Teringat empat tahun yang lalu ketika saya kebingungan dengan sebuah program pemerintah bernama Asesmen Nasional (AN). Sekolah putra sulung saya saat itu memberikan buku untuk drill latihan soal di rumah. Sebagai orang tua dari anak pertama yang mengalami perubahan sistem saya pun dilanda rasa khawatir. Tidak berapa lama saya diberikan link webinar dengan narasumber langsung dari Kementerian Pendidikan yaitu pak Nino. Di webinar yang sama, saya menjadi sangat paham dan tenang sehingga saya bisa mengarahkan Abang F untuk AN ke depannya. Disinilah awal mula saya mengenal SIDINA Community.
Di akhir tahun diadakan TOT Fasilitator batch 1 dan tidak disangka saya diminta oleh mbak Susi dan mbak Isti (founder dan cofounder SIDINA Community) untuk mengisi salah satu sesi dengan tema kurikulum Home Education. Saya yang merupakan seorang peneliti membawakan materi tersebut dengan sangat teknis dan bisa ditebak, ibu-ibu peserta merasa saya belum dapat membumikan materi. Tapi perjalanan membuat materi ini merupakan salah satu memori yang luar biasa bahkan untuk di bidang saya selanjutnya ketika menjadi dosen. Yak, taksonomi bloom! Bahkan untuk saat itu kami para member diberikan akses full untuk seluruh webinar yang diketahui oleh mbak Susi dan mbak Isti. Saat itu saya belajar taksonomi bloom langsung dari pakar pendidikan di UPI. Suatu hal yang priceless untuk kehidupan saya. Bahkan setelahnya, saya mulai memperbaiki rancangan kurikulum homeschooling yang sedang saya lakukan bersama anak ketiga saya.
Tidak disangka setelahnya saya memberikan sosialisasi kepada para santri/wati di Pondok Modern Darul Funun El-Abbasiyah yang merupakan pondok pesantren di bawah pengelolaan keluarga besar kami. Saat itu materi yang saya bawakan langsung dikurasi oleh mbak Ainun dan beliau pun hadir pada webinar daring yang kami selenggarakan. Suatu proses yang ternyata membawa saya menjadi koordinator akademik yang saat itu kami berperan dalam menyukseskan 1.000 ibu penggerak dengan menyelenggarakan pelatihan ibu penggerak dan webinar sosialisasi program dari Kemendikbud. Dinamika dalam SIDINA community mengantarkan saya pada ikatan pertemanan di bidang pendidikan yang sangat erat. Beberapa kali saya terlibat aktif dalam menyelenggarakan TOT bagi para ibu penggerak, mengikuti event-event tahunan SIDINA community, pernah satu panggung bersama dengan mbak Mona Ratuliu untuk membicarakan peran ibu dalam pendidikan keluarga. Suatu memori dan pengingat bahwa memang Ibulah yang menjadi tonggak penting dalam pendidikan di rumah.
Sebagai fasilitator akan sangat mudah untuk kami untuk menanyakan isu pendidikan yang dijawab langsung oleh pemerintah. Selain itu, saya mendapatkan banyak sekali teman berdiskusi hangat di bidang pendidikan seperti mbak Isti, mbak Susi, mbak Hana, mbak Novie, mbak Sesil, mbak Bunga, dan mbak Hani sehingga semangat untuk pendidikan Indonesia tidak pernah padam dalam jiwa. Bahkan berdiskusi bersama mereka terbuka 24 jam, mengalahkan call center tampaknya. Hal ini membuat saya percaya, ketika seorang ibu mengambil peran aktif dalam pendidikan keluarganya, semesta akan mendekatkan kita kepada jiwa-jiwa yang sama hebat semangatnya. Untuk itu jangan pernah sekalipun pasif untuk mencari pendidikan terbaik untuk anak-anak kita.






