Gunakan Dana Desa, Pemdes Dlimas Lestarikan Kesenian Berusia Ratusan Tahun


Peserta Pelatihan Ketoprak berfoto bersama Camat Ceper, Pendamping Desa, Perangkat Desa dan Narasumber.

Pemerintah Desa Dlimas menyelenggarakan Pelatihan Kesenian Ketoprak pada hari Minggu, 2 Juni 2024 di Gedung Serbaguna Tanjungsari Dukuh Dlimas, Desa Dlimas. Kegiatan pelatihan ini merupakan program kegiatan yang dianggarkan dari Dana Desa tahun 2024.

“Pemerintah Desa Dlimas sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan masyarakat apalagi yang terkait dengan pelestarian kebudayaan seperti Ketoprak” ucap Kepala Dusun I, Rohmad Amboro Asih, dalam sambutannya mewakili Kepala Desa Dlimas.

Pelatihan ini diikuti oleh anggota paguyuban Ketoprak Tanjungsari yang merupakan wadah bagi warga pegiat kesenian Ketoprak. Meskipun sudah sering tampil di panggung dukuh pada acara tahunan Grebeg Suro, tapi warga pegiat seni ini belum pernah menerima pelatihan Ketoprak secara formal.

Di tahun 2023 saat pelaksanaan Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa) koordinator paguyuban kesenian Ketoprak diundang untuk hadir dan memberikan usulan kegiatan yang menunjang kelestarian Kesenian Ketoprak yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu di Dukuh Dlimas. Maka kegiatan Pelatihan Ketoprak inipun muncul dan disambut baik oleh Pemerintah Desa Dlimas dan BPD.

Pelatihan Ketoprak yang juga dihadiri oleh Pemerintah Desa Dlimas, Camat Ceper, Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa ini berlangsung selama 4 jam, dari pukul 09.30 – 13.30. Sebagai narasumber pelatihan adalah Bapak Dwi Mustanto atau yang akrab dipanggil Kang Mus, merupakan seorang seniman Ketoprak yang saat ini aktif sebagai sutradara Ketoprak di Balekambang dan juga sutradara di sebuah komunitas digital bernama Bakar Production.

Apresiasi diberikan oleh Pendamping Desa, Yulita Ratna Dewi, yang menyatakan dalam sambutannya bahwa pelatihan kesenian Ketoprak ini baru yang pertama kali diadakan di Kecamatan Ceper. Yulita  sangat mendukung program kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan Ketoprak ini. Dana Desa memberi ruang bagi kegiatan-kegiatan yang sifatnya pemberdayaan masyarakat, yang dapat meningkatkan pengetahuan dan juga kapasitas warga.

Camat Ceper, Supardiyono, S.IP, M.Si menambahkan bahwa saat ini kesenian Ketoprak sudah jarang diminati oleh kalangan anak muda. Gadget menjadi pilihan yang menarik bagi kalangan muda untuk mendapatkan hiburan daripada menonton Kesenian Ketoprak. Diharapkan dengan mengadakan pelatihan Ketoprak seperti ini bisa memberikan inspirasi bagi anak muda untuk dapat terus berinovasi melestarikan budaya.

Dalam salah satu pemaparan materinya, Kang Mus menyampaikan bagaimana Ketoprak, sebuah kesenian yang sudah ada sejak tahun 1905, bisa bertahan sampai saat ini karena masih ada orang yang peduli dan mau melestarikan. Di era digital saat ini, Ketoprak harus mampu menjawab tantangan agar bias dinikmati oleh semua kalangan terutama anak-anak dan kalangan muda. Kang Mus berharap paguyuban Ketoprak di Desa Dlimas terus lestari dan bisa melakukan terobosan-terobosan agar Ketoprak di Desa Dlimas tidak kehilangan penontonnya.

Pelatihan ditutup dengan praktek membaca naskah Ketoprak yang dipandu oleh Kang Mus. Salah satu peserta, Evarisna Sri Martini, mengungkapkan bahwa dirinya puas dengan pelatihan tersebut karena narasumbernya sangat menarik dan pelatihan ini merupakan pengalaman pertama baginya. “Semoga di tahun-tahun mendatang diadakan pelatihan serupa dengan tema-tema yang lebih mendalam tentang Ketoprak seperti tentang keaktoran atau penyutradaraan”, harapnya.

Yayasan Garda Pangan Surabaya, Gerakan Menyelamatkan Makanan Berlebih bagi yang Membutuhkan


Sering gak sih kita membuang-buang makanan? Berapa kilo makanan yang kita buang setiap hari, minggu, bulan? Pasti di antara kita pernah melakukannya, membuang makanan. Mungkin alasannya karena makanan tersebut sudah basi. Tapi sebenarnya ada yang bisa kita lakukan sebelum makanan itu basi, agar tidak mubazir masuk ke tong sampah. Misalnya dengan memberikan kepada saudara, tetangga, atau orang-orang yang membutuhkan.

Nah, hal tersebutlah yang dilakukan Yayasan Garda Pangan, yang berdiri bulan Juni tahun 2017 di Surabaya, dan sampai saat ini Yayasan ini baru beroperasional di Surabaya. Saya mengetahui tentang Yayasan Garda Pangan ini dari channel BBC News Indonesia di timeline Facebook saya. Saat melihatnya saya merasa terharu, melihat bagaimana relawan-relawan Garda Pangan mengambil makanan berlebih dari suatu tempat (swalayan, toko, resepsi dll), mengecek keamanan makanan, kemudian menyalurkannya pada warga yang membutuhkan. Yang saya lihat adalah ketulusan dalam berbagi, memberi makanan berlebih dengan cara yang bermartabat.

Gleaming, salah satu Program Garda Pangan yaitu mengumpulkan sisa panen yang dianggap “ugly produce”

Yayasan Garda Pangan, ini didirikan oleh seorang pengusaha katering, yaitu Dedhy Trunoyudho. Bermula dari keprihatinan sang istri,  Indah Audivtia, melihat banyaknya makanan yang terbuang setiap pekannya, mereka menginisiasi gerakan dengan mendonasikan makanan berlebih melalui gerakan food bank yang diberi nama Garda Pangan. Yayasan ini sendiri sudah terdaftar sesuai dengan akta notaris dan Keputusan Menteri Hukum dan HAM.

Mitra dari Yayasan Garda Pangan adalah pasar buah dan sayur, restoran, bakery, festival kuliner, catering. Penerima manfaat Garda Pangan adalah  warga pra-sejahtera di Surabaya dan Sidoarjo. Yang menarik adalah, Garda Pangan mendistribusikan makanan berlebih tersebut tidak setiap hari kepada penerima yang sama, serta tidak ada jadwal pasti. Hal ini untuk menghindari ketergantungan penerima manfaat, sehingga masalah baru bisa dicegah.

Program-program yang dimiliki Yayasan Garda Pangan beragam, seperti:

  • Food Rescue (menyelamatkan makanan berlebih)
  • Gleaning (mengumpulkan sisa panen yang dianggap “ugly produce”)
  • Food Drive (mengumpulkan dan mendistribusikan makanan)
  • Wedding & Event (mengumpulkan makanan berlebih dari acara pernikahan dan event lainnnya)
  • Campaign (kampanye kreatif untuk meningkatkan kesadaran untuk mengurangi sampah makanan)
  • Kids Education (memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang kesadaran untuk menghargai makanan dan dan mengurangi sampah makanan)

Ini gerakan yang menurut saya kreatif sekaligus solutif. Mengingat Indonesia ternyata adalah negara nomer 2 terbesar dalam hal pembuangan sampah makanan. Dan ironisnya Indonesia memiliki 19.4 juta penduduk yang mengalami kalaparan. Semoga gerakan Garda Pangan di Surabaya ini nantinya bisa berkembang di kota-kota lainnya.

Hats off, Garda Pangan!

 

Kecamatan Ceper Meraih Trophy Penata Artistik Terbaik dalam Festival Ketoprak Dewan Kesenian Klaten tahun 2018


Tahun 2018 ini Dewan Kesenian Klaten mengadakan Festival Ketoprak yang diikuti oleh kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Klaten. Festival ini diadakan selama 5 hari dari tanggal 26 – 30 November 2018 di Panggung Terbuka RSPD Klaten. Festival Ketoprak yang sudah rutin berjalan adalah Festival Ketoprak Pelajar Klaten yang sepenuhnya disponsori oleh Amigo Group. Tentu saja mendengar ini, saya, sebagai “pelakon Ketoprak” di Desa saya merasa antusias. Saya bergabung dengan Paguyuban Seni Ketoprak yang ada di desa saya yaitu Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, yaitu Paguyuban Seni Tanjung Sari.

Sekitar 2 tahun lalu Paguyuban kami sudah pernah tampil di Panggung Terbuka RSPD dengan lakon Harya Penangsang Gugur. Konon, sambutan dari penonton sih positif. Selain naskahnya yang menarik, rata-rata pemainnya masih muda (termasuk saya, uhuk..)

Dan ternyata antusiasme saya menemukan jodohnya, karena dewan kesenian Kecamatan menunjuk Paguyuban Kami untuk mewakili Kecamatan Ceper mengikuti Festival Ketoprak tersebut.

Dengan waktu yang mepet, tim pun dengan sigap berembug. Dari mulai menentukan lakon, pemain, menyusun jadwal latihan, tim karawitan dan lain sebagainya. Karena durasi yang ditentukan adalah 1 jam, pemulihan lakon menjadi sangat krusial. Setelah diskusi yang cukup alot, disepakatilah kami menampilkan Lakon Mataram 1647 Masehi (Amangkurat I). Lakon ini sendiri pernah ditampilkan di Desa kami dalam event Bersih Desa Tanjung Sari Dlimas tahun 2012 (sejak tahun 2018 event ini berganti nama menjadi Grebeg Suro & Pagelaran Budaya Tanjung Sari Dlimas). Lakon ini ditulis oleh Mas Rudi Heru Suteja, seorang seniman di Desa kami. Mas Rudi sendiri juga berperan sebagai sutradara untuk pementasan dalam Festival nanti.

Lakon Mataram 1647 M, konon, belum pernah ditampilkan di Klaten, selain di Desa kami. Lakon ini bercerita tentang keadaan Mataram di bawah kepemimpinan Amangkurat I. Untuk sedikit mengetahui siapa Amangkurat I, bisa dibaca di link berikut https://id.wikipedia.org/wiki/Amangkurat_I. Singkatnya, Amangkurat I adalah raja yang lalim yang tidak banyak memiliki prestasi. Selain itu dia juga suka bertindak sewenang-wenang, seperti merebut paksa putri/istri orang lain. Dalam Lakon, ada 2 putri yang diceritakan direbut paksa oleh Amangkurat I, yaitu Tejorukmi dan Ratu Malang. Bahkan dalam Lakon, Ratu Malang yang akhirnya meninggal setelah kematian suaminya nekat disetubuhi oleh Amangkurat I di makamnya.

Ending Lakon ini adalah pembantaian rakyat, kyai, santri di Mataram karena kemurkaan Amangkurat I setelah adiknya, Pangeran Alit, tewas dalam pemberontakan.

Meski, Kecamatan Ceper belum mendapat Trophy Penyaji Terbaik, tapi lelah dan usaha kami mendapat kelegaan dengan memperoleh Trophy Penata Artistik Terbaik (horeeee..!!!)

Gambar di bawah: saya mewakili Kecamatan Ceper menerima Trophy Penata Artistik Terbaik 🙂

Jika ingin melihat pementasan kami secara utuh, kalian bisa melihat di channel Youtube dengan link sebagai berikut https://www.youtube.com/watch?v=O9tzeBovAlw.

(note: saya berperan sebagai Nyai Mayang, akan kalian jumpai di Adegan pertama dan ke-4 :p )

Gambar di bawah: Pencapaian kami diliput Koran Lokal, Joglo Pos.

Mari cintai kebudayaan kita yang adiluhung ini. Mari cintai Pertunjukan Ketoprak. Semoga merekah dan lestari…

 

salam budaya

Lanang Lairsore


isidorus lanang lairsore, bayi mungil yang lahir sesar itu telah tumbuh sehat dan gendut sampai pegal aku kalo gendong dia. anak kakak perempuanku yang pertama, ponakanku yang pertama, cucu yang pertama bagi bapak ibuku. resmilah dia jadi idola baru keluarga kami.

lahir di jogja, 5 april 2011. berkulit sawo matang, berhidung mancung, alis kurang tebal, lucu, imut, senyumnya manis (suwerrr!!! paling seneng kalo liat dia senyum), guantenggg…adalah gambaran ponakanku itu. namanya juga tante, pastilah muji2 ponakannya hehehe…saat ini dia tinggal di jakarta bersama ibunya dan juga uti-nya. sementara bapaknya tinggal di bandung, dan tiap weekend pulang ke jakarta.

weekend-ku yang kemarin judulnya adalah “dua hari bersama lanang lairsore”. jumat malam aku tiba di jakarta. saat itu lanang sudah tertidr pulas dipelukan ibunya. maka malam itu aku habiskan mendengar cerita-cerita ibuku. kami layaknya dua remaja yang bercengkerama, hehehe.

paginya kami bangun agak pagi (baca: jam 08.00-an), karena rencana kami hari ini padat sekali. nonie, sepupuku yang tinggal tak jauh dari kami sudah datang naik angkot, dia adalah pengawal sekaligus navigator kami nantinya, karena kami tak begitu tahu jakarta. rencana padat yang tadi aku sebut adalah: membeli kursi untuk mengisi ruang tamu yang masih kosong, membeli selang untuk mengisi kolam renang-nya lanang, membeli termos, membeli korden, membeli dvd player (untuk mutar kaset2 berisi edukasi bagi balita, kasian lanang, masak liatnya sinetron2 macam antara cinta dan dusta, puteri yang ditukar, nada cinta –> kok aku hapal judul2 sinetron ya???), dan agenda utamanya adalah membeli kereta dorong untuk lanang..horeeee….

singkat cerita kami pulang ke rumah saat malam sudah tiba. lelah sekali rasanya. tapi senang karena lanang tampak menyukai kereta dorong barunya yang berwarna biru.

minggu paginya adalah waktu berenang untuk lanang dan ibunya, di kolam plastik yang digelar di teras rumah. berikut foto-foto jepretan weekend lalu…

Lanang dan stroller barunya

Buku kumpulan cerita binatang untuk Lanang

Beberapa video yang siap menemani hari-hari Lanang

Kolam renang plastik siap digunakan

Pahit


Di warung kopi ini, dua tahun lalu, engkau menggenggam tanganku. Matamu yang bening menatap mataku. Dengan perlahan, seperti mengucap sebuah doa, engkau katakan bahwa cinta adalah satu-satunya hal yang ingin engkau bagi denganku. Kau ingin aku menjadi kekasihmu. Sangat indah. Warung kopi yang busuk inipun tiba-tiba semarak dengan dentingan sendok yang beradu dengan gelas. Terdengar seperti lagu Morning Has Broken-nya Cat Steven.

Dua tahun telah berlalu. Dua tahun yang indah bersamamu. Hari ini, saat hujan turun sangat deras di luar, di warung kopi ini engkau menggenggam tanganku lagi. Kali ini lebih erat. Matamu sayu, tampak ragu menatapku. Setengah berbisik kau mengatakan bahwa sudah saatnya bagi kita untuk berpisah. Cinta yang dulu kau rasakan, sudah hilang, kering, tak bercahaya, hampa… kau mencoba menjelaskan dengan susah payah.

Tak ada pertanda apapun, dan kau memutuskan semuanya. Aku tak percaya hanya karena cinta kita sudah kering kau memutuskanku. Kita bisa menyiraminya lagi agar ia bersemi kembali. Aku menuntut sebuah penjelasan. Akhirnya kau mengatakan bahwa kau bertemu cinta lamamu. Dan kau merasa ia adalah cinta sejatimu. Kau harus segera menikahi cinta lammau itu. Tapi kenapa? Kau menjawab karena ia mengandung anakmu. Perlahan aku lepaskan genggaman tanganmu. Aku beranjak berdiri dan mengambil cangkir kopiku yang belum tersentuh sejak tadi. Aku meneguknya sekaligus. Pahit. Aku belum menambahkan gula. Aku melihat air mata keluar dari matamu, bukan mataku. Tanpa berkata apapun, aku pergi meninggalkanmu di warung kopi itu. Aku berlari keluar menembus derasnya hujan. Rasa pahit masih tertinggal di lidahku.

 

Budhe Eri


Budhe Eri adalah anak pertama Nenekku.  Anak nenekku ada 8 orang. Semua namanya berawalan huruf E. Eri, Enni, Endah, Eko, Emi, Edi, Evi dan Ernowo. Ibuku sendiri bernama Enni. Adiku ibu yang terkecil, om Ernowo telah meninggal saat berumur 21 tahun. Dari semua saudara ibuku, Budhe Eri adalah sosok yang tak begitu aku kenal. Dulu Budhe Eri pernah menikah, cerita ibuku. Tapi setelah 3 tahun menikah, suaminya pergi meninggalkannya tanpa pesan apapun. Mereka tidak dikaruniai anak. Sampai sekarang, tak ada satupun di keluargaku yang tahu dimana suami Budhe Eri berada.

Sejak itu, Budhe Eri berubah. Ia menjadi sosok yang pendiam. Dia kadang terlihat linglung dan bingung. ia menjadi sangat rapuh dan ringkih. Jika kecapekan, ia akan jatuh pingsan. Untung ada tante Endah dan Nenek yang merawat Budhe Eri. Jika kami sekeluarga datang berkunjung ke rumah, Budhe Eri akan memeluk kami satu persatu. Pelukannya sangat erat. Ia tertawa girang sekali sambil bertanya kabar. Tapi satu hal yang kuperhatikan, ia tak pernah menatap mata kami, tepatnya mata semua orang. Keceriaan itu hanya berlangsung beberapa saat. Kemudian ia akan hanyut dalam dunianya sendiri. Ia akan duduk di teras depan rumah, sendiri dan memandang jauh ke jalanan. Kata Nenekku, Budhe Eri seperti terjebak dalam kehidupan masa lalunya. Ia tak benar-benar hidup di masa kini. Jika diajak ngobrol tentang hal-hal yang terkini, seperti tentang artis siapa yang sedang bercerai atau berapa harga cabai, ia tak akan paham. Ia hanya paham jika ditanya mau makan apa, mau pergi kemana atau mau ikut ke pasar atau tidak. Sesekali ia menangis menjerit di malam hari. Meraung-raung mengucapkan kata-kata yang tak jelas. Nenek dan Tante Endah sudah terbiasa dengan hal ini. Biasanya Nenek akan memeluk Budhe Eri sambil membisikkan doa-doa ke telinganya. Tak lama kemudian Budhe Eri akan tertidur dalam pelukan Nenek.

Sekarang Budhe Eri sudah menua. Usianya sudah enam puluh tahun. Rambutnya mulai beruban. Ia sudah jarang menangis di malam hari. Tapi masih sering jatuh pingsan jika kecapekan sedikit saja. Terakhir kali aku berkunjung tubuhnya sedang tergolek di tempat tidur. Ia sedang sakit. Aku masuk ke kamarnya. Ia sedang tertidur dengan badan menghadap ke tembok. Aku mengelus punggungnya. Semua benda yang ada di kamar Budhe Eri tampak kuno. Aku masih ingat cerita Nenek bahwa Budhe Eri menolak jika ingin dibelikan barang-barang atau baju-baju baru. Mataku menangkap sepotong foto yang terselip di bawah bantal. Perlahan aku menarik ujungnya. Sebuah foto hitam putih, kertasnya sudah menguning. Di foto itu ada sepasang pengantin mengenakan baju tradisional jawa. Keduanya tersenyum malu. Tampak si perempuan menggamit tangan mempelai laki-laki. Aku membalik foto itu dan disitu tertulis dengan tulisan tangan tegak bersambung: “Ilham dan Eri. 11 April 1978”

 

Jarak


Teknologi membuat banyak orang berdecak kagum karena tak pernah menyangka perkembangannya seperti sekarang ini. Kita bisa tahu bahwa gempa berkekuatan 5,6 SR sedang mengguncang New York City hanya beberapa menit setelah gempa terjadi. Kita juga bisa berteman dengan seseorang di Alaska yang dingin dan bermil-mil jauhnya cukup dengan membuka komputer dan duduk manis di kamar. Kita juga bisa memiliki gambaran kehidupan di bumi berjuta-juta tahun lalu dimana dinosaurus masih bermain-main di bolad unia ini cukup dengan mengakses internet. Tapi teknologi-pun juga telah membuat jarak antar manusia makin nyata. Membuat kita merasa asing dengan lingkungan kita dan keluarga kita.

Jarak itu terlihat antara Mere dan Ibunya yang makin menua. Mere yang seorang web programmer di suatu perusahaan IT besar di Jakarta selalu saja sibuk bekerja, bahkan saat ia di rumah. Gadget tak pernah lepas dari genggamannya. Ia menggunakan gadget-gadget canggih itu untuk berkomunikasi dengan klien, atasan, rekan kerja dan juga teman-teman lamanya di Bandung. Ia juga bisa mengakses situs-situs berita online agar tetap nyambung jika ngobrol dengan orang lain. Ibu Mere hampir tak memiliki kesempatan berbicara dengan putri semata wayangnya tersebut. Seperti  saat makan malam yang telah direncanakan ibunya untuk merayakan ulang tahun ayah Mere yang meninggal 1 tahun lalu. Di meja makan itu hanya ada mereka berdua. Tapi bagi Mere, ia sedang berada di antara teman-teman lamanya yang saat ini sedang membuat reuni kecil di sebuah mall di Bandung. Menyesal ia tak bisa bergabung dengan mereka.

But thanks to technology. Ia tetap bisa mengikuti obrolan mereka melalui celotehan teman-teman mereka di Twitter. Saat Ibu Mere bercerita tentang makanan kesukaan ayahnya dan tentang masa-masa pacaran mereka, Mere hanya mengangguk kecil, sesekali tersenyum tapi matanya tak lepas dari layar handphone. Ibu Mere merasa ia tak didengarkan. Dan sia-sia saja ia masak seharian untuk makan malam yang baginya special. Karena toh putrinya tersebut tak benar-benar hadir di meja makan itu. Ia sibuk di dunia yang asing baginya. Ia bahkan tak paham menggunakan handphone layar sentuh milik Mere. Maka ibunya berdiri dan beranjak pergi meninggalkan meja makan, kemudian ia masuk kamar dengan sedikit membanting pintu. Di kamar ia duduk tersedu di kasurnya sambil memeluk foto sang suami. Mere hanya terpaku melihat ibunya pergi. Ia sedikit kaget saat ibunya membanting pintu kamar. Beberapa detik ia memandang pintu kamar ibunya dengan mulut sedikit terbuka. Tapi kemudian ia kembali asyik melihat layar handphone nya dan kembali menikmati makan malamnya dengan teman-teman lamanya di Bandung. Timeline twitter-nya semakin ramai.

 

HR Gathering – MarkPlus


Hari Selasa, 28 Januari 2014 lalu saya menghadiri HR Gathering yang diadakan MarkPlus. HR Gathering ini adalah program rutin yang mereka adakan untuk partner/klien mereka, tujuannya untuk terus bisa berhubungan baik dan agar klien mereka lebih tahu tentang MarkPlus.

Ketika saya tiba di sana, peserta yang datang baru ada 3-4 orang, padahal sudah jam 9 pagi (sesuai undangan). Mungkin karena jalanan pagi itu macet parah (yaelah kapan Jakarta gak macet?!). Kemudian saya ngobrol dengan Mega, AE MarkPlus yang in charge di Kompas Gramedia – Group of magazine. Dia menjelaskan siapa saja yang akan berbicara dan tentang kantor MarkPlus yang baru tersebut. Jadi, kantor MarkPlus yang baru itu ada di tower 88, Kota Kasablanka. Tinggal bersin udah nyampe di Mall Kota Kasablanka deh…

Tak lama kemudian seorang pria berumur 50an masuk ke ruangan yang diberi nama Philip Kotler Theatre (Philip Kotler sendiri adalah seorang jenius di bidang marketing). Yup, pria tersebut adalah Pak Hermawan Kartajaya, founder & CEO MarkPlus. Saya sudah 3 kali berpapasan langsung dengan Pak Hermawan. Pertama sewaktu di MarkPlus Dinner Seminar tahun 2012, di mana dia menjadi pembicara tunggal. Kedua saat di acara Ubud Writers & Readers Festival 2013, di sana ia juga menjadi pembicara. Dan yang ketiga ya hari Selasa itu. Dan kesannya selalu sama, bapak yang satu ini selalu tampil maksimal. Bukannya mengenakan jas necis dan klimis, tapi mengenakan kemeja berwarna pink ngejreng dan celana jeans. Dalam dua kesempatan sebelumnya juga sama, mengenakan kemeja dengan warna tak wajar (bagi seorang pria berumur 50an) dan celana jeans. Tapi, entah kenapa, si bapak ini tetap kelihatan oke meskipun tampil muda dan jauh dari usianya. Mungkin ini yang disebut orang Jawa dengan lair kelilit ari-ari (lahir terlilit ari-ari), jadi pake baju apa aja pantes. Orang lain yang memiliki gift seperti ini adalah ibu saya, beliau selalu oke pake baju apa aja, bahkan daster sekalipun (ibu saya memang terlahir dengan dililit ari-ari).

Oke, sekarang kita bahas tentang apa yang disampaikan oleh para pembicara. Karena waktu yang disediakan cukup singkat, yaitu 2 jam, jadi memang bahasan materi tidak terlalu mendalam. Yang pertama berbicara adalah Bapak Hermawan Kartajaya, yang kedua adalah Bayu Asmara (Chief Executive, MarkPlus Institute), dan yang terakhir adalah Iwan Setiawan (Chief Knowledge Officer MarkPlus, Inc). Saya akan sharing tentang materi yang dibawakan Pak Hermawan, kalau yang kedua dan ketiga lebih tentang teknis program training & development.

Materi yang dibawakan Pak Hermawan berjudul Rethinking Human Resources: From Talents to Internal Customers. Mengapa seorang Hermawan Kartajaya berbicara tentang Human Resources? Ada 2 jawaban. Yang pertama adalah dulu Pak Hermawan ini bercita-cita kalau tidak menjadi konsultan HR ya menjadi konsultan Marketing. Akhirnya dia memilih yang kedua karena katanya di tahun 90an, sudah terlalu banyak konsultan HR, sementara konsultan Marketing hampir tidak ada. Menurutnya manusia itu selalu menarik dikulik, makanya dia juga tertarik dengan dunia HR. Jawaban yang kedua adalah karena Pak Hermawan berpendapat dunia HR dan dunia Marketing itu ada irisannya. Bahkan menurutnya, saat ini seorang praktisi HR harus berpikir layaknya seorang marketer. Karena perusahaan-perusahaan itu pun menjual perusahaannya di talent market. Saat para talent itu menjadi karyawan, mereka menjadi internal customers yang kepuasannya perlu dimaintain. Karena jika sebuah perusahaan memberikan kepuasan bagi internal customers, toh, hasil positive akan dirasakan oleh perusahaan. Gambarannya seperti ini:

Presentation1

Cukup jelas kan ya? Kalau belum, kita ngobrol-ngobrol aja yuk, saya sendiri juga belum jelas 😀

Dalam “memasarkan” perusahaan, kitapun bisa menggunakan strategi marketing. Di mana menurut pak Hermawan, inti dari marketing adalah Positioning – Differentiation – Brand (STV Triangle à Strategic, Tactic, Value). Perusahaan perlu mengetahui apa diferensiasi yang dimiliki di tengah lautan employer yang ada. Kata Pak Hermawan, we don’t need to be better or the best, we just need to be different. Seperti misalnya di MarkPlus, value yang dianut adalah Leadership 3.0. Marketingnya pun 3.0. Kalau 1.0 itu adalah Intelligence Quotient (IQ)  2.0 itu gampangnya Emotional Quotient (EQ), nah kalau 3.0 itu Spiritual Quotient (SQ). Jadi kalau sudah 3.0 itu sudah melibatkan hati nurani dan spiritualitas.

Jadi ketika seorang teman Pak Hermawan menghubungi dia untuk “berpura-pura” menjadi customernya, Pak Hermawan menolak. Temannya ini adalah pemilik perusahaan investasi. Tidak ada yang salah dengan perusahaan ini, ia “sehat” dan bagus. Jadi kalau Pak Hermawan mengatakan hal-hal baik tentang perusahan itu sebagai seorang customer (padahal dia bukan customer), ya tidak apa-apa. Tapi kan itu sudah bertolak belakang dengan value yang dia yakini. Berarti dia sudah tidak memiliki integritas, dia sudah “membohongi” publik.

Pak Hermawan selalu mengatakan pada karyawannya, mereka harus jujur tentang kelebihan dan kekurangan perusahaan mereka. Klien-lah yang menentukan akan memilih perusahaan kita atau tidak. Yang penting kita jujur dengan diri kita. Pak Hermawan sendiri mengatakan bahwa kantor MarkPlus yang baru itu masih nyicil, belum lunas. Semua hadirin tertawa saat mendengar pengakuan itu. Baginya tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, tak ada gunanya di jaman serba transparan ini.

Kalau bisa saya rangkum, poin presentasi Pak Hermawan itu ada 2 hal yaitu Internal Customers Satisfaction dan Differentiation perusahaan kita. Dan kedua hal itu pastinya akan menjadi bahan diskusi yang menarik bagi teman-teman HR. Yah, di sela-sela makan siang selain membicarakan siapa pacar Raffi Ahmad sekarang atau mengapa Cut Tari cerai dari suaminya, 2 hal tadi mungkin bisa jadi memunculkan ide-ide baru bagi kita 🙂

*Irene Galuh Kusumaningrum (29 Jan 2014)                                                                                        

Negeri Sore


Langit sore selalu membuatnya terpesona. Seorang bocah laki-laki, kira-kira umurnya 7 tahun. Kalau saja dia bersekolah, mungkin saat ini ia sudah kelas 1 SD. Sayang sekali, ibunya yang miskin tak pernah sanggup membuatnya mencicipi bangku sekolah.Ibunya berumur 35 tahun. Belum terlalu tua, tapi ia seperti telah melewati ratusan tahun dalam kehidupannya. Dan dalam ratusan tahun itu, tak sekalipun kehidupan ramah padanya. Ia jarang tersenyum. Mungkin ia tak percaya lagi pada keramahan, toh hidup tak sekalipun tersenyum padanya.

Bocah laki-laki itu selalu ingin berada di luar rumah kalau hari beranjak petang. Dimana langit berwarna merah, bahkan terkadang berlapis ungu dan keemasan. Ibunya akan dengan setia memenuhi keinginannya. Lagipula rumah mereka yang tak dialiri listrik, terasa pengap dan gelap saat menjelang petang. Seandainya bisa, bocah laki-laki itu ingin berjalan bahkan berlari menuju persawahan di belakang kampungnya. Tapi bocah yang tak pernah mengenal bapaknya itu tidak bisa berjalan ataupun berlari. Dia selalu duduk di kursi rodanya.

Dia terkena folio sejak kecil. Kakinya tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Dia lumpuh. Ibunya, wanita yang juga tak mengecap bangku sekolah, tak terlalu memperhatikan apa-apa saja yang harus diberikan kepada seorang bayi. Ia tak paham jika imunisasi folio bisa saja membuat anak laki-lakinya berjalan seperti anak-anak lainnya. Tempat tinggalnya yang jauh terpencil di pinggir sungai seolah luput dari perhatian para tetangganya. Mereka tak begitu peduli dengan kehidupan ibu anak ini.

Kursi roda yang dia dapat, merupakan bantuan dari seorang dermawan di kampungnya. Itupun dia dapat saat usianya sudah 6 tahun. Sebelumnya, ibunya, yang kemana-mana tak mengenakan alas kaki, selalu menggendongnya. Badan bocah laki-laki itu tak begitu besar. Kedua kakinya pun terlalu kecil untuk ukuran anak seusianya. Ke pasar, ke sawah, ke sungai, kemanapun ibu itu pergi, anaknya selalu berada dalam gendongannya.

Ibu bocah laki-laki itu menikah saat usianya masih muda. Setahun setelah pernikahan mereka, suaminya merantau ke Kalimantan, untuk bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit. Ia berharap bisa merubah nasib keluarganya. Namun, tak berapa lama, ibu itu mendapat kabar bahwa suaminya meninggal dunia. Pemilik perkebunan itu berbaik hati menerbangkan jenazah suaminya pulang ke kampung. Dengan perut yang mulai membesar ia menghantar suaminya ke pemakaman. Ibu itu adalah wanita yang tegar. Tak setitik air matapun keluar dari kedua matanya. Mungkin ia tahu bahwa air mata tak akan menghidupkan suaminya kembali. Menjadi orang tua tunggal bagi anak dalam kandungannya adalah pilihan hidup yang tak pernah diharapkannya.

Ibu itu tidak punya pekerjaan tetap. Kerjanya serabutan. Kadang ia mengumpulkan kayu kering, yang kemudian dijual di pasar. Sesekali ia membantu tetangga yang sedang memiliki hajat dengan mencuci piring. Upah mencuci piring itu tak seberapa, lagipula tidak setiap hari orang punya hajat. Paling sering ibu itu mencari rumput untuk dijual kepada peternak kambing di kampungnya, hasilnya pun hanya bisa untuk makan satu hari. Meski hidup yang ia jalani begitu keras, ia sangat menyayangi bocah laki-lakinya tersebut.

Si ibu selalu membawa bocah laki-laki itu kemanapun dia pergi. Dan dia selalu berjalan kaki. Tanpa alas. Sampai usia bocah itu 6 tahun, dia menggendongnya kemana-mana. Kalau ia sedang mencari rumput, bocah itu didudukkannya di tepi sawah tempat dia mencari rumput. Bocah laki-laki itu akan terlihat senang bermain dengan apa saja yang ada di sekitarnya; rumput, batu, kupu-kupu, katak. Tangannya menggapai-gapai berusaha menangkap kupu-kupu. Tentu saja ia tak bisa. Tangannya hanya bergerak gerak di udara tanpa pernah bisa menyentuh kupu-kupu itu.

Beban ibu itu menjadi ringan semenjak bocah itu mendapat kursi rodanya. Ia tak perlu lagi menggendong. Ia hanya mendorong, kemana saja si ibu pergi. Mereka tak terpisahkan. Si ibu tak pernah meninggalkan anaknya di rumah dan si bocah selalu terlihat riang di kursi rodanya.

Karena tak bersekolah, bovah laki-laki itu tak punya teman. Lagipula siapa yang mau berteman dengan anak yang tak bisa berjalan sepertinya. Anak-anak di kampungnya selalu mengejeknya. Mulanya ia sedih karena tak seorangpun mau berteman dengannya. Tapi sejak ada anak perempuan yang berusia 5 tahun yang mau berteman dengannya, ia tak lagi bersedih. Baginya seorang teman yang tulus bisa membuatnya bahagia.

Anak perempuan itu tinggal di sebuah kompleks orang kaya yang letaknya bersebelahan dengan kampung bocah laki-laki itu. Suatu ketika, si anak perempuan berjalan-jalan dengan pengasuhnya. Ketika sampai di gerbang kompleks, ia melihat bocah laki-laki itu didorong dalam kursi roda oleh ibunya. Anak perempuan itu tak pernah melihat kursi roda sebelumnya. Ia terlihat terpesona dengan kursi roda bocah laki-laki itu. Maka ia menyapanya dan meminta ijin untuk melihat-lihat kursi rodanya. Bocah laki-laki itu dengan senang hati mengiyakan. Tak pernah ada yang menyapanya dengan begitu ramah, apalagi oleh seorang anak perempuan yang pakaiannya bersih dan indah.

“Mengapa ia tak berjalan kaki saja?” tanya anak perempuan itu kepada si ibu.

“Ia tak bisa berjalan” jawab ibu itu datar.

“Bolehkah saya mendorongnya?” pinta anak perempuan itu. Si ibu mengangguk pelan.  Bocah laki-laki itu tampak senang sekali.

Anak perempuan itu tak sedikitpun merasa berat mendorong kursi roda teman barunya itu. Ia tampak bersemangat. Meski pengasuhnya sudah melarangnya, tetap saja anak perempuan itu mendorong kursi roda bocah laki-laki itu. Mereka memasuki kompleks. Sekilas satpam di pos gerbang agak keberatan saat melihat si ibu yang lusuh dan bocah dalam kursi roda itu masuk ke kompleks. Tapi ia tahu bahwa anak perempuan itu adalah anak salah satu orang terkaya di kompleks itu, ia membiarkan mereka masuk.

Ibu dan bocah laki-laki itu tak pernah masuk ke kompleks orang kaya tersebut. Si ibu melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya mengagumi rumah-rumah besar dengan halaman rumput yang luas. Semua rumah memiliki sebuah mobil, bahkan ada yang memiliki dua mobil. Kompleks itu sangat asri dengan pohon-pohon besar yang rindang. Anak perempuan itu berkata bahwa rumahnya tak jauh lagi. Ia ingin mengajak ibu anak itu main ke rumahnya. Sementara, pengasuhnya tampak khawatir berjalan di belakang.

Mereka sampai di depan sebuah rumah besar bercat putih. Halaman rumputnya sangat luas. Tampak sepeda mini berwarna biru tersandar di pohon palem di pinggir halaman. Garasi rumah itu tampak kosong. Rupanya pemilik rumah belum pulang bekerja. Memang biasanya kedua orang tua anak perempuan itu pulang malam, sesaat sebelum si anak tertidur dalam kamarnya yang hangat. Anak perempuan itu mempersilakan ibu dan bocah laki-laki itu masuk ke ruang tamu yang dindingnya dipenuhi dengan foto-foto keluarga mungil itu saat berlibur. Ada juga foto si anak perempuan yang meniup lilin di atas kue tart. Ia merayakan ulang tahunnya yang ke-5.

Si anak perempuan menjamu kedua tamunya sore itu seperti menjamu tamu istimewa yang kadatangannya telah lama dinantikan. Ia mengeluarkan semua kue-kue dalam toples kristal dan menyajikan minuman sirup yang dingin dalam gelas yang tak kalah cantiknya. Si ibu dan bocah laki-laki tampak bingung. Mereka tak pernah dijamu dengan hidangan seenak ini.

Saat menjelang petang, si bocah laki-laki mengajak ibunya untuk berpamitan. Ia berkata pada anak perempuan itu bahwa ia harus segera pergi ke sawah di belakang kampungnya. Saat ditanya kenapa, si bocah laki-laki mengatakan bahwa langit sore tampak indah jika dilihat dari sawah itu. Apalagi di sana ia bisa mendengar katak yang bernyanyi. Si anak perempuan yang belum pernah mendengar katak bernyanyi dan melihat langit sore dari sawah mengatakan bahwa ia ingin pergi ke sana suatu hari.

Saat ibu dan bocah laki-laki itu beranjak pulang, si anak perempuan tampak sedih. Ia mengatakan bahwa mereka harus datang lagi ke rumahnya minggu depan. Di hari Selasa, ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Bocah laki-laki itu mengiyakan undangan si anak perempuan. Meski dalam hati, si ibu tak yakin bahwa anak perempuan itu akan ingat telah mengundang bocah laki-lakinya keesokan harinya.

Malam itu si anak perempuan tak bisa tidur. Hatinya gelisah menunggu papa mamanya pulang. Lampu kamarnya masih terang benderang. Saat ia mendengar suara mobil, ia terlonjak dari tempat tidurnya. Ia bergegas menyambut papa mamanya yang nampak kelelahan dan heran kenapa ia belum tidur. Si anak perempuan itu dengan riangnya menceritakan kegiatannya hari ini. Dan saat ia menceritakan tentang ibu dan si bocah laki-lakinya yang tak bisa berjalan, pasangan suami istri itu sedikit terkejut. Dengan polosnya si anak perempuan bercerita betapa senangnya ia bisa mendorong kursi roda si bocah laki-laki dari gerbang kompleks hingga ke rumah mereka. Ia juga mengatakan bahwa ia mengundang bocah laki-laki itu datang ke ulang tahunnya minggu depan. Papa mamanya hanya tersenyum mendengar hal itu. Walaupun jelas dalam raut muka bahwa mereka tampak tak begitu senang dengan cerita si anak perempuan. Kemudian si ibu menggendong anak perempuannya masuk kamar, memintanya segera tidur agar besok tak terlambat ke sekolah.

Sesaat setelah mamanya megecup keningnya, si anak perempuan berbisik padanya.

“Mama, aku sudah memikirkan hadiah untuk ulang tahunku” suaranya halus dan yakin.

“Hmmm, apa sayang?” tanya mamanya penasaran.

“Kursi roda. Seperti punya anak laki-laki itu.”

Sang mama tampak terkejut. Tapi karena kelelahan, ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Si anak perempuanpun tersenyum dan tidur dengan nyenyak. Ia tak sabar menunggu hari ulang tahunnya.

Di suatu sore yang tenang, saat si bocah laki-laki menikmati langit sore-nya sementara ibunya sibuk mencari rumput, sebuah mobil menghampiri keduanya. Turunlah pengasuh si anak perempuan memegang amplop kecil berwarna merah muda. Ia menyerahkan undangan ulang tahun si anak perempuan dan mengatakan bahwa acara ulang tahun dimulai pukul 5 sore. Setelah mobil itu pergi, si bocah laki-laki yang tak bisa membaca tampak takjub dengan undangan ulang tahun yang sangat indah itu. Ada gambar-gambar boneka, balon berwarna-warni dan kue ulang tahun. Lalu ia bertanya pada ibunya.

“Aku bawa kado apa ya, Bu?”

Ibunya hanya diam mematung. Tak disangka bahwa si anak perempuan benar-benar mengundang anak laki-lakinya. Dan sekarang anaknya menanyakan mau membawa kado apa. Seumur hidupnya ia tak pernah membeli kado ulang tahun. Lagipula, ia tak punya banyak uang untuk memnbeli kado.

Seolah si bocah laki-laki tahu kesulitan ibunya yang tak punya banyak uang untuk membeli kado, ia hanya minta dibelikan buku gambar dan satu pak pensil warna yang harganya paling murah. Di rumahnya yang pengap, si bocah laki-laki itu menggambar sesuatu di halaman buku gambarnya yang masih kosong. Ia menggambar dengan sungguh-sungguh.

Di hari ulang tahun si anak perempuan, ibu dan bocah laki-laki itu datang ke rumah orang terkaya di kompleks itu. Saat tiba di sana rumah itu tampak sepi, tak ada keriuhan seperti layaknya sebuah pesta ulang tahun. Rupanya mereka berdua diundang satu jam setelah pesta itu usai. Pesta dimulai pukul 2 siang dan berakhir pukul 4 sore. Mama si anak perempuan yang mengatur itu. Ia tak ingin si bocah laki-laki dan ibunya datang saat semua anak di kompleks itu bersenang-senang di pesta putrinya. Mungkin ia merasa malu atau terganggu.

Saat melihat ibu dan si bocah lak-laki berada di depan rumahnya, si anak perempuan menghambur keluar rumah. Ia tampak senang sekali. Ia pikir mereka tak akan datang. Si anak perempuan mengatakan pada si bocah laki-laki bahwa tak lama lagi ia akan memiliki kursi roda sama seperti miliknya. Ia sengaja menunggu teman barunya itu untuk membuka kado dari papa mamanya. Sudah sejak kemarin bungkusan besar yang dibawa pulang papa mamanya mengusik hatinya.

Di ruang tamu keduanya disambut oleh papa mama si anak perempuan. Mereka berdua tampak enggan bersalaman dengan keduanya. Tapi demi menjaga perasaan anak perempuan mereka, suami istri itu mempersilakan si ibu duduk di sofa sementara si bocah laki-laki itu duduk tenang di kursi rodanya. Ruang tamu itu kini berhias balon dan pita warna-warni, tampak juga sebuah kue tart yang lezat dengan lilin angka 6 di atasnya.

Sebelum lupa, si bocah laki-laki itu memberikan sebuah kado untuk si anak perempuan. Setelah mengucapkan terima kasih, si anak perempuan membuka kado yang dibungkus dengan rapih itu. Tampaklah sebuah lukisan yang telah dibingkai dengan bingkai kayu kasar. Anak perempuan itu memekik girang. Si bocah laki-laki menjelaskan bahwa itu adalah lukisan karyanya. Sebuah lukisan langit yang berwarna merah keemasan, dan di bawahnya adalah sawah hijau yang menghampar seperti karpet. Matahari tampak separuh menyembul dari balik awan-awan. Di sudut kanan bawah, si bocah laki-laki tak lupa menggambar seekor katak.

“Terima kasih. Aku akan memasangnya di kamarku. Boleh kan, Ma?” tanya anak perempuan itu kepada mamanya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan anaknya yang sudah tampak akrab dengan bocah laki-laki di kursi roda itu. Sang Mama mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum tipis.

“Sekarang saatnya membuka kado dari papa dan mama” teriak anak perempuan itu. Ia menyeret sebuah kotak besar yang dibungkus dengan kertas bergambar Barbie. Papanya membantunya menyeret bungkusan besar itu. Ia tak sabar membuka kotak yang membuat tidurnya semalam tak nyenyak. Ia sudah membayangkan jalan-jalan sore dengan bocah laki-laki itu menggunakan kursi roda baru miliknya dengan didorong pengasuhnya. Tapi hatinya kecewa karena ternayata isi bungkusan itu adalah sepeda mini yang tampak sangat mahal.

“Sepeda minimu yang lama bisa kita berikan ke panti asuhan. Sepeda ini jauh lebih baik dan mahal. Teman-temanmu pasti akan takjub melihatnya.” Papanya menjelaskan. Sang Mama tersenyum, tampak mengiyakan ucapan suaminya.

Mata si anak perempuan itu mulai berkaca-kaca. Ia tampak tak senang dengan hadiah yang didapatnya.

“Mama, aku minta kursi roda. Aku sudah mengatakan pada Mama, kan?” si anak perempuan mulai menangis. Kemudian ia berlari meninggalkan Mama Papanya dan si Ibu serta bocah laki-laki tersebut, dan masuk kamarnya.

Si ibu dan bocah laki-laki tidak tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakan. Mama anak perempuan itu beranjak pergi masuk ke kamar anaknya, tak menghiraukan kedua tamunya. Demi kesopanan, si Papa tetap tinggal di ruang tamu dan mempersilakan keduanya memakan hidangan yang ada di meja.

Sudah beberapa hari ini si anak perempuan selalu tampak sedih. Ia mogok bicara dan ogah-ogahan untuk makan. Rupanya ia masih marah karena mama papanya tidak memberikan kado seperti yang ia minta. Papa mamanya sudah berulang kali meyakinkan bahwa ia tak membutuhkan kursi roda. Ia bisa berjalan dan ia bisa bermain dengan sepeda barunya. Tapi kedua orang tuanya tak mengerti bahwa gadis kecilnya hanya ingin duduk di kursi roda dan bermain bersama dengan bocah laki-laki itu.

Ibu si bocah laki-laki kini merasa sangat bersalah. Ia menyesal telah mengijinkan anak perempuan itu mendorong kursi roda anaknya sore itu. Dari pengasuhnya ia mengetahui bahwa anak perempuan itu masih sedih dan masih mengharap orang tuanya akan membelikannya kursi roda. Anak perempuan itu tak tahu betapa si bocah laki-laki itu ingin bisa berjalan. Sementara ia ingin duduk di atas kursi roda. Kadang orang dewasa tak bisa memahami pikiran anak-anak.

Papa mama si anak perempuan tak bisa melihat kesedihan anak semata wayangnya. Seminggu setelah hari ulang tahunnya, mereka membelikan sebuah kursi roda untuk anak perempuan itu. Mereka tahu bahwa tak lama lagi anak perempuan itu akan bosan dengan kursi rodanya.

Suatu hari yang tenang, terlihat kedua anak memandang langit sore di pinggir sawah. Keduanya duduk manis dalam kursi rodanya masing-masing. Si bocah laki-laki menjelaskan bahwa di ujung barat itu, tempat dimana matahari bersembunyi di balik cakrawala, terdapat sebuah negeri yang sangat indah. Dari ibunya, ia mengetahui bahwa nama negeri itu adalah Negeri Sore. Semua yang indah ada di negeri itu. Di sana ada sebuah taman yang sangat luas. Di situ terdapat bunga beraneka rupa. Ada juga peri-peri cantik yang berterbangan kian kemari. Semua orang yang sudah meninggal, tinggal di situ.

“Termasuk bapakmu?” tanya si anak perempuan.

“Ya, bapakku ada di sana. Setiap sore aku membayangkan bapakku melambaikan tangannnya padaku dari balik langit sore itu.”

Ibu si bocah laki-laki tampak sibuk mencari rumput di kejauhan.

——————————————————————————————————————–

Pray for Jakarta


This early year of 2013 has been a tough time for the Jakartans. The 5-year-flood-cycle occurs this January. The flood is pretty terrible. Many areas in Jakarta are drown by the flood (and I’m really grateful that my house and my office are not included in those areas).

Many people are cynical about flood in Jakarta. I don’t think it is a time for that. It is really a tragedy and disaster. We should hand in hand in facing this tragedy. It’s time when we pray for Jakarta. May the government soon find the applicable solutions to prevent the same tragedy happens in the future. It’s not only the job of the governor Jokowi or the vice Ahok. It’s the job of all the Jakartans to help this city not being so vulnerable of rain. We can do small things like put the garbage in the provided place and to support all the related-programs carried by the government.

As citizens, we all have an obligation to intervene and become involved – it’s the citizen who changes things.
Jose Saramago

Smile son, for it will end soon...

Smile kid, for it will end soon…

As if the statues say: Welcome flood...

It’s time for us hand in hand

flood doesn't recognize economic status

flood doesn’t recognize economic status

Note: the pics were borrowed from here, here, and here.