Kalau Sudah Sakit Hati

Kesal,

Niatnya awalnya membantu, malah disalahgunakan, dijadikan tempat bergantung, dgn alibi penghasilan..

dulu masih berusaha bersabar, ternyata semakin bikin stres dan emosi, karena kadar sabarnya kayanya kurang tinggi.. hahahaa, maapkeun lah saya yang tak sempurna… semakin kesini-sini, kok sekarang rasanya kenapa gw yang harus mengalah demi dia, demi hidup dia, demi anak dia, emangnya gw emaknya,, jd nanggung hidupnya.. egois memang rasanya kata2 ini kalo diucapkan, tapi disisi lain keseimbangan hidup gw terusik, ya,, terusik.. hari-hari jadi bahas dia, ngedumelin dia, parahnya lagi jadi ngungkit2,, nguaplah yg tadinya diharapin jadi pahala,, nguap begitu aja ga bersisa,, yang nyisa malah dosa dari ngebahas dia ga udah-udah…

Bukan, ini bukan masalah dgn suami ataupun keluarga,, ini masalah dengan temen.. Setelah banyak diobrolin sama suami, kayanya suaminya udh ngedengerin sampe berasep kupingnya, tp dasar bininya yg punya bakat ceriwis,,, belom berasa cukup plong di hati..

Ya alloh….masih rendah banget kadar iman ini … masih kalah sama emosi yg naik turun,,,

Maaf ya buat temen yg WA dan belom dibales, telp ga diangkat2.. gw butuh beresin diri gw dulu, masa iya kalo liat HP ada notif missed call / sms / wa dia ,, rasanya gw pengen ngumpet aja… kan udah ga bener kalo begini.. plis kasi gw waktu dulu ya… gw butuh me time dulu dari hidup sampeyan..

dan stop bergantung hidup dengan org lain,, ga asik ah temenan tp resiko hidup lo kok gw yg nanggung.. keluarga gw juga butuh gw pikirin donk,, dan kaki gw belom sekuat itu utk nanggung hidup lo juga..

plis ngertiin ya…

NB : cewe butuhnya curhat aja kok, jd jangan dijudge karna curhat salah tempat ya,, drpd pelampiasannya salah alamat… peace..

Dialog

Dialogue

Assalamu’alaikum…

Wa’alaikum salam…

Ajarin aja aku sesuatu

Apa itu?

Apapun.. Ajarin aku satu hal tentang apapun..

Gimana kemudian.. Kamu minta aku mengajarkanmu sesuatu yang aku tidak mengerti tentang apa…

Kamu saat ini sedang dalam fase apa? Apa yang terjadi dengan hari-hari kamu? perasaan kamu? sampai apa yang terjadi dengan komunikasi kamu dengan Pemilik diri kita ini?

Sedang ada pertanyaan besar…..

ah, tapi aku selalu punya pertanyaan besar…..

Apa itu?

hmm… Aku cuma sedang berpikir.. Apakah selama ini apa yang kita kejar, kita lakukan, bermanfaat bagi orang banyak? Dan walaupun bermandaat bagi orang lain, apakah niat kita sudah lurus untuk itu? Apakah niat itu sudah mengalahkan ego kita yang selalu ingin mengambil manfaat bagi diri kita sendiri?

Apakah kita terlalu egois selama ini hanya memikirkan manfaat bagi diri kita sendiri, tidak untuk orang lain?

Apakah sudah murni hati kita dan niat kita mengalahkan segala kemunafikan yang mudah saja mengatakan semua yang kita lakukan adalah yang terbaik bagi semua

Atau kita memang selama ini abai tentang manfaat bagi semesta? Padahal manusia yang paling baik adalah yang memberikan manfaat bagi sesama. Tapi sejauh mana pemahaman kita tentang manfaat bagi semesta?

Tentang pertanyaan dan kegelisahan kamu, menurutku itu pertanyaan sebagian besar “pencari” selama hidupnya. Akupun sering bertanya begitu. Apalagi ketika dihadapkan pilihan yang melibatkan orang lain. itu akan menjadi tarik menarik, antara ego dan keinginan untuk ‘ikhlas’.

Bahkan term ‘ikhlas’ pun terkadang didorong oleh keinginan kita dianggap ‘ikhlas’.

Aku kasih satu contoh, misalnya sekarang aku adalah mahasiswa S2, sedang proses menuju sidang thesis. Aku lalu bertanya-tanya, apakah ijazahku bermanfaat bagi orang lain? Apakah aku melakukan ini memang untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang? Padahal selama ini keinginanku sekolah hanya untuk belajar. Dan aku bisa menalar bahwa dengan ilmu, aku bisa lebih bermanfaat. Tapi bagaimana dengan ijazah, bukannya itu salah satu bentuk ego meski mudah tersembunyi dibalik kata ‘hak’?? Pada akhirnya bermuara hanya pada sebuah pengakuan…. Lalu untuk apa????

Begitu juga misal dengan pekerjaan. Apakah selama bekerja, memang kita bekerja untuk kepentingan orang lain? Dengan niat memudahkan urusan orang lain?

Sebenernya aku tau jawabannya … 😀 Yaitu kembali kepada niat kita, mudah-mudahan selalu lillahi ta’ala… Semua menjadi bernilai ibadah…..

Yahh….. akhir dari jawabannya,, Allah selalu melihat niat, dan sekeras apa kita berusaha… Kemudian tentang hasil dan ekses dari ‘jalan’ kita… biarkan itu sebagai bagian dari aksesoris dalam perjalanan…

Tapi…. Hal yang paling menarik bagi aku,, dari pertanyaan2 tadi, adalah, misalnya, aku sebagai seorang programmer. Ketika aku membuat aplikasi, aku akan membuat sebaik-baiknya semampu yang aku bisa… Aku bekerja dalam tim, sehingga aku harus perform dengan baik.. Jika berhasil, aku bisa mendapatkan kepercayaan,,, dan mendapat ilmu dan pengalaman baru dari apa yang dikerjakan. Imbasnya tentu aja banyak…

Tapi, above it all…. Seharusnya aku melakukan yang terbaik, bukan karena hal hal tersebut, tapi karena alasan yang jauh lebih sederhana, yaitu aplikasi yang aku buat akan memudahkan user dalam menyelesaikan masalahnya.. Yang berarti aku bisa bermanfaat bagi user-user tersebut.. Sesederhana itu………

Kamu betul-betul berusaha sempurna.. Mulai dari niat hingga manfaat dari hasil. Tidak hanya sampai di hasil,, lebih dari itu rupanya… Akulah yang harus belajar untuk seperti itu….

Tentang kegelisahan kamu, biar hal-hal kecil yang kamu khawatirkan itu, menjadi warna hidup kita di dunia. Tidak semuanya betul-betul sempurna, karena kesempurnaan hanya hak Dia Yang Maha Sempurna. Maha Suci Allah dari ketidaksempurnaan. Jawaban tentang lillahi ta’ala tadi sudah paling top.. ketidaksempurnaan yang kamu khawatirkan tadi menjadi pemanis dan pewarna. Bahkan setiap proses kegelisahan kita adalah bagian dari warna dan rasa hidup kita disini…….. Di dunia fana…..

Iya,, fana….. Bahkan kadang kita ga bisa melihat jelas isi hati dan pikiran kita sendiri.. Mungkin itu yang membuat : “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”… Karena nurani manusia, kalbu, diciptakan suci pada setiap bayi yang baru lahir…

Ya, sepakat…. Aku pun akhir-akhir ini merasakan… Fana…. Sesuatu yang kita anggap adalah ‘kebenaran’ dalam suatu waktu… bisa kemudian bergeser pada waktu yang lain.. tergantung maqom pengetahuan akan informasi baru dan kondisi kita saat itu…

Persis seperti teman aku bilang, setiap orang akan menerima dan mengkaji kebenaran sesuai pengetahuannya…

Untuk itu Allah mewajibkan kita berdo’a (shalat)… dan tidak ada shalat tanpa al Fatihah… Dan dalam al Fatihah, kita selalu meminta dituntun ke Sirathal Mustaqim.. Karena kebenaran versi manusia adalah sesuatu yang relatif.. Maka tidak ada jalan lain selain memohon tarikan, tuntunan dan campur tangan Dia Yang Maha Benar..

Subhanallah…

Subhanallah…

Tentang pencarian jati diri, adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti.. Karena itu pencarian terhadap kebenaran.. perjalanan kita menuju Nya…

Sebagaimana untuk mendapat syurga, kita harus melalui mati.. maka untuk menuju Dia, tentu besar yang harus kita hadapi…

Bahkan perjalanan untuk mengenal Nya saja sudah merupakan prosesi kita seumur hidup.. karena keterbatasan kita tentang pengetahuan kebenaran tadi.. Apalagi perjalanan menuju Nya….

Thanks for being a nice place to share….

Ini juga semoga sebagai bahan pengingat aku, semoga mampu istiqomah… Mari belajar mencintai Rasulullah dengan mencintai sunnahnya… Semoga kemudian itu yang menjadikan kita dekat dengan Rasul kelak di hari akhir. Ketika berusaha mencintai seseorang maka kita akan berusaha menjadi seperti orang yang kita cintai..

Insya Allah….

Berikanlah aku telinga, maka akan kuberikan suara …. (Kahlil Gibran) <- harusnya di intro tadi…

Wassalamu’alaikum wr wb

Wa’alaikumussalam wr wb…

Terima Kasih…

Mungkin hanya sekejap mata
Atau sekerlingan pandang kita berjumpa
Lembaran kalender satu persatu berganti angka
Seperti pelajaran matematika si bocah cilik
Menutup sinar mentari setiap hari dlm kebersamaan

Kita adalah kepingan peta masa depan yg tersusun tak tentu arah
Setetes buih di derasnya lautan
Berharap menemukan jalan utk saling bertemu
Satu persatu rangkaian peta masa depan akan menyatu indah….

Apalah artinya hidup tanpa harapan
Tanpa impian, jiwa menjadi dahaga
Namun tak tau air mana yg harus direguk
Biarlah harapan ini tak hanya menjadi gelas kosong
Tetes demi tetes
Namun penuh dengan harapan tanpa batas

Kawan, sekarang kita telah menjadi pasukan perubahan
Berharap menjelma menjadi rajawali bersayap emas
Memberikan perlindungan bagi semesta
Tak butuh sanjungan dan pujian
Karena tanpa sanjungan pun rajawali akan tetap tinggi mengangkasa…..

Terinakasih utk semuanya…

Hidup 24 Hari

candle

2014, May 12

24 hari dilalui dalam kebersamaan

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah ujian

Namun bukan waktu yang lama untuk sebuah pertemuan

Galau, Layaknya pinta manusia yang tak pernah melihat dari sisi Tuhan-nya

 

Malam-malam yang dilewati

Menyusuri jalan-jalan hingga larut meski mencuri-curi waktu

Menanggalkan penat, kita berlari menuju keramaian

Meski jarang kedamaian dan keramaian dapat bersatu

Namun bersamamu kawan, tak peduli ramai atau sepi,

kedamaian ada di dlm imaji yang kau bawa dlm dirimu…

 

Sebagai sebuah hati yang penuh tanda tanya

Dimana tersimpan kotak yang disimpan dengan amat dalam

Jauh, hening, senyap, sejuk, terlindung, dan selalu dijaga

Seperti ada kehidupan didalam sana, yang merintih dan  memohon untuk tak ditinggalkan

Seperti ada permohonan akan sebuah mesin waktu menjadi nyata

Meski seringkali kenyataan tak semanis impian dan harapan

Kenyataan-kenyataan yang terlanjur terjadi,

Kita hanya manusia yang tak akan mampu menggulung lembaran takdir…

Lalu aku bertanya, bukankah bagi Dia, takdir ini adalah yang terindah?

Maka biarkanlah berjalan hingga lembaran terakhirnya terbuka dengan indah….

 

Takkan mampu seluruh kenangan kita gambarkan

Seperti lembaran takdir yang kita lukis ulang ke dalam dimensi manusia….

Tak mampu kita menyederhanakan takdir dan kenangan yang telah terjadi….

Takkan mampu sebait dua bait lagu mewakili apa yang telah dilalui

Karena lagu kita berjuta-juta, dimana ada ungkapan cinta dan kebersamaan

Maupun ujian yang harus terlewatkan….

Disitulah detak jantung dan hati bernyanyi…

Sekedar mencari tempat berlarinya hati ketika sepi dan sendiri menenggelamkan kita….

Lirik-lirik dan alunan nada cukuplah mewakili sebagian hati yang terbawa kesana…..

 

Seperti sebuah teriakan lepas kita di malam hari

MESIN WAKTU!!!!

Didepan lidah api yang menyala perkasa lalu perlahan meredup menjadi bara

Diiringi kedipan tiga lilin yang menari damai=

Yang memberi kehangatan dan kedamaian

perlahan menjadi abu, lalu dilupakan

Namun alunan lagu yang kita dendangkan di malam sunyi

Bumi yang kita pijak dan langit yang menaungi, mendengarnya

Masih Bumi dan Langit yang sama dari ribuan tahun yang lalu

Yang telah mendengar jutaan kata dan harapan yang teruntai….

Dari mulut-mulut manusia yang lemah dan penuh kesah…

Tanpa ragu kita turut meramaikan langit dengan harapan-harapan kita

Berharap untuk bertemu lagi di masa depan

Berharap pintu-pintu akan terbuka untuk pertemuan yang lebih murni..

 

Biarlah tulisan ini terukir abadi disini, mewakili kenangan yang mungkin di benak

Akan terhapus oleh memory-memory terkini…

Dan kotak tersebut akan usang oleh debu debu impian-impian baru…

Lalu tulisan inilah yang akan menjadi pengingat semuanya

Membersihkan kembali kotak itu dan membukanya perlahan…

Hingga isi kotak itu menyinari segenap relung hati…

Hati yang terbawa oleh kenangan indah…..

Menjelma menjadi mesin waktu yang selama ini diimpi-impikan…

Meski tak sampai kita menuju 3 tahun yang lalu

Namun akan membawa kita kembali ke dalam hidup 24 hari yang bahagia….

 

Dan jika suatu ketika engkau mengingatku, sebutlah namaku saja, lirih di dalam sunyi, bawalah dalam do’amu

Karena seandainya saja kau tau,  itu lah saat aku tengah merindukanmu juga….

Dan kita bernaung di langit yang sama…….

 

—Kenangan Prajabatan Kelas B—

—Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,2014—

Hidup dan Tumpukan Pakaian

Pernahkah kau bayangkan hidup adalah seperti tumpukan pakaian yang menunggu untuk dilipat?

Bayangkanlah kau berada di sebuah ruangan besar dengan beberapa orang lainnya di dalam ruangan. Masing masing duduk di lantai dengan tumpukan pakaian yang masih berantakan dibelakangnya dan tumpukan pakaian rapih di hadapannya. Tugas masing-masing orang ini adalah melipat semua pakaian yang ada di tumpukan belakangnya menjadi rapih, lalu meletakkannya di tumpukan di hadapannya. Hanya satu kesempatan untuk melipat setiap satu pakaian. Kau tak boleh mengulangnya kembali.

Ruangan itulah rumahmu, dan orang-orang itulah keluargamu. Setiap orang memiliki tumpukan pakaian yang berbeda. Nun di luar sana, di dalam rumah rumah lain, keluarga lain pun sama denganmu, melipat pakaian dan menumpuknya dengan rapih di rumah-rumah mereka.

Sekarang lihatlah dirimu. Yang dengan giat melipat pakaian dari tumpukan belakang ke tumpukan depan. Sesekali mengeluh lelah, sesekali menghapus peluh. Dan suatu ketika, kau tak bisa melipat dengan sempurna meskipun kau telah berusaha maksimal. Itulah takdir.

Mundurlah beberapa langkah, dan lihat tumpukan pakaian di hadapanmu. Lihatlah disana tumpukan yang sudah berisi ribuan pakaian yang berhasil kau lipat. Lihatlah, carilah satu pakaian yang tidak terlihat sempurna disana. Satu ketidaksempurnaan tidak akan mengubah keindahanmu jika kau menghadapinya dengan positif.

Maksudnya begini, ketika lipatan itu tidak sempurna, apa yang kau lakukan? Apakah kau akan berpikir untuk memperbaiki nya di lipatan berikutnya yang akan kau temui? Ataukah engkau akan merana memikirkan lipatan tersebut, sembari tanganmu terus melipat pakaian yang lain? Alhasil tidak hanya satu pakaian yang terlipat dengan buruk, namun bisa jadi dua, tiga, sepuluh bahkan ratusan, sampai engkau menyadari kekeliruanmu dalam memaknai satu episode di hidupmu.

Namun jika kau berpikir positif dan berniat memperbaikinya di lipatan berikutnya, lanjutkanlah. Setelah beberapa waktu, mundurlah sedikit untuk mengamati hasil lipatanmu. Mungkin kau akan menemukan satu lipatan yang buruk di tumpukan pakaianmu. Namun jika dilihat secara keseluruhan, hal itu tidak akan merusak semua tumpukan pakaianmu.

Begitulah seharusnya memaknai hidup. Sesekali memang ada bagian yang tidak sesuai keinginan kita meskipun kita telah berusaha keras, itulah takdir. Layaknya kesempatanmu yang hanya satu kali untuk melipat satu pakaian, takdir pun hanya akan kau lewati sekali. Pilihanmu adalah pada tumpukan pakaian berikutnya yang harus kau lipat, episode hidup berikutnya yang harus kau jalani. Akankah kau terpaku pada kesedihan akan masa lalu sehingga melewatkan beberapa episode hidupmu menjadi lipatan-lipatan buruk? Ataukah engkau akan menyadari takdirmu, dan  bersegera memperbaikinya sebelum semua tumpukan pakaian di belakangmu telah habis?

Namun jika belum juga kau sadari takdirmu bahkan hingga tumpukan pakaian terakhirmu, sadarilah, berapa episode hidup yang kau abaikan demi takdir yang telah berlalu dan tak akan mampu kau ubah kembali…………..