Cerita dari dalam kepala

Dari halte sampai rumahmu

Sore tadi kita bersama
Kujemput kau di halte tua
Kita lari bersama, mau menyisir malam
senja jadi muram,
Matari tenggelam.

Sebentar, sebuah kedai kopi kita singgahi
Pesananku sederhana, minum dan tawa.
Padaku, kau suguhkan keduanya.

Penghabisan depan rumahmu,
Kuselipkan kau bunga di kuping kiri.
Kenang-kenangan kita nanti,
Jika satu meninggalkan lain, mati.

Aku sebenarnya tidak suka bertemu denganmu, karena kita harus bertemu lagi di tempat pertama kali kita bertemu.

Bau tanah basah menyusup ke hidungku. Seperti pisau yang menyayat paruparu, membuat dadaku terasa sesak oleh bau aneh yang tidak aku suka. Seperti bau aneh yang keluar dari tubuhmu, waktu kulumat habis seluruh tubuhmu dengan lidahku. Malam itu, lidahku seperti seekor ular yang menelan mangsanya bulat-bulat, menikmati sambil menghapal tiap lekuk bentuk tubuhmu. Tak ada satu kata pun keluar dari mulutmu, yang sehabis itu kuhisap dalam-dalam nafasmu melalui rongga kerongkonganmu. Kita mengubah berahi jadi peluh. Aku beringas, kau begitu angkuh.

Aku sebenarnya tidak suka bertemu denganmu, karena kita harus bertemu di tempat sesepi ini. Yang bahkan, kebanyakan orang tidak akan mau menginjakkan kakinya. Tapi kita hanya bisa berduaan di tempat seperti ini. Tidak ada keramaian, gelap. Kita bebas bertukar liur tanpa ada orang yang tahu. Bebas bertelanjang di luar ruangan.

Aku sebenarnya tidak suka bertemu denganmu, karena kita harus bertemu di tempat sebasah ini. Hujan yang semalaman mengguyur, membuat tanah tempat aku berpijak menjadi lengket dan menempel di sela-sela sepatuku. Bahkan sampai ada yang menempel di bajuku.

Aku tidak suka bertemu denganmu, karena aku harus bersusah payah berjibaku dengan lumpur, hanya untuk mengosongkan isi kantung spermaku.

Tapi, aku tetap datang menemuimu. Kepalaku sedang dipenuhi nafsu. Berbekal sebuah cangkul, untuk membongkar lagi batu nisan dan gundukan tanah di atas tubuh kakumu.

Aku (Bukan) Seorang Pelacur

Matahari mulai mengintip malu dari balik tirai, mataku perlahan terbuka.

Di balik selimut, tubuh telanjangku meringkuk.

“Mas, sudah pagi”

Lelaki bertubuh atletis yang tidur seranjang denganku belum bangun juga. Jemariku mulai bermain di pinggangnya yang kokoh, lalu mulai berlari ke arah dadanya yang bidang, dan akhirnya berlabuh di wajahnya yang rupawan. Tapi hanya gumaman kecil yang dia berikan.

Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ruangan kecil ini selalu setia menjadi pendengar segala keluh kesah, saat dunia menertawakanku.

Suara gemericik air keran rupanya ampuh membangunkannya. Bergegas aku kembali ke atas ranjang.

“Dik, ini uang buat kamu sekolah. Tadi malam, Aku sangat puas.” Katanya sambil meraba pahaku.

Aku tersenyum. Kakakku rupanya ingat, kalau pagi ini aku harus berangkat sekolah.

Pesta

“Mereka sama-sama berpesta, tapi waktunya berbeda.”

 

“Ayo cepat! Udah mau tutup pintunya!” Teriak pria yang mendapat julukan eksekutif muda itu. Memang, pekerjaan dikantor membuatnya pusing dan jenuh. Pulang kerja, pakaiannya lusuh, kacamatanya agak turun, dan tak ada senyum terpampang diwajahnya.

“Ayo Anton, kali ini kita happy-happy!” Teriak Ina, wanita karir ini tak lain adalah teman sekantor pria itu. Hanya saja Ina lebih senior, lebih lama satu tahun dibandingkan anton. Malam ini, Ina berubah dari seorang wanita kantoran biasa, menjadi ratu pesta dengan gaun indah dan tatapan menggoda. Tak seorang pun pria yang bisa berkedip saat melihatnya.

Malam sudah mabuk, banyak bintang berkeliling diantara sang bulan. Seolah mereka ikut menikmati malam ini bersama muda-mudi itu. Hari ini hari minggu, mungkin sudah masuk hari senin, tapi semangat berpesta mereka belum usai. Belum habis gelas-gelas bir dan vodka kesukaan mereka.

Pintu klab malam itu dibuka, terdengar suara “jedag-jedug” mirip lagu dangdut koplo yang biasa diputar supir angkot. Hanya saja oknumnya berbeda, bukan para supir angkot yang kumal dan mengeluarkan aroma khas campuran keringat, matahari, dan debu jalanan. Tapi kali ini hanya para muda-mudi berpakaian rapi, dengan kemeja dan gaun yang anggun.

“Mas, minta Jack Daniel satu” ucap anton, kali ini dia yang bayar, maklumlah masih tanggal muda. Ina hanya mengedipkan mata ke anton, sesekali dihisapnya rokok putih bermentol.

Tunggu, kenapa mereka hanya berdua? Apa tak ada teman mereka yang ikut ke klab ini?
Hiruk pikuk di dalam klab, asap rokok yang pekat bercampur dingin dari air conditioner diruangan tertutup itu, mereka teguk sambil sesekali tertawa bersama malam yang semakin mabuk.

“Cukup minumnya, ke dancefloor yuk!” Ajak anton kepada ina. Diteguknya sebuah pil yang sudah disiapkan Ina. Mereka lalu turun ke depan DJ, bergoyang ala binatang yang sedang mabuk ekstasi. Tak berbentuk.

Tiba-tiba musik berhenti, DJ mengucapkan terimakasih kepada para pengunjung. Mereka berdua kebingungan, sudah berapa lama mereka disini? Kemudian mereka mendapati sang bulan menggelepar, hanya matahari yang masih sanggup melanjutkan pesta.

Ya, mungkin bukan pesta bagi muda-mudi kantoran seperti mereka. Tapi ini pesta bagi para pencari nafkah yang bekerja keras, bukan diruangan kantor yang ber-AC dingin, melainkan di antara debu jalan, dan kabut yang sudah bercampur asap kendaraan. Seragampun seadanya, hanya satu yang diberi pada waktu awal masuk kerja, seragam warna oranye. Mereka mengais nafkah dari botol-botol plastik sisa mabuk orang-orang kantoran semalam.

Bagi Ina dan Anton, tanda matahari terbit artinya mereka kembali ke kejenuhan dibalik meja dan berkas-berkas menumpuk di depan laptop. Tapi bagi mereka yang berseragam oranye, itu tanda mereka akan berpesta, mungkin malam ini, upah yang diberikan lebih banyak, karena sampah menumpuk.

Mereka meninggalkan klab, dilewatinya pria tua berseragam oranye itu.
Didalam pikiran pria paruh baya itu, pesta seperti itu mungkin tak akan pernah dialaminya.

Lalu pria itu kembali mengumpulkan botol-botol kosong, dan menghilang bersama matahari yang merangkak naik keatas kepala.

Suatu Malam di Bar Langganan

Dua gelas tequilla sudah habis direguknya. Jarum jam menunjuk ke angka 11, terdiam di pojok bar seorang wanita cantik dengan baju berbelahan dada rendah dan lipstik merah yang menghiasi bibirnya, warnanya sangat khas. Merah kehitaman, sepertinya warna hitam itu dipoleskan oleh rokok yang hampir setiap hari dihisapnya. Ia sedang sendirian.

“Mas, minta billnya.” ucapnya seraya mengacungkan jari.

“Totalnya segini mbak.” ucap pelayan itu sambil melemparkan senyum.

“Ini, ambil saja kembaliannya, ya.”

Wanita itu meninggalkan uang seratus ribuan di meja, dan melangkahkan kakinya kearah pintu keluar.

“Hmm, mas nanti kalau ada pria dengan pakaian kayak rocker kesini mencariku, bilang saja aku sudah pulang, ya” bisiknya sebelum memutar gagang pintu. Penuh senyum pelayan itu mengangguk, tak berani berkata-kata, dia tersipu oleh kedipan mata wanita muda itu.

***

Hari lain, di bar yang sama, kembali duduk wanita dengan warna bibir khas itu. Kali ini berbeda, ada seorang pria berbadan kekar menemaninya, di meja ada satu gelas martini dan satu gelas bir yang sudah setengah diminum.

Tiba tiba seorang pria kurus berkacamata datang masuk. Dia memesan satu shot cognag sambil memberikan secarik kertas lalu membisikan sesuatu ke telinga pelayan.

Pelayan itu langsung melangkah menjauhinya dan memberikan kertas itu ke si wanita cantik.

Sambil tersenyum sang wanita menuliskan sesuatu diatasnya, dan memberikannya lagi ke sang pelayan sembari mengucapkan sesuatu. Dengan sigap pelayan itu memberikannya lagi ke pria berkacamata yang wajahnya tampak memerah.

“Ini mas balasannya, tadi dia berpesan jangan dibalas lagi ya. Dia juga menitipkan sesuatu, ciuman.”

Seketika pria itu marah, dibantingnya gelas dan kertas ke meja. Sambil melontarkan makian kepada sang pelayan, dia pergi meninggalkan bar.

Dari kejauhan tampak wanita itu tersenyum. Lalu pergi keluar bar bersama pria berbadan kekar yang dari tadi bersamanya.

Penuh rasa penasaran dan kesal, sang pelayan membaca isi kertas itu. Dia pun tersenyum.

Disitu tertulis:

“Ma, kenapa kamu ada disini?! Dan siapa pria yang bersamamu itu? “

“Ini Joni pa, kami memutuskan untuk menikah. Andai saja papa tak pernah pulang terlambat, pasti aku tak akan pernah mengenalnya, kita cerai saja, pa.”

Suasana bar ini berubah gembira. Gelak tawa terlempar di sana-sini. Terutama dari bibir wanita cantik itu.

Target Terakhir

Tangannya sibuk mencontreng daftar nama, peluh menetes mengaliri kening, tapi bahkan matahari tak sanggup membuat niatnya meleleh.

“Tinggal beberapa puluh orang lagi!” batinnya.

Langkah kakinya menjuntai dari pintu ke pintu, menemui orang-orang yang namanya tertulis di secarik kertas yang diberikan oleh atasannya.

Hari ini terasa sangat panjang baginya. Tenggat waktu yang diberikan sudah hampir habis.

“Kalau sebelum matahari terbenam aku gagal, bos bisa marah besar!”.

Dia berlari, berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan tugas.

“Akhirnya!” orang terakhir berhasil ia temukan.

***

“Bos, semua sudah selesai”.

“Bagus, kalau begitu cabut nyawamu sendiri” perintah atasannya.

Dia kaget bercampur marah, seluruh usahanya terasa percuma.

“Tidak, lebih baik kupenggal kepalamu” dia mengangkat sabit besar yang  ia genggam.

“Jangan bodoh, hari ini semua pasti akan mati. Apa ada yang bisa lebih abadi selain aku, Tuhanmu?”.

Tak Kemana

Langkah kaki Joko mulai melambat. Kerongkongannya sekering padang pasir di Timur Tengah. Kota ini sama sekali tak menunjukkan keramahan bagi pendatang seperti dirinya.

“Di sini air putih aja mahal banget.” Gumamnya.

Dia berhenti di sebuah kios rokok, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.

“Pak, samsu sebatang sama air putih ya.”

Seorang lelaki tua dengan sigap memberinya segelas air putih dan satu batang rokok kretek yang diminta.

“Ini mas. Baru ya di Jakarta?”

“Iya, kok tahu pak?” Tanya joko sembari meraih korek api yang menggelayut di samping daun pintu warung itu.

“Ketahuan dari logat, pakaian, sama tampangnya mas, hahaha.”

Joko tersenyum, dihisapnya dalam-dalam gulungan tembakau yang ada di tangannya.

“Hidup di kota ini keras, lebih enak di kampung mas. Saya juga menyesal dulu merantau ke sini. Nasib bukannya jadi lebih baik, eh malah makin susah.” cerita si penjual warung yang mengaku sudah lebih dari 20 tahun hidup di Jakarta.

“Saya cuma ingin menemui seseorang kok pak, gak ada niat buat tinggal disini.” Jawab Joko sembari menenggak gelasnya. Air putih dingin itu tampak mengalir deras melewati biji jakun yang naik turun, menuju kerongkongannya.

“Kalo boleh bapak tahu, siapa mas?”

“Di kampung, ada seorang gadis yang sangat saya cintai. Sebulan yang lalu dia pergi ke Jakarta, katanya mau nemuin bapaknya. Bapaknya pergi merantau sebelum dia lahir.”

“Wah cinta memang indah ya mas. Tapi, mau pergi ke ujung dunia pun kalau jodoh mah gak kemana-mana mas.”

Joko tersenyum lalu menatap langit, matahari di sini terasa lebih dekat daripada matahari yang ada di kampungnya. Di benaknya, semuanya terasa tak ramah, kecuali bapak penjual rokok ini.

 

Tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri warung itu.

“Pak, ini Lastri belikan makan untuk bapak.” Katanya, seraya memberikan sebuah kantong plastik hitam.

Mata Joko terbelalak, “Lastri!” teriaknya.

“Loh, mas ngapain kesini? Kan aku sudah bilang kalau aku pasti pulang.”

“Aku gak kuat, kangen sama kamu!”

 

Sepasang kekasih itu lalu berpelukan, erat sekali.

“Nah, kejadian kan? Jodoh gak bakal kemana mas.” Pak tua itu tertawa, ternyata pemuda itulah yang sering diceritakan oleh Lastri, yang jauh-jauh datang untuk meminta restunya.

“Malam ini kamu menginap di rumah bapak saja, besok kita pulang ke kampung. Buat ngurus pernikahan kalian.” lanjutnya.

 

Joko melepas pelukan Lastri, kemudian mencium tangan lelaki tua di hadapannya.

Di Depan Pintu Rumahmu

Diluar hujan. Deras sekali. Kami akhirnya sampai di depan pintu rumah itu. Badan kami sudah basah kuyup. “Hujan memang sialan! Maaf, ya, jadinya kau sampai basah begini.” kataku padanya.

Kulihat pakaian yang membalutku, hampir tak ada bagian yang kering. Pun dia, air sudah meresap sampai ke setiap pori-pori di tubuhnya. Aku mulai pelan-pelan mengeringkan kemeja, dan celanaku. Membenarkan gaya rambutku yang hancur berantakan.

“Kamu gak ngeringin badan dulu? Oh, kamu ngebiarin angin yang melakukannya, ya?” kataku. Tawa kecilku pecah.

Setelah pakaianku sedikit kering. Aku bergegas memencet bel.

Bunyi langkah kaki terdengar mendekat. Pintu dibuka.

“Sayang, kamu ngapain hujan-hujan kesini?”

“Aku kangen. Ini, bunga dariku. Maaf sedikit basah, dia tadi kehujanan juga.”

Ayat Suci

Bekas tamparan di pipiku masih terasa pedas, padahal sudah hampir seminggu sejak ayah menamparku. Dia memang keterlaluan, hanya karena aku salat dan mengaji,ayah menghukumku tidak boleh keluar rumah selama satu bulan. Padahal, apa salahnya aku berdoa dan menyembah Sang Pencipta?

Ayah pemabuk berat, dia juga gemar berjudi. Segala jenis maksiat gemar dilakukannya. Main perempuan, korupsi, dan banyak lagi. Aku heran, mengapa ibu tidak melarangnya? Mengapa ibu juga diam saja ketika ayah main tangan saat memarahiku? Sebenarnya apa salahku?

Hari ini, malam ini, ayah pulang terlambat. Aku memanfaatkan waktu untuk bertemu Ustadz Soleh, seorang alim ulama bijak. Aku tahu, tidak akan ada orang selain dia yang bersedia membantuku. Beliau menyuruhku untuk menghafal beberapa ayat suci dari kitab, untuk mengingatkan ayahku bahwa ayah, sama sepertiku –hanyalah makhluk ciptaanNya.

Saat kubaca, hatiku terasa panas, seperti dilelehi besi cair yang membara. Tapi pak Ustadz menyuruhku untuk menahan rasa sakit, dan membantuku menghafalnya.

Malam datang, sebentar lagi ayah pulang. Aku membayangkan wajahnya yang mabuk sambil berjalan sempoyongan. Sungguh, aku malu! Andai aku bisa dilahirkan, aku ingin bisa dilahirkan kembali sebagai anak orang lain.

“Tok, tok, tok…” pintu diketuk.

“Ayah pulang!”

Tanpa membuang waktu, kubaca hafalan ayat yang diajarkan pak Ustadz tadi.

“Aaaargh Panas! Apa yang kamu baca?”

“Ayat suci, yah. Dari kitab yang diturunkan Sang Pencipta.”

“Berapa kali ayah harus memberitahumu, kita ini jin dari kaum setan! Kita harusnya membuat manusia membelot dari Tuhan! Ini pasti kerjaan si Ustadz brengsek itu, kau tak boleh keluar dari rumah selama kau belum menyadari siapa sebenarnya kita!” teriak ayah.

Tidak, dok, saya yakin saya tidak gila!

Suara pendingin ruangan terasa menyakitkan telinga, tampaknya suara itu terbentuk karena usia atau jarang dibetulkan. Di ruangan yang serba putih, seorang pria gugup menunggu hasil pemeriksaan kesehatannya. Keringat meluncur dari dahinya, entah karena panas matahari yang tidak mampu dikalahkan pendingin ruangan, atau adrenalin yang meluncur deras ke jantungnya.

Tibalah sang dokter dengan sepucuk map berwarna coklat, pria itu menarik nafas dalam-dalam.

Tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Hanya suara dari pendingin ruangan tua yang meronta kesakitan karena sudah dipakai bertahun tahun.

“Selamat siang pak Bram.”

“Siang, dok, bagaimana hasil tesnya? Tolong jangan bilang kalau saya sakit, saya ini pria yang sehat!”

“Maaf, saya sebenarnya tidak ingin mengatakannya tapi anda harus menjalani masa rehabilitasi, masih ada kemungkinan untuk sembuh. Mental anda sedikit terganggu.”

“Tapi saya tidak gila, dok!”

“Lalu kenapa anda masih berpikir kalau saya nyata?”

Design a site like this with WordPress.com
Get started