Posted by: rijaltri | September 10, 2007

Menyerap Energi

Adakalanya gerakan Dakwah itu merasa lemah. Saat yang lain semangat begitu menggebu. Begitu juga yang terjadi pada gerakan mahasiswa, momentum reformasi telah pula membesarkannya, berselang setelah itu, mengalami deklinasi di usianya yang belum genap satu dekade. Fenomena turun naik peran mahasiswa dalam perubahan sosial adalah hal biasa. Semua pihak naik dan turun dipergilirkan sesuai prinsip hukum-Nya. Yang perlu dicatat di sini adalah bagaimana kita menyikapi secara kreatif pola perubahan sosial yang begitu drastis dan dramatis di era global saat ini.Jujur saja, tampilnya mahasiswa ke publik sebenarnya karena diuntungkan momentum. Di zaman reformasi dulu, mahasiswa berperan sebagai ‘penyambung lidah’ rakyat, karena penyampai aspirasi ketika itu jarang, bahkan jika ada tidak cukup full power. Kini rakyat telah ‘berlidah’, mereka menyalurkan aspirasinya sendiri tidak perlu menggunakan instrumen mahasiswa, sudah banyak elemen lain yang lebih konsen untuk mengangkat isu-isu publik secara terkonsentrasi, dan sedikit banyak mendapat ‘bantuan sosial’. Bagi gerakan volunteer (suka rela) seperti gerakan mahasiswa—yang tidak mendapat tunjangan pemerintah ini (kecuali yang dikecualikan)—dalam sejarahnya selalu tampil jika sejarah memintanya tampil. Tapi jangan memaksakan diri untuk tampil jika sejarah tidak memintanya. Sebab ini masalah momentum. Karena itu sejarah gerakan mahasiswa selalu diingat dalam momentum-momentum besar yang kemudian dinisbatkan nama ‘angkatan’ pada mereka dengan sebutan angkatan ‘28, ’66, ’78, dan ’98. Hal ini menunjukkan satu hukum perubahan sosial yakni adanya momentum. Dan pada momen-momen itulah sejarah merekamnya dalam memori kolektif publik (tapi biasanya selang beberapa tahun kemudian publik—Indonesia—melupakannya).Lantas, dengan ketiadaan momentum nasional itu bukan berarti gerakan mahasiswa libur dari peran sejarahnya. Ada tugas sejarah yang harus mereka tunaikan. Dari enam visi reformasi yang digagas mahasiswa ’98, setidaknya perlu dikonkritkan secara lebih rinci perubahan yang diinginkan mahasiswa di tataran yang lebih realistik, semisal point otonomi daerah. Isu-isu kedaerahan sangat relevan untuk diangkat. Visi gerakan KAMMI mewujudkan masyarakat Islami perlu diterjemahkan dan diperjuangkan di tingkat daerah. Seperti apakah format masyarakat Islami di Bandung, Jakarta, Makassar, Aceh, Jogjakarta, dll. Dalam memperjuangkannya pun tidak bisa bekerja sendirian. Perlu kerjasama antar elemen gerakan yang lain, dan jika perlu bekerja sama dengan ‘masyarakat berbasis kompetensi’ lainnya (LSM, GM, OKP, Tokoh, Lembaga Studi, Kampus, Guru-guru Besar, Ormas, bahkan Parpol).Dalam tataran ini, kerja-kerja ideologis tidak lagi relevan untuk dikedepankan. Jika perbedaan ideologis dikedepankan perubahan yang ditargetkan akan mengalami kemacetan. Kita jadi kesulitan bekerja sama dengan keragaman warna ideologis elemen lainnya yang sama-sama menginginkan perubahan. Prinsip yang digunakan dalam hal ini menggunakan kaidah fiqh ikhtilaf, bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan saling menghargai dalam perbedaan yang dimiliki. Pola kerja sama seperti inilah yang akan menghasilkan kekuatan sistemik yang luar biasa. Oleh karena itu, pola gerakannya sedikit bergeser dari independensi gerakan menjadi interdependensi (kesalingtergantungan) antar gerakan. Rumus Energi EinsteinBentuk kerja sama yang bersifat interkoneksitas antar satu dengan gerakan lainnya akan menghasilkan pola-pola energi gerakan yang berpengaruh (bercahaya). Rumus Einstein mengenai Energi perlu kita terjemahkan dalam bahasa pergerakan sosial.Rumus itu menyatakan bahwa E = MC2. Artinya Energi adalah hasil penggandaan dari Massa dan Kecepatan Cahaya. Kecepatan Cahaya yang dikuadratkan bermakna kekuatan cahaya yang saling memberi pengaruh dengan penggandaan berlipat. Massa adalah massa itu sendiri, baik masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan elemen-elemen pergerakan lainnya yang mendefinisikan diri sebagai bagian dari agen perubahan.Dalam konteks gerakan kita, semakin banyak massa yang terlibat dalam proses perubahan dengan satu sama lain saling memberikan kekuatan pengaruh positif secara interkoneksitas (dikalikan) maka akan tercipta energi dahsyat. Kerja-kerja silaturahim membangun relasi, mengopinikan gagasan, mengkaji realitas dan kemungkinan-kemungkinan mempengaruhi perubahan kebijakan, serta kerjasama bersama elemen massa konkrit yang mendapatkan sosialisasi gagasan gerakan secara massif akan menghasilkan energi perubahan yang kuat. Tentunya hal ini membutuhkan proses.  Citra GerakanLantas, jika gerakan tadi terakumulasi menjadi sebuah momentum, kapankah citra gerakan mahasiswa akan naik? Citra gerakan mahasiswa akan naik jika menggunakan rumus Einstein di atas secara kreatif. Sekarang mari kita balik rumusan di atas. Jika E = MC2. Maka C2= E/M. Artinya, citra positif itu didapat jika massa mahasiswa menyerap Energi tersebut seoptimal mungkin. Jika kader-kader pergerakan itu optimum menyerap kekuatan Energi dari berbagai pihak, maka dengan sendirinya ia akan progresif untuk melakukan berbagai perubahan.Jika saat ini banyak pihak mengeluhkan tidak adanya perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak tegas dan tidak cukup memihak rakyat kecil akibat tenggelamnya Gerakan Mahasiswa, maka kita perlu mengoreksi diri. Sejauhmana kita menyerap energi ideologi gerakan yang memperkuat daya dorong politik bangsa itu sendiri. Jika kita lemah dalam kekuatan ideologis dan kerja-kerja konkrit lainnya, sulit kiranya kita mengumpulkan energi-energi rakyat yang telah berserakan itu untuk melakukan perubahan, apalagi untuk meningkatkan citra gerakan.Itu di satu sisi. Di sisi lain, perubahan situasi dan kebutuhan masyarakat setidaknya telah mengubah persepsi mereka terhadap pola tunggal yang selalu dilakukan GM: turun ke jalan. Sebagian masyarakat sudah merasa bahwa demonstrasi sia-sia, dan hanya memacetkan jalan saja. Parahnya lagi, persepsi itu tidak bisa dikendalikan oleh segelintir mahasiswa yang turun ke jalan dalam jumlah sedikit atau sekedar opini di koran. Rakyat kita telah berubah, globalisasi telah menelannya sedikit demi sedikit. Tontonan televisi telah melenakan. Idola-idola itu telah berhasil melupakan masyarakat atas ‘jasa’ berdarah mahasiswa. Remaja-remaja pelanjut itupun telah melupakan sang kakak yang pernah berjuang di era reformasi akibat ditelan sinetron-sinetron cinta. Kawan kita di garda ‘kiri’ (sekarang ‘kanan-kiri’ sudah tidak cukup relevan) pun sudah tidak cukup kuat daya pukul politiknya. Walau anti kapitalisme, rokok Mild dan HP Nokia sudah biasa digunakan. Dari akumulasi itu semua, wajar jika pola-pola perubahan kita tidak jarang kena serangan balik. Sementara saya ke Makassar, seorang pejabat rektorat dari kampus swasta mengeluhkan, ketika dia stand by di hotel di Inggris dalam acara forum internasional, berita aksi-aksi mahasiswa di Indonesia yang membakar ban di depan kampus dan memacetkan jalan di sana diberitakan oleh stasiun televisi Inggris secara live. Dan itu menurutnya, mengurangi daya tarik investor dan pelancongan ke Indonesia.Mengingat realitas di atas, tampak perubahan harus dilakukan di segala sisi. Dan itu semua harus dilakukan secara parallel dengan pihak-pihak lain yang menginginkan kebaikan bagi bangsa dan umat ini. Dengan demikian citra gerakan mahasiswa pun akan kembali naik jika GM sendiri mau mengubah setting gerakannya secara kreatif, relevan, dan membangkitkan kembali gairah masyarakat pada perubahan. Jadi polanya sekarang bukanlah reaktif tapi kontributif. Lebih pada apa yang telah dilakukan mahasiswa dalam membangun idealismenya—yang tidak sekedar apa sikap mahasiswa terhadap realitas yang dilakukan pihak lain.Kreativitas menyerap Energi secara kreatif sangat menentukan tingkat C (Citra/Cahaya/pengaruh gerakan) kita di publik. Menyerap energi berarti pekerjaan riil kita meningkatkan kompetensi gerakan, secara individual maupun kolektif. Kompetensi gerakan itu berarti skill-skill yang dimiliki gerakan secara unggul dalam mengimplementasikan gagasan, idealisme, dan konsep di lapangan. Tidak peduli apakah kita masih terlalu muda untuk itu atau memang anak muda belum layak berkarya untuk bangsa. Di awal tahun 2000-an saya cukup terkejut, ternyata salah satu pimpinan The Asia Foundation (organisasi donor internasional kawasan Asia) yang diutus ke Indonesia masih sangat muda tidak jauh dengan usia saya saat ini, yang kemudian menyimpulkan secara simplistic ketika itu bahwa konflik peradaban itu ternyata digerakan anak-anak muda. Bedanya, kompetensi kita jauh tertinggal. Citra yang digandakanKonsep Citra/Cahaya/Pengaruh bisa dipahami dengan cara mengoptimalkan waktu singkat masa kerja kita menyerap berbagai energi kekuatan. Energi bisa didapatkan dari belajar, sharing, berguru, silaturahim, aksi demonstrasi (in via vertuti vervia—di jalananlah muncul keberanian), kontemplasi, mengadvokasi, membaca, menulis, dll. Namun ada satu hal yang perlu diingat. Bahwa rumus Energi Einstein menyebutkan C2, yang bermakna Cahaya yang berlipat ganda. Cahaya itu didapatkan jika dia optimum menyerap berbagai Energi yang tersebar. Masalah muncul ketika kita malas menyerap Energi, yang terjadi justru Cahaya tanpa penggandaan (C≠ C2) dari hasil Energi dibagi massa yang diakarkan (√E/M). Itu artinya cahaya yang dihasilkan pun lemah. Tantangannya di sini adalah sejauh mana kita bisa bangkit kembali menyerap energi. Jelas di sini membutuhkan pengorbanan awal kekuatan dari kita sendiri. Kekuatan dukungan didapat dari kerja silaturahim. Daya dukung pendanaan didapat dari kemauan kita mencari sumber-sumber dana itu dan tawaran karya kita yang akan bermanfaat luas. Inspirasi didapat dari tradisi belajar pada mereka yang berpengalaman dan membaca jendela dunia (buku), dll, yang itu semua harus diawali dari diri kita untuk bangkit kembali. Selain didapat secara kerja-kerja rasional dan manusiawi, Energi pun bagaikan berkah yang diberikan begitu saja. Seyogiyanya kita kembalikan semuanya pada Pemilik Energi Maha Dahsyat. Dia-lah sumber Energi sebenarnya. Dari-Nya kita mendapat suplay energi untuk bangkit dan bergerak kembali. Karena itulah kita mengenal karakter Energi yang pernah kita dapatkan dalam pelajaran Fisika dulu bahwa Energi pada hakekatnya tidak bertambah maupun berkurang, tapi Energi itu disuplay melalui perubahan bentuk yang dikehendaki-Nya. Tinggal kita kembalikan persoalan kita pada masalah keimanan dan amal kita. Biarkan Cahaya itu diberikan oleh-Nya pada kita, dan biarkan citra kita hanya Allah, Rasul dan kaum beriman menilainya. Kita hanya membutuhkan pertolongan Allah agar dakwah ini dimenangkan-Nya. Setelah itu kita ingat kembali firman-Nya:Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi… (QS. An-Nur:  )

Posted by: rijaltri | September 10, 2007

Menyiapkan Momentum

Tiap kali mentadabburi surah al-‘Ashr yang berjumlah 3 ayat itu, selalu menyisakan kekaguman yang luar biasa. Terlebih jika tiga ayat pendek-pendek itu dilihat dalam kacamata realitas sejarah jatuh bangun peradaban Islam. Seakan perkataan Imam Syafi’i terngiang kembali dengan segar. “Kalau umat manusia merenungkan surah ini, pastilah dia meliputi mereka (memadai).”
Yang menarik lagi ketiga ayat itu ada kaitannya dengan rumus Momentum dalam pelajaran Fisika yang saya pelajari ketika Aliyah dulu. Hasil perenungan ini menyimpulkan satu rumusan yang saya sebut dengan “fisika gerakan”. Surat ini menyibak rahasia besar kehebatan persaingan peradaban, yang satu sama lain tengah berjalan dalam prinsip hukum-Nya.
Bagaimanakah kaitan keduanya. Mari kita tadabburi terlebih dahulu surat al-Ashr. Surat ini berada dalam urutan ke-103, berjumlah tiga ayat, terletak di Juz ‘Amma, dan tergolong sebagai ayat-ayat Makkiyah.
Di ayat pertama Allah bersumpah dengan lafadz wal ‘ashri. Beberapa edisi Al-Qur’an Terjemah menerjemahkannya dengan kalimat: Demi Masa. Dalam buku Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal. 1041 disebutkan bahwa al-Ashr artinya ’zaman’. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa al-‘ashr berarti shalat ashar. Kuntowijoyo pernah menafsirkan surat ini dalam artikel panjang di sebuah harian nasional dengan istilah waktu ashar. Menurutnya, waktu ashar ini merujuk pada waktu sore. Dia bukan waktu siang sebab matahari akan tenggelam, dan bukan pula waktu malam, sebab rembulan pun belum muncul. Di saat-saat pergantian waktu itulah Allah bersumpah bahwa manusia saat itu dalam keadaan merugi, semuanya! Yang dikecualikan hanya mereka yang tergolong dalam empat golongan saja.

Konteks Peradaban
Dalam konteks peradaban, waktu ashar ini adalah waktu di mana sebuah peradaban tengah tergelincir ke Barat. Dan di Barat-lah matahari selalu tenggelam. Lalu mentari peradaban pun terbit kembali dari Timur di pagi hari. Di saat pagi inilah Allah bersumpah dua kali untuk dua waktu yang jaraknya amat berdekatan. Wal fajri (demi waktu fajar) dan wash-shubhi (demi waktu shubuh). Imam Ali pernah ditanya, apa sesuatu yang tidak bernyawa dan tidak berparu-paru tapi bernafas, beliau menjawab, wash-shubhi idza tanaffas (demi waktu subuh ketika dia bernafas). Lalu mengiringi matahari yang naik sepenggalan, Allah pun bersumpah kembali wadh-Dhuha (demi waktu dhuha). Ketika siang pun Allah bersumpah, wan-nahari idza tajalla (demi siang apabila terang benderang). Masuk sore hari, Allah bersumpah, wal-Ashri. Dan waktu malam, wallaili idza yaghsya (demi waktu malam apabila menutupi—cahaya siang). Begitulah pergiliran waktu yang di masing-masingnya Allah meletakkan sumpah-Nya yang Maha Besar. Dan, setiap peradaban akan melewati waktu-waktu yang telah diletakkan sumpah-Nya itu.
Ada apa dengan waktu ashar? Waktu ashar dalam konteks peradaban adalah detik-detik yang menentukan. Di waktu yang singkat ini jarang ada peradaban yang bisa bertahan. Masing-masing peradaban mengalami ketergelinciran menuju kegelapan malam yang menghanyutkan dan menghancurkan.
Beginilah faktanya, di pagi hari manusia dalam kesegarannya mereka bangkit menyiapkan berbagai pekerjaan yang produktif. Hingga jalan-jalan pun macet. Di siang hari, hasil jerih payah itu mencapai puncaknya. Masuk waktu sore, manusia-manusia peradaban itu pun kelelahan, pulang kerja, meletakkan seluruh pekerjaannya, dan mengambil aktivitas santai hingga malam menjelang. Lalu mereka mengambil tidur pulas pada waktu malam, hanya beberapa saja yang mempertahankan matanya tetap produktif.
Kejadian harian di atas berlaku juga pada perjalanan sebuah peradaban. Islam di awal risalah Muhammad saw. merupakan masa-masa menentukan produktivitas peradaban dengan gencarnya dakwah. Prestasi spiritual ini berhasil menjadi fondasi kegemilangan peradaban hingga abad pertengahan yang dijuluki kaum orientalis dengan fase the golden age (Masa Keemasan). Namun pergiliran pun tidak terlekakkan, perjalanan peradaban Islam memasuki waktu ashar, matahari peradaban saat itu bergulir ke Barat melalui Cordova, Spanyol, hingga mereka renaissance. Barat tercerahkan, Islam sendiri mengalami kebuntuan kreativitas, sebab pintu ijtihad telah ditutup. Masuklah malam. Peradaban Islam tidak lagi tergelincir melainkan tertidur. Ia terlelap kelelahan, dan hanya sedikit pahlawan yang bangun saat itu. Jika pun mereka teriak, tak ada suara yang menyahut. Senyap. Bahkan sepi. Inilah tragedi yang menyayat kemanusiaan. Di tengah kolonialisasi Barat dengan spirit merkalitilisme-nya, tidak ada satu pun kekuatan yang membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas. Apatah lagi umat Islam. Ia sudah porak poranda, terpecah-pecah dalam firqah-firqah, etno-nasionalizm, dan sebagiannya terjual menjadi antek-antek penjajah. Berbagai upaya kebangkitan para pahlawan telah pun dilakukan, namun umat tidur nyenyak. Ia hanyut dalam perdebatan usholli, qunut, tawashul, dan berbagai persoalan furu’iyah lainnya.
Kegetiran sejarah yang sedemikian, menyisakan sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab dengan jujur. Apakah saat ini kita masih di malam hari? Ataukah mungkin masih tersangkut di sore hari? Saya kira tidak di keduanya. Pertumbuhan harakah-harakah Islamiyah di masa kini amat menggembirakan. Kesadaran berislam telah pun bersemi dari bawah, walau pola pemerintahannya masih warisan para penjajah terdahulu. Geliat kapitalisme global pun telah memporakporandakan bangsa-bangsa yang beretika itu menjadi liberal, bahkan sangat liberal. Namun di tengah-tengah kegelapan ini, Allah menjanjikan Islam akan datang segera menggiring umat manusia pada cahaya-Nya melalui para mujadid yang telah diutus-Nya di waktu fajar kebangkitan. Itu artinya masa kita saat ini berada di waktu kedua, subuh hari. Subuh itu, seperti dikatakan Imam Ali, adalah waktunya bernafas, menghirup berbagai inspirasi kebangkitan, mengeratkan berbagai komponen pendukung, dan menyiapkan berbagai energi kekuatan kebangkitan hingga terjadilah momentum perubahan yang Allah janjikan di masa depan kelak.
Layastakhlifannahum fil alardh…

Rumus Momentum
Lantas apa kaitannya dengan rumus Momentum? Elaborasi di atas menjelaskan fase-fase perjalanan peradaban Islam dari era kebangkitan yang dibangkitkan oleh Nabi Muhammad saw.—setelah jatuh bangun peradaban Islam yang dilalui oleh para nabi sebelumnya—hingga fase kini di era kebangkitan jilid kedua. Rumus Momentum itu diperlukan dalam kerangka menciptakan momentum baru menyingkap embun pagi menuju masa-masa produktivitas menyambut kejayaan yang dijanjikan Allah. Satu keyakinan saya, bahwa momentum itu, selain ia hadir karena pergesekan realitas berbagai sejarah besar, juga sebenarnya momentum dapat diciptakan (dengan Izin Allah, tentunya). Momentum apa pun yang ingin kita ciptakan, rumusannya sama. Dan ia harus mengikuti ketentuan kauniyah-Nya, yakni massa dikali kecepatan. Atau kawan dari fisika menyederhanakannya begini: m x v.
Mari kita terjemahkan rumusan fisika di atas ke dalam bahasa pergerakan sosial. Bahwa yang disebut dengan massa adalah masyarakat, umat, atau aktivis pergerakan itu sendiri. Sedangkan kecepatan adalah upaya dan tindakan terjadinya berbagai akselerasi perubahan.
Mengikuti rumusan di atas, jika kita ingin menciptakan momentum, maka rumusnya adalah perbanyaklah kuantitas massa kita bersamaan dengan itu perbesarlah tingkat akselerasi kita dalam banyak hal.
Perlu diperhatikan. Rumus Momentum bukanlah massa ditambah kecepatan melainkan dikalikan. Itu artinya, satuan kekuatan kita sebagai seorang aktivis bukan ditambah dengan satuan aktivis lainnya, melainkan seorang dan seorang lainnya—yang tentunya bukan dua orang—digandakan berlipat ganda dalam sebuah sistem pergerakan yang akseleratif. Maka dalam sebuah pergerakan mahasiswa, sistem pengkaderan perlu dirancang secara heroik (psikomotorik), menjiwai hingga tingkat kesadaran yang tinggi (afektif), dan memantik daya pikir (kognitif) mereka pada persoalan dan kemampuannya menjadi problem solver, bukan sekedar problem speaker, atau malah problem maker. Kerja-kerja ini juga tidak akan berhasil jika tidak ditopang dengan sistem gerakan yang terpadu di semua aspeknya, baik dari sisi tata keorganisasian, kecepatan menanggapi persoalan (tidak sekedar cepat bersikap), kemampuan menjaring relasi perubahan, dan daya dukung lainnya secara operasional.
Dalam konteks KAMMI, kaderisasi diposisikan bukan sebagai kewajiban pengurus atau pun hak kader. Di atas itu semua, kesadaran akan kemenangan peradaban masa depan di tangan Islam, pengkaderan adalah kultur gerakan, yang berarti pekerjaan mengkader adalah mentalitas kader dan pengurus itu sendiri. Masing-masing mereka adalah orang-orang pembelajar dan secara terbuka terbiasa menularkan kemampuannya pada yang lainnya. Mereka pegiat di lapangan, kokoh secara akhlak dan valid secara konsepsional.
Rancangan gerakan dengan spirit Menuju Muslim Negarawan adalah tantangan kita semua untuk menciptakan momentum baru gerakan mahasiswa di Indonesia. Seperti apakah bentuk konkritnya kelak, ia hanya akan dicapai bentuknya oleh rumusan tadi: kuantitas banyaknya kader-kader terbaik yang akseleratif dan progresif dalam mempelajari berbagai hal secara terpadu dan terinterkoneksi satu sama lainnya. Allahu a’lam

Kaliurang, Yogyakarta
26 Juli 2007

Posted by: rijaltri | July 11, 2007

Walimatul ‘Ursy

Mahasuci Allah yang memuliakan mahluk-Nya dengan anugerah cinta.
Ya Allah perkenankanlah putra-putri kami:

 

Tri Mulyaningsih

 

dengan

 

Rijalul Imam, S.Hum

 

Untuk mengikuti sunnah Rasul dalam membentuk insan-insan yang sakinah dalam ikatan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

 

Akad nikah:
Hari Jum’at, 20 Juli 2007
Pukul 09.00 WIB
Bertempat di Wonogiri, Jawa Tengah

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started