Besok, Ia-seorang putra tunggal Raja berusia 16 tahun akan dinobatkan menjadi Raja. Ia adalah seseorang yang sangat menyukai barang-barang antik dan mahal. Kegemarannya adalah mengirim para pedagang untuk mencari barang-barang tersebut. Tapi dari semua itu, yang sangat menarik baginya adalah jubah yang akan dikenakannya pada saat penobatannya nanti.
Jubah itu berhiaskan emas, mahkotanya penuh dengan batu permata, tongkat kebesarannya, dan cincin mutiara. Inilah yang sedang dia bayangkan malam ini sambil berbaring di peraduannya. Calon Raja Muda tersebut kemudian terlelap dalam tidurnya dan bermimpi. Ia melihat dirinya sedang berdiri di sebuah lotengyang panjang dan rendah. Melalui jendela tersebut ia melihat ada seorang penenun dengan tubuh yang sangat kurus, sementara itu anak-anaknya yang terlihat pucat dan sakit membantu si penenun memintal benang sambil bersandar di dinding.
Raja tersebut menghampiri penenun dan mengamatinya. Si penenun menatapnya tajam dan berkata padanya “Mengapa engkau memandangiku? Apakah kau suruhan Tuan kami?”
Siapakah Tuanmu? tanya Raja Muda,
“Tuan kami” kata si Penenun dengan kelu, “ia sama seperti kami , tidak ada bedanya, cuma ia memakai pakaian yang bagus, sedangkan aku memakai baju bekas. Saat aku kelaparan ia malah kekenyangan.” Raja muda tersebut tertegun, dalam benaknya ini bukanlah tanah jajahan. Kemudian raja muda tersebut tertegun, ia melihat penenun tersebut menenun benang emas. Ia kemudian bertanya pada penenun mengenai jubah yan sedang dibuat penenun.
“Ini jubah untuk penobatan Raja muda,” jawab si penenun
“Apakah ini untukmu?”
Dan si Raja muda berteriak dan terbangun. Ternyata ia berada di kamarnya sendiri. Kemudian ia kembali tertidur dan bermimpi sedang berada di sebuah dek perahu yang besar dan sedang didayung oleh ratusan budak. Para budak hanya mengenakan kain pembalut pinggang dan satu sama lain dirantai. Terik matahari membakar tubuh mereka. Mereka menjulurkan tangan keluar dan mengayuh, air laut yang asin dan menciprati mereka.
Akhirnya mereka tiba di sebuah teluk yang kecil, dan mereka mulai berlabuh. Sang Nahkoda mengambil yang sudah dibebani dengan timah, kemudian melemparkan tali tersebut pada sisi kapal, dan mengikat ujunganya pada dua tiang penyangga. Nahkoda kemudian menarik seorang budak, menyumbat hidung dan telinganya dengan lilin, dan mengikat batu besar dipinggangya. Budak tersebut menuruni tangga dan masuk ke dalam air. Tak lama budak tersebut muncul, dengan membawa mutiara ditangannya. Nahkoda mengambil mutiara tersebut dan mendorong budak itu kembali ke dalam air.
Setiap kali ia muncul dari dalam air, ia selalu membawa mutiara di tangannya. Dan si Nahkoda mengumpulkan mutiara-mutiar tersebut dalam kantong berwarna hijau. Kemudian akhirnya budak tersebut muncul dengan membawa mutiara yan lebih bagus dibandingkan mutiara-mutiara sebelumnya. Tapi ia sangat pucat, kemudian terjatuh diatas dek. Darah segar mengalir dari telinga dan hidungnya, ia menggelepar sesaat, kemudian tubuhnya tidak bergerak lagi. Tubuh budak tersebut kemudian dilempar keluar dari kapal.
Nahkoda tersebut tertawa dan mengambil mutiara tersebut dan ketika ia melihatnya ia berkata “Inilah tanda kekuasaan bagi Raja Muda”.
Saat Raja Muda mendengar kata-kata itu, ia menjerit dan terbangun. Kemudian ia tertidur lagi dan bermimpi, melihat dirinya berada di dalam hutan. Hutan itu penuh dengan buah-buahan yang aneh dan bunga-bunga beracun yang indah. Raja muda tersebut terus berjalan hingga ia akhirnya tiba dipinggir hutan. Disana ia melihat sekelompok orang sedang berada di sungai yang kering. Mereka menggali lubang dan masuk di dalamnya, ada yang memecah batu dengan kampak. Mereka semua bekerja tak satupun yang berdiam diri.
Dari sebuah gua yang gelap, si kematian dan keserakahan menguasai mereka. Si kematian berkata
“Aku sangat letih, berikan 1/3 dari mereka padaku dan biarkan aku pergi”
Tapi si Keserakahan menggeleng sambil berkata, “mereka pelayaku”
“Apa yang ada di tanganmu?” tanya si Kematian
‘Tiga butir jagung”, jawab si Keserakahan
“Berikan satu untukku, aku akan menanamnya di kebunku, dan aku akan pergi,” pinta si Kematian
Namun si Keserakahan menolak permintaan tersebut. Si Kematian kemudian tertawa, dan mengambil sebuah cangkir yang lalu dicelupkannya ke dalam air. Dari cangkir itu keluar wabah, seketika itu 1/3 dari kelompok tersebut mati tergeletak.
Si Keserakahan marah dan menyuruh si Kematian pergi. Si Kematian menolak kecuali jika diberikan sebutir jagung. Nau si keserakahan kembali menolak. menanggapi penolakan dari si Keserakahan, si Kematian mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke hutan. Dari sana muncul wabah dalam bentuk nyala api dan membunuh kelompok orang-orang tadi.
Si Keserakahan murka ia merasa si Kematian teramat sangat kejam. Ia menyuruh si Kematian pergi ke India karena disana ada kelaparan.
Namun kembali si Kematian menolak pergi, kecuali ia di beri sebutir jagung. Dan kembali lagi Si Keserakahan menolak permintaan tersebut.
Dan si Kematian tertawa lagi, dan ia bersiul, kemudian muncul seorang yang melayang di udara dengan menyebarkan wabah. Dan tak ada satupun dari kelompok orang-orang tadi yang hidup.
Si Keserakahan melarikan diri ke dalam hutan dan si Kematian menunggang kudanya dan berlari secepat kilat.
Si Raja Muda menangis dan berkata, “Siapakah mereka, dan apa yang mereka cari?”
“Batu-batu ruby untuk mahkota raja,” jawab seseorang di belakangnya.
Si Raja muda terkejut dan menoleh kebelakang. Ia melihat seorang pengembara dengan sebuah cermin perak ditangannya.
“Untuk raja mana?” tanya raja muda
Sang pengembara menyodorkan cermin perak tersebut kepada raja muda untuk melihat raja mana yang akan memakai batu ruby tersebut. Betapa terkejutnya raja muda ketika mendapati bahwa raja yang dimaksud sang pengembara adalah dirinya sendiri. Raja muda kemudian terbangun. Sinar matahari menerobos masuk kamar raja muda.
Kemudian pengurus rumah tangga dan pejabat tinggi kerajaan masuk dan memberi hormat padanya. Para pelayan membawakan jubah emas, mahkota dan tongkat kekuasaan di hadapannya. Raja muda melihat benda-benda itu memang sangat indah. Tapi ia teringat kembali akan mimpinya dan kemudian menolak untuk mengenakan benda-benda tersebut.
Seorang pemimpin merupakan pengayom sekaligus pelayan bagi rakyatnya. Apalah gunanya seorang pemimpin disaat rakyatnya kelaparan ia sendiri kekenyangan, disaat rakyatnya kesulitan ia dengan mudahnya menghambur-hamburkan harta kekayaan.
Maka dari itu jangan sampai kita salah pilih “wakil rakyat”
(di tulis saat awal kampanye pemilu)