Apa yang saya ceritakan ini akan dianggap cerita palsu, bohong, hoax, imajinasi, atau sebutan apapun itu yang menyatakan ketidak-benaran apa yang saya ceritakan. Kenyataannya, saya menuliskan cerita ini selain hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya tidak sendiri di dunia ini, pun juga berbagi kepada kawan kawan diluar sana yang percaya kepada hal hal semacam ini dalam batas batas tertentu.
Perlu anda ketahui, saya adalah orang yang sangat berpegang kepada science, ilmu pengetahuan. Segala bentuk hal yang berbau klenik, perdukunan, jagad lelembut, hantu, jin, pajimatan, bukan saya tidak mempercayai sama sekali, akan tetapi sudah terlalu banyak yang berdusta dan menggunakan alasan alasan tersebut untuk sekedar cari uang, menipu, membodohi maupun merugikan orang lain. Bisa dicek ke kawan kawan saya, ke facebook saya, kemanapun anda mau melakukan crosscheck bahwa saya orang yang mengedepankan akal sehat dan ilmu pengetahuan dibanding segala hal yang akan saya ceritakan, silahkan, by all means. Bahkan saya salah satu dari beberapa praktisi hypnotist yang mengantongi lisensi tertinggi dibidang hypnosis yang turut serta dalam membongkar segala bentuk praktik perdukunan dan penyalahgunaan hypnosis yang digunakan untuk menipu masyarakat.
Sekitar empat bulan yang lalu, saya dinyatakan “seharusnya mati”, oleh salah satu dokter kerabat keluarga saya yang tau bahwa saya orang yang lebih suka kenyataan dan kebenaran walaupun pahit daripada sekedar kebohongan yang nyaman. Tingkat kolestrol saya diatas seribu (anda tidak salah baca, diatas seribu), asam urat dan segala hasil lab yang membuat orang laboratorium mengecek sampai 4 kali khawatir apabila mereka yang melakukan kesalahan. Karena belum yakin dengan hasilnya, saya diminta untuk melakukan cek ke laboratorium lain, hasilnya juga sama. Setelah dilihat oleh dokter kerabat keluarga saya (spesialis jantung karena saya merasa sakit di bagian jantung saya juga), beliau mempertanyakan hasil dari laboratorium yang sedang dibaca, dan meyakinkan dirinya tidak salah lihat hasil yang ada dihadapannya. “Kamu suka apa adanya, kan ? Harusnya kamu tidak duduk didepan saya, paling tidak, seminimal minimalnya, saya yang mendatangi kamu karena paling tidak kamu sudah terkena serangan jantung, seharusnya kamu mati kalo melihat dari hasil laboratorium seperti ini, pasti sangat sakit sekali yang kamu rasakan sekarang, bagaimana rasanya ?”, saya yang memang sedang dalam keadaan konstan kesakitan diseluruh tubuh cuman bisa memberikan senyuman untuk menjawab pertanyaannya.






