liburan

Posted in Tidak Dikategorikan on Januari 13, 2025 by ristanait

beberapa hari yang lalu aku mendengar podcast Dewi Lestari di sini

dan ada satu bagian yang sangat menarik sekali tentang membaca buku, kira-kira percakapannya seoerti ini:

bagaimana seorang Dee Lestari melihat atensi kita yang semakin rendah, terutama untuk baca buku, minat baca buku kita juga rendah?

atensi kita rendah itu karena disetel oleh media sosial untuk sebegitu levelnya
tapi kalau misalnya kita bicara di luar media sosial, kita sebetulnya kan tidak membawa setelan itu terus-terusan
betul kalau sudah ngomongin media sosial buat saya nonton 3 menit itu rasanya kelamaan, karena di dalam konteks tersebut semua yang saya lihat 30 detik, 15 detik ,1 menit begitu
tapi ketika saya baca buku, saya tahu bahwa saya ga bisa bawa setelan media sosial saya ke dalam buku, karena ini dua konteks dan dua situasi yang berbeda
sama halnya ketika kita nonton bioskop, bisa tuh kita nonton film 2,5 jam 3 jam dan mau anteng, karena memang konteksnya nonton bioskop, kita membawa mentalitas yang berbeda
jadi kadang2 kalau kita tubrukkan mentalitas , oh iya media sosial sekarang pendek-pendek, tapi sebetulnya orang masih mau baca buku yang tebal asal buku tersebut memang mampu mengikat atensi mereka
percaya atau tidak, justru dengan kondisi sekarang yang katanya orang-orang yang span atensinya makin pendek makin pendek, buku saya makin tebal dibanding yang dulu, dulu saya kalau punya buku sekitar 250an halaman 300an sekarang buku saya novel nih itu rata-rata 500an halaman
mungkin orang2 juga bertanya, ngapain sih lu bikin buku cerita tuh tebel2? memang ada yang baca? ternyata ada, dan mereka harus membaca itu 4 hari satu minggu
dan yang menyenangkan buat saya adalah ketika mereka merasa, wow ternyata saya masih bisa ya, mengembalikan kepercayaan diri mereka, bahwa gue masih bisa baca buku tebal, tapi dengan syarat memang ceritanya harus semengikat itu sehingga mereka terhanyut
dari sisi kreator tantangannya justru adalah gimana caranya kita bikin karya yang sebaik mungkin sememikat mungkin sehingga pembaca itu mau meluangkan, berinvestasi waktu mereka satu minggu, 3 hari 4 hari untuk menghabiskan cerita kita yang tebal, yang berbanding terbalik dengan apa yang disajikan oleh media sosial, bahkan menjadi escape mereka, jadi liburan mereka keluar dari jeratan media sosial
jadi buat saya itu malah memberikan kontribusi , wah saya jadi ngasih satu oasis buat mereka agar punya stamina lagi untuk baca karya2 yang tebal
saya melihatnya itu sebagai oportunity

baru kali ini aku mendapat sudut pandang yang berbeda mengenai sosial media dan membaca buku, jadi tahun ini , semoga kita bisa sering-sering liburan dari media sosial dengan cara membaca buku

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai