
“Kamu ini kenapa, Anakku?” Tanya ibunda Yusuf
“Aku ndak apa-apa, Bunda.” Jawab Yusuf
“Kamu jangan bohong. Cerita pada Bunda.”
“Bun… Niken…”
“Niken, Niken mantan istrimu itu?”
“Iya.”
“Kenapa lagi? Bukannya urusanmu dengan Niken sudah selesai semuanya?”
“Iya. Tapi, kini anaknya sekolah di tempat aku ngajar, Bun…”
“Duh, Gusti… Lantas kamu ketemu dia? Duh, Bunda ini udah nggak mau dengar nama dia lagi, Nak. Bunda masih kecewa dengan sikapnya waktu itu! Kok ada ya, istri meninggalkan suaminya sendiri demi lelaki lain”
“Sudahlah, Bun. Niken kan mencintainya. Dan Yusuf yakin bisa lewatin ini semua.”
“Omong-omong, kamu juga ketemu suaminya?”
“Nggak, Bun. Oh ya, Bun…”
“Nama anaknya Kamela. Ayu tenan, Bun…”
“Tapi itu bukan cucu Bunda, kan?! Sudahlah, Nak. Kamu lebih baik segera cari penggantinya. Sudah tujuh tahun lho. Masa kamu mau jadi duda terus? Bundamu ini pengen nimang cucu juga…”
“Iya. Sabar ya, Bunda…”
“Oh ya, bagaimana dengan Lingga.”
“Dia baik.”
“Duh, Bunda itu kok seneng ya lihat Nak Lingga itu. Ayu, baik, dan Bunda mau kalau Lingga kamu jadikan istri, Nak.”
Yusuf tersenyum, “Bunda ini ada-ada saja. Tapi, ndak tahu lah, Bun. Bunda jangan berharap banyak, ya. Yusuf takut nggak bisa memenuhinya. Apalagi soal jodoh. Bukankah itu rahasia gusti Allah, toh?”
“Iya. Kalau begitu. Kamu istirahat dulu. Sudah malam.”
Begitulah keseharian Yusuf di rumah. Sering kali ia tertangkap basah oleh sang Bunda sedang melamun, dan ujung-ujungnya membahas soal Niken, Kamela, atau pun Lingga.
***
SD Harapan Bangsa. Suatu Pagi
Anak-anak berdatangan dengan riang gembira. Mereka takut terlambat masuk sekolah. Di tengah hirup pikuk pagi di SD Harapan Bangsa. Yusuf datang dengan sepeda motornya. Lantas, diam diparkiran. Lama. Hingga tak ia rasa, seorang menghampirinya.
“Pak Guru…” suara gadis, “Kamela,” betik Yusuf dan lalu menoleh. Benar, ada dua wanita. Kamela dan Niken. Melihat itu, Kamela menciumi tangan Yusuf dan Niken, setelahnya masuk ke ruang kelas. Menyisakan dua insan, adam dan hawa. Yang pernah bersama lalu terpisah lama, lalu sekarang kembali berjumpa.
“Ibu Niken. Maaf, saya permisi ke kelas dulu.” Ucap Yusuf
“Mas… tunggu…”
Yusuf menghentikan langkah dan menghadapkan dirinya pada Niken, “Ada apa, Bu?”
“Tolong panggil saja, aku Niken, Mas.”
“Iya, ada apa Nik?”
“Apa kabar, Mas?”
“Aku kabar baik. Kamu bagaimana?”
“Aku juga baik.”
“Syukurlah. Kalau begitu, aku permisi.”
“Iya… Hati-hati… Nik…”
“Makasih, Mas.”
Mereka sebenarnya tak mau berpisah. Seakan ada magnet yang menahan mereka. Tapi tak bisa. Mereka melawan. Dan dari jauhan lubuk hati mereka masing-masing terdengar dendang lantunan syair Ruth Sahanaya, Andaikan Kau Datang…
Andaikan Kau Datang Kembali
Jawaban Apa Yang Kan Kuberi
Adakah Jalan Yang Kau Temui
Untuk Kita Kembali Lagi
***
Taman Ismail Marzuki, Jakarta
Yusuf dan Lingga baru saja pulang dari nonton di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Malam ini malam minggu. Seharusnya banyak ingin yang pelan-pelan tenggelam dalam keteduhan malam. Tapi mereka belumlah terikat. Apa daya, kenapa sulit untuk berkata jujur. Lingga merasakan rasa sakit yang dalam ketika mendengar cerita Yusuf soal kembalinya Niken. Walaupun belum kembali dalam artian rujuk. Lingga, diam-diam menaruh cinta! Dan tak butuh lama lagi akan membuatnya merana, jika terus di pendam dalam dada.
“Mas…” Tanya Lingga
Yusuf menoleh, “Ada apa, Ling?”
“Makasih ya, untuk hari ini.”
“Iya. Sama-sama. Tadi acaranya bagu, ya?!”
“Iya.” Lingga mengumpulkan energi lebih, berusaha menatap Yusuf. Lekat. “Mas, boleh aku ajukan pertanyaan?”
“Tentu, bolehlah. Ling, ada apa?”
“Aku mulai jatuh cinta, Mas.”
“Wah, syukurlah kalau begitu! Akhirnya, siapakah lelaki beruntung itu, Ling?”
“Lelaki itu ada di dekatku, kini”
Yusuf tercenung. Ia ragu, atas apa yang didengarnya itu. Tapi telinga hati tak pernah bisa dibohongi. “Maksud kamu apa, Ling?” Tanya Yusuf berusaha mencari klarifikasi.
“Lelaki itu, Mas Yusuf”
Lingga tiba-tiba lari. Menjauh pergi. Padahal Yusuf belum menjawab apa-apa. Sepertinya Lingga takut atas kenyataan yang akan terlontar dari bibir lelaki yang dicintainya itu. Yusuf mengejar Lingga, dan menemuinya sedang duduk termenung di halaman teater sambil berisak.
Yusuf mendekati Lingga, dan duduk di sampingnya. Memberikan sehelai sapu tangan. “Apa yang kamu katakana itu, sungguh?”
Tanpa kata Lingga hanya mengangguk.
“Apakah aku harus menjawabnya?”
Sekali lagi hanya anggukan dari Lingga
“Kalau begitu. Ayo kita pulang. Sudah malam. Nanti kita bicarakan soal ini lagi.” Ajak Yusuf. Dan Lingga mengiyakan.
***
“Mamah, kenapa mamah nangis?” Tanya Kamela.
“Kamela, siapa yang nangis. Mamah nggak nangis, kok. Bagaimana PR-nya, sudah dikerjain?”
“Sudah, Mah. Ih, Mamah jangan bohong. Itu ada air mata di mata Mamah…”
“Kamela, sayang. Boleh Mamah Tanya sesuatu?”
“Ya, boleh dong, Mah! Kamela kan semester lalu juara kelas, jadi pasti bisa jawab.”
Niken tersenyum dan mengenulis anak semata wayangnya itu, “Kamela, Pak Guru Yusuf, menurut Kamela bagaimana, baik atau jahat?”
“Hm… Baik banget, Mah. Aneh deh, Kamela jadi malu ama teman-teman.”
“Malu, kenapa?”
“Pak Guru, perhatiannya berlebihan pada Kamela, Mah. Jadinya Kamela takut teman-teman berpikiran aneh. Ama Kamela”
“Hm… jadi kayak Papah, ya?”
“Iya, Mah.”
Niken lantas mengajak Kamela ke kamar. Hari sudah larut. Ciuman mesra di kening dan pipi sebagai akhir hari…
***
“Sudah. Kamu terima saja…” Titah Bunda
“Maksud Bunda apa?”
“Maksud Bunda, udah, kamu terima saja tembakan Lingga malam minggu kemaren. Kasihan, jangan lama-lama. Dia pasti menyimpan lara di hati.”
“Tapi, Bun…”
“Tapi apa anakku?”
“Nggak apa-apa Bunda…”
Malam terus berganti malam. Lingga kerap mengirimkan sms bernada kesetiaan menanti sebuah jawaban. Tapi, di hati Yusuf berkecamuk. Terkadang bayang mantan sang istri datang, dan Kamela pun terkenang dibenaknya. Ia bingung harus melakukan apa. Banyak hal yang harus Yusuf pertimbangkan. Ia memang harus segera berkeluarga. Tapi hanya dua wanita yang ada di hatinya kini. Lingga si gadis bermata biru berambut pirang, dan Niken si gadis Jogya yang ayu. Sejauh ini, Yusuf masih belum tahu soal, suami Niken. Dan bagaimana dengan Kamela. Yusuf hanya mampu mendengus di sudut kamarnya yang redup.
Dalam tahajjud dan hajatnya. Ia kerap melantunkan doa kepada yang kuasa :
Ya Allah
Aku dalam kebimbangan
Harapku cuma satu
Sebagaimana satunya Engkau
Batulah aku
Aku ingin yang terbaik untuk ketiga dara yang kerap ada di hati ini, kini
Ibuku, Lingga, dan Mantan istriku
Mohonku dalam
Teramat dalam ya Tuhan
Amiin
Dan airmata sujud tak ayal membasuhi sajadah lusuhnya.
***
Jelas ini sangat sulit bagi Yusuf. Deru Tiga Dara menjadikan Yusuf harus berpikir keras. Apakah Yusuf mampu memutuskan dan memberikan jawaban kepada Lingga, dan apakah jawaban Yusuf? Bagaimana dengan Niken? Dan, sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya? Jika sampai Yusuf memilih Niken, apakah Kamela dan Ibunya akan menerima? Atau adakah akhir yang tak tergapai akal sehat? Saksikan kelanjutannya akhir dari kisah ini dalam judul : Gadis Berkerudung Biru oleh Nurudin di abisabila.blogspot.com
Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com
coment