Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.
Seleksi penerimaan seiswa baru SD/SMP/SMA negeri di Indonesia pada tahun ini berganti nama. Dulu namanya PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), sekarang setelah ganti menteri pendidikan, namanya berubah menjadi SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru). Secara prinsip PPDB SMA negeri di Jawa Barat hampir tidak ada bedanya dengan SPMB. Jalur zonasi berganti nama menjadi jalur domisili, ketentuan seleksinya tetap berdasarkan jarak rumah ke sekolah tujuan (dalam satuan meter). Tahun ini kuota jalur domisili berkurang dari semula 50 persen menjadi 35 persen saja dna dilaksanakan pada tahap 1.
Perbedaan terjadi pada jalur prestasi rapor. Jika pada PPDB SMA tahun lalu di Jawa Barat jalur prestasi rapor murni berdasarkan rata-rata nilai rapor SMP dari semester 1 sampai semester 5, maka pada SPMB tahun ini ditambah dengan tes terstandard. Test terstandard memiliki bobot 50 persen sedangkan nilai rapor memiliki bobot juga 50%. Materi tes terstandard yang diujikan adalah literasi bahasa Indonesia dan numerasi matematika. Tesnya diadakan secara offline di sekolah pilihan 1 menggunakan komputer dan berlangsung dalam beberapa gelombang. Kuota jalur prestasi tahun ini meningkat dari semula 25 persen pada PPDB menjadi 30 persen dan terbagi dua untuk prestasi rapor dan prestasi kejuaraan.
A. Jalur Domisili
Tabel berikut memperlihatkan hasil seleksi berdasarkan jarak rumah. Terlihat bahwa hanya yang berjarak sekitar 1 km yang diterima. Beberapa sekolah ada pendaftar yang hanya beberapa ratus meter saja yang diterima. Fenomena ini hampir sama seperti PPDB tahun lalu. Calon murid yang rumahnya dekat dengan sekolah tujuan lebih diuntungkan. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, masih ada kasus manipulasi Kartu Keluarga pada beberapa pendaftar di sekolah favorit.
B. Jalur Prestasi Rapor
Hasil seleksi jalur rapor dan tes terstandard memperlihatkan sekolah-sekolah favorit tetap mendapat nilai hasil seleksi dengan skor yang tinggi, sebut saja SMA negeri 3, 5, 8, 2, 1, 20, 24, 12, dan 4. Calon siswa yang tinggi nilai rapornya tidak menjamin bsia lulus seleksi karena ada komponen tes terstandard.
Demikianlah hasil SPMP SMA Negeri di kota Banadung pada tahun 2025, dapat menjadi pertimbangan untuk memilih SMA negeri pada SPMB pada tahun 2026.
Bulan ini, Agustus 2025, tepat setahun yang lalu saya menjalani operasi fistula ani dan wasir di Rumah Sakit Edelweis, Bandung. Saya akan menceritakan operasi yang saya alami, mudahkan-mudahan dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi pembaca blog ini.
Saya mendapat penyakit fistula ani sejak dua tahun yang lalu. Bagi yang tidak tahu apa itu fistula ani, fistula ani (anal fistula) adalah kondisi terbentuknya saluran abnormal (terowongan) di antara ujung usus besar dan kulit pada area anus atau dubur. Kondisi ini disebabkan oleh adanya infeksi yang berkembang menjadi benjolan berisi nanah (abses) di area anus. Abses di dekat anus dapat terus berkembang bila tidak diatasi. Lama-kelamaan, nanah dalam abses tersebut akan berusaha mencari jalan keluar dari tubuh dan membentuk saluran di bawah kulit sampai ke anus. Kondisi inilah yang disebut fistula ani.
Jadi, selama dua tahun saya merasakan perih di bagian anus. Saya pikir itu masih berkaitan dengan wasir. Oh iya, saya juga menderita wasir (ambeien) sudah lama, sudah dua puluh tahun lebih, sejak saya menikah. Wasir saya itu grade 3, yaitu keluar saat buang besar namun dapat masuk kembali dengan dibantu didorong.
Setiap kali saya meraba bagian dalam anus, saya merasakan ada benjolan sebesar jerawat. Saya pikir nanti bisa sembuh sendiri. Namun, setiap pagi saya menemukan ada flek-flek kuning di celana dalam saya, kadang-kadang ada flek kemerahan juga (darah?). Saya kira karena cebok tidak bersih, namun saya sangkal sendiri, karena saya selalu cebok setiap kali BAB dan selalu membersihkan pakai sabun.
Karena penasaran, akhirnya saya mencari informasi di mana ada dokter spesialis yang menangani wasir. Dari website Vena Wasir saya menemukan ada cabangnya di Rumah Sakit Edelweis, di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Saya pun meminta konsultasi dengan salah satu dokter afiliasi dengan Vena Wasir, lalu saya diarahkan konsultasi dengan dr. Eldy M. Noor. Dokter Eldy adalah dokter spesialis bedah dan sering menangani masalah wasir.
Konsultasi dengan Dokter Bedah
Saya datang ke RS Edelweis untuk konsultasi dengan dokter Eldy. Setelah diperiksa oleh dokter Eldy dengan teknik colok dubur, beliau mengatakan saya tidak hanya menderita wasir, tetapi juga fistula ani. Dokter menjelaskan fistula ani seperti defenisi yang saya tulis di bagian awal tulisan. Dia juga memperagakan gambar fistula ani dari layar komputer. Flek kuning bercampur kemerahan di celana dalam saya adalah nanah yang keluar dari terowongan fistula ani. Jadi, ada infeksi di sana. Jalan satu-satunya untuk kesembuhan adalah dengan operasi, sebab kalau pakai obat saja tidak mempan.
Mendengar kata operasi saya pun menjadi takut. Bukan takut biayanya, tapi takut pasca operasinya. Kalau soal biaya alhamdulillah saya punya asuransi. Saya sudah membaca testimoni orang-orang yang sudah operasi fistula ani, keluhannya adalah luka pasca operasi yang tidak sembuh-sembuh atau lama sembuh. Dokter Eldy kemudian menawarkan beberapa jenis operasi. Yang pertama adalah pembedahan, yaitu membuka terowongan fistula dengan pembedahan lalu membiarkan lukanya mengering. Teknik ini menyebabkan banyak pendarahan dan penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama, dan jika tidak disiplin dan telaten membersihkan luka operasi, bisa menjadi infeksi.
Teknik kedua adalah menggunakan teknik laser dari Jerman bernama FiLAC (Fistula Ani Laser Closure). Teknik ini tidak melakukan pembedahan, tetapi melewatkan sinar laser melalui pintu terowongan. Dikutip dari sini, FiLAC adalah alat baru dari Jerman berupa laser dan fiber nya yang lentur mampu mencari rongga-rongga fistula yang sulit. Prinsip laser ini adalah merusak dinding epitel dari lubang fistula dan merontokannya sehingga terjadi luka baru yang dapat menutup spontan. Laser ini hanya merusak dinding fistula ani dan bukan jaringan sekitarnya seperti otot anus, saraf dan pembuluh darah sehingga laser ini aman digunakan tanpa khawatir otot anus robek dan tak dapat berfungsi lagi seperti yang sering terjadi pada operasi fistula perianal konvensional yang dirobek. Pada FiLAC ini juga luka yang dibuatnya kecil sehingga penyembuhannya lebih cepat dibanding yang disobek, akibatnya perawatan lebih mudah tidak mengerikan dan recovery lebih cepat dibandingkan yang konvensional.
Dokter menyerahkan keputusaan pilihan teknik oeprasi kepada saya. Tetapi sebelum memutuskan pakai teknik yang mana, saya harus menjalani MRI fistulografi terlebih dahulu untuk mengetahui lokasi fistula dan kedalamannya. MRI fistulografi dilakukan di RS Edelweis juga. Dari lubang fistula di anus saya dimasukkan cairan berwarna lalu difoto dengan sinar-X. Lumayan sakit juga. Dari hasil fistulografi diketahui kedalamannya 7 cm dan diameternya cukup kecil. Hmm..lumayan dalam juga ya.
Setelah mengetahui hasil fistulografi, dokter Eldy menyarankan menggunakan teknik FiLAC. Karena saya juga menderita wasir grade 3, maka operasi fistula ani sekalian saja dengan operasi wasir menggunakan teknik laser juga. Untuk wasir, teknik laser tidak melakukan pembedahan atau pemotongan wasir seperti operasi konvensional, tetapi menyusutkan wasir dari dalam. Kata doker, wasir saya ada tiga buah dan berukuran besar. Hiii…
Karena saya memiliki asuransi Mandiri inHealth dari kantor, maka biaya operasi bisa lebih ringan. Total biayanya akan saya sebutkan pada bagian akhir tulisan. Operasi fistula ani adalah operasi yang singkat, tidak sampai setengah jam, jadi seharusnya bisa langsung pulang. Tetapi karena penggunaan asuransi mengharuskan rawat inap agar bisa di-cover, maka saya memilih rawat inap satu malam.
Pelaksanaan Operasi
Saya masuk kamar inap terlebih dulu pada siang hari. Setelah diperiksa tekanan darah dll, lalu lengan saya dipasang selang infus. Saya juga tidak paham mengapa harus diinfus dulu. Operasi dijadwalkan pada malam hari. Tepat jam 9 malam saya masuk kamar operasi. Di sini saya harus berganti pakaian dengan pakaian operasi. Dokter yang menangani operasi adalah seorang dokter anestesi dan seorang dokter bedah (Dokter Eldy), serta dua orang perawat. Saya dibius terlebih dahulu dengan teknik bius spinal, yaitu disuntik pada tulang belakang (punggung). Tidak berapa lama setelah disuntik saya sudah berada di alam bawah sadar dan tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Operasi fistula ani dan wasir dengan teknik laser berlangsung selama setengah jam lebih. Selesai operasi saya dipasang kateter lalu dibawa kembali ke kamar inap. Saya tidak tahan pakai keteter karena kalau pipis terasa sakit. saya belum berani BAB, nanti saja di rumah. Anus saya masih diberi pembalut/perban, yang ketika dibuka ternyata penuh darah, darah bekas operasi.
Dokter datang pada siang hari ke ruang inap untuk memeriksa kondisi saya, kemudian datang juga petugas dari Vena Wasir memberikan suvenir bantal wasir dan satu paket obat serta menjelaskan perawatan pasca operasi di rumah. Salah satu obatnya adalah bubuk NPK yang berwarna ungu untuk berendam. Jadi, di rumah nanti saya harus merendam anus di dalam air hangat yang sudah ditaburi bubuk NPK tadi (bisa juga diganti dengan Dettol). Obat lainnya adalah pencahar untuk melembekkan feses. Pada sore hari saya sudah diperbolehkan pulang, dan babak baru pasca operasi pun dimulai…
Pasca Operasi dan Perawatan di Rumah
Hal yang saya takutkan adalah BAB pertama kali setelah operasi. Saya rutin BAB setiap subuh. Cerita orang yang operasi wasir dan fistula ani adalah kesakitan pada saat BAB. Pada mulanya memang agak takut-takut BAB, tetapi dengan bismillah saya dapat BAB dengan lancar, mungkin karena pengaruh pencahar. Memang ada rasa sakit tetapi tidak sesakit yang saya kira. Ada darah yang keluar, tetapi tidak banyak, itu adalah darah dari luka operasi. Hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.
Selesai BAB saya merendam anus dengan air hangat di dalam baskom yang sudah dicampur dengan bubuk ungu tadi, selama 15 menit. Berendam dengan air hangat dilakukan 3 kali sehari, pagi, siang dan malam. Berhubung saya bekerja (tidak cuti), maka saya hanya dua kali saja berendam air hangat. Oh iya, agar darah bekas operasi tidak membasahi celana dalam, saya memakai pembalut wanita, tetapi pembalutnya dipakai pada bagian belakang celana dalam. 🙂
Saya menjalani operasi pada hari Sabtu malam, pulang pada hari Minggu sore, dan pada hari Senin saya sudah langsung ke kampus untuk bekerja. Sebaiknya kalau Anda menjalani operasi maka ambil cuti saja agar bisa istirahat di rumah dan tidak banyak bergerak, tetapi saya waktu itu tidak melakukannya. Jadi, faktor banyak bergerak juga menentukan cepat lambatnya kesembuhan.
Pasca operasi saya dihubungi oleh staf Vena Wasir via whatsapp yang setiap hari selalu memantau perkembangan kesehatan saya setelah operasi, apakah ada keluhan, saran-saran yang harus dilakukan, makanan yang harus dihindari, dan sebagainya. Nanti petugas Vena Wasir ini meneruskan keluhan saya ke dokter.
Empat hari setelah operasi saya melakukan kontrol ke dokter Eldy di rumah sakit. Dokter Eldy melihat anus saya dan menyatakan hasil operasinya bagus. Saya merasa senang. Oh iya, setelah operasi kita diminta jangan makan yang pedas, daging. Kontrol ke dokter dilakukan beberapa kali untuk melihat perkembangan hasil operasi.
Setiap hari saya selalu memakai pembalut untuk menyerap sisa-sisa darah dan cairan bekas operasi. Saya jadi rajin membeli pembalut wanita di toko 🙂 . Pada masa-masa awal pasca operasi, dua kali sehari pembalut harus diganti. Pada awalnya cairan yang keluar berwarna merah, lalu minggu-minggu berikutnya berwarna coklat, dan minggu-minggu terakhir berwarna kuning pertanda mulai kesembuhan. Masih ada rasa perih dan tidak nyaman sih, tapi bisa saya tahan.
Keluhan yang saya rasakan setelah operasi adalah perut kembung, diare dan mencret (mungkin karena pengaruh obat pencahar?), sering pipis pada malam hari, dan rasa perih pada anus masih terasa terutama setelah BAB. Kadang-kadang masih ada bercak darah juga pertanda luka operasi belum sembuh betul. Namun dengan berjalannya waktu, rasa perih perlahan-lahan mulai berkurang. Kalau cairan kuning masih ada yang keluar, tapi setelah diperiksa oleh dokter itu bukan nanah. Lubang anus juga tidak menyempit, biasa saja, karena memang tidak dilakukan pemotongan otot sekitar anus. BAB pun lancar seperti biasa dan saya tetap rutin merendam dubur dengan air hangat + dettol.
Oleh karena saya juga operasi wasir, maka luka operasi wasir saya yang duluan sembuh, sedangkan luka operasi fistula ani perlu waktu cukup lama kesembuhannya. Ada yang hanya satu bulan, tiga bulan, enam bulan, bahkan setahun, tergantung kondisi fisik setiap orang.
Alhamdulillah sekarang saya sudah tidak menderita wasir lagi, wasir saya sudah sembuh. Saya sudah bisa makan pedas dan makan apapun. Sedangkan untuk fistula ani saya juga sudah merasa sembuh. Namun tetap perlu dijaga pola makan dan kebersihan anus agar wasir dan fistula ani tidak kambuh lagi. Saya masih rutin berendam dubur dengan air hangat plus dettol. Kalau BAB usahakan menggunakan kloset duduk dan jangan mengejan terlalu keras.
Sekarang saya sebutkan total biaya operasinya ya. Setelah dihitung oleh rumah sakit, maka total biaya operasi saya (fistula ani + wasir), biaya kamar (dua hari satu malam), biaya konsultasi dokter spesialis, biaya aneka perawatan rumah sakit adalah 44,4 juta rupiah. Asuransi menanggung 41,1 juta rupiah, jadi saya hanya perlu membayar kekurangan (excess) sebesar 3,3 juta rupiah saja. Alhamdulillah, kalau tidak pakai asuransi kebayang besar biayanya. Oh iya, dari 44,4 juta rupiah itu, biaya operasi fistula ani dan wasir saja (termasuk dokter bedah, anestesi, kamar operasi) adalah 38,3 juta rupiah. Jadi, kalau operasi fistula ani saja mungkin dua pertiga atau setengahnya barangkali ya.
Demikianlah pengalaman saya operasi fistula ani dan wasir dengan teknik laser. Jangan takut operasi. Fistula ani dan wasir lebih mudah sembuh dengan operasi, apalagi memakai laser lebih cepat lagi sembuhnya.
Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke Kota Baubau di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kota Baubau adalah salah satu dari dua kota di Sulawesi Tenggara, kota satu lagi adalah Kendari, ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara. Bagi pembaca yang tidak tahu di mana letak kota Baubau dan Pulau Buton, silakan lihat peta di bawah ini.
Kota Baubau di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara
Ini pertama kali saya pergi ke Pulau Buton. Dulu waktu SD saya mengenal Pulau Buton sebagai pulau penghasil aspal alam di Indonesia. Sekarang saya berkesempatan mengunjungi pulau ini.
Untuk menuju Kota Baubau tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta.Kita harus transit terlebih dahulu di Makassar. Kota Baubau memiliki bandara ukuran sedang yang bernama Bandara Betoambari. Bandara ini sudah bisa didarati pesawat jet. Ada dua maskapai penerbangan yang terbang ke Bandara Betoambari dari Makassar, yaitu Super Air Jet dan Wings Air. Saya kebetulan naik pesawat Super Air Jet transit di Makassar.
Bandara Betoambari, Baubau
Kota Baubau termasuk kota berukuran sedang dengan penduduk sekitar 150 ribu jiwa. Kota ini punya walikota sendiri. Sehari-hari penduduk berbicara dengan Bahasa Indonesia logat Buton. Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama karena pengaruh budaya Melayu yang dibawa dari Tanah Melayu sejak abad 13.
Pemandangan sehari-hari di Kota Baubau mirip seperti kota di Pulau Jawa pada umumnya, yaitu toko-toko sepanjang jalan raya, kesibukan pedagang, anak sekolah, dan pegawai pemerintahan.
Salah satu sudut kota Baubau pada pagi hari
Masjid Agung Baubau
Kota Baubau terletak di pinggir pantai. Salah satu pantai yang menjadi tujuan berkumpul dan olahraga adalah Pantai Kamali. Di depan pantai ini ada patung mirip ular naga.
Pantai Kamali
Berjalan ke arah utara dari Pantai Kamali kita menjumpai pelabuhan kapal antar pulau, yaitu Pelabuhan Murhum, Baubau. Dari pelabuhan ini kita bisa naik kapal cepat menuju pulau lain (Pulau Muna, Pulau Kabaena, dll) dan ke kota Kendari. Pelabuhan Baubau juga disinggahi kapal penumpang PT PELNI seperti KM Lambelu, KM Ciremai, KM Dobonsolo, dll. Pelabuhan Baubau adalah pelabuhan strategis, sebab dari sini dengan kapal PELNI kita bisa menuju kota-kota di kawasan Indonesia Timur seperti Ambon, Biak, Manokawari, Sorong, Ternate, Jayapura, dan ke kota-kota Indonesia Bagian barat seperti Surabaya, Balikpapan, Jakarta, Medan.
Pelabuhan Baubau
Salah satu kuliner khas kota Baubau adalah parende ikan. Parende adalah masakan ikan sejenis sup. Kuahnya berwarna kekuningan. Rasanya segar, asam, dan sedikit pedas. Ikan yang digunakan adalah ikan laut segar. Ikan segar adalah lauk sehari-hari di kota Baubau karena, seperti yang saya sebutkan di atas kota Baubau terletak di pinggir laut. Ikan segar tangkapan nelayan langsung diolah menjadi sup ikan.
Parende ikan, kuliner khas kota Baubau
Tidak lengkap ke kota Bauba tanpa mengunjungi kompleks keraton Kesultanan Buton, yang merupakan tujuan utama wisatawan ke kota Baubau. Kesultanan Buton sudah ada di Pulau Buton sejak abad 15. Sultan Buton yang pertama adalah Sultan Murhum, yang diabadikan sebagai nama pelabuhan Baubau.
Jangan membayangkan di kompleks keraton Buton terdapat bangunan keraton seperti di Pulau Jawa. Kita sama sekali tidak menemukan bangunan keraton tempat tinggal raja/sultan di sana. Dari seorang budayawan keraton Buton, bernama Wawan Erwiansyah, saya mengetahui bahwa Sultan Buton dipilih tidak berdasarkan garis keturunan, tetapi dipilih berdasarkan mufakat pemuka adat Buton. Setelah sultan Buton terpilih maka rumah tinggalnya menjadi istana kesultanan. Setelah tidak menjadi sultan lagi, maka ia kembali menjadi rakyat biasa seperti petani, nelayan, dan sebagainya.
Kompleks keraton Buton sangat luas dan terletak di atas bukit di kota Baubau, mungkin menjadi kompleks keraton terluas di Indonesia. Kompleks keraton dipagari dengan benteng yang terbuat dari batu karang. Pembangunan benteng sama sekali tidak menggunakan semen, tetapi menggunakan campuran pasir dan telur sebagai semennya. Benteng keraton melingkari kompleks, dan di dalamnya terdapat perkampungan dan pemukiman penduduk. Menurut Pak Wawan, penduduk di dalam kompleks keraton adalah keturunan punggawa kerajaan Buton, seperti pengawal sultan, pelayan, menteri, dan lain-lain.
Rumah penduduk di dalam kompleks keraton, berarsitekur rumah khas Buton
Meskipun tidak ada bangunan keraton, kita dapat menemukan beberapa bangunan peninggalan kesultaan Buton, yaitu Masjid Agung, rumah adat pelantikan sultan, makam Sultan Murhum, batu belah pelantikan sultan, dan lainlain.
Rumah adat tempat pelantikan sultan Buton
Masjid Agung yang sudah berusia berabad-abad terletak di depan rumah adat di atas. Dari Masjid Agung, sultan Buton berjalan ke rumah adat ini untuk dilantik, selanjutnya berjalan ke batu belah, ia memasukkan kakinya ke dalam batu belah tersebut.
Di dalam kompleks keraton kita dapat menemukan prasasti yang bertuliskan nama-nama raja dan sultan Buton. Di samping prasasti tersebut kita dapat melihat sebuah jangkar raksasa, yaitu jangkar laut kapal Portugis yang tenggelam di dekat Pulau Buton.
Demikianlah perjalanan saya mengunjungi kota Baubau. Saya juga mendokumentasikan perjalanan saya melalui tiga buah video di Youtube di bawah ini, klik saja dan selamat menyaksikan.
Beberapa waktu yang lalu ramai tagar #KaburAjaDulu di berbagai platform media sosial. Tagar ini muncul sebagai bentuk keresahan dan kekecewaan anak-anak muda bangsa terhadap kondisi negara Indonesia akhir-akhir ini, yang dirasakan seperti tidak menjanjikan masa depan. Tagar tersebut seolah-olah mendorong anak-anak muda meninggalkan tanah air untuk bekerja atau kuliah di luar negeri. Bisa juga tagar #KaburAjaDulu diartikan sebagai sebuah sarkasme.
Apa sebab tagar #KaburAjaDulu ini viral di jagat maya? Pemicunya berawal dari kekecewaan terhadap praktek korupsi yang semakin menjadi-jadi, yang terbesar adalah korupsi yang dilakukan oleh petinggi-petinggi di perusahaan Patra Niaga, anak perusahaan Pertamina, ditambah lagi dengan isu bensin Premium (RON90) yang dioplos menjadi Pertalite (RON92). Rakyat menilai bahwa selama ini mereka telah “tertipu” membeli bensin. Belakangan isu ini telah dibantah oleh Pertamina.
Kekecewaan anak-anak muda ini semakin menjadi setelah diketahui Pemerintah melakukan pemangkasan dan efisiensi anggaran dalam berbagai bidang dan kementerian, demi mensukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah janji politik Presiden pada masa kampanye Pemilu. Efisiensi ini berimbas pula pada sektor pendidikan, padahal masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan dari kualtitas pendidikan. Jika anggaran pendidikan dikurangi, bagaimana bangsa ini bisa maju? Jangan-jangan bukan Indonesia emas yang kita dapatkan pada tahun 2045, tetapi malah Indonesia cemas. 😦
Praktek korupsi yang menjadi-jadi di negara ini dan sudah mendarah daging, pungli, efisiensi anggaran, isu oligarki, PHK, daya beli masyarakat yang menurun, dan ekonomi yang lesu, membuat anak-anak muda itu merasa frustasi. Mereka melihat Indonesia seperti melihat kegelapan, masa depan yang terlihat suram. Bersamaan dengan tagar #KaburAjaDulu, muncul pula tagar #IndonesiaGelap disertai aksi demo. Tagar #IndonesiaGelap mengindikasikan ketidapastian terhadap masa depan akibat tidak adanya transparansi dan kebijakan yang pro rakyat.
Tagar #KaburAjaDulu, #IndonesiaGelap, #PeringatanDarurat, dan tagar-tagar lain yang senada sesungguhnya adalah sebuah bentuk kritik sosial. Namun sayangnya, pejabat publik maupun tokoh-tokoh di dalam lingkaran kekuasaan menafikan kritik sosial tersebut. Bukannya memberikan pencerahan atau empati, tetapi justru merespon dengan membuat pernyataan yang kontraproduktif dan mempertajam polarisasi, seperti:
“Kalau ada yang bilang Indonesia gelap, yang gelap kau, bukan Indonesia”
“Indonesia gelap dari mana?”
“Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu jangan balik lagi.”
“Kurang cinta terhadap Tanah Air”
Padahal, sesungguhnya kritik sosial pada aneka tagar tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai hal yang buruk, melainkan sebagai masukan dan introspeksi agar Pemerintah bekerja lebih baik dan pro rakyat. Jangan memandang elemen-elemen bangsa, anak-anak muda dan para mahasiswa yang berdemo itu sebagai musuh, tetapi pandanglah aksi mereka sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi untuk menghasilkan kebijakan yang lebih baik.
Suatu pagi jelang seminggu Ramadhan, saya membeli nasi kuning di gerobak pedagang langganan saya. Nasi kuningnya lumayan enak. Lalu terjadilah dialog di bawah ini:
+ Mang, sebentar lagi bulan puasa. Nanti jualan apa selama puasa? – Ah, nggak jualan, Kang. Libur dulu + Jualan semacam kolak atau apa gitu buat takjil – Nggak, Kang, mau fokus. (Maksudnya fokus ibadah bulan Ramadhan) + Nanti enggak ada pemasukan, dong – Udah disiapkan, Kang. Kan 11 bulan usaha untuk persiapan 1 bulan.
Makjleb mendengar jawabannya. Sebelas bulan sudah diberikan Tuhan waktu untuk mencari rezeki, masa untuk 1 bulan masih perhitungan.
Oh, menurut saya dia adalah pedagang makanan yang sholeh, yang ikhlas dan tawadhu, dia tidak terlalu bernafsu mengejar harta duniawi sebanyak-banyaknya. Kalau sudah datang bulan Ramadhan, tibalah waktunya untuk beristirahat selama satu bulan, mendekatkan diri kepada Tuhan, fokus pada ibadah bulan Ramadhan (puasa, taddarus, tarawih, dll).
Andaipun dia berjualan nasi kuning pada bulan Ramadhan tentu tidak ada yang membeli. Walaupun dia ganti dengan berjualan lain pada sore atau malam hari, bisa saja, namun dia tidak melakukannya, karena dia ingin fokus ibadah saja.
Soal kekurangan rezeki, dia tidak merasa khawatir. Dia sudah menyiapkannya, dan dia tidak merasa kekurangann. Saya percaya, Allah akan menggantinya.
Semalam saat hujan deras saya beli baso tahu di kedai langganan. Setiba di sana, saya heran, kapi kok penjualnya sudah ganti, bukan si ujang yang rambutnya dicat warna-warni? Kata penjual yang baru, si ujang sudah diberhentikan bos karena banyak masalah. Masalah apa, tanya saya. Judol, kang, jawab penjual yang baru. Ternyata si ujang kecanduan judi online, sampai-sampai meninggalkan hutang ke bos sebesar 18 juta.
Astagfirullah, orang kecil ingin cepat kaya, tapi caranya keliru. Terjerat judol, mungkin juga terjerat pinjol untuk judol. Sudah tahu judi itu hukumnya haram, namun bayangan dapat uang dengan cara cepat mengalahkan takut pada dosa.
Kenapa banyak orang terjerat judol (dan juga pinjol). Apakah karena kemiskinan dan sulitnya lapangan kerja sehingga masyarakat (yang umumnya anak muda) kecanduan judol? Belum tentu juga hal itu sebabnya, mngkin juga karena kurangnya edukasi dan literasi mengenai instrumen keuangan sehingga membuat masyarakat kita menganggap enteng utang lalu lari ke pinjol. Ditambah lagi minim dengan pengetahuan agama (bahwa judi itu haram) sehingga menganggap judol itu hal yang lumrah saja.
Lebih prihatin lagi yang terlibat judol bukanlah pengangguran, tetapi pekerja dengan gaji minim. Tergiur dapat uang dengan cara cepat, lalu ikut judol berkali-kali yang akhirnya menjadi kecanduan seperti narkoba. Bangkrut dan jatuh miskin. Ini bagaikan lingkaran hitam yang tak putus-putusnya. Ah, Indonesia gelap mungkin saja ada benarnya.
Berawal dari pengamatanku melihat mahasiswa kidal (mahasiswa yang menggunakan tangan kiri) yang tampak kurang nyaman menulis pada kursi kuliah, karena kursi kuliah umumnya didesain dengan papan menulis terletak di sisi kanan. Karena kondisinya demikian, maka mahasiswa kidal “terpaksa” harus menulis dengan cara tangan kiri disilang ke sisi kanan.
Saya pun megirim pesan kepada Dekan kami, Dekan STEI-ITB, agar disediakan kursi kuliah kidal dengan papan menulis di sisi kiri. Apalagi jumlah mahasiswa kidal makin hari makin banyak jumlahnya, di kelas kuliah saya saja ada empat sampai lima orang kidal.
Kursi kuliah kidal baru yang disediakan kampus
Alhamdulillah, permohonan disetujui, kursi kuliah kidalpun dipesan dengan cepat, tiap ruang kuliah disediakan empat sampai lima kursi kidal, seperti pada foto di atas. Saat ujian, mahasiswa kidal terlihat nyaman menulis pada kursi kidal tersebut (foto bawah).
Terimakasih STEI, terimakasih ITB.Semoga mahasiswa kidal dapat lebih nyaman kuliah di ruang kelas kami, tidak lagi kerepotan menulis dengan tangan kiri disilang ke kanan.
Ini merupakan pengalamanku membimbing mahasiswa berkebutuhan khusus (ABK) di Teknik Informatika ITB. Namanya Hanif, dia adalah mahasiswa, yang menurut istilah teori tumbuh kembang anak, tergolong anak gifted (berbakat). IQ Hanif sebenarnya tinggi, namun Hanif memiliki kekurangan dalam hal berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Alhamdulillah teman-teman di angkatannya bisa memaklumi kondisinya itu.
Sebelum saya lanjutkan pengalaman membimbing Hanif, berikut sekilas informasi tentang Hanif. Hanif, pemuda asal Gresik, Jawa Timur, adalah mahasiswa Teknik Informatika STEI-ITB angkatan 2019. Hanif pernah diliput oleh harian Kompas pada artikel ini karena kisahnya yang inspiratif. Sejak SMP Hanif sudah menyenangi bidang hardware dan pemrograman. Bahasa pemrograman yang dikuasainya sejak SMP adalah C dan C++. Berbekal kemampuan programming itu dia membantu ayahnya membuat jam digital Wal Ashri sehingga memiliki omzet puluhan juta rupiah per bulan. Kata Hanif, jam digital itu diprogram dengan bahasa C.
Kembali tentang permasalahan Hanif. Kata ibunya, waktu kecil Hanif mengalami delay speech (keterlambatan bicara). Ketika kuliah di Informatika ITB, Hanif memiliki kesulitan dalam membuat tulisan. Dia tidak mampu menyusun dan merangkai kalimat. Jadi kalau tugas-tugas membuat makalah, laporan tugas, atau ujian yang bersifat essay kalimat, Hanif tidak pernah membuatnya, dia melewatkan begitu saja tugas-tugas atau soal ujian semacam itu. Terbukti pada kuliah yang saya ampu, Hanif sama sekali tidak pernah membuat tugas makalah. Tidak heran nilai kuliahnya tidak maksimal. Sebenarnya Hanif tahu jawaban ujian essay atau apa yang harus dia tulis pada tugas-tugas itu, tapi lagi-lagi untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan dia tidak mampu merangkainya.
Dia sangat takut kalau ditanya tentang menulis, apalagi saya juga pembimbing Kerja Prakteknya, yang harus membuat laporan. Setiap bertemu saya seringkali bertanya sampai mana laporan KP-nya, dia langsung menutup mukanya dengan tangan, ketakutan. Dia pernah bilang tidak mampu membuat tulisan. Baginya membuat tulisan adalah sebuah mimpi buruk.
Hanif sedang mengerjakan Tugas Akhir di lab IRK
Tapi itu dulu. Sejak tahun lalu perkembangan Hanif sangat pesat. Ibunya beberapa kali berkomunikasi dengan saya via WA. Kata ibunya, Hanif sudah pernah dibawa ke psikolog untuk masalah menulis ini. Solusi dari psikolog adalah Hanif perlu coaching dan pendampingan dalam menyusun kalimat. Kemampuan verbal menyusun kalimat harus dilatih terus menerus. Hanya itu solusi satu-satunya, tidak ada yang lain.
Dalam hal ini, usaha kerja keras orangtuanya, terutama ibunya, membuahkan hasil. Pelan-pelan Hanif mulai dapat menulis laporan kerja praktek (KP) meskipun masih perlu dibantu orang lain, sesekali saya ikut terjun mendiktekan kalimatnya, Hanif menuliskannya. Alhamdulillah tahun lalu dia mampu mempresentasikan laporan KP itu pada kelas seminar dengan gayanya yang khas.
Qadarullah saya juga menjadi pembimbing Tugas Akhir (TA) Hanif. Satu tahun dia “menghilang” dari peredaran karena ketakutan tidak bisa menyusun proposal tugas akhir. Namun pelan-pelan proposal TA berhasil juga dia buat meskipun masih perlu dibantu orang lain. Tidak apa-apa, saya bisa memakluminya. Topik TA-nya adalah ide dari dia sendiri, yaitu pembuatan protokol untuk proof of work. Seminar proposal TA pun dapat dilewati dengan baik.
Hanif saat presentasi proposal Tugas Akhir
*********
Alhamdulillah pada tanggal 1 Juli 2024 Hanif, mahasiswa bimbingan TA saya yang spesial itu dapat menjalani sidang TA dengan baik dan lulus sidang TA. Hanif lulus ITB dalam waktu 5 tahun dan pada bulan Oktober ini akan diwisuda, tidak apa-apa telat 1 tahun dari seharusnya 4 tahun.
Berfoto dengan Hanif setelah sidang TA
Moral dari cerita ini adalah, anak-anak ABK tetap bisa menjalani kuliah di ITB, pendidikan inklusif tetap bisa dilakukan di ITB. Meskipun kuliah di ITB sangat berat, tapi kalau dijalani dengan sungguh-sungguh, sabar, tekun, dan pendampingan yang tepat, insya Allah mereka bisa melaluinya. Hanif adalah contohnya. Senang bisa membimbing Hanif.
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dan SMK negeri di Jawa Barat sudah tiga pekan lalu selesai. Murid-murid baru SMA dan SMK sudah menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) sejak tanggal 15 Juli 2024. Wajah-wajah ceria siswa baru SMA dan SMK terlihat pada hari pertama sekolah. Namun, di balik suasana keeriaan itu terselip kesedihan siswa dan orangtua yang gagal diterima di sekolah negeri.
Saya masih setia mengamati PPDB SMA di Jawa Barat, khususnya di kota Bandung tempat saya berdomisli. Sebagai pemerhati dunia pendidikan, karena saya juga seorang pendidik (dosen), maka PPDB tidak luput dari perhatian saya. Sistem PPDB sudah 7 tahun dijalankan, namun selalu menyisakan banyak persoalan.
Berbeda dari tahun sebelumnya, PPDB tahun 2024 mengalami beberapa perubahan. Tahun lalu tahap 1 adalah jalur prestasi dan tahap 2 jalur zonasi, afirmasi, dan KETM, maka pada tahun 2024 dibalik: tahap 1 adalah jalur zonasi, afirmasi, KETM dan tahap 2 jalur prestasi.
Banyak orangtua yang memprotes perubahan tahap ini, mereka mempertanyakan apa alasannya, meskipun dari Disdik Jabar tidak menjelaskan secara formal alasannya. Kalau saya lebih setuju pada perubahan ini. Mengapa? Karena jika jalur zonasi dan afirmasi/KETM pada tahap 1, maka siswa-siswa berprestasi yang rumahnya dekat sekolah akan “terangkut” lebih dahulu, sehingga siswa-siswa berprestasi yang rumahnya jauh dari sekolah akan mendapat kesempatan lebih banyak (saingannya berkurang). Ingat, jalur prestasi kuotanya sangat kecil, hanya 25% (itupun dibagi menjadi prestasi akademik/rapor dan prestasi kejuaraan), bandingkan dengan jalur zonasi yang kuotanya 50% dan afirmasi/KETM 25%. Keuntungan lainnya apabila jalur prestasi pada tahap 2 adalah dapat tambahan kuota, karena kuota yang tidak terpakai pada tahap 1 (jalur afirmasi dan KETM) dilimpahkan menjadi kuota tambahan pada tahap 2 (jalur prestasi), termasuk siswa yang tidak mendaftar ulang atau mengundukan diri pada tahap 1. Akibatnya, kuota jalur prestasi bertambah banyak. Bukankah ini yang diharapkan oleh banyak orangtua siswa agar kuota jalur prestasi diperbesar jumlahnya.
Berikut ini saya tampilkan rekapitulasi hasil PPDB SMA di kota Bandung saja, jalur zonasi dan jalur pretasi rapor. Untuk jalur lainnya tidak saya bahas karena cara perhitungannya kurang transparan dan agak sulit dipahami.
A. Jalur Zonasi
Seperti PPDB tahun-tahun sebelumnya, jalur zonasi diwarnai praktek manipulasi alamat domisili khususnya Kartu Keluarga (KK). Tiba-tiba saja dalam radius tiga ratus meter terdafttar di dalam sistem PPDB puluhan siswa yang rumahnya dekat sekolah negeri “favorit” (kasus di Bandung: SMAN 3 dan 5), padahal semua orang tahu di sekitar sekolah tersebut minim pemukiman penduduk. Protes sana-sini akhirnya digubris oleh Disdik Jabar. Siswa-siswa yang sudah lolos diterima di kedua sekolah tersebut dianulir kelulusannya (baca beritanya di sini dan di sini). Banyak warga mempertanyakan kenapa hanya kelulusan di kedua sekolah tersebut yang dibatalkan, padahal prakteknya terjadi di semua kota dan kabupaten di Jawa Barat. Biarlah ini menjadi PR bagi Disdik dan Pemrov Jawa Barat.
Tabel berikut merangkum hasil jalur zonasi PPDB SMA negeri di Kota Bandung. Dari tabel terlihat bahwa rata-rata siswa yang lolos adalah yang rumahnya pada radius maksimal satu km dari sekolah, kecuali pada beberapa sekolah tertentu lebih dari satu km. Jarak terdekat yang diterima adalah 42,593 meter (di SMAN 10 Bandung), dan jarak terjauh yang diterima adalah di SMAN 27 Bandung (1828 meter). SMA negeri yang jarak terjauh diterima lebih dari 1 km adalah SMAN 6, SMAN 7, SMAN 21, SMAN 22, SMAN 25, dan SMAN 27. Hal ini dapat dipahami karena di sekitar sekolah tersebut tidak banyak perumahan penduduk. Khusus di SMAN 3 Bandung, ada 180 anak yang rumahnya pada radius 476 meter, patut dipertanyakan apakah benar ada siswa sebanyak itu benar-benar tinggal di sekitar sekolah. Wallahu alam.
Tabel di atas juga memperlihatkan lima sekolah dengan pendaftar terbanyak adalah di SMAN 24, 18, 23, 4, dan SMAN 12. Ini tidak aneh, karena sekolah-sekolah tersebut terletak di kawasan padat penduduk. SMAN 23 terletak di kawasan Antapani yang padat perumahan, SMAN 24 di sekitar Ujungberung juga ramai dengan pemukiman penduduk.
Hal yang baru pada jalur zonasi tahun ini adalah adalah terdapat jalur zonasi kuota khusus bagi kecamatan yang tidak mempunyai sekolah negeri. Jadi, siswa yang berasal dari kecamatan yang tidak mempunyai SMA negeri lalu mendaftar di sekolah negeri di kecamatan lain tiba-tiba mendapat “keberuntungan” diterima di sekolah yang dia tuju, meskipun jarak rumahnya sangat jauh dari sekolah, seperti pada skrinsut di bawah ini (diterima di SMAN 10 Bandung). Sayangnya jalur zonasi kuota khusus ini tidak diumumkan di awal sehingga banyak orangtua tidak mengetahuinya.
B. Jalur Prestasi Rapor
Tahap 2 adalah jalur prestasi. Tahun ini jalur prestasi rapor ada perubahan cara menghitung skor. Jika tahun lalu skor pendaftar diproleh dengan menjumlahkan rata-rata nilai rapor selama lima semester, maka pada PPDB tahun 2024, selain jumlah nilai rata-rata rapor selama lima semester, juga ditambah dengan 5% nilai akreditasi sekolah asal (SMP). Misalkan nilai akreditasi sekolah SMP si pendaftar adalah 90, maka skor pendaftar mendapat tambahan 5% x 90 = 4,5. Saya tidak menemukan situs website yang memuat nilai akreditasi semua SMP di Jawa Barat, tapi menurut informasi yang saya perolah dari teman, nilai akreditasi sekolah bisa ditanyakan di SMA asal siswa.
Jalur prestasi rapor juga menuai banyak protes dari para orangtua. Mereka mempertanyakan nilai skor siswa pada hari-hari terakhir pendaftaran banyak yang tinggi-tinggi, bahkan ada yang nyaris 500. Para orangtua menduga (atau menuding) ada praktek “cuci rapor” di beberapa SMP. Dugaan ini perlu dibuktikan kebenarannya. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, kasus ini berlalu begitu saja.
Tabel berikut merangkum hasil seleksi jalur prestasi rapor PPDB SMA negeri di kota Bandung. Dari tabel terlihat bahwa skor terendah yang diterima (passing grade) tetap dirajai oleh SMA-SMA yang dilabeli sekolah favorit oleh warga kota Bandung, yaitu SMAN 3, SMAN 8, SMAN 5, SMAN 2, SMAN 1, dan SMAN 20. Passing grade tertinggi tetap dipegang oleh SMAN 3 yaitu 485,89, berikutnya SMAN 8 (481,55), SMAN 5 (480,35), SMAN 1 (474,65), dan SMAN 2 (474,53), dan SMAN 20 (474,03). Skor tertinggi yang diterima adalah di SMAN 3 juga, yaitu 497,31. Passing grade terendah adalah di SMAN 21 Bandung (442,75), berikutnya SMAN 18 (444,25), SMAN 27 (447,24), SMAN 17 (447,63), dan SMAN 13 (449,53). Skor tertinggi adalah di SMA 3 yaitu 497,31.
Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah pendaftar jalur prestasi rapor tidak sebanyak jalur zonasi. Mungkin karena jalur prestasi terbagi atas jalur prestasi rapor dan jalur prestasi kejuaraan, sehingga jumlah pendaftar terpecah. Mungkin juga karena banyak siswa yang sudah diterima di sekolah swasta sehingga tidak ikut jalur prestasi.
Kuota jalur prestasi juga meningkat dibandingkan tahun lalu, akibat limpahan kuota yang tidak terpakai pada jalur zonasi, afirmasi, dan KETM pada tahap 1. Mungkin juga karena ada siswa lolos yang tidak daftar ulang pada tahap 1 sehingga kuota tidak terpakai itu dialihkan ke jalur rapor.
C. Renungan
Sudah tujuh tahun PPDB dijalankan berdasarkan Permendagri tahun 2017. Sudah saatnya PPDB ini dievaluasi kembali karena banyak masalah yang muncul. Mudah-mudahan dengan pergantian presiden dan pergantian menteri pendidikan nanti peraturan PPDB dapat menjadi lebih berkeadilan. Beberapa usulan yang mengemuka dari masyarakat adalah kuota jalur zonasi agar dikurangi, mungkin maksimal 25 persen saja, sedangkan jalur prestasi dinaikkan menjadi 50%. Ada juga masyarakat yang mengusulkan seleksi PPDB berdasarkan NEM (nilai ebtanas murni) atau nilai UN seperti pada tahun 90-an dan 2000-an. Masyarakat menilai seleksi berdasarkan NEM atau nilai UN lebih transparan dan fair. Masalahnya, mas menteri sudah menghapus Ujian Nasional, sehingga seleksi berdasarkan NEM atau nilai UN tidak bisa dilakukan, kecuali jika Ujian Nasional diadakan kembali, atau seleksi masuk sekolah negeri berdasarkan hasil tes masuk.
Tujuan PPDB untuk menghilangkan label sekolah favorit ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Kenyataannya masyarakat tetap mengincar sekolah yang dulu dilabeli favorit. Sekolah-sekolah favorit tetap bertahan dengan julukannya, hal ini tidak bisa dipungkiri, sebab menjadi sekolah favorit adalah proses alamiah. Tujuan PPDB lainnya agar siswa bersekolah di sekolah yang dekat rumah juga kurang berhasil, kenyataannya siswa yang diterima banyak yang rumahnya jauh-jauh, ke sekolah pakai mobil atau motor, ditengarai sebagian siswa seperti itu mungkin melakukan manipulasi KK (?). Wallahu alam.
PPDB yang berlaku seperti saat ini hanya bisa dijalankan dengan syarat SMA/SMK tersebar secara merata di wilayah perkotaan atau kabupaten. Jika sebaran sekolah jomplang seperti sekarang, maka PPDB akan selalu menimbulkan kegaduhan setiap tahun.
Pernah ada mahasiswa yang bertanya kepada saya, setelah lulus S1 sebaiknya kerja dulu atau sekolah lagi ambil studi S2?
Jawaban saya adalah sebaiknya bekerja dulu agar kalian mendapat wawasan (insight) pengalaman menerapkan ilmunya dalam dunia nyata. Dengan bekerja terlebih dahulu maka seorang lulusan S1 akan menemukan persoalan riil dalam pekerjaannya yang mungkin dapat menjadi bahan penelitian untuk studi S2 nya kelak. S2 itu adalah studi ilmu yang lanjut (advanced) dan terspesialisasi. Setelah bekerja selama dua tahun sampai tiga tahun, maka silakanlah merencanakan ambil studi master (S2), baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak beasiswa yang bisa dilamar untuk studi S2.
Biasanya begitu, banyak mahasiswa saya yang sudah bekerja selama beberapa tahun lalu datang minta rekomendasi S2 atau rekomendasi beasiswa di dalam maupun di luar negeri. Mau update ilmu, Pak, kata mahasiswa saya tersebut.
Namun, jawaban saya di atas saya kecualikan bagi:
1. Mahasiswa yang memang sudah merencanakan karir menjadi peneliti atau dosen. Jadi, setelah S1 langsung saja lanjut S2 lalu S3.
2. Mahasiswa yang setelah lulus S1 mendapat “rezeki” berupa tawaran beasiswa S2 di luar negeri dalam waktu dekat. Kesempatan kan tidak datang dua kali, jadi kalau tiba-tiba mendapat tawaran beasiswa S2 dari kampus di luar negeri, kenapa harus ditolak? Belum tentu kesempatan dapat sekolah ke luar negeri itu ada lagi. Langsung bungkus saja gaesss, kata saya.
Saya pribadi lebih mendorong mahasiswa mengambil tawaran beasiswa S2 ke luar negeri. Bukan apa-apa, maksudnya agar mahasiswa dapat merasakan pengalaman hidup dengan kultur yang berbeda dengan di Indonesia, disamping juga kesempatan memantapkan penguasaan bahasa asing. Saya sendiri tidak pernah merasakah kuliah di luar negeri, semua jenjang pendidikan S1, S2, dan S3 di dalam negeri, di kampus ITB semua. Terasa sekali kemampuan bahasa Inggris saya tidak bagus kalau berbicara, justru mahasiswa saya yang sangat bagus dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris, seperti native speaker saja.
Namun bukan berarti mengambil S2 di dalam negeri atau mendapat tawaran S2 di negara sendiri tidak bagus. Kalau tawaran beasiswa S2 di dalam negeri juga menarik, kenapa tidak? Ambil saja, gaess…, nanti kalau ada kesempatan S2 lagi atau S3 di luar negeri kan bisa sekolah lagi.
Tulisan di dalam blog ini adalah opini pribadi penulis. Pembaca boleh setuju atau tidak setuju dengan isi tulisan. Silakan menulis komentar dengan sopan. Penulis berhak menghapus komentar yang kasar seperti umpatan, cacian, dan celaan. Komentar yang bernada melecehkan suku, ras, agama, dan golongan juga terlarang di sini.
Silakan mengutip tulisan di dalam blog asalkan menyebutkan sumbernya.