Ketika Belanda, atau tepatnya VOC menaklukkan Jayakarta pada 1619, seorang tokoh Cina yang tersohor kala itu dirangkul. Belanda memberi jabatan kepadanya. Inilah yang kemudian menjadi awal diakuinya posisi Kapiten Cina. Walau tidak masuk dalam struktur pemerintahan, walakin kapiten Cina punya pengaruh. Utamanya di internal komunitas Cina yang ada di Batavia ketika itu.
Sejarah kemudian mencatat, adalah Souw Beng Kong, Belanda menyebutnya Bencon, yang pertama kali mejabat Cappiteyn va de Chineese tersebut. Ia tak lain teman Gubernur Jenderal VOC yang menaklukkan Jayakarta, Jan Piterszoon Coen.
Bukti bahwa jabatan Kapiten Cina ini memberi keuntungan bagi Belanda, atau setidaknya membantu, jabatan ini bertahan lama. Ada simbiosis mutualisme. Baru pada 1942, ia ditiadakan. Hubungan, kekuasaan dan uang itu selalu menemui polanya masing-masing, hingga kini sekalipun.
Kekuasaan di sini diartikan orang yang mempunyai kuasa. Dalam zaman now, ia bisa berupa kepala daerah. Adapun Kapiten Cina adalah pengusaha yang tentunya ber-uang. Yang kemudian pengusaha ini juga pemain proyek aka kontraktor.
Ketika KPK mengungkap skandal uang ketok yang menghebohkan Jambi, di penghujung November, sejumlah cerita beredar.
Bisik-bisik itu perihal keterlibatan pengusaha/kontraktor yang kebetulan warga Tionghoa. Cerita warung kopi itu akhirnya kian mendekati kebenaran menyusul pencekalan dua orang dari pihak swasta oleh lembaga superbodi KPK.
“Untuk kepentingan penyidikan dugaan TPK Suap terkait Pengesahan RAPBD Prov Jambi Tahun 2018, agar saat diperlukan untuk pemeriksaan ybs sedang tidak berada di luar negeri, KPK mencegah bepergian ke luar negeri terhadap 2 orang saksi atas nama: Joe Fandy Yoesman (Swasta) dan Ali Tonang (Swasta).” Begitu sebagian rilis dari KPK kepada media, beberapa hari lalu. Keduanya dicegah ke luar negeri per 8 Desember 2017.
Bagi warga Jambi, tentu sudah akrab mendengar nama2 pengusaha Tionghoa. Atau lebih dari itu, membincangkan nama-nama tersebut dalam bual hari-hari, sekalipun mereka tak kenal wajah yang mereka bincangkan. Pun demikian dengan saya, nama-nama “komisi A” itu sekadar familiar di telinga tapi tidak di mata.
Seolah sudah jadi rahasia umum, bahwa penguasa selalu mempunyai kedekatan dengan pengusaha. Apakah itu dengan memandang latar belakang sukunya atau tidak. Kita tentu ingat bagaimana Orde Baru begitu mesra dengan taipan Cina, sekalipun di sisi lain, “amaliah” kebudayaan mereka dikekang.
Di masa keberadaan Kapitan Cina, sekalipun mereka tak bergaji, sejumlah keistimewaan mereka dapatkan. Satu di antaranya, menguasai proyek-proyek infrastruktur. Sekarang? Saya cuma teringat saja ketika di sini ada ribut-rebut perkara kongsi 9 naga.
Pemeriksaan KPK atas kasus uang ketok pastinya akan menemukan fakta baru. Fakta yang sangat mungkin membuat khalayak terkaget-kaget.Atau bisa jadi mengubah konstelasi pilkada di tanah pilih.
Dus, tetiba terngiang ucapan seorang teman menyusul operasi senyap KPK di Jambi. Ia memperkirakan segera membanjir karangan bunga ucapan selamat. Omong-omong pernah memperhatikan karangan bunga yang berjejer di jalan ketika ada serah terima petinggi di Jambi? Kalau jeli, pasti tahu siapa pemesannya. Betul. Familiar di telinga, tapi tidak di mata.
*foto dari internet
**tulisan di sela2 liburan