May 4, 2011
Energi yang Tidur
Energi yang Tidur
Sampai saat ini, minyak masih merupakan primadona sumber energy di bumi ini. Energi ini sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan industry dan transportasi. Sebagai negara dengan jumlah penduduk 237,5 juta jiwa, kedua sektor ini memegang peran yang sangat penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan kata lain, minyak memegang peran yang sangat strategis dalam hal energy dan juga kesejahteraan.
Potensi minyak itu sendiri di Indonesia cukup besar. Menurut data badan pusat statistik, Indonesia memiliki 60 ladang minyak (basins), 38 di antaranya telah dieksplorasi, dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Suatu potensi minyak yang luar biasa, dan dapat dikategorikan cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri. Salah satu ladang minyak Indonesia yang sangat potensial adalah Blok Cepu. Secara bisnis potensi minyak Blok Cepu sangat menggiurkan. Setiap harinya, ladang minyak Blok Cepu ini bisa menghasilkan sekitar sekitar 200.000 barel perhari. Jumlah itu dengan asumsi harga minyak US$60 perbarel, maka dalam sebulan bisa menghasilkan dana Rp 3,6 triliun atau Rp 43, 2 trilun setahun.
Dengan potensi yang demikian luar biasa tersebut seharusnya Indonesia mampu tampil sebagai negara yang makmur. Seperti halnya Brunei, sebuah negara yang tidak begitu besar namun makmur dengan GDP sebesar $ 52.000 dengan mengandalkan minyak bumi sebagai penghasilan utamanya. Namun kenyataannya adalah suatu ironi. Indonesia tidak sebaik Brunei dalam memanfaatkan potensi minyak buminya. Dengan potensi minyak bumi yang lebih besar dari Brunei, Indonesia hanya mencapai angka GDP sebesar $ 4.000. Tiga belas kali lebih kecil dari GDP Brunei.
Mati di Lumbung Padi
Pepatah klasik pernah mengungkapkan pribahasa “Ayam Mati Kelaparan di Lumbung Padi.” Hal ini merupakan ironi mengingat matinya ayam tersebut di tempat yang kaya akan sumber makanan. Keadaan ini bisa dikatakan serupa dengan keadaan Indonesia saat ini, “Kemiskinan di Lautan Minyak Bumi.”
Minyak bumi yang membuat negara seperti Brunei menjadi makmur ternyata tidak demikian dengan Indonesia. Negara ini justru terpuruk dengan potensi minyak bumi yang dimilikinya. Hanya beberapa orang yang mengalami kemakmuran dan sebagian besar hanya bisa meratapi nasibnya. Minyak bumi pada akhirnya menciptakan jurang kemakmuran yang sangat timpang.
Melihat kenyataan tersebut, muncullah pertanyaan sederhana “Mengapa ini yang terjadi?” sebuah negara dengan potensi minyak bumi yang besar seharusnya menjadi negara yang mandiri. Minyak bumi yang selalu menjadi primadona seharusnya mampu menggerakan roda perekonomian negara. Dalam APBN, pemasukan negara tinggal mengandalakan pajak, padahal dahulu pemasukan APBN juga diwarnai oleh pemasukan sektor migas. Kemana migas kita selama ini? Dikemanakan potensi-potensi yang kita miliki tersebut?
Sebagai perusahaan negara atau BUMN, Pertamina menguasai penuh pengelolaan minyak bumi. Namun, sangat disayangkan, berdasarkan data ESDM 2009, Pertamina hanya memproduksi 13,8%. Sisanya dikuasai oleh swasta khususnya asing seperti Chevron (41%), Total E&P Indonesie (10%), Chonoco Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%). Jika diperhatikan, Chevron ternyata lebih menguasai sektor perminyakan di Indonesia daripada pertamina itu sendiri.
Melihat kenyataan tersebut, terjawab sudah kemana larinya potensi minyak bumi yang kaya itu selama ini. Pertamina yang menjadi satu-satunya BUMN yang mengelola minyak bumi ternyata tidak berdaya menghadapi Chevron. Tak heranlah maka potensi-potensi minyak bumi yang kaya itu beterbangan ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat, tempat Chevron berdiri.
Memanfaatkan secara mandiri
Potensi minyak bumi yang besar tidak akan berpengaruh apa-apa jika pemanfaatan potensi tersebut tidak dimanfaatkan oleh diri sendiri. Dengan teknologi yang tinggi dan dana yang besar, pihak asing merasa lebih mampu untuk mengelola potensi-potensi tersebut. Sedangkan Indonesia, dengan pola pikir jangka pendek merasa tidak masalah dengan pengelolaan minyak bumi oleh asing. Ketika itu tentu belum terpikir dampaknya akan separah ini.
Kenaikan harga minyak bumi dunia, yang selanjutnya meningkatkan tariff transportasi, harga bahan pangan, dan akhirnya memperkecil daya beli masyarakat seharusnya membuat pemerintah menyadari betapa pentingnya pengelolaan minyak bumi secara mandiri. Perlu adanya inovasi pengembangan teknologi yang dimiliki oleh Pertamina.
Untuk permasalahan pendanaan, pemerintah bisa memanfaatkan instrument surat utang negara, baik dalam bentuk ORI (obligasi) maupun SR (sukuk/ obligasi syariah) yang diterbitkan khusus untuk semua kalangan orang Indonesia. Dengan menggunakan konsep yang sama dengan koperasi, yaitu dari-oleh-dan-untuk aggota, surat utang negara dapat menjadi produk pendanaan yang diminati oleh masyarakat. Dengan pendapatan hasil yang jelas di periode tertentu kepada pembeli surat utang, masyarakat akan merasakan hal ini menjadi insentif yang menggiurkan. Sesuai dengan salah satu prinsip ekonomi, orang akan tanggap terhadap insentif, begitu pula yang harus dilakukan sekarang oleh negara dalam hal pendanaan.
Namun, surat utang tersebut tidak akan menjamin bahwa sebagian besar dana masyarakat dapat terserap sempurna. Ada kendala lain yang dimiliki negara ini dalam hal pengelolaan keuangan, yaitu adanya praktik korupsi yang sulit dihindari. Dengan demikian, para calon pembeli obligasi akan memiliki keraguan tentang kejelasan penyaluran uang mereka. Jika ternyata dikorupsi, tentu para investor menjadi enggan untuk membeli surat utang tersebut. Namun, jika kepercayaan para investor sudah tinggi, jenis pendanaan ini tentu akan sangat dianjurkan.
Jangan Lupa dengan Energi Alternatif
Sebagai sumber daya tidak terbarukan, seberapa besar pun potensi minyak yang dimilliki Indonesia maka suatu saat akan mengalami kehabisan. Isu tentang akan habisnya cadangan minyak dunia tersebut membuat para ilmuwan berlomba-lomba untuk mencari sumber daya terbarukan yang dapat menjadi energy pengganti bagi minyak bumi.
Indonesia sempat menggembar-gemborkan bahwa telah ditemukan sumber energy terbarukan yanhg berasal dari pengolahan biji tanaman jarak. Minyak dari biji tanaman tersebut rupannya mampu dijadikan alternatif pengganti bagi kendaraan bermesin diesel. Namun demikian, penemuan energy terbarukan ini kurang menjadi perhatian pemerintah. Terbukti, masih kurang SPBU yang menyediakan pengisian bahan bakar berbasis tanaman jarak tersebut atau dikenal juga dengan istilah biodiesel. Padahal, penemuan ini jika mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah, Indonesia bisa menetapkan paten atas bahan bakar tersebut dan menjadikan bahan bakar tersebut sebagai bvahan bakar utama negara ini.
April 28, 2011
Malam Permohonan
Kesendirian ini mengantarkan aku pada jejak itu
Melalui celah-celah jemari yang kumainkan
Aku menunjuk-nunjuk awan
Mereka berarak, menari, melukis
Ada kenangan yang ingin kusampaikan
Detik ini akan mempertemukan aku dengan malam
Sebuah kerinduan bagi sang penyanjung picisan
Kini tempatnya menjadi sangat jauh
Meski dalam satu sisi ada suatu keeratan
Aku memandang dalam goresan yang masih basah
Tercium aromna yang tak kunjung membuatku hidup
Apakah aku mati atau aku hidup
Kegamangan mengurungku dalam ruang dan waktu
Kini aku meyakini doaku pada Tuhan
Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhannya
Aku butuh satu malam dengan nafas yang panjang
Sebuah nafas yang larut dalam mimpi yang terbentang
Aku butuh sesuatu
Mungkin warna, nafas, dan hidup
Tuhanku, sungguh aku lemah
Sungguh aku ingin hidup
Sungguh aku butuh malam yang panjang
Bandung, 28 April 2011
December 23, 2010
Antara Zakat dan Riba
Sebuah makalah kontoversial karena mengonstruksi 3 pemikiran, Afzalur Rahman dengan “Doktrin Ekonomi Islam”-nya, Chandra Natadipurba dengan modul kajiannya, Yususf Qardhawi dengan “Hukum Zakat”-nya, dan Fadilla dengan idenya sendiri menggabungkan karya-karya mereka. Tak lupa, dengan dituntun oleh tuntunan suci, lembaran mulia, al-Quran al-Karim.
October 31, 2010
Cerita Kita
Andai kau tak pernah tahu
Mungkin takkan jadi begini
Ini bukan pengalaman bercinta
Ini pengalaman bercerita
Merangkai rasa dalam kata
Bukan tulisan ini yang ingin kusampaikan padamu
Bukan pula cinta yang datangnya tanpa diduga
Tapi cerita yang merangkai kita
Cerita yang mengajak dewasa
Selamat pagi atau selamat tidur
Menggerutu, marah, atau tawa
Itu yang membingkai cerita kita
Senyum, salam, atau sapa
Hujan, bintang, atau malam
Semoga cerita ini tetap mengalir indah
October 10, 2010
Yang Telah Bermuara
kuhabiskan lilin ‘tuk terangi
kutuliskan bahasa yang indah
tentang cinta yang membungkam kata
dan terlanjur tiba di muara
yang tersisa sehabis malam ini
kurindukan satu kisahnya
kusadari tak ada yang kumengerti
tentang waktu di senja yang lalu
tunjukkan aku kebaikan hatimu
bunuh aku dalam dekapanmu
perlahan hingga kau pun mengerti
jalan ini bukan pilhanku
dekapan bulan akan tetap hangat
sehangat rahasia cinta yang tersimpan
dapatkah aku untuk tetap begini?
bertahan dengan napas yang sesak
atau
aku bertahan dalam tangis sepanjang malam
menunggu takdir
menunggu mati
menunggu pembalasan
menunggu sisa hati terbakar oleh dosa
October 2, 2010
Resensi Buku “Female Brain”
Resensi Buku
Judul Buku: Female Brain
Penulis: Louann Brizendine
Penerbit: Ufuk Press
Tebal Buku: 441 halaman
Jenis cover: softcover
Pembahasan Buku:
Jika hanya dilihat dari judulnya saja, Female Brain, Anda mungkin akan berpikir bahwa buku ini telah dirancang dan dikhususkan untuk kalangan perempuan saja. Namun, coba Anda lihat dulu bagaimana buku ini dibungkus dengan kemasan yang amat rapih. Cover yang didominasi ekspresi perempuan. Nama penulis, Louann Brizendine, serta sebuah tulisan atas dedikasi si penulis, “Hasil penelitian 20 tahun… Temuan terbaru.” Lalu di bawah judul buku Female Brain terdapat tagline berbunyi “Mengungkap Misteri Otak Perempuan.” Sudah terbayang bagaimana tampilan luar yang membungkus buku ini? saya berai bertaruh, Anda, para lelaki, pasti tergiur untuk memilikinya.
Apakah buku ini ditujukan khusus untuk perempuan? Saya berani bertaruh untuk mengatkan tidak. Buku ini sangat menarik, meski tercium “aroma wanita,” namun bukan berarti buku ini ditujukan untuk perempuan. Salah besar jika Anda menilai seperti itu.
Dimulai dengan halaman pertama, Anda akan bertemu dengan sebuah ilustrasi tentang anak perempuan kecil bernama Leila. Sepotong kisah menarik tentang bagaimana kerja otak anak perempuan yang memang sudah didesain untuk selalu menjaga dan merawat. Sebuah truck mainan yang diberikan kepadanya digendongnya seolah truck itu adalah bati kecil yang membutuhkan perlindungan.
Kemudian, ada juga Sheila, kakak perempuan dari Lisa yang lahir pada saat ibu dan ayah mereka bercerai. Memori Sheila tentang ekspresi wajah sang ibu begitu kuat, dia sudah tahu bagaimana ibunya sedih, gembira, suka, dan duka meskipun ia masih tergolong balita. Kehadiran ayah tirinya yang tidak lagi setia sudah bisa terbaca oleh Lisa melalui kemuraman ekspresi di wajah ibunya. Hal ini tidak terjadi pada Lisa, karena dia tidak pernah tahu bagaimana ekspresi sang ibu dalam berbagai hal.
Dan masih banyak kisah lain tentang rahasia perempuan, baik secara psikologi maupun kesehatan yang diungkap. Membacanya, sama halnya dengan menambah rasa hormat Anda—jika Anda seorang lelaki—terhadap wanita, dan rasa kagum Anda—jika Anda perempuan—terhadap kemampuan diri Anda yang luar biasa.
Satu hal yang sering diungkap dalam buku ini: otak manusia dalam merespons cinta itu tidak pernah berubah, bahkan dari zaman batu sekalipun. Ketika lelaki berburu hewan untuk dijadikan santapan dan perempuan menjaga anak-anaknya serta api yang menyala, respons cinta itu tetap sama. Sulit dimengerti. Namun, kesetiaan perempuan yang sudah mencintai Anda, jangan samakan dengan kesetiaan Anda untuk mencintainya.
Apakah Anda masih menganggap buku ini diperuntukkan untuk perempuan? Jika Anda seorang lelaki yang ingin menghargai perasaan perempuan, saya rasa buku ini layak untuk dibaca.
“…Anda akan banyak mendapati kejutan-kejutan, karena banya temuan Dr. Brizendine yang berbeda dari apa yang kita ketahui, percaya, atau yakini selama ini.”—Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi, UI.
July 6, 2010
Curhat
July 2, 2010
Rain Drops
Beri tahu aku kapan kiranya lonceng ‘kan berdentang
Aku tunggu hadirnya keajaiban
Menggenggam tanganmu
Menyentuh hatimu
Kurasakan sempurna
Hadirlah dalam tawa
Tumbuhlah menjadi sekuntum bunga
Yang menebarkan wangi
Hingga ke lembah mimpi
Tempat aku berdiam diri
Menikmati sunyi
Menjadi pelindungmu
Sudut ruang hatiku
Imaji tentang dirimu
Aku padu hitam dan putih
Aku rangkai banyak notasi
Menggenggam tanganmu
Menyentuh hatimu
Kurasakan sempurna
May 20, 2010
Pidato BSM
Cuma copas aja biar rame
Pidato ibu Sri Mulyani
Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil
pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari
moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang
sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak
Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap
itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’,
selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini
saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih
atas…… (tepuk tangan) Read the rest of this entry »
May 3, 2010
Qardhul Hasan
Man dzalladzii yuqridhullaha qardhan hasanan fayudhaa ifahuu lahuu adh’aa fan katsiirah, wallahu yaqbidhu wayabshuthu wailayhi tur ja’uun (QS. 2:245)*
*maaf, karena saya tidak terbiasa menggunakan font arab, maka saya pakai font latin saja. Allah menyuruh kita kepada yang makruf (kebaikan yang kita ketahui), karena saya bisanya pakai latin, ya saya lakukan itu.
“Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadamu dengan banyak, Allah Menahan dan Melapangkan (rejeki) dan kepada-Nyalah kamu kembali” (QS. Albaqarah:245)
Ayat di atas menjadi dalil akad pinjam-meminjam dalam Islam. Artinya, pinjam-meminjam dalam pandangan syariah dibenarkan. Permasalahannya adalah, pinjaman yang seperti apa?
Dalam ayat di atas terdapat kata “qardhan hasanan” atau biasa lebih dikenal sebagai akad qardhul hasan. Apa itu qardhul hasan? Qardhul hasan adalah pinjam-meminjam tanpa disertai bunga. Bila suatu saat si peminjam tidak dapat mengembalikannya, maka berikan kelonggaran waktu pembayaran baginya. Namun, jika si peminjam benar-benar tidak bisa mengembalikannya, maka si pemberi pinjaman harus menganggapnya sebagai sedekah.
Akad qardhul hasan hanya bisa terjadi untuk pinjaman yang bersifat darurat, pemenuhan kebutuhan hidup misalnya, bukan untuk pinjaman yang bersifat konsumtif apalagi untuk bermain judi. Oleh karena itu, dalam melakukan akad qardhul hasan sebaiknya dilihat dulu siapa orang yang akan diberi pinjaman.
Saat pinjaman tidak bisa ditagih, maka si pemberi pinjaman akan menganggapnya sebagai sedekah. Apakah si pemberi pinjaman itu rugi? Tentu tidak. Ayat di atas sebagai jaminannya. Memberikan pinjaman kepada orang yang sangat memerlukan, secara tidak langsung kita telah menolongnya dari ketergantungannya dengan uang. Jadi, tidak ada istilah uang menjadi Tuhan, yang selalu membuat mereka (si peutang) menjadi tergantung padanya.
Hal ini pada akhirnya telah menjadikan Allah kembali menjadi Tuhan, bukan uang yang menjadi Tuhan. Dengan kata lain, kita telah menolong keyakinan orang yang berutang tersebut. Inilah yang akhirnya menjadi pandangan bahwa sebenarnya kita telah melakukan pinjam-meminjam dengan Allah, sebab orang yang berutang tidak sanggup melunasi utangnya pada kita. Apa untungnya pinjam-maminjam dengan Allah? Sesuai yang telah dijanjikan-Nya, Dia akan melipatgandakan ganti kepadamu. Apa dalam bentuk uang? Bisa saja, tapi Allah tentu lebih tahu apa kebutuhan kita. Tentu bukan hanya uang, bisa saja Allah memberikan kesehatan, harta yang berkah, anak yang sholeh, jodoh *ehem* dan banyak hal yang tak bisa kita hitung. Berlipat ganda!
Jadi, masih jaman tuh pinjaman dengan bunga? Mau minjemin atau nyiksa umat tuh?
*nb: makasi Uni Arizona, sekalian ngapalin ayat nih, hehe