#1
*bel apartemen bunyi*
saya: (mikir, oh mungkin tukang pos bawain kiriman)
saya: (menekan intercom dan nanya, siapa di sana?)
*tiba-tiba pintu kamar diketuk*
saya: (kaget, ngintip lewat lubang intip di pintu, ada dua wanita berpakaian rapi dengan blazer, membawa semacam map. pengiklan? nawarin barang? atau… jangan sampe nawarin kepercayaan)
saya: (waduh, nggak bisa bohong, mereka udah tahu saya di rumah. membuka pintu)
wanita 1: sprechen Sie Englisch oder Deutsch? (indonesia: anda bicara inggris atau jerman?)
saya: Englisch verstehe ich besser (indonesia: bahasa inggris saya lebih bagus)
wanita 1: apakah anda percaya kehidupan setelah mati?
saya: (lemes. ini pasti lagi nyebarin kepercayaan. hadeuh) iya, percaya.
wanita 1: nah, kalo anda baca bible, anda akan temukan.. blablabla.. (ngomong panjang)
saya: (memotong) bentar mbak, ini ga liat apa yang ada di kepala saya? saya muslim, saya ga baca bible, saya udah punya kitab suci yang saya percaya.
wanita 2: iya kami tahu, tapi kan di kitabmu, kamu disuruh baca bible?
saya: hah? mana ada.
wanita 2: iya, saya juga baca lho kitab kamu. di kitab kamu juga mengutip kata2 dari taurat, dan kamu dianjurkan membaca bible dan taurat.
saya: mana ada, aduh, saya yang meluk agama ini, kok kamu yang sok tahu? udah deh, kepala saya lagi pusing, perut saya nggak enak karena belum buang air dari kemarin (curhat, bego), jadi saya nggak mood meladeni kalian, maaf ya, schönen Tag (inggris: have a nice day).
(nutup pintu. masuk kamar mandi. tutup pintu kamar mandi)
#2
beres praktikum yang lamanya 2 jam, saya dan teman kelompok saya si johann segera ke ruang kerja kelompok di perpustakaan elektro untuk ngerjain laporan. begitu sampai di perpus, saya buka laptop dan refleks liat jam. waduh, waktu ashar habis 15 menit lagi. kalau pergi dulu ke “mushola” kampus, bisa nggak keburu.
saya akhirnya minta izin johann buat sholat dulu. saya ke wc, ambil wudhu. kebetulan materi pengajian muslim kaiserslautern minggu sebelumnya membahas tentang tata cara dan keutamaan ibadah di musim dingin (mengenai ini mungkin saya akan bahas di lain kesempatan). waktu itu dibahas tata cara wudhu dengan tetap memakai sepatu, yaitu dengan cara tangan dibasahkan dan diusapkan ke permukaan sepatu (bukan bagian bawahnya). nah nanti saat sholat, saya harus pakai sepatu itu.
kaget? iya, saya juga. tapi melalui diskusi dan membandingkan argumen serta dalil dari sana-sini (dari pendapat ulama-ulama eropa tentu saja), saya jadi yakin dan semakin merasa, islam itu mudah ternyata!
selesai wudhu, saya kembali ke perpus dan bersiap sholat. saya lebarkan jaket saya hanya sebagai alas untuk sujud di lantai. johann diam saja, mungkin juga dia baru pertama kali lihat muslim mendirikan sholat.
terus, saya sholat deh. pake sepatu.
what a feeling. di indonesia sih mana pernah kepikir sholat pakai sepatu, wong dimana-mana mushola (dan mukena yang bisa dipinjemnya) gampang ditemuin, tempat wudhu juga berlimpah air dan ada tempat khususnya.
ya di sini susah, jadwal kuliah suka bentrok makan waktu sholat (apalagi di musim dingin, waktu dzuhur cuma dari jam 12.30 – 14.15an, kurang dari 2 jam, kalo harus pulang dulu untuk sholat nggak sempat. bahkan pergi ke “mushola” kampus juga jauh makan waktu, beneran harus ngakalin banyak hal 🙂
awalnya saya pikir keringanan yang boleh dilakuin itu sampai sholat sambil duduk dan bertayamum. terus saya pikir lagi, sebenarnya saya masih bisa wudhu dengan air, dan saya masih bisa bergerak dengan bebas untuk melakukan gerakan sholat. nggak misalnya sempit berdesakan penuh orang seperti di dalam kereta KRL di indonesia, gitu, saya masih bisa lari-lari bahkan.
jadi, islam itu mudah, tapi tidak remeh. lakuin semaksimal yang kita bisa, tapi jangan cari sulitnya. beribadah di tempat dimana islam nggak dikenal itu punya kesan tersendiri ternyata. kita jadi cari tahu banyak hal, boleh nggak gini, boleh nggak gitu, inti dari ibadah itu apa. juga ada perasaan takut sih ya, soalnya beberapa bagian dari wilayah jerman masih kuat rasismenya (biasanya disebut neo-nazi), tapi alhamdulillah di negara bagian saya hal itu nggak terjadi, mungkin karena di sini sudah banyak orang luar Jerman (jerman: Ausländer) berdomisili di sini: mereka-mereka yang kuliah di Universitas, dan juga orang Amerika anggota US Army yang biasanya bawa keluarga (soalnya di negara bagian saya banyak US Military Base, katanya jumlahnya sampai delapan).
yah, pokoknya, sholat dengan sepatu, achievement unlocked! hahaha