Aneh. Satu kata yang selalu terngiang di kepalaku saat berangkat menuju kantor. Ya, aneh. Siapa yang datang secara tiba-tiba dan pergi tanpa diketahui.
Kulalui pagi hingga sore tanpa pernah ku ingat lagi peristiwa kemarin. Sesampainya di kampus, aku langsung menuju kelas dan mengikuti kuliah sesi pertama. Ternyata aku dapet kursi disebelah Milly. Kudengar dia bernyanyi samar, “Kau cantik hari ini, dan aku suka.. Kau lain sekali, dan aku suka..”.
“Lagunya siapa, Mil?” tanyaku.
“Lobow: Kau cantik hari ini” jawabnya santai.
“Oo.. Enak juga.”
“Minta mp3nya dong?” pintaku cuek.
“Huu… Sukanya, mbajak!!!”
“Beli CD-nya dong!!” candanya manja.
“Hehe.. Iya besok klo dah gajian aku beli” balasku.
“Traktir skalian ya?”
Anak ini, malah ngelunjak. Aku pelototi saja dia, dia malah tertawa cekikikan. Tawa itu berhenti mendadak karena Milly ditegur dosen. Gantian aku yang cekikikan, Milly tersenyum kecut.
Sesi pertama selesai, ah perutku lapar!!! Langsung saja ku cari warung makan didepan kampus. Setelah aku dan teman-teman memesan makanan, aku iseng ngobrol dengan penjualnya yang sambil menyiapkan pesanan kami.
“Wah sekarang kok jadi mahal semua ya mas?” aku memulai percakapan.
“Iya nih mas. Kemaren klo pake minyak tanah, masih bisa diatur. Sekarang minyak tanah susah, katanya pak mentri apa sapa tuh, disuruh pak gas sekarang gitu”.
“Pemerintah mas?” aku coba mengoreksi.
“He-eh, sapa kek sama aja. Kita-kita mah tetep susah”.
“Kok bisa mas?” aku ingin lebih tahu.
“Iya, kemaren katanya mau dikonversi ke gas, trus minyak tanah dikurangi sedikit2 dan janjinya pasokan gas akan selalu tersedia” jawab penjual makanan.
“Tapi nyatanya, minyak tanah entah kemana, beli gas jg ga ada!” lanjutnya.
“Lho iya to mas? Gas tabung besar jg ga ada?” aku jadi penasaran.
“Ya ada, tapi pedagang kayak kami ga mampu beli” jawabnya.
“Lha wong beli yang 3 kilo aja dah mikir-mikir, apalagi yang gede mas?”
“Klo mo naekin harga, ntar ga ada yang beli. Klo ga dinaekin, ga dapet uang. Trus anak-anak saya hidup dari mana?” lanjutnya.
Aku hanya diam. Diam tanpa bisa menjawab.
“Sudah mas, ga usah mikirin negara, negara aja ga mikirin kita”. Kata-kata itu hanya berlalu begitu saja dikepalaku.
Aku kembali ke mejaku.
“Ngobrolin apa sih, Dzik?” tanya Faiz.
“Iya, kok kayanya seru banget?” Milly menimpali.
“Ga, iseng aja. Pengen kenal aja ma penjualnya” jawabku.
Selesai makan, aku kembali ke kampus. Di tengah jalan ku lihat Bunga sedang duduk dan tampak murung. “Ah, ni anak suntuk amat sih?” pikirku. Ku hampiri dia. “Heh, senyum dikit napa?” sapa ku sambil duduk disebelahnya.
Ku pikir dia akan bereaksi, ternyata malah diam. Lalu dengan tiba-tiba dia berkata “Dzik, punya waktu ga?”
“Ada, lagi ada masalah ya?” jawabku.
“Iya, tentang hubunganku ma Dave”
“Aku bingung banget… Kami dah cocok, kami dah berpikir serius, dan dia juga mulai bekerja supaya setelah lulus bisa siap semuanya” Bunga menumpahkan pikirannya.
“Trus masalahnya gimana?” aku bingung dengan masalah Bunga.
“Yang jadi masalah adalah mamanya Dave ga suka dia pacaran apalagi punya istri orang Jawa, hanya karena trauma adik mamanya yang nikah ma orang Jawa”.
“Nah ipar mamanya itu kelakuannya ga baik, sampe keluarganya sebel”.
“Saking sebelnya, Dave ga boleh cari jodoh orang Jawa. Kan ga logis. Ga semua orang Jawa seperti itu”
“Padahal orang tuaku menerima Dave apa adanya” Bunga bercerita dengan penuh emosi.
“Ok, Bung! Sabar Bung!” aku coba menenangkan.
“Bang-bung aja kmu! Aku ini cewek tau!” tiba-tiba Bunga sewot.
“Ya maap.. Namamu kan Bunga?” aku jadi bingung.
“Ya cowokmu itu gimana reaksinya ke mamanya?”
“Aku juga ga tau, dia ga bisa berbuat apa-apa, dia anak cowok satu-satunya dikeluarganya. Jadi bingung milih siapa”.
“Kmu dah minta dia coba ngomong ma mamanya?” tanyaku penuh selidik.
“Hehe.. Belum…” jawab Bunga sambil senyum.
“Yee.. Gimana sih? Ya dicoba dulu”.
“Aku pikir itu semua dah harga mati” jawab Bunga.
“Ya sekarang kalian coba perjuangkan ‘cinta’ kalian itu. Kan semuanya bisa dibicarakan baik-baik, apalagi keluargamu bisa terima Dave apa adanya. Jadi menunggu apalagi?” aku coba memberikan solusi.
“Yakinlah, klo niat kalian baik, pasti hasilnya juga baik” kataku sok bijak.
“Iya aku coba yakinin Dave buat ngomong lagi ma mamanya. Klo ga bisa juga gimana?”.
“Ya kawin lari aja!!! Hehe…” jawabku asal.
“Yee…” Bunga sewot.
“Ga kok. Aku yakin si Dave orang yang baik, pasti mau ‘berjuang’. Ok?”
“Ok. Thanks ya dah bantu aku?”
“Ok”.
Setelah sesi kedua selesai, aku langsung pulang ke kos. Setelah selesai mandi, aku duduk merenung sambil memainkan gitar kesayangaanku. Aku bingung, kenapa aku yang tidak tahu apa-apa ini, bisa diminta nasihat tentang cinta. Padahal, punya pacar saja tidak, apalagi mikir nikah. Ah, ingin rasanya aku merasakan perasaan itu juga. Kira-kira siapa ya yang mau berjuang ma aku? Ah, bermimpi saja aku ini.