Banyak orang yang nanya ke aku kenapa aku memilih buat nikah padahal harus LDM. Ada juga yang berpendapat bahwa akan lebih baik kalau nanti aja nikahnya pas udah bisa tinggal bareng.
Here’s the answer: Kita (aku dan suami) nikah karena niat dari awal ketika tau masing-masing punya perasaan, kita berdua ingin punya hubungan yang halal. Selain itu, dari awal kenal kita suka ngelakuin banyak hal bareng. Ngelakuin banyak hal bareng itu membuat kita banyak interaksi. Interaksi walaupun dengan tujuan yang baik memiliki banyak celah bagi timbulnya dosa karena ada perasaan diantara kita. Well, interaksi lawan jenis nggak ada perasaan aja bisa timbul dosa, apalagi ada perasaan. So, bagi kita nikah adalah solusi terbaik, menikah bisa memaksimalkan kerjasama yang bisa kita bikin bareng-bareng.
How’s LDM life?
Setelah menjalani sekitar empat bulan LDM,here’s several things that I learned to make LDM-life works.
Cari kesibukan yang seimbang
Saling memahami kesibukan masing-masing itu penting karena suami-istri tinggal jauhan, nggak ketemu tiap hari. Hindari perbedaan kesibukan yang sangat ekstrim. Misalnya suami suami full kerja pagi-malem dan istri free seharian atau sebaliknya. Kesibukan yang berbeda secara ekstrim ini menjadi masalah karena pihak yang lebih free akan menuntut lebih banyak waktu. Ia akan merasa menunggu dan memiliki banyak harapan di waktu luangnya, sedangkan pihak yang lebih sibuk akan merasa bersalah karena tidak bisa meluangkan waktu lebih banyak. So, saling mengimbangi kesibukan masing-masing itu penting.
Kesepakatan dalam komunikasi
LDM pada dasarnya ketemunya lebih jarang dibandingkan pasangan yang tinggal se rumah. Tapi ketemu yang lebih jarang bukan berarti mengurangi kualitas komunikasi. Jadi dalam komunikasi, kuantitas pasti beda jauh sama yang tinggal bareng, sehingga kualitas komunikasi penting banget. Gimana biar komunikasi berkualitas? Salah satunya dengan menentukan cara interaksi yang paling pas. Setiap pasangan memiliki cara komunikasinya masing-masing. Sepakati waktu dimana kedua belah pihak free dan akan meluangkan waktunya, apalagi buat pasangan yang LDM dengan perbedaan waktu. Misalnya aku dan suami biasanya meluangkan jam 9-10 malem. Jadi waktu suami lagi di Dublin, tiap jam 3 pagi aku bakal bangun karena disana sekitar jam 9 malem, karena nggak memungkinkan pake jam 9 malem nya Indonesia, disana masih siang dan suami belum free.
Selain waktu, cara komunikasinya juga sebaiknya dipikirkan. Video call, call biasa, WA, line sms apapun semua bisa. Hal yang harus dipertimbangkan adalah koneksi internet dan sinyal. Selain itu hal ini tergantung preferensi dan style komunikasi tiap pasangan. Misalnya waktu aku lagi di puskesmas pedalaman jambi, sinyal susah banget makanya mau nggak mau kita beli paket nelfon antar negara karena aku dan suami lebih prefer telfon/video dibandingkan text (WA/sms).
Jadikan momen bertemu sebagai momen yang tidak terlupakan
Misalnya lakukan aktivitas yang sama-sama menjadi hobi. Aku sama suami bukan anak alam, kita kalau jalan-jalan lebih suka nyobain kuliner, biasanya kita bakal nyobain banyak makanan pas ketemu. Bagi yang sama-sama anak alam, seru juga misalnya explore ke pantai/gunung dimana sekarang wisata alam lagi super hits. Jangan lupa bawa kamera! Opsi lain yang pernah kita lakuin, adalah travel ke tempat yang sama-sama baru buat kita. Bagi pasangan yang suka travelling dan LDM Jakarta-Thailand, ketemu di Jepang buat travelling bareng bakal seru. Pernah juga aku sama suami (Jogja-Singapore), kita ketemu di Jakarta buat explore Jakarta (read: nyobain makanan Jakarta di sekitaran hotel, sama ngadem di hotel doang, wkwk). Jadi nggak melulu saling mengunjungi di kota tempat tinggal masing-masing.
Punya kolaborasi bareng
Ini adalah sesuatu yang penting juga bagi pasangan LDM yang beda jenis karir nya. Misalnya kalau suami istri sama-sama dokter kan gampang karena saling ngerti kalau ngomongin sesuatu yang pake istilah-istilah kedokteran. Nah, bikin kolaborasi bareng ini bakal bikin kita dan pasangan se-frekuensi. Kolaborasi nggak harus hal besar githu, biasanya aku sama suami ngelakuin hal-hal yang emang kita suka dan kita rasa bermanfaat. Contohnya, karena suami lagi kuliah MBA jadi aku ikutan mencoba jualan juga deh di waktu kosong nunggu internship. Suami mempelajari marketing, dia bisa ngasih saran ke aku gimana memasarkan produk aku. Atau misalnya dulu waktu kita tahun akhir kuliah, kita sama-sama kolaborasi buat submit abstract kita ke konferensi internasional bareng-bareng, meskipun bidang penelitian berbeda. Kita sama-sama berjuang fundraising bareng biar bisa berangkat presentasi.
Kepo-in pasangan
Kepo in pasangan merupakan bentuk perhatian, biar kayak ala-ala anak SMP pdkt. Jadi hal-hal tentang pasangan nggak cuma kita tahu dari apa yang dibilang oleh pasangan. Kita aktif mencari tahu, misalnya paper pasangan yang udah di publish kita baca itu paper tentang apa, jadwal kuliah pasangan, dll. Bisa juga kepo akun temen-temen pasangan, biar pas misalnya kita ikutan ngumpul sama temen-temen pasangan, kita udah familiar dan bisa ngobrol dengan lebih nyambung.
Kangen?
Salah satu sahabat aku bilang bahwa beratnya nikah itu di bulan-bulan awal karena kita lagi saling menyesuaikan. Begitupun LDM, awal-awal LDM itu berat banget karena pasti bakal saling menyesuakian dan kangen! Waktu itu aku mikir kok aku alay banget nangis-nangis cuma LDM doang. Ternyata setelah ngelihat postingan orang lain yang LDM, banyak juga yang nangis-nangis, sedih-sedih dan kangen-kangen. Jadi, wajar ternyata, banyak temennya, hhe. Tapi, disinilah salah satu hal yang dimiliki oleh pasangan LDM dan nggak dimiliki pasangan yang tinggal bareng. Karena kangen, pas bisa telfon bahagianya berlipat, karena kangen pas ketemu bahagianya belipat juga. Karena kangen, semua nya berasa jadi lebih membahagiakan. Karena kangen, doa kita buat pasangan jadi lebih dalem dan kusyuk.
So, kesimpulannya LDM itu lebih banyak bahagianya karena banyak kangennya (read: nangisnya). Sementara ini dulu, semoga bermanfaat. Akan update selanjutnya tentang per-LDM an. See yaa!
#RuliThoriqAgainstDistance #LMDstorypart1

