Ada seorang anak manusia yang terkutuk. Jiwa dan raganya penuh dosa, karena ketidak-tahu-diriannya dan permintaan egoisnya kepada Sang Absolut. Harta, wanita dan status sosial mungkin adalah hal-hal yang esensial dan didambakan bagi anak manusia. Segala kenikmatan duniawi telah melengkapi hidupnya, dungunya dia, dia tetap mendahulukan ego dan meminta kepada Sang Absolut. Ini adalah cerita tetang anak manusia yang terlalu angkuh untuk menyembunyikan ego besarnya, ini adalah cerita tentang Adam.
Kehidupan yang bergelimang harta, orang tua yang penuh kasih sayang, tidak cukup bagi diri Adam. Dia meminta lebih. Dia meminta suatu hal yang tak mungkin manusia normal kabulkan. Dia berharapa sebuah kakuatan absolut datang untuk mengabulkan permintaannya. Dia bersimpuh kepada Sang Absolut. Dia yang bagi anak manusia adalah kekuatan absolut dan pemilik jagat raya, adalah sosok yang asing bagi Adam. Nurani dan kebodohannya tidak cukup kuat untuk mempercayai junjungan para anak manusia. Ketidak percayaannya pada Sang Absolut itulah yang membuat dia putus asa dan akhirnya meminta kepadanya untuk mengabulkan egonya. Karena dia percaya bahwa permintaanya terlalu istimewa untuk anak manusia normal.
Bayang-bayang akan terkabulnya keinginannya selalu bertamu didalam pikiran. Adam percaya bahwa dia sudah meminta, dan saat ini sedang menunggu realisasinya. Dia menunggu dan menunggu. Namun jawaban tak juga kunjung datang. Dia mencemooh, mencaci Sang Absolut. Merajuk bagaikan anak kecil yang tak diberi panganan manis oleh orang tua. Adam mulai tak percaya, meskipun ketidakpercayaan sudah jadi panganan sanubari bagi dirinya, rasa ketidak percayaan terus bertambah. Adam mulai sadar bahwa ketidak percayaan ini mulai bertransformasi menjadi kebencian. Walaupun mungkin saja rasa benci yang Adam rasakan adalah refleksi keputus-asaan dari keinginan yang tak terkabul. Adam mulai membenci Sang Absolut. Benci dan percaya bahwa dia tak terlalu absolut atau bahkan dia sama sekali tidak absolut. Sang absolut tak lebih dari khayalan fana anak manusia.
Gundah gulana, Adam tak pernah berhenti membenci Sang Absolut. Ketika dia bertemu dengan sesama anak manusia dan anak manusia tersebut berbicara dan mengagung-agungkan Sang Absolut, Adam hanya merespon datar. Dalam pikiran Adam, anak manusia ini begitu dungu, dilain pihak Adam mengagumi kepercayaaan semu tersebut. “Bagaimana bisa anak manusia ini mengagungkan hal yang tak mereka bisa rasakan atau mereka lihat?” ungkap Adam dalam hati.. Berusaha menahan sunggingan meremehkan, Adam menyembunyikan sikap angkuhnya secara canggung, dia tak mau anak manusia tahu bahwa dia sedang berperang melawan Sang Absolut. “Berperang? Bagaimana mungkin ini disebut sebuah perang, bila sang lawan tak menunjukan batang hidungnya?”, kata Adam terkekeh.
Waktu terus berjalan, detak jarum jam memenuhi ruangan, malam itu sungguhlah sunyi bagaikan sebuah lubang hitam yang memiliki dimensinya sendiri. Adam hanya berbaring diatas tempat tidurnya, tak melakukan apa-apa, tak memikirkan apa-apa, tak berusaha untuk tidur. Tiba-tiba Adam mendengar sebuah suara, sayup-sayup, timbul tenggelam. Suara itu terdengar semakin jelas. Adam mencari darimana asal suara tersebut, ditengoknya keseluruh pojok ruangan, dibukanya jendela kamar, namun Adam tak menemukan siapa pun disana. Suara itu menjadi sangat jelas, tidak dalam nada yang kuat namun tak pula lirih. Suara itu terdengar tepat diujung telinga Adam, seakan-akan seseorang sedang membisikan sesuatu dan berbaring tepat disampingnya. Dari suara tersebut terdengar sebuah kalimat, “Kau terlalu bodoh untuk menjadi salah satu dari mereka, oleh karena itu kau akan merasakan kegelapan di dunia”. Adam terheran-heran, butuh waktu beberapa menit sampai Adam merespon, “Apakah ini adalah jawaban dari permintaan ku?”. Adam menunggu jawaban, namun tak satu pun suara terdengar bahkan detak jarum jam seakan menghilang, murni sunyi.
Di malam itu rasa kantuk tak pernah datang. Ditemani kesunyian dan malam yang terasa panjang, Adam hanya terheran dan bertanya apalah makna dari kalimat itu. Rasa penasaran berhenti di satu titik kesimpulan, dan Adam percaya bahwa dirinya baru saja bersinggungan dengan Sang Absolut. Ini mungkin adalah kontak pertama dan mungkin pula terakhir.
-6.167238
107.000993