
Title : Black Pearl
Author : Printa FS a.k.a Printa Park
Genre : fantasy, friendship, a little bit romance?
©Printa Park’s Fanfiction 2014
“ya! Hyera-ya!” Lay yang baru akan mengambil air putih tampak heran dengan sikap Hyera, tentu saja. Hyera bersikap seperti itu seperti orang gila saja. Berceloteh sendirian dan tampak berantakan. “kalau kau mau mandi, mandi saja pakai air hangat. Ku lihat kau tampak pucat hari ini. benar kata Luhan hyung, kau harus istirahat dulu. Atau mungkin lebih baik kau tidak usah mandi dulu, Hyera-ya.”
Hyera menghentikan ucapan-panjang-tanpa-titiknya sambil menatap Lay, “aku ini sehat! Aku mau masuk sekolah! Belum genap masuk selama seminggu aku sudah absen saja! Dulu aku tidak pernah absen ke sekolah. Aish!”
Lay tampak kaget dengan ucapan panjang Hyera, kemudian menatap Hyera tajam. Hyera yang di tatap seperti itu kemudian berhenti berbicara, ia seperti patung, membeku begitu saja dengan tatapan yang sulit di artikan menuju ke arah Lay. Hyera yang saat itu membelakangi pintu kamar mandi segera mundur satu langkah, kemudian menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
“mungkin benar kata Luhan oppa, Lay benar-benar galak.”
***
Hari ini, si pelupa Kris, atau siapapun kita menyebutnya, sedang berada di sekolahan dengan tergesa-gesa. Ia baru ingat mempunyai jadwal kuliah pada jam 9. Sementara sekarang, Kris berlarian pada jam 08.58. Itu artinya, kurang 2 menit lagi ia diperbolehkan mengumpulkan tugasnya.
Ia harus mengumpulkannya. Ia menerima konsekuensi apapun, yang penting tugasnya harus terkumpul dan ia bisa mendapat nilai. Ia tidak mau waktunya terbuang sia-sia hanya karena tugas yang tidak boleh dikumpulkan.
Akhirnya, Pria dengan tinggi menjulang itu sampai di kantor dosen. Ia melongokkan kepalanya di pintu utama. Ia menemukan meja dosen yang memberinya tugas itu masih duduk santai sambil menyiapkan bahan mengajarnya nanti. Kris akhirnya masuk, dan membungkuk pada dosen yang terlihat sudah berumur 40-an itu.
Ia meletakkan tugasnya di meja, di hadapan dosen dengan name tag ‘Park Heun So’. Lelaki tua tersebut menurunkan kacamatanya, di atas tulang hidungnya. Menatap Kris yang masih berdiri dihadapannya dengan nafas tidak beraturan.
Ia kemudian melirik jam dinding dibelakang Kris. Tepat jam 9. Itu artinya, tugas Kris tepat waktu. Kerja bagus.
Namun, tatapan Park Heunso pada Kris berbeda. Ada hawa aneh pada tatapan tersebut. Kris merasakan hawa mengerikan disekitarnya. Ia juga merasakan bulu kuduknya merinding. Membuat Kris menggosok leher belakangnya, gugup.
Tentu saja ia gugup, Park Heunso terus saja menatapnya tanpa berbicara apapun. Apa Kris harus berbicara terlebih dahulu? Berbicapa apa? Tentang pengumpulan tugas? Ia selalu mengumpulkan tugas tanpa berbicara apapun pada dosen galak itu. Ataukah ia harus mendiamkannya seperti ini terus? Mana yang lebih sopan? Berbicara lebih dulu atau berdiam diri dihadapan dosen? Baca lebih lanjut →