Langit sore selalu membuatnya terpesona. Seorang bocah laki-laki, kira-kira umurnya 7 tahun. Kalau saja dia bersekolah, mungkin saat ini ia sudah kelas 1 SD. Sayang sekali, ibunya yang miskin tak pernah sanggup membuatnya mencicipi bangku sekolah.Ibunya berumur 35 tahun. Belum terlalu tua, tapi ia seperti telah melewati ratusan tahun dalam kehidupannya. Dan dalam ratusan tahun itu, tak sekalipun kehidupan ramah padanya. Ia jarang tersenyum. Mungkin ia tak percaya lagi pada keramahan, toh hidup tak sekalipun tersenyum padanya.
Bocah laki-laki itu selalu ingin berada di luar rumah kalau hari beranjak petang. Dimana langit berwarna merah, bahkan terkadang berlapis ungu dan keemasan. Ibunya akan dengan setia memenuhi keinginannya. Lagipula rumah mereka yang tak dialiri listrik, terasa pengap dan gelap saat menjelang petang. Seandainya bisa, bocah laki-laki itu ingin berjalan bahkan berlari menuju persawahan di belakang kampungnya. Tapi bocah yang tak pernah mengenal bapaknya itu tidak bisa berjalan ataupun berlari. Dia selalu duduk di kursi rodanya.
Dia terkena folio sejak kecil. Kakinya tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Dia lumpuh. Ibunya, wanita yang juga tak mengecap bangku sekolah, tak terlalu memperhatikan apa-apa saja yang harus diberikan kepada seorang bayi. Ia tak paham jika imunisasi folio bisa saja membuat anak laki-lakinya berjalan seperti anak-anak lainnya. Tempat tinggalnya yang jauh terpencil di pinggir sungai seolah luput dari perhatian para tetangganya. Mereka tak begitu peduli dengan kehidupan ibu anak ini.
Kursi roda yang dia dapat, merupakan bantuan dari seorang dermawan di kampungnya. Itupun dia dapat saat usianya sudah 6 tahun. Sebelumnya, ibunya, yang kemana-mana tak mengenakan alas kaki, selalu menggendongnya. Badan bocah laki-laki itu tak begitu besar. Kedua kakinya pun terlalu kecil untuk ukuran anak seusianya. Ke pasar, ke sawah, ke sungai, kemanapun ibu itu pergi, anaknya selalu berada dalam gendongannya.
Ibu bocah laki-laki itu menikah saat usianya masih muda. Setahun setelah pernikahan mereka, suaminya merantau ke Kalimantan, untuk bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit. Ia berharap bisa merubah nasib keluarganya. Namun, tak berapa lama, ibu itu mendapat kabar bahwa suaminya meninggal dunia. Pemilik perkebunan itu berbaik hati menerbangkan jenazah suaminya pulang ke kampung. Dengan perut yang mulai membesar ia menghantar suaminya ke pemakaman. Ibu itu adalah wanita yang tegar. Tak setitik air matapun keluar dari kedua matanya. Mungkin ia tahu bahwa air mata tak akan menghidupkan suaminya kembali. Menjadi orang tua tunggal bagi anak dalam kandungannya adalah pilihan hidup yang tak pernah diharapkannya.
Ibu itu tidak punya pekerjaan tetap. Kerjanya serabutan. Kadang ia mengumpulkan kayu kering, yang kemudian dijual di pasar. Sesekali ia membantu tetangga yang sedang memiliki hajat dengan mencuci piring. Upah mencuci piring itu tak seberapa, lagipula tidak setiap hari orang punya hajat. Paling sering ibu itu mencari rumput untuk dijual kepada peternak kambing di kampungnya, hasilnya pun hanya bisa untuk makan satu hari. Meski hidup yang ia jalani begitu keras, ia sangat menyayangi bocah laki-lakinya tersebut.
Si ibu selalu membawa bocah laki-laki itu kemanapun dia pergi. Dan dia selalu berjalan kaki. Tanpa alas. Sampai usia bocah itu 6 tahun, dia menggendongnya kemana-mana. Kalau ia sedang mencari rumput, bocah itu didudukkannya di tepi sawah tempat dia mencari rumput. Bocah laki-laki itu akan terlihat senang bermain dengan apa saja yang ada di sekitarnya; rumput, batu, kupu-kupu, katak. Tangannya menggapai-gapai berusaha menangkap kupu-kupu. Tentu saja ia tak bisa. Tangannya hanya bergerak gerak di udara tanpa pernah bisa menyentuh kupu-kupu itu.
Beban ibu itu menjadi ringan semenjak bocah itu mendapat kursi rodanya. Ia tak perlu lagi menggendong. Ia hanya mendorong, kemana saja si ibu pergi. Mereka tak terpisahkan. Si ibu tak pernah meninggalkan anaknya di rumah dan si bocah selalu terlihat riang di kursi rodanya.
Karena tak bersekolah, bovah laki-laki itu tak punya teman. Lagipula siapa yang mau berteman dengan anak yang tak bisa berjalan sepertinya. Anak-anak di kampungnya selalu mengejeknya. Mulanya ia sedih karena tak seorangpun mau berteman dengannya. Tapi sejak ada anak perempuan yang berusia 5 tahun yang mau berteman dengannya, ia tak lagi bersedih. Baginya seorang teman yang tulus bisa membuatnya bahagia.
Anak perempuan itu tinggal di sebuah kompleks orang kaya yang letaknya bersebelahan dengan kampung bocah laki-laki itu. Suatu ketika, si anak perempuan berjalan-jalan dengan pengasuhnya. Ketika sampai di gerbang kompleks, ia melihat bocah laki-laki itu didorong dalam kursi roda oleh ibunya. Anak perempuan itu tak pernah melihat kursi roda sebelumnya. Ia terlihat terpesona dengan kursi roda bocah laki-laki itu. Maka ia menyapanya dan meminta ijin untuk melihat-lihat kursi rodanya. Bocah laki-laki itu dengan senang hati mengiyakan. Tak pernah ada yang menyapanya dengan begitu ramah, apalagi oleh seorang anak perempuan yang pakaiannya bersih dan indah.
“Mengapa ia tak berjalan kaki saja?” tanya anak perempuan itu kepada si ibu.
“Ia tak bisa berjalan” jawab ibu itu datar.
“Bolehkah saya mendorongnya?” pinta anak perempuan itu. Si ibu mengangguk pelan. Bocah laki-laki itu tampak senang sekali.
Anak perempuan itu tak sedikitpun merasa berat mendorong kursi roda teman barunya itu. Ia tampak bersemangat. Meski pengasuhnya sudah melarangnya, tetap saja anak perempuan itu mendorong kursi roda bocah laki-laki itu. Mereka memasuki kompleks. Sekilas satpam di pos gerbang agak keberatan saat melihat si ibu yang lusuh dan bocah dalam kursi roda itu masuk ke kompleks. Tapi ia tahu bahwa anak perempuan itu adalah anak salah satu orang terkaya di kompleks itu, ia membiarkan mereka masuk.
Ibu dan bocah laki-laki itu tak pernah masuk ke kompleks orang kaya tersebut. Si ibu melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya mengagumi rumah-rumah besar dengan halaman rumput yang luas. Semua rumah memiliki sebuah mobil, bahkan ada yang memiliki dua mobil. Kompleks itu sangat asri dengan pohon-pohon besar yang rindang. Anak perempuan itu berkata bahwa rumahnya tak jauh lagi. Ia ingin mengajak ibu anak itu main ke rumahnya. Sementara, pengasuhnya tampak khawatir berjalan di belakang.
Mereka sampai di depan sebuah rumah besar bercat putih. Halaman rumputnya sangat luas. Tampak sepeda mini berwarna biru tersandar di pohon palem di pinggir halaman. Garasi rumah itu tampak kosong. Rupanya pemilik rumah belum pulang bekerja. Memang biasanya kedua orang tua anak perempuan itu pulang malam, sesaat sebelum si anak tertidur dalam kamarnya yang hangat. Anak perempuan itu mempersilakan ibu dan bocah laki-laki itu masuk ke ruang tamu yang dindingnya dipenuhi dengan foto-foto keluarga mungil itu saat berlibur. Ada juga foto si anak perempuan yang meniup lilin di atas kue tart. Ia merayakan ulang tahunnya yang ke-5.
Si anak perempuan menjamu kedua tamunya sore itu seperti menjamu tamu istimewa yang kadatangannya telah lama dinantikan. Ia mengeluarkan semua kue-kue dalam toples kristal dan menyajikan minuman sirup yang dingin dalam gelas yang tak kalah cantiknya. Si ibu dan bocah laki-laki tampak bingung. Mereka tak pernah dijamu dengan hidangan seenak ini.
Saat menjelang petang, si bocah laki-laki mengajak ibunya untuk berpamitan. Ia berkata pada anak perempuan itu bahwa ia harus segera pergi ke sawah di belakang kampungnya. Saat ditanya kenapa, si bocah laki-laki mengatakan bahwa langit sore tampak indah jika dilihat dari sawah itu. Apalagi di sana ia bisa mendengar katak yang bernyanyi. Si anak perempuan yang belum pernah mendengar katak bernyanyi dan melihat langit sore dari sawah mengatakan bahwa ia ingin pergi ke sana suatu hari.
Saat ibu dan bocah laki-laki itu beranjak pulang, si anak perempuan tampak sedih. Ia mengatakan bahwa mereka harus datang lagi ke rumahnya minggu depan. Di hari Selasa, ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Bocah laki-laki itu mengiyakan undangan si anak perempuan. Meski dalam hati, si ibu tak yakin bahwa anak perempuan itu akan ingat telah mengundang bocah laki-lakinya keesokan harinya.
Malam itu si anak perempuan tak bisa tidur. Hatinya gelisah menunggu papa mamanya pulang. Lampu kamarnya masih terang benderang. Saat ia mendengar suara mobil, ia terlonjak dari tempat tidurnya. Ia bergegas menyambut papa mamanya yang nampak kelelahan dan heran kenapa ia belum tidur. Si anak perempuan itu dengan riangnya menceritakan kegiatannya hari ini. Dan saat ia menceritakan tentang ibu dan si bocah laki-lakinya yang tak bisa berjalan, pasangan suami istri itu sedikit terkejut. Dengan polosnya si anak perempuan bercerita betapa senangnya ia bisa mendorong kursi roda si bocah laki-laki dari gerbang kompleks hingga ke rumah mereka. Ia juga mengatakan bahwa ia mengundang bocah laki-laki itu datang ke ulang tahunnya minggu depan. Papa mamanya hanya tersenyum mendengar hal itu. Walaupun jelas dalam raut muka bahwa mereka tampak tak begitu senang dengan cerita si anak perempuan. Kemudian si ibu menggendong anak perempuannya masuk kamar, memintanya segera tidur agar besok tak terlambat ke sekolah.
Sesaat setelah mamanya megecup keningnya, si anak perempuan berbisik padanya.
“Mama, aku sudah memikirkan hadiah untuk ulang tahunku” suaranya halus dan yakin.
“Hmmm, apa sayang?” tanya mamanya penasaran.
“Kursi roda. Seperti punya anak laki-laki itu.”
Sang mama tampak terkejut. Tapi karena kelelahan, ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Si anak perempuanpun tersenyum dan tidur dengan nyenyak. Ia tak sabar menunggu hari ulang tahunnya.
Di suatu sore yang tenang, saat si bocah laki-laki menikmati langit sore-nya sementara ibunya sibuk mencari rumput, sebuah mobil menghampiri keduanya. Turunlah pengasuh si anak perempuan memegang amplop kecil berwarna merah muda. Ia menyerahkan undangan ulang tahun si anak perempuan dan mengatakan bahwa acara ulang tahun dimulai pukul 5 sore. Setelah mobil itu pergi, si bocah laki-laki yang tak bisa membaca tampak takjub dengan undangan ulang tahun yang sangat indah itu. Ada gambar-gambar boneka, balon berwarna-warni dan kue ulang tahun. Lalu ia bertanya pada ibunya.
“Aku bawa kado apa ya, Bu?”
Ibunya hanya diam mematung. Tak disangka bahwa si anak perempuan benar-benar mengundang anak laki-lakinya. Dan sekarang anaknya menanyakan mau membawa kado apa. Seumur hidupnya ia tak pernah membeli kado ulang tahun. Lagipula, ia tak punya banyak uang untuk memnbeli kado.
Seolah si bocah laki-laki tahu kesulitan ibunya yang tak punya banyak uang untuk membeli kado, ia hanya minta dibelikan buku gambar dan satu pak pensil warna yang harganya paling murah. Di rumahnya yang pengap, si bocah laki-laki itu menggambar sesuatu di halaman buku gambarnya yang masih kosong. Ia menggambar dengan sungguh-sungguh.
Di hari ulang tahun si anak perempuan, ibu dan bocah laki-laki itu datang ke rumah orang terkaya di kompleks itu. Saat tiba di sana rumah itu tampak sepi, tak ada keriuhan seperti layaknya sebuah pesta ulang tahun. Rupanya mereka berdua diundang satu jam setelah pesta itu usai. Pesta dimulai pukul 2 siang dan berakhir pukul 4 sore. Mama si anak perempuan yang mengatur itu. Ia tak ingin si bocah laki-laki dan ibunya datang saat semua anak di kompleks itu bersenang-senang di pesta putrinya. Mungkin ia merasa malu atau terganggu.
Saat melihat ibu dan si bocah lak-laki berada di depan rumahnya, si anak perempuan menghambur keluar rumah. Ia tampak senang sekali. Ia pikir mereka tak akan datang. Si anak perempuan mengatakan pada si bocah laki-laki bahwa tak lama lagi ia akan memiliki kursi roda sama seperti miliknya. Ia sengaja menunggu teman barunya itu untuk membuka kado dari papa mamanya. Sudah sejak kemarin bungkusan besar yang dibawa pulang papa mamanya mengusik hatinya.
Di ruang tamu keduanya disambut oleh papa mama si anak perempuan. Mereka berdua tampak enggan bersalaman dengan keduanya. Tapi demi menjaga perasaan anak perempuan mereka, suami istri itu mempersilakan si ibu duduk di sofa sementara si bocah laki-laki itu duduk tenang di kursi rodanya. Ruang tamu itu kini berhias balon dan pita warna-warni, tampak juga sebuah kue tart yang lezat dengan lilin angka 6 di atasnya.
Sebelum lupa, si bocah laki-laki itu memberikan sebuah kado untuk si anak perempuan. Setelah mengucapkan terima kasih, si anak perempuan membuka kado yang dibungkus dengan rapih itu. Tampaklah sebuah lukisan yang telah dibingkai dengan bingkai kayu kasar. Anak perempuan itu memekik girang. Si bocah laki-laki menjelaskan bahwa itu adalah lukisan karyanya. Sebuah lukisan langit yang berwarna merah keemasan, dan di bawahnya adalah sawah hijau yang menghampar seperti karpet. Matahari tampak separuh menyembul dari balik awan-awan. Di sudut kanan bawah, si bocah laki-laki tak lupa menggambar seekor katak.
“Terima kasih. Aku akan memasangnya di kamarku. Boleh kan, Ma?” tanya anak perempuan itu kepada mamanya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan anaknya yang sudah tampak akrab dengan bocah laki-laki di kursi roda itu. Sang Mama mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum tipis.
“Sekarang saatnya membuka kado dari papa dan mama” teriak anak perempuan itu. Ia menyeret sebuah kotak besar yang dibungkus dengan kertas bergambar Barbie. Papanya membantunya menyeret bungkusan besar itu. Ia tak sabar membuka kotak yang membuat tidurnya semalam tak nyenyak. Ia sudah membayangkan jalan-jalan sore dengan bocah laki-laki itu menggunakan kursi roda baru miliknya dengan didorong pengasuhnya. Tapi hatinya kecewa karena ternayata isi bungkusan itu adalah sepeda mini yang tampak sangat mahal.
“Sepeda minimu yang lama bisa kita berikan ke panti asuhan. Sepeda ini jauh lebih baik dan mahal. Teman-temanmu pasti akan takjub melihatnya.” Papanya menjelaskan. Sang Mama tersenyum, tampak mengiyakan ucapan suaminya.
Mata si anak perempuan itu mulai berkaca-kaca. Ia tampak tak senang dengan hadiah yang didapatnya.
“Mama, aku minta kursi roda. Aku sudah mengatakan pada Mama, kan?” si anak perempuan mulai menangis. Kemudian ia berlari meninggalkan Mama Papanya dan si Ibu serta bocah laki-laki tersebut, dan masuk kamarnya.
Si ibu dan bocah laki-laki tidak tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakan. Mama anak perempuan itu beranjak pergi masuk ke kamar anaknya, tak menghiraukan kedua tamunya. Demi kesopanan, si Papa tetap tinggal di ruang tamu dan mempersilakan keduanya memakan hidangan yang ada di meja.
Sudah beberapa hari ini si anak perempuan selalu tampak sedih. Ia mogok bicara dan ogah-ogahan untuk makan. Rupanya ia masih marah karena mama papanya tidak memberikan kado seperti yang ia minta. Papa mamanya sudah berulang kali meyakinkan bahwa ia tak membutuhkan kursi roda. Ia bisa berjalan dan ia bisa bermain dengan sepeda barunya. Tapi kedua orang tuanya tak mengerti bahwa gadis kecilnya hanya ingin duduk di kursi roda dan bermain bersama dengan bocah laki-laki itu.
Ibu si bocah laki-laki kini merasa sangat bersalah. Ia menyesal telah mengijinkan anak perempuan itu mendorong kursi roda anaknya sore itu. Dari pengasuhnya ia mengetahui bahwa anak perempuan itu masih sedih dan masih mengharap orang tuanya akan membelikannya kursi roda. Anak perempuan itu tak tahu betapa si bocah laki-laki itu ingin bisa berjalan. Sementara ia ingin duduk di atas kursi roda. Kadang orang dewasa tak bisa memahami pikiran anak-anak.
Papa mama si anak perempuan tak bisa melihat kesedihan anak semata wayangnya. Seminggu setelah hari ulang tahunnya, mereka membelikan sebuah kursi roda untuk anak perempuan itu. Mereka tahu bahwa tak lama lagi anak perempuan itu akan bosan dengan kursi rodanya.
Suatu hari yang tenang, terlihat kedua anak memandang langit sore di pinggir sawah. Keduanya duduk manis dalam kursi rodanya masing-masing. Si bocah laki-laki menjelaskan bahwa di ujung barat itu, tempat dimana matahari bersembunyi di balik cakrawala, terdapat sebuah negeri yang sangat indah. Dari ibunya, ia mengetahui bahwa nama negeri itu adalah Negeri Sore. Semua yang indah ada di negeri itu. Di sana ada sebuah taman yang sangat luas. Di situ terdapat bunga beraneka rupa. Ada juga peri-peri cantik yang berterbangan kian kemari. Semua orang yang sudah meninggal, tinggal di situ.
“Termasuk bapakmu?” tanya si anak perempuan.
“Ya, bapakku ada di sana. Setiap sore aku membayangkan bapakku melambaikan tangannnya padaku dari balik langit sore itu.”
Ibu si bocah laki-laki tampak sibuk mencari rumput di kejauhan.
——————————————————————————————————————–