Latest Entries »

silahkan di gunakan ya agan – agan semua….

Gak usah banyak bosa basi heheheheeh download aj sob…….. 🙂 🙂 🙂

part1

part2

part3

part4

Saya disini mau sedkit memberi tahu kepada agan_agan yang senang fb.Tapi disini saya ingin mengasih tambahan tentang update status via Blackberry tapi tanpa hp Blackberry, tapi yang jelas tetap harus online dengan yang namanya internet,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,(dijamin sama dengan update via Blackberry)

langsung klik aj disini ya Gan, thanks 🙂 🙂

Dampak Video Porno Bagi Remaja

 

Mengapa pada zaman sekarang ini siswa sering menonton video porno???

Sebenernya apa penyebab siswa suka menonton video porno???

Dan bagaimana upaya untuk menanggapi hal tersebut ???

Padahal pada masa sekarang ini dimana – mana banyak sekali dijumpai video – video porno dikalangan anak remaja. Bahkan sekarang anak kecil pun sudah menonoton film – film tersebut. Hal ini bisa dilihat pada cara pancaran remaja masa kini. Sekarang saja sudah sering terjadi seks bebas di pergaulan remaja, tidak hanya itu pemerkosaan juga sudah mewabah dikalangan para remaja – remaja masa kini.

 

Dari fakta – fakta diatas terdapat banyak penyebabnya antara lain : yang pertama penasaran, yang dalam arti rasa ingin tahu yang berlebihan karena perbincangan tentang video porno sudah tersebar dimana – mana. Yang kedua pergaulan, pergaulan teman dan lingkungan yang buruk akan menebarkan virus yang buruk bagi kita. Yang ketiga ketagihan, apabila sudah menonton sekalipun rasa ingin menonton lagi pasti ada. Dan hal itu tidak bisa dikendalikan. Yang keempat keinginan, rasa ingin untuk menonton video porno terus akan berlangsung sebelum kita melihatnya. Yang kelima tidak punya kegiatan yang positif, dalam hal ini dimaksudkan bahwa banyak waktu yang terbuang sia – sia dan waktu dimanfaatkan atau digunakan untuk hal – hal yang tidak bermanfaat, seperti halnya yang sering dilakukan remaja saaat ini (minum – minuman keras, nyimeng, nganja, freesek, ngangkring, dan sebagainya).

 

Dari penyebab diatas pasti menimbulkan berbagai dampak antara lain : yang pertama ingin melakukannya. Dalam arti remaja ingin mempraktekkan  seperti di video tersebut dengan lawan jenisnya. Yang kedua berfikir negatif pada segala hal maksudnya tidak terlalu berkhayal dan berambisi terhadap sesuatu hal. Yang ketiga ketagihan menonton, setelah menonton video tersebut rasa ingin melihatnya lagi selalu menghampiri kita dan semakin hari rasa ingin itu semakin menjadi. Yang keempat rawan terhadap hal maksiat. Yang berarti remaja rawan melakukan maksiat misalnya, melakukan hubungan intim diluar nikah, dan berganti – ganti pasangan, dan hal itu sesungguhnya sangat berbahaya sekali bagi kesehatan. Seperti penyakit HIV aids yang sudah menjalar pada saat ini. Yang kelima menurunkan keimanan kita kepada Tuhan YME karena sering menonton hal – hal yang negative, maka fikiran kita selalu terbayang hal yang kurang baik.

 

Dari dampak tersebut ada solusi yang tepat untuk menghadapinya, upaya – upaya untuk mencegah video porno bagi remaja antara lain : yang pertama meningkatkan ketakwaan kita kepada Tuhan YME. Dengan cara menjalankan ibadah yang telah diwajibkan kepada kita, dan melakukan hal – hal yang positif. Yang kedua menanamkan nilai agama dengan cara mencari pengetahuan tentang agama dengan berbagai sumber,  bahwa pada masa sekarang ini nilai agama sangatlah penting. Yang ketiga mengisi waktu luang dengan kegiatan positif dalam semua hal pada kegiatan yang ada. Yang keempat memilih pergaulan yang baik. Kita harus memperhatikan dalam memilih teman yang baik dan yang bisa memotivasi kita untuk maju bukan untuk merusak atau mendorong kita ke hal – hal yang negatif. Yang kelima adanya perhatian lebih dari orang tua. Dalam hal ini orang tua mempunyai peran yang sangat penting, orang tua harus memperhatikan anaknya dan mengawasi dalam semua hal dan gerak gerik anaknya.

 

Dari pernyataan – pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa, akibat dari video porno bagi remaja – remaja sangatlah berpengaruh buruk sekali karena remaja akan berbuat senonoh dan tidak perduli akibat dari perbuatannya. Dan akan merugikan diri sendiri atau pun orang lain.

Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Al-Isra’ : 1)

 

Isra’ adalah perjalanan mendatar (horizontal) dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Hal ini mengisyaratkan tentang proses pertumbuhan yang bersifat kuantitatif. Mi’raj adalah perjalanan menaik (vertical) dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha, perjalanan Rasulallah saw. Yang berangkat dari bumi yang rendah menuju tempat yang tinggi untuk menghadap Allah swt, mengisyaratkan adanya proses perkembangan yang bersifat kuantitatif.

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, memahami hidup ini untuk menjalani proses pertumbuhan dan proses perkembangan. Pertumbuhan lebih menekankan pada proses jasmani yang bersifat kuantitatif misalnya : dari kecil menjadi besar, dari kurus menjadi gemuk, dari ringan menjadi berat, dari rendah menjadi tinggi dan seterusnya. Untuk menjalani itu Allah memberi kekuatan ke bawah yaitu perut dan syahwat.

Proses perkembangan lebih menekankan mental yang bersifat nilai bukan materi. Proses ini lebih berbicara kualitas hidup misalnya ; dari bodoh menjadi pandai, dari hina menjadi mulia, dari terlaknat menjadi terhormat, dari syirik menjadi tauhid, dari maksiat menjadi taat dan lain-lain. Untuk menjalani proses ini Allah menganugrahkan kekuatan uluhati ke atas yang ada di dada yang ada di kepala yaitu hati dan otak.

Kedua proses yang tidak bisa dipisahkan tersebut, pada dasarnya proses perkembangan yang menjadi pembeda antara manusia denganmakhluk biologis kainnya. Proses perkembangan adalah proses manusiawi yang tidak dialami oleh tumbuhan, hewan bahkan Malaikat sekalipun. Sedangkan proses pertumbuhan adalah proses yang dialami oleh semua makhluk biologis.

Dalam proses Isra’ Mi’raj kita juga diingatkan pada tiga titik atau tempat. Tempat yang paling penting yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Sidratul Muntaha. Hal ini mengingatkan tiga peristiwa penting dalam perjalanan hidup manusia yaitu kelahiran, kematian dan kebangkitan kembali sedudah mati. Itulah tiga peristiwa yang diyakini oleh orang yang beriman. Kita perlu mengingat tiga peristiwa penting tersebut karena idiologi materialisme dan filsafat yang salah menyeret kita untuk memiliki pemahaman bahwa hidup ini hanya proses biologis dari kelahiran menuju kematian kemudian selesai.

Dalam proses perjalanan hidup manusia, kelahiran merupakan masa transisi dari alam kandungan menuju alam dunia, kematian adalah adalah masa transisi dari alam dunia menuju alam kubur dan kebangkitan kembali adalah masa transisi dari alam kubur menuju alam akhirat. Tidak ada seorangpun yang bisa mengelak atau menghindar dari tiga peristiwa tersebut. Seharusnya manusia selamat atau melintasnya sebagaimana do’a nabi Isa as. Uang diabadikan dalam Al-Qur’an agar kita selalu menirunya :

 

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali“. (Q.S. Maryam : 33).

 

Jika kematian diangkat akhir proses hidup, jika kematian dianggap finish perjalanan kemanusiaan itu, jika setelah mati tidak ada ceritanya lagi, tentu rugilah hidup kita sebagai manusia, jika setelah mati tidak ada hidup lagi dan permbauatan manusia di dunia yang baik dan juga yang buruk, yang benar dan yang salah tidak ada konsekuensinya sesudah mati, lantas dimana idealisme keadilan yang sering dicuri, diperjuangkan dan dituntut manusia itu akan terbukti. Kehidupan seduah mati merupakan suatu keharusan bagi manusia yang beriman, yang sadar bahwa manusia lebih sempurna, lebih mulia dan lebih cerdas dari pada makhluk yang lain.

Hidup bagi manusia adalah proses dinamis proses proses ke masa depan, maka perjalanan Isra’ Mi’raj adalah isyarat tentang bagaimana msnusia menatap masa depan. Masa depan manusia secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu masa depan sebelum mati dan masa depan sesuah mati. Masa depan dari lahir sampai mati, simbulnya perjalanan dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Masa depan sebelum mati lebih bersifat pasti.

 

Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Q.S. Al-Qoshoshh : 77).

 

Jika dunia bersifat mungkin dan akhirat bersifat pasti, maka firman Allah tersebut mengajarkan kepada kita untuk serius terhadap yang pasti dan jangan melupakan yang mungkin.

 

Sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada kehidupan dunia (QS. Al A’la : 17)

 

Setelah kita memahami bahwa hidup adalah untuk menjalankan proses pertumbuhan dan proses perkembangan dan hidup juga harus berorientasi pada masa depan. Untuk itu kita diisyaratkan dengan peristiwa pembedahan hati Nabi Muhammad SAW oleh Jibril a.s. Pembedahan dada untuk membersihkan hati beliau merupakan isyarat bahwa hati adalah persoalan paling penting dalam kehidupan manusia. Baginda Rasulallah bersabada :

 

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah pada seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah pula seluruh tubuh ketahuilah ia adalah hati” (H.R. Bukhori Muslim).

 

Dengan hati bersih kita akan memiliki radar yang sensitif mana petunjuk, mana godaan dan mana rayuan, mana yang kita pilih dan kita tolak, kapan kita terus berjalan, berhenti atau belok. Dengan hati yang bersih hidup kita setia kepada visi dan missi. Kita akab selalu memiliki aksi yanng berorientasi bukan sibuk bereaksi. Isra’ Mi’raj mengajar kita menjadi pribadi yang visioner bukan reaksioner, bagaimana tidak ? perjalanan sudah terprogram, dengan waktu yang telah ditentuka, dengan kendaraan yang bida diandalkan (Buraq), dengan pemandu yanng sangat berpengalaman, cerdas, jujur dab setia (Jibril as.) dengan lingkungan yang diberkati (Kondusif).

Hati yang beningn adalah hati yang selalu terpelihara, yang selalu disucikan dengan tazkiyatun nafs atau management qoblbu. Hati yang selalu dihiasi oleh aqidah, selamat dan bersih dari syirik, ibadah yang benar, bersih dari bid’ah dan akhlak yang terpuji bebas dari sifat-sifat jahiliyah. Hati semacam inilah yang akan kita persembahkan nanti ketika kita menghadap Rabbul Jalil meraih Ridhanya. Firman Allah swt :

 

Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Q.S. As Syu’ara’ ayat 88-89).

 

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj baginda Rasulullah saw diperlihatkan adanya syurga dan neraka, perjumpaan beliau dengan arwah para Nabi serta Perjumpaan beliau dengan beberapa peristiwa yang merupakan pelajaran bagi beliau dan ummatnya.

Isra’ Mi’raj sebagai simbul atau meniatur perjalanan hidup manusia puncaknya adalah turunya surat keputusan (SK) untuk mengerjakan shalat lima waktu sebagai cara mengingat Allah (Q.S. Thoha : 24). Agar manusia senantiasa ingat terhadap keberadaan dirinya, selalu menjadi penegak kebenaran, kesabaran dan menundang pertolongan Allah SWT, agar terhindar dari perbuatan keji dan mungkar (Q.S. Al-‘ankabut : 45). Dengan selalu tertib mendirikan shalat lima waktu, Allah SWT siap melimpahk pertolongan dan berhakNya terhadap perjalanan hidup kita dari dunia sampai diakherat kelak. Nasrun minallah.

Teuku Reiza Yuanda

 

Abstract

The scientific community faces many challenges, from the funding of scientific research to the public communication of science and technology.  A better understanding of science and technology’s complex dynamics and interactions with the society, taking the opinions of the general public into account, has also been found useful for the endeavor to increase access to knowledge and move towards social control of science and technology’s innovation. Such research will contribute to better knowledge of how knowledge operates in society, as well as serving the practical needs of those concerned with improving public understanding of science and technology.

Pendahuluan

Propenas Tahun 2000-2004 menuntut IPTEK berperan dalam percepatan pemulihan ekonomi untuk memperkuat landasan pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan serta membangun kesejahteraan rakyat dan ketahanan budaya. Pembangunan IPTEK ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Pembangunan IPTEK tidak saja penting sebagai sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi, tetapi juga sumber terbentuknya iklim inovasi dan menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumber daya manusia. IPTEK menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumber daya menjadi sumber daya baru yang lebih bernilai. Terlihat cukup  jelas bahwa masa depan pembangunan ekonomi suatu negara semakin banyak  bersandar pada inovasi dalam IPTEK. Tanpa kemampuan melakukan strategi komunikasi yang memadai dan didukung informasi ilmiah ke dalam sebuah tahapan pengambilan keputusan, perkembangan suatu negara di masa depan dapat terhambat. Ketika memegang jabatan perdana menteri pertama India pasca kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1947, Jawaharlal Nehru menyusun sebuah portofolio IPTEK untuk India yang kemudian diteruskan oleh Rajiv Gandhi yang berisi rancangan integrasi perencanaan ilmiah dengan perencanaan ekonomi pada tahun 1971.

IPTEK memegang peranan penting bagi negara-negara berkembang dalam proses peningkatan standar hidup, kesejahteraan, dan melindungi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Negara-negara berkembang menghadapi berbagai tantangan jangka pendek dan jangka panjang. Perubahan penggunaan lahan melalui penggundulan hutan dan perubahan lahan pertanian akibat aktivitas sosio-ekonomi di daerah tangkapan air di hulu, telah menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan lingkungan dan infrastruktur akibat bencana yang ditimbulkannya. Kerusakan lingkungan di daerah tangkapan air, menyebabkan kelangkaan air bersih di berbagai negara, selain bencana banjir ketika musim penghujan.

Komunikasi IPTEK

Pada abad ke-17, Robert Boyle adalah salah satu ilmuwan pertama yang melakukan percobaan ilmiah untuk menguji hipotesisnya. Dia berasumsi bahwa masyarakat akan mempercayai suatu penemuan ilmiah baru apabila penemuan tersebut dapat divisualisasikan kepada masyarakat. Boyle kemudian mengundang beberapa orang ke laboratoriumnya dan menjelaskan penemuan ilmiahnya. Boyle meyakini bahwa sebuah percobaan ilmiah dapat sahih apabila masyarakat mempercayai apa yang mereka lihat, dan mereka dapat menguji hipotesis dan metodologi yang digunakan pada eksperimen ilmiah. Boyle juga berasumsi bahwa percobaan ilmiah yang dipresentasikan secara visual menghasilkan pengetahuan baru tidak hanya kepada yang menyaksikan, namun juga kepada lingkungan sosial yang lebih luas.

Komunikasi IPTEK terhadap masyarakat dan pemahaman masyarakat terhadap IPTEK merupakan subyek riset yang relatif baru di lingkungan akademis, namun berkembang untuk dipelajari lebih lanjut untuk mendukung proses pengambilan kebijakan publik. Pemahaman yang baik terhadap dinamika kompleksitas IPTEK dan interaksi IPTEK dengan masyarakat, berguna dalam peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap IPTEK dan akhirnya berkembang menjadi suatu sistem pengelolaan dan kontrol sosial masyarakat terhadap IPTEK. Beberapa istilah telah digunakan dalam pendefinisian komunikasi IPTEK antara lain: pemahaman publik terhadap IPTEK, kesadaran publik terhadap IPTEK, dan difusi sosial terhadap IPTEK. Sejalan dengan waktu, tujuan utama komunikasi IPTEK berkaitan dengan tiga aspek utama. Pertama, aspek politik. Hasil akhir suatu inovasi IPTEK mempunyai spesifikasi tersendiri di dalamnya, yaitu terminologi, institusi, sistem verifikasi, dsb. Spesifikasi tersebut akhirnya membangun sebuah pembatas tidak terlihat antara IPTEK dengan masyarakat. Komunikasi IPTEK bertujuan untuk mencapai suatu keterkaitan antara masyarakat dengan IPTEK. Aspek kedua adalah aspek kognitif. Dalam komunikasi IPTEK, perangkat komunikasi atau penyampai informasi yang digunakan akan disesuaikan untuk menciptakan jaminan terjadinya pemahaman dan penerimaan masyarakat awam terhadap IPTEK. Sedangkan aspek ketiga adalah aspek kreativitas, yang membantu perkembangan kecerdasan dan kapabilitas masyarakat sehingga menghasilkan kemampuan dalam mengintegrasikan IPTEK ke kehidupan sehari-hari.

Teori Komunikasi IPTEK

Massimiano Bucchi, seorang ilmuwan sosiologi, menekankan pendekatan alternatif komunikasi IPTEK. Bucchi bergumen mengenai pentingnya penerjemahan linguistik dalam proses alih informasi dari ilmuwan kepada masyarakat. Dia memformulasikan suatu teorema yang disebut communication continuum (Gb.1), untuk memberikan argumentasi terhadap model linier komunikasi dimana penerima informasi bersikap pasif. Dia mengindentifikasikan bentuk-bentuk komunikasi IPTEK menjadi empat tingkatan utama.

  • Tingkatan pertama. Merupakan tingkatan dengan dimensi tertinggi, yaitu tingkatan Intraspesialistik yang merupakan bentuk komunikasi dan penyampaian infomrasi di antara ahli-ahli dalam bidang riset spesifik yang sama. Contohnya, artikel di sebuah jurnal ilmiah.
  • Tingkatan kedua, adalah tingkatan Interspesialistik, merupakan bentuk komunikasi antara ahli-ahli dalam suatu disiplin keilmuan yang sama, namun berbeda dalam topik riset. Contohnya, artikel interdisipliner dalam jurnal ilmiah.
  • Tingkatan ketiga, yaitu tingkatan Pedagogik. Dalam tingkatan ini, teorema dan postulat suatu topik ilmiah telah berkembang maju dan dapat dikonsolidasikan menjadi sebuah kumpulan teorema dan postulat yang akurat.
  • Tingkatan keempat, yang merupakan tingkatan terakhir, adalah tingkatan Populer. Contoh yang cukup umum adalah artikel ilmiah singkat dalam surat kabar atau majalah umum, maupun film dokumenter ilmiah di saluran TV. Dalam tingkatan ini, bentuk komunikasi IPTEK disajikan ke dalam visualisasi gambar-gambar metafora dengan bahasa yang mudah dipahami publik.

continuity-model.jpg

Gb 1. Communication Continuum

 

Presepsi Masyarakat terhadap IPTEK

IPTEK memainkan peran penting sebagai sebuah agen pembaharu di masyarakat. Sebagai bangsa yang bergerak ke arah ekonomi berbasis pengetahuan, dibandingkan ekonomi berbasis sumber daya alam sesuai dengan paradigma tekno-ekonomi, IPTEK menjadi landasan keberhasilan pembangunan ekonomi yang didukung oleh kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia yang kompetitif. Kekuatan bangsa diukur dari kemampuan IPTEK sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing. UU No. 18 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan IPTEK mengamanatkan tanggung jawab penelitian bukan lagi monopoli pemerintah, tapi juga menuntut peran serta masyarakat. Sehingga, masyarakat pada akhirnya dituntut mempunyai wawasan memadai untuk memahami IPTEK. IPTEK akan berkembang secara cepat  dan diskusi mengenai isu-isu yang timbul dari perkembangan tersebut sangat penting. Beberapa negara di belahan benua eropa telah mengalami berbagai tantangan dalam menangani isu-isu kontroversial, contohnya: rekayasa genetika. Negara-negara tersebut memperoleh  pelajaran berharga dalam usahanya  untuk memperkenalkan dan melibatkan masyarakat umum terhadap IPTEK. Masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih tinggi akan berargumen bahwa IPTEK sangat esensial untuk masyarakat yang berpendidikan lebih rendah, namun seperti yang diungkapkan Waldegrave, ”Some see science, and the method of science, as systematically destructive of everything which makes life worth living.”. Pendapat serupa diungkapkan oleh Carl Sagan, ”It is suicidal to create a society dependent upon S&T in which hardly anybody knows about S&T.”.

Dalam masyarakat yang dinamis, sikap dan pandangan lebih penting daripada proses penerimaan suatu informasi bernuansa IPTEK. Individu di dalam suatu komunitas masyarakat akan bersikap atau bereaksi terhadap suatu situasi dan kondisi sosial tergantung segi kualitas materi informasi IPTEK. Sehingga strategi komunikasi IPTEK mempunyai ruang lingkup lebih luas dan mencakup aspek interaksi antara masyarakat dengan IPTEK. Studi mengenai pendekatan dan indikator pemahaman masyarakat tentang IPTEK umumnya terdiri tiga unsur pokok yang saling berkaitan antara satu sama lain: ketertarikan, pengetahuan, dan perilaku (Gb. 2).

Indikator unsur ketertarikan bertujuan untuk mengukur hubungan masyarakat dengan perkembangan IPTEK. Indikator pengetahuan bertujuan untuk mengukur tingkatan pemahaman masyarakat terhadap perkembangan IPTEK. Indikator ini berkaitan dengan hubungan antara IPTEK dan media massa yang juga mengukur derajat keberhasilan komunikasi IPTEK terhadap masyarakat dan mengetahui sumber informasi yang paling sering digunakan masyarakat untuk mendapatkan informasi IPTEK, seperti TV, radio, koran, majalah, internet, museum, dll. Sedangkan indikator perilaku mencakup perilaku dan penerimaan masyarakat terhadap proses pendanaan suatu inovasi IPTEK serta presepsi masyarakat terhadap keuntungan dan resiko penerapan inovasi IPTEK tersebut. Namun studi-studi tersebut menghadapi kendala bagaimana mendesain langkah evaluasi dan interpretasi presepsi dan pemahaman masyarakat terhadap IPTEK, atau umumnya disebut budaya IPTEK. Terdapat beberapa model pendekatan yang berkembang untuk memahami presepsi dan pemahaman masyarakat terhadap IPTEK.

indikator-iptek.jpg

Gb 2. Indikator IPTEK

 

Model Komunikasi IPTEK

Model komunikasi IPTEK yang berkembang s.d. saat ini dikenal sebagai ”model difusi linier” atau juga dikenal sebagai ”model defisit” (Gb. 3), yang merupakan ciri khas masyarakat Anglo-Saxon dalam mempelajari komunikasi IPTEK. Model defisit berlandaskan hipotesis bahwa pengetahuan bernuansa IPTEK mempunyai parameter yang dapat mengukur seberapa banyak suatu informasi IPTEK dapat diserap oleh setiap individu. Model defisit juga mengasumsikan bahwa masyarakat adalah peserta pasif  yang mempunyai knowledge gap dan sepatutnya diisi dengan informasi IPTEK. Model ini merupakan top-down model dimana pengetahuan ilmiah hanya berjalan satu arah, dari ilmuwan kepada masyarakat. Dengan demikian model ini merupakan model linier seperti yang biasa digunakan di masa lampau untuk menganalisa kemajuan IPTEK. Model defisit hanya dapat menjelaskan secara parsial kompleksitas pemahaman dan presepsi masyarakat terhadap IPTEK. Sehingga terdapat terdapat beberapa kelemahan subtansial, antara lain:

  • Dengan memperlakukan masyarakat mempunyai respon pasif dalam pemahaman dan presepsi terhadap IPTEK, model defisit tidak dapat memberikan motivasi atau pengertian aktif-konstruktif dalam pengolahan informasi IPTEK terhadap masyarakat
  • Model defisit tidak memperlakukan budaya IPTEK sebagai suatu proses dinamis dan sosial tapi lebih menekankan pada karakteristik individu penerima pengetahuan IPTEK. Bertolak belakang terhadap kenyataan bahwa pemahaman masyarakat terhadap IPTEK bergantung kepada konteks sosial dimana informasi IPTEK menjadi lebih operasional.
  • Model defisit juga memperlakukan komunikasi IPTEK hanya sebagai alur komunikasi satu arah namun tidak memperhitungkan proses timbal balik yang dinamis.

Model defisit mendapat kritik dalam beberapa dekade belakangan. Sehingga, terdapat beberapa alternatif model pendekatan yang berkembang untuk melengkapi kekurangan model defisit, antara lain:

  • Model kontekstual. Model ini sering digunakan dalam studi respon dan presepsi masyarakat terhadap resiko IPTEK, yang menekankan bahwa individu penerima informasi IPTEK bukan sebagai entitas pasif. Namun individu tersebut melakukan proses reinterpretasi dalam konteks budaya dan nilai yang berkembang di sekitarnya.
  • Lay expertise model. Model ini mengedepankan peran kearifan lokal dan adat istiadat masyarakat yang beragam dalam interpretasi dan mendayagunakan informasi IPTEK.
  • Model partisipasi masyarakat. Model ini melihat bahwa ketidakmampuan masyarakat untuk memahami IPTEK disebabkan oleh wawasan dan pengertian yang berkembang di masyarakat akibat pengaruh budaya dan adat, daripada menyalahkan masyarakat secara langsung. Sehingga proses komunikasi IPTEK tidak hanya memberikan informasi IPTEK semata, namun lebih membangun pemikiran kritis yang memungkinkan masyarakat untuk mengevaluasi perkembangan IPTEK sesuai dengan relevansi sosial.
  • Model jaring. Model ini menyoroti interaksi kompleks yang saling mempengaruhi antara komunikasi IPTEK di antara ilmuwan dan komunikasi IPTEK terhadap masyarakat.

model-defisit.jpg

Gb 3. Model defisit.

 

Budaya IPTEK

Ketika berbicara budaya IPTEK, terdapat tiga kemungkinan struktur linguistik dalam pengungkapannya, antara lain:
Budaya IPTEK. Terdapat dua kemungkinan,
o    Budaya yang diciptakan oleh IPTEK
o    Budaya IPTEK itu sendiri
Budaya melalui IPTEK. Terdapat dua kemungkinan,
o    Budaya dengan cara IPTEK
o    Budaya yang menyokong IPTEK
Budaya untuk IPTEK. Terdapat dua kemungkinan,
o    Budaya yang digerakkan untuk produksi IPTEK
o    Budaya yang digerakkan untuk sosialisasi IPTEK
Pada poin terakhir juga terdapat dua kemungkinan,
o    Difusi ilmiah dan pendidikan ilmuwan
o    Bagian pendidikan yang tidak terkandung pada difusi ilmiah dan pendidikan ilmuwan. Contoh: sistem belajar-mengajar sekolah menengah, pendidikan sarjana, dan pendidikan untuk umum.

Perbedaan tersebut di atas tidak mencakup keseluruhan interaksi yang mungkin terjadi antara masyarakat dengan topik IPTEK dalam suatu sistem kemasyarakatan, namun perbedaan tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang jelas terhadap kompleksitas semantik yang terlibat dalam pengungkapan budaya IPTEK dan fenomena yang disebut sebagai ”masyarakat ilmiah”. Budaya IPTEK sebagai suatu proses dinamis dapat dijelaskan sebagai apa yang disebut dengan spiral budaya IPTEK (Gb. 4). Sumbu horisontal menunjukkan waktu dan sumbu vertikal menunjukkan spasial, serta kategori masing-masing kuadran yang berjalan dinamis, searah jarum jam.

spiral-budaya-iptek.jpg

Gb 4. Spiral budaya IPTEK

Proses dimulai pada kuadran I yang menggambarkan proses produksi dan pertukaran informasi ilmiah di antara ilmuwan. Spiral kemudian bergerak ke kuadran II yang menggambarkan proses pendidikan dan pengajaran IPTEK terhadap ilmuwan, dan regenerasi ilmuwan baru. Selanjutnya pada kuadran ketiga yang memperlihatkan kesamaan tindakan dan tujuan dalam pendidikan untuk perkembangan IPTEK kepada masyarakat. Kuadran keempat yang merupakan akhir dari proses dinamis budaya IPTEK, menggambarkan popularisasi atau komunikasi IPTEK terhadap masyarakat. Setiap kuadran dapat diasosiasikan sebagai perkembangan dan evolusi proses dinamis budaya IPTEK yang mengandung tingkatan pemahaman suatu komunitas terhadap IPTEK.

Pada kuadran I, penyampai informasi dan target informasi adalah ilmuwan itu sendiri. Pada  kuadran II, ilmuwan dan profesor adalah penyampai informasi dengan target informasi adalah peserta didik. Pada kuadran III, guru, ilmuwan, narator film dokumenter ilmiah bertindak sebagai penyampai informasi dengan target informasi tidak hanya peserta didik, namun juga masyarakat berusia muda. Sedangkan pada kuadran IV, jurnalis dan ilmuwan adalah penyampai informasi dengan target informasi adalah masyarakat luas. Dalam proses dinamis budaya IPTEK, spiral melengkapi siklus evolusi dengan kembali pada posisi sumbu horizontal semula namun tidak kembali tepat pada titik bergerak. Hal tersebut dikarenakan dinamisnya pemahaman masyarakat terhadap IPTEK yang dapat dianalogikan akan terus meningkat seiring dengan waktu. Sama halnya dengan peningkatan jumlah masyarakat dalam suatu komunitas sosial. Sehingga, setiap kuadran akan dimulai dengan pemahaman baru oleh penyampai informasi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Kesimpulan

Pada akhirnya, budaya IPTEK merupakan sebuah atribut tidak terpisahkan dalam suatu komunitas masyarakat. Karena penekanan utama komunikasi IPTEK adalah kepada proses bagaimana masyarakat dapat memahami IPTEK secara berkesinambungan, masyarakat perlu juga memahami bagaimana bentuk bahasa yang tepat dalam proses pengkomunikasian IPTEK oleh penyampai informasi kepada mereka. Masyarakat melakukan interpretasi terhadap informasi IPTEK disesuaikan dengan pengaruh dari dalam diri setiap individu –tingkat pendidikan, tingkat ekonomi- dan pengaruh dari lingkungan -relevansi sosial dan struktur sosial- yang mempengaruhi seberapa cepat dan akurat informasi IPTEK dapat diterima sesuai dengan tujuannya. Sehingga diperlukan tahapan pengembangan mengenai bagaimana bentuk dan mekanisme komunikasi IPTEK terhadap masyarakat majemuk secara efektif dan efisien yang disesuaikan dengan kearifan lokal dan konteks budaya yang berkembang di masing-masing tatanan masyarakat.

Referensi

  • Bauer, M. W., Bucchi, M., 2007. Journalism, science and society: science communication between news and public relations. Routledge, United Kingdom.
  • Lewenstein, B.V., 2003. Models of public communication of science and technology. Public Understanding of Science, Cornell University, New York.
  • Rao, C.N.R., 2008. Science and technology policies: The case of India. Technology in Society 30, pp.242– 247.
  • RĂ©dey, S., 2006. Science for Public – the Dimension of Science Communication. Tudomany-Kommunikacio-Tarsadalom, pp. 75-81.
  • Servaes, J., 2008. Communication for Development and Social Change. Sage Publications, United States.

Penulis adalah mahasiswa di Graduate Program of Marine Geosciences, Universität Bremen, Jerman

Crita Gancaran Babad Ponorogo

Sadurunge aku mbacutake Crita Gancaran iki, ing kene aku ngaturake sembah :

1. Sujud Taklim mugiya katur Ki Ageng Hanggalana (Warok Karangan) kang wus Sumare ing Desa   Golan Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo.

2. Sujud taklim mugiya Katue Eyang Kyai Ageng Mirah (penghulu agama Islam kawitan), ingkang sampun sumare ing Komplek Makam Katongan Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo.

3. Den Mase Jaka Lancur ugi Mas Rara Dewi Siti Amirah, ingkang kekalihipun sumarekaken ing Desa Nambang Rejo, Kecamatan Sukorejo.

4. Uga katura Salam taklimku ing nalikane meditasi ing dam plethes.

TEMANTEN WURUNG

ONTRAN-ONTRAN MIRAH-GOLAN

Playune ponang jago kang kalah ing padonan metu saka kalangan saya rikat. Nganti krenggosan sang pekik nututi. Ponang jago lumebu ing pertamanan kaya golek sarana murih ana kang paring pambiyantu, enggal lukar saka tatu kang sinandhang nalika kalah ing padonan.

Jaka Lancur terus wae lumebu ing taman kono. Ya dasar putra warok kang disuyudi mring wong akeh, Jaka Lancur ora bisa nggawa Asmane Wong agung, sahinggga kurang tata mring trapsila.

Dene kang ana taman kaget jengkilak rumangsa ana tamu kang teka tanpa uluk salam utawa kulonuwun sadurunge. Maka sangertine Kyai Ageng lan putrine ing papan kene manawa ana wong mertamu iki mesthi uluk salam sadurunge.

“Kisanak, nyuwun pangapura sadurunge. Aja dikira aku iki tambuh pancen durung wanuh. Sapa kang dadi asmamu lan saka ngendi paranmu, teka kok tanpa uluk salam,” mangkono pandangune Kyai Ageng Mirah kanthi andhap asor.

Jaka Lancur nyawang kang paring pitakon, uga tan keri mripate nuju marang kenya ayu Siti amirah. Ing batin Jaka Lancur nyandra marang ayune Amirah.

“Yen sampeyan takon marang aku mokal ora ngerti. Aku iki Jaka Lancur, putra dalem Ki Ageng Hanggalana,” mangkono semaure Jaka Lancur.

“O, dadi sampeyan kang kondhang senewng marang padon jago. Lha iki mau apa jagomu?” pitakone Kyai Mirah karo maringake jago marang jaka Lancur.

Jka Lancur enggal nampa ponang jago kanthi nglirik marang Siti Amirah.

Dasar Siti Amirah kenya ayu kang arang metu saka ngomah, mesthi wae rumangsa abang pipine nalika sang bagus nglirik marang slirane.

Sawise nampa jago kang ginadhang Jaka Lancur enggal pamit marang kang duwe omah.
”Hiya, Kisanak yen sampeyan arep kondur mangga. Amung welingku aja lali taklimku muga katur marang Kakang Ageng Karangan.”

“Bakal dak sampekake marang Rama, mengko, Pak,” mangkono semaure Sang apekik.

Kyai Ageng Mirah kang duwe asma asli Jaka Waleri, ngetutake mring tamune nanti tumekan sanjabane taman.

Ki Ageng Hanggalana, namapa marang tekane putrane. Kaget Ki Ageng awit ngerti putrane krenggosan, luhe dleweran.

“Lha, ana apa, Ngger, kok kaya di kiter macan playumu sajake,” pitkone Ki Ageng Hanggalana.

“Jagoku kalah ing kalangan. Malah mlayu tekan nggone wong Islam,” critane Jaka Lancur. Banjur Jaka Lancur nyritakake manawa jagone mlayu saka padonan uga rasa kegiwange marang kenya ayu kang duwe asma Siti Amirah.

“Wah yo jamak lumrahe, yen jagomu kalah. Awit Jago padon iku yen ora kalah yo menang. Banjur piye?”

“Rama, aku lila jagoku mau kalah. Nanging mbok aku nyuwun marang Rama, supaya aku isa dhaup karo Siti Amirah,” kandhane Jaka Lancur.

“Kok, kaya ngono, dadine. Ngger, apa ra kleru panemu kowe!”

“Kliru ingkang kados pundi, Rama?’

“Ngertenana, manawa Mirah iku Islam. Dheweke duwe karep kanggo njembarake Islam lan nyurutake agama kuna (Hindu-Budha)!”

“Niku pangirane, Rama. Lan panginten makaten dereng mesthi pener,” pambantahe Jaka Lancur.

Anak lan bapak iku terus nbantah-bantahan. Banjur Jaka Lancur ninggal pendhapa jumujug ing paturon kanggo nyelehake awak kesel ati mangkel. Ing pendapa kari Ki Ageng dewe ijen tanpa rowang. Batine kok kebangeten anake, njaluk rabi wae kok nyang Si ti Amirah kang genah anake Kyai Mirah.

“Yoh, arepa dikaya ngapa, anak polah Bapak kudu wani kepradhah,” aloke ing ati.

Dina lumaku, wulan saya ngiter playune kekarepan. Obah jantrane karep pancen rinasa isa marai cepete wektu. Abot-abote dadi wong tuwa pancen yen wis teka wayahe ngladeni karepe anak. Semono uga kang rinasa dening Wong Agung Golan iki. Kang karepe Jaka Lancur pengin dhaup karo prawan ayu kang dadi kembang lambene sinoman satlatah Wengke ya iku putrane Kyai Mirah.

Abot dikayangapa sidane wong tuwa labuh anak. Ora ketang bakal nandang wirang paribasane yen bisa gawe bungahe atine anak, waong tuwa wis marem. Mangka saka iku Ki Ageng Karangan ya Hanggalana jangkahake sikil kanthi nata karep tumeka ing Mirah.

“Wadhuh kaya nampa jugruge gunung madu kula. Sahingga kula nampi rawuhipun tamu agung. Panjenengan kersa tindak sudhung kula mriki wonten kersa punapa, Kakang?” pambagene Kyai Ageng Mirah marang Ki Hanggalana.

“Kebangeten anggone siadhi ngremehake marang pribadine. Iya, dhi abot-abote wong tuwa nampa pamothahe si anak, arepa kaya ngapa kudu nglakoni. Dhi, dugi kula mriki wau lak nuruti karepe yoga, nggih Jaka Lancur ponakane njenengan niku pingin rabi. Lha sing di karepake nggih putrimu Siti Amirah,” Ki Hanggalana medharake karsane.

“O, dados cekak aose tindak mriki,mriki Kakang Golan menika nglamar?”

“Iya, dene mbok tampa lan ora panglamar iki gumantung sampeyan.”

Kyai mirah amung meneng. Nanging ora wetara suwe panjenengane isa gawe gayeng. Ing batin sajane ora pingin bebesanan karo wong kang agama beda. Ananging sapa ngerti iki malah dadi dalan sumebare agama Rosul

Banjur Kyai Mirah miterang gelem nampa panglamar ananging kudu gawe tetukon. Ya iku ketan sabodhag, dele sabodhak lan pari sabodhag. Kabeh mau ora oleh di pikul menungsa ananging bodhag kudu mlaku dhewe saka Karangan (Golan) tumeka ing Mirah. Lan ing mburine temanten sa pangiringe ngetutake lakune bebana mau.

Dasar Ki Ageng hanggalana wong kang kesdik cedhak mring tirakat tetukon iku ora dadi pepalang. Panjenengane nyanggemi apa kang dadi pamintane calon besan. Mula ing dina iku uga Wong Agung kalorone ngrembug kapan bakal dhaup temanten sakloron.

Pancen ora kena ginawe entheng wong Agung Golan.  Dina kang wus dipesthekake temune temanten, apa kang dadi pitukon kelakon di wujudake. Yaiku pari, ketan lan dhele kang kabehe sabodhak, bisa mlaku dhewe saka Karangan tumekane Mirah. Sahingga dadi ngungune wong kang nyawang.

Sawise satata lan padha binage calon besan, Ki Ageng Hanggalana bisa maca liringe netra Kyai Mirah yen manawa pengin nakyinake apa kawujud temenan kang dadi panyuwune.

“Mangga, Dhi, manawa Adhi Mirah pengin mangertosi pun jodhang,” Ki Hanggalana paring wektu marang Kyai Mirah.

Kyai Mirah jumangkah arsa naketi jodhang katelune kang dadi panyuwune. Eba Kagete Kyai Mirah nalika mangerteni apa kang dadi pangungune wong akeh.

“Kakang, menawi aras mbarang sulap mbok sampun wonten Mirah.”

“Apa karepmu, Dhi?” pitakone Ki Hangagalana semu nggumun.

“Mangga, kapirsanana isinipun jodhang.”

Ki Ageng naketi marang jodhang. Kaget panjenengne. Ora ngira yen sektine ngelmu Karang bisa di ngerteni marang Kyai Mirah, sahingga lamen, merang lan titen bisa kang saka ampuhe ngelmu Karang bisa malih pitukon. Yaiku lamen(damen) dadi pari, Merang dadi ketan, titen dadi dhele saiki malih ing asal maune.

“Banjur karepmu piye?”

“Cabar dhaupe temante.”

“Yen ngono karepmu tak tampa, Dhi. Nanging calon manten wadon dadia bangke!”

Kaget Kyai Mirah, panjenengane lena ing pambudi. Siti Amirah semaput kena aji pametak Ki Hanggalana miwah dadi layon. Weruh calon manten wadon ya Siti amirah kang ginadhang tekane pati, Jaka Lancur banjur ngunus curiga lan lampus diri. Saya kaget Wong Agung Golan. Rumangsa kewirangan in Mirah.
Saka getere ati nandang wirang Wong Agung Golan metu sabdane kang kealaduk awit prentahe nepsu.

“Mirah aja rumangsa lega atimu isa mirangake Hanggalana. Mbesuk Golan klawan Mirah sanak putu aja nganti besanan. Lan aja pisan-pisan campur banyu antarane Golan lan Mirah. Paribasan dadia banyu aja nyawuk dadia godhong aja nyuwek!”

……………. sabanjure ing crita Satriya Dinuta.

KATARANGAN:

1.tekan Saiki wong Golan lan wong Mirah ora besanan.

2. Banyu golan Lan Mirah tekane saiki ora gelem campur. Malah iline banyu kali Golan lan Mirah ora isa awor pinisah ing dam plethes.

Crita iki luwih lengkap yen kersa mundhut buku Gancaran Babad Ponorogo anggitane Kangmas Jenggo

Sumber : Majalah Sedap Sekejap Edisi 1/IV/2003

Bakso, merupakan makanan yang sangat populer di kalangan masyarakat kita. Hampir di setiap tempat dapat kita jumpai produk ini. Di pasar-pasar, di pinggir jalan, di pondokan, pedagang keliling sampai di pasar swalayan.

Bakso yang biasa kita kenal dikelompokkan menjadi bakso daging, bakso urat, dan bakso aci. Bakso daging dibuat dari daging yang sedikit mengandung urat, misalnya daging bagian penutup atau bagian gandik, dengan penambahan tepung yang lebih sedikit. Bakso urat terbuat dari daging yang mengandung jaringan ikat atau urat, misalnya daging iga. Bakso acin adalah bakso yang penambahan tepungnya lebih banyak dibanding dengan jumlah daging yang digunakan.

Bang, baksonya pakai boraksnya nggak ? MSG-nya banyak nggak ? Kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan seperti ini terlontar saat konsumen membelinya. Konsumen ingin mendapatkan produk yang aman, tentunya. Memang, beberapa pedagang bakso sering menggunakan bahan tambahan pada produknya, seperti bahan pemutih, bahan pengawet, boraks, fosfat (STPP), dan tawas. Bahan pemutih yang biasa digunakan adalah Titanium dioksida. Bahan pengawet yang biasa digunakan adalah benzoat, batas penggunaannya dalam produk pangan maksimum 0,1%. Boraks berupa serbuk putih yang digunakan pada bakso untuk menghasilkan produk yang kering (kasat dan tidak lengket), bahan ini termasuk bahan kimia yang dilarang penggunaannya dalam produk pangan. Tawas digunakan dalam air perebus bakso untuk membantu mengekstrak protein daging, kelebihan STPP ini menyebabkan rasa pahit pada bakso.

Untuk menghindari konsumsi bahan tambahan yang terlalu banyak, bakso dapat dibuat sendiri di rumah dengan mengurangi atau menghindari sama sekali penggunaan bahan-bahan tersebut. Caranya mudah, simak saja tulisan berikut.

Pembuatan bakso terdiri dari tahap pemotongan daging, penggilingan daging, penghalusan daging giling sekaligus pencampuran dengan bahan pembantu dan bumbu, pencampuran dengan tepung tapioka dan sagu aren, pembentukan bola-bola dan perebusan.

Perebusan bakso dilakukan dalam dua tahap agar permukaan bakso yang dihasilkan tidak keriput dan tidak pecah akibat perubahan suhu yang terlalu cepat. Tahap pertama, bakso dipanaskan dalam panci berisi air hangat sekitar 60oC sampai 80oC, sampai bakso mengeras dan terapung. Tahap kedua, bakso direbus sampai matang dalam air mendidih.

Proses Pembuatan :
Siapkan bahan-bahan sebagai berikut :

Daging sapi 500 gr
Tepung tapioka 111,13 gr
Sagu aren 55,7 gr
Es 100 gr
Fosfat (STPP) 1 gr
Lada halus 1 gr
MSG 2,5 gr
Bawang Putih 3 siung
Garam 9 gr

Daging dipotong 10 x 5 x 5 cm.

Daging digiling dengan menggunakan grinder.
Daging gilingan dimasukkan ke dalam food processor (chopper) bersama dengan sebagaian dari es, STTP, garam, lada halus, MSG, dan bawang putih yang telah dihaluskan.

Campuran tersebut dihaluskan selama 5 menit.

Tepung tapioka, sagu aren, dan sisa es ditambahkan ke dalam food processor, dan semua campuran dihaluskan sampai halus (kurang lebih 10 menit).

Setelah halus, adonan bakso ini dibulat-bulatkan dengan menggunakan tangan dan diambil dengan sendok. Ukuran daging disesuaikan dengan selera, bisa besar, kecil, atau sedang.

Bola-bola daging yang terbentuk langsung dimasukkan ke dalam air hangat (air hangat ini belum mendidih atau sekitar suhu 60-80 nol derajat Celsius).

Bila sudah terapung dalam air, bola-bola bakso ini diangkat. Bila akan dikonsumsi langsung, bakso tersebut didinginkan sebentar, lalu direbus lagi sampai matang (sekitar 10 menit).

Bila akan disimpan, dapat disimpan direfrigerator untuk jangka waktu sebentar, atau di freezer untuk jangka waktu yang lama. Direbus kembali bila akan dikonsumsi.

bakso11 bakso22 bakso33 bakso44 bakso55 bakso66

TIP :
Bila tidak mempunyai grinder dan food processor di rumah, penggilingan daging dan pencampuran dengan bahan lainnya dapat dilakukan di pasar, dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan sendiri dari rumah.

Bila ingin mendapatkan bakso yang lebih kenyal, gunakan daging yang baru dipotong (daging hangat) yang bisa diperoleh di pasar pada dini hari.

Perhitungan Ekonomi

Perhitungan ekonomi ini dilakukan secara sederhana dan menganggap bahwa peralatan yang digunakan sudah tersedia di rumah. Pada perhitungan ekonomi ini akan dihitung jumlah produksi perhari, dimaan kita tidak untung dan tidak rugi yang dikenal dengan istilah Break Even Point (BEP). Jadi, jika ingin mendapatkan untung maka kita harus memproduksi lebih dari nilai BEP tersebut.

PENENTUAN BIAYA TIDAK TETAP TERDIRI DARI BAHAN BAKU DAN BAHAN PENUNJANG LAIN UNTUK MEMBUAT BAKSO DARI 500 GRAM DAGING SAPI

Daging sapi 500 gr Rp. 19.500,-
Tepung tapioka Rp. 300,-
Sagu aren Rp. 150,-
Es Rp. 50,-
Fosfat (STPP) Rp. 100,-
Lada halus Rp. 25,-
MSG Rp. 50,-
Bawang Putih Rp. 50,-
Garam Rp. 25,-
Kemasan Rp. 50,-
Transport Rp. 2.000,-
Gas Rp. 1.000,-
JUMLAH Rp. 21.800,-

BIAYA TETAP (per hari)
Gaji Karyawan Rp. 10.000,-
Sewa Tempat Rp. 10.000,-
Perawatan Peralatan Rp. 5.000,-
JUMLAH Rp. 25.000,-

Dari formula di atas akan dihasilkan 810 g bakso (80 butir), dibuat dalam 4 bungkus kemasan 20 butir. Maka biaya tidak tetap untuk pembuatan satu bungkus bakso tiap kemasan adalah Rp. 21.800,- : 4 = Rp. 5.450,- dan jika 1 kemasan bakso tersebut akan kita jual dengan harga Rp. 7.000,- maka nilai BEP dapat dihitung dengan rumus berikut :

A x B = (A x C) + D

Keterangan :
A = Jumlah produksi perhari pada keadaan BEP
B = Harga jual bakso per kemasan 20 butir
C = Biaya tidak tetap untuk 1 kemasan bakso 20 butir
D = Biaya tetap perhari

A x Rp. 7.000 = (A x Rp. 5.450) + Rp. 25.000
1550 A = 25.000
A = 16 bungkus

Dengan demikian untuk mendapatkan keuntungan maka jumlah produksi bakso setiap hari harus melebihi 16 bungkus perhari, atau menggunakan lebih dari 2 kg daging sapi.

Adobe Reader adalah sebuah aplikasi standar sederhana untuk membuka file PDF pada platform Windows. Adobe Reader berjalan dengan baik pada Windows XP, Vista dan Windows 7. Tidak hanya sebagai pembaca file pdf, tapi dengan program ini kita juga dapat membuat dokumen pdf, mencetak dan lainnya.

Adobe Reader kini hadir dengan versi terbarunya Adobe Reader 9.3. Dengan tampilan yang sederhana kini Adobe Reader lebih ringan dan cepat. Adobe Reader mudah untuk digunakan, karena program ini adalah salah satu program pembaca file PDF pertama yang sudah ada lebih dari satu dekade

Adobe Reader software is the global standard for electronic document sharing. It is the only PDF file viewer that can open and interact with all PDF documents. Use Adobe Reader to view, search, digitally sign, verify, print, and collaborate on Adobe PDF files.

  • View, print, and search PDF files, including PDF Portfolios and PDF maps
  • Author, store, and share documents, and share your screen, using Acrobat.com services
  • Experience richer content and greater interactivity with native support for Adobe Flash technology
  • Review documents using familiar commenting tools such as sticky notes, highlighting, lines, shapes, and stamps (When enabled by Acrobat Pro or Acrobat Pro Extended)
  • Digitally sign PDF documents (When enabled by Acrobat Pro or Acrobat Pro Extended)

Download : Adobe Reader 9.3

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai