Memang pada awalnya terlihat biasa saja, namun saat saya jadikan sebagai judul tulisan, pasti sudah sadar maksudnya apa. “Bagi yang membawa HP harap dimatikan”. Yap, kalimat yang cukup sadis menurut saya. Gimana jadinya kalau peraturan itu ditaati di setiap masjid?? Bisa-bisa terjadi pembunuhan di mana-mana. Kalau kita pahami lagi, kalimat itu sebenarnya tidak menggunakan pola kalimat yang benar. Sehingga bagi orang yang membacanya akan beranggapan bahwa semua orang yang membawa HP akan dibunuh! Contoh lain, “Dilarang berbicara saat khutbah.” Lucu ga sih? Kalau dilarang bicara, terus siapa yang akan khutbah? Khotib dan jama’ah akan bengong berjama’ah pada waktu khutbah. Perlu memang untuk memperbaiki bahasa yang kita gunakan, terutama dalam tulisan, yang tidak sejelas bahasa lisan.
Kasus serupa saya temukan juga di sebuah kamar mandi di asrama UI, yang sempat membuat saya dan teman-teman saya ketawa. Apakah itu? “Yang kencing harap disiram”. Jangan dibayangkan deh, nanti malah tambah ketawa. Masih berhubungan dengan kamar mandi, ada sebuah papan menarik yang saya temukan di daerah Bekasi. “Dilarang kencing di sini, kecuali anjing.” Ditulis di pagar dekat warung pinggir jalan. Kalau ini sih jelas bukan pesan yang efektif, karena anjing ga bisa baca tulisan. Ga mungkin toh ada anjing lewat, terus berhenti sejenak (kaya album JV aja), baca tulisannya, kemudian berpikir sebentar, terus dengan serta merta dia buang ‘hajat’ di situ. Bisa masuk koran tuh anjing..
Lanjut Baca »


