jump to navigation

Bondet Sang Tuhan Maret 5, 2008

Posted by rustamalaka in cerpenmalaka.
add a comment

Wajah Bondet kini tampak seperti orang linglung. Kumis tebalnyapun tak sanggup menyembunyikan kebingungan hebat yang melanda kepalanya. Sementara Panjul dan Gareng ,dua anak buahnya hanya terbengong-bengong. Rencana besar yang telah disusun untuk menyatroni Rumah Haji Karim Juragan Bawang pesisir selatan itu  gagal total. Ya dalam kantuknya setelah semalaman mengintai rumah sasaranya dari  dalam mobil, Bondet dikejutkan oleh goyangan bumi yang lumayan hebat. Awalnya Bondet merasa ada yang mengguncang-nguncang mobilnya, dan lama kelamaan makin keras. Seketika diikuti suara berdebam keras dan bergemuruh. Pemandangan selanjutnya adalah bangunan roboh dan porak poranda. Iringin jerit pilu penduduk sekitar tempat itu terdengar nyaring seperti suara mobil ambulan yang tak putus-putus. Ya, agak lama Bondet menyadari, Gempa bumi hebat telah terjadi!

 “Gempa sialan!”  Gareng menggerutu. “Selanjutnya bagimana Kang”.Bondet masih terdiam, dahinya terangkat keatas, sesekali tangan kirinya mengelus-elus kumisnya. Tampak sekali dia sedang berfikir keras. Untuk melanjutkan aksi merampok jelas tidak mungkin. Harta benda haji Karim pasti sudah hancur lebur tertimpa rerruntuhan bangunan rumahnya. Terlebih suasana sedang hiruk pikuk, jelas kondisi tidak nyaman untuk merampok.

“Apa rencana kita, kang?”Tanya Panjul.”Kelihatanya kita harus mencari sasaran dilain tempat kang”.

“Diam…!!!, aku sedang berfikir, kalian tahu tidak”gertak Bondet. Sontak Panjul dan gareng membungkam dan tertunduk, menghindari tatapan mata sang Bos yang sedang bingung. Mereka tahu akibatnya jika terus saja berisik. Kepalan tangan Bondet akan melayang tanpa permisi ke wajah mereka. Otak kriminal Bondet bekerja keras, bagaimana mensisati kondisi yang tak pernah dihadapi sebelumnya. Tiba-tiba kumis Bondet terangkat keatas terdorong oleh bibir atasnya yang menyungging senyum, sejurus tangan kanannya mengepal ke udara.  “Kita akan berpesta” pekik Bondet. “ Kalian pernah dengar cerita gempa ditanah sumatera beberapa waktu lalu?, gempa itu diikuti oleh banjir pasang air laut, bukankah tempat ini dekat dengan laut. Kita kabarkan saja pada orang-orang itu bahwa air laut pasang dan siap menerjang tempat ini, nah jika mereka sudah pergi, baru kita jarah hartanya”. Meskipun gempa yang terjadi begitu keras, Bondet berfikir masih banyak harta yang bisa dijarah. Terutama uang dan harta berharga seperti perhiasan, meskipun rusak toh masih punya nilai jual yang tinggi. Dan ada ratusan bahkan ribuan rumah yang hancur tentu saja banyak pula harta yang bisa dijarah, pikir Bondet.

“Tapi kang, kalau air laut benar pasang  seperti yang disumatera itu bagaimana, Bukankah kita juga akan kena terjang banjir?” Tanya Gareng.

Sembari tersenyum sinis Bondet menimpali pertanyaan Gareng”Reng..reng… tempat disini beda dengan tanah sumatera, disini masih banyak gumuk pasir, juga perbukitan bisa menghadang air laut, sudah jangan tanya lagi ayo beraksi”.

Sejurus kemudian mobil pick up hitam itu beregrak kearah selatan. Menyeruak kerumunan orang-orang yang kebingungan. Bondet bergumam “orang-orang yang kebingungan ini pasti mudah panik, informasi apa saja pasti membuat mereka semakin kalut, tak bisa berpikir panjang”…

bersambung.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai