Saya akan mulai tulisan ini dengan mengungkapkan, bahwa sikap yang tersirat dalam judul di atas bukan sesuatu yang sehat. Setidaknya menurut pikiran saya. Patah hati, sebagai satu dari sekian banyak pengalaman kita sebagai manusia, tentu tidak mengenakkan. Dan cara terbaik demi melalui pengalaman-pengalaman tidak mengenakkan, adalah dengan menghadapinya. Menerima, alih-alih menghalau. Dengan cara itu, kita akan bergerak menuju penyelesaian. Berdamai dan tumbuh sebagai pribadi.
Tapi, baiklah. Tulisan ini berjudul demikian. Dan memang, perlu saya akui, menuliskan tulisan ini adalah upaya remeh saya untuk menghalau—bukan menerima atau memahami—patah hati.
Hal-hal apa yang efektif dituliskan untuk menghalau patah hati? Harus sesuatu yang menyenangkan. Mungkin, letak menyenangkannya perlu kita geser terlebih dahulu; bukan pada subyek, tapi jenis tulisan. Jenis tulisan apa yang bagi saya menyenangkan untuk ditulis? Bagaimana kalau sekali lagi saya mencoba mendeskripsikan karakter, seperti yang pernah muncul pada tulisan ini?
Menulis tulisan ini tidak akan secara utuh menyenangkan kalau pada akhirnya hanya saya yang senang. Kamu, pembaca tulisan ini, juga harus senang. Maka saya akan berupaya membuat kata-kata hingga kalimat tulisan ini semenyenangkan mungkin untuk dibaca. Semoga berhasil.
*
Saya mengenalnya sejak hari pertama orientasi perkuliahan dimulai. Pagi itu, seluruh mahasiswa angkatan kami dikumpukan di gedung C—bangunan berlantai tiga yang terletak di sisi utara kompleks fakultas. Entah saat berlangsungnya sesi pengenalan saya secara acaknya kami duduk bersebelahan atau tidak, tapi saya mengingat dengan jelas sosoknya ketika kami berjalan di sisi gedung selepas itu.
Tinggi badan kami sepantar atau mungkin dia lebih pendek sedikit. Rambutnya lurus, tapi terpangkas agak aneh di bagian depan dan samping. Kulitnya gelap. Dan saat saya melihatnya di sisi gedung itu, dia sedang sedikit berjingkat seolah memainkan bola pada kedua kaki padahal tidak. Dia melihat saya dan cukup ramah untuk terlebih dahulu mengulurkan tangan dan berucap, “Agus, Agus Wijanarko. Panggil aja Koko.”
Saya kurang ingat apa saat momen perkenalan itu Koko memakai kacamatanya atau tidak. Jika tidak, tentu dia melihat dan berkenalan dengan saya untuk pertama kali dengan pandangan yang sangat buram.
Sejauh yang saya tahu, Koko lahir dan besar di Yogyakarta. Keluarganya memiliki sepetak hunian di daerah Jetis dan sepertinya sudah tinggal di tempat itu lintas generasi. Sedikit mengenang balik beberapa tahun sebelumnya, saat masih SMA dan bersekolah sangat dekat dari area Jetis, saya biasa turun dari bus kota di perempatan tak jauh dari rumah Koko. Ketika itu, tentu belum ada kesadaran di benak saya bahwa sebaya bernama Koko tinggal di Jetis dan kelak akan menjadi teman masa kuliah. Pun Koko bersekolah di sekolah yang berbeda.
Saya ketika turun dari bus kota itu adalah seorang remaja pindahan dari Jakarta. Saat saya berkenalan dengannya bertahun kemudian, walau telah berbahasa Jawa dan sehari-hari mengendarai motor berpelat AB, saya tetap seorang liyan yang sulit berbaur. Dan kadang menjengkelkan. Koko menjadi seorang yang istimewa karena ternyata mampu bertahan, dan cukup sabar bertahan, sebagai teman.
Pernah suatu siang, sesuai perkuliahan, saya memboncengi Koko pulang. Waktu itu sepertinya kami memang hendak menghabiskan waktu di rumah yang saya huni. Saya melintasi rute yang biasa: ke arah selatan menuju gerbang utama kampus, lalu berbelok ke barat untuk menyusuri setapak pendek di antara area gelanggang mahasiswa. Kami mengobrol dan berbincang cukup cair kala itu. Sebelum, saya melihat ranting menjulur setinggi pandangan mata di setapak pendek tadi, dan refleks berinisiatif menunduk—bukan menghindar dengan menggoyang setir motor, sewajarnya orang yang berada pada situasi serupa. Demi membuat ranting mengenai kepala Koko yang berada persis di belakang kepala saya.
Iya, saya sengaja.
Dan seketika bercakapan kami terhenti.
Rantingnya agak besar dan ternyata, baru saya paham setelah mengamati Koko yang jadi lama terdiam di jok belakang, cukup menyakitkan saat terkena kepala. Atau, muka. Iya muka. Saya jahat. Juga punya selera humor yang sangat-sangat tidak dewasa. Tapi situasi macam itu tidak membuat Koko pergi (untungnya). Kami tetap berteman dan dia perlahan menjadi seorang yang paling kerap menemani di waktu-waktu selepas perkuliahan.
Saya ingat dulu kami punya langganan warung mi ayam. Lokasinya dekat area kampus dan searah rute kami pulang—
*
Tulisan ini mulai saya tulis beberapa waktu sebelum magrib. Terpotong ini-itu lalu saya lanjutkan sebentar. Tapi ternyata mengingat kesalahan di masa lalu pada seorang teman baik membuat perasaan saya kembali buruk. Dan selepas makan malam, perut saya terasa kembung. Mungkin pengaruh curah hujan yang cukup luar biasa beberapa hari ini di Yogya. Atau murni karena pikiran saya yang jadi tak keruan.
Tengkurap atau merebah di kasur bukan posisi yang baik. Saya beranjak duduk setelah memindah Kiko dari sela kaki.
Perut saya tetap terasa tak enak. Dada saya sesak dengan rasa sesal dan kehilangan.
Saya tidak mungkin panjang-lebar bercerita tentang kondisi saya. Berlarut-larut. Hei, bagaimanapun, tulisan ini dibuat demi menghalau patah hati bukan?
*
Sudah beberapa minggu setelah saya memulai tulisan ini dan telah begitu banyak hal yang terjadi. Saat ini tanggal 20 Maret 2020. Berarti, sudah satu bulan lebih sejak saya berpatah hati. Rasa berat dan menekan dari dalam dada sedikit banyak sudah berkurang. Tetapi rasa kehilangan masih ada. Penyesalan. Dan betapa saya telah (lagi-lagi) membiarkan orang penting dalam hidup saya pergi.
Tetapi sudahlah. Baiknya saya segera menutup tulisan ini.
Oh satu hal lagi. Saya tengah menyiapkan buklet puisi untuk diterbitkan secara mandiri. Isinya tulisan-tulisan saya sejak 2016 hingga 2019, dari yang agak panjang sampai yang benar benar pendek. Semoga hasilnya baik.