But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.
QS 2:216
Saya mulai dengan ayat ini. Memang segala sesuatu sudah jelas tertulis di Al Quran, bahkan untuk sesuatu yang belum terjadi sekalipun. Dan Allah Maha Mengetahui segalanya, sedangkan kita, hanya menerka-nerka dan jelas tidak memahami apapun hingga kenikmatan yang terus dipanjatkan dalam doa ada di depan mata.
Rasanya aneh sekali jika boleh melihat apa yang terjadi dalam hidup saya. Bukan aneh sih, hanya rasanya semuanya sudah benar-benar digariskan dan tertulis. Inilah kuasa Allah SWT dan tak ada yang mampu menepis kehendakNya.
Dimulai dari saya lahir ke dunia ini. Kita tidak bisa memilih keluarga. Allah yang menetapkan segalanya, dan anak adalah hak Allah semata. Alhamdulillah saya terlahir dari keluarga yang menanamkan kemandirian, disiplin, kerja keras, pantang menyerah, jujur, dan selalu berusaha untuk terus di jalan Allah. Alhamdulillah saya terlahir dari rahim Ibu yang kuat, tetap bekerja membantu Bapak meski harus tetap mencurahkan kasih sayang pada saya. Dari kecil saya dididik untuk tidak tergantung pada orang lain dan harus berusaha memecahkan masalah sendiri terlebih dulu. Perkara apa sikap yang diidamkan orangtua pada saya tersebut saat ini ada atau tidak pada diri saya, itu urusan dan tanggungjawab diri saya saat ini. Namun orangtua saya menanamkan itu dari kecil pada saya.
Saya bukan tipe wanita yang dekat sekali dengan orangtua. Bukan. Saya tidak menceritakan semuanya pada mereka. Akan tetapi, segala sesuatu yang saya lakukan, semuanya, selalu ada bayang-bayang keduanya. Ketika masih duduk di kelas 6 SD, saya tidak mengerti akan kemana saya bersekolah nanti. Ibu mengarahkan untuk masuk ke SMP 5 Yogyakarta, kebetulan dulu Beliau bersekolah disana. Saya masih ingat perkataan beliau saat itu,”Lebih baik kamu menjadi paling bodoh diantara yang pintar-pintar; dibandingkan jadi yang paling pintar diantara yang bodoh-bodoh”. Saat itu saya tidak paham apa maksud perkataan Ibu saya, tapi perkataan tsb saya buktikan di saat saya kuliah.
Saya bukanlah murid yang paling pintar, hanya beruntung. Alhamdulillah saya bisa masuk SMP 5 Yogyakarta dengan peringkat 391 dari 400. Adalah suatu kebahagiaan bisa masuk SMP yang sudah diarahkan oleh Ibu, meskipun di batas bawah. Kehidupan di SMP pun terseok-seok, semuanya pintar, mungkin hanya saya yang mencoba untuk beradaptasi di antara yang pintar-pintar. Ibu kerap mengelus dada seusai ambil rapot, karena peringkat kelas saya, kalau tidak 29 ya 34 dari 40. Sebenarnya mungkin saya bisa mengejar belajar, orangtua pun mengarahkan demikian. Entahlah kenapa saat itu yang di pikiran saya hanya main, main, dan main. Saya merasa bersalah saat ini.
Ibu mengarahkan saya ke SMA yang bagus ketika saya sudah kelas 3 SMP. Beliau mengingatkan perkataannya, bahwa lebih baik berada di lingkungan orang yang pintar, meski harus terseok-seok. Lalu keajaiban doa Ibu terjadi lagi. NEM saya saat itu Alhamdulillah bisa membahagiakan kedua orangtua saya. Terdengar exaggerated memang, tapi percayalah, saat itu Ibu tidak berekspektasi sejauh itu. “Kalau kamu gini terus, paling nanti masuk SMA xx” dan sebagainya. Saat itu saya dihadapkan sebuah dilema, masuk SMA x atau SMA y. Akhirnya entah kenapa saat itu saya memutuskan untuk masuk SMA x. (–,)”
Saat SMA pun demikian, saya tidak menjadi yang terpintar. Selalu “ngambang”. Terbukti saat lulus SMA, ketika teman-teman sudah diterima di PTN pilihannya, saya belum. Agak sedih memang saat itu. Kenapa yang lain sudah diterima, kenapa saya belum. Saya obsesi banget untuk masuk Teknik Kimia UGM. Sedih ketika ga diterima UM UGM, betapa susahnya masuk PTN yang diingkan kala itu. Bahkan SNMPTN pun masih kekeuh pengen Teknik Kimia UGM. Pilihan keduanya? MIPA ITB. Pikiran saat itu, yang penting kuliah dulu. Yang lain dipikir belakangan.
Ketika sudah pengumuman, sedih campur lega. Sedih karena tidak diterima di UGM, lega karena at least bisa kuliah dulu. Bandung. Saya dari orok di Jogja, semua-semua di Jogja, dari simbah-simbah semua Jogja. Harus ke Bandung banget?
Hm, nggak sebegitunya sih -_- saat itu saya seneng aja diterima di ITB karena satu dan lain hal hahaha. Temen juga ada, petualangan baru pun mungkin akan seru, tapi satu yang kepikiran. Jauh dari orangtua. Seumur-umur baru ini lho, ga ada yang masakin, ga ada yng setrikain, ga ada yang bangunin.
Ternyata, ITB membuat saya betah dan menjadikan Bandung sebagai “rumah” kedua setelah Jogja,sampai sekarang. Siapa sangka? 😉 Saat di perkuliahan, saya mendapati diri saya bahwa saya tidak salah tempat. Ternyata, saya ini MIPA banget! Untuk berpikir “teknik”, ternyata saya tidak mampu hahaha. Ternyata saya mengidolakan science, dan menjadi bersyukur sekali ketika tau penjelasan-penjelasan ilmiahnya. Semua saya temukan di ITB. Banyak sosok yang saya kagumi di kampus ini, salah satunya ya dosen pembimbing saya sendiri, Prof. Cynthia. Beliau adalah seorang Ibu yang bekerja sebagai dosen dengan pencapaian luar biasa. Riset-riset di bidang polimer, sekelas polimer untuk aplikasi EOR, membran, dll tidak perlu diragukan lagi. Beliau mengajarkan pada saya tentang time management yang sampai sekarang masih terus saya pelajari. Teman-teman disini pun semuanya sangat inspiratif. Banyak pemikiran dari paradigma hingga kultur berbeda yang saya dapatkan. Saya belajar untuk mengetahui bahwa perbedaan itu ada dan menerimanya, disini. Ah, terlalu banyak hal yang saya dapatkan disini. Di Jogja, saya mendapatkan semua hal tentang kesederhanaan; di Bandung, saya belajar menerima segala macam perbedaan.
Lalu, apa hubungan dengan quote yang saya paparkan sebelumnya?
Allah Maha Baik. Dia menuntun saya untuk “masuk”ke lingkungan yang di dalamnya banyak orang inspiratif. Betapa beruntungnya saya diberikan kesempatan untuk belajar dan mengenal orang-orang yang luar biasa hebat. Mungkin saya bukan menjadi orang yang pintar ketika di bangku sekolah, tapi Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk bertemu orang-orang hebat. Teman-teman saya lulusan SMP dan SMA? Wah semuanya inspring! Nggak salah lah Ibu dalam mengarahkan saya dulu. Banyak teman-teman lulusan SMP dan SMA saya yang membantu saya di kehidupan setelahnya. Dan saya harap saya pun bisa membantu mereka meski hanya sekadarnya, sesuai bidang saya.
Dan no offense, di ITB saya mendapatkan diri saya. Saya menemukan bahwa ternyata tempat saya ada di bidang sains. Disini juga ternyata saya memperoleh banyak pengalaman dan kesempatan untuk belajar bidang kesukaan saya lebih dalam, yang mungkin tidak saya dapatkan di tempat lain.
Banyak what-if memang, banyak kesedihan memang, tapi semua itu karena kita tidak mengerti. Bukan tugas kita untuk menerka, apalagi menentukan perihal jalan hidup bagaimana yang kita akan punyai. Tugas kita hanya percaya dan lakukan sebaik mungkin. Jika kita mengerti segala hal, tentu tidak akan ada what-if dan kesedihan, apalagi yang berlarut-larut. 🙂
Dan btw, ini cuma tentang apa ya, mungkin tentang pencapaian akademik saja lho. Sedangkan yang”diurus” Allah mencakup semua, termasuk rejeki, kesehatan, keuangan, jodoh, karir, dlsb. All praises to Allah!
GPM, 29 Ramadhan 1437H.
Ketika menunggu suami pulang kerja dan kepikiran QS. 55:55