Hati yang Gelap

•Selasa, 23 Juni 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bagaikan lubang hitam hatiku menghisap
segala materi-materi yang bertebaran di muka bumi
menghilangkan segala kehidupan dan hidup itu sendiri
mematikan penciptaan dan regenerasi

Bagaikan palung di lautan hatiku memendam
kapal-kapal karam yang dulu gagah melaut
di mana ikan-ikan aneh hidup
memakan sisa-sisa kehidupan kapal-kapal tersebut

Bagaikan malam yang kelam hatiku mengusik
para manusia yang takut akan cahaya
gelisah akan apa yang ada di balik kegelapan
bersujud akan apa yang bernama kematian

O, Mephistopheles, Lucifer, dan Nosferatu,
kalian berada sejengkal dari kudukku
menari, tertawa, dan bernyanyi
dengan irama melankoli

Jadikan ini selamat tinggalku
akan mentari
akan kicau burung di pagi hari
akan senyuman

Dan biarkan hati ini gelap
yang menghitam bukan karena dosa
yang mati bukan karena dicabut Izrail
namun tersadar karena dimana kegelapan itu ada
dia hidup

Counting Days

•Minggu, 22 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

The days went by, passes without our conscious
We feel the laughter, glory, and joy
As we cradle through the misery, sadness, and loss

And then here we are
Standing at the edge of conscience
or even at the border of madness

Prepare to deal a real life, real world
Full of plans to be written in the current changes of the history
Fearful yet standing tall against the future

Here we are now, for here we are then…

Waktu Berhenti di Saat Dia Hadir

•Kamis, 1 Januari 2009 • 6 Komentar

“Kamu dimana? Aku sendiri di rumah sakit. Kamu ngga datang?”
Demikian tulisan yang tertera di layar HP-ku. Entah sudah berapa kali SMS dengan isi seperti itu masuk ke inbox. Dan entah sudah berapa kali aku tidak membalas SMS tersebut. Waktu terasa berhenti saat aku membaca SMS tersebut.
Sebenarnya aku bisa saja membalas SMS tersebut. Seperti di saat pertama-tama kali aku menerimanya. Membalasnya dengan penuh pengharapan dan antusiasme. Mengiyakan permohonan untuk bertemu dengannya dan berlanjut dengan kehadiran aku di kamar tempat dia di rawat di salah satu rumah sakit ternama di bilangan Kuningan.

Tapi entah kenapa kali ini aku tidak segera bergeming saat menerima SMS-nya. Entah kenapa jari-jariku terasa begitu berat memencet tuts HP-ku.

Sebulan sebelumnya, pukul 09.15, Ruang Kuliah Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM, Jakarta

Hari itu jadwal aku sebagai mahasiswa kedokteran penuh diisi dengan kuliah-kuliah pengantar. Sebagai koass bagian Ilmu Penyakit Dalam, sudah menjadi kewajiban di awal kepaniteraan untuk mengikuti kuliah-kuliah umum mengenai penyakit-penyakit yang kelak ditemui nantinya saat menjadi dokter umum. Termasuk juga penyakit-penyakit yang jarang seperti penyakit keganasan. Hari itu penyakit keganasan darah termasuk yang dikuliahkan.
“Jadi dapat kita lihat bahwa leukemia dapat terjadi pada siapa saja. Anda, saya, saudara-saudara kita dapat terkena leukemia. Dan dengan prognosis pasien yang buruk, maka tugas Anda-lah kelak sebagai dokter umum untuk mendiagnosis dini pasien-pasien leukemia,” demikian ucap salah seorang konsulen saat mengakhiri kuliahnya mengenai keganasan hematologi.
Hatiku trenyuh. Saat dihadapkan dengan data statistik, tanda dan gejala, serta kemungkinan hidup 5 tahun pasien leukemia, sebuah pukulan bagai menghujam ulu hati. Membuat sesak dan melemaskan otot-otot sekujur tubuhku. Seluruh tubuhku trenyuh.
Langsung saja kukeluarkan HP-ku dan segera aku mengetik SMS:

“Kamu gimana? Hari ini enakan? Eh, gw ingin ke tempat kamu sore ini… Bisa?”

Kini, pukul 14.00, Kafetaria FKUI

Hari ini terasa begitu berat. Penuh beban yang membuat aku begitu jengah dengan kesibukan-kesibukan stase Ilmu Penyakit Dalam. Tugas makalah pribadi, follow-up pasien, serta ujian yang menanti satu minggu ke depan membuat aku melupakan segala kesibukan di luar aktivitas akademik.
Dan itu semakin berat saat SMS dia muncul di layar HP-ku. SMS yang menanyakan apakah aku akan datang untuk menemui dia.
Dia…
Dia adalah teman lamaku. Sejak SMP kami telah bersahabat baik. Tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat tinggalku sehingga tidak sering kami pulang bersama. Ini terus berlanjut hingga SMA karena tanpa disangka kami diterima di sekolah yang sama. Kedekatan kami berdua sering mengundang tanda tanya di antara teman-temanku. Padahal kami tidak lebih hanya berteman dekat. Namun tidak kupungkiri perhatianku yang lebih padanya sebagai seorang sahabat lama.
Aku tertegun sekian lama mengingat saat-saat SMP dan SMA bersamanya. Setelah lulus SMA, nasib membawaku untuk menjadi dokter. Aku diterima di FKUI, salah satu fakultas kedokteran ternama di Indonesia. Memang dari kecil aku bercita-cita menjadi dokter, dan aku sangat bersyukur bisa diterima kampus ini. Sedangkan temanku mengambil jurusan teknik informatika di salah satu universitas swasta di Jakarta. Meski kami tidak bersama lagi, kami masih sering berhubungan via SMS atau telepon dan kerap bertemu jika ada acara bersama teman-teman SMP dan SMA. Bisa dibilang kami cukup aktif berkomunikasi meski jarak memisahkan.
Hingga beberapa waktu lalu, dia divonis menderita leukemia. Perhatianku menjadi kembali lebih terhadapnya. Apalagi sebagai mahasiswa kedokteran, aku mengerti bagaimana prognosis dan 5-year survival rate pasien leukemia. Buruk. Dan datanglah saat ini, dimana aku tak serta merta langsung membalas SMS-nya.
Waktu terasa berhenti di saat aku mengingat dia hadir dan ada. Dan jari-jariku seperti membatu. Aku tersentuh oleh keadaannya sekarang. Aku terbawa oleh kondisi penyakitnya hingga aku takut. Takut kehilangannya. Takut akan ketiadaannya. Aku takut kehilangannya maka aku tidak membalas SMS dan menyertainya di saat dia perlu. Sungguh aneh rasa takutku ini.
Tapi aku tiba-tiba tersadar akan satu hal. Waktu akan terus menerus berhenti jika aku tidak berada disisinya di saat kondisi terburuknya. Di saat dia mungkin sedang berada di akhir waktunya. Aku takut akan hal itu. Dan aku tak akan berhenti di situ, karena aku percaya waktu akan terus bergulir jika aku dengan sepenuh hati menyertainya. Dan aku pun mulai mengetik:
“Iya, maaf ngga balas SMS-mu belakangan… Nanti gw mau datang ke RS. Dan gw ingin bicara, ttg perasaan gw sebenarnya…”
Di saat SMS terkirim, aku merasakan kelegaan yang sangat. Bahwa aku tetap memberikannya harapan, dan aku memberikan ruang kejujuran bagiku atas perasaan yang sebenarnya telah lama ada.

Memaknai Dia

•Selasa, 23 September 2008 • 1 Komentar

Tuhan ada karena memang Dia ada
Dia menciptakan maka Dia ada
Dia menghancurkan maka Dia tetap ada

Dia tidak butuh kita karena kita memang berasal dari tiada
Dan disaat Dia tiada di kita, maka tiadalah jiwa raga kita
Karena kita sendirilah yang meniadakan Dia di saat Dia memang benar dan telah ada

Tuhan bisa ada, bisa juga tiada
Dan dengan mengatakan Dia ada, maka jadilah kita ada
Karena pada dasarnya Dia yang menjadikan ada dan tiada

Pada Suatu Waktu di Banten Selatan

•Kamis, 21 Agustus 2008 • 1 Komentar

Seorang lelaki meratapi anak bangsanya yang tertindas di tanah darah mereka sendiri
Waktu siang mereka merangkak dalam kegelapan lubang-lubang galian
Pada malam mereka tidur berselimutkan karung goni dan bertemankan tungau
Dan di akhir, mereka meregang nyawa dalam rengkuhan kolera, disentri, dan malaria

Ia meneriakkan keadilan!
Akan perlu adanya jaminan pendidikan dan kesehatan bagi mereka
Ia meneriakkan kenyataan!
Bahwa upah mereka pun tak cukup untuk membeli beras sehari
Ia meneriakkan kesetaraan!
Betapa mereka bukanlah binatang yang dapat dipecut, diludahi, dan diinjak

Di barisan terdepan ia melawan penjajahan manusia dan alam yang sewenang-wenang
Menggelorakan semangat untuk bangkit dan melawan maling di negeri mereka sendiri
Mengingatkan bahwa sebuah kata bernama perjuangan tak akan pernah berhenti hingga ajal membawa mereka ke liang kubur

Di antara batu karang yang tinggi menjulang dan pasir yang luas terhampar
Berhadapan dengan ombak pantai selatan yang ganas menggulung
Ia pernah ada,
Pada suatu waktu di Banten Selatan…

Gadis yang Bernyanyi di Ujung Hari

•Senin, 14 Juli 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tak dapat kulupakan kenangan masa kecilku tentang gadis yang bernyanyi di ujung hari. Di saat sore hari tiba, dan orang-orang pulang ke rumah, maka gadis itu pasti muncul di tempat biasanya ada. Bukan satu keanehan pula jika ia hanya muncul di depan sebuah taman yang ramai dikunjungi sore hari,  karena hanya itulah tempat dia biasanya ada. Orang akan maklum bukan kalau seseorang muncul tiap hari di suatu tempat? Rasanya itu bukan keanehan. Yang aneh adalah gadis itu bernyanyi tiap hari. Ya, gadis itu bernyanyi.

Tiap kali gadis itu bernyanyi, orang-orang akan berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk mendengarkannya. Entah berhenti lima, sepuluh menit. Bahkan berhenti hingga gadis itu selesai bernyanyi.  Aku yang hanya seorang anak kecil yang sedang bermain di taman pun ikut mendengarkannya. Dan bisa dibilang aku menjadi salah satu pendengar setianya yang tiap hari menunggu dia bernyanyi. Tidak ada rasa bosan mendengar nyanyiannya tiap meski lagu-lagu yang dinyanyikannya hanya lagu-lagu daerah atau lagu anak-anak yang pasti kudengar tiap kali pelajaran kesenian di sekolah atau waktu taman kanak-kanak dulu.

Lagu-lagu yang dinyanyikan gadis itu pasti tak  jauh-jauh dari lagu tentang bangsa ini seperti Tanah Air, Garuda Pancasila, hingga Rayuan Pulau Kelapa, juga yang lagu anak-anak yang berisi keriangan dan kegembiraan macam Paman Datang, Kakaktua, dan Topi Saya Bundar. Tak dapat kulupakan juga lagu-lagu daerah macam O Ina Ni Keke yang disenandungkannya. Tiap bernyanyi, pasti tidak ada orang yang ikut bernyanyi dengannya. Dia hanya bernyanyi sendiri. Dan penonton di sekitarnya hanya mendengar dengan khidmat, seolah-olah terbius oleh nyanyiannya. Suaranya biasa-biasa saja. Biasa saja seperti anak sekolahan yang disuruh gurunya bernyanyi di depan kelas. Tapi ada sesuatu yang menyebabkan orang-orang berhenti untuk mendengarkan ia bernyanyi. Ada sebuah ketulusan dalam nyanyiannya, kesederhanaan yang biasa ada pada anak kecil. Ya, mungkin itu yang membuat orang-orang berhenti untuk mendengarnya.

Begitulah gadis itu setia bernyanyi di ujung hari. Selama seminggu, sebulan, hingga tak terasa telah setahun dia bernyanyi. Orang-orang telah menganggapnya sebagai sebuah rutinitas sore hari dan mereka terhibur olehnya. Termasuk pula aku.

Hingga suatu hari, gadis itu tidak muncul untuk bernyanyi di ujung hari. Orang-orang bertanya kemana gerangan gadis itu pergi. Seminggu, sebulan, berlalu, tapi tidak ada satupun orang yang tahu kemana gadis itu pergi. Muncul berita-berita miring mengenai kepergiannya. Ada yang bilang gadis itu telah dibawa pergi ibunya ke sebuah kota di seberang pulau, ada juga yang bilang dia jatuh sakit sehingga tidak bisa lagi bernyanyi. Bahkan ada berita yang saking miringnya mengatakan gadis itu diculik oleh sekawanan orang dan dibunuh karena tidak ada yang menebusnya. Edan!

Setahun berlalu dan gadis itu tidak pernah kembali untuk bernyanyi di ujung hari. Orang-orang pun tidak lagi membicarakannya dan menganggapnya sebagai sebuah cerita lalu. Dan mereka pun lambat laun melupakannya.

Justru aku yang hanya seorang anak kecil saat itu entah kenapa tidak dapat lupa akan gadis tersebut. Bagaimana wajahnya? Pakaian yang sering dikenakannya? Atau bahkan nada suaranya saat bernyanyi? Semua masih terbayang olehku. Mungkin karena aku yang menganggapnya sebagai seorang peri yang turun dari nirwana untuk bernyanyi membuat ingatanku akan gadis itu tetap ada. Ah! Aku dan khayalan masa kecilku.

Tak terasa itu adalah kenanganku akan 25 tahun yang lampau. Semua terasa bangkit kembali menjadi kenyataan. Aku tersenyum, berpikir kalau sekarang mana ada yang menyanyikan lagu-lagu gadis tersebut lagi. Lagu daerah, lagu anak-anak, atau lagu kebangsaan negara ini. Ah, mungkin memang gadis itu adalah peri dari nirwana yang tiba-tiba menghilang karena mesti kembali. Datang tak berapa lama untuk mengingatkan lagi lagu-lagu yang sebenarnya kita punya.

Di ujung hari itu, mobilku berhenti tepat di samping taman tempat gadis itu pernah biasa bernyanyi. Lampu lalu lintas menyala hijau. Segera aku menginjak gas menyusuri jalan raya, ditemani Alicia Keys yang menyanyikan Teenage Love Affair pada salah satu stasiun radio.

Setelah kupikir-pikir, gadis itu pastilah peri!

Biru

•Sabtu, 14 Juni 2008 • 2 Komentar

Hari ini kulihat langit biru

tapi tak sebiru hatiku padamu

Saat kau pergi

dari hatiku

tidak dari mata, telingaku

Adakah rasa itu?

Meski hanya rasa itu hanya berupa asa, asa, dan asa?

Kau bahkan tak sempat mengenalku,

dan aku bahkan tak mengenalmu

Biarkan diriku hatiku membiru, terus membiru, dan membiru

Rasa itu biru,

sebiru langit, lautan,

dan mungkin juga sebiru senyummu padaku

Budaya Kritik… Tabu atau Kebiasaan yang Punah?

•Selasa, 10 Juni 2008 • 3 Komentar

Pada suatu malam…
A: “Tapi bukan begini caranya ngasih pendapat!”
B: “Sorry, tapi mmg ini cara gw sendiri. Mungkin terkesan kasar ke lo atau lo sendiri ngga biasa. Tapi ini benar-benar penilaian gw secara pribadi..”
A: “Kan ada cara yang lebih baik bukan?!”
B: “Cara seperti apa? Gw cuma maparin pemikiran dan evaluasi gw, dan harusnya lo bisa nerima apa adanya…”
A: “…. tapi lo kan bagian dari ‘sistem’?!”
B: ” Iya, memang! Justru dengan mjd bagian sistem gw bisa nilai apa yang benar dan apa yg salah! Apa menjadi sistem berarti harus ‘nggih saja? Gimana lembaga ini bisa berkembang?”
A: “Sorry, gw udah kebawa emosi… Kita shalat dulu deh.. Abis itu kita lanjut lagi bicaranya…”
B: “Sorry, gw harus jemput adik gw… Udah janji…”
A: “Tapi kita belum selesai?!”
B: “Sorry, gw udah janji”
B keluar. Setelah menutup pintu, terdengar bunyi gebrakan meja dari ruangan yang hanya didiami seseorang, yaitu A. Setelah itu, hening meraja.
(Berdasarkan kisah nyata)

Mengenai Kritik
Kritik. Kita sering mendengarnya, sering pula melakukannya. Dan sering pula kita menghadapi orang-orang yang menerima dan menolak untuk dikritik. Dan muncul pertanyaan besar. Seperti apa kritik yang dapat diterima?
Kritik sama halnya dengan proses komunikasi lain. Ada dua unsur, pemberi dan penerima. Komunikasi yang baik adalah saat tersampaikannya maksud dari pemberi ke penerima. Dan saat terjadi hambatan/gangguan/masalah yang menyebabkan maksud tidak tercapai, maka gagallah sebuah proses komunikasi. Begitu pula dengan kritik.

Faktor Internal dan Eksternal
Dalam menyampaikan kritik pun terdapat hal-hal internal dan eksternal mendasar yang dapat menjadikan kritik itu dapat tersampaikan. Dari sisi internal, dapat kita lihat dari hal-hal seperti sepenting apa kritik yang ingin disampaikan dan sebaik apa pemberi kritik mampu menyampaikan kritiknya. Dari sisi eksternal, penerima kritik dapat kita nilai dari sejauh apa kritik itu berarti bagi dirinya, dan juga (terutama) dari sebaik apa penerima kritik dapat menerima maksud apa yang ingin disampaikan. Dua sisi tersebut bagaikan mata koin. Saling bersinggungan dan tak mungkin terlepas. Jika kritik ingin tersampaikan, maka pemberi kritik harus bisa menilai sisi-sisi tersebut.

Kritik sebagai Alat Perubahan
Prof Rianto dari Departemen Farmakologi FKUI pernah menyebutkan untuk membangun budaya kritik dan berdebat. Karena dengan itulah budaya ilmiah dapat terbentuk dan perbaikan-perbaikan dapat dilakukan. Saya sepakat dengan beliau. Kenapa? Karena tanpa mengetahui kesalahan-kesalahan yang ada, musykil perbaikan dapat terjadi. Dan jika tidak terjadi perbaikan, perubahan pun tidak akan pernah terwujud. Budaya ilmiah pun mengamini terjadinya proses kritik dan debat. Seharusnya dalam kehidupan nyata pun terwujud hal-hal tersebut.

Getting Personal?
Kesulitan utama dari membangun budaya kritik adalah karena memang masyarakat kita sangat-sangat menghargai persatuan dan kesatuan. Dan kita adalah masyarakat yang mengagung-agungkan tepo seliro. Jadilah kita sangat sulit dalam memberikan pendapat dan terlebih-lebih dalam berkritik. Zaman Orba telah membuktikan itu dimana banyak orang-orang yang terlalu vokal dibungkamkan oleh pemerintah. Dan jadilah diam justru menjadi budaya kita. Belum lagi jika konflik-konflik personal menambah bumbu perbedaan pendapat. Jadilah budaya kritik menjadi sesuatu yang langka di masyarakat negara kita, Indonesia.

Tabu atau Kebiasaan yang punah?
Contoh kasus diatas adalah hal yang dapat kita temui sehari-hari. A menganggap kritik tidak dapat (tidak boleh-red) dilakukan karena ‘sistem’ tidak menghendaki segala macam kritik. B pun juga memiliki kesalahan karena mengkomunikasikan tidak sesuai dengan ‘selera’ A. Tapi apa benar kritik harus mengikuti selera yang ada?
Jadi, kritik adalah sebuah hal tabu atau kebiasaan yang telah lama hilang? Keduanya tidak sepenuhnya benar, karena intinya kritik bukan sebuah budaya di negara ini. Kritik pun menjadi sebuah hal yang tabu, dan kritik pun menjadi sesuatu yang tidak biasa (asing) dan tanpa disadari akan punah perlahan-lahan. Lalu bagaimana solusinya? Budayakan saja kritik dalam keseharian kita, dan biarkan kita terus melatih diri untuk membuka telinga, pikiran, dan hati terhadap segala macam kritik yang ada. Mudah ‘kan?

The Sun Still Shine In The End of May

•Jumat, 6 Juni 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

The sun still shine in the end of May

As we run pace to pace

with our hands grasping together

through the fields of joy we pass

and our laughter collide

with tears of happiness that shed our fear and sorrow

no my friend,

no, we will not forget these days when we triumph

as the sun still shine in the end of May

and we will always rule the day…

Soe Hok Gie

•Minggu, 1 Juni 2008 • 2 Komentar

Soe Hok Gie (1942-1969)

Soe Hok Gie merupakan salah seorang mahasiswa yang berperan besar pada masa transisi Orde Lama ke Orde Baru. Pada tahun 1966, ia beserta mahasiswa-mahasiswa lain seangkatannya gigih memperjuangkan tiga tuntutan rakyat atau yang dikenal dengan Tritura. Hasil pergerakan mahasiswa saat itu tentu telah kita ketahui dalam sejarah yaitu kelahiran Orde Baru. Soe Hok Gie, yang kerap dipanggil Soe, juga dianggap sebagai tokoh pergerakan pemuda pasca kemerdekaan Indonesia. Sosoknya mewakili mahasiswa dengan segenap intelektualitasnya pada masa 1960-an yang penuh dengan labilitas politik dan ekonomi. Berikut adalah cuplikan perjalanan hidupnya:

Awal Kehidupan

Soe dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 di Jakarta. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara pada sebuah keluarga Tionghoa yang bertempat tinggal di daerah Kebon Jeruk. Ayahnya, Soe Lie Piet, merupakan seorang penulis dan redaktur surat kabar. Kehidupan ayahnya sebagai penulis memberikan pengaruh besar bagi diri Soe. Salah satu saudara kandungnya adalah Soe Hok Djien atau Arief Budiman yang kita kenal sebagai salah satu tokoh Tionghoa saat ini. Soe mengenyam pendidikan dasar di Sin Hwa School, sebuah sekolah khusus Tionghoa. Ia lalu melanjutkan ke SMP Strada dan SMU Kanisius. Masa-masa Soe kecil dan remaja dipenuhi dengan bacaan-bacaan, baik itu filsafat maupun sastra. Kebiasaan membacanya ini membentuk kepribadian Soe sebagai seseorang yang berani dan peka terhadap orang-orang sekitarnya.

Masa-masa Mahasiswa

Pada tahun 1961, Soe meneruskan pendidikan tingginya di Universitas Indonesia. Ia diterima di Fakultas Sastra UI/FSUI (sekarang FIB –red-) Jurusan Sejarah. Sebagai seorang mahasiswa, ia aktif di berbagai kegiatan dan organisasi. Kepribadiannya yang cenderung radikal dan sekuler membuatnya aktif di Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos/GMS). Ia juga aktif melancarkan kritik kepada pemerintahan saat itu (Soekarno) dan organisasi-organisasi mahasiswa (KAMI, KAPPI, KASI, dll) melalui siaran Radio Ampera yang ia dirikan bersama mahasiswa lainnya. Sebagai seorang yang menyukai alam dan kegiatan naik gunung, ia bersama mahasiswa-mahasiswa UI lain mendirikan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UI pada awal tahun 1960-an. Soe turut menaruh perhatian pada keadaan masyarakat Tionghoa di Indonesia dengan ikut serta pada Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) yang mempunyai paham asimilasi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Sebagai mahasiswa UI, Soe pun aktif di Senat Fakultas Sastra UI.

Karena saat-saat ia menjadi mahasiswa Indonesia sedang mengalami pergolakan politik dan ekonomi, jadilah hari-harinya dipenuhi dengan rapat-rapat mahasiswa dan demonstrasi-demonstrasi. Puncaknya adalah pada bulan Januari 1966, dimana terjadi demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang menuntut Tritura. Ia bahkan menjadi “arsitek” long march mahasiswa dari Salemba ke Rawamangun pada tanggal 11 Januari 1966.

Soe juga dikenal sebagai penulis yang produktif saat ia mahasiswa. Tulisan-tulisannya terkenal dengan bahasanya yang lugas, tajam, dan sarat dengan kritik. Tulisannya banyak dimuat oleh surat-surat kabar, antara lain di Sinar Harapan, Kompas, dan Indonesia Raya. Ia juga banyak membuat sajak-sajak sebagai sarana untuk menuangkan pikirannya. Keaktifannya menulis membuat ia akrab dengan banyak figur antara lain PK Ojong (pendiri Kompas), WS Rendra, Taufik Ismail, dll.

Pada tahun 1968, Soe menjadi perwakilan mahasiswa dari Indonesia untuk mengikuti kunjungan ke Amerika. Ia mendapat kesempatan untuk berkunjung ke berbagai universitas, seminar, dan tempat wisata di Amerika. Ia juga berkenalan dengan berbagai mahasiswa mancanegara yang turut serta dalam kunjungan.

Di waktu luang, Soe mengisinya dengan membaca, menulis, jalan bersama teman-temannya, dan juga menonton film. Ia juga sering naik gunung bersama teman-teman Mapalanya. Jika membandingkan kehidupan Soe Hok Gie, tentunya tidak jauh berbeda dengan aktivitas mahasiswa-mahasiswa sekarang ini.

Hidup yang Singkat

Soe Hok Goe meninggal pada tanggal 16 Desember 1969, tepat satu hari sebelum ia berulang tahun ke-27. Ia meninggal di Gunung Semeru, Jawa Timur saat sedang mengadakan naik gunung bersama teman-teman Mapalanya. Gas beracun yang tiba-tiba keluar dari kawah Gunung Semeru merenggut nyawa Soe dan temannya, Idhan Lubis. Sebelum dikubur, jenazahnya sempat disemayamkan di FSUI, rumah keduanya. Tempat peristirahatan terakhirnya sempat berpindah dari Menteng Pulo ke Kober. Akibat pembongkaran pekuburan Kober, keluarga Soe akhirnya memutuskan untuk mengkremasi jenazah Soe dan menyebar abunya di Gunung Pangrango, Jawa Barat.

Untuk mengenang Soe, buku hariannya diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran pada tahun 1983. Pada tahun 2004, kehidupannya diangkat ke layar lebar oleh sutradara Riri Riza dengan judul Gie.

Di nisan makamnya yang pernah terletak di pekuburan Kober, tertulis kata-kata yang menyuratkan kegelisahannya sebagai seorang mahasiswa aktivis dengan kehidupannya yang singkat:

“ Nobody knows the troubles I see, nobody knows my Sorrow”

 
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai