(QS. Al Baqarah 120) Maret 12, 2007
Posted by rmni in Renungan.add a comment
�Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : �Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)�. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu�.(QS. Al Baqarah 120)
Penjelasan: Surat �Al Baqarah� yang 286 ayat ini turun di madinah yang sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa�. Seluruh ayat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, surat terpanjang dalam surat-surat Al Quraan terdapat pula ayat terpanjang (ayat 282). Dinamakan Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74). Dinamai �Fusthaathul-Quraan� (puncak Al Quraan) karena memuat hokum yang tidak disebutkan dalam surat lain. Dinamai juga surat �alif-laam-miim� karena dimulai dengan Alif-laam-miim. Isi pokoknya tentang hukum dalam islam, perumpamaan, dan hujjah-hujjah.
Tafakur Februari 14, 2007
Posted by rmni in Renungan.add a comment
Takdir dan Teknologi
Salam Redaksi
Assalamu �alaikum wr.wb.
Di antara kelemahan ummat Islam di dunia adalah ketidakmampuan, mengolah alam sebagai anugerah Allah bagi kesejahteraan manusia. Kelemahan itu antara lain dipengaruhi oleh pemahaman teologis menyang�kut hukum sebab akibat atau hukum alam. Segala sesuatu diciptakan Tuhan dengan qadar. Oleh karena itu semua yamg terjadi adalah taqdir-Nya. Banjir adalah takdir dan tidak banjir karena selokan dan sungai sudah dibersihkan juga taqdir. Artinya manusia diberi peluang untuk mere�kayasa qadar Allah agar menjadi taqdir yang menyenangkan.
RMNI sengaja mengetengahkan tulisan Prof. K.H. Ali Yafie, tentang hubungan taqdir dan teknologi. Wassalam.
v achmad mubarok
TAKDIR DAN TEKNOLOGI
Pendahuluan
Yang berbicara dan mempersoalkan �takdir� hanyalah manusia. Mengapa? Di antara sekian banyak makhluk yang mengisi alam raya ini, hanyalah manusia yang mempunyai kemampuan memikirkan perbuatannya dan kejadian-kejadian yang berlaku di sekitarnya. Pada tahap tertentu dalam kehidupannya, daya fikirnya bekerja penuh me�lakukan penalaran; yaitu ketika ia sudah mencapai titik pertumbuhan jasmani dan rohani yang dewasa atau akil baliq. Ketika itu manusia merasa dirinya kuat, cakap dan cerdas, dapat mengetahui dan dapat melakukan segalanya; kemam�puannya meluap-luap menginginkan segalanya.
Bilamana manusia berada dalam keadaan sehat, kuat serba tahu dan serba mau, dia merasa dirinya mampu mandiri, dan tidak memerlukan siapa-siapa, maka pada gilirannya ia bisa menghina atau memperkosa orang lain, atau sekurang-kurangnya memandang remeh sesama orang lain. Kenyataan ini direkam dalam Alquran pada ayat 6 dan 7 Surah al-�Alaq: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup.
Sentuhan RMNI Februari 14, 2007
Posted by rmni in Ghiroh.add a comment

Perjalanan Panjang Meraih Ihsan
Malaikat Jibril pernah hadir di tengah-tengah majelis Rasulullah SAW Ketika itu Jibril mengajukan serangkaian pertanyaan yang mampu dijawab Rasul dengan baik. Setiap kali Rasul menjawab, Jibril mengatakan, “Engkau benar!” Hal ini membuat heran para sahabat. Dia yang bertanya, tapi dia pula yang membenarkan jawaban Rasul.
Keheranan ini terjawab ketika Rasul mengatakan kalau yang datang itu adalah Malaikat Jibril yang sengaja memberi pelajaran kepada mereka tentang iman, Islam dan ihsan. Ihsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah. Bila kita tidak melihat Allah, maka sesungguhnya Allah melihat kita.
Demikian makna ihsan menurut Rasulullah SAW (HR Muslim). Jadi, ihsan menunjukkan satu kondisi kejiwaan manusia, berupa penghayatan bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah. Perasaan ini akan melahirkan sikap hati-hati, waspada dan terkendalinya suasana jiwa. Iman, Islam, dan ihsan adalah tiga pilar bangunan Islam. Sehingga ihsan tidak bisa dilepaskan dari rukun iman dan rukun Islam. Ketiganya saling melengkapi. Kalau diilustrasikan, fondasinya adalah rukun iman, pilar-pilar dengan keseluruhan bangunan yang ada di atasnya adalah rukun Islam, dan ihsan sebagai ruhnya.
Jadi, ihsan adalah penentu hadir dan tidaknya ruh seorang Muslim dalam menjalankan aturan Islam. Ketika seseorang beriman, berislam, namun tidak berihsan, maka saat itu ia belum sampai pada ruh ajaran Islam. Karena itu sangat penting bagi setiap Muslim untuk terus melakukan introspeksi diri, apakah sudah melakukan tajdiidul ihsan atau belum. Jangan sampai karena sibuk mencari dunia, aktivitas yang kita lakukan kehilangan ruhnya. (lebih…)
Velentine Day…..!!! It’s Not Islamic Culture Februari 14, 2007
Posted by rmni in Izzah.add a comment
Remaja Islam dikepung
Pernah jalan-jalan di Mal, Toko buku-toko buku, pas bulan Februari ini coba deh kamu jalan-jalan ke mal-mal, toko buku-toko buku, coba perhatikan di sekeliling anda, diatap-atap or langit-langit terpampang gambar warna merah jambu, ada yg berbentuk dua buah hati jambu, kayaknya sih meriah banget…apalagi pas kamu kamu sedang bersama doi, wuih kelihatan romantis tis..tis..tis…(yg ini pasti perasaan kamu).
Memangnya, ada apa dengan bulan Februari sih, kok banyak terpampang gambar hati merah jambu?, Di antara meriahnya warna merah jambu terpampang tulisan besar-besar “Happy Valentine Day”, di TV dan Radio, majalah maupun Koran pun seolah tidak ingin ketinggalan menampilkan iklan Hari Valentine, memanfaatkan isu valentine day dengan menyelenggarakan acara-acara wah, apalagi hal ini juga dimeriahkan dengan remaja putra-putri yang sedang asyik gaul. Ya itulah…hari valentine, or hari dimana kita berkasih sayang, dulu pas SMA sih Cuma denger aja apa hari valentine day itu, tapi waktu itu nggak tahu apa sih sebenarnya valentine day, apa lagi ikut merayakannya… (lebih…)
Sentuhan RMNI Februari 14, 2007
Posted by rmni in Ghiroh.add a comment
Erosi Hati dan Korupsi Akhlak
Secara fitriah hati itu bersifat lembut (latifah), mudah tersentuh, dan sangat peka terhadap berbagai perubahan psikologis yang terjadi. Setiap hati sejatinya membimbing kita untuk “pulang” ke sumber kedamaian, mewartakan kerinduan pada kebenaran hakiki. Kompas di hati setiap manusia adalah kompas hanif yang cenderung untuk selalu menunjukkan jalan yang benar. Kompas yang ditujukan untuk “menyelamatkan” Nabi Ibrahim dan keturunannya agar memiliki visi dan orientasi yang jelas dalam hidup.
Bencana sesungguhnya yang terjadi saat ini adalah tergerusnya sifat hanif dari hati manusia. Kondisi ini kita sebut “erosi hati”, di mana nilai-nilainya tersapu kuatnya arus hawa nafsu. Banyak kasus menunjukkan bahwa erosi hati ini berakibat pada meningkatnya intensitas “kemunafikan”. Di satu sisi paham dan berusaha menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT, namun di sisi lain mempraktikkan pula hal-hal yang dilarang-Nya. (lebih…)