Sepintas kalimat itu mirip dengan kalimat yang rada-rada sakral bagi kaum Muslimin yakni kalimat “Sembah sujud dikaki orangtua”, tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan, apalgi melecehkan kesakralannya, really…beleave me.
Kalimat itu spontan terucap dari mulut opa, ketika kami skeluarga lagi bercengkrama dalam keluarga kecil kami tentunya di rumah kami yang kecil pula ( Alhamdulillah bagi kami rasanya lapang dech). Keluarga di rumah kami terdiri dari Opa, Oma, Papi Mami dan ncle Na, kecil to?.. cumin sehitungan jari sebelah tangan. Sebetulnya ada anggota catu lagi tu yang celalu abcen di rumah, semenjak aku jadi penduduk dunia ini baru ketemu 3 kali lo, beliau tu ncle Ji adik mami, waktu aku lahir beliau lagi kuliah ITS-surabaya, abis tu siap wisuda di berangkat ke Pune-India.
Kisah itu, ee itu apa ini ya..bermula pada suatu sore, setelah aku bangun tidur-siap mandi siap mimik ( se mangat ku lagi tinggi, full power n happy so pasti), ncle Na lagi ga les, papi mami ada opa ada oma baru pulang kantor. Aku main lempar-lempar bola sama opa (bola kecil_kecil lo, ga seperti bolanya piala EURO), bola ku banyak, sekitar empat ratusan di beliin mami papi opa juga, buat mandi bola. Ncle Na dan papi duduk dikursi nonton tv, mami dan oma di meja makan lagi ngemil gorengan bawaan oma sepulang kantor.
Setelah sekian menit main lemparan bola, opa pergi ke ruang depan sementara itu aku main sendiri, tapi disekilingku ada ncle Na, papi mami dan oma, aku merasa haus ( mereka pasti ga ngira aku haus karena belasan menit yang lalu aku baru nenggak susu sebotol penuh) dan mendekat kea rah mami dan oma, lalu naik kekursi makan yang diduki mami – naik nya manjat lo – menyadari aku mau naik ke kursi mami, mami merangkul punggungku biar aman dan tentunya ya aku merasa aman donk. Setelah berdiri di atas kursi mami, aku lupa kalo aku lagi haus, karena aku meliahat banyak mainan baru di meja makan, ada tahu sumedang, ada tempe goring ada bakwan dan ada juga godok ubi – cantik, bulat gedenya persis segede bola mainanku. Aku mengambil satu godok ubi dan kucelup ke gelas mami – kaya Archimedes ngadaain penilitian – mami melarangku dan aku berhenti, tapi air digelas mami aku tumpahin.
Beberapa detik kemudian (aku ga tau persis peristiwanya- karena begitu cepat terjadi ), oma terpekik keras sekali, mami pucat pasi, ncle N dan papi terkejut, lantai berbunyi “ge-de-guk” ( yang bnyi lantai opo jidatku yo?), aku menangis sejadi-jadinya , mami dengan reflex dan penuh penyesalan mengangkat dan memelukku erat-erat, sementara ncle Na , papi dan oma terdiam seribu bahasa. Mendengar kegaduhan itu opa dating menghapiri kami dengan mimic penuh gunda gulana, lantas oma mengambil air minum dan menyuruhku minum aku menolak karena mulutku lagi bertugas menyelenggarakan tangis yang dahsyat.
Setelah beberapa menit kemudian suasana mulai mereda, tangisku mulai kendur dan akhirnya berhenti ( bu kan karena sakitnya udah abis – tapi karena tenaga udah abis untuk bisa menangis lagi). Ketegangan di wajah orang-orang terkasih ku mulai sirna, tanganku tanpa disadari mengambil bola yang banyak di lantai, aku mulai bermain lagi. Ncle Na tersenyum, oma pergi kamar mandi nutuk beruduk untuk solat magrib, papi dan mami duduk mengantarai aku, opa berlalu sambil tersenyum, ketika itulah kalimat itu terucap : “daffa sembah sujud di kaki kursi”. Habis solat magrib oma menyruh mami papi memeriksakan aku ke dokter, aku pun diantar unit gawat darurat rs AwalBrosr. Insya Allah n Alhamdulillah…ra opo-opo.