View original post 356 more words
Produser film “Fitna” menunaikan ibadah haji
Filed under Tips
Kreativitas itu, ya kamu sendiri.
Kata MC (Master of Ceremony) acaranya PAS ITB, saya disebut sebagai orang keren! Oh, bagi saya itu sangat berlebihan. Karena saya adalah orang yang biasa saja. Biasa dianggap keren, biasa dianggap baik, biasa dianggap kakek, biasa dianggap apa pun, bergantung orang dapati saya ketika dia melihat atau mengenal saya ketika itu.
Di malam hari itu, bada Isya, setelah makan, sekitar jam 8, saya diminta untuk memberikan materi tentang Kreativitas kepada calon kakak PAS baru. Tapi sebenarnya, panitia tidak meminta saya setelah makan, melainkan panitia telah meminta saya 2 hari sebelumnya. Andai mereka tahu, saya tidak mempersiapkan sedikit pun apa itu materi Kreativitas.
Mengapa? Karena saya tidak ingin dibuat seperti siswa atau mahasiswa pada umumnya yang akan belajar saat menghadapi ujian. Ah, tapi bukan karena itu juga, saya tidak mempersiapkan karena itulah saya.
Di depan mereka, para calon Kakak, kakak bagi adik palsunya, yang baginya alasan masuk PAS karena suka anak kecil, karena mencari pengalaman baru, karena mencari pelarian untuk kesenangan, atau karena ada yang dia suka. Oh, saya benar-benar asal jawab. Tidak penting, itu urusan mereka.
Saya menyampaikan apa-apa yang ada di kepala saya tentang Kreativitas. Menurut saya, kreativitas itu cara berpikir yang lain dari sudut pandang yang lain, kreativitas itu adalah ketika kamu mengenal diri kamu sebenarnya dan seutuhnya dengan baik dan benar. Cara untuk mengenal diri kamu itu, ya dengan mengenal siapa Tuhanmu. Dan itulah kamu yang menjadi dirimu sendiri, tanpa mengikuti orang lain.
Dan saya beri tahu mereka, bahwa kreativitas itu tidak selamanya harus pandai menggambar, pandai membuat bentuk, karena kreativitas itu luas dan banyak. Membuat masakan dari berbahan jagung menjadi setara pizza itu kreatif, membuat tulisan biasa menjadi inspirasi dunia itu kreatif, membuat karya yang bermanfaat untuk banyak orang itu kreatif, ah, terlalu banyak. Intinya ya itu, cara berpikir yang berbeda, tetapi tidak bersifat merusak atau merugikan.
Filed under Tips
Akhirnya :)
Tanggal 7 Mei 2013 itu hari Selasa yang lelah, tapi indah. Ada rasa sedih, haru, tapi bahagia juga. Ya, ini adalah hari wisudaku.
Lika-liku perjalananku untuk sampai tujuan, akhirnya tiba juga. Setahun lebih aku mengurusi sisa akhir masa kuliahku di kampusku. Waktu yang cukup lama, eh, maksudku lama sekali.
Aku sempat pesimis mengakhiri kuliahku dengan wisuda. Karena aku merasa sudah jenuh. Organisasi di PAS saja, aku sudah merasa kurang nyaman. Entah apa yang aku cari ketika itu. Sampai akhirnya, tiba-tiba aku penasaran kenapa aku pesimis dengan kuliah. Aku cari-cari kekurangan, kepesimisan, dan kekuranganku untuk membuka rasa kepenasaranku. Aku hajar habis-habisan masalah di kampus, mulai dari nilai mata kuliah, bimbingan yang berulang kali, sampai akhirnya aku gak nyangka, aku sidang 😀
Tadinya, aku cuma berencana cuma sampai sidang saja, tapi rasanya gak lengkap kalau kuliah tidak diakhiri dengan wisuda. Seperti makan tanpa dessert, hehe..
Hari Wisuda
Seperti biasa, jam 5.30 adalah waktu aku mengantarkan pesanan catering ke Setiabudi Regensi. Dan aku tiba di rumah jam 9.30, karena menyempatkan ke tempat pencucian mobil dulu.
Istirahat sebentar, kemudian ibu memintaku mengantarkan catering lagi untuk makan siang ke Lipi, Cisitu. Dalam hati, aku sempat mengeluh, Ya Allah, aku kan ingin ngerasain gimana wisuda itu, tapi ini diminta mengantarkan catering. Aku lihat jam dinding, 10.30. Aku berharap masih ada waktu untuk ikut upacara wisuda. Aku tancap gas dengan cukup kencang. Tapi kemudian aku istighfar, aku harus ikhlas jalankan semua ini.
Tiba di Lipi, aku mengangkat masakan untuk 104 porsi ke lantai 3, sendiri. Keringat udah basahi bajuku. Untuk mengangkat nasi, aku mencari bantuan, karena aku tidak sanggup sendiri. Gak kuat.
Jam 11.30, aku pulang. Di perjalanan, mamah nelpon aku. Ternyata kerupuk lupa aku turunkan dari mobil. Dan aku harus kembali lagi ke Lipi. Aku sempat pasrah untuk wisuda. Sudahlah, kalau pun tidak sempat ikut upacara wisuda, biar aku diwisuda oleh temanku saja, hehe.
Tepat jam 12.50, aku tiba di rumah. Aku mandi dengan cepat. Aku cari ibu, ternyata sedang di salon. Aku bingung harus gimana. Akhirnya aku tentukan pilihanku: pergi ke kampus sendiri.
Ya, aku ke kampus sendirian, gak bareng orang tua. Bapak bilang sih bakal nyusul dan insya Allah gak akan telat. Dan aku berharap semoga iya. Aku ke kampus pake OJEK. Aku pikir, kalau pake mobil, pasti macet gila. Kalau pake motor sendiri, gak tau bakal parkir di mana, kayaknya riweuh. Akhirnya aku ngojek dengan ongkos 20ribu. Untungnya mamang ojeknya ngerti situasi. Dia gesit bawa motornya. Haha..
Aku turun beberapa puluh meter dari kampus. Macetnya benar-benar nyata macet. Aku berjalan cepat. Sambil berjalan, aku mengenakan toga, kalung, dan topi. Masuk gerbang kampus, aku langsung menuju aula Graha Sanusi Hardjadinata. Ternyata wisudawan sedang berbaris masuk aula. Aku bingung harus baris di mana, karena tidak ada jurusanku. Sudahlah, aku bergabung dengan wisudawan Magister, hihi..
Sampai akhirnya, aku bertemu dengan teman-temanku yang baru aku kenal ketika sidang. Tapi ada juga teman seangkatan, bahkan sekelas.
Merasa WOOWW! ketika aku berada di dalam aula. Meski biasa saja, tapi ini upacara wisuda yang bener-bener bikin aku (sekali lagi) WOOWW!
Upacara pun dimulai dan berlangsung dengan khidmat. Dari jam 2 sampai 4 sore. Upacara ditutup.
Para wisudawan sibuk mencari orang tua atau pendamping wisudanya. Begitu pun aku. Bapak bilang, insya Allah tidak akan telat datang ke upacara wisuda. Aku pun mulai mencari orang tuaku di dalam gedung. Ada rasa haru ketika para wisudawan menemukan orangtuanya dan memeluknya. Tapi aku tahan, aku harus mencari orangtuaku sendiri. Sampai aku berada di pintu keluar gedung, aku tidak menemukan orang tuaku. Bahkan teman-temanku pun tidak ada. Aku berjalan pelan dan menoleh kanan-kiri berharap bertemu orang yang kukenal untuk melampiaskan emosiku. Tapi ternyata tidak ada. Aku terus berjalan sampai menjauh dari keramaian. Rasa haruku berubah menjadi sedih. Tidak seorang pun yang kutemui di saat aku membutuhkan untuk melampiaskan rasa haru. Aku duduk di teras masjid. Dalam hati, aku mencoba membesarkan hati. Akhirnya aku benar-benar selesai.
Tiba-tiba, ada Zahra, adikku, melihatku. Dia bersama ibu. Zahra memberi tau ibu bahwa dia melihat (mungkin lebih tepatnya ‘menemukan’) aku. Ketika ibu melihatku, aku melihat ibu tampak terheran-heran melihatku. Terus, geleng-geleng kepala, seolah berkata, “Bukan Kiki..”. Lalu Zahra, bilang, “Iya, itu A Kiki..”, dan akhirnya ibu datang padaku dan memelukku erat.
Aku sedih tapi terharu tapi seneng juga akhirnya.
Satu per satu muncul di hadapanku: Iqbal, Adit, Bapak, dan teman-temanku dari Salman ITB. Huhuhu, aku terharu mereka datang jauh-jauh hanya untuk melihatku memakai toga.
Ketika aku bertemu bapak, ini untuk pertama kali aku dipeluknya. Aku dibisiki doa yang indah, yang membuat aku lebih kuat dan tabah sampai akhir hidupku. Dan itu bener-bener bikin aku nangis.
Akhirnya kami pun berfoto ria, merayakan pesta wisudaku dengan sederhana. Beberapa teman memberiku kado.
Firman Fauzi. bawa boneka berbentuk.. apa ya? seperti bunga, tapi kayak matahari.. Tapi kalau matahari, warnanya gak mungkin coklat. Kalau bunga, bunga apa yang berwarna coklat? Tapi di sana tertulis, WISUDA KUMAN. Hahaha..
Rena. Bawa gambar aku sedang memakai topi wisuda sambil melompat. Gambar itu sudah diberi frame foto.
Jems, Rumi, Nadiah. Teman-teman seangkatan, ya 2008, ya semester 50. Hihi.. mereka bawa satu surat dan bunga abadi, lebih abadi dari bunga edelweis.
Adel. Bawa boneka kucing yang dia buat dari kaos kaki. Hmm, gak akan sampai nempel di hidungku, haha..
Zahrah. Beri aku es krim. Aku tau, itu makanan kesukaan dia.
Zahra, adikku. Bawa aku bunga mawar merah.
Dan sisanya, serta semuanya, memberikan senyum untukku, yang membuat aku merasa sangat berarti bagi diriku sendiri. Mereka membawa semangat untukku. Mereka membawa inspirasi untukku. Mereka membawa ‘tali’ untuk diikatkan kepadaku agar ukhuwah ini dapat terus berlanjut sampai di SurgaNya nanti. Amin.
Terima kasih, teman-teman. Doamu tak kusia-siakan, aku barengi dengan ikhtiarku yang maksimal, hingga akhirnya apa yang orang tua tunggu, temen-temen nanti, dan aku banggakan, AKHIRNYA datang juga.. 🙂
Koleksi Komik Indonesiaku
Saya punya banyak komik. Tapi itu kalau komik pertama yang saya miliki sejak SD masih ada, hehe.. Sekarang sisanya tinggal beberapa lagi.. Sisanya masih dipinjem.
Makin sini, saya makin tertarik dengan komik yang aseli buatan Indonesia. Baik itu untuk anak-anak atau pun dewasa. Yah, komik gak selamanya untuk anak-anak, meski gambar lucu. Tapi gak salah juga kalau anak-anak yang baca, seperti komik Kocakres! hehehe.. Itu komik anak kecil yang mendewasakan. Sekarang komik Kocakres! saya sedang dipinjem teman. Padahal saya kangen sama buka halaman tertentu aja, hehe..
Dan ini daftar komik Indonesiaku:
Sisanya kayak Kocakres!, S.P.B.U., dan lain-lainnya, masih dipinjem temen, jadinya gak sempet saya potoin.. mudah-mudahan gak iri 😛
(Kayak pamer gini.. atau buka lapak? 😛 )
Filed under Curhat
Dilarang Benci Darah
Entah kenapa, setiap saya lihat darah langsung, saya jadi lemas seolah-olah mau pingsan. Mau itu darah orang lain atau darah sendiri. Kalau gak lemes, saya berteriak, kalau darah itu banyak dan terus mengalir.
Pernah saya berburu buah kersen bersama teman-teman. Saat itu, saya masih SD kelas 6. Sebagian ada yang naik pohon untuk memetik buahnya, sisanya menangkap buahnya dari bawah. Dan saya kebagian tugas yang menerima buah. Ketika itu posisi saya gak jelas, mengelilingi pohon. Haha. Teu daek cicing. Trus hinggaplah saya di pagar yang ujungnya runcing. Sambil menunggu buah kersen, saya goyang-goyang di pagar. Dan ketika teman saya siap melempar buah kersen, tangan kanan saya nyangkut di pagar, dan weerr.. darah mengalir dari telapak tangan kanan saya. Saya tutup rapat-rapat telapak tangan saya. Dan ketika darah mulai mengalir banyak, saya langsung berkata begini, “Haaa.. Kiki mau pingsan! Kiki mau pingsan!”. Tapi sampai saya dibawa ke rumah sakit pun, saya gak pingsan. Tapi lemes sekali..
Trus ketika ada kegiatan Sanlat yang bernama Jumanji. Ada anak yang mungkin sama kayak saya, gak bisa diem. Dia main dan bercanda. Mungkin karena berlebihan, akhirnya kepalanya terbentur ke tembok dan sobek kulit kepalanya. Awalnya saya kira luka kecil biasa aja, tapi pas Tim Medik menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat, akhirnya saya bawa aja langsung ke klinik Antapani. Ketika itu, saya berdua dengan anak itu. Kami masuk ke ruangan dan ditanya oleh dokter. Saya jawab apa adanya dan setelah diperiksa, kulit kepala anak itu sobek dan butuh dijahit. Dalam hati, “Oh, ya Allah.. kasihan sekali anak ini.. tapi saya gak berani melihat lukanya.. Ya Allah, izinkan saya untuk keluar dari ruangan ini..”. Kemudian dokternya meminta anak itu untuk tengkurap dan saya diminta untuk memegang badan anak itu biar tidak banyak gerak saat dijahit kepalanya. Mau gak mau, saya akan melihat lukanya itu. Oh, God! Kenapa malah jadinya saya lihat luka gini? dengan bismillah dan mohon kuat pandangan, akhirnya saya melihat luka itu. Kulit kepalanya sobek agak panjang, terlihat bagian yang putihnya, entah apa itu. Dan subhanallah, saya merinding!
Tapi bukan cuma melihat, mendengar cerita orang tentang kecelakaan, yang pendarahannya membanjiri tubuhnya, atau apa lah.. Itu lebih ngeri daripada melihat. Entah mungkin karena saya membayanginya terlalu berlebihan.. Yang pasti, saya masih belum berani dengan sesungguhnya berani melihat darah..
Entah sampai kapan saya begini. Setiap lihat darah atau adegan pelukaan yang sadis seperti film SAW atau mendengar cerita yang berdarah-darah, saya gak tahan lihat dan dengarnya. Biasanya darah di tubuh saya langsung mendesir. Ah, tapi gak terlalu parah kayak sebelumnya.. sekarang saya sudah mulai cukup berani untuk melihat darah, haha.. (sombong)
Herannya, kenapa kalau nonton film HAPPY TREE FRIEND, saya suka! malah ketawa. Sadis memang, tapi yaa saya ketawa, ketawa gereget gitu.. haha..
Lalu saya pun membayangkan kalau saya kelak punya istri, lalu terluka, masa sih saya lari? Justru saya harus jadi ‘dokter’nya, membuat dia tenang dan tidak panik. Lebih memalukan lagi pada saat istri melahirkan, saya lari karena istri takut melihat darah. KYAAAA..!! Gak. Gak. Jangan sampai terjadi.
Maka, yang saya lakukan untuk itu adalah saya harus melawan ketakutan saya. Mendekati orang yang terluka (kecuali terluka hatinya :P) dan mengobati lukanya.
Filed under Curhat










