Di desa saya, dari dulu selalu rame kalau ada pentas Jibun (tentu saja cara membacanya jibon ala wong ndeso ya). Meski tanpa selebaran khusus seperti pamflet, banner, ataupun broadcast ala generasi mileneal tapi kekuatan penyampaian mulut ke mulut masih sangatlah kental, cepat, melejit dan distribusinya merata. Bahkan, tetangga desa saja sudah berkasak-kusuk. Sampai heran sendiri saya, pas saya dicegat mau berangkat lihat pentas jibun sama rombongan yang mau mengikuti pengajian umum di tetangga dusun, saya saja gak tau. Tapi, kalo Jibun, tetangga desapun sudah tahu sendiri.
Apasih yang membuat pentas jibun begitu istimewa dan mendatangkan banyak penggemar?
Suatu hari, karena rasa penasaran yang saya tidak bisa dibendung, saya terpaksa memperlihatkan sisi katrok saya atas ketidaktahuan saya tentang siapa itu jibun, kepada tetangga dempet rumah. Saya heran, tetangga dempet saya itu tidak pernah absen jika ada pentas jibun padahal beliau seorang ustadah.
“Jibun itu apa? Kok mesti pada heboh kalau ada jibun?” akhirnya saya tanya seteleh berbasa-basi sedemikian rupa biar kekatrokan saya tersamarkan.
“Lanang macak wedok (lelaki yang berpenampilan perempuan)” jawabnya singkat padat seperti sesuatu yang tak patut untuk ditanyakan.
Secara reflek otak saya menerima kalo jibun adalah sinonim dari banci, bencong, waria dan sejenisnya. Konon katanya pentas jibun hanya menonjolkan bentuk tubuh yang direkayasa sedemikian rupa. Sehingga bisa menonjol depan dan belakang. Sambil nyanyi-joget dangdut humor tapi kalo menurut saya lebih ke teriak-teriak manjah petjah. Menurut kesaksian pebri, soorang bocah 10 tahun yang sering menonton pentas Jibun, “pas iko mbak cik, Jibun ndelodok, mosok kutang’e diplorot trus diawut-awutno (saat itu, Jibun bertingkah tak semestinya, melepas beha dan dimain-mainkan di udara)”.
Weekend kemarin, akhirnya saya memutuskan melihat secara live pentas Jibun yang ditanggap oleh tetangga saya. Sebenernya tidak ada niatan apalagi sebersit hasrat menonton pentas Jibun. Apa yang bisa saya tonton dari waria yang joget-joget tidak jelas. Ketika menyanyikan sebuah lagu juga bad listening. Kan mending nonton k-drama sambil termehek-mehek sendiri di dalam kamar, sambil belajar how to make penonton indonesia bahkah dunia merasa tercyduk air matanya oleh k-drama. Mending lagi jika anda memang bener tergolong orang-orang soleh atau solikhah coba dengerin murottalnya mas Muzammil Hasbalah atau mbak Nabila Abdurrahim deh.
Tapi setelah saya tinjau ulang sikap saya yang sungguh tidak pancasialis, yakni dalam sila kedua—kemanusiaan yang adil dan beradab. Saya mencederai identitas sosial saya. Saya melupakan butir menjaga silaturahim dengan tetangga apalagi depan rumah pas. yakan gak enak, doi udah bayar mahal pentas Jibun itu, saya cuma jadi penontonnya masak gak mau. Saya juga gak mau dianggap tetangga durhaka karena perkara remeh temeh ini, yang biasanya menimbulkan sikap tidak saling menyapa dalam jangka yang lumayan lama. Betapa lucu ada perpecahan dan pemandangan canggung disebabkan tidak menghadiri undangan melihat pentas Jibun?
Nah ternyata pemahaman saya masih dalam tahap nakiroh. Jibun itu nama salah satu personil pentas warianya. Terbukti ketika pentas saat itu, banyak orang yang kecewa. Ternyata bukan Jibun. Lha saya ya kaget perasaan tadi yang saya lihat kan, Jibun. Meskipun saya minus, tapi kalo melihat manusia dengan jarak lumayan deket ya gak sebegitu ngeblurnya. Setelah saya tanyakan ke mbak Ninik, tetangga saya yang jarang sekali melewatkan pentas ini. “Jibun di penjara karena terjerat kasus narkoba” tuturnya. Terlihat kekecewaannya yang begitu dalam kehilangan idolanya untuk waktu yang lumayan lama.
Tapi apakah menanggap seperti ini juga banyak dosanya karena mendatangkan mudorot? Bagaimanapun Jibun and friends ini mencari uang. Mereka juga punya hak yang sama dengan warga lainnya, sesuai UU No. 39/1999 tentang hak asasi manusia. Kajian postmodern menilai fenomena waria dengan mengkaitkan pada suatu konsep yang menandai adanya feminisme yaitu dimana kelahiran bukan sebagai suatu hasil akhir seseorang mengidentifikasikan dirinya, namun identifikasi itu pada dasarnya lebih kepada suatu pilihan.
Siapa sih yang mau mempermalukan diri sendiri bahkan di bodohi di di depan khalayak umum? Siapa sih yang mau adu goyang bahkan disawer—diselempitkan uang receh di tetek oleh sesama jenisnya? Bagaimanapun saya kagum akan totalitas mereka menghibur banyak orang. Terbukti ketika mereka jungkir balik bahkan megal-megol yang bikin backsound penonton makin geboh dan teriak manjah. Saya memperhatikan para penonton yang melupakan beban hidup yang semakin berat. Bagaimanapun biarlah mereka bahagia meski dengan mempermalukan orang lain. Biarlah mereka melupakan sejenak kemiskinan dan penderitaan yang selalu bermukim di rumah mereka. Biarlah mereka melupakan lelah mereka menjadi buruh yang tak sepadan dengan kinerjanya. Biarlah mereka berbahagia dengan cara mereka sendiri.
Banyak cara hidup dan pilihan, tapi itulah yang selalu dilakukan pekerja seni seperti mereka. Mungkin bayaran tak seberapa. Mereka hanya butuh membahagiakan sesama dan memanusiakan kita semua.