PdAC
Pelangi di Atas Ceblung
(Oleh : Riyadi Sastrodihardjo)
Suatu sore setelah seharian hujan berderai
Mendung masih menebalkan diri bahkan semakin menutup matahari hingga tak tampak di langit Padukuhan Wonoroto. Gelegar petir menyambar-nyambar menggelisahkan para petani yang seharian tidak dapat berladang ke kebun atau sawah lahan – lahan mereka. Angin mengibarkan bendera kemenangannya di tepi-tepi pematang dengan sekali liukan kencang merobohkan padi yang baru tumbuh bergoyang.
Kini air Ceblung naik ke Tegalan, menyalami pohon -pohon singkong yang baru kemarin ditancapkan. Angin membelah pohon-pohon kacang yang baru mulai kembang πΈdan menikmati kesuburan.
Air juga memanjat ke pematang-pematang hingga binatang-binatang jalang penghuni pematang berebut Liang untuk menyelamatkan diri, adapula yang melarikan diri tunggang langgang berdesakan memilih medan yang lebih tinggi.
Hanya di sisi utara Ceblung terdapat medan Tegalan yang lebih tinggi. Sementara di sisi selatan Ceblung area persawahan yang telah perak poranda diterjang luapan air Ceblung. Bukan hanya area persawahan luapan air Ceblung juga memendam jalanan kampung dan pekarangan milik penduduk Kampung Karangmulya.
Hujan belum juga reda. Air membagi buta ke mana-mana. Hingga tengah malam Kampung Karangmulya masih direndam kegelapan.
Gerimis mengetuk pintu pagi. Perlahan air tdidak pasang lagi. Surut di jalanan, surut di rumah-rumah. Surut di pekarangan, surut di sawah-sawah. Ceblung dibangunkan dari kesunyian para penghuni. Mereka tidak menyadari bahwa hari telah berganti warna, dari kegelapan menjadi gerimis di sisi π pelangi. Malam telah berganti pagi. Ceblung telah menjadi area pencucian diri bagi burung-burung mliwis hitam blengkuwok putih. Dari tepi kampung juga terdengar kokok ayam hutan menyambut kedatangan pagi yang menggelikan ini.
Betapa tidak menggelikan, akhir dari hujan yang bersorak siang dan malam, kini hidup dihiasi pelangi di atas Ceblung pembawa rizki bagi para pendakwah keindahan.
Dua petak sawah di sisi utara Ceblung selanjutnya ada pematang panjang melintang dari barat ke timur dengan panjang kira-kira 100 meter dan lebar ke utara 20 meter. Tanah “saklopit” tersebut berpa tegalan milik Mbah Bekel yang ditanami pohon jagung. Ujung timur lahan tersebut berbatasan dengan Pekarangan Mbah Kem yang terkenal “angker” serem dan banyak tumbuhan besar-besar yang jarang dijamah orang.
Di bagian barat tegalan Mbah Bekel didirikan gubuk kecil yang sengaja menghindari bagian timur oleh sebab ada lahan “angker”. Di gubuk inilah “cah angon” (para penggembala itik, kambing, dan kerbau biasa berkumpul sembari bersandar gurau.
“Siang ini kita – parung jagung – saja” ajak Lik Harja membuka percakapan dan disambut dengan senang hati oleh teman-teman “cah angon semua. Kontan kami semua mulai bergotong royong mengumpulkan daun dan kayu kering untuk membuat “bedihan” – area bebakaran. Tak lama kemudian nyalalah api bebakaran menambah hangatnya suasana di tegalan. Lik Harja kemudian memilih dan memetik beberapa buah jagung yang masih muda untuk dibakar. Lik Harja adalah pemilik kebun jagung ini. Dia pula yang menanami kebun Mbah Bekel dengan pohon jeruk dan pohon jagung.
Di sebelah barat tegalan Mbah Bekel ini ada pematang membujuk dari selatan ke utara dengan panjang dan lebar yang relatif sama dengan tegalan milik Mbah Bekel. Ujung tegalan yang ini nyaris berada di lereng sumur Sedepok yang biasa digunakan untuk mandi penduduk Dukuh sebelah.
Di pematang-pematang tegalan milik Mbah Dullah tumbuh buah gembili dan gembolo yang juga enak bila dibuat ajang bebakaran. Meski harus berjuang melawan “kemarung” – duri-duri batang gembili – Cah angon semangat banget menambah bebakaran jagung dengan gembili ini.
Walhasil bebakaran kami ” cah angon” siang itu lezat dan membuat kenyang perut. Bakar jagung sama gembili. Kenyang perut sedangkan hati. Horeee β¦.
Tiga hari kemudian situasi banjir di Ceblung telah surut dan airnya normal. Kelihatan di sisi timur dan barat ganggang dan lumut memenuhi area rerawa ini. Salah satu hewan yang hidup di Ceblung ini adalah “lintah”. Banyak lintah liar berkeliaran di antara padi-padian dan rumput rawa. Siapapun yang masuk ke rawa ini pasti tak luput dari gigitan lintah-lintah itu. Adalah Mbah Dullah yang sengaja masuk ke area Ceblung untuk berteman dengan lintah-lintah. Pada siku tangan kanan Mbah Dullah telah terkena penyakit kanker yang setiap hari mengeluarkan “nanah” – cairan putih uang berbau. Demi menghilangkan cairan putih tersebut Mbah Dullah rela digigit lintah. Kadang sampai puluhan lintah dibiarkan menggigit tangan dan kakinya. Konon gigitan lintah ini mampu menyembuhkan kanker yang dideritanya. Sesudah menggigit lintah-lintah tersebut kemudian dilepas kembali ke Ceblung. Mbah Dullah hampir tiap hari “berburu” lintah di Ceblung.
Empat Sekawan. Demikian kami menyebut empat orang penggembala kambing yang selalu bersamaan di musim kemarau. Lik Harja dengan 22 π wedus gembel, aku membawa 17 π wedus gembel, Lik Nawil 14 π wedus gembel, dan Narta dengan 12 π wedus gembel. Kesemuanya wedus gembel (domba). Pada musim kemarau area seputar ceblung kering, sehingga memungkinkan kami berempat “angon” (menggembala) di area persawahan atau tegalan yang sedang tidak ditanami karena kering tak ada air. Air Ceblung juga tinggal sedikit. Hanya di bagian tengah Ceblung yang masih tergenang air. Di sisi-sisi tepian Ceblung mulai basah-basah sayu bahkan kering sama sekali. Sambil mengawasi kambing-kambing kami berupaya mengaduk tanah liat Ceblung yang sudah mulai kering untuk mencari belut dan ikan yang sembunyi di balik lumpur. Dengan “menjugil” bagian atas tanah kering yang berupa “lungko” -gumpalan-gumpalqn lumpur kering maka kami temukan jejak ikan atau belut yang bersembunyi. Kadang dalam satu gumpalan terdapat lebih dari satu belut, sehingga hal ini menguntungkan para pemburu belut. Perolehan belut kemudian kami “sandat” dengan rumput liar yang tumbuh di area Ceblung. Tak jarang aku membawa pulang dua atau tiga “sandat” belut dalam satu sore pencarian. Sekali rengkuh lumpur dua tiga belu terdapati. Maka pulanglah aku dengan senang hati.
SIMBOK, AKU RINDU
Ketika angin malu-malu beralih
Antara lengangnya ngarai dan perdu-perdu Menyeberang pun hati enggan berdalih
Begitulah kecipak mimpi bernama rindu
Ada senyum yang ingin kubuang
Pada rebah ilalang kemarau berdurasi panjang
Pada hamparan kenanga yang masyuk depan pintu
Ada syurga yang kauhuni di antara keduanya
Simboook!!!
Aku lelah memanggil-manggil
Ingin kurebahkan sukma raga ini kepangkuanmu
Seperti dulu ketika aku kekanakan
Menumpahkan segala tangis, segala keluh kesah dan dukaku saat itu
Lalu Kausenandungkan kidung putih melati
Mengantarku kembali ke bilik mimpi.
Sajak Kaki Gelisah
Izinkan aku berdiam diri
Kakiku gelisah enggan diajak pergi
Jangan Engkau menanti
Apalagi berlama-lama di pinggir kali
Hatiku merana tidak di sana
Di sini pun aku haus dahaga
Kakiku gelisah enggan berdansa
Bila mata kaki tak melihat pula
Kesandung manti jadinya
Bila pergi bagimu para punggawa
Biarkan jejak ini berhenti di mata.
