Langkah kaki Joko mulai melambat. Kerongkongannya sekering padang pasir di Timur Tengah. Kota ini sama sekali tak menunjukkan keramahan bagi pendatang seperti dirinya.
“Di sini air putih aja mahal banget.” Gumamnya.
Dia berhenti di sebuah kios rokok, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.
“Pak, samsu sebatang sama air putih ya.”
Seorang lelaki tua dengan sigap memberinya segelas air putih dan satu batang rokok kretek yang diminta.
“Ini mas. Baru ya di Jakarta?”
“Iya, kok tahu pak?” Tanya joko sembari meraih korek api yang menggelayut di samping daun pintu warung itu.
“Ketahuan dari logat, pakaian, sama tampangnya mas, hahaha.”
Joko tersenyum, dihisapnya dalam-dalam gulungan tembakau yang ada di tangannya.
“Hidup di kota ini keras, lebih enak di kampung mas. Saya juga menyesal dulu merantau ke sini. Nasib bukannya jadi lebih baik, eh malah makin susah.” cerita si penjual warung yang mengaku sudah lebih dari 20 tahun hidup di Jakarta.
“Saya cuma ingin menemui seseorang kok pak, gak ada niat buat tinggal disini.” Jawab Joko sembari menenggak gelasnya. Air putih dingin itu tampak mengalir deras melewati biji jakun yang naik turun, menuju kerongkongannya.
“Kalo boleh bapak tahu, siapa mas?”
“Di kampung, ada seorang gadis yang sangat saya cintai. Sebulan yang lalu dia pergi ke Jakarta, katanya mau nemuin bapaknya. Bapaknya pergi merantau sebelum dia lahir.”
“Wah cinta memang indah ya mas. Tapi, mau pergi ke ujung dunia pun kalau jodoh mah gak kemana-mana mas.”
Joko tersenyum lalu menatap langit, matahari di sini terasa lebih dekat daripada matahari yang ada di kampungnya. Di benaknya, semuanya terasa tak ramah, kecuali bapak penjual rokok ini.
Tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri warung itu.
“Pak, ini Lastri belikan makan untuk bapak.” Katanya, seraya memberikan sebuah kantong plastik hitam.
Mata Joko terbelalak, “Lastri!” teriaknya.
“Loh, mas ngapain kesini? Kan aku sudah bilang kalau aku pasti pulang.”
“Aku gak kuat, kangen sama kamu!”
Sepasang kekasih itu lalu berpelukan, erat sekali.
“Nah, kejadian kan? Jodoh gak bakal kemana mas.” Pak tua itu tertawa, ternyata pemuda itulah yang sering diceritakan oleh Lastri, yang jauh-jauh datang untuk meminta restunya.
“Malam ini kamu menginap di rumah bapak saja, besok kita pulang ke kampung. Buat ngurus pernikahan kalian.” lanjutnya.
Joko melepas pelukan Lastri, kemudian mencium tangan lelaki tua di hadapannya.