Hukum Shalat Jum’at
Shalat Jum’at berhukum fardlu a’in bagi setiap muslim laki-laki yang mukallaf, sehat, serta menetap atau bertempat tinggal di suatu daerah.
Dalil Shalat Jum’at
Dalil kewajiban shalat Jum’at adalah firman Allah swt.:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (الجمعة: 9)
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jum’at: 9)
Syarat Wajib Shalat Jum’at
Syarat wajib shalat Jum’at ada enam, yakni:
1. Islam,
2. Baligh,
3. Berakal,
4. Laki-laki,
5. Sehat,
6. Menetap (muqim).
Bagi seorang perempuan tidak wajib melakukan shalat Jum’at, tapi bila ia melakukannya, maka shalat Jum’at yang dilakukannya dapat menggugurkan atau mengganti shalat Dhuhur. Sedangkan bagi musafir boleh mengganti shalat Jum’at dengan shalat Dhuhur dengan syarat:
a. Berangkat sebelum terbitnya fajar shodiq,
b. Bepergian bukan untuk maksiat,
c. Mencapai jarak diperbolehkannya mengqashar shalat,
Syarat Sah Shalat Jum’at
Syarat sah melakukan shalat Jum’at ada enam, yakni:
1. Dilaksanakan pada waktu Dhuhur
Dua raka’at shalat Jum’at beserta dua khutbahnya harus dilakukan pada waktu Dhuhur, jika ragu atau waktunya sempit, maka wajib mengerjakan shalat Dhuhur.
Dilaksanakan di Darul Iqomah
2. Darul Iqomah adalah sekelompok bangunan yang menjadi tempat tinggal orang yang melakukan shalat Jum’at.
3. Hanya ada satu kali pelaksanaan shalat Jum’at dalam satu dusun.
Bila di satu dusun terdapat lebih dari satu pelaksanaan, maka yang sah adalah yang lebih dulu melakukan takbiratlul ihram, dan apabila bersamaan, maka semuanya tidak sah.
4. Dilaksanakan dengan berjama’ah
Kewajiban berjama’ah disini hanyalah pada raka’at pertama saja.
5. Dilaksanakan oleh empat puluh orang dengan kriteria:
a. Mukallaf,
b. Laki-laki,
c. Muqim mustawthin,
6. Didahului dua khutbah
Bila salah satu dari syarat di atas tidak terpenuhi, maka wajib mengganti dengan shalat Dhuhur.
Kesunahan di Hari Jum’at
Kesunahan yang dilakukan pada hari Jum’at diantaranya adalah:
a. Mandi
Waktunya setelah terbitnya fajar shadiq, dan yang lebih utama adalah ketika akan berangkat shalat Jum’at.
b. Berangkat pagi-pagi untuk shalat Jum’at (bagi selain khotib)
c. Berhias diri dengan:
1. Pakaian yang baik, terutama pakaian yang berwarna putih.
2. Memakai wangi-wangian.
3. Memotong kuku.
4. Mencabut rambut ketiak, menggunting kumis, dan memotong rambut yang tumbuh di sekitar alat kelamin.
5. Memperbanyak do’a, shalawat, serta membaca surat Al Kahfi pada malam dan siang hari.
Macam-macam Khutbah
Khutbah yang disyari’atkan ada sepuluh macam, yaitu:
1. Khutbah shalat jum’at
2. Khutbah shalat ‘idul fitri
3. Khutbah shalat ‘idul adha
4. Khutbah shalat kusuf (gerhana matahari)
5. Khutbah shalat khusuf (gerhana bulan)
6. Khutbah shalat istisqo’
7. Khutbah yaumuz zinah, dilaksanakan di kota Mekah pada tanggal 7 Dzulhijjah
8. Khutbah yaumul arafah, dilaksanakan di kota Namiroh pada tanggal 9 Dzulhijjah
9. Khutbah yaumul nafar, dilaksanakan di kota Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah
10. Khutbah yaumul nafar awal, dilaksnakan di kota Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah.
Semua khutbah di atas dilaksanakan dua kali, kecuali tiga khutbah terakhir yang hanya dilaksanakan satu kali. Selain itu, semua khutbah di atas dilaksanakan setelah shalat, kecuali khutbah shalat jum’at yang dilaksanakan sebelum shalat, dan khutbah shalat istisqo’ yang boleh dilaksanakan sebelum atau sesudah shalat.
Khutbah Jum’at
a. Syarat Khutbah Jum’at
Ada sepuluh syarat dalam khutbah Jum’at, yaitu:
1. Dilakukan oleh laki-laki.
2. Berdiri bagi yang mampu, jika tidak mampu berdiri boleh dengan duduk, bila duduk tidak mampu, maka dengan tidur miring sebagaimana urutan dalam melasanakan shalat.
3. Duduk di antara dua khutbah. Lamanya duduk disyaratkan tidak sampai memutus muwalah khutbah, dan yang paling utama adalah selama masa membaca surat Al Ikhlas.
4. Khotib dalam keadaan suci, baik badan ataupun mimbar
5. Khotib harus tertutup auratnya
6. Rukun khutbah diperdengarkan kepada empat puluh orang (isma’)
7. Rukun khutbah didengar oleh empat puluh orang (sima’)
8. Semua rukun khutbah harus menggunakan bahasa Arab
9. Kedua khutbah harus dilakukan pada waktu dzuhur
10. Harus muwalah (berturut-turut), yakni pada tiga tempat:
1) Diantara rukun khutbah
2) Diantara dua khutbah
3) Diantara khutbah dan shalat.
b. Rukun Khutbah Jum’at
Rukun khutbah shalat Jum’at ada lima:
1. Membaca hamdalah dengan lafadh yang tercetak dari masdar hamdun, dan harus menggunakan lafadh jalalah.
2. Membaca shalawat.
3. Wasiat agar taqwa kepada Allah swt.
Ketiga rukun ini harus dilakukan pada khutbah pertama dan kedua.
4. Membaca ayat Al-Qur’an, pada khutbah pertama.
5. Mendo’akan segala hal yang bersifat ukhrowi pada muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat pada waktu khutbah kedua.
c. Kesunahan dalam Khutbah Jum’at
Terdapat sepuluh kesunahan dalam melaksanakan khutbah, yakni:
1. Melaksanakan rukun-rukun khutbah dengan tertib.
2. Dilakukan di atas mimbar atau tempat yang tinggi.
3. Saat naik ke mimbar, hendaknya khotib menghadap para jama’ah, kemudian memberi salam dan duduk.
4. Salah seorang jama’ah mengumandangkan adzan.
5. Khutbah dilakukan dengan suara keras, tegas, jelas, dan bisa memahamkan.
6. Khotib tidak menoleh ke kiri dan ke kanan.
7. Tangan kanan memegang sesuatu semacam pedang atau tongkat, sedangkan tangan kiri memegang tepi mimbar.
8. Lama duduk diantara dua khutbah, adalah selama masa membaca surat Al Ikhlas.
9. Hendaknya para jama’ah mendengarkan khutbah dengan seksama.
10. Pada raka’at pertama, setelah membaca surat Al Fatihah, imam membaca surat Al Jum’at, sedangkan pada raka’at kedua membaca surat Al Munafiqun.
d. Prosesi Praktek Khutbah Jum’at
Dalam praktek khutbah diperlukan dua orang. Seorang sebagai khotib (pembaca khutbah) dan yang lain sebagai muadzin (orang yang adzan) sekaligus menjadi muroqi (pengantar khotib naik ke mimbar). Adapun prosesi khutbah Jum’at adalah sebagai berikut:
1. Di saat waktu shalat Dhuhur telah masuk, maka muadzin melakukan adzan yang pertama.Catatan :Perlu diketahui bahwa adzan pertama ini hukumnya bid’ah hasanah. Karena adzan ini adalah inisiatif dari shahabat Ustman Bin Affan ra.
2. Setelah adzan pertama, disunahkan melaksanakan dua raka’at shalat sunah ba’da adzan dan shalat sunah qobliyyah Jum’ah sebanyak empat atau dua raka’at.
3. Selesai melaksanakan shalat sunah, muroqi (bilal = jawa) segera maju mengambil tongkat, kemudian menghadap ke jama’ah diikuti dengan membaca salam. Kemudian membaca:
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، رُوِيَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ، وَمَنْ لَغٰى فَلاَ جُمْعَةَ لَهُ، أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ، أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ، أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
4. Khotib maju untuk menerima tongkat dan naik ke atas mimbar dengan posisi menghadap ke arah qiblat, kemudian muroqi membaca shalawat:
اَللّـٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّـٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللّـٰهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنِ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَانْصُرْهُمْ عَلٰى مُعَانِدِ الدِّيْنِ وَاخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
5. Setelah itu khotib mengucapkan salam kepada jama’ah:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
6. Kemudian muroqi mengumandangkan adzan yang kedua.
7. Setelah muroqi selesai berdo’a dan sudah duduk, khotib mulai melakukan khutbah pertama di atas mimbar dan menghadap jama’ah, dengan tangan kanan memegang tongkat dan tangan kiri memegang pinggir mimbar.
8. Selesai khutbah pertama, khotib kemudian duduk selama masa yang tidak memutus muwalah antara dua khutbah, dan dianjurkan baginya untuk membaca surat Al Ikhlash.
9. pada saat khotib sedang duduk, muroqi membaca shalawat dengan suara keras, dengan syarat tidak sampai memutus muwalah antara dua khutbah. Contoh bacaan shalawat:
اَللّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
10. Kemudian khotib berdiri, dan membaca khutbah kedua.
11. Setelah khotib selesai membaca khutbah, muroqi secepatnya membaca iqomah, sedangkan imam segera menuju ke mihrab (tempat imam) untuk memulai shalat Jum’at.