4 Hal yang Dipikirkan Zinidin Zidan Waktu Goreng Telur Sebelum Pesan Tiket Bioskop Online

(Sebuah upaya menulis fiksi dadakan pakai kata-kata kunci yang ada di Google Trends)

Zinidin Zidan teringat nama panggilannya waktu duduk di Sekolah Dasar: Didan. Dulu, dia berpikir, nama panggilan itu biasa-biasa saja. Oh, yaudah sih, pikirnya waktu itu, tiap teman-teman SD memanggilnya. Tetapi, sekarang, dia jadi menganggap kalau nama itu keren juga. Dan dia ingin teman-temannya yang sekarang memanggilnya Didan, alih-alih nama yang lebih familier digunakan mereka: Montecarlo. Atau, Onte. Lho, bagaimana nama Zinidin Zidan bisa sampai dipanggil Montecarlo? Nanti akan dijelaskan lewat tulisan ini.

Onte… Onte… Onte…, ia membayangkan salah satu teman memanggilnya.

Terlepas dari nama panggilan yang mirip “Onde-Onde” itu, Didan cocok dengan teman-temannya. Mereka orang-orang yang asyik. Seperti sore itu, misalnya, Didan, Toni, dan Gatot janjian main ke rumah Nurmantyo buat nonton bareng via aplikasi streaming. Bahkan, Onte… eh, Didan sampai niat menyiapkan kentang goreng buat dimakan nanti bareng-bareng. Tapi, ya itu, dia sebal tiap nama “Onte” disebut ke arahnya. Terutama oleh Toni.

Continue reading “4 Hal yang Dipikirkan Zinidin Zidan Waktu Goreng Telur Sebelum Pesan Tiket Bioskop Online”

Siapa yang Berdesakan Denganmu di KRL Sepulang Kantor Setiap Harinya?

Mungkin seorang penulis. Pekerja lepas. Tenaga marketing. Pelukis yang menyambung hidup sebagai desainer pada perusahaan mainan anak. Seorang fresh graduate. Seorang fresh graduate yang baru diterima pada management trainee di salah satu BUMN. Wartawan. Kasir di sebuah restoran. Guru. Seorang fresh graduate lain yang belum mendapat kerja. Penjaga stand pameran. Customer service bank yang pusing setelah mendengar keluhan pelanggan seharian. Atau, mungkin saja, pekerja agensi periklanan seperti Rendi—tokoh pada cerita ini.

Rendi belum tidur sejak kemarin. Bukan, sejak kemarinnya lagi. Kalau kedua matanya terasa hangat petang itu, tentu bukan karena ia hendak menangis. Meski mungkin saja ia hendak menangis. Bukan, bukan hendak menangis. Tetapi karena terlalu lama menatap layar komputer beberapa hari ke belakang. Juga, tentu saja, akibat kurang tidur. Sebagai pekerja agensi yang tipikal pekerja agensi, Rendi sudah lama tidak pulang. Kira-kira sudah satu minggu ini. Ia masih bujang dan tinggal bersama kedua orang tua. Dan ayah serta ibunya selalu bisa maklum kalau Rendi tidak pulang. Namanya juga laki-laki, harus kerja keras, kata mereka. Agak toxic masculinity tetapi tidak apa-apa.

Continue reading “Siapa yang Berdesakan Denganmu di KRL Sepulang Kantor Setiap Harinya?”

Ode untuk Jakarta

Andai akhirnya saya menetap dan berkeluarga di Yogyakarta, saya akan ajak istri saya kelak untuk sesekali mengunjungi Jakarta sebagai dua orang turis. Berboncengan melalui jalan-jalan protokol, kami akan melirik wajah satu sama lain pada kaca spion. Merasakan embusan angin di area kulit yang tidak tertutup masker, saya tarik tangannya agar mendekap perut saya lebih erat. Kami akan melewati lampu-lampu bercahaya kuning redup lalu saya bertanya, “Mau mampir ke mana?”

Kami agaknya tidak memiliki tujuan, atau kami memang tidak memerlukan tujuan apa pun pada situasi itu. Kami melaju saja, berbelok ke arah jalan layang yang membelah kota persis di tengah. Dan gedung-gedung di kiri kanan perlahan tenggelam.

Jakarta akan saya perkenalkan padanya sebagai tempat saya lahir dan dibesarkan. Dengan ingatan-ingatan tentang orang tua yang sibuk bekerja, situasi dalam kendaraan umum yang riuh, juga jalan-jalan yang selalu penuh waktu siang. Jakarta adalah lokasi bertemunya kebencian dan rasa sayang, juga rasa jengah sekaligus rindu yang tak putus, setidaknya bagi saya. Mungkin, juga bagi banyak orang sejak dulu hingga sekarang. Itu sebabnya orang-orang Jakarta mengeluh dan ingin sekali pindah dan tetap tinggal di sana hingga tua, bukan?

Hidup Adalah Perjalanan Panjang Mengenal Diri Sendiri (Bagian Pertama)

Ada pertanyaan sederhana yang kerap membayang di dalam pikiran saya: apa itu hidup?

Terbangun di pagi hari, menjalani satu hari penuh sejak awal, gosok gigi, sarapan, menyeduh kopi, hingga beraktivitas lalu tiba malam dan kita mandi untuk bersiap istirahat; demi terbangun di keesokan harinya dan melakukan hal yang kurang lebih serupa. Mengulang-ulang aktivitas yang sama hingga akhir pekan, lalu kita pergi atau menyempatkan bertemu teman atau mungkin berwisata, sebelum tiba Minggu malam dan kita ada di tepi putaran yang sama seperti sebelumnya; rutinitas yang itu-itu juga.

Hidup mungkin memang hanya seperti itu. Pengulangan demi pengulangan hingga ujungnya. Dan akan berlalu begitu saja sampai akhirnya tidak terlalu kita pikirkan. Yang paling dikenal, hidup kerap dicirikan melalui sifat yang berlaku secara universal: kesementaraan. Artinya, akan terus berlalu saja apa pun situasinya. Kadang terasa begitu lambat dan membosankan, tetapi sering juga menjadi amat cepat—terus saja begitu dan tahu-tahu suatu hari kita telah ada sampai tepiannya. Kita memandang jauh ke belakang dan kini merasa telah begitu berjarak dengan masa-masa kecil yang kita tinggalkan. Juga jauh dengan momen-momen remaja yang begitu semarak.

Masa kecil saya tidak terlampau istimewa, jujur saja. Tetapi, baru saya sadari kemudian, ternyata melibatkan pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan yang masih membayang hingga sekarang. Saya ingat, dulu, saat masih di masa prasekolah, pernah terbangun suatu pagi dengan perasaan yang campur baur tidak keruan. Pekaranya sederhana: saya terbangun dan sadar kalau Bapak dan Ibu telah berangkat kerja. Saya sendiri saja di kamar itu. Saya kesal, bukan pada Ibu—sosok yang waktu itu sungguh ingin saya temui sering-sering—tetapi pada diri saya sendiri. Mengapa hal sesederhana bangun lebih pagi saja saya luput? Bukankah andai saya bangun lebih pagi, beberapa puluh menit saja, saya bisa bertemu lebih dulu dengan Ibu sebelum mereka berangkat? Waktu itu, saya lantas menangis.

Continue reading “Hidup Adalah Perjalanan Panjang Mengenal Diri Sendiri (Bagian Pertama)”

Sore Hari, 27 Januari 2021

Hari ini adalah Rabu dan suasana masih dalam pandemi dan Gunung Merapi mengeluarkan lahar serta kabut panas.

Beberapa waktu lalu, saat pergantian tahun menuju 2021, saya sempat berpikir, rasanya apa pun yang terjadi pada 2021 kita akan baik-baik saja. Karena, toh kita sudah melewati tahun yang sungguh ajaib kacaunya. Bahkan saya sempat berpikir kalau 2021 akan membawa sesuatu yang baik atau malah sangat baik mengingat hidup pasti berputar dan 2020 sudah hancur-hancuran seperti itu. Tapi ternyata mungkin pikiran-pikiran saya itu tidak akan terwujud sama sekali.

Per hari ini, suasana batin yang kami rasakan masih kurang-lebih serupa dengan tahun sebelumnya. Situasi pasar kerja masih sulit, perputaran ekonomi tetap berat. Belum ada progresi yang rasanya cukup signifikan untuk secara mantap kita bisa mengganggap kalau hidup telah bergulir menuju sisi yang lebih terang. Mungkin dunia tetap akan hancur-hancuran, juga hari-hari kita di sini. Tapi, mungkin juga, walau memang hancur-hancuran, kita akan tetap tidak apa-apa. Akan tetap hidup dan kelak mengingat semua secara biasa-biasa saja.

Memang ada variabel yang tidak dapat kita apa-apakan, seperti pandemi atau aktivitas Gunung Merapi, tetapi tetap ada variabel yang bisa kita kendalikan. Minimal, saya dan kamu bisa tetap mengupayakan sesuatu untuk bertahan, khususnya secara mental. Bisa tetap mencari penghiburan, atau rekreasi-rekreasi kecil di rumah serta tempat-tempat lain yang kiranya aman. Bisa tetap saling menghubungi dan menguatkan, atau sesederhana menanyakan kabar agar teman bicaramu bisa tahu kalau kamu dan dia tetap terhubung.

Saya menulis ini sembari mendengarkan playlist infinite indie folk dan suara hujan dari area samping rumah. Suasananya tenang sekaligus dingin tetapi sepi betul. Semoga kamu tetap sehat.

Doa saya buat kamu.

*

Omong-omong, beberapa hari lalu saya membeli tiga buku ini via toko daring. Saya baru sadar kalau membeli secara daring itu kadang bisa jadi jauh lebih murah terutama pengaruh sistem paketan tiga buku seperti yang saya pesan. Problemnya bagi saya, walau sebenarnya tidak penting, tiga buku itu tiba tidak dalam kondisi yang sudah tersampul. Saya suka buku yang tersampul, seperti kalau saya belanja di Togamas, dan saya tetap merasa tidak cukup telaten untuk menyampuli buku satu per satu.  Hehe.

Paket bundel tiga buku, persis setelah di-unboxing.

Salah satu bukunya, yang warna kuning, sudah selesai saya baca. Saya tidak sabar membuka buku yang tengah dan membayangkan betapa apiknya (mungkin) buku itu ditulis. Rasa-rasanya, membeli dan mulai membaca buku kembali bisa jadi rekreasi kecil dalam rumah yang saya bicarakan sebelumnya. Oh, tentu juga menulis secara iseng-iseng seperti ini. Ada kegairahan tertentu yang secara menenangkan terasa, dan itu cukup membantu, mungkin salah satunya akibat berbulan-bulan kurang piknik.

Membaca itu ya kurang lebih seperti piknik, toh?

Persekutuan yang (Seharusnya) Biasa Saja*

“Sejujurnya, akhir-akhir ini aku merasa kalau konsep pernikahan itu kurang masuk akal,” ucap saya suatu malam. Kami bertiga duduk di atas trotoar. Beberapa kendaraan telah lama terparkir di sebelah kami. Ada juga lalu-lalang kendaraan di sisi yang lebih jauh.

“Kenapa?” tanya Inong.

“Karena… bagaimanapun cinta akan pudar, kan? Terutama pada situasi ketika kita bersama orang lain, sejak bangun pagi hingga tidur lagi. Dengan keseharian yang terus berulang.”

“Justru kerena itu kita akan terbiasa dengan pasangan, Ran. Dan kelamaan akan semakin kuat ikatannya.”

“Iya sih. Bisa seperti itu. Tapi, toh pernikahan tidak membuat kita berhenti jauh cinta dengan orang lain, misalnya—”

“Ya itulah kenapa kita menikah. Agar secara sadar berhenti pada satu orang,” ucap Pepi, menanggapi.

Percakapan seperti itu berlanjut hingga beberapa waktu kemudian sebelum beralih pada topik-topik lain yang tidak terlalu berhubungan. Dan malam itu, saya ingat betul, pikiran saya masih kukuh beranggapan kalau menikah memang sesuatu yang kurang masuk akal. Bukankah lebih baik membiarkan hubungan tumbuh dan surut secara alami, alih-alih memaksakan untuk tetap bersama selamanya?

Tapi, pandangan saya tentang pernikahan ternyata bergeser dari waktu ke waktu. Dan kini, setelah kurang-lebih satu tahun berselang, saya merasa bodoh pernah punya pandangan sepayah itu.Continue reading “Persekutuan yang (Seharusnya) Biasa Saja*”

Ornamen Dinding

Pernah saya membaca, entah di mana, ada baiknya jika kita sesekali mengamati hal-hal kecil di sekitar dan sebisa mungkin menjadikannya alasan untuk bertahan di masa-masa seperti ini. Alasan yang kita syukuri dan mungkin, betapa pun sederhana nan kesehariannya, menjadi sesuatu yang kita nantikan kembali esok hari.

Saya punya alasan seperti itu. Bisa jadi, banyak. Dan salah satunya, bayang-bayang yang hadir setiap sore terang seperti ini.

Secara visual mereka seperti ornamen. Seperti pendar yang lembut dan hampir-hampir samar. Saat angin berembus, bayang-bayang bergoyang pelan. Dan saat ruang tengah saya perlahan redup menjelang petang, pendar itu makin nyala. Terus saja. Merambat naik mengikuti arah sebalik gerak matahari. Lalu hilang.

Tentang Sore Hari

Entah karena alasan apa, saya hampir selalu membayangkan masa-masa kecil melalui berbagai kilasan peristiwa di sore hari. Saat-saat saya membaca Bobo sepulang sekolah, misalnya. Atau ketika asyik bermain layangan di atas genting rumah. Lengkap dengan cahaya hangat yang redup. Angin semilir. Serta nuansa relaks dan menenangkan yang khas.

Hal itu mungkin akhirnya memengaruhi proyeksi visual yang membayang dalam benak saya. Dengan warna cokelatnya, serta temperatur cahaya yang hangat. Atau, mungkin juga karena secara visual representarif (cokelat dan hangat) itulah sampai akhirnya kilasan-kilasan peristiwa sore hari menjadi hadir dan mewakili memori tentang masa lalu. Bukan pagi atau siang (yang tidak cokelat dan hangat), misalnya, juga bukan malam atau malah dini hari.

Hingga sekarang, sore hari masih menghadirkan nuansa yang kurang-lebih seperti itu. Cokelat dan hangat. Hampir-hampir membangkitkan nostalgia masa kecil. Seakan-akan sensasi indrawi yang dulu, persis yang dulu itu, merembes ke atas permukaan pengalaman saya masa kini. Dan saya suka.

Pernah suatu ketika, saat melamun, saya berpikir alangkah menariknya jika taman surga kelak berlangsung hanya dalam sore hari. Maksudnya, hadir melalui pengalaman sore hari yang abadi. Dengan cahaya cokelat dan hangatnya. Serta angin semilir yang membuat dahan dan ranting pada pohon bergoyang pelan dan membayang di permukaan tanah. Tentu ada permukaan tanah yang lapang. Ada pula sungai yang mengalir. Dan kita duduk-duduk di tepian, mungkin sembari bermain gitar atau menyesap es kopi susu gula aren masing-masing di tangan. Entah juga.

Omong-omong soal sore hari, persis ketika menuliskan kalimat-kalimat di paragraf sebelumnya, saya teringat satu hal. Kelihatannya ada entah di mana gambaran mengenai peristiwa santai leyeh-leyeh seperti keasyikan sore hari yang saya ilustrasikan. Mungkin satu klip video. Musik yang lembut dan santai. Dengan visual cahaya yang keemasan.

Oh. Klip video ini ternyata. Kelihatannya menarik juga kita gunakan sebagai pembanding, tentang bagaimana citraan sore hari hadir dalam media, khususnya klip video musik genre seperti ini.

Indah betul ya? Sore hari yang tenang. Tanah lapang. Udara yang sejuk (karena Erlend Oye di situ mengenakan jaket rangkap). Bahkan lengkap dengan kelopak-kelopak bunga putih yang gugur.

Ada lagi tidak ya? Klip video berlatar sore hari seperti itu. Kelihatannya, samar-samar saya teringat sesuatu. Mungkin ini. Ternyata bukan klip video tapi gambar sampul depan. Coba disimak.

Jangan lupakan juga lagu The Beatles ini. Yang menurut saya, secara komposisi dan aransemennya, bercerita banyak tentang suasana sore hari. Perhatikan petikan gitar serta susunan nadanya. Keriangan dan suasana hangat yang coba dihadirkan. Juga, liriknya tentu saja.

Baiklah. Selamat berhari raya ya, untuk yang merayakan. Semoga berkat dan karunia tercurah untukmu, teman-teman, serta keluarga. Atau orang-orang lain yang kamu kasihi.

Salam.

Keluh Kesah Bulan April dan Lain Sebagainya

Dengan tidak mengurangi rasa hormat serta empati saya pada teman-teman dan saudara-saudara yang terimbas buruk atas wabah covid-19, saya rasa guncangan seperti ini baik untuk kita, manusia.

Pada situasi normal, kita tahu, sebagian besar kita menjalani hidup secara begitu saja. Hampir otomatis. Dari bangun pagi, istirahat siang, hingga pulang petang dan berulang esoknya. Kemarin, sore-sore saat mengendarai motor menuju rumah, saya beberapa kali melihat orang-orang sebaya saya, atau mungkin lebih muda, membagikan makanan kepada Bapak Becak atau Pemulung. Saya rasa, guncangan seperti ini membuat kita akhirnya memahami apa-apa saja yang penting dalam hidup.

Orang-orang mengeluh tentang betapa membosankannya bekerja dari rumah setiap hari, serta tetap tidak ke mana-mana saat akhir pekan. Saya tentu juga bosan. Tapi kelihatannya perkara saya yang utama bukan di situ. Saya merasakan kerinduan, secara jauh lebih mendesak ketimbang kebosanan. Rindu bertemu orang-orang tertentu. Atau, mungkin pada interaksi sosial secara umum.

Dengan membatasi pertemuan, hidup saya yang sejak semula memang begitu minim pertemuan, menjadi jauh lebih terisolasi lagi. Hal ini kadang membuat saya takut. Takut kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Terlepas dari semua hal itu, saya sayang teman-teman saya. Yang jumlahnya tidak seberapa itu. Atau, saya sayang pada manusia secara umum. Keluarga juga, tentu saja. Hanya sering kali saya sukar mengekspresikannya.

Saya merasakan hal-hal yang sentimentil dari benda seperti sikat gigi, atau pasta gigi, membayangkan pasangan saya pergi dan meninggalkan satu sikat gigi di gelas kamar mandi. Sikat gigi begitu personal sifatnya. Kamu mungkin akan enggan berbagi sikat gigi dengan siapa pun sampai kapan pun, sangking personalnya. Karenanya, keberadaannya di kamar mandi bisa jadi penanda paling dasar sekaligus sederhana tentang seseorang.

Hai, kamu belum pulang, tapi aku melihat sikat gigimu di kamar mandiku. Jadi bisa kupastikan bahwa kamu masih akan kembali. Kira-kira begitu.

Omong-omong, saya menulis ini pukul satu dini hari. Seketika teringat postingan sebelumnya. Tentang beda menulis siang dan malam. Hehe. Dan inilah saya sekarang. Merasa kesulitan menyusun satu paragraf utuh, dari awal ke akhir, menyambungkannya dengan paragraf-paragraf lain, juga dalam pertalian yang utuh atau perpindahan gagasan yang enak, hingga berkait secara nyaman.

Kelihatannya bukan soal saya menulis dini hari, tapi soal kerja pikiran saya. Yang semakin hari semakin tak beraturan. Atau, mungkin saya nyaman saja melompat dari satu gagasan menuju yang lain tanpa harus merasa terbebani oleh keinginan menulis paragraf-paragraf yang bertaut secara teratur. Nyaman mengikuti pikiran saya yang bergerak ke sana kemari lalu menuliskannya begitu saja.

Sering kali, saya hanya ingin menulis, tanpa tahu apa yang perlu dituliskan. Atau apa yang mau dituliskan. Menikmati tuts-tuts tertekan lembut di tiap ujung jari saya. Sembari, seperti saat ini, berjalan sabar bersama benak saya dari satu gagasan ke yang lain, walau mungkin tidak saling terhubung. Rasanya seperti menemani seorang yang dikasih.

Tapi, kelihatannya, semua ini bukan tabiat yang baik.

Saya akan segera mengakhiri tulisan ini. Baik-baik ya, kamu. Semoga tetap sehat, aman, dan terlindungi.

Menghalau Patah Hati

Saya akan mulai tulisan ini dengan mengungkapkan, bahwa sikap yang tersirat dalam judul di atas bukan sesuatu yang sehat. Setidaknya menurut pikiran saya. Patah hati, sebagai satu dari sekian banyak pengalaman kita sebagai manusia, tentu tidak mengenakkan. Dan cara terbaik demi melalui pengalaman-pengalaman tidak mengenakkan, adalah dengan menghadapinya. Menerima, alih-alih menghalau. Dengan cara itu, kita akan bergerak menuju penyelesaian. Berdamai dan tumbuh sebagai pribadi.

Tapi, baiklah. Tulisan ini berjudul demikian. Dan memang, perlu saya akui, menuliskan tulisan ini adalah upaya remeh saya untuk menghalau—bukan menerima atau memahami—patah hati.

Hal-hal apa yang efektif dituliskan untuk menghalau patah hati? Harus sesuatu yang menyenangkan. Mungkin, letak menyenangkannya perlu kita geser terlebih dahulu; bukan pada subyek, tapi jenis tulisan. Jenis tulisan apa yang bagi saya menyenangkan untuk ditulis? Bagaimana kalau sekali lagi saya mencoba mendeskripsikan karakter, seperti yang pernah muncul pada tulisan ini?

Menulis tulisan ini tidak akan secara utuh menyenangkan kalau pada akhirnya hanya saya yang senang. Kamu, pembaca tulisan ini, juga harus senang. Maka saya akan berupaya membuat kata-kata hingga kalimat tulisan ini semenyenangkan mungkin untuk dibaca. Semoga berhasil.

*

Saya mengenalnya sejak hari pertama orientasi perkuliahan dimulai. Pagi itu, seluruh mahasiswa angkatan kami dikumpukan di gedung C—bangunan berlantai tiga yang terletak di sisi utara kompleks fakultas. Entah saat berlangsungnya sesi pengenalan saya secara acaknya kami duduk bersebelahan atau tidak, tapi saya mengingat dengan jelas sosoknya ketika kami berjalan di sisi gedung selepas itu.

Tinggi badan kami sepantar atau mungkin dia lebih pendek sedikit. Rambutnya lurus, tapi terpangkas agak aneh di bagian depan dan samping. Kulitnya gelap. Dan saat saya melihatnya di sisi gedung itu, dia sedang sedikit berjingkat seolah memainkan bola pada kedua kaki padahal tidak. Dia melihat saya dan cukup ramah untuk terlebih dahulu mengulurkan tangan dan berucap, “Agus, Agus Wijanarko. Panggil aja Koko.”

Saya kurang ingat apa saat momen perkenalan itu Koko memakai kacamatanya atau tidak. Jika tidak, tentu dia melihat dan berkenalan dengan saya untuk pertama kali dengan pandangan yang sangat buram.

Sejauh yang saya tahu, Koko lahir dan besar di Yogyakarta. Keluarganya memiliki sepetak hunian di daerah Jetis dan sepertinya sudah tinggal di tempat itu lintas generasi. Sedikit mengenang balik beberapa tahun sebelumnya, saat masih SMA dan bersekolah sangat dekat dari area Jetis, saya biasa turun dari bus kota di perempatan tak jauh dari rumah Koko. Ketika itu, tentu belum ada kesadaran di benak saya bahwa sebaya bernama Koko tinggal di Jetis dan kelak akan menjadi teman masa kuliah. Pun Koko bersekolah di sekolah yang berbeda.

Saya ketika turun dari bus kota itu adalah seorang remaja pindahan dari Jakarta. Saat saya berkenalan dengannya bertahun kemudian, walau telah berbahasa Jawa dan sehari-hari mengendarai motor berpelat AB, saya tetap seorang liyan yang sulit berbaur. Dan kadang menjengkelkan. Koko menjadi seorang yang istimewa karena ternyata mampu bertahan, dan cukup sabar bertahan, sebagai teman.

Pernah suatu siang, sesuai perkuliahan, saya memboncengi Koko pulang. Waktu itu sepertinya kami memang hendak menghabiskan waktu di rumah yang saya huni. Saya melintasi rute yang biasa: ke arah selatan menuju gerbang utama kampus, lalu berbelok ke barat untuk menyusuri setapak pendek di antara area gelanggang mahasiswa. Kami mengobrol dan berbincang cukup cair kala itu. Sebelum, saya melihat ranting menjulur setinggi pandangan mata di setapak pendek tadi, dan refleks berinisiatif menunduk—bukan menghindar dengan menggoyang setir motor, sewajarnya orang yang berada pada situasi serupa. Demi membuat ranting mengenai kepala Koko yang berada persis di belakang kepala saya.

Iya, saya sengaja.

Dan seketika bercakapan kami terhenti.

Rantingnya agak besar dan ternyata, baru saya paham setelah mengamati Koko yang jadi lama terdiam di jok belakang, cukup menyakitkan saat terkena kepala. Atau, muka. Iya muka. Saya jahat. Juga punya selera humor yang sangat-sangat tidak dewasa. Tapi situasi macam itu tidak membuat Koko pergi (untungnya). Kami tetap berteman dan dia perlahan menjadi seorang yang paling kerap menemani di waktu-waktu selepas perkuliahan.

Saya ingat dulu kami punya langganan warung mi ayam. Lokasinya dekat area kampus dan searah rute kami pulang—

*

Tulisan ini mulai saya tulis beberapa waktu sebelum magrib. Terpotong ini-itu lalu saya lanjutkan sebentar. Tapi ternyata mengingat kesalahan di masa lalu pada seorang teman baik membuat perasaan saya kembali buruk. Dan selepas makan malam, perut saya terasa kembung. Mungkin pengaruh curah hujan yang cukup luar biasa beberapa hari ini di Yogya. Atau murni karena pikiran saya yang jadi tak keruan.

Tengkurap atau merebah di kasur bukan posisi yang baik. Saya beranjak duduk setelah memindah Kiko dari sela kaki.

Perut saya tetap terasa tak enak. Dada saya sesak dengan rasa sesal dan kehilangan.
Saya tidak mungkin panjang-lebar bercerita tentang kondisi saya. Berlarut-larut. Hei, bagaimanapun, tulisan ini dibuat demi menghalau patah hati bukan?

*

Sudah beberapa minggu setelah saya memulai tulisan ini dan telah begitu banyak hal yang terjadi. Saat ini tanggal 20 Maret 2020. Berarti, sudah satu bulan lebih sejak saya berpatah hati. Rasa berat dan menekan dari dalam dada sedikit banyak sudah berkurang. Tetapi rasa kehilangan masih ada. Penyesalan. Dan betapa saya telah (lagi-lagi) membiarkan orang penting dalam hidup saya pergi.

Tetapi sudahlah. Baiknya saya segera menutup tulisan ini.

Oh satu hal lagi. Saya tengah menyiapkan buklet puisi untuk diterbitkan secara mandiri. Isinya tulisan-tulisan saya sejak 2016 hingga 2019, dari yang agak panjang sampai yang benar benar pendek. Semoga hasilnya baik.