Lalu apa? Apa yang menyebabkan adanya kerusakan?
Lantas, aku melihat sekeliling. Aku melihat lampu lalu lintas. Semua orang yang memiliki kendaraan pasti akan mematuhi lampu itu. Bila tidak, akan terjadi kekacauan, entah itu macet, tabrakan, atau hal-hal lain yang pasti ingin dijauhi manusia. Oh, ternyata ada hal baru : ada aturan baru dalam manusia. Namanya aturan lampu lalu lintas, bila warnanya merah kendaraan berhenti. Bila warnanya hijau, kendaraan harus berjalan. Dan bila warnanya kuning, kendaraan harus bersiaga untuk berhenti. Oh… jadi ternyata ada aturan dalam aturan alam semesta. Apakah itu mengganggu? Kurasa tidak. Yang menarik dari hal ini adalah, adanya aturan baru.
Aturan ini mengatur kendaraan-kendaraan. Tentunya memengaruhi manusia yang mengendarai pula, tetapi kulihat, banyak orang yang sanggup memenuhinya. Aku lihat aturan sebagai bentuk kekreatifan manusia. Bila tidak pernah ada aturan sebelumnya mengenai sesuatu hal untuk terjadi, maka manusia membuatnya. Manusia memang pintar dan cerdas.
Kulihat kembali aturan lampu lalu lintas itu. Aturan ini ternyata merupakan bagian dari aturan berlalu lintas dan aturan-aturan lain yang harus dipenuhi saat berkendara. Aturan ini cukup efisien mengatur lalu lintas, kendaraan, keselamatan pengendara, dan lain-lain. Hmm? Tetapi, mengapa ada orang yang melanggar aturan itu? Mengapa ada orang yang mengendarai motor tanpa helm pengaman? Ada pula yang menggunakan helm, tetapi tidak sesuai spesifikasi yang tepat untuk motor. Untuk sekilas, terlihat orang-orang yang seperti itu aman-aman saja. Namun, bagaimana bila ternyata ada diantara orang-orang tersebut yang tertabrak? Mungkin badannya terlempar ke jalanan. Kepalanya tidak mengenakan helm dan otomatis mungkin akan luka berat.
Ternyata bila tidak mengikuti aturan, bisa celaka. Atau perlukah disimpulkan bahwa, tidak mengikuti aturan itu sama saja dengan membuat aturan baru?
Â
Bukannya aturan baru itu sebuah bentuk kekreatifan manusia ?
Â
Iya, tetapi ternyata bila aturan baru itu melawan aturan yang mendasar, pasti akan ada efek buruk yang akan menimpa orang yang membuat aturan baru itu. Tentunya aturan yang melanggar aturan mendasar.
Itu hanya aturan sekilas tentang aturan lalu lintas dan berkendara. Bagaimana dengan aturan alam semesta? Untuk ukuran alam semesta yang didiami dan dijadikan manusia tempat untuk hidup dan beraktivitas, pastilah ada aturan. Aturan yang diciptakan manusia pasti juga tidak mungkin melawan aturan itu. Adapun aturan yang melanggar aturan alam semesta, nanti pastilah akan ada kerusakan. Akan ada tanda-tanda tidak seberjalannya aturan itu dengan aturan alam semesta.
Â
Yang menariknya lagi adalah, semua yang ada dan hidup pasti memiliki aturan masing-masing dan tidak mungkin menentang aturan alam semesta saat pertama kali ada.
Lalu bagaimana dengan aturan manusia? Mungkinkah manusia memiliki aturan sendiri untuk dirinya? Sepertinya tidak. Kulihat manusia selalu tumbuh dari tingkatan bayi, kemudian menjadi balita, anak-anak, remaja, hingga menjadi tua. Manusia tidak mungkin bisa hidup sejenak menjadi remaja dan keesokan harinya menjadi seorang bayi kembali. Berarti manusia tidak bisa melawan aturan hidup. Sepertinya begitu. Tetapi, sesungguhnya, apa aturan untuk mengontrol hidup manusia ?
 Manusia pasti memiliki karakter berbeda-beda, tetapi pasti ada aturan yang mengikatnya untuk hidup. Seperti aturan lalu lintas tadi. Manusia itu seperti kendaraan. Namun , sesungguhnya ada pengendara dari kendaraan itu : otak.
Pertanyaanku sekarang jadi banyak…
Untuk apakah manusia ada? Untuk apa ada otak? Apa sebenarnya aturan yang mengikat manusia ?
Mengapa aku bertanya begini? Karena mungkin sebenarnya aku takut seperti kejadian motor tadi. Manusia memiliki aturan baru dan akhirnya celaka karena membuat aturan sendiri. Pastilah ada aturan yang mengatur hidup manusia yang harus ditaati.
Â
Tetapi, apakah itu? Kamu tahu?