Why I Need an Air Purifier

The Weather Recently

Let me start this post by describing how awful the weather these past few years, especially post-Covid. Well, maybe that’s just me, but then again, the weather really is worse than when I was a kid (at least that’s what I feel). The hot weather makes it even worse because not only the airborne particles are flying everywhere, but the temperature is scorching hot at noon that you can’t even get by without a glass of cold water. Then, when the cold water hits your throat, plus the virus or bacteria that are already lingering there, you will get such painful sore throat. I know it’s painful because I’ve been there many times that my tonsils removed due to the severe inflammation. Though it’s not a hundred percent on the weather, I could say that the hot temperature and bacteria/virus-filled airborne make a great impact on why so many people get sick.

Bear with me and my random thoughts, I didn’t create an outline for this post.

As I was saying, the weather is awful that people get easily sick, or sick for longer time than before. You would think that being at home is safe from the weather and airborne. Well, I got an AC at home, and wouldn’t you know it, my nose is itchy because of the dust and airborne that escape the AC filter. Cue flu and cough. Not only me, but also my son and my husband. Then I think to myself.. There must be something I can do, or rather, install in the bedroom to prevent such thing in the future.

Then it hit me: the Air Purifier.

According to the site that I read, Air purifier is a device that is designed to bring clean and fresh to your house by eliminating dust, small particles, and other harmful micro-organisms in the air. This will make a great solution for our family, especially because we often suffer from cough and flu, most likely due to the small dust particles and airborne. Next I’m gonna be talking about further about the Air Purifier models and the pros-cons.

Momen Pokemon di Kehidupan Nyata

Growing up, I liked Pokemon. Saya dulu suka sekali Pokemon (sampai sekarang, sih). Yang dari awalnya suka menonton TV series nya, lanjut ke koleksi tazos Pokemon -semacam mainan berbentuk kepingan plastik, bergambar Pokemon- hadiah dari snack. Saya dan adik juga sampai hapal nama 150 Pokemon generasi/sesi 1 atau Indigo League. By the way, Pokemon generasi selanjutnya saya tidak begitu mengikuti karena menurut saya storyline nya kurang menarik dan nama Pokemon jadi semakin absurd sehingga sulit dihapal. Ha ha. Anyway..saya sering menonton Pokemon berulang ulang hingga hapal storyline beberapa episode, terutama saat Ash(Satoshi) mengikuti tournament Pokemon Indigo League. Pada espisode tersebut, Ash berhasil menjadi peserta yang masuk ke 4 besar. pada tournament 4 besar, dia menghadapi musuh yang cukup berat, yaitu seorang gadis yang memiliki Pokemon tipe rumput seperti Schyter, Beedrill, dan Bellsprout yang menjadi andalan trainer tersebut. Ash pun juga menampilkan Pokemon terkuatnya untuk bertanding, termasuk Pikachu. Sayangnya, Pikachu kalah oleh Beedril. Siapa sangka Ash akhirnya memilih Muk untuk melawan Bellsprout. Bellsprout adalah Pokemon jenis rumput dengan bentuk seperti tanaman kantong semar lengkap dengan akar sebagai kakinya. InsyaAllah saya akan posting more tentang ini nanti. Kalau ada waktu. Ha hay.

Bagaimana bisa Muk menang melawan Bellsprout sedangkan Pokemon terkuat Ash kalah di tangan Bellsprout? Jadi si Muk ini tipe Pokemon Lumpur dengan kemampuan utama Bau tidak enak dan lengket, jadi bentuknya semacam gumpalan lumpur yang berbau. Salah satu momen bertarung mereka yang paling seru adalah ketika Bellsprout mengeluarkan pisau daun tajam, mengenai Muk, tapi karena sifat Muk yang seperti lumpur atau tanah liat, daun tajam tersebut bisa ditangkal. Episode dan momen pertarungan inilah yang saya ingat ketika mengalami kejadian hari ini.

Beberapa tahun belakangan ada semacam ‘rift‘ dalam keluarga ibu saya. Tidak bisa saya ceritakan secara detail, tapi yang jelas permasalahan ini membuat hubungan ibu saya dengan beberapa saudaranya jadi renggang. Menurut saya ini hanya kesalahpahaman, tapi ya, orang tua punya cara berpikir yang berbeda dengan anak, kan. Terlebih karena posisi saya sebagai anak atau ponakan, jadi I don’t have the say to what’s actually going on. Tapi untungnya, saya masih berkomunikasi dan berhubungan cukup baik dengan beberapa saudara ibu saya. Tidak dengan ibu saya yang sepertinya tidak dianggap. Ibu saya sih sepertinya) menanggapinya dengan santai, toh mereka punya kehidupan sendiri-sendiri, dan tidak bergantung satu sama lain. Karena hubungan persaudaraan yang retak ini, saudara ibu jarang berkomunikasi dengan ibu saya secara langsung maupun tidak langsung, seperti telpon atau Whatsapp. Yang ada, bude saya sering sekali mengirimkan dokumentasi kebersamaan mereka (saudara-saudara ibu yang no-contact dengan ibu) kepada saya. Pun yang terjadi dari beberapa hari yang lalu hingga hari ini. Bude saya mengirimkan cukup banyak foto dan video kebersamaan mereka dengan cucu masing-masing, entah karena pure ingin share atau ada hidden intention, hanya Allah yang tahu.

Hidden intention apa? Bukan bermaksud suudzon, tapi saya menganggap beliau mengirim foto itu untuk kemudian diteruskan ke ibu saya, sehingga membuat her misery unbearable. Well naturally, I wasn’t gonna let that happen. Saya tidak mungkin tega meneruskan foto dan video tersebut ke ibu saya, apalagi dengan narasi bahwa mereka sedang bersama. Bahkan adik saya tidak tega memberitahu ibu bahwa ada saudara jauh ibu yang sedang menginap di kota tempat tinggal kami. Cukup saya saja yang tahu foto dan video tersebut, cukuplah saya menjadi Muk yang dihujani daun tajam dan meredam semua. Tidak mengharapkan menang atau kalah karena ini bukan tournament Indigo League. Saya hanya berharap dengan menjadi Muk dan meredam semua informasi yang saya dapatkan dari saudara-saudara ibu yang no-contact, situasi tidak akan bertambah parah. Saya masih percaya pada kalimat ‘Time heals‘, jadi let’s not interrupt time’s power to heal everything.

Mungkin karena kesukaan saya pada Pokemon yang membuat saya relating kejadian terntentu pada kehidupan saya pada momen Pokemon series. Tapi kan memang art imitates life, dan itu benar.

Back on Track

Hya, wordpress! Been a while! A long while, as a matter of fact! Ya gimana engga, postingan terakhir 7 tahun laluu! Kayak..kalo rumah pasti bakalan berdebu yekhan. Cuma mau nulis beberapa hal:

  1. Mulai saat ini semoga istiqomah nulis walaupun dikit, karena pengen banget punya kayak semacam jurnal or memoar. Ya walopun ga setiap hari ya..maklum dah emak2, rutinitasnya berubah dari yang dulunya self-care, sekarang jadi home, family, husband, kid-care. Alkhamdulillah.
  2. Pengen mulai kaya semacam series cerita pendek ato cerita pendek banget, yang bunga tidur-based. Ini emang dari dulu sih, jadi akutu kalau tidur kadang mimpi random, which is menurutku bisa jadi storyline cerpen atau bahkan novel gitu. Mostly romansa sih ya, tapi kadang ga juelas banget macam superhero gitudeh. I’ll post later about the bunga tidur/mimpi ini. Point is..menurutku keren aja kalo jadi cerita.
  3. Postingan nya bakalan banyak code-switching ya waaak. Ya kadang Indonesia, kadang Inggris..kalau dari dua itu ga ada yang bisa mendiskripsikan, ya pakai Bahasa Jawa lah ya. I mean..what’s ‘kunduran’ in Bahasa or English??
  4. Dah gitu aja. Will post more soon..well not exactly soon, but later. (Ini ngilangin point nya gimana dah. Agak bingung juga ya pake hape.)

Master Degree and Trial

I’ve been planning to enroll a Master Degree for what feels like years.

Well it’s literally quite some years now. But the progress is like..damn i can’t even. -face palm at this point.

That’s all for now. Will post more after this, i think.

Wong ini lo aslinya cuman nyoba nge-post dari HaPe. Nyoba aplikasi wordpress ceritanya. Asyik juga ternyata.

Ohoho.

Ciao.

The Syndrome of A New Hijaber

I like going through my Instagram photos. Although there’s someone from my past (my ex, as I thought he is) lingers in the photo-sharing social media (and sometimes his posts make me cringe a little), I like looking at my old photos. Photos that I took and posted few weeks and many months ago.

Photos that intrigue me the most are photos of me not wearing hijab. Or as they call it ‘foto sebelum hijrah’. Those photos intrigue me mainly because..I’m usually like..damn that curly hair. It’s like the hair of Merida from Brave finally decided to dye her hair black –and a little bit of white.

This somehow brings me back to what happened few days ago, when I caught the reflection of me in the mirror wearing hijab. I don’t know..i somehow felt like..it’s strange how I change these past few years.
Mungkin ini yang namanya ‘syndrome of new hijabers’ ya.. Yea..it’s the term I coined, alrite. LOL.

Anyways..tapi beneran deh. Saia tuh kadang masih merasa gimanaa gitu kadang-kadang kalo lagi pake/benerin hijab. Especially pas di depan kaca. Frankly, it’s like a very small part of me kinda dislike me wearing hijab –to which my consciousness always tell me that it’s the right thing to do. It is. I know it is. Wong ya perintahnya udah ada dan jelas kan??

The feeling is somehow alien –it’s almost indescribable. It’s like..hm..apa ya.. It’s like the very small part of me saying ‘You serious wearing that, gurl?? You sure you not high??’
Iya..logatnya ala ala gengsta amrik gitu deh.
Then, I’ll be like in kinda deep thought while fixing my hijab. Done with the wearing and fixing, the thought usually also disappears slowly.
And that’s how the cycle goes.

I once shared to my colleague about what I’ve been feeling, and she said that it was normal for a new hijaber. Jadi ceritanya saia itu masih dalam fase orang baru gitu deh –orang baru pake hijab dan hijrah. I think it’s up to me now whether to lose the feeling or deal with it.

Emang sih semacam aneh binti awkward gitu. Salah satu alas an kenapa bisa timbul such alien feeling mungkin karena I was raised in liberal/diplomatic family kali ya. Jadi gak banyak berinteraksi dengan orang-orang berhijab.
Any feeling that I have toward me wearing hijab, somehow I know it’s the best thing for me. And yes, one thing for sure InsyaAllah it’s for a better and better future. Aamiin.

Jadi luar dalam masih in the process of renovation. When do I know I would be ready? I wouldn’t. Allah SWT yang tahu. Tapi mungkin..ketika saia dan orang-orang tercinta bahagia, I know it’s done. By then, tinggal memelihara dan memperbaiki lagi hal-hal kecil lainnya.
Until then, I am improving myself in and out. For a better future. Ecieeeeeh..better future jaree..

Eh tapi beneran..because of that very reason, I have to stand my ground. I mean ketika such alien feeling comes, I know that it’s just spur of the moment, and that it’s just the devil in me who tries to drag me back to the past. Semoga saia kuat. Aamiin.

Cherio.

Previous Older Entries

Gak ndut, cuma bantet -dikit

Unknown's avatar