
sebuah refleksi tahun baru
Sepanjang perjalanan hidup khususnya setahun 2024 sudah banyak yang telah kita lakukan sehingga menjadikan kondisi diri kita saat ini. Entah itu sudah direncana atau mungkin tanpa perencanaan. Apapun itu inilah hasil diri kita yang sudah diihtiyarkan.
Apapun capaian saat ini tentu kita syukuri untuk jadi tolak ukur 2025 selanjutnya. Namun harus dievalusi apakah semakin menurun atau naik, itulah cara melihat “raport” kehidupan anda setahun.
Maka wajar bila sahabat Umar bin Khattab berkata :
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنَ عَلَيْكُمْ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
“Umar bin Khattab berkata: Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah). Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang. Karena itu lebih ringan bagi kalian saat dihisab nanti, dan berhiaslah untuk menghadapi hari ditampakkannya amal perbuatan.”
Hal ini menunjukkan betapa penting evaluasi diri begitu kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, evaluasi diri (muhasabah) sangat penting dilakukan setiap hari agar seseorang dapat memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas amalnya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menekankan bahwa muhasabah bukan saja untuk memahami kesalahan, bertaubat, namun juga membuat perencanaan yang lebih baik ke depan.
Lalu perencanaan masa depan apa yang harus diprioritaskan? Jika kita melihat Al Qur’an maka sudah ada jawabanya yaitu “hari esok.”
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Hasyr : 18)
Imam Al-Qurtubi dan Ibnu Katsir menyatakan ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah (evaluasi diri) dan perencanaan untuk kehidupan akhirat. Setiap individu harus memperhatikan amal perbuatannya dan memastikan bahwa ia telah mempersiapkan bekal yang cukup untuk hari esok atau akhirat. Bahkan Ibnu Katsir menjelaskan perintah untuk bertakwa diulang dua kali dalam ayat ini sebagai penegasan akan pentingnya ketakwaan dalam setiap aspek kehidupan.
Maka makna setiap aspek kehidupan artinya segala proses kita di kehidupan dunia harus punya standarisaai dunia yang baik, sebagaimana firman Allah SWT ;
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Tentunya jelas penting keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Manusia diperintahkan untuk menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, namun tidak boleh melupakan bagian duniawi, seperti memenuhi kebutuhan hidup, beribadah, bekerja, dan berbuat baik kepada sesama.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” (HR Bukhari no.6463)
Di sekolah kehidupan, Tahun Ajar 2024 akan berakhir dan bersiap untuk tahun ajar berikutnya. Sudahkah tahu raportmu 2024? Lalu apa resolusimu 2025?
Dalam buku “The Autobiography of Benjamin Franklin” Benjamin Franklin sendiri berkata :
“If you fail to plan, you are planning to fail.”
Qodrat AR
LPIT Utsman bin Affan

Musibah itu pasti menimpa setiap manusia sesuai dengan kemampuannya. Semua itu terjadi karena hasil perbuatan manusia tentu dengan izin Allah, atau memang karena cinta Allah, atau mengevalusi hamba-Nya untuk naik level selanjutnya.
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghabun : 11)
Maka menata hati dengan tawakal dengan melihat sisi kebaikan atau hikmah atas peristiwa memang tidak mudah namun harus kita tata. Apalagi ada unsur dari kekhilafan kita sendiri karena salah perhitungan, managemen, atau salah pilih keputusan. Pastinya tak ada yang rugi jika keputusan itu sudah dipertimbangkan dengan benar, layaknya “ijtihad” yang bisa salah dan benar namun tetap berpahala.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS As Syura : 30)
Semua memang misteri takdir yang wajib kita imani. Tentu saja ada balasan bagi mereka yang sabar dan mengevaluasi diri untuk perbaikan dimasa depan.
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah, apabila mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan (Allah). Dan barangsiapa murka, maka baginya kemurkaan (Allah).”(HR. Tirmidzi no.2398 ; hasan sahih)
Hadis ini diriwayatkan dalam konteks ketika Rasulullah ﷺ memberikan penguatan kepada para sahabat yang sedang menghadapi berbagai ujian berat dalam mempertahankan iman dan dakwah di awal masa Islam. Para sahabat sering kali diuji dengan kemiskinan, penyiksaan fisik, dan tekanan sosial dari kaum Quraisy.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa setiap ujian adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya, dan semakin besar ujian, semakin besar pula pahala yang dijanjikan Allah.
Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam Kitab “Zad Al-Ma’ad” menjelaskan bahwa ujian adalah salah satu tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang dicintai dalam kelalaian dan kesenangan terus-menerus, tetapi akan mengujinya untuk membersihkan dosa-dosa, meningkatkan derajatnya, dan memperkuat keimanannya.
Kemudian Imam Al-Ghazali dalam Kitab “Ihya Ulumuddin” menegaskan bahwa ujian adalah salah satu bentuk penyaringan dari Allah untuk mengetahui siapa hamba yang benar-benar ikhlas dalam keimanannya.
Dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam “Fathul Bari” menyatakn bahwa ujian diberikan sesuai dengan tingkat keimanan seseorang. Orang yang memiliki iman yang kuat akan mendapatkan ujian yang lebih besar karena Allah ingin meningkatkan derajatnya. Kesabaran dan keridhaan dalam menghadapi ujian adalah tanda kesempurnaan iman seseorang.
Maka tak ada jalan selain kita bersabar, tawakkal, mengevaluasi diri, dan terus melangkah kedepan. Bukankah salah satu supaya tidak merugi adalah saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran?
Hasil manajemen yang buruk jangan sampai terulang, bukankah pantang bagi seorang muslim masuk kelubang yang sama dua kali?
Ibarat siswa sekolah ada ujian untuk kenaikan kelas, semakin tinggi kelas tentu soalnya semakin sulit. Bukankah siswa yang mempersiapkan diri yang berpotensi naik level?
Akhirnya musibah/ujian adalah sarana untuk meningkatkan kedudukan seorang mukmin di sisi Allah.
Akhir-akhir ini muncul kegaduhan yang tak perlu. Kenapa saya bilang kegaduhan? Karena berawal dari video kajian ilmiah (bukan pengajian) yang dipotong, si pemotong sengaja memblow-up sisi nama surat yang menurut pendapatnya tafsirnya keliru, yaitu asy Syua’ra yang artinya para penyair, ditafsirkan para pemusik. Saya coba menenangkan walau bisa jadi akan muncul gaduh baru bagi yang tidak setuju.
Jika dilihat video secara lengkap mayoritas orang paham maksud yang disampaikan itu adalah bagian dari definisi paradigmatis supaya mudah dipahami peserta kajian itu sesuai temanya yaitu dakwah dalam kultur budaya kekinian. Bahasannya sudah ada di https://pwmu.co/354365/05/13/uah-dan-tafsir-surat-para-pemusik/.
Al Qur’an dengan bahasa Arab, maka dalam memahaminya harus memasukkan pemahaman masyarakat dan budaya Arab. UAH “menafsirkan” asy Syu’ara adalah para pemusik, sebab penyair dalam tradisi Arab dulu karena dalam syair terdapat irama, melodi, dan ritme layaknya musik walau tanpa alat musik, maka itu termasuk pemusik jika diera sekarang. Bahasannya sudah ada disini https://pwmjateng.com/ramai-soal-musik-uah-musik-dari-sejarah-hingga-al-quran-dan-sunnah/ dan ini https://www.facebook.com/share/r/vHyKjYp8AXQcazNq/?mibextid=oFDknk.
Menafsirkan Al Qur’an dengan berangkat dari terjemahan bahasa Indonesia itu dilarang, jika untuk memahami itu boleh, namun kadang susah ditemukan padanan kata Arab yang serupa, maka dipakailah kata yang saat ini dipahami, padahal kosakata akan bisa jadi berubah seiring zaman karena ada kata-kata baru. Itulah salah satu sebab Kitab Al Qur’an harus ada text Arabnya disamping terjemahannya.
Di Indonesia, pemusik disebut dengan musisi. Pengertian musisi sendiri adalah individu yang memainkan ataupun menulis musik, serta memiliki kemampuan dalam salah satu atau lebih alat musik, menghabiskan sejumlah waktu untuk mempelajari hal-hal berkaitan dengan musik, menampilkan pertunjukan musik, dan mendengarkan musik dengan seksama (Fredrickson, 2000).
Maka jelas Pemusik itu bukan saja penyanyi, tapi juga pemain alat, dan pencipta lagu juga.
Pencipta lagu artinya yang menyusun notasi lagu tersebut, sedangkan yang menyusun lirik atau teks lagu tanpa notasi bisa d sebut penyair. Maka banyak Syair ini sering dijumpai dalam sebuah lagu.
Pencipta lagu seperti itu disebut komponis artinya seseorang yang menghasilkan ciptaan lagu dengan notasinya, dibedakan dengan penyair yang membuat syair lagu saja.
Jadi dalam konteks ini, penyair juga bagian dari musisi karena membuat syair lagunya, namun belum ada notasi nadanya. Penyair dan Komponis sendiri adalah orang yang menciptakan irama dalam sebuah syair sehingga terdengar merdu seperti yang diinginkannya.
Maka wajar ada orang berpendapat, asy Syu’ara (para penyair) disebut para pemusik/musisi karena dalam kontek kekinian penyair itu bagian dari musisi. Apalagi penggunaan term itu dalam kajian supaya mudah dipahami dan dimegerti audiennya yang saat itu memang bahas tema seni budaya.
Terkait kajian fiqih tentang musik sudah jelas ada 3 pendapat besar. Tinggal cari ato googling saja apa pertimbangan dalilnya.
Tinggal sikap kita terkait perbedaan itu.
Bagi saya perbedaan pendapat adalah rahmah itu artinya membuat kita belajar dan saling memahami pandangan lain secara ilmiah selama masih dalam ahlus sunnah. Ingat persatuan dalam aqidah lebih wajib ketimbang berselisih fiqih.
Jika masih berbeda supaya tidak gaduh, ditiap negara muslim ada majelis fiqih yang berfatwa untuk memutuskan kalau di Indonesia itu MUI. Hasil keputusan fatwanya pun bisa saja disukai atau tidak disukai, namun keputusan itu membuat tenang umat.
Wallahu’alam

1. Deskripsi Gagasan
Abad 21 adalah era digital. Terbukti 73,5% penduduk Indoensia adalah pengguna Internet aktif. Data Indonesia Milenials Report dari Idntimes, mengutip BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2020, mencatat ada 129,3 juta adalah pekerja yang mana terdapat 63,5 juta adalah generasi millenials, dilihat latar belakang pendidikan dengan 40,5% lulusan SD, 17,8% lulusan SMP, 29% lulusan SMA, dan hanya 10% yang Sarjana.[1]
Padahal tantangan yang saat ini dihadapi bukan hanya antar warga sendiri namun persaingan global dengan warga asing, karena Indonesia tergabung dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang terdiri atas 16 negara Asean dan beberapa negara di sekitarnya. RCEP memiliki tujuan progresif menghapuskan tarif dan hambatan nontarif serta memfasilitasi dan meningkatkan transparansi antarnegara anggota mulai 2022.[2]
Terdapat 3 (tiga) masalah utama yang kita alami yaitu : HDI yang masih rendah, Kompetensi pelajar yang masih rendah, dan degradasi moral.
Maka untuk mengatasi tiga masalah utama di era revolusi industri 4.0 dalam bidang pendidikan yang dilakukan secara umum oleh sekolah adalah :
- Penamanan karakter dan moral ajaran agama lewat kisah/sejarah
- Menstandarisasi Sekolah
- Melatih 10 skill atau ketrampilan utama abad 21
2. Analisis Gagasan
Maka analis untuk mengatasi tiga masalah utama bangsa saat ini, maka sekolah bisa mempertimbangkan untuk melaksanakan tiga ide dan menyiapkan dua komponen pendudung, yaitu
a. Memasukkan Materi Sejarah dan Sirah Nabi
Menurut Lickona, menyadari bahwa pintar dan baik itu tidaklah sama, sejak zaman Plato masyarakat bijak telah menjadikan pendidikan moral sebagai tujuan sekolah. Mereka telah memberikan pendidikan karakter yang diberengkan dengan pendidikan intelektual, kesusilaan, dan literasi, serta etika ilmu pengetahuan. Terlebih lagi pendidikan budi pekerti adalah pondasi demokrasi, alasannya demokrasi merupakan pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat, rakyatlah yang bertanggungjawab memastikan kekebasan dan keadilan masyarakat. Ini berarti rakyat dalam kondisi “bermoral baik” agar bisa berjalan dengan baik.
Lebih lanjut, didorong keyakinan itu maka masa-masa awal republik USA sekolah memberikan pendidikan karakter melalui kurikulum, dan teladan dari guru tentang patriotisme, kejujuran, kerja keras, hemat, dermawan, dan keberanian. Mereka terbiasa membaca kisah dan dongeng tentang kepahlawanan dan keluhuran budi.[3]
Menanamkan karakter dan moral ajaran Islam bisa melalui Sirah Nabi dan para sahabat, serta belajar sejarah atau biografi dari tokoh-tokoh muslim dunia dan tokoh-tokoh bangsa Indonesia. Sebab cara paling efektif sesuai membangun pendidikan karakter adalah melalui kisah-kisah mulia, begitu yang dibuktikan oleh para sahabat dan ulama kita.
Maka mata pelajaran Sejarah atau Sirah Nabi adalah penting diajarkan kepada calon generasi Emas. Selain itu kisah biografi para sahabat, tabiin, dan para tokoh-tokoh Islam juga perlu dimasukkan dalam kurikulum. Anak didik kita juga perlu belajar sejarah bangsanya sendiri yaitu Indonesia. Sebab sejarah itu bukan hanya tentang tanggal dan nama pelaku, tapi yang penting adalah apa yang melatarbelakangi suatu peristiwa, dan apa akibat jangka panjang dari peristiwa itu.
Sejarah menurut Ibnu Khaldun memiliki fungsi multi dan tujuan mulia. Sebab dengan sejarahlah kita mengenal kondisi bangsa-bangsa terdahulu dalam segi perilaku, karakter, moral raja-raja dan penguasa. Generasi yang ingin merefleksikan perilaku dan mengambil hikmah-hikmah positif dari pola hidup mereka sangat memerlukan referensi dari keragaman sumber informasi peristiwa yang akurat dan dapat dipercaya.
b. Menstandarisasi Sekolah
Secara umum ada lima aspek yang perlu dibenahi dalam dunia pendidikan saat ini, yaitu hardware (fasilitas fisik), software (kurikulum dan sistem pembelajaran), brainware (guru, murid dan orangtua), netware (jaringan kerjasama), dan dataware (data murid/guru/ lulusan). Lewat standarisasi kelima aspek bisa diselesaikan. Sekolah bisa mengevaluasi untuk memilah dan memilih sesuai skala prioritas kebutuhan sesuai dengan peta jalan Indonesia Emas.
Standarisasi dibutuhkan agar mudah dalam mencapai target secara terukur dan terevaluasi. Sehingga bisa mengetahui apakah sudah memenuhi kualitas mutu secara Nasional atau Internasional.
Sekolah bisa memilih acuan standarisasi pendidikan sekolah secara bertahap dari Nasional lalu Internasional. Dimulai memilih dari satu atau dua standar Nasional yang berlaku seperti akreditasi BSNP, JSIT, dan standar pendidikan pesantren. Bila terbatas bisa menstandarisasikan fokus pada bidang-bidang tertentu seperti metode bacaan Al Qur’an, metode hafalan, atau standar pendidikan vokasional/kejuruan. Atau juga menstandarkan pada layanan seperti Standar ISO.
Bila Standar Nasional telah dipenuhi, maka bisa memulai dengan standar Internasional seperti Cambrigde Assessment atau International Baccalaureate. Untuk kompetensi belajar siswa bisa menggunakan pengukuran PISA. Maka penguatan kompetensi membaca, matematika, dan sains menjadi penting untuk bersaing dengan pelajar-pelajar di dunia.
Untuk standarisasi metode bisa mengadopsi metode pembelajaran yang berlaku International seperti STEAM (Science Technology Engineering Arts Mathematics) menjadi salah satu kunci penting dunia pendidikan menghadapi era Revolusi 4.0. STEAM bisa mendorong pengembangan ilmu sains, teknologi, teknik, dan matematika semakin kreatif.
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengatakan STEAM merupakan cara mendidik Education 4.0 yang dengan perlu dilakukan di era Revolusi Industri 4.0.[4]
Maka sebagai sekolah Islam bisa mengembangkan sendiri dengan memasukkan satu nilai yaitu Iman sehingga menjadi I-STEAM (Iman Science Technology Engineering Arts Mathematics).
Prinsip standarisasi ini adalah untuk menjaga kualitas atau mutu lulusan yang berdaya saing. Jaminan mutu lulusan yang baik dan konsisten akan berdampak pada kelangsungan sekolah di masa depan. Secara garis besar mutu ada dua yaitu absolut dan relatif. Mutu absolut adalah capaian standar tinggi, sedangkan mutu relatif adalah standar kualitas yang diukur dengan pengingkatan kualitas layanan atau perubahan yang terjadi.[5]
Jika masih terbatas, sekolah bisa mencari informasi tentang tentang standar-standar yang berlaku Nasional atau Internasional itu sehingga terbuka wawasan para guru, yayasan, dan walimurid untuk bekerjasama meningkatkan mutu sekolah dengan melakukan adopsi atau adaptasi secara bertahap lewat studi banding, benchmarking, bisa juga dengan konsultan pendidikan. Ini peran leadership kepala sekolah dalam memilih dan memilah sesuai kebutuhan, berkomunikasi dengan lembanga-lembaga terkait, serta mengambil keputusan.[6]
c. Melatih 10 Skill Utama Abad 21
10 skill utama abad 21 yaitu Berfikir analitis dan inovatif, Pembelajar aktif dan strategis, Penyelesai masalah komplek, Berfikir kritis dan analis, Kreatif dan inisiatif, Kepemimpinan dan pemberi pengaruh sosial, Pengguna teknologi, monitoring, dan kontrol, Desain Teknologi dan programer, Tangguh dan fleksibel terhadap tekanan, Argumentatif dan ide solutif.
Sekolah memulai dari memahamkan guru tentang 10 skill utama ini, lalu diajarkan kepada siswa yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Ditengah keunggulan dan keterbatasan sekolah, maka sekolah melakukan analisa SWOT untuk membuat skala prioritas aspek skill yang menjadi keunggulan yang nantinya digarap dengan terkonsep hingga menjadi differensiasi sekolah. Sekolah bisa memilih dua skill prioritas yang bisa memberi dampak besar bagi sekolah. Sesuai Hukum Pareto: Formula 80/20 yang dapat diterapkan dalam seluruh sendi kehidupan Prinsip menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, sekitar 80% daripada efeknya disebabkan oleh 20% dari penyebabnya.[7]
Skill-skill utama itu jika disederhanakan maka bisa kita ajarkan kepada anak didik dalam materi enteprenuership/kewirausahaan. Untuk itu, setiap siswa yang telah dibekali dengan keterampilan hidup (life skills) dan kewirausahaan (entrepreneurship), sehingga dapat meringankan beban keluarga dan masyarakat yang telah berat.
d. Dua Komponen Akselerasi
Dua komponen pendukung ini bisa menjadi akselerasi dari ide utama, yaitu :
a. Adanya Psikolog
Perbedaan generasi yang mencolok antara Yayasan, Guru, Walimurid, dan siswa. Karakteristik tiap generasi yang berbeda bisa menjadi masalah sendiri apabila tidak disolusikan. Setiap warga sekolah harus memiliki pemahaman psikologis tentang karakteristik generasi Z dan Alpha serta cara mengajar efektif mereka. Demikian juga harus memahami generasi X, Y atau bahkan generasi boomers.
Idealnya setiap sekolah memiliki psikolog. Apabila belum memiliki maka upgrading guru dengan seminar dan pelatihan materi psikologi. Tugas psikolog sekolah menjadi patner guru dalam memberikan bimbingan dan konseling agar proses belajar mengajar menjadi efektif efisien, menjadi patner Kepala sekolah dalam membuat keputusan terkait program kegiatan sekolah yang bisa mengintegrasikan kompetensi dan peningkatan ketrampilan abad 21.
b. Bidang Riset dan Pengembangan
Pengembangan sekolah harus direncanakan agar hasilnya juga baik. Perencanaan yang baik memiliki ciri-ciri : 1. Rencana harus mempermudah mencapai tujuan, 2. Rencana harus dibuat oleh orang-orang yang sungguh-sungguh memahami organisasi, 3. Rencana harus detail dan teliti, 4. Rencana harus ada cara pelaksanaannya, 5. Rencana harus sederhana, luwes, dan praktis, 6. Rencana harus memuat alternatif resiko.[8]
Maka disinilah peran Reserach and Development (RnD) atau Bidang Riset dan Pengembangan. Terdiri orang internal sekolah dan eksternal. Internal ini mereka orang-prang pilihan yang mengerti visi misi organisasi, mengerti budaya, dan sejarah organisasi. Eksternal adalah orang/lembaga baru yang dihadirkan dengan tujuan membawa pengetahuan untuk pengembangan sekolah.
RnD ini lebih tepat dibawah naungan Yayasan. Sebab kepentingannya luas bisa untuk antar jenjang, atau hubungan dengan lembaga dan masyarakat. Sekolah sebagai sumber data sekaligus pengguna hasil riset dan pengembangan. Namun bila ada terpaksa di sekolah, maka kepala sekolah bisa membentuk tim kecil yang terdiri dari guru untuk pengembangan sekolah pada aspek-aspek tertentu seperti kurikulum keislaman, kurikulum kewirausahaan, atau lainnya.
[1] Indonesia-millennial-report-2020-by-IDN-Research-Institute.pdf
[2] https://www.liputan6.com/bisnis/read/4115517/65-persen-pasar-indonesia-terbuka-untuk-perdagangan-bebas-mulai-2022
[3] Thomas Lickona, Pendidikan Karakter : Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik, Bandung : Nusa Media, 2013, hal. 7
[4] https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/16/15231941/steam-metode-pengajaran-untuk-menghadapi-revolusi-industri-40?page=all
[5] Shobikhul Qisom, The Power of Principal Leadership, Surabaya : Kualita Media Tama, 2016, hal 7
[6] Ibid, 56
[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Prinsip_Pareto
[8] Imam Gunawan dan Djum Djum Noor Benty, Managemen Pendidikan, Bandung : Alfabeta, 2017, hal.42
Kajian Sosiologi tentang teori generasi yang diciptakan oleh Karl Manheim dari Jerman pada tahun 1928 melalui tulisannya yang berjudul “The Problem of Generations” atau masalah generasi. Menurut Manheim, setiap orang secara signifikan dipengaruhi oleh suatu kejadian, pengalaman, lingkungan, perubahan sosial serta konteks sejarah yang secara aktif melibatkan mereka pada masa atau periode tertentu yang kemudian mempengaruhi cara berpikir atau cara pandang dalam melihat sesuatu serta mempengaruhi tingkah laku. Oleh karena itu seseorang yang lahir pada tahun yang sama dan mengalami suatu kejadian atau sejarah yang sama, kemungkinan besar akan memiliki karakter yang sama pula.
Menurut teori, ada 5 generasi yang terbagi di masyarakat saat ini, yaitu generasi veteran (1928-1945), baby boomers (1946-1964), gen X (1965-1980), gen Y (1981-1995), dan Gen Z atau Gen Alpha (1996-2012). Namun ada yang membedakan yaitu Gen Z (1996-2010), dan Gen Alpha (2011-2024)[1]. Istilah Gen Alpha dimuculkan oleh McCrindle tahun 2019.[2] Penulis lebih sepakat dengan pembedaan ini karena karakteristiknya memang berbeda.
Sumber data BPS (Badan Pusat Statistik) 2020 jumlah penduduk Indonesia adalah 270,203 juta. Apabila didetailkan maka jumlah penduduk sesuai generasi adalah :
Tabel 1
Penduduk Indonesia Berdasarkan Usia (dalam ribuan)
| usia | Laki-Laki | Perempuan | Total | Generasi |
| 0-4 | 11 293,7 | 10 778,8 | 22.072,5 | 44.166,9 |
| 5-9 | 11 295,3 | 10 799,0 | 22.094,4 | |
| 10-14 | 11 449,8 | 10 746,1 | 22.195,9 | 67.190,9 |
| 15-19 | 11 495,7 | 10 816,9 | 22.312,6 | |
| 20-24 | 11 632,2 | 11 050,1 | 22.682,4 | |
| 25-29 | 11 410,8 | 10 945,2 | 22.356,0 | 65.171,4 |
| 30-34 | 11 109,1 | 10 795,5 | 21.904,5 | |
| 35-39 | 10 556,7 | 10 354,3 | 20.910,9 | |
| 40-44 | 10 014,6 | 9 928,5 | 19.943,1 | 53.712 |
| 45-49 | 9 025,6 | 8 996,9 | 18.022,5 | |
| 50-54 | 7 872,4 | 7 874,0 | 15.746,4 | |
| 55-59 | 6 546,3 | 6 574,5 | 13.120,9 | 35.338,3 |
| 60-64 | 5 091,7 | 5 117,8 | 10.209,5 | |
| 65-69 | 3 681,5 | 3 772,6 | 7.454,0 | |
| 70-74 | 2 179,1 | 2 374,9 | 4.553,9 | |
| 75+ | 2 007,5 | 2 617,0 | 4.624,5 | 4.624,5 |
| Jumlah/ Total | 136 661,9 | 133 542,0 | 270.203,9 | 270.203,9 |
Usia pra sekolah siswa adalah sejak usia 5 tahun, lalu mulai sekolah dasar di usia 7 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun maka rentang usia siswa pelajar adalah 5 s/d 19 tahun berjumlah 66,6029 juta pelajar. Kelak 15 tahun di tahun 2045 mereka memasuki generasi emas Indonesia.
Apabila dibagi berdasarkan usia generasi maka diperoleh sebagai berikut :
Tabel 2
Penduduk Indonesia Berdasarkan Generasi
| Gen Y (Milineals) Usia 25-39 | Gen Z Usia 10-24 | Gen Alpha Usia < 10 | |
| Jumlah (dlm ribuan) | 65.171,4 | 67.190,9 | 44.166,9 |
Bila berbicara tentang Generasi Emas Indonesia adalah berbicara dengan generasi Z dan Alphasebab mereka adalah aktor utamanya. Seperti apakah kualitas para pemuda Indonesia saat itu, dan sekali lagi para pemuda dipertanyakan kembali sudah siapkah mereka mengemban tanggung jawab mereka sebagai seorang pemuda. Sebagai aktor utamanya, generasi Z dan Alpha harus memiliki memiliki wawasan mengenai visi/cita-cita Indonesia Emas 2045 itu sendiri dan tentu kondisi saat ini dan akan datang yang akan mereka hadapi.
Selanjutnya perlu melihat bagaimana kondisi calon generasi emas ini. Sebab menurut teori Manheim bahwa pengalaman, lingkungan, perubahan sosial serta konteks sejarah yang secara aktif melibatkan mereka pada masa atau periode tertentu mempengaruhi cara berpikir atau cara pandang dalam melihat sesuatu serta mempengaruhi tingkah laku. Maka yang perlu kita perhatikan adalah kondisi pembangunan manusia, kompetensi pelajar, dan kondisi sosial budaya saat ini.
Salah satu cara untuk mengukur kemajuan suatu negara, tidak hanya bergantung pada indikator pertumbuhan ekonomi saja. Human Development Index (HDI) versi UNDP digunakan untuk mengukur kemajuan suatu negara berdasarkan dimensi pengembangan manusianya; manusia yang sehat dan berumur panjang, berpengetahuan, dengan taraf hidup yang tinggi.
Di Indonesia dikenal dengan Laporan Index Pembangunan Manusia (IPM) versi BPS (Badan Pusat Statistik). Rilis HDI tahun 2019, Indonesia berada di peringkat 6 ASEAN dan 111 di dunia dari 189 negara. Di kawasan Asia Tenggara dalam hal IPM Indonesia masih tertinggal dari Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina. IPM sendiri terdiri dari empat indikator utama yaitu Usia Harapan Hidup (UHH), Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan pada Purchasing Power Parity (PPP).[3]
Data untuk lebih mengetahui kualitas pendidikan melalui Programme for International Student Assessment (PISA). PISA sendiri merupakan metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 – 15 tahun terakhir.[4]
Selain itu terdapat juga degradasi moral yang melanda generasi muda. Menurut data KPAI, jumlah kasus pendidikan per tanggal 30 Mei 2018, berjumlah 161 kasus, adapun rinciannya; tawuran sebanyak 23 kasus atau 14,3 persen, kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus atau 22,4 persen, korban kebijakan (pungli, dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah) sebanyak 30 kasus atau 18,7 persen. (www.nasional.tempo.co 23/6/2018). Lalu Data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) mengungkap sekitar 2 persen remaja wanita usia 15-24 tahun dan 8 persen remaja pria di rentang usia yang sama, telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Selain itu, kasus demoralisasi yang lain juga yakni LGBT yang turut membawa keresahan tersendiri bagi masyarakat khususnya orang tua. Bagaimana tidak jaringan LGBT mulai menyusupi para pelajar. Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu di Garut ramai diperbincangkan sebuah grup LGBT di Facebook yang anggotanya pelajar SMP/SMA asal Kabupaten Garut. Berdasarkan hasil penyelidikan terdapat sekitar 2.500 orang anggota grup. (www.newsdetik.com 9/10/2018).[5]
Persoalan-persoalan krisis moral ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, namun juga di dunia maya, terlebih lagi saat ini masuk era digital. Data dari HootSuite “Digital 2021” menunjukkan pengguna internet di Indonesia yang jumlahnya mencapai 202,6 juta jiwa atau 73,5% penduduk, tentu sebagian besarnya adalah remaja atau generasi milinial dan Z.[6]
Gambar 1

Data Pengguna Mobile dan Internet, Sumber : HootSuite, Januari 2021
Hasil Survai Microsoft tentang Digital Civility Index (DCI) untuk mengukur tingkat kesopanan digital global, hasilnya Indonesia menduduki peringkat paling bawah di kawasan Asia Tenggara. Dari total 32 negara yang disurvei pun Indonesia menduduki peringkat bawah yakni urutan ke-29. Hoaxs dan penipuan menjadi faktor tertinggi yang mempengaruhi tingkat kesopanan negara. Data dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang berkolaborasi dengan cekfakta.com, mengungkap jumlah hoaks yang tersebar di berbagai platform di Indonesia mencapai 2.024, sepanjang Januari-November. Hal ini disebabkan karena dunia maya dan nyata adalah berbeda. Orang sungkan lagi bila bertatap muka langsung namun tidak saat didunia maya, apalagi jika dengan akun anonim. Tanpa adanya beban tanggungjawab, baik moral maupun material, tentu akan mendorong seseorang untuk berani mengomunikasikan apa yang terlintas dalam hati maupun pikirannya secara spontan, tanpa harus mempertimbangkan konsekuensinya.[7]
Data-data ini mestinya membuat kita sebagai bangsa harus segera memperbaiki diri dalam pembangunan manusianya bila tidak ingin tertinggal dengan bangsa lain, dan terlebih bila ingin menjadi pemimpin dunia. Indonesia diprediksi mulai 2010 – 2035 kita akan mendapatkan “bonus demografi” yaitu percepatan pertumbuhan ekonomi akibat berubahnya struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia kerja kepada penduduk usia kerja.[8]
Hakekat penciptaan manusia di muka bumi untuk beribadah kepada Allah. Ibadah adalah menjalankan aktivitas yang diperintahkan Allah, termasuk di dalamnya membangun bangsa dan negara dengan niat ikhlas salah satunya melalui Pendidikan.
Berdaya saing global memang penting tapi juga harus berkarakter etis dan relejius sebagai faktor penentu dalam membentuk karakter bangsa yang tangguh, berdisiplin kuat, beretos kerja kokoh, serta berdaya inovasi dan berkreativitas tinggi. Kita tidak ingin angkatan kerja produktif malah menjadi pengganguran karena daya saing yang lemah. Inilah saatnya sekolah menyiapkan Generasi Z dan alpha yang kelak akan mengisi peranan penting pada Indonesia Emas 2045.
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Generasi_Z
[2] https://mccrindle.com.au/insights/blogarchive/why-we-named-them-gen-alpha/
[3] https://www.cnbcindonesia.com/news/20200217142358-4-138395/ipm-ri-naik-tapi-masih-kalah-sama-tetangga
[4] https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/05/154418571/nilai-pisa-siswa-indonesia-rendah-nadiem-siapkan-5-strategi-ini?page=all
[5] https://www.portalsultra.com/milenial-generasi-narsis-krisis-moral/
[6] HootSuite data reportal 2021 digital2021 Indonesia January 2021 v 01
[7] https://tekno.kompas.com/read/2021/03/03/07000067/orang-indonesia-dikenal-ramah-mengapa-dinilai-tidak-sopan-di-dunia-maya-?page=all
[8] Kemendikbud RI, Peta Jalan Generasi Emas 2045, 2017, hal.10
Menjalankan sunnah adalah cita-cita semua muslim, namun dalam pelaksanaanya bisa berbeda. Hal ini bisa dipahami karena konteks situasi dan kondisi setiap orang berbeda. Aturan haram bisa jadi mubah pada situasi dan batas tertentu, atau sebaliknya hal yang sunah bisa jadi haram. Itulah fiqih.
Dalam membuat hukum fiqih itu bukan sembarang orang, harus sosok ulama level tertinggi bahkan tidak sendiri harus berjamaah.
Jika dulu ada ulama selevel Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad yang mereka diakui ijtihadnya sebagai ulama madzhab fiqih. Kalau sekarang? Belum nemu selevel mereka.
Ijtihad ulama sekarang bisa beda, walau itu berjamaah, bahkan belum tentu juga dianut oleh muslimin kecuali sebagian.
Nah sebagian muslimin ini menganut ulama tertentu bergantung negara, organisasi, jamaah, atau unsur lainnya.
Lihat saja peristiwa Gaza ini. Berjuang melawan Penjajahan saja bisa beda pendapat lho, yang mestinya wajib bisa jadi diharamkan. Malah olahraga yang ada yang sebagian mengharamkan malah fine-fine saja, atau kecamannya tidak sekeras kepada hammas.
Mungkin dipandang Gaza dan Liga sepak bola seperti permainan, namun ini permainan nyawa seorang muslim dan tanah wakaf al Quds.
Seberapa sunnah mengeluarkan milyaran dolar untuk sepakbola dan membantu Gaza dalam konteks saat ini.
Seberapa sunnah membangun masjid al aqsha dibanding proyek-proyek mercusuar lain untuk konteks saat ini.
Kalau sunnah atau bid’ah masih debat lihat fiqih prioritas saja.
Jika fiqih mungkin saja berbeda pendapat atau prioritasnya berbeda, namun kemanusiaan pasti tidak.
alquds #savegaza #palestina #PalestineUnderAttack #IsraelTerrorist
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
تَذَاكَرْنَا وَ نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ أَمَسْجِدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صلاَةٌ فِيْ مَسْجِدِيْ أَفْضَلُ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيْهِ وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى هُوَ وَلَيُوْشَكَنَّ لأَنْ يَكُوْنَ لِلرَجُلِ مِثْلُ شَطْنِ فَرَسِهِ (وَفِيْ رِوَايَةٍ “مِثْلُ قَوْسِهِ”) مِنَ الأَرْضِ حَيْثُ يُرَى مِنْهُ بَيْتُ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“Kami saling bertukar pikiran tentang, mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba masanya, seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya (dalam riwayat lain : seperti busurnya) dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih baik baginya dari dunia seisinya”
[HR Ibrahim bin Thahman dalam kitab Masyikhah Ibnu Thahman, Ath-Thabrani dalam kitab Mu’jamul Ausath, dan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya, dan Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. Adz-Dzahabi sepakat dengan beliau]
Begitu utamanya Masjid al Aqsha ini bersama Masjidil Haraam dan Masjid Nabawi, begitu pula sekitarnya. Dan hari ini terbukti tiba masa dimana tanah sedikit bahkan seukuran tali yang bisa melihat al Aqsha itu lebih baik dari dunia seisinya.
Jika mereka pergi maka siapa yang akan menjaga masjid al Aqsha?
Jika tidak ada yang berjuang maka siapa yang menjamin al Aqsha masih ada?
Jika semua diam maka siapa yang akan beradzan dan berteriak takbir di msjid al Aqsha?
Karena itu mereka rela berjuang melawan penjajah #terorisisrael.
Karena itu mereka rela meraih syahid daripada meninggalkan tanah wakaf kaum muslimin.
Sungguh kita telah berhutang kepada para penjuang itu.
palestina #alquds
Masa depan seperti suatu yang ghaib, namun bisa diprediksi bukan diramalkan.
Masa depan hadirnya adalah keniscayaan sebagai akibat yang kita kerjakan saat ini.
Dengan indikator, tabiat, dan logika yang diperhitungkan dengan akurat maka apa yang ada dimasa depan bisa tergambarkan.
Masa depan merupakan suatu kontinyuitas dari masa saat ini. Artinya apa yang kita lakukan saat ini akan berpengaruh pada masa depan. Maka lakukan apa yang ada saat ini dengan baik, selanjutnya menuainya dimasa depan. Ibarat padi yang ditanam dengan perawatan, pengairan, pemupukan, dan segala pemeliharaannya sesuai dengan indikator yang benar, maka akan memanen hasil yang sangat baik.
Memang benar bila padi dilakukan pemeliharaan seperti itu akan berhasil karena tabiat dan pengalaman yang ada menunjukkan demikian. Namun bila ingin lebih besar maka lakukan hal yang besar.
Apa hal besar itu? “The best way to predict your future is to create it” – Abraham Lincoln
Tentukan masa depanmu sendiri sejak saat ini bahkan dengan cara penuh keyakinan, semangat pantang menyerah untuk mencoba, belajar, dan bertindak yang krearif, inovatif, & out of the box.
Bila lahan terbatas, bukanlah menjadi halangan justru memunculkan kreatifitas dan seni nan indah. Dengan keterbatasan lahan yang ada, padipun bisa mendapatkan panen yang lebih banyak dengan teknik hidroponik atau aeroponik, atau bisa juga “sawah” ini selain padi, juga mengasilkan ikan dalam konsep aquaponik. Disamping itu sawah tidaklagi becek & kotor, tapi indah dan bercitarasa seni.
Mungkin gambaran masa depan bisa tidak seindah prediksi dan pikiran, atau sebaliknya bisa seperti karya sang maestro.
Sang Maesteo sesunggunya sangat mudah untuk bagi-NYA untuk merubah mid-set, proses, bahkan hasil sekalipun.
“Tidaklah Aku merubah suatu kaum hingga dia merubah dirinya sendiri.”
Sudahkah menciptakan masa depanmu saat ini?
Tahun baru pasti akan ada TANTANGAN baru, so taklukkan tantanganmu & ciptakan adrenalin kepuasan menaklukkannya di #tahunbaru2016.
Kita dudukkan MASALAH pada tempatnya. Jadikan pengalaman 2015 untuk kebaikan, temukan solusi & melejitkan potensi.
31 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar
Ada banyak hal datang menghampiri diri, disaat datang maka kita akan meresponnya, bisa dalam hal itu baik atau buruk yang menimpa kita. Mungkin ini dianggap hanya sekedar kata-kata, tapi secara psikologis ini menunjukkan mind set alam bawah sadar.
Kali ini yang akan kita bahas dalam perspektif keumuman adalah hal buruk.
Pada prinsipnya, ini bergantung dengan persepsi individu masing-masing. Katakanlah yang menimpa ini disebut mayoritas orang adalah benar-benar hal buruk.
Maka mensikapi hal buruk ini respon kita ada 2 (dua) pilihan, kita menganggap itu MASALAH atau TANTANGAN. Kedua respon itu pasti berbeda pensikapannya.
Jika itu Masalah, alam bawah sadar mempersepsikan itu masalah maka mayoritas ada beberapa pilihan dalam bertindak secara sadar atau tidak sadar, yaitu menghindari, meninggalkan, atau menghadapi dalam bingkai keterpaksaan.
Akhirnya, sebenarnya inti masalah itu belum terpecahkan bahkan berpotensi seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Jika itu Tantangan, alam bawah sadar akan berespon untuk melawan untuk menundukkan, melawan untuk “kenikmatan”, atau mencari alternatif lain.
Saat itu tantangan, maka secara psikis membuat diri kita akan dengan senang hati menundukkannya, bahkan bisa jadi ketagihan untuk menghadapi tantangan lain yag serupa atau naik kelas bobotnya. Kenikmatan menundukkam bisa menjadi addict untuk memcari tantangan-tantangan lain yang itu menjadi jalan alternatif.
Maka persepsi pilihan kata “tantangan atau masalah” dari hal buruk yang menimpa anda menentukan cara anda mengatasinya.
Jadi apa pilihan anda?




