita sebuah do’a untuk memohon perbaikan dalam segala urusan. Berikut kutipan dari buku mengandung banyak berkah, yang disusun oleh Majdi Sayyid Ibrahim yang berjudul 50 nasihat Rasulullah Untuk Kaum Wanita, edisi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh PT MIzan Pustaka 2007. Dalam bab 24 disampaikan sebuah nasihat yang tentu sangat berguna bukan saja bagi kaum wanita tapi juga bagi seluruh muslim.
Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah r.a., “Apa yang menghalangi kamu mendengarkan apa yang saya wasiatkan kepadamu? Jika waktu pagi dan sore ucapkanlah;
Yaa Hayyu yaa Qayyuum birohmatika astaghiist, ashlihlii syanii kullihi wa laa takilnii il; nafsii thorfata ‘aiin.
( Wahai DZat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon petolongan, perbaikilah untukku semua urusanku, jangan Engkau serahkan -urusanku- kepadaku sekalipun hanya sekejap mata).”
Beliau telah memberi nasihat yang sangat mahal kepada putrinya, tetapi putrinya lupa tidak melakukannya atau lupa belum melakukannya di hadapan beliau, lalu beliau menanyakan hal itu, “Apa yang menghalangi kamu mendengarkan apa yang saya wasiatkan kepadamu?” Kemudian, karena cinta dan kasih sayangnya kepada putrinya, beliau mengulangi lagi wasiat tersebut, “Jika kamu di waktu pagi dan sore, bacalah …” Dari sini terlintas dalam pikiran, betapa Fatimah putri Rasulullah pun menjalani kehidupan yang tidak mudah, pun ia lupa untuk melakukan nasihat ayahnya. Bagaimana dengan kita? sepertinya kita lebih banyak melalaikan nasihat-nasihat Rasulullah SAW. Ternyata Rasulullah tidak marah, karena cinta dan kasih sayangnya Rasulullah menegur kelalaian tersebut dan mengulang kembali nasihatnya.
“Wahai Zat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.”
Imam Al Khaththabi mengatakan ketika seorang mengatakan ‘Yaa Hayyu, Yaa Qayyuum’, seakan dia meminta tolong kepada Zat yang memiliki hidup, bukan kepada selain-Nya, kepada Yang Kuasa melakukan seluruh urusan hamba-NYa, bukan kepada kekuatan selain-NYa.
“Birohmatika astaghiist. (Dengan rahmat-MU aku memohon pertolongan)”
Rahmat Allah meliputi segala sesuatu, diciptakan rahmat tersebut seratus bagian, satu bagian diturunkan di bumi ini. Dengan rahmat-Nya itulah seluruh makhluk, binatang dan setiap yang hidup di bumi ini bisa saling menyayangi. Sedangkan bagian yang lainnya akan diberikan kepada hamba-Nya di hari Kiamat nanti.
“Ashlihlii sya’nii kullihi, (perbaikilah untukku seluruh urusanku)”,
Perbaikilah seluruh persoalanku, perbaikilah kehidupan duniaku, perbaikilah kebangkitanku di akhiratku, perbaikilah kesehatanku, perbaikilah rezekiku, perbaikilah keturunanku, perbaikilah kerabatku, perbaikilah tetanggaku dan perbaikilah teman-temanku. Sungguh suatu ungkapan yang sangat agung yang bermakna tinggi, bagaimana tidak? Bukankah yang mengucapkannya adalah orang yang telah diberi kesempurnaan pembicaraan?
“Wa laa takilnii ilanafsii tharfat ‘aiin. (Jangan Engkau serahkan -urusanku- kepada diriku sekalipun hanya sekejap mata)”
Jangan Kamu tinggalkan aku, jangan Kamu biarkan aku, jangan Kamu serahkan aku pada diriku, sungguh diriku penuh dengan aib dan dosa, sungguh nafsuku itu selalu menyuruhku kepada kejahatan. Ya Allah, jadilah Engkau sebagai pendukungku dan penolongku atas nafsuku.
Demikianlah, wahai saudaraku, jika anda mencapai pada keberuntungan doa ini dan Allah SWT berkenan mengabulkan doa anda, seluruh urusan Anda telah terbenahi. Apakah ada masalah lain yang Anda butuhkan selainkebaikan keadaan di dunia dan akhirat?
Alhamdulillah, begitu mudah sesungguhnya kesulitan itu dan begitu indah kasih sayang Rasulullah yang telah meninggalkan kepada kita wasiat yang setelah empat belas abad memang masih sangat kita butuhkan.
Filed under Berbagi Ilmu