Eiiittsss.. ini bukan nama grup band lho yaaaa… Ini saya mau bitching.. hyahahahaha.. mau berbuat jahat kok ngaku duluan!
Suatu ketika saya sedang ketak ketik di depan komputer, seorang temen nanya, “Kamu lagi ngapain? Kalo udah selesei pinjem ya komputernya. Biasa.. mo ngecek update-an (pacar).”
*Owh.. Okay. Lagi blogging nih. Bentar ya, baru aja nih mulai ngetik.*
“Blogging tuh apaan ya? Nggak ngerti begituan.”
*Hmmm… kayak nulis diary atau jurnal online deh.*
“Boleh aku baca?”
*Yeah sure, kalo kamu ngerti Indonesian.*
“Ah… OK.. nggak mungkin kalo gitu. Anyway, kalo blogging kamu ngapain?”
*Me? Bitching.*
Hyahahahaha… sumpah waktu ngomong itu padahal cuma iseng doang. Terkeluar begitu aja. Nadanya cuma bercanda. Herannya si temen saya itu percaya. Mungkin habis ini saya nggak punya nama baik lagi. Habis sudah image baik saya. *devilish grin* Too bad. I don’t really care. At. All.
Hari itu sepertinya bukan hari yang baik untuk dihabiskan bersamanya. Not that day. Not the other days before. Abisnya tiap kali ketemu dia, selalu ada kejadian nggak menyenangkan. One of the gal even had a breakdown in a great summer day. Gara-gara Ms. Perfecto yang satu ini. Waktu itu rasanya nggak percaya, temen saya yang manis, selalu baik hati sama siapa aja, ramah, bisa sampe nguntap! Beberapa meter dari temen saya itu, si dia pun menangis ala seorang ratu. Hyahahaha… Nggak percaya saya, berasa masuk ke telenovela. Not only happened once. Terjadi lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Entah kenapa dia selalu berusaha (dan berhasil!) menjadikan dirinya public enemy numero uno.
Dan herannya… kenapa saya yang dikuliahin sama dia ya? *geleng-geleng* Mungkin karena saya males banget ngomong, jadinya saya berusaha jadi pendengar yang baik. One or two syllables. Encourage her to tell her story. And it’s getting harder and harder. Karena yang diceritakan sama dia adalah topik2 sensitif. Please deh, kalo ngomongin soal rasisme atau soal sekte2 yang saya sendiri nggak ngerti apaan, ya jangan di tempat rame napa? Apalagi dia ngomongnya nggak bisa pelan. Sini kan jadi jengah. Diliatin orang-orang. Dibelok-belokin, malah mbalik lagi. Kenapa kita nggak ngomongin soal cuaca aja? With her, topik tentang cuaca adalah hal yang saaaaaaaangat menyenangkan. At least aman buat kesehatan mentalku. Gyaaaaaaa. Menit-menit yang menyeramkan.
Selesai dengan topik menyeramkan, dia memulai kuliahnya. Siapa topiknya? Me. Saya. Hyahahahaha. I felt so uneducated. “You know, I agree to the opinion that across the whole world, all the middle class children are the same. They got the same kind of education. From their parents and from their school.”
Whoa. Maksudnya apa ya, Mbaknya? Mood saya yang udah tinggal seperempat buat bermanis-manis dengannya langsung hilang. I won’t be a good politician. I don’t care. Sepuluh kali sepuluh, capeeee deeeee.
Entah dia nguliahin saya apa lagi. Sikap saya yang selalu cuek ke dia mungkin. Saya udah separo dengernya, padahal dia jalan di sebelah saya. Mungkin orang di belakang saya mengira saya ini betul-betul uneducated. Like I care. Yang ada di kepala saya adalah seandainya saya bisa bilang ke dia, kalo detik itu juga saya bisa beliin dia tiket buat pulang ke negaranya. Business class kalo perlu. Seandainya saya bisa bilang ke dia, kalo dia bilang saya ini middle class child (sesuai dengan spesifikasi dia yang panjang lebar tentang keluarga middle class) then Indonesia adalah negara termakmur di dunia. Bukan lagi developing countries, tapi developed country. Umm… not rite, over developed sepertinya lebih pas.
Sayangnya itu semua hanya seandainya. Saya kan pelit dan jahat. Buat apa saya beliin dia tiket pesawat pulang. Business class lagi. Buat apa saya kasih tahu ke dia tentang Indonesia. Toh dia sudah bikin fakta ala dia di dalem kepalanya.
Hyuuuuh. Thanks God. I packed her go. I didn’t see her fly. But I do believe she’s out of the country now.