What I Think About Cry it Out Method

Bismillah.Halo.. Disclaimer ya. Tulisan di bawah ini fully opini.

Dalam dunia tumbuh kembang bayi, banyak yang menekankan pentingnya merespons tangisan bayi untuk membangun rasa aman. Di sisi lain, dikenal juga metode cry it out (CIO) yang membiarkan bayi menangis agar belajar menenangkan diri. Keduanya punya tujuan dan konteks masing-masing.

Bagiku, tidak ada metode tunggal yang cocok untuk semua situasi. CIO misalnya, bisa membantu bayi mengembangkan mekanisme pertahanan dan kemampuan self-soothing. Tapi kemampuan ini muncul bukan dari kenyamanan, melainkan dari adaptasi terhadap situasi yang dianggap “berbahaya”, karena merasa tak ada tempat bergantung. Seperti alam yang bisa memurnikan dirinya sendiri dari polutan, manusia pun bisa belajar bertahan. Tapi seperti sungai yang punya batas agar bisa melakukan self purification, menurutku pikiran manusia pun ada batasnya. Di situ lah peran pendidik, untuk merancang lingkungan yang terukur.

Aku pernah ke panti asuhan bayi, dan melihat banyak bayi tergeletak tenang di ranjangnya. Tidak menangis, tidak menuntut. Mereka terbiasa menenangkan diri karena terbatasnya kehadiran orang dewasa. Bahkan ada aturan: dilarang menggendong bayi. Karena ketika mereka merasakan pelukan hangat, mereka sadar: “Oh, ternyata hidup bisa senyaman ini.” Tapi ketika tamu pulang, mereka kembali sendiri—dan jadi lebih rewel dari biasanya.

Jika anakku memiliki orang tua yang hadir dan mampu mendampingi secara fisik dan emosional, apakah bijak jika aku mengkondisikan seperti anak yatim piatu? Menurutku, itu bukan kebijaksanaan. Anak yang tumbuh di lingkungan (terlalu) keras bisa jadi tangguh, tapi mungkin ada harga yang dibayar: kesulitan terhubung secara emosional, atau sukses yang digerakkan oleh dendam, bukan kasih, apalagi semangat kebermanfaatan.

CIO bisa bermanfaat, jika dilakukan sesuai usia dan kesiapan anak. Seperti pelajaran matematika, tentu ada tahapannya—tidak bisa dipaksakan terlalu cepat. Maka, penggunaan metode ini pun punya panduan ilmiah, durasi, dan evaluasi sesuai tumbuh kembang. Meski dunia akademik pun belum satu suara, di situlah aku gunakan intuisi dan tetap minta petunjuk Allah. Sirah nabawiyah tidak menjabarkan sedetil ini, maka untuk hal hal yang tidak bertentangan, aku menggunakan kaidah ‘serahkan pada ahlinya’, sehingga rujukan rujukan ilmiah pantas untuk digunakan

Sirah sahabat mengajarkan bahwa usia 0–7 tahun adalah masa memperlakukan anak seperti raja—memenuhi kebutuhannya. Bahkan Rasulullah pun menunda bangun dari sujud demi cucunya yang ingin bermain. Itu bentuk kehadiran penuh dan pemahaman terhadap fitrah anak.

Terakhir, bayi menangis bukan karena manja atau cari perhatian. Mereka menangis karena belum bisa bicara: lapar, tidak nyaman, atau butuh kehadiran. Maka dalam menyikapi metode apapun, kebijaksanaan, kasih, dan pertimbangan kondisi anak tetap jadi kunci.

Bagiku, tak ada satu cara yang mutlak benar dalam mengasuh anak. Setiap metode—termasuk cry it out—perlu dipahami konteksnya, bukan diikuti mentah-mentah. Yang terpenting adalah kehadiran orang tua yang peka, hadir dengan penuh kasih, dan mampu membaca kebutuhan anak sesuai fitrahnya.

Karena pada akhirnya, bukan soal metode apa yang kita pilih—tapi bagaimana kita hadir dalam tumbuh kembang anak, dengan penuh kesadaran, cinta, dan tanggung jawab.

Tentang Bakat, Generalis dan Spesialis

Disclaimer:

  1. Buat readers, maaf kalau alur tulisannya random 😀 seperti biasa buat nuangin pikiran dulu, tapi kalo mikirin runutan, ga beres beres haha.
  2. I am no expert. Jadi yang di bawah adalah opini, yang masih bisa dikoreksi

Memang tidak semua anak jago matematika

Tapi belajar matematika melatih daya nalar, alur pemecahan masalah, dan mendukung aspek hidup dalam bidang apapun, misalnya untuk transaksi finansial, perencanaan keuangan pribadi, dll. Jadi sebaiknya tetap belajar matematika

Memang tidak semua anak jago Bahasa

Tapi belajar struktur bahasa yang baik dan benar, memudahkan kita untuk bisa menyampaikan ide yang rumit. Belajar sastra juga mengolah rasa dan melembutkan hati. Kemampuan berbahasa juga dekat dengan kekcintaan terhadap membaca. Kecintaan membaca berhubungan dengan wawasan seseorang, dalam bidang apapun. Jadi sebaiknya tetap belajar bahasa.

Memang tidak semua anak jago olahraga

Tapi ketrampilan motorik baik halus dan kasar, yang dilatih dengan olahraga, berhubungan dengan tumbuh kembang secara umum dan meningkatkan kemampuan kognitif.

Olahraga juga memungkinkan tubuh punya aspek kebugaran yang cukup untuk mempertahankan kesehatan, juga modal untuk mempertahankan diri dalam situasi terancam. Jadi sebaiknya tetap belajar olahraga

Memang tidak semua anak jago sains

Tapi belajar sains membuka mata kita atas fenomena alam semesta, yang juga bisa mengasah keyakinan kita pada Allah.

Memang tidak semua anak jago seni

Tapi belajar seni membantu kita untuk lebih mudah mengolah rasa, di mana berbagai macam penyelesaian masalah dalam berbagai bidang juga butuh ‘art’ atau kebijaksanaan, tidak melulu 1+1=2. Berbagai jenis seni juga merupakan bentuk meditasi yang membantu fokus dan relaksasi, bahkan bisa menjadi media penyembuhan kondisi jiwa. Jadi sebaiknya tetap belajar seni.

Memang tidak semua anak jago menghafal

Tapi proses menghafal juga merupakan stimulus bagi otak kita, dan ingatan membantu kita untuk memahami hal hal yang ingin kita kuasai. Selain itu coba bayangkan sistem digital di dunia ini mati, atau HP hilang, maka apa yang kita hafal menjadi hal yang berharga.

Fenomena pendidikan saat ini sangat menjunjung bakat, memberikan apresiasi pada kelebihan seseorang dan mendukungnya untuk berkembang. Tentu ini hal yang sangat baik dan perlu didukung, di tengah tengah sistem penilaian yang menjunjung tinggi nilai ujian, sehingga harus melabel si ranking 1 sebagai anak pintar dan si ranking bontot sebagai anak bodoh.

Namun, mungkin ada beberapa golongan yang menjunjung bakat yang 1, dan melupakan bakat yang lain yang tidak dia sadari.

Suatu hari lewat di beranda youtube ku, sebuah vlog anak yang membanggakan apa yang dia tekuni, dan mendiskreditkan matematika. Dia merasa, buat apa belajar matematika, bukankah sudah ada kalkulator, bukankah sudah ada komputer. Lebih baik dia  tekuni hal hal yang dia suka. Aduhh sungguh prihatin melihatnya.

Ada pula anak anak yang berani melabel diri ‘aku tidak pintar matematika’, sehingga orang tuanya mengarahkan anaknya untuk menekuni hal yang lain.

Tidak jago matematika? Yakin? Bagaimana jika ternyata dia punya otak encer, hanya kebetulan punya guru yang kurang tepat dalam membimbing, sehingga matematika menjadi terasa tidak menyenangkan sehingga dia sulit paham?

Mungkin juga, label kurang jago matematika juga berhubungan dengan kecepatan belajar dia dibanding teman teman sekelasnya. Adanya standar bahwa misalnya kalau sudah kelas 5 SD berarti harus sudah menguasai A, B, dan C membuat anak merasa tidak berbakat karena belum menguasai A, B, dan C. Bagaimana jika ternyata si anak hanya memiliki pace yang berbeda dalam belajar?

Dalam hal pace atau kecepatan belajar ini, inilah salah stau hikmah homeschooling. Anak HS tidak harus bersaing nilai dengan teman temannya, tapi cukup belajar Langkah demi Langkah. Kalau sudah paham 1 bab, baru beranjak ke bab selanjutnya. Mungkin kecepatan belajarnya lebih lambat dari teman seumurnya. Mungkin dia tidak jago sampai level bisa ikut olimpiade. Tapi tekun belajar juga akan membuat seseorang pada akhirnya menguasai bidang tersebut. Mungkin tidak jadi ahli-nya, tapi minimal bisa menggunakan pengetahuannya untuk kesejahteraan diri dan lingkungannya.

Tapi anyway, ini bukan tentang HS versi conventional schooling, tapi tentang salah kaprahnya  menjunjung tinggi bakat. Aku amati, di sistem sekolah saat ini, memang banyak materi yang (MENURUTKU) buang buang waktu. Sangat terasa ketika menemani anak ujian waktu masih pake setara daring (ujian kesetaraan via web) Tapi IMHO, permasalahannya bukan di mata pelajarannya, melainkan konten belajarnya dan cara penyampaiannya.

Aku sih setuju saja kalalu seseorang memilih profesi di mana dia punya bakat yang kuat, di mana seseorang less effort dalam melakukan pekerjaan, tapi hasilnya maksimal. Efisiensi.

Tapi, bakat yang terlihat dalam berbagai tes juga merupakan output dari paparan yang terjadi di masa lalunya. Kalau di masa kecil seseorang tidak mendapatkan paparan yang cukup terhadap banyak bidang kehidupan, tau dari mana potensi terbesarnya ada di mana?

Kalau dipikir pikir, bagaimana bisa di masa lalu di masa kejayaan Islam banyak sekali POLYMATH: cendekiawan yang jago banget di berbagai bidang.

Sebut saja nih.. Al Biruni.

Siapa itu Al Biruni?

He is an astronomer, mathematician, physicist geographer, historian, poet, novelist, and philosopher.

Eduuuun ga tuuh? MasyaAllah

Bidang eksakta iya, bidang Bahasa (sastra) juga iya. Dia disebut generalis atau spesialis yaa?

Mungkin ada yang berargumen, ya orang kaya dia kan gifted. Di jaman sekarang juga ada yang gifted cerdasnya di atas rata rata. Pertinyiinnyi, kok jaman dulu banyak banget yang gifted, jaman sekarang langka?

I believe, ok memang ada faktor genetik, tapi aku yakin ada juga faktor pendidikan, yaitu bagaimana sistem pendidikan saat itu. Jadi, berikan paparan bidang ilmu yang seluas luasnya buat anak. Akan ada waktunya kok akan benar benar terlihat mana yang perlu lebih ditekuni.

Generalis vs Spesialis

Pada usia tertentu, seseorang bisa saja menentukan apakah akan menjalani jalur generalis atau spesialis. Dalam berbagai artikel di website mengenai karir yang aku temukan, generalis vs spesialis bukanlah strata. Tidak ada yang lebih baik dibandingkan yang lain. Masing masing punya perannya. Generalis banyak dibutuhkan dalam sebuah organisasi karena kemampuan mereka yang lebih luas dan dapat memudahkan pekerjaan yang tidak membutuhkan kemampuan tinggi. Seorang generalis lebih mampu berpikir out of the box, punya pandangan luas tentang berbagai hal. Generalis maupun spesialis, ada kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Menjadi generalis atau spesialis hanyalah opsi. Tapi apapun itu, kita bisa menjadi orang yang disiplin, tekun, sungguh sungguh dalam belajar dan bekerja, dan membuat dampak, atas izin Allah. Rahmatan lil Aalamiin.

Perjalananku Memahami Vaksin (3)

LANJUTAN CHAT dengan Dr. Mila Anasanti

Bagian 1

Bagian 2

 

chat tab kiri: Rika

chat tab kanan: Teh Mila

 

dan vaksin udah sampai di tahap itu (meta analysis)

dari segi efektivitas dan keamanan ya

jd kl ibarat hadits tuh mutawatir teh

yups dr segi efektifitas dan keamanannya

makanya dibilang vaksin itu intervensi medis no 1 paling spektakuler dalam sepanjang sejarah kedokteran

ga ada obat2an lain yg seefektif vaksin dan semaan vaksin teh

jadi kepikiran yg lain, kalo vaksin buat bumil ada ga sih teh

ehh ada yaa, TT

ini bukan klaim saya ya, ini lah kondisi aslinya dlm dunia riset, makanya ya antivaks bawa2 kipi itu menggemaskan sekali

bumil tdk disarankan vaksin

makanya yg disarankan org2 di sekelilingnya

atau sebelum hamil

krn vaksin tdk diujikan pada bumil kan

jd semua resiko dan implikasi itu udah diriset dan akan terus diriset

ya kl diujikan kan kasian bayinya teeh kl kenapa2

jd riset vaksin itu gini loh

sebelum diaplikasikan ke manusia

diujikan dulu ke hewan hamil

biasanya yg dipake soal kehamilan ini tikus

krn sangat subur

naah kl di tikus aja gagal dan bahaya maka ga akan dilanjut ke manusia

dan tdk disarankan manusia jd uji coba

itu prosedur riset

ohh jadi dicobainnya ke keamanan janin tikus gitu yaa

pertama via sel dulu, dicoba kl sel diinfeksi virus reaksinya gimana dari jutaan sel brapa persen yg berhasil

ini namanya in vitro, naah kl berhasil, lanjut ke penelitian hewan (in vivo)

kl kebukti aman, lanjut ke manusia via uji vase 1,2,3,4

ada 4 tahap ke manusia

pertama manusia jumlahnya dikit dulu

dan mereka ini dibayar mahal

suami saya aja seneng ikut penelitian2 begini

flu vaksin misalnya

di UK ini bayarannya 40 juta kl mau jd ‘partisipannya’

tapi siap flu sebulan

waahhh krn dibayar mahal ya, hihi… dan kemungkinan besarnya sudah aman

dan ini belum dipastikan aman mendekati 100%

makanya ditawarin ini riset baru di tahap fase berapa baru pengujian tp dibayar mahal

iya kemungkinan besar sudah aman krn udah lewat fase sel dan hewan

tp tetep lom mendekati 100% aman

kl tahap 1 lolos, jumlah tahap penelitiannya dinaikkan

sampe tahap 3 sampe berjuta2 partisipan

vaksin HIV misalnya ya, itu partisipannya sampe 21 juta org

ngambil org2 Thailand yg hobi freesex sana

dimonitor selama 10 tahun

artinya apa? mereka dibayarin full dimoniror sampe 10 tahun efeknya

dan saat vaksin pun kompensasi jd partisipan dibayar

makanya kerugiannya trilyunan alias jutaan dolar itu teh

dan hasilnya apa? Hanya 50% yg efektif

mereka kan divaksin HIV trus hidup emang biasa free sex

ternyata hanya separuh yg kebal ga kena HIV

jadi vaksin HIV udahan kesimpulannya begitu? jd ga dikeluarin?

krn ga nyampe mendekati 100% ya ga bs dilepas di pasaran

bangkrut?

iyaa bangkrutlah penelitiannya, cuma negara maju itu kan pemerintahnya gede banget ngasih dana riset

ga dikeluarin mpe skrg vaksin HIV

masih terus diriset

kapok lombok teh namanya penelitian maah

kl gagal yaa diulang lagi nyari alternatif lain

diulang dr fase sel, trus hewan, trus bayarin partisipan manusia

gitu terus namanya riset mah

mknya seketat itu trus diluaran sono ada kaum pro hoax asal ngomong itu sangat menggemaskan

krn kita itu biasa ngalamin ngulang neliti

misal ngekultur sel, selnya mati

udah kayak miara anak aja

gitu juga ngetest ke hewan

kl tikusnya mati ya kudu ngeternakin lagi

dan bisa kena marah

hidup kadang sampe malam ga tidur cuma nungguin tikus bisa beranak atau gak

kl ke yg manusia jg gituuu

siap kena marah kl ada komplikasi

dan kl gagal yaa ngulang lagi risetnya

wis ribet laah pokoknya prosedurnya ketat

belum lagi kl neliti virus yaa

artinya kita siap disuntikin bermacam2 vaksin

biar ga ketularan saat neliti

kl bakteri ya siap dikasih antibotik dosis tinggi

dan siap resiko tertular kl lengah vaksinnya ga lengkap

bayangin deh gimana rasanya deketan ama berbagai macam virus

udah tiap haris harus rela kepanasan dan berat pake baju astronot itu

hooooo iya ya pake baju astronot terus

begitulah derita peneliti yg tdk banyak diketahui di luaran san dan dianggab remeh

teh mila pake gituan terus yak

ga terus2an teh, kan saya risetnya ga fokus terus di wet lab

waini tinggal di skrinsyut teh, kan katanya mau nulis apa itu yg bakalan panjang. ga usah nulis. Kalo nulis panjang terlalu rumit hihi. Kalo format chat simpel bacanya

iya memang kl format chat lebih simple dimengerti

tapiii ada kalangan lain teehh

yg akan nyinyir gini: mana ga ada datanyaaa

wkwkwkw

jd emang serba repot, antara ngomong harus bawa data tp jg jelasin kudu sesimple ini biar org paham

sesimple mungkin teh

tapi tetap bawa data

tetep panjang ikikikk

krn selalu dituntut bawain data

itupun masih ada yg komen diabwahnya ga dibaca dan tetep nanya kenapa gini gituu

coba gimana jelasinnya biar pendek kan susah

itupun panjang2 ga dibaca

kl pendek2 ga paham

makanya bingung saya kl nulis itu

tetep aja seliweran yg komen2 ga ngebaca tulisannya

https://library.downstate.edu/EBM2/pyramid12.jpg

ini tahapan penelitian teh pyramidnya

asaya udah nulis ini sblumnya

tapii panjaaang jadinyaa

makanya ga saya terbit2in

penjelasannya sama kek yg saya jelaskan ke teh rika

basic pertama penelitian ke sel, sampe ke animal research sampe tingkatan tertinggi meta analysis itu

itu semua butuh minimal 20 thn

saya nanya2 gini lagi krn khawatir upaya saya ngga cukup

malah menyesatkan orang

wajar kok teh

saya juga begitu

saya nulis di wall itu via istikharah teh

awalnya sy merasa lebih banyak yg berhak nulis

tp sy lihat tulisan dr provaks itu yg share paling mentok 2 ribuan saja

smeentara hoax kesehatan, misal KIPI itu yg ngeshare 40 ribu sampe 50 ribu

padahal dokter sekali lihat lesinya udah bisa diagnosis itu bukan karena vaksin tp penyakit lain

makanya saya berubaha pada titik saya harus ikut meramaikan

itupun sy istikharah dulu

ketika saya mendadak viral dianggab ahli

sayapun nulis ke wall menyatakan saya bukan ahli

dalam artian jgn sampai ada yg nganggab saya ahli trus inbox minta diagnosa dll

itu bukan wewenang saya

skrg udah ada yang ngeshare banyak ga teh

ini beneran saya nulis gini makanya saya bilang sy berenti nulis dulu

dlm artian menulis di publik itu harus hati2

bahkan bagi saya sendiripun harus hati2, dan sy masih memebatasi diri kl sy bukan bener2 sangat ahli seperti persangkaan org

naah sebenernya gini teh

yg lebih ahli dr saya soal vaksin itu banyak

misal dr hakim

cuma tulisan beliau itu terlalu melangit buat org awam wkwkwk

justru kemampuan saya bs nulis sampe viral itu krn menyederhanakan tulisan yg rumit2 itu yg ahlinya mungkin ilmunya kurang dlm menyederhanakan

padahal ilmu mereka lebih tinggi dr saya krn itu lebih ke bidang mereka

makanya dokter hakim itu maksa2 saya ikutan nulis dibukunya saya tolak berulang kali

laah saya merasa beliau lebih ahli kok

tp emang miss nya di situ kemampuan menjelaskan dg mudah dan sederhana

pake infografik atau animasi teh. pasti susah sih ehehehe

jd saya ini bukan ahlinya, banyak yg lebih ahli dr sy, sy cuma penggembira yg kebetulan tulisan sy lebih membumi dr mereka yg ahli itu, dan itupun tulisan saya masih tetap ga mudah dicerna bagi sebagian org

udah kaan teehh

liat deh postingan saya

oh yaaa? wah aku ketinggalan

kan ada animasi herd immunity

pakai video udah

pakai tulisan2 dan gambar di bikin kek slide pun udah

tetep itu ga bisa nyamain hoax yg dishare puluhan ribu org

memang bad news is good news sih ya..  judulnya menggemparkan

nah pake judul menggemparkan jg kali hehe

betulll

iya yg menggemparkan kmrn itu bu bidan nyuruh emak antivaks kl melahirkan ga usah dibius aja

ga usah dijahit

kan biusnya ga halal

yg begitu baru bisa masuk ke logika AV

memang harus model2 gitu buat nyaingin hoax AV

teh itu data kipi yang dikumpulin seorang teman, kok banyak bener ya. Apakah itu pengaruh psikologis orang2 ya, bisa berpikir oh kalo sakit pasca vaksin berarti krn vaksin, trus ramai2 melapor sehingga kesannya banyak

iya betul itu pengaruh psikologis juga hoax teh

padahal sakitnya misalnya herpes

trus dapet cerita2 org yg dikenal jg, ngelapor kipi tp nakes keukeuh bilang bukan krn itu. Sebenernya potensi kipi itu memang ada kan? hanya sangat kecil begitu? atau gimana

ga ada hubungan ama vaksin

qadarullaah terjadi setelah vaksin

dianggab krn vaksin

nyataannya, adakah di antara AV itu yg punya hak praktek?

jd dokter beneran praktek loh

ga ada

fulanah1 dan fulanah2 (dokter dari kalangan AV) itu ga praktek

jd ga bisa negakin diagnosis

coba kl dari av ada yg bisa diagnosis, kan mereka kuat posisinya mau ngelapor

emang didiagnosis krn vaksin, ngelapor ya pasti menang kl mau gugat

kenyataannya kan ga ada

jadi kipi itu 0 possibility atau gmn teh

krn kl beneran jd dokter dan praktek ga bakalan jd antivaks

liat penyakitnya langsung tau ini bkn krn vaksin

kipi itu teh setelah vaksin lewatin fase2 penelitian yg panjang puluhan tahun tadi yg saya jelaskan yaa

kipi itu ibarat org kecelakaan pake mobil teh

apa berarti mobilnya ga aman?

kipi tentu ada yg terjadi tp itu faktor X di luar keamanan vaksin

org naik mobil aja kan harus punya SIM kan?

harus pake sabuk pengaman, kl gak ya kena tilang

tp kok masih ada kecelakaan mobil?

bentar2 mikir

yaa begitulah vaksin teh, kl prosedurnya maah sudah seketat mungkin, risetnya jg seketat mungkin

tataran teori ya 100% aman

sama kek kl teteh udah punya SIM

mobilnya baru dan dah disertifikasi lolos uji dan aman

jadi data kecelakaan mobil itu perlu ada tp tidak akan jadi feedback desain mobilnya sendiri (yg sudah melewati tes)

trus naik mobilnya jg ga ugal2an dan udah pake sabuk pengaman jg

adi data kecelakaan mobil itu perlu ada tp tidak akan jadi feedback desain mobilnya sendiri (yg sudah melewati tes) –> data kecelakaan mobil yg bukan krn mobilnya bermasalah yaa

biasanya kan bermasalah krn perawatan ga bener

human error

yg itu keteledoran

yg mana kasuistik

dalam hal ga bisa kita asumsikan semua pengendara mobil pasti teledor

ada kan yg mendadak rem nya blog

naah teh vaksin dilaksanakan itu jg pake prosedur sangat ketat tata laksananya

sama kek ada polisinya

ada SIM nya

ada sabuk pengaman dll

tp ya di dunia ini ga ada yg 100% aman

ga ada

tp dlm tataran riset ya 100% aman

kek mobil, pesawat, itu kan sblum dilepas dipasaran udah ada test drivenya

yg ngendarainnya jg udah ditest utk dapat SIM

ya vaksin ya begitu

jd prosentase KIPI itu keciilll sekalii yg beneran krn vaksin

jd sebenernya followup laporan KIPI sesuai SOP itu akan digimanakan teh

krn KIPI krn vaksin itu ya cuma demam2 biasa aja

kl sampe meninggal itu kemungkinan ada salah pd kemasan vaksin (yg mana ini jaraangg banget terjadi)

KIPI itu wajib dilaporkan teh

krn ya seperti yg saya jelaskan meski prosentasenya sangat sangat kecil tetep ga menutup kemungkinan ada

dan sudah ada prosedur pelaporannya

sama kek kecelakaan lalu lintas jg akan dilaporkan ke polisi

polisi akan menginvestigasi penyebabnya apa

kl emang krn desain mobilnya akan dilapor ke pabriknya dan bisa ditarik itu mobilnya

berarti data KIPI itu akan diinvestigasi kan

vaksin jg bisa ditarik semua kl mmg krn vaksinnya krn salah pengemasan dsbnya

emang pasti diinvestigasi teh

tp KIPI yg beneran KIPI loh ya

kl dari lesi aja herpes misalnya

yaa itu mah ga perlu investigasi

dokter aja lihat gambar udah tau itu akibat apa

kl yg beneran KIPI bakalan beneran direport

krn kl vaksin ga efektif yaa kl ada korban wabah pemerintah jg yg bayarin trilyunan

berarti ‘kipi’ yang sejak awal keliatan ga ada hubungannya ga akan direport ya

BPJS itu kondisinya skrg sekarat

hutang pemerintah nunggak

berarti ‘kipi’ yang sejak awal keliatan ga ada hubungannya ga akan direport ya –> ga akan direport karena vaksin

ah iya itu maksudnya

iya

makanya KIPI jd banyak banget listnya

yaa krn kasat mata bukan krn vaksin

tp terjadi setelah vaksin

kl antivaks mau ngeyel yaa jd dokter dulu

Teh Mila sabar bener jelasin ke aku makasih yaa. jangan2 ngejelasin ini mulu ke orang tiap hari

biar paham dbahwa jawaban koinsidens itu bukan demi nutup2in vaksin, tp begitulah realitasnya

Teh Mila sabar bener jelasin ke aku makasih yaa. jangan2 ngejelasin ini mulu ke orang tiap hari –> emaangg ngulang2 yg sama tanya deh pipi jg nanya begini saya jelasin panjang lebar begini dr dulu2 jg

oh iya mumpung bahas ini, nanya… jd autoimun yang ga boleh divaksin tuh apa aja ya

jd autoimun ini kan imunitas tubuh agresif teh

sehingga sampe memakan sel yg sehat

jd dikasih obat imunosupressant

supaya reaksi imunitas tubuh bs ditekan ga agresif

naah kl imunitasnya ditekan, dikasih vaksin dr cirus yg dilemahkan (vaksin aktif) ini bisa ga terbunuh virusnya

beda dg org yg ga pake imunosupressant, tubuh punya kemampuan membentuk antibodi

jd ada virus lemah ga sampe sakit langsung dihajar

maka pd org autoimun vaksin tetap direkomendasikan

tapi vaksin inaktif

vaksin inaktif itu bukan dr virus dilemahkan

tapi biasanya diambil antigennya saja

antigen mah ga bs hidup dan ebrkembang biak

jd ga berpotensi sakit

kl yg autoimun dan ga pake imunosupressant ya mau yg aktif ama inaktif tdk masalah

berarti pernyataan yang benar adalah: autoimun jenis apapun boleh divaksin dgn vaksin inaktif?

jd kl ada vaksin masal misal ada org yg ga tau autoimun atau ga

brarti kan ga pake imunosupressant toh

jd mau dpt aktif dan in aktif ga masalah

berarti pernyataan yang benar adalah: autoimun jenis apapun jika minum imunosupresan boleh divaksin dgn vaksin inaktif?

sedangkan yg punya autoimun dan pake imunosupressant justru dianjurkan vaksin dg vaksin inaktif

yups vaksin inaktif ga masalah

https://www.thh.nhs.uk/documents/_Patients/PatientLeaflets/general/150325-Leaflet-GuideToVaccinations-AJ.pdf

www.thh.nhs.uk

thh.nhs.uk

jd org autoimun yang gak tau kalo dia autoimun, tetep dapet manfaat vaksinnya. Masalahnya, dia tetap autoimum (dan mengalami gejala2nya)

ini loh departemen kesehatannya Inggris (NHS) tetap menyarankan yg autoimun untuk vaksin

ada guidancenya di situ

kl yg pake imunosupressant dianjurkan ngambil vaksin inactive saja

yang gak tau kalo dia autoimun kan ga minum imuno

betulll

kek yg dikisahkan Ana itu

jd ya ga masalah sbnrnya divaksin

trus kl ternyata ada regresi dll dst itu mah regresi krn punya penyakit autoimunnnn

bukan kr vaksin

klpun ga divaksin ya akan ngalami itu regresi

namanya jg sakit autoimun

ga ada hubungan ama vaksinnya

kl org autoimun divaksin yg aktiv padahal punya autoimun

dampaknya apa?

dampaknyaa ya jadi sakitt

kek dikasih vaksin campak

yaa dia bakalan kena sakit campak parah beneran

itu bentuk KIPInya kl org autoimun yg pake imunosupressant itu dikasih vaksin aktif

kl dikasih vaksin inaktif ya ga masalah

kalo aku udah out dari grup mana mana teh, wkwkwk. Soalnya nanya beneran curious buru2 ditangkis dianggap musuh. Ah capek keluar aja deh

wong mau belajar murni, hiks

tp alhamdulillah terang benderang td dijelasin teh Mila. Padahal awalnya saya ngga nanya itu krn udah lelah belajar vaksin. Uwis taklid aja sama dokter saya (Dr Apin)

sebenarnya kl nanya akan dijawab baik2 teh ==> engga, ga dijawab baik2 padahal sy nanya baru sekali. bukan teh mila lah pokoknya… oknum lah, trus pas saya baper ahahah

tp kl ngikutin dr kedua pihak ga berhadapan emang susah teh utk lihat mana yg ilmiah beneran dan mana yg nggak

engga, ga dijawab baik2 padahal sy nanya baru sekali. bukan teh mila lah pokoknya… oknum lah, trus pas saya baper ahahah –> ohh ini terjadi juga emang di gesamun

pada garang2

iya emang gesamun ahaahha

krn kebiasaan ngadepin antivaks yg bandel2 itu jd main pukul rata semua

ini juga sempat saya tegur kawan2 saya jangan digituin kl org awam

mungkin nanya krn curious aja

tp kl ngikutin dr kedua pihak ga berhadapan emang susah teh utk lihat mana yg ilmiah beneran dan mana yg nggak ==> lhooo, jadi orang musti punya kecenderungan sejak awal dong teh. ga bisa orang netral sebagai modal awal ya

sempat jg saya clash sama kawan2 medis krn sy ngingetin mereka jangan galak2 kl sama yg awam

ya gitulah posisi di tengah itu kadang jd public enemy

lhooo, jadi orang musti punya kecenderungan sejak awal dong teh. ga bisa orang netral sebagai modal awal ya –> bisa asal skeptik teh

syaratnya gini: sbg org netral kl mau tau yg benar liat dr dua pihak saat berhadapan

bukan dlm waktu yg berbeda

susah verifikasi yg benarnya siapa

krn ga berhadapan

kedua skeptik, jangan mudah percaya

selama masih ngambang jgn dianggab sbg kebenaran

jd tetap gunakan format bertanya

kita jg kl meneliti diajarkan skeptik ini rule terkuat

jd kita boleh punya ide aneh pingin neliti seneyeleneh apapun

tp ini hrs jd alternatif hypothesis, kita lalu eksperimen

kl dr hasil eksperiment itu ga terbukti ya kita kesimpulan risetnya alternatif hypothesis kita tertolak

padahal bisa saja hypothesis kita benar tp perlu riset lanjutan

tp kita ga bs declare sesuatu yg masih tahap mungkin harus mempertahankan kebenaran umum (istilahnya hypothesis nol) yg buktinya lebih kuat

misal vaksin HIV

30 th dikembangkan efektif cuma 50%

kan bisa aja kita bilang ohh kl diimprove dikit bisa naik jd di atas 95% jd sbnrnya vaksin HIV masih ada kemungkinan efektif

ternyata gak gitu, tetap harus dibilang ga efektif dan ga layak diterbitkan di pasaran

kl mau improve yaa silakan aja improve, test ulang kl ternyata beneran di atas 95% bahkan 99% efektif baru boleh declare ini efektif

begitu rule dlm dunia riset: SKEPTIK

sesuatu yg tdk dimiliki oleh tokoh antivaks yg modal ini kemungkinan bisa gantiin vaksin

we dont accept kemungkinan, meski bukan berarti kita berhenti ga ngeriset itu

ok, berarti syyaratnya kalo mau dimulai dari netral adalah skeptik

sama kok vaksin hiv diriset ulang meski gagal

terjun di kedua grup pake baju besi ahaha

artinya level kemungkinan itu tetap kita kejar, tp kita tdk boleh bicara di publik kl yg mungkin itu boleh dipake

betulll skeptik

saya dulu awalnya antivaks loh

hoyaaaaa??

thn 2005 itu sblum av marak sy baca penelitian wakefield soal autisme

krn ini riset kuat jelas sy percaya donk

wow.. riset kuat?

dulunya statusnya kuat?>

ternyata baru thn 2010 penelitian wakefield terbukti pake subyek palsu

subyeknya dibayar utk bikin klaim palsu

dan akhirnya bocorlah

partisipan2 itu pada membocorkan

akhirnyaa ditarik itu riset

wakefieldnya sendiri di penjara

berarti dia punya niat bikin kesimpulan itu ya. buat apa ya

krn malsuin penelitian

buat jualan alternatif vaksin versi dia wkwkwk

dan emang dia bikin produk baru yg dia klaim bisa gantiin vaksin

itu namanya conflict of interest kl dlm dunia riset

mirip2 av nolak vaksin trus propose probiotik taunya dia jualan probiotik wkwkwk

oiya teh kalo probiotik2 itu jg blm kebukti ya

wakefield jg begitu

ehhh kok bareng nyebutnya

belum kebukti teehh

malah riset saya ini salah satunya gut microbiome

kan ya ngeledek aja itu org2 av main klaim gut microbioem bisa buat ini itu

saya yg ngeriset langsung aja skeptik kok selama blum terbukti ya saya bilang ga ada efektifitasnya buat diklaim gantiin vaksin

berarti salah satu hipotesa nya adalah bisa jadi efektif ya

berarti minum2 aja coba2, boleh ga.. mumpung punya uang

laah trus saya ngeriset buat apa? yaaa buat dibuktikan efektifitasnya buat tubuh itu apa, kl ga terbukti ya harus diulang baru berani bilang terbukti kl beneran terbukti, kl gagal ya dibilang gagal

iya hypothesis awalnya bukan terbuktih sih buat ganti vaksin

secara teoritis udah slaah

gut microbiome itu diteliti buat nanganin penyakit2 non infeksi

maksudnya,… salah satu hipotesanya adalah efektif utk sakit2 tertentu?

yg saat ini jd pembunuh no 1 di dunia

diabetes

jantung koroner

dll dst itu

yup alternative hypothesisnya utk itu

kl ga ada vaksin, penyakit pembunuh no 1 mah penyakit infeksi teh

boleh aku tau spesifiknya .. judul penelitiannya apa teh.

dan penyakit infeksi so far udah well established pake vaksin

ga ada riset alternatifnya

ini salah satunya: Human gut microbiome and polycystic ovary syndrome

jd penyakit spesifik aja teh non infectious disease alternative hypothesisnya

dan itu selama belum terbukti ya ga bisa dibilang efektif

kl utk penyakit infeksi yg menular yg ada vaksin mah ga bs digantiin ama gut microbiome

antigen ganas hanya bs digasak kl tubuh mengenali antigen itu sblumnya

via vaksin

bukan dg dihadapkan ke bakteri baik

puluhan ribu tahun dr yg makanannya sehat2 macam yg tinggal di pedalaman amazon itu

itu gut microbiomenya terbaik

tp ya banyak meninggal krn penyakit menular

Catet: penyakit infeksius ==> vaksin. Non infeksius ==> potensi microbiome

maaf kurang update, teh Mila skrg tinggalnya dmn ya

penyakit non infectious itu kebanyakan krn salah pola hidup the

yaitu salah pola makan

dan gut microbiome itu terpelihara dg baik dg pola makan yg benar

jd emang solusi utk penyakit2 macam diabetes, jatung dll dst itu emang via gut microbiome ini kandidat terkuatnya

sy tinggal di UK

wakefield itu 1 univ dg saya skrg

sblum saya jd provaks, sy belajar thibbun nabawi bareng penggiat thibbun nabawi di Indo

mereka ini cikal bakal antivaks di Indo

naah penulis buku pertama antivaksin yg naik cetak 8x itu dulu kawan 1 group jg belajar thibbun nabawi

jd sebelum itu buku naik cetak 8x sy udah tau itu buku pas dicetak baru pertama kali

haduh, trus jadi kesannya musti berseberangan ya, vaksin sama thibbun nabawi. sedih

tau penulisnya dan akrab dg pemikiran2nya

itu masa sy masih di indo lom lanjut sekolah di bidang medis

naah di situ sy dalam posisi masih anti medis loh ya awalnya

cuma saya cukup rasional

saya sering kritisi kok penjelasan mereka ga masuk akal

dan mereka ga bs jawab

so kl ditanya soal thibbun nabawi yaaa… believe me deh dibanding org2 av itu

mungkin saya lebih dalem belajrnnya

krn ga cuma belajar aplikasinya kek mereka loh ya

sy biasa bekam, ngeruqyah dll dst yg mereka jg bisa

tp krn curiosity saya besar saya jg baca2 kitab thibbun nabawi dan karya2 ibnu sina dan ulama2 muslim terdahulu

sesuatu yg mereka ga sampe sedalam itu melajarinnya

tdk juga dr Fulanah1

jd sy ini bukan provaks hardcore ujug2 provaks

3 ponakan saya dr 3 kakak saya itu autis

gen autis sangat kuat di keluarga kami

kakak saya tiga2nya jg awalnya nolak vaksin

saat gencar2nya penelitian wakefield itu

alhamdulillaah skrg provaks semua

dan paham kl autismenya itu bkn krn vaksin

vaksin dan thibbun nabawi itu sbnrnya ga berseberangan teh

cuma org2 yg salah kaprah aja yg bikin itu jd berseberangan

dan mereka ya emang susah diluruskan

iya, kesannya berseberangan

ada yg saya tarik utk saya luruskan namanya mbak Fulanah3

beliau itu dulu sampe jd instruktur pengajar thibbun nabawi

tp beliau termasuk yg logis, dan akhirnya berubah jd provaks

dan kl ditanya soal thibbun nabawi mah mbak Fulanah3 jauh lebih jago dr bu dr Fulanah1

tapiii yg antivask bebal ga bs dijelasin maah buanyaak kawan2 kami

sebagian yaa nganggab kami speerti penghianat ilmu thibbun nabawi

meski masih ada di friendlist saya tp biasanya silent reader hehehe

jd komunitas sy ini awalnya justru kawan2 antivaks jauhh sebelum gaung antivaks rame di dunmay

sy berkawan dg kawan2 AV di komunitas mereka itu era thn 2007 an

masih jauh lah gaung av di medsos

so sy sbnrnya awalnya netral loh ya

datang dr dua group antivaks dan provaks

cuma kl kita ga memverifikasi dalam emang mudah kepengaruh hoax2 mereka

mbak Fulanah3 itu jg dulu sy ga bisa ngelurusin

saya cemplungin aja ke gesamun

sempat dicibirin org2 gesamun pas awal2 masuk

krn masih kental aura antivaks mbak isra saat itu

tp mbak Fulanah3 itu pembelajar sejati

jd endingnya bagus beliau bs memilah informasi dg benar dan skrg ngebantu snagat ngelurin hoax2 seputar thibbun nabawi

udah antivaks, dicibirin, masi bertahan ngosongin gelas

betull langka yg kek gitu

pembelajar sejati

mbak Fulanah3 itu punya web thibbun nabawi yg masih banyak hoax2nya jg

pas era belajar dr dua sisi itu beliau rombak tulisan2nya

tp masih sering ngulas soal thibbun nabawi jg dg sudut pandang yg benar kali ini

padahal musuhnyaa banyaka

dr kawan2 antivaksnya

 

Perjalananku Memahami Vaksin (2) : Landasan Ilmu

Lanjutan dari BAGIAN 1

chat tab kiri: Rika

chat tab kanan: Teh Mila

 

Bingung mulainya dari mana, agak random gapapa ya teh 1. Nyambung sama pseudo2an dan psikologi, setahu aku banyak psikolog yang menggunakan tools terapi yang pseudoscience. Apakah ada situasi tertentu (mm mungkin dalam ranah psikologi atau mungkin secara umum kalo teh Mila tahu) di mana memang diperbolehkan untuk menggunakan yang pseudo, untuk men terapi umum, bukan untuk diri sendiri?

 

bidang psikologi itu memang bidang yg paling banyak pseudosciencenya teh krn ini urusannya dengan ‘jiwa/ruh’

sedangkan jiwa tidak bisa dimeasure

maksudnya klpun diterapkan di banyak orang, hasilnya besar kemungkinan beda2

sama seperti ruqyah

jd patokannya gimana? lagi2 jawabannya sama seperti ruqyah

ini krn ruqyahpun ada yg batil dan ada yg disyariatkan

yg disyariatkan seperti apa? Rasulullaah shallaahu alaihi wassallaam tdk memberikan contoh spesifik seperti apa, hanya memberikan batas tegas

SELAMA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT, TIDAK SYIRIK

Naah kl pandangan saya soal ilmu2 psikologi juga begitu

meski mungkin masih pseudoscience selama tdk bertentangan dg aqidah silakan aja diaplikasikan

untuk didoktrinkan ke org umum, intinya harus dijadikan sbg alternativ

dlm arti kl itu masih ranah pseudoscience misalnya, maka harus ditekankan jg bahwa terapi ini masih dalam pengembangan

so far kl belum ada alternatif lain yg bisa dikerjakan maka kita pakai dulu

 

statusnya harus dijelaskan ya teh

kl memang bisa dijelaskan haurs dijelaskan teh

krn sy senang belajar tepri psikologi awalnya krn nangani kasus2 kawan yg butuh di ruqyah

inipun saya ga akan langsung ruqyah

biasanya lebih efektif kl diberikan pemahamannya dulu

naah itu mungkin kl bukan muslim ya

sy pernah nemu bbrp psikolog yg muslim mereka bahkan terang2an bilang belajar psikology ini dilema

krn bbrp berlawanan dg aqidah

malah ada yg lucu jg saat saya nganterin kawan udah jauh2 sy pikir bakalan dapat terapi apa gitu

ujungnya disuruh mendekatkan diri ke Allah

ada kawan yg psikolog lebih ekstrim lagi sampe akhirnya galau dan berhenti

padahal sebenernya ya ga semua ilmu psikology itu ga berguna

justru banyak yg berguna

cuma memang kedudukannya ‘alternatif’

 

menurut teh Mila yang tepat, tetap dipilih pilih yaa, sayang porsi yang bermanfaatnya

sama seperti ruqyah, kita ga bs jamin bakalan sembuh dg ruqyah, tapi akan tetap disarankan cara2 lain sampe endingnya sembuh

iya kl saya soal psikology lebih sepakat utk dipilih2

krn masih banyak yg berguna

arahannya sama dg ruqyah

selama tdk bertentangan aqidah mk boleh diaplikasikan

dengan tanpa menjadikan itu sbg satu2nya solusi sebagaimana yg udah terbukti

beda dg dalam dunia medis

misal udah lewat fase penelitian terkonfirm maka tdk ada alternatif lainnya kl alternatif itu blum melewati penelitian dlm tahap yg sama

utk pseudoscience yg alternatif maka kl diterapkan ya kita terapkan utk mendapatkan kebaikan, tp dg pengetahuan kasuistik bisa jd hasilnya beda2 tiap org

so tetap memungkinkan menerima terapi alternatif lain

alias tdk bs diklaim sbg satu2nya solusi penanganan dlm masalah khusus itu

 

 

Nanya tentang praktisi non akademis,  misalnya praktisi hipnoterapi, konselor keluarga, menyusui

nah ini teh kl yg tdk tersertifikasi memang sy agak anti ya

krn banyak praktisi doulah, dll dsb yg sebenarnya hanya modal ikut training sepekan saja

beda kasus dg yg tersertifikasi ya

nah kl lembaga sertifikasipun belum diakui keilmuwannya maka ini lebih hati2 lagi

 

hati2 nya tuh lebih baik ga usah atau gmn ya

adakah lembaga yang berwenang mengakui keilmuan di segala bidang?

misal coach olahraga deh, yg udah menempuh training beratus ratus jam, belajar anatomi, nutrisi. Tapi ya… bukan dokter

ya maka dia hanya berhak bicara di lingkupnya saja teh

kan bukan dokter

jd kl soal training olah raga tentu dia lebih paham

 

dia bakal bicara beririsan dgn ilmu dokter tp. Gimana memposisikan diri biar ga melanggar kewenangan

maka cari tau teh lewat jurnal ilmiahnya

kl tdk mampu bertanya pada ahlinya kl memang ebririsan

selama dia bicara tdk bertentangan dg alinya boleh saja org awam bicara di publik

yg ga boleh itu org yg bukan bidangnya bicara di publik bertentangan dh pendapat umum dr ahlinya

 

ada ga teh pedoman cari informasi sahih yang mudah bagi orang awam. Krn kan ternyata jurnal2 itu jg gak bisa dibaca sebagai 1 jurnal doang lalu menyimpulkan

jd bukan berarti org awam ga boleh ikut menyampaikan ilmu ya

selama ilmu itu tdk bertentangan dg pendapat ahli maka ini boleh banget

ini namanya meneruskan ilmu

cari informasi shahih di internet biasanya baca jurnalnya cari yg level meta analysis teh

itu level jurnal gabungan merangkum dari berbagai jurnal dr seluruh dunia

level paling tinggi keshahihannya

jd kl nemu jurnal ga ada kata systematic review/meta analysis hrs skeptik duluan

kebanyakan org jualan herba sambil abwa2 ini sudah diteliti penelitiannya ga sampe level systematic review

utk penelitian2 yg belum sampe tahap itu harus disikapi dg skeptik

sbg alternatif, bisa jadi salah bisa jadi benar

dan ga boleh disebar di depan umum sbg sebuah kebenaran utk diikuti

 

kalau penelitian di bawah systematic review, tapi tidak bertentangan dgn apapun, dan blm diteliti sampe systematic review, boleh digunakan/diajarkan?

mknya pedoman dokter itu ahrus mengaplikasikan yg levelnya sistematik reviw/meta analysis, kl gak bsia diperkarakan dan dituntut sampe penjara

beda sama pengobatan alternatif

 

macem hadis dhoif tapi penuh hikmah, dan tdk bertentangan dgn yang sahih

tidak ada undang2nya

kl ada mall praktek ga bisa dituntut, susah nuntutnya

krn asumsinya si pasien sudah harus siap menanggung resikonya sendiri

kalau penelitian di bawah systematic review, tapi tidak bertentangan dgn apapun, dan blm diteliti sampe systematic review, boleh digunakan/diajarkan? –> betul selama ga bertentangan jd bsia diaplikasikan

tp selevel hadits dhaif dalam fadahilul amal

artinya hadits tsbt bisa diaplikasikan utk kebaikan tp ga boleh dipercaya kl itu dari rasulullaah hehehe

naah yg ga sampe level systematic review/meta analysis jg boleh diaplikasikan tp disikapi sbg: belum terbukti efektifitasnya terjamin pada semua org

jd sekedar dicoba sbg alternatif kebaikan

 

yes, musti ditekankan ya.. biar ga nipu

sambil menunggu solusi yg lebih kuat buktinya

betul mesti ditekankan

kl memang ingin mengedukasi ya

tp kl yg awam banget jelasin gini emang butuh waktu

krn org awam biasa modal testimonial

padahal dlm dunia medis misalnya, testimonial itu banyak biasnya, banyak yg gagal tp ga muncul dipermukaan lewat penelitian, testimonial2 itu dikumpulkan sampe berjuta2 baik yg gagal maupun yg berhasil lalu diukur dg statistik, berapa persen yg valid dg hasil bagus dan mana yg enggak, kl di atas 95% maka terbukti

lalu digabung sama penelitian lain dr negara2 lain yg mereka juga ga kenal kita

itulah meta analysis

 

BERSAMBUNG KE BAGIAN 3

Perjalananku Memahami Vaksinasi (1)

Status saya saat ini sebenarnya masih agak apatis terhadap isu vaksin. Dahulu kala, saya pro vaksin semata mata karena semua orang vaksin, jadi saya anggap itu hal yang biasa dilakukan.

Sampai ketika seiring dengan perkembangan dunia maya, muncul isu pro kontra vaksin yang menggugah saya untuk unlearn dan relearn pemahaman tentang vaksin. Tanpa saya sadari, saya orangnya skeptis sehingga saat mempelajari sesuatu, mindset dasar saya adalah bisa jadi pengetahuan ini salah, walaupun bisa jadi benar. Atas nama menjunjung obyektivitas, saya terjun di lingkungan pro vaksin dan anti vaksin, dan berusaha memahami sudut pandang masing masing. Walaupun skeptis, tapi tetap berusaha husnuzon pada niat baik semua orang.

Ketika saya tidak paham argumen provaks in, saya bertanya. Ketika saya tidak paham argumen antivaksin, saya pun bertanya. Selayaknya murid bertanya pada guru. Tapi ternyata forum forum ini sudah berperang terlalu lama sehingga menimbulkan luka di hati masing masing. Apa yang terjadi? Pertanyaan saya yang netral pada suatu titik dianggap sebagai ancaman, barangkali dianggap mata mata, sehingga diskusi dengan segala pihak tidak pernah konklusif dan berakhir dengan agree to disagree, bahkan parahnya.. Ada yang berhenti diskusinya dengan tidak damai, dan membawa luka. Memegang pendapat sudah seperti berakidah saja. Akhirnya saya muak dengan semua itu dan keluar dari segala grup. I did my own research tanpa guru (yang mana hal ini juga tidak aman karena saya bukan ahlinya). Tapi ya saya sudahlah saya jalani karena ini lebih terasa damai dan juga tidak menyakiti siapapun, dan yang penting tidak menyakiti diri sendiri (ga harus berhadapan dengan orang yang mudah menghujat seseorang yang niat belajar). Akhirnya saya memutuskan untuk tetap vaksin dengan perasaan yang so-so alias tidak yakin yakin amat. Hanya berbekal dorongan kecenderungan hati dan masih tersisa pertanyaan kenapa laporan KIPI begitu banyak. Justru karena saya merasa sangat terbatas kemampuan belajarnya dalam hal ini, saya memutuskan untuk mengikuti pendapat ahli (ahli yang diakui oleh peers nya tentu saja).

Sampai akhirnya saya bertemu dengan orang yang saya anggap pantas untuk menjadi guru (walaupun saya tau bangettt dan sadar tetap harus kritis ngga boleh taqlid, jadi tetap saya saring).

Apa yang berbeda dari teh Mila Anasanti adalah, beliau akan melayani pertanyaan sampai tuntas. Bahkan ketika saya sudah lelah diskusi, beliau teruuuus dengan sabar menjelaskan. Berbeda polanya dengan diskusi di dunia maya yang seringkali terjebak dalam logical fallacy, ad hominem, isu melebar dan gagal paham tentang fokus diskusi yang berujung pada pertanyaan yang tidak terjawab, akhirnya mengambil jalan masing masing (ini terjadi di kedua pihak ya… Di pro maupun anti. Makanya saya muak)

Yang saya tangkap dari beliau adalah, tidak ada istilah ‘jalani saja sesuai keyakinan masing masing’ atau ‘tidak bisa ketemu’. No. Ilmu adalah ilmu. Semua ilmu harus bisa dipertanggungjawabkan dan punya kaidah mengenai tingkat kepercayaan dan bagaimana ilmu itu diturunkan pada orang lain dan generasi selanjutnya. Salah kaidah, kita bisa terjebak dalam mempercayai hoax selama lamanya, bahkan antar generasi.

Kepercayaan antar generasi sudah jadi kisah berulang yang menjadi sebab mengapa Nabi diturunkan. Maka semoga kita tidak terjebak di sana, dengan belajar merunut informasi yang kita dapatkan.

Apakah ilmu hasil kajian peneliti ini mutlak benar sehingga dijunjung tinggi menggantikan wahyu? Ya tidak. Manusia punya keterbatasan pemikiran kan. Kalau bertentangan dengan wahyu ya tinggalkan. Tapi jika tidak bertentangan, apa lagi yang bisa kita pegang selain ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan? kapasitas pertanggungjawaban manusia hanya sebatas kapasitas otaknya, ya jalani sesuai batasan saja.

Sebelum kebanyakan menyampaikan opini, saya mau mengenalkan teh Mila berdasarkan informasi dari FB guru saya yang lain, Teh Yuria Cleopatra.

 

Yuria Cleopatra said:

Temans, lukisan ini bagus ya? Kata saya sih baguuus banget..hihi..secara saya mah ngelukis gunung aja bisanya yang lengkungan dua pake matahari di tengah trus ada jalan mengular dari pinggirnya. Kebayang kan kayak apa? Haha…ga tau gunung apa itu bisa fenomenal gitu..sampe semua anak seragam lukisannya 😝.

Lukisan ini adalah karya Mila Anasanti, salah seorang fesbuker yang sukses membuat saya terbengong2. Beliau adalah seorang muslimah cerdas yang menguasai banyak ilmu.

Temen-temen ingin tau tentang rukyah? Tanya saja sama dia. Penasaran tentang Thibun Nabawi? Ngelotok banget dia di bidang itu. Ingin tau tentang biologi? vaksin? Dia pasti bisa menjelaskan sampai kita ngerti dengan bahasa yang mudah dicerna. Mau tau tentang ilmu halal haram? Dia juga paham. Mau tau tentang sains dalam perspektif Islam? Dia ngerti juga.

Pemahamannya yang komperehensif di bidang bahasa Arab, syariah, hadits, sains, IT, membuat teman-teman di grup wa nanya : “Dia Itu ‘orang’ apa bukan sih?” Makannya apa bisa pinter gitu?
Lulus S1 ITB Informatics Engineering, S2 Biomedics, S3 Clinical Medicine, S3 lagi Genetics, sambil kuliah Jurusan Syariah, sambil kuliah juga di Imarat. Saya mau ambil S3 sekali aja belum kesampaian.
Masih juga bisa melukis?? Ini otak kanan dan kirinya segeda apa ya?

Ternyata penguasaan beliau tentang BIG DATA jadi salah satu kuncinya. Di era digital ini, ahli BIG DATA memang bakal jadi ahli di segala bidang, karena dia akan mampu mengolah, menganalisis dan mensintesa data dengan akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Bukan asal comot kalimat, potong sana potong sini untuk memenangkan nafsu pribadi.

Orang macam ini nih, yang kalau baca postingannya bikin saya ingin mojok di ujung mesjid sana ngapalin berjuz-juz al Qur’an. Bikin saya ingin ngendon di kamar buat nelaah buku-buku tafsir Qur’an. Bikin saya ingin ngendon di perpus sana buat baca berbagai buku klasik. Bikin saya ingin gelontor duit berjuta-juta buat langganan jurnal ilmiah. Bikin saya ingin lari pontang-panting belajar hadits. Bikin saya ingin beli tab terbaru buat baca ebook (eh..modus). Tapi..bikin saya sedih karena udah setua ini dan saya belum belajar apa-apa 😢😢.

Mudah-mudahan Afra Ik nanti bisa banyak belajar seperti ini..meneruskan genre muslimah modern yang kaya ilmu. Memberikan pencerahan pada ummat, dan membuktikan bahwa ummat Muslim bukan ummat yang jumud dan terbelakang.

Nb. Maaf Mila, pinjem lukisannya boleh ya..buat jadi penyemangat saya. Barakallah fiik

 

BERSAMBUNG KE BAGIAN 2

Relearn Tauhid

Di luar sana sedang ramai ramai di sosmed tentang bendera tauhid. Saya jadi ingin mengunjungi kembali sejauh mana pemahaman saya tentang tauhid.

Pemahaman sederhana selama ini yaitu bahwa tauhid adalah menuhankan Allah yang satu. Esensi surat Al Ikhlas. Lalu saya jadi ingin mengunjungi kamus online wikipedia (jangan jadikan rujukan utama yaaa). Ternyata tauhid tidak sesederhana itu. Ada 3 jenis tauhid: uluhiyah, rububiyah, asma wal shifat.

Walaupun akhirnya dropped out karena keteteran, alhamdulillah sempat mengikuti halaqah online fenomenalnya Ustadz Abdullah Roy, bab tauhid.

Hasil gambar untuk tauhid

Ternyata, tauhid tidak sesederhana mengerti dan setuju arti syahadat. Banyak hal yang baru diketahui. Banyak hal yang perlu dievaluasi dari diri. Yaitu tauhid yang berdasarkan dalil, bukan berdasar insight pribadi.

Ngomong ngomong, saya malu dan kapok pernah termakan oleh hoax, gara gara percaya berita katanya orang yang terpercaya, tapi tidak dari sumbernya. Ternyata beritanya tidak valid. Astaghfirullah ‘adzhiim. Baca atau dengar berita saja harus hati hati. Apalagi agama, tentu pondasinya pun harus valid. Kalau beragama menggunakan fatwa hati, atau fatwa orang yang sesuai dengan fatwa hati, tidak jauh berbeda dong dengan orang orang yang keukeuh mempercayai sebuah hoax, karena hoax nya terdengar masuk akal, bagus dan penuh hikmah.

Semoga Allah menghujamkan tauhid di hati ini sebagaimana maunya Allah dan Rasulullah. Hmm.. bagaimana taunya sesuai mau Allah atau tidak, jika wahyu Nya saja turun sudah belasan abad yang lalu?

Sepertinya di situlah urgensi agama dengan ilmu yang benar dan kaidah  merunut ilmu yang benar. Yaitu agar tauhid kita valid, bukan berdasarkan ‘hoax’.

Jika tauhid sekedar percaya Allah itu Pencipta, ketahuilah Suku Quraisy (yang dikesankan buruk dalam Islam), sebenarnya adalah golongan yang bertauhid lho. Awalnya saya heran lihat film film shirah. Orang orang Quraisy ini, kenapa berzikir menyebut Allah juga? Mereka sering menyebut “wallaahi”. Mereka bersumpah juga atas nama Allah rupanya. Mereka tahu kok kalau Allah menurunkan Nabi. Mereka tahu kok kalau nenek moyang mereka, Ibrahim, adalah seorang Nabi.

Mereka disebut kaum ingkar, bukan karena tidak percaya Allah, namun karena menolak syariat, menolak elemen tauhid lainnya, karena elemen tauhid lainnya akan mengubah budaya sakral nenek moyang mereka. Sesungguhnya mereka tidak menyembah Latta, Uzza, dan Manat. Mereka menyembah Allah lho, namun mereka butuh patung untuk jadi perantara.

Maka, tauhid bukan urusan hati saja, karena kalau secara hati, kaum Quraisy juga sama seperti kita, mengakui Allah  adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Tauhid tidak hanya penting diresapi secara hakikat, tapi dilakukan dengan cara yang benar.

Kulit penting.

Isi juga penting.

Wallahu a’lam bish showab.

 

 

 

Hierarki Ilmu. Bagian 2 (Ilmu Kesehatan)

OPINI.INSIGHT

Bagian 1 klik di SINI

Meanwhile, ternyata di dalam ilmu pengetahuan duniawi, ada kaidah dan hierarki juga. Sebagaimana status dalil agama, status ilmu ini penting banget untuk mencegah bias informasi, apalagi informasi mengalir antar generasi. Tanpa berpegang pada kaidah, bisa bisa kita secara tidak sadar menyampaikan hal yang tidak benar, tapi selama ini kita anggap benar karena bawah sadar kita mudah dibuka tutup dengan metoda tertentu kan (yang paham NLP pasti tau lah). Melalui berbagai teknik, disengaja maupun tidak disengaja, sangat mungkin kita mempercayai suatu hal yang tidak benar, apalagi hal ini dipercaya ramai ramai.  Ini yang menjadi kehatihatian saya dalam mengajar. Sering khawatir menyampaikan fakta yang salah (yang tidak disadari tentunya). Alih alih menjadi ilmu jariyah, malah bisa menjadi dosa jariyah. Naudzubillahi min Dzalik.

Lalu beberapa teman peneliti (yang sekolahnya udah tinggi tinggi sekali 😀 )sering membagikan pengetahuan ini.

Ini adalah hirarki/piramida dalam riset (yang berhubungan dengan manusia). Versi piramida nya banyak, ada yang simpel, ada yang dirinci.

Bisa dilihat, opini ahli saja (jika murni opini), statusnya paling rendah.

Apakah boleh dijadikan rujukan?

Ya boleh saja (kata saya :D), apabila memang belum ada pembuktian level tingginya, atau tidak bertentangan dengan penelitian level yang lebih tinggi. Contoh jika bertentangan : Ibarat hadis, walaupun sempurna dari segi sanad dan perawi, tapi kalau bertentangan dengan Quran otomatis gugur. Tapi kalau tidak ada dalil Quran yang membahas, ya kita pakai hadisnya.

Contoh dalam bidang ilmiah: definisi cukup bulan kehamilan yang dijadikan rujukan ACOG, ternyata adalah ‘commitee opinion’ ya karena memang tidak ada (atau saya aja yang  belum menemukan) penelitian meta analysis yang menyebutkan kapan hari lahir yang optimal (yang mana ini sejalan dengan Quran yang menyebutkan hanya Allah yang menentukan kapan bayi keluar).

Dalam hal informasi yang memang levelnya baru sampe expert opinion, saran seorang guru, kita mengambil opini terbanyak. “Committee opinion” bisa dibilang opini dari banyak ahli. Maka jika ada opini yang bertentangan dengan commitee opinion, kita bisa tolak (misalnya jika ada dokter, yang mengatakan bahwa hari lahir sebaiknya 37 minggu, lalu menjadi justifikasi upaya terminasi kehamilan di usia kandungan 37 minggu). Kita sebaiknya tinggalkan opini ini, karena walaupun dia seorang ahli (ya iya, beliau kuliah bertahun tahun di bidang kedokteran dan saya tidak kuliah di bidang kesehatan sama sekali), tapi pendapatnya bertentangan dengan commitee opinion. Atau contoh lain, seorang ulama yang tidak mewajibkan menutup aurat. Walaupun beliau ulama yang tetap kita hormati, tapi pendapatnya bertentangan (sendiri) dengan jumhur ulama. Ya kita tolak. Kurang lebih demikian kaidah yang akhirnya saya pegang.

Selanjutnya, kalo di lapangan kita mendapati 2 penelitian yang kesimpulannya berseberangan, ya bisa saja terjadi. Bisa jadi 2 penelitian yang berbeda ini juga ngga ada yang bermaksud nipu.  Bisa diduga status penelitiannya masih di unfiltered information. Statusnya masih belum bisa jadi kesimpulan sebab akibat yang ajeg dan layak disebarkan.  Terkadang kesimpulannya baru menjadi dugaan : perlu penelitian lebih lanjut untuk menyimpulkan. Misalnya aja penelitian anak S1, kan cuma dinilai sama dosen doang udah bisa lulus.

Coba naik ke systematic review/meta analysis (hirarki paling puncak). Systematic review adalah kesimpulan penelitian yang sama, yang dikumpulkan dari seluruh dunia. Jadi banyak pihak melakukan penelitian yang sama, dan kesimpulan yang sama, kemudian sudah mendapat ulasan juga dari para ahli seluruh dunia juga. Yang ini baru bisa dapet kesimpulan yang ajeg.

Apakah systematic review/meta analysis 100% benar? Ya… Tentu tidak juga karena sepinter pinternya manusia tetap saja punya keterbatasan ilmu. Pasti ada saja zona misteri dalam ilmu pengetahuan. Tapi paling tidak, dalam hal menyampaikan ilmu pengetahuan, ini sudah yang terbaik yang bisa kita lakukan, bukan? Selama tidak ada dalil agama yang menjelaskan, maka inilah sumber ilmu paling sahih yang pantas kita percaya. Dan jika ada kesalahan karena ketidakmampuan kita menyingkap, inilah ruang untuk istighfar.

Maka, untuk menjaga diri dari informasi bias yang mungkin secara tidak sadar sudah kita percayai mengerak dalam subconscious mind, sebagai penyampai ilmu (kita semua merupakan penyampai ilmu, bukan?), barangkali kita perlu sekuat tenaga memperjelas status apa yang kita sampaikan.

Kalo opini ya bilang opini. Kalo hasil riset yang berhubungan dengan informasi sebab akibat/korelasi/efek, sebisa mungkin cari systematic review/meta analysis. Jikapun belum sampai meta analysis ya sampaikan apa adanya bahwa penelitiannya baru sampe sini, masih dalam perdebatan, dll, agar pendengar tidak menganggapnya sebagai kebenaran mutlak (versi manusia), lalu jadi debat sama dokternya padahal membawa informasi yang belum sahih. Sama kayak menyampaikan hadis, baiknya disertai sumber.

Wallahu a’lam.

 

Hierarki Ilmu. Bagian 1 (dalam beragama)

OPINI. INSIGHT

Dalam agama kita punya hirarki ilmu/rujukan agama: Quran, hadis, ijma, qiyas. Hadis jg punya hirarki yaitu mutawattir, sahih, dhaif, maudhu (palsu).

Dalam beragama kita aturan/kaidahnya begitu ‘rumit’ dalam menentukan benar salah, halal haram. Untuk menentukan sebuah hadis benar atau tidak saja perlu syarat yang banyak (mulai dari sanad, perawi dll, yang aku juga ngga paham begitu dalam). Kalau ada 1 perawi saja dinilai lemah hafalannya, maka hadis tersebut udah turun derajat (well, tetap disebut hadis, namun turun level). Di sini lah pada titik tertentu kita harus taqlid pada ulama, yaitu pada titik di mana kita memang tidak punya kapasitas untuk memikirkannya lagi.

Photo by revac film's&photography from Pexels

Photo by revac film’s&photography from Pexels

Pernah bertukar ide dengan seorang teman. Saya dulu berpikir, pendapat si A berbeda sekali dengan si B. Keduanya sama sama punya ustadz tuh. Kalau mau mengkritisi ustadz, seringnya ilmu kita juga tak sepadan. Pendapat seorang teman, taqlid boleh selama ilmu kita mentok, dengan syarat kita terus belajar (dan tetap memohon kebenaran pada Allah). Bukan taqlid terus diam saja. Karena Nabi nabi juga selama ini tantangannya adalah melawan kaum yang taqlid (taqlid bahwa nenek moyangnya benar dan harus tetap dilestarikan ajarannya).

Masalah menempatkan rujukan agama pada tempatnya ini ternyata begitu penting, sehingga ancamannya berat apabila kita menyampaikan hal yang salah. Walaupun kita tidak bermaksud menipu orang dengan menyampaikan hadis palsu (yang kandungan hikmahnya sebenarnya baik), namun ternyata begitu pentingnya status sebuah  pernyataan. Harus jelas dan akurat dari mana sumbernya. Apakah ini Quran? Hadis sahih? Hadis palsu? Harus jelas.

“Hikmah dan kebijaksanaan (kayak Pancasila aja, hihi) bisa berasal dari mana saja. Tidak perlu mempermasalahkan status. Maksudnya kan baik”

Betul sekali itu. Menjadi bijaksana bisa terinspirasi oleh sumber mana saja. Kecerewetan  mengenai status ilmu (misalnya hadis) adalah hal lain, tidak ada hubungannya dengan kemampuan menarik hikmah dari segala hal. Baik hadis palsu, ataupun kutipan/motivasi dari seorang atheis, semuanya bisa saja diterapkan dalam hidup jika tidak bertentangan dengan rujukan yang lebih utama. Tapi mengaburkan status ilmu, buat saya adalah merendahkan derajat ilmu itu sendiri (dan sebuah tanda lack of integrity). Di kalangan first degree (telinga pertama yang mendengar), mungkin tidak akan terlihat bermasalah. Tapi bergenerasi kemudian, bisa menggeser -yang dianggap sebagai- kebenaran.

Nah, sebegitunya Islam begitu teliti masalah penyampaian ilmu. Karena gawat kalo kaidahnya tidak akurat, sementara hadis diturunkan generasi demi generasi, dari abad ke abad. Maka semoga kita selalu berhati hati dan Allah jaga, dalam penyampaian ilmu.

Bagaimana dengan ilmu ‘dunia’? Samaaaaa…

BERSAMBUNG

Manusia Diciptakan Kuat, atau Lemah?

“Kamu adalah wanita yang kuat! Kamu pasti bisa”
“Lho, manusia itu kan makhluk yang lemah. Pengetahuan terbatas tidak unlimited. Kekuatan pun ada batasnya. Hanya Allah yang Maha Kuat. Aku juga, makhluk yang lemah”

================

Berita: “Achmad Baiquni sebelummya mengatakan belum punya rencana menyesuaikan suku bunga deposito dan kredit terhadap suku bunga penjaminan LPS dan suku bunga acuan Bank Indonesia”

Komentar : Negara ini syirik, sombong, dan bersikap seperti Tuhan. Bagaimana bisa seseorang menjamin nasib kekayaan seseorang atau negara. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menjamin nasibnya maupun orang lain.

================

Anak: “Ibu nggak adil!! Aku marah sama ibu. huaaaaa”
Ibu: “Nak, manusia itu makhluk tidak sempurna. Hanya Allah yang Maha Adil. Nggakpapa terima aja lah ya”
Om: “Ha? Nggak sempurna gimana, Mbak? Kamu meragukan kesempurnaan ciptaan Allah? Sudah punya organ tubuh, alat gerak, otot, sistem organ sedemikian rumit dan teratur, bisa bernafas dan hidup, masih bilang ga sempurna?

================

Suami: “Bu, you are what you think. Kalo Ibu berpikir ibu pelupa, maka akan pelupa lah Ibu. You shape your own reality”

Istri: “Pak, … hari gini banyak tuntunan psikologi untuk menerima diri sendiri, accept yourself. Ibu ini memang pelupa, berantakan, jorok. I embrace myself, love myself for being that way. Kalo ngga menerima diri sendiri malah bisa ga waras ntar”

Istri (nambahin lagi): Lagian, mana bisa kita membentuk realitas diri sendiri.

=================

Spiritualis: Kosong adalah isi, isi adalah kosong
Random people: Jadi orang yang jelas dong. Kebenaran tidak bisa digabungkan dengan kejahatan. Hitam ya hitam, putih ya putih. Salah ya salah, benar ya benar. Kosong ya kosong, kok jadi isi sih…

=======

Anak yang baru pindahan masuk sekolah internasional: “Bu bu, apa artinya sex?” (bertanya arti kata yang tertulis di formulir masuk ekskul yang ada pilihan male atau female)

Ibu (kaget): Bisa bisanya kamu kecil kecil tau kata itu. Dari mana kamu dengar kata itu Nak??? Duh, nyesel ibu nyekolahin kamu di sekolah internasional. Pergaulannya ternyata parah

=======
Dan contoh pembicaraan (aktual maupun imajiner) ini masih bisa berlanjut panjang.

Hidup ini, penuh prasangka atas maksud hati orang lain, dan juga gagal dalam bersikap tepat, hanya karena perbedaan persepsi dalam memaknai sebuah kata. Salah paham ada di mana mana.

 

========

Jadi, Manusia Diciptakan Kuat, atau Lemah?

Jawabannya bisa keduanya 😀

 

Sentimen

Sentimen

Sentimen dalam bahasa Jawa, bahasa indonesianya apa ya.

Kalo lagi sentimen sama orang, apa aja nasihat, usulan dari org tersebut sounds annoying. Kalo orangnya berbuat salah, jadi nempel selama lamanya dan menjadi label. Ketusin aja. Masa bodo perasaannya. Ga kepikiran jaga perasaan.

Tapi kalo ke orang yang kita hormati, seabsurd apapun usulan atau pertanyaannya, kita maklum saja lalu menjawabnya dengan sabar dan sopan, pake emot lope lope juga. Kalo dianya berbuat salah, kita ati atiii banget jaga perasaannya.

Menariknya, kita jd sentimen sama seseorang sebabnya juga sangat tidak terukur. Kadang Hanya body language aja yang tidak sesuai dengan selera kita, bikin sentimen.

Di situ saya merasa ini ulah setan yang bisik bisik. Apakah ini termasuk dalam ‘Tidak adil sejak dalam pikiran? ‘

Jadi apa bahasa Indonesia nya ya?