Saya telah menyelesaikan rute-rute utama angkutan umum, terutama yang dilayani armada bis, di sebagian besar Indonesia. Tersisa rute Kalimantan (kecuali Balikpapan – Samarinda sudah kelar). Yang saya tuliskan dalam catatan-catatan perjalanan itu adalah sistem pelayanannnya, armadanya, kontur jalannya, serta profil para penumpang, dan situasi tatanan kota di kanan kiri jalannya. Gara-gara ini saya disangka sebagai agennya Dishub. Untung saja saya tidak naik banding di pengadilan terkait pencatutan nama dan instansi.
Tentu saja, semuanya hanya sepintas dan selayang pandang karena di kota-kota yang saya lalui saya hanyalah melintas. Akan tetapi, melalui referensi yang terkumpul, saya dapat menyelipkan sudut pandang dalam tulisan, baik dari perspektif ekonomi atau sosiologi, atau lainnya. Itulah mengapa saya lebih suka menulis daripada membuat video (meskipun data video juga saya simpan). Dengan menulis, endapan pemikiran dapat direnungkan dan dituangkan ulang secara lebih subtil. Dengan begitu, tulisan akan lebih reflektif, tidak sekadar menjadi sajian pemandangan semata-mata.
Dalam hal kebermanfaatannya, catatan-catatan perjalanan seperti ini barangkali mirip yang dilakukan I Tsing pada ratusan tahun yang lalu: tidak dianggap penting. Belakangan, catatan pelancong dari Tiongkok tersebut justru jadi pemantaik wacanan tandingan seputar asal-muasal Sriwijaya, sebagaimana pernah diliput oleh National Geographic, padahal dulu beliau tidak memproyeksikan bukunya terbit di Gramedia atau Diva Press, lho. Bedanya, saya berharap, buku saya ini berguna banget, terutama bagi DAMRI dan perusahaan otobus lain, juga Dishub dan terutama para calon penumpang. Niat sudah dimantapkan dari awal.
Catatan perjalanan ini tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan buku perjalanannya Paimo yang telah menyelesaikan sekian rute bersepeda di dunia, mulai dari hutan-hutan di Peru sampai Punta Arenas, dari ke puncak Kilimanjaro sampai ke Samarkand. Dia menulis lebih detil karena wahananya bergerak lebih lambat, menggunakan sepeda ontel. Intinya, semakin lambat laju kendaraannya, semakin lengkap catatannya. Maka dari itu, catatan yang ditulis pejalan kaki, seperti Ibnu Batutah atau Lawalata, akan lebih lengkap ketimbang yang naik sepeda motor. Demikian pula, yang saya tulis akan beda dengan yang dilakukan Paox Iben dan Wing Irawan, juga berbeda dengan yang dilakukan Benny Arnas (menggunakan berbegai macam moda transportasi), Farid Gaban, ataupun Agustinus. Saya hanya fokus sama angkutan umum, ya, angkutan umum, dan itu semua dilakukan melalui perjalanan solo (sendirian).
Kendala dalam melakukan perjalanan ini, bagi saya tentu, adalah pendanaan dan waktu. Acapkali ada dana, tapi jadwal mengajar dan kondangan sangat padat: gagal. Tapi, yang peling sering terjadi adalah unsur pertama, yaitu dana. Saya memamng tidak mengajukan adanya suplai dana dari instansi karena biasanya harus melampirkan surat ini dan itu, harus begini dan harus begitu, lebih-lebih jika harus melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu dari kepala desa, ogah ah.
Setelah rute bis di Jawa dan Bali selesai dalam dua buku, maka buku ketiga ini akan memuat perjalanan saya di rute Sabang – Madura, Manado – Makasar, dan Larantuka – Praya. Setelah rute Pontianak – Palangkaraya – Banjarmasin – Balikpapan selesai, insya Allah kesemua artikel akan disatukan dalam sebuah buku. Sambil menunggu dana terkumpul, saya bikin lagu-lagu hard rock dulu, manatahu ada tawaran manggung bersama orkestra bersama Erwin Gutawa pada Hari Santri 2022 mendatang.
“Persis seperti buku diari namun dapat dibaca orang banyak”: Begitulah gambaran buku ini bagi saya. Buku “Journal 1887” ini diterbitkan oleh Satu Spasi, karya Anta Kusuma. Buku terbit tahun ini, 2025. Saya menyebut Anta Kusuma sebagai santri PnP (Plug and Play) karena dia tidak menetap lama di pondok, hanya datang dan pergi dalam rentang waktu tertentu.
Bagi calon pembaca awam (pada umumnya), judul akan memantik rasa penasaran, yaitu angka: Apa itu “1887”? Ada apa dengan tahun tersebut? Ini tidak terjawab segera di halaman awal buku karena buku tidak dikatapengantari oleh si penulis sebagaimana lazimnya, ruang tempat ia selayaknya memberikan gambaran umum tentang isinya.
Jika Anda bertanya kepada mesin Kecerdasan Buatan tentang tahun itu, ia akan menjawab peristiwa banjir besar di Tiongkok yang menewaskan ratusan ribu orang. Jika Anda punya dompet Braun Büffel, angka tahun itu akan membawa imajinasi Anda pada tahun pertama perusahaan itu didirikan. Jika Anda tidak melakukan keduanya, baca saja bukunya sampai terpuaskan rasa penasaran Anda setelah menemukan jawaban pada sekurang-kurangnya halaman kedua di buku ini, pada bagian kata pengantar penulis atau penerbit. Eh, ternyata, dalam kata pengantar M Mushthafa, ia juga tidak disinggung hingga nyaris setengah buku pun terbaca belum ada jawaban pasti misteri di balik angka 1887 itu kecuali hanya tersirat pada halaman 14.
Kenyataan ini mungkin sengaja dibuat begitu oleh si penulis supaya Anda berkenalan dengan konten buku secara lambat, mengikuti alur buku sampai akhir. Toh, perlahan Anda juga akan tahu, kok, bahwa tahun 1887 itu adalah tahun berdirinya pondok pesantran Annuqayah, pesantren yang dikunjungi oleh si penulis dan menjadi inspirasi penulisan buku ini.
Membaca buku ini mengingatkan kebiasaan saya menulis buku diari sejak dulu, sejak tahun 1989, saat usia saya adalah 14 tahun. Dalam buku harian tersebut saya menuliskan peristiwa-peristiwa yang saya anggap penting untuk dikenang. Cara seperti ini berlangsung kira-kira 12 tahun lamanya. Bedanya, dalam lima tahun terakhir, catatan yang saya tulis lebih dalam, bukan semata-mata peristiwa harian, melainkan pendapat atas suatu persoalan, komentar terhadap sebuah keputusan, dan seterusnya.
Sementara buku ini, Journal 1887, adalah cerita pengalaman si penulis atas kunjungan berkalanya ke Pondok Pesantren Annuqayah selama kurang lebih tiga tahun. Interval jedanya beragam, bergantung pada kesempatan kunjungan. Kisah-kisah yang dituturkannya adalah murni pengalaman keseharian yang boleh jadi sangat unik di mata orang non-pesantren yang bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh dirinya. Itulah mengapa ia perlu menuliskannya untuk orang banyak karena bisa jadi ia beranggapan kalau si penulis tidak sendirian. Ada banyak orang yang memiliki pandangan seperti itu di luar sana, punya sudut pandang serupa dengan dirinya.
Yang dilakukan Anta mengingatkan saya pada kegemaran menulis diari yang saya sebut di atas. Meskipun polanya mengalami perubahan sejak adanya Blogger di tahun 2005, saya terus menulis sampai hari ini. Yang membuat tulisan Anta Kusuma ini unik adalah karena catatan hariannya hanya tentang satu kernel dengan banyak satelit. Ia menempatkan Annuqayah sebagai kernelnya dan memasang banyak sekali peristiwa di sekitar sebagai satelitnya.
Bukan karena Anta Kusuma adalah mantan jurnalis sehingga ia rajin menulis. Rajin atau tidak adalah soal minat dan ketekunan. Maka, pengalaman menjadi jurnalis dan bekal ketekunan lengkap sudah sebagai modal untuk menulis. Itulah yang ditunjukkan Anta di buku ini. Ia pun pada akhirnya mengumpulkan esai-esai perjalanannya menjadi buku, perjalanannya ke sebuah daerah yang dari dulunya mungkin nyaris tidak pernah dilakukannya, yaitu kunjungan ke pesantren di pelosok, lebih-lebih di Madura. Semua yang tampak baru di matanya menjadi penggugah untuk terus menulis hingga menjadi buku.
Kedatangan Anta Kusuma ke Madura, khususnya ke PP Annuqayah, dimulai tahun 2022, setahun setelah pandemi Covid mereda. Kedatangannya yang pertama dipantik oleh peristiwa kecil, yaitu sekadar hadir ke acara diskusi buku biografi Bunga Mimpi di Taman Dalail yang dilangsungkan di Kafe Kancakona, Sumenep. Saat itu, dia datang hanya sebagai peserta, bukan narasumber. Mungkin, kesan pertama yang diperoleh itulah yang menumbuhkan impresi khusus sehingga ia datang lagi dan datang lagi lalu datang lagi sampai sebelas kali. Semua itu ia catat dengan cermat dan teliti.
Saya ingat bahwa dulu saya pernah kontak Bapak Darwis Khudori terkait rasa penasaran saya atas kumpulan cerpennya yang berjudul Gadis Dalam Lukisan. Di antara perbincangan dalam surat elektronik itu ia menyatakan bahwa dulu, di akhir tahun 1970-an, ia pernah datang dan tinggal selama beberapa waktu di Guluk-Guluk dalam rangka pemetaan lokasi untuk proyek arsitektur. Saya kaget karena tidak dinyana beliau pernah sampai dan tinggal di desa saya. Selama kerjasama dengan BPM (Biro Pengabdian Masyarakat) Annuqayah itu, konon, ia menuliskan kisahnya sampai jadi sebentuk buku (tulis). Menurutnya ia mencatat dan menyusun sebuah buku tentang residensi di pondok ini (Annuqayah). Sayangnya, buku itu tidak pernah terbit hingga hari ini.
Sejauh yang saya tahu, orang-orang datang ke Annuqayah itu rata-rata untuk mengambil data penelitian terkait; 1) pesantren dan visi lingkungan, 2) kegiatan literasi di PP Annuqayah, dan 3) bentuk kepengasuhan pesantren yang bermodel serikat (majlis, bukan pengasuh tunggal). Hasil penelitian berbentuk tesis, disertasi, atau jurnal. Buku pertama yang terbit secara massal adalah penelitian Bapak Bisri Effendy: “An Nuqayah: Gerak Transformasi Sosial di Madura”.
Jarang atau bahkan nyaris tidak ada yang menulis pengalaman pribadinya dari perspektif arkelogis atau sosiologis. Andy Fuller, seorang peneliti dari Selandia Baru, adalah satu dari yang sedikit itu. Dia menuliskan esai perjalanannya dan terbit di Jurnal RIMA (Review of Indonesian and Malaysian Affairs). Esai perjalanan yang ditulisnya ini terbit pada Januari 2011 (RIMA, Volume:45 | No. 1/2, 2011: 225-229). Sejauh ini, esai perjalanan yang mengambil sudut pandang pribadi dan terpusat pada aktivitasnya di Annuqayah dan sekitarnya dan terbit sebagai buku adalah “Journal 1887” ini saja.
Jika kita ingat cerita dan catatan I-Tsing sampai ke Nusantara kiranya juga bernasib begitu saat ia ditulis ratusan tahun yang lalu. Ia menjadi penting dibaca saat ini, saat data-data receh pun jadi berharga. Semua yang ditulis menjadi penting untuk diketahui. Jangankan cerita perjalanan yang merekam kronik sejarah, pernak-pernik kehidupan sosial, etiket, perilaku, dan hal-hal rumit nan kecil lainnya, bahkan jenis makanan yang disajikan pun berangkali akan menjadi penting setelah kelak ia dibutuhkan sebagai “bigdata” di masa depan.
Maka, jika menuliskan pengalaman pribadi dalam sebuah diari lalu diterbitkan untuk umum dianggap kurang begitu penting bagi orang banyak mungkin anggapan itu berlaku saat ini. Nyatanya, tidak ada yang benar-benar tidak penting karena ia ditulis. Yang tidak penting adalah karena ia tidak ditulis atau ditulis namun belum tersentuh orang yang membutuhkan informasi dan datanya. Jadi, seberapa pentingkah ia bagi Anda? Bergantung pada seberapa Anda merasa penting untuk membutuhkannya.
Ketika saya menyebut nama ini (Thoifur), bahkan andaipun saya lengkapi dengan tambahan Mawardi di belakangnya (Thoifur Mawardi), banyak orang di sekitar yang salah terima, salah tanggap. Dikiranya, yang dimaksud saya adalah Kiai Thoifur Ali Wafa. Ini wajar karena saya orang Sumenep dan Kiai Thoifur Ali Wafa juga dari Sumenep.
Selain alumni Rusaifah, saya dan mungkin banyak orang tidak akan tahu-menahu soal Kiai Thoifur Mawardi ini. Nama beliau dua kali saya dengar ia disebut di PP Al-Hamidy Banyuanyar, salah satunya bertepatan dengan momen pernikahan Lora Abbas Muhammad Rofii. Beliau didapuk untuk membacakan doa kala itu.
Dari momen itulah saya lantas bertanya kepada saudara Ahmad Madzkur Awab tentang kepribadian dan kesosokan beliau (karena kedua nama tersebut satu almamater, sama-sama alumni Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, angkatan awal dan angkatan akhir). Selain mulai mengaji di Banyuanyar (sejak Sya’ban 2022) kepada Kiai Muhammad Rofi’ie Baidlowi, saya pun sesekali ngaji di Purworejo, di PP Kedungsari, Darut Tauhid, kepada Kiai Thoifur Mawardi. Pola pengajian di kedua pondok itu sama: dimulai pukul 9 pagi dan selesai pukul 10 lalu ditutup dengan makan bersama.
Mungkin hanya tiga kali saya sowan kepada Kiai Thoifur, selagi beliau masih sehat. Akan tetapi, sejak beliau didorong menggunakan kursi roda, saya tidak sowan lagi, hanya menunggu momen bersalaman saja setiap usai pengajian. Saya kira inilah cara terbaik untuk tidak membuat beliau semakin lelah.
Masyhur diketahui khalayak bahwa Kiai Thoifur sering bermimpi Rasulullah, bahkan sejak beliau belajar di Rushaifah. Itulah magnet terbesar yang membuat saya selalu ingin mengaji di sana. Sebab itu, jika saya ada agenda di Jogjakarta dan sekitarnya, diupayakan agar hari pelaksanaannya adalah malam Sabtu atau malam Ahad. Dengan demikian, ada kesempatan bagi saya untuk sowa ke Purworejo pada hari Jumat paginya.
Yang saya lakukan ini adalah pe-de-ka-te (PDKT). Mendekat kepada yang dekat yang notabene mempunyai kedekatan dengan Yang Mahadekat adalah proses pendekatan. Jika menempel belum mampu, ya, sedikitnya mendekatlah lebih dulu.
Hari ini, Selasa, 19 Agustus 2025 Kiai Thoifur Mawardi wafat.
Dua kali saya pergi dan bermalam di Gili Genting di tahun 2025 ini. Yang pertama akhir Januari lalu, diundang Kiai Fahris ke Mushalla Al-Amin, bershalawat bersama masyarakat; yang kedua kemarin, 13-14 April 2025 untuk kepentingan mengantar anak-istri bermain main di tepi laut. Mestinya, saya juga ke situ di awal 2021 ketika Mas A.S. Laksana mengantarkan anak-anaknya yang ngajak ke situ, tapi karena tugas rumahan, peran pengantaran dipindahtangankan kepada Moh Khatibul Umam (M.K.U).
Gili Genting adalah pulau terdekat kedua dari Pulau Madura setelah Poteran alias Talango. Di sebelah barat Gili Genting ada Gili Raja, di timurnya ada Gili Labak. Ke Gili Genting kita bisa naik kapal penumpang dari Talebbung di Lobuk atau dari Tanjung di Saronggi. Akses pelabuhan Talebbung ke Aenganyar sedangkan Tanjung ke Bringsang. Durasi perjalanan laut di kedua pelabuhan tersebut relatif sama, yakni antara 25-30 menit, ongkosnya juga sama, Rp15.000. Bedanya, kapal-kapal yang sandar di dermaga Bringsang (akses dari Tanjung) lebih besar, banyak menggunakan mesin Mitsubishi PS100 hingga PS135), dan ada pula layanan speedboat bagi yang ingin pulang terburu-buru, tapi harus carter untuk 4-5 penumpang dengan tarif sekitar Rp350.000, begitu juga bisa dipakai untuk main banana boat di sekitar pantai.
Gili Genting naik pamornya sejak viralnya Pantai Sembilan sebagai tempat wisata terkini. Dulunya, Pantai Sembilan merupakan pelabuhan perahu nelayan karena bertepian pasir yang panjang, mirip pantai Lombang, Slopeng, dan Badur yang memiliki hamparan pasir putih dan luas serta pohon-pohon cemara yang membuat naungan di siang hari yang panas. Yang membedakan dengan pantai-pantai lainnya, Pantai Sembilan menyediakan cottage dan kamar VIP dengan tarif Rp300.000 hingga Rp750.000. Karcis masuknya hanya limaribu perak. Keunggulan yang lain, pantai ini sangat mudah diakses dari pelabuhan, cukup berjalan kaki saja sejauh 200 meter.
Karena niat saya hanya mengantarkan anak-istri, maka tentu saja saya tidak ikut main speedboat, tidak ikutan mandi, dan tidak ngapa-ngapain selain duduk-duduk saja. Saya tidak tertarik juga untuk menjelajah pantai-pantai lain yang konon juga memiliki pemandangan yang indah dan masih ‘perawan’, seperti Pantai Kahuripan yang berada di ujung timur laut pulau dan jauh dari pemukiman penduduk. Saya hanya berkunjung ke rumah beberapa orang, antara lain ke kediaman Fahris di Aenganyar serta Fauzi dan Pak Hanan di Galis, dekat Masjid Al-Munawwaroh. Lain kali, mungkin perlu diagendakan untuk tinggal dua atau tiga hari di sini untuk, misalnya, menyelesaikan buku atau sekadar duduk-duduk saja sejenak melupakan keruwetan politik dan cicilan bulanan.
Kopi dari Kalimantan Barat yang saya tahu adalah Aming, pernah merasakannya, mendapatkan kiriman bubuknya. Ya, saya mengenal Kopi Aming sebagai produk kopi kemasan dalam bentuk bubuk, berbeda dengan Asiang yang saya terima kabarnya hanya sebagai warung kopi, padahal Aming juga punya kedai kopi di Pontianak. Keduanya adalah jenama bagi kopi robusta yang mereka racik dan melambungkan namanya karena bertahan selama puluhan tahun. Secara rasa, ya, lumayanlah, namun tergolong biasa saja jika jika dihadapkan dengan kopi-kopi andalan dari Tana Toraja, Takengon Gayo, Puntang, Gunung Halu, dan Ijen Bondowoso. Sejauh ini, kopi-kopi variestas arabica memang lebih unggul dalam rasa dan harga.
Saya tidak tahu, biji mentah (green bean) Asiang ini berasal dari mana, apakah dari Kalimantan atau dari Sumatera. Pasalnya, yang saya tahu, Kalimantan Barat bukan penghasil kopi yang banyak kecuali hanya sedikit varietas liberika di Sambas. Dugaan saya, kopinya berasal dari Lampung yang memang terkenal dengan kopi robustanya, tapi mungkin juga dari Vietnam.
Pada 11 dan 12 Desember 2024 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kedang kopi Asiang (tidak sempat untuk mengunjungi kedai Aming karena waktu terbatas meskipun letaknya sebetulnya berdekatan). Nama ini tidak seperti Excelso ataupun Starbuck yang masyhur karena produknya. Ia identik dengan orangnya, bukan semata-mata kopinya. Saya pun begitu, tertarik untuk meminum kopi Asiang bukan karena kemasyhuran citarasanya, melainkan lebih terdorong oleh rasa ingin tahu percarik kopinya yang khas: selalu bertelanjang dada.
Terkena percik hujan sepanjang jalan dari bandara Supadio karena jas hujannya cuma satu tapi dipakai berdua, kami langsung menuju kedai Asiang di Jalan A.Yani. Di tempat itu, saya mengikat janji dengan Subro. Saya sudah lama berinteraksi dengannya di Facebook, tapi baru malam itu kami berjumpa. Dia juga suka membeli buku-buku saya.
Ternyata, kedai kopi Asiang yang terletak di Jalan A Yani itu adalah kedai kopi cabangnya yang berdiri tak begitu lama ini, masih termasuk baru. Di sana, hanya ada gambar maskot di dindingnya dalam bentuk lukisan. Lakon yang asli tidak ada. Pahit kopi robusta ditambah pisang goreng susu tidak mampu menghilangkan rasa kecewa. Untunglah, pembicaraan saya dengan Baihaki (yang menjemput saya ke bandara dan tuan rumah di Kalbar) dan Subro mengalir saja, melupakan kekecewaan dan kisah-kisah lain yang memberi harapan.
Besok paginya, sehabis subuhan di rumah Baihaki (dipanggil Mat Bayi) di Gang Karya Bakti, Sungai Jawi, pinggiran kota Pontianak, saya langsung berkemas menuju kedai kopi Asiang yang terletak di Jalan Merapi. Saya akan melakukan perjalanan ke Terminal Antar Lintas Batas Negara Ambawang untuk bepergian ke Nanga Bulik namun mampir dulu di kedai kopi legendaris ini.
Di lokasi, ternyata sudah ramai pengunjung. Sepertinya, mereka datang persis setelah shalat subuh, mungkin saja begitu. Ketika saya memilih tempat duduk yang berhadapan langsung dengan sang peracik, di meja meja sudah dipasang papan nama meja kalau tempat itu telah dipesan. Akhirnya, kami memilih duduk di dalam saja, lalu pindah lagi ke ruang sebelum dalam begitu beberapa orang pengunjung yang duduk di situ sebelumnya beranjak.
Akhirnya, hari itu, saya bisa merasakan minum kopi di kedai kopi tua nan legendaris di Kalimantan Barat yang termasuk 1 dari 10 kedai kopi tertua di Indonesia. Kopinya dibanderol 8 ribu per cangkir. Kita bisa memesan yang disaring maupun kopi tubruk biasa maupun yang dicampur dengan susu (disebut “sanger” kalau di Ulee Kareng, Aceh). Di tempat utamanya, kedai buka sampai sore saja, sedangkan yang di A. Yani buka sampai malam. Harganya murah dan terjangkau, kan? Tentu saja iya karena harganya cuma Rp8000. Kesempatan dan biaya untuk datang ke sana-nya itulah yang mahal bagi penikmat kopi seperti saya yang tinggal di Sumenep, Madura.
Di banyak tempat, saat ini sering terdengar ide untuk membuat “hutan kampus” dan “hutan kota”. Keduanya adalah proyek besar dan mahal karena hal itu artinya harus memanfaatkan lahan yang pasti memiliki nilai jual tinggi (karena harga tanah yang mahal di kota-kota besar) untuk kepentingan nonprofit, yaitu membuat hutan. Yang lebih mahal dari itu sebetulnya adalah kesadarannya, yaitu kesadaran ekologis, lebih-lebih jika terjadi dalam situasi seperti sekarang yang nyaris semua orang memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan banyak bidang dan orientasi keuntungan bisnis tanpa mempertimbangan dampak pada lingkungan.
Hutan Kampus Universitas Annuqayah (UA) sedikit berbeda dengan ilustrasi di atas karena lahan kampus UA masih lumayan lebar dan tempatnya di bukit Lancaran, desa Guluk-Guluk. Akan tetapi, jika tidak ada itikad seperti itu, bukan mustahil kelak semuanya akan dibabat habis dan lahan pun akan terus menyempit dengan jargon pembangunan, pembangunan, dan pembangunan: suatu langkah kemajuan di satu sisi namun juga “berpotensi besar untuk merusak” di sisi yang lain.
Upacara penanaman pohon perdana untuk proyek ini diawali tadi pagi, Sabtu, 28 Desember 2024, bertempat di belakang kampus UA. Rektor UA, Kiai Muhammad Husnan, menyampaikan sambutan. Dia menyatakan kekagumannya pada anak-anak SMA yang punya gagasan untuk ikut serta menanam, merayakan rencana “tulus suci” ini, yakni membuat hutan kampus. Kurang lebihnya, begini kata beliau:
“Saya kagum pada kalian. Di saat anak-anak yang lain sedang sibuk memikirkan gadget dan media sosial, kalian malah menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Kalian telah membawa kami bernostalgia pada masa lalu, pada saat PP Annuqayah mendapatkan penghargaan Kalpataru.”
Ide tentang Hutan Kampus sebetulnya sudah lama digulirkan, namun baru kali ini dapat direalisasikan. Bertepatan dengan ide anak-anak SMA Annuqayah (putra) yang berencana untuk menanam, ide kemudian diperantarai oleh kepada SMA 3 Annuqayah (putri), yaitu Kiai Muhammad Khatibul Umam yang notabene juga ketua BPM Annuqayah, untuk diteruskan. Gayung bersambut, pihak kampus menerima umpan gagasan dan segera memusyawarahkannya serta melanjutkannya dengan tindakan nyata.
Saya hadir di sana dan diminta untuk melakukan pengguntingan pita (mewakili depan pengasuh) sebagai penanda dimulainya acara: yaitu penanaman pohon secara simbolik yang kemudian dilanjutkan dengan penanaman bibit-bibit pohon lainnya secara bersama-sama. Sebelum prosesi pengguntingan pita, saya sampaikan, “Kita berharap, ini adalah bukti bahwa kita masih peduli pada Bumi, pada rumah sendiri, di saat yang sama, di tempat lainnya, Bumi menjadi tak ubahnya seorang ibu yang dibunuh perlahan secara beramai-ramai oleh manusia, yaitu anak-anaknya sendiri.”
sumber foto: constructionplusasia.com/id/resta-pendopo-456
Saya pernah masuk tempat istirahat ini (resta) Pendopo di KM 456 Tol TransJawa ini beberapa waktu yang lalu, tapi yang membuat saya membuat ulasannya adalah waktu singgah yang kedua kali, Kamis 31 Oktober 2024. Saya tertarik karena tempat istirahat ini berbeda dengan yang lainnya.
Rest area ini disebut “resta” (meskipun ini belum baku di KBBI, atau memang merupakan singkatan dari rest area). Merekalah yang menamai diri mereka sendiri dengan kata itu. Saya kira, ini langkah baik daripada kita menyebutnya rest area pada saat kita punya padanan kata “tempat istirahat” yang jarang diucapkan karena dianggap terlalu panjang. Kita tunggu bagaimana pengguna Bahasa Indonesia akan menerima sehingga ia berterima pada akhirnya.
Dilihat sekilas, agaknya ini adalah tehat—atau kita pakai istilah ini saja? Tempat istirahat disingkat “tehat”—yang paling megah di sepanjang tol TransJawa. Bangunannya mirip mal. Arsitektur bangunannya menarik, mengikuti kontur tanah yang berundak. Panorama alamnya juga bagus karena berhadapan langsung dengan hamparan sawah dan gunung.
Tempat istirahat bernama Pendopo di KM 456 ini (disebut juga dengan “Resta 456”). Ada kedai kopi Starbuck-nya di dua sisi. Perusahan dari Amerika ini sangat besar sehingga ia mampu ‘mengelabui’ kedai kopi lokalnya, yaitu Kopi Banaran. Adanya Starbuck menjadi penanda khusus, sekiranya macam apa kuliner harga yang dipatok di resta ini. Starbuck sendiri juga ada di kota Salatiga. Bagi saya, ini mencengangkan mengingat kota Salatiga adalah kota kecil dan areanya juga sempit.
Yang unik dari Resta Pendopo 456 ini adalah adanya jembatan penghubung (SkyBridge), antara “Resta 456-A” dan “Resta 456-B”. Anak-anak bisa bermain boom-boom car di atas. Dulu, gara-gara jembatan penghubung inilah kejahatan pemalsuan etoll terjadi. Dua orang—anggap saja—sopir travel yang saling kenal satu sama lain bisa saling bertukar etoll di sini. Teknisnya mereka atur sedemikian rapi sehingga keluar dan masuknya sudah ditentukan lebih dulu agar tarifnya menjadi murah.
Yang tak kalah uniknya, Resta ini punya akses ke “orang luar”. Di Resta A (sisi timur; arah dari Semarang), ada pintu buat keluar dari tol yang berdampingan dengan rumah penduduk. Dengan pintu ini, pekerja Resta bisa makan siang di luar sehingga tarif lebih murah dan saya—begitu juga Anda—bisa turun di Resta itu jika, misalnya, ingin balik ke Surabaya. Saat Anda berubah pikiran di Boyolali, tinggal menunggu bis yang datang dari Semarang, hubungi teman Anda atau kondektur, tunggu saja di sana. Anda turun di Resta B, naik jembatan untuk geser ke sisi-A, lalu cegat di sana.
Hari Kamis lalu, 31 Oktober 2024, saya pergi ke Salatiga untuk kegiatan Tamasya Buku di Univesitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Jika saya naik patas dari Surabaya, saya harus turun di Kartasura dan oper bis Semarangan lalu turun di Salatiga. Tapi, cara ini pasti memakan waktu yang sangat lama. Pasti, saya harus berangkat malam Kamisnya. Nah, dalam pada itu, saya berangkat Kamis pagi dengan naik bis Jakarta-an (PO Haryanto ketika itu, nomor 170) dan turun di Resta B. Lalu, saya pun pindah ke Resta A dan dijemput di sana (oleh Faidy). Dengan cara ini, meskipun saya berangkat 07.30 hari Kamis pagi dari Pamekasan, sampai di Salatiga masih belum azan maghrib.
Ini pengalaman yang saya catat tentang satu-satunya tempat istirahat atau rest area yang punya akses ke luar dan juga punya jembatan penghubung antara yang sisi A dan sisi B. Resta Pendopo ini agaknya memang layak menjadi Resta terbaik di sepanjang tol Trans-Jawa. Suatu kali, bolehlah Anda mencobanya.
Saya tidak sering melihat pameran, hanya beberapa kali saja menghadiri pembukaan atau menikmati lukisan. Meskipun di masa kanak dulu pernah belajar menggambar, tapi jalan seni yang akhirnya saya tekuni adalah sastra. Sebab itu, meskipun sedikit, masih tersisa chemistry saya terhadap lukisan.
Pameran karya seni lukis adalah hal biasa terlihat di dalam galeri-galeri. Akan tetapi, pameran menjadi sesuatu yang langka jika diadakan di pondok pesantren, lebih-lebih materi lukisan bukanlah mazhab realias. Dan hal itulah yang sedang berlangsung di PP Annuqayah, daerah Al-Furqaan Sabajarin, Guluk-Guluk.
Duo pelukis, Peni Citrani Puspaning (Surabaya) dan Sekartaji TSU (ISI Jogjakarta) memamerkan karya-karya mereka di ruang perpustakaan Madaris 3 Annuqayah, PP Annuqayah daerah Al-Furqaan Sabajarin, Guluk-Guluk, mulai dari tanggal 25 Desember 2023 hingga 30 Desember 2023. Sebagai orang yang pertama kali diajak rembukan untuk pameran ini, tentu saja saya bingung pada awal mulanya, mengingat target penikmat adalah kalangan santri dan lukisan yang dipamerkan pun bukanlah lukisan realis, bahkan cenderung surealis. Saya iyakan saja tanpa pikir panjang karena alasan berikut.
Ada dua alasan yang melatarbelakangi penyambutan ini. Pertama, ide dan gagasan seni lukis mereka bertema lingkungan (tema tertulis adalah; envi.ro.mental). Ini selaras dengan visi komunitas PSG (Pemulung Sampah Gaul) di SMA 3 Annuqayah yang merupakan kelompok siswa yang bergerak di bidang penyadaran lingkungan, khususnya pengendalian limbah plastik-sekali-pakai (single-use-plastic); kedua, pameran seni rupa atau seni lukis adalah hal baru di pondok pesantran, khususnya Annuqayah Guluk-Guluk, lebih khusus lagi jika seniman lukisnya berasal dari luar pesantren dan bukan karya lukis realis. Komunitas pelukis pondok rata-rata menempuh jalur sketsa atau realis. Barangkali ada mazhab di luar itu, tapi tidak banyak.
Acara yang dibuka oleh Bapak D Zawawi Imron ini dihadiri oleh perwakilan santri di lingkungan pondok pesantren Annuqayah, beberapa guru, ibu nyai, santri, dan undangan umum. Acaranya ditempatkan di halaman SMA 3 Annuqayah. Senarai acaranya sangat simpel. Tidak ada botol minuman plastik di acara itu. Minuman yang disuguhkan juga memberdayakan pangan lokal dengan menyajikan penganan lepet, pisang rebus, dll, dan wedang sereh. Beginilah mestinya kegiatan itu: semua elemen pendukung acara harus saling menopang.
Saatnya kita, terutama santri dan para pengunjung, mulai berpikir tidak hanya melalui teks yang dibaca, melainkan juga melalui permenungan dan refleksi berdasarkan lukisan. Sebagaimana dikatakan dalam pepatah, bahwa a picture paints a thousand words (satu gambar/lukisan menjelaskan seribu kata), maka ia sulit terbukti jika bukan si penikmat (dan/atau kurator) yang turut menafsirkannya sendiri.
Berangkat tergesa-gesa dari rumah, diantar sepeda motor Astrea Prima yang maksimal melaju 50 km/jam untuk kecepatan aman, sembari mengingat-ingat barang penting yang mungkin tidak terbawa ke Biennale Jatim dari atas sadel belakang, dengan percik-percik air masih tersisa di kepala atau terserap kaos dalam karena tadi tidak handukan, saya telah dihadang gangguan padahal baru menempuh satu kilometer pertama perjalanan menuju Sidoarjo kali ini. Ya, mendadak perut mules dan yang terbayang berikutnya bukanlah kloset, melainkan gangguan-gangguan lain yang sangat mungkin bakal membuat saya terlambat datang ke acara diskusi karcis di Rumah Budaya Malik Ibrahim, Sidoarjo, sore harinya, 22 Desember 2023.
“Kiri di tanjakan, Pangurai, masuk!” kata saya memberikan aba-aba kepada pengemudi motor.
Eh, tiba di TKP, saya kepergok tuan rumah: paman saya sendiri. “Mau numpang WA, eh, WC, Om,” seru saya sebelum beliau bertanya. Tapi, apa yang terjadi?
“Gak pernah nongol ke sini, sekali nongol cuman numpang WC,” kata beliau. Skak-ster, saya membuang muka, masuk ke ruang ‘evaporasi’, menuju jamban.
Kata-kata itu terasa lebih pedas daripada sambal cabe berlumur tomat yang barusan saya makan, tersangka utama yang menyebabkan saya harus mencari toilet di 2 kilometer pertama bagi 167 kilometer berikutnya ini.
“Kok bawa tas, mau ke mana?” tanya beliau begitu saya nongol dari toilet.
“Ke Sidoarjo.”
“Oh, ya, sudah bareng aku saja. Aku mau ke Surabaya.”
Jadi, tidak disangka, kan? Gara-gara makan sambal banyak di pagi hari dan menyebabkan mules yang semula saya tuduh sebagai penyebab gangguan perjalanan, eh, malah jadi pencahar, eh, malah jadi pelancar perjalanan. Gara-gara ke WC, saya bertemu Paman. Gara-gara bertemu Paman yang kebetulan mau ke Surabaya, akhirnya saya menumpang. Suratan takdir paling ringan semacam seperti ini terkadang tidak kita imani, bahwa alur hidup itu sebetulnya misterius. Kita menganggapnya biasa karena barangkali terlalu jarang mendapatkan kejutan dan kalaupun mendapatkannya kita anggap itu kebetulan lalu lupa bersyukur.
Karena plot perjalanan berubah, maka akhirnya saya bisa tiba di lokasi acara, Rumah Budaya Malik Ibrahim, Sidoarjo, 90 menit sebelum acara dimulai. Ceritanya, dari mobil si paman, saya pindah ke lambung Patas AKAS NR di Kedinding, lalu oper microbus ELF dari pintu keluar Terminal Purabaya menuju lokasi. Dalam dua etape perjalanan dengan dua moda angkutan umum tersebut, terjadi kemacetan hebat di; 1) Medaeng dan 2) di lepas Jalan Layang Jenggolo. Tapi, bonusnya, uang untuk ongkos baru terpakai 35.000 saja: Kedinding – Purabaya Rp20.000; Purabaya – Sidoarjo Rp15.000.
***
Saya menjadi satu dari beberapa orang seniman yang diundang menjadi bagian dari perhelatan Biennale Jatim (ke-)X ini. Berbeda dengan perupa dan seniman lainnya yang memamerkan karyanya (foto, wayang, rajutan, digital art, dll), yang saya pamerkan adalah karcis-karcis dan tiket bis juga peron, khusus untuk zona Jawa Timur. Mas Ayos dan Mas Danny yang awal mula bertandang ke rumah dan mendiskusikan perihal apa yang sebaiknya dipamerkan. Karcis-karcislah yang jadi pilihan.
Karcis dan tiket itu bukanlah hasil karya seni saya sendiri, bukan karya “yang dapat mudah” diproduksi kembali. Ia sudah ada, ready made. Peran ‘intelektual’ saya hanyalah menyimpan, menyiapkan alasan mengapa harus disimpan dan dirawat, mengapa itu saja yang dipilih, dan seterusnya. Dalam diskusi sore yang dipandu oleh Bernard, saya ceritakan semuanya. Kebetulan, beberapa rekan komunitas penggemar bis, yang di antaranya masih menyimpan arsip-arsip tiket dan klipingan koran terkait terminal dan angkutan umum, juga hadir di acara itu. Heran saya karena tiba-tiba ada penampakan penyair Afrizal Malna di sana. Dia juga ikut curhat tentang pengalamannya naik bis kota.
Sebetulnya, karcis yang saya simpan tidaklah terlalu kuno. Tercatat hanya karcis AKAS periode awal 90-anlah yang paling lawas. Andaisaja saya seorang kolektor, mungkin saya bisa berburu tiket atau karcis lain yang lebih jadul. Tapi, itu bukan target saya. Yang saya simpan dan saya pamerkan di Rumah Budaya Sidoarjo tersebut adalah karcis-karcis yang memiliki ‘ikatan batin dan kesejarahan’ dengan saya sendiri: karcis milik sendiri dan masih saya ingat peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi perjalanan tersebut meskipun tentu saja tidak semuanya lengkap terekam dalam ingatan. Akan tetapi, semua karcis tersebut menyimpan memori intelektual, kesan dan kenangan tentang proses kreatif saya dalam berkarya dan menjalani hidup, dari kota ke kota, dari persinggahan ke persinggahan berikutnya, semuanya.
Obrolan dalam diskusi itu pun menjalar dan meruyak. Hal itu tampaknya memang disengaja oleh si pemandu dengan memantik pertanyaan-pertanyaan yang acapkali tidak terduga. Maka, saya pun diminta menyampaikan pandangan-pandangan umum tentang prosesnya, termasuk tentang angkutan umum kota Surabaya yang mengalami senjakala, yang menjadi salah satu penanda ketertinggalan sebuah kota sebab salah satu identitas kemajuan (apalagi untuk kota metropolitan) adalah ketersediaan dan kenyamanan transportasi publiknya. Sudah menghabiskan berapa banyak walikota dan gubernur tuh Kota Pahlawan ini tapi, ya, ternyata masalah ini belum selesai juga.
Di forum itu saya sampaikan, bahwa hampir setiap karcis bis merekam latar perjalanan. Sebagiannya malah sudah saya buatkan catatan perjalanan (telah terbit dua buku serta beberapa buku lain yang temanya serupa). Karcis-karcis tersebut telah melahirkan pandangan baru, sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan, bahkan ia telah turut andil dalam merangsang saya untuk melakukan permenungan yang lebih dalam tentang makna kemanusiaan yang mengendap dalam setiap momen dan kilometer perjalanan. Itulah mengapa karcis-karcis tersebut, bagi saya, bukanlah sekadar kertas yang mengalami perbahan bentuk dan disain grafis. Ia lebih dari itu. Di tangan saya, ia melampauinya.
Di antara yang juga dibincangkan adalah rute-rute yang mati maupun yang tumbuh, yang mati suri, serta kemungkinan yang lain. Munculnya Jembatan Suramadu yang menyebakan kehidupan ekonomi pelabuhan Kamal menjadi suram serta Trans-Jawa dan dampak sosial dan ekonomi yang disebabkannya. Tidak lupa saya ingatakan, bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat dengan mobilitas sangat tinggi dalam perspektif angkutan umum dengan bis ini. Salah satu buktinya adalah trayek ke Madura, trayek yang hidup 24 jam meskipun jalurnya buntu, mentok di Kalianget (Sumenep).
***
Sehabis acara, saya diajak makan di Rawon Gajahmada, tapi saya memesan nasi pecel saja (karena sudah pernah menyantap rawon pada kesempatan sebelum ini, selesai acara pembukaan Biennale, 9 Desember yang lalu). Setelah itu, Danny dan Bernard mengantar saya ke kafe Jungkir Balik yang terletak tepat di sisi utara bundaran GOR Delta. Loh, kok bukannya ke Terminal Purabaya? Soalnya, rezeki menumpang ternyata masih ada, yaitu sebuah mobil yang kebetulan sedang bergerak pulang dari Paiton menuju Madura, yang dengan begitu membuat pengeluaran biaya transportasi tetap tidak bergeming, tetap Rp35000 untuk rute rumah-Sidoarjo-rumah yang total jaraknya (pergi-pulang) adalah 338 km.
Semua yang terjadi dalam perjalanan saya tentu telah sesuai suratan. Orang-orang baik begitu banyak yang telah membantu. Tentu saja saya tidak boleh melupakan peran sambal tomat yang ikut serta membuat skema perjalanan menjadi berubah, bahkan telah berhasil memantik saya untuk menulis artikel ini.
Per hari ini, Selasa, 15 Maret 2022, selesai sudah rangkaian acara kunjungan (perwakilan) Pengasuh PP Annuqayah (Kiai Naqib & Nyai Fadhilah, Kiai Muhammad Solahuddin, dan saya) serta satu orang perwakilan IAA Pusat, Bapak Fathol Bari. Rangkaian acara haul masyayikh dan reuni diawali dengan serentetan acara silaturahmi, dimulai sejak kami baru tiba di bandara Syamsuddin Noor (Banjarbaru), pada Sabtu, 12 Maret 2022.
Di bandara, pukul 11.09 WITA (terlambat 30 menit dari jadwal pendaratan pesawat) kami dijemput dan disambut oleh sekitar selusin alumni serta sesepuh, Kiai Zuhri. Sambil menunggu Kiai Mamak (Kiai Shalahuddin A. Warits) yang mendarat beberapa menit setelah kami (karena beliau terbang dari Jakarta), kami bertemu dengan alumni-alumni PP Al-Amien Prenduan yang juga sedang menunggu Kiai Fauzi Tidjani tiba di sana.
Dari bandara, rombongan 5 mobil bergerak, menuju kediaman Ustad Khairullah yang letaknya di daerah Wengga Trikora, 20 menit perjalanan bermobil dari bandara. Di sana, kami dijamu makan siang. Setelah shalat, perjalanan dilanjutkan ke posko, di PP Atthahiriyah, Madurejo, Kec. Sambung Makmur, Kab.Banjar. Sebab tidak menggunakan android atau Google Maps, saya tidak menyangka kalau ternyata perjalanan itu sangat jauh, kira-kira 75 km. Namun, rasa bosan itu lunas ketika kami singgah di Kubah Sekumpul, Martapura. Kami berziarah ke makam Guru Sekumpul, yaitu KH. Zaini bin Abdul Ghani yang masyhur dipanggil “Guru Ijay”.
PP At-Thahiriyah ini pertama kali dirintis oleh Kiai Thohir, murid daripada Kiai Ilyas Syarqawi. Kabarnya, Kiai Thohir tiba pertama kali di sana pada tahun 1943, sebelum Indonesia merdeka. Pesantren tersebut mengelola lembaga pendidikan, dari TK sampai aliyah. Letaknya di cekungan lembah. Di tempat inilah kami berkumpul. Pada alumni berdatangan, bersilaturahmi. Pertemuan sangat guyub, akrab dalam melepas kerinduan.
Dari posko ini, malam itu juga, rombongan bertolak ke Panyiuran, ke Madrasah Miftahul Ulum. Madrasah ini dikelola oleh Ustad Syifuddin (suami daripada Kursiyah, alumni Lubri). Kiai Naqib memberikan sambutan. Kiai Mamak membaca doa. Tugas saya membaca puisi. Ya, begitulah efeknya kalau alumni Annuqayah: Mungkin karena selama di pondok Luk-Guluk mereka selalu menyaksikan adanya pembacaan puisi dalam setiap kegiatan haflah pondok pesantren, maka mereka pun menyelipkan rangkaian itu dalam acaranya. Itu bukan saja di Kalimantan, di daerah-daerah lain pun yang sering terjadi juga begitu.
Malam itu, kami tidak bermalam di Panyiuran, melainkan di rumah Pak Dirhum, di Kupangejo. Beliua adalah seorang walisantri. Dua atau tiga putranya mondok di Luk-Guluk. Rumahnya unik, tepatnya disebut eksotik. Dinding, atap, bahkan lantainya pun menggunakan kayu ulin. Oh, iya, hampir lupa. Soal kontur jalan ke Panyiuran dan seterusnya, tak perlulah saya ceritakan betapa ampun-ampunannya. Tidak ada contoh yang dapat dibuat perbandingannya di Jawa maupun di Madura. Perjuangan IAA Kalsel untuk ‘marabu’ masyaikh, cukup ditinjau dari medan jalannya saja, sudah terbilang luar biasa, medan jalan yang membuat bemper sekelas Agya atau Sigra pasti rusak binasa.
AHAD, 13 Maret 2022
Acara ini ada pada hari ini, Ahad 13 Maret, yaitu haul masyayikh Annuqayah dan reuni. Lokasinya ditempatkan di kampung baru, ujung desa Panyiuran, di kediaman Bapak Junaidi. Ternyata, untuk mencapai lokasi yang cuman kurang dari 3 kilometer dari jalan beraspal, butuh perjuangan lahir batin (bagi kami, mungkin, tapi biasa saja bagi mereka). Jalannya benar-benar menyakitkan. Saya jadi paham, kenapa mobil-mobil yang dipilih disini rata-rata tinggi (jarak sasis dengan tanah/aspal) atau sengaja ditinggikan dan menggunakan ban besar. Kami melewati sebuah jembatan tua yang melintang di atas sungai Riam Riwa yang berarus deras.
Dalam pada itu, satu kejutan terjadi, khusus bagi saya. Ada Pak Sainul Hermawan, dosen Unlam yang datang dari ibukota dengan naik sepeda motor. Tak dinyana sekali karena beliau yang pertama kali saya kenal di UNISMA Malang tiba-tiba nongol di situ.
“Saya melakukan perjalanan jauh hanya untuk memastikan bahwa besok Anda akan datang ke kampus kami, di Banjarmasin. Siapkah?”
“Tentu saja, dong, masa enggak?” jawab saya bercanda, “Tapi, ngapain juga mau ke sana, wong saya tidak bawa celana?”
“Gak apa-apa, tidak masalah. Saya yang jamin.”
“Baik, saya sudah dipanggil untuk ngisi materi,” pungkas saya ketika terdengar nama saya dipanggil di pengeras suara mushalla, berpamitan kepada Pak Sainul. “Kita teruskan besok pagi.”
Dari lokasi haul, kami kembali ke posko. Malam harinya, kami beramah tamah di rumah Ustad Syarwani bin Muhammad Hasan. Acara sedikit molor karena dua hal: kami kecapekan dan cuaca sedikit kurang bagus, gerimis. Akibatnya, rencana bermalam di Banjarbaru digagalkan karena hari sudah terlalu malam. Kami terpaksa bermalam di Madurejo.
SENIN, 14 Maret 2022
Pagi sekali, saya berangkat ke Banjarmasin untuk undangan mengisi kuliah umum di Aula Rektorat Universitas Lambung Mangkurat. Penyelenggaranya adalah FKIP Bahasa dan Seni. Sementara yang lain (Kiai Naqib & Nyai Fadilah, Kiai Mamak dan Pak Fathol Bari, dll), diundang singgah ke kediaman H. Mansur dan kemudian ke rumah Kiai Zuhri (beliau alumni PPA tahun 1968 dan saat ini mengelola Masjid Raudhatul Jannah, sebuah masjid unik di Kampung Melayu Darat, Banjarmasin). Karena acara ke rumah H. Mansur dan Kiai Zuhri tidak seketat acara di kampus—karena acaranya hanya nyanyap makanan—maka tentu saja mereka tak perlu tergesa-gesa berangkat dari PP Atthahiriyah.
Sebelum ke UNLAM—hampir salah nulis UNMUL (padahal yang ini di Samarinda), saya singgah dulu ke rumah Kiai Zuhri karena ternyata masih ada waktu, anggaplah ini jamak taqdim, mendahului rombongan (sementara ke rumah H. Mansur, saya tak bisa datang). Setelah ada kode dari panitia, barulah kami berangkat ke kampus yang jaraknya tak jauh, dekat banget bahkan.
Yang membuat acara di UNLAM itu mengesankan adalah karena saya ditemani oleh pejabat-pejabat kampus yang bertahan duduk sampai akhir. Mungkin karena tak satu pun dari mereka yang kena encok atau asam urat, semua sehat, tidak seperti biasanya yang hanya nongol di awal. Entah itu kebiasaan di UNLAM atau karena keberuntungan saya saja? Kayaknya, sayalah yang beruntung sehingga bisa ditemani Korprodi Pak Sabhan dan Prof. Jumadi, juga Pak Fatah dan Bu Rusma Noortyani, menghabiskan 90 menit di dalam ruangan sampai acara kelar.
Tentu saja, ini sangat membanggakan bagi saya, apalah saya ini hanya receh, yang datang ke Kalimantan Selatan untuk acara haul tapi kemudian dimuliakan lagi untuk hadir di majlis ilmu, di kampus pula, ngomong tentang pernak-pernik menuliskan catatan perjalanan angkutan darat yang kebetulan memang kesukaan saya. Maka, pada kesempatan seperti inilah saya temukan contoh yang tepat untuk peribahasa: sekali dayung, satu banua terlampaui.
Seusai dari UNLAM, saya dijamu makan di restoran terapung, di depan kantor balaikota. Bonusnya, saya bertemu dengan kawan lama, Siti Muflichah, yang sekarang jadi dosen di IAIN. Senang kelewatan kalau begitu jalan takdirnya. Kiai Hasan—salah satu pengasuh di Attahiriyah yang mengantar saya—masih nambahin bonus lagi: ngajak naik perahu ‘klothok’ ke Kampung Hijau, bersama putra Ustad Zuhri, baru setelahnya saya ke Ustad Zuhri kembali. Jika kunjungan pagi tadi hanya menyapa, kunjungan siangnya adalah untuk sempurna. Sementara rombongan yang lain sudah bubar (Kiai Mamak ke Kaltim; Kiai Naqib ke Posko). Tapi, karena hidangannya tidak ikut-ikutan bubar, maka saya masih dipersilakan untuk makan. Laksanakan!
Per hari itu, Senin, seluruh rangkaian kegiatan bisa disebut selesai. Saya hanya nunggu satu malam untuk pulang karena tiket pesawat adalah esoknya, Selasa, 15 Maret. Karena masih ada kelapangan waktu itulah, saya gunakan yang tersisa untuk berziarah ke makam Syaikh Arsyad al-Banjari (ulama yang mengarang banyak kitab, salah satunya Sabilal Muhtadin), bahkan, dalam perjalanan pulang dengan Kiai Hasan itu, kami masih dianugerahi kesempatan untuk menyambangi famili saya dari sesama Bani Ruham yang tinggal di Tapin, yaitu bibinda Hasantul Azizah binti Mahfudh Amiruddin. Tapi, kunjungan saya tak kurang dari satu jam saja karena setelah maghrib, saya sudah harus tiba di Attahiriyah kembali untuk berbincang tentang belajar dan pembelajaran bersama para santri.
Selasa pagi, kami diantar ke Bandara Samsuddin Noor, dan masih seperti kemarinnya, kami ambil bonus terakhir, ziarah ke Guru Ijay untuk yang kedua kalinya.