
Overview
Film ini saya tonton dengan berbekal perasaan yang sudah miris terlebih dahulu gara-gara membaca judulnya. Born Into Brothels, judul ini tentunya serasa sudah mewakili semuanya. Dan benar saja, gambar intro berupa close up dua buah mata Kochi yang indah sekaligus sedih. Kamera merekam jalanan Abinash Kaviraj Lane atau Red Light District di Kolkata India dengan muram, pelan, kabur, dan warna merah seperti terperangkap di tiap sudutnya. Nampaknya kamera memang sengaja diletakkan setinggi pinggul orang berjalan, menimbulkan efek yang lebih dalam, real sekaligus sureal. Saya kemudian menyadari bahwa sutradara sepertinya membagi gambar menjadi dua garis besar. Yaitu gambar adegan atau cerita sehari-hari yang ceria, terang dan jelas. Gambar biasanya diambil dari sudut pandang kamera normal yang diletakkan di pundak. Sedangkan gambar kedua adalah gambar yang sedih dan muram, dan gambar ini selalu dibuat ketika kamera menyorot para pelacur yang berdiri di jalanan Red Light District.
Kamera menggambarkan kehidupan malam itu dengan kamera yang bergoyang-goyang dengan sudut pandang rendah, menghasilkan gambar yang kabur, pelan, sureal, dan menyesakkan. Untung saja gambar-gambar muram itu diimbangi dengan gambar yang terang ketika kamera mengarahkan lensanya pada sosok tujuh orang anak yang lahir di kawasan tersebut. Mereka adalah Kochi, Shanti, Avijit, Suchitra, Manik, Gour dan Tapasi yang mendapatkan workshop fotografi dari fotografer Zana Briski. Sedianya Zana hanya akan mengabadikan kehidupan di distrik itu, tapi seiring berjalannya waktu, dia mengenal anak-anak tersebut dan memutuskan untuk melakukan workshop fotografi ini. Tentu ada misi selain membekali anak-anak ini dengan kamera saku, yaitu mengabadikan gambar-gambar dari sudut pandang mereka yang lebih bebas berkeliaran di distrik itu dan merekam kehidupan kompleks pelacuran itu dengan lebih intim dan membumi. Di sela-sela adegan gambar yang bergerak, kita akan disuguhi hasil jepretan Zana sang fotografer dan jepretan anak-anak tersebut. Dan bersiap-siaplah untuk terhenyak, karena jepretan anak-anak tersebut tidak kalah indahnya dengan jepretan Zana.
Plot
Cerita dimulai dengan mengenalkan ketujuh anak-anak tersebut dan kisah mereka dibuat dengan adegan wawancara dan review mengenai hasil jepretan mereka. Red Light District digambarkan dengan sudut-sudut kumuh dan jorok. Umpatan kasar dan kata-kata jorok menjadi keseharian bagi anak-anak tersebut. Zana mengajari anak-anak itu mengenai komposisi, teknik dasar fotografi, dan lain-lain. Mereka dibebaskan untuk memotret apapun yang mereka suka dan hasilnya adalah foto-foto yang luar biasa. Beberapa memang kabur, akan tetapi momentum yang ditampilkan sangat tepat dan tak akan terulang. Sudut pandang foto dari anak-anak ini begitu alami, sepele tapi mengena. Momentum yang belum tentu bisa ditemui oleh fotografer profesional sekalipun. Zana mengajak mereka ke kebun binatang dan pantai untuk bersenang-senang dan bereksperimen dengan kamera saku mereka. Adegan diselingi dengan cerita mengenai kehidupan mereka yang tanpa harapan. Kochi, Tapasi, Puja, Shanti dan Suchitra hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi pelacur, pekerjaan yang dilakoni oleh hampir semua perempuan di keluarganya. Manik, Gour dan Avijit pun tak ada masa depan pasti karena akses pendidikan yang tidak mereka dapat.
Setelah melakukan pameran dan menjual foto hasil karya anak-anak ini di Manhattan New York, melelang foto di Sotheby’s, bahkan hasil jepretan Suchitra menjadi sampul kalender Amnesty International, Zana mendapatkan uang untuk pendidikan anak-anak sehingga bisa mengeluarkan mereka dari distrik tersebut. Bahkan Robert, seorang agen foto dari New York ikut bergabung dalam proyek ini. Hasil penilaiannya menetapkan bahwa jepretan Avijit lah yang paling bagus karena sudut pandang yang tidak umum, ide baru, foto yang stabil dan komposisi yang tepat. Avijit bahkan dikirim ke Amsterdam untuk acara World Press Photo. Sebuah pelipur setelah ibunya meninggal karena dibakar oleh germonya sendiri. Hasil foto anak-anak ini juga dipamerkan di Oxford Bookstore di India. Perjuangan Zana selanjutnya adalah mencari sekolah yang mau menerima mereka dan membawa mereka ke dokter untuk tes HIV. Syukurlah mereka semua negatif. Cerita diakhiri dengan keputusan jadi tidaknya mereka bersekolah. Hal ini cukup menyesakkan karena hanya Avijit, Tapasi dan Kochi yang melanjutkan sekolah.
Punctum
Banyak sekali punctum yang menusuk mata saya dalam film ini. Luka di kening Kochi, baju sobek di pinggang Shanti, raut muka Manik yang sangat mirip Janet Jackson, pedagang tebu peras di pinggir jalan saat mereka pergi ke pantai, berkas-berkas di kantor pemerintah yang bertumpuk dan berdebu mengingatkan saya pada berkas-berkas di Puskesmas Kotagede saat saya kecil. Selain itu banyak sekali adegan yang tidak asing dan tidak aneh. Mungkin karena ini masih di India sehingga ada satu dan dua hal yang bisa kita temui juga di budaya kita. Salah satunya adalah keputusan nenek Puja untuk melarang Puja berangkat sekolah pada hari tersebut karena hari itu adalah hari meninggalnya nenek buyut Puja. Bukankah tradisi ini sama dengan tradisi geblak dalam budaya Jawa. Hari di mana anggota keluarga yang dituakan meninggal sehingga anak turunnya dihimbau untuk tidak melakukan kegiatan di luar kegiatan sehari-hari.
Foto-Foto
Kekuatan utama dari film dokumenter ini adalah foto-foto karya anak-anak itu. Apa yang dipotret dengan kamera saku mereka tentunya adalah obyek yang menarik menurut mereka. Dan obyek yang menarik ini tentu saja adalah yang bermakna bagi mereka. Sebagaimana penjelasan Seno Gumira Ajidarma bahwa dengan memotret apa yang bermakna bagi mereka maka mereka sebenarnya sedang melahirkan dunia mereka sendiri. Ketika foto-foto mereka dipamerkan, kekuatannya adalah pada cerita atau konteks dari foto-foto itu. Jika saja foto itu berdiri sendiri tanpa foto-foto yang lain dan tidak ada penjelasan tentang siapa yang mengambil foto-foto itu, tentunya foto itu akan bermakna lain. Sehingga ketika foto-foto karya anak-anak ini bisa sampai dilelang di Sotheby’s dan menjadi gambar kalender Amnesty International, tentunya bukan karena foto tersebut bagus secara teknis dan artistik semata. Foto-foto itu bermakna lebih dan punya nilai jual karena dipotret oleh anak-anak yang tinggal di Red Light District Kolkata India.
Pada akhirnya, film dokumenter ini termasuk yang berhasil meramu drama kehidupan tokoh-tokoh di dalamnya. Bagaimana keadaan tanpa masa depan itu dihadapi anak-anak dengan riang gembira. Sayangnya, film ini rasanya semakin menegaskan jurang antara negara maju dan negara dunia ketiga dengan segala misi-misi kemanusiaan dan modernitas. Birokrasi Pemerintah India digambarkan begitu amburadul, kuno dan lamban. Budaya timur dan orang-orangnya tetap dipandang sebagai yang eksotis bagi kacamata Barat. Kenapa selalu negara Barat yang terlihat begitu concern dengan isu-isu pendidikan, kesetaraan, dan kesehatan? Sedangkan Pemerintah India digambarkan begitu abai? Selain itu sangat terlihat urutan gambar yang tidak kronologis, biasanya saya perhatikan dari potongan rambut anak-anak. Ada saat Puja sudah berambut pendek, tapi gambar berikutnya menampilkan Puja berambut panjang. Mungkin Sutradara sengaja memanfaatkan gambar yang ada untuk membangun cerita.
Kelebihan dari film ini adalah bisa sedemikian dekat berada di keluarga-keluarga kawasan Red Light Distrik ini dan dengan leluasa mengambil gambar mereka. Selain itu, melihat pakaian yang dipakai anak-anak, seperti rok Puja dan Kochi, Sari yang dipakai tapasi dan Suchitra, topi Avijit, baju Manik dan Gour, saya tetap merasa mereka berdandan karena akan dishooting. Kesan yang saya tangkap adalah mereka berusaha untuk tampil dengan baju terbaik mereka. Bahkan Suchitra memakai sandal ber-hak untuk ke pantai, alas kaki yang lebih cocok dipakai untuk ke pesta. Apakah ini berarti dalam film dokumenter sutradara tidak punya kuasa penuh akan apa yang terjadi? Apakah ini juga berarti, jika sutradara dan kameramen ini sebagai seorang antropolog yang merekam kehidupan suatu masyarakat, maka keberadaan mereka pun sudah mempengaruhi kebiasaan masyarakat yang diteliti? Apakah yang ditangkap oleh kamera bukan yang apa adanya? Apakah anak-anak itu memutuskan untuk tampil seperti apa yang mereka inginkan dalam kamera? Dan bukankah sutradara dan kameramen juga memilih untuk mengambil gambar yang bermakna bagi mereka?
Ajidarma, Seno Gumira
2007 Kisah Mata: Perbincangan tentang Ada, Yogyakarta: Galangpress.
pic: taken from amazon.com










