Miko si musang wartawan kini bekerja di majalah musik “Nada Hutan” yang sudah beralih ke media online. Suatu pagi, ia menerima tugas untuk meliput perkembangan terbaru kasus perebutan nama band “Kotak Ajaib” di Pengadilan Tinggi Hutan Raya.
Miko bergegas ke pengadilan, di mana kelompok lama, Pak Kukang, Bu Panda, dan Mbak Iguana, menggugat trio baru, yaitu Cici Cendrawasih, Tini Tupai, dan Celo Celurut. Mas Clurut sebenarnya adalah pemain lama dari grub band ini, tetapi ketambahan vokalis perempuan yang suara maskulin abis. Band baru ini juga ketambahan pemain bas baru yang pintar nge-rap. Kelompok lama merasa nama Kotak Ajaib adalah hasil jerih payah mereka sejak awal, tapi trio baru sudah mendaftarkan nama itu ke Dewan Kekayaan Hutan tanpa melibatkan mereka.
Sidang berlangsung panas. Hakim Burung Hantu akhirnya memutuskan bahwa trio baru tetap sah memakai nama Kotak Ajaib karena sudah terdaftar secara resmi, sementara gugatan kelompok lama ditolak karena dianggap bukan ranah pengadilan hutan biasa. Meski begitu, Pak Kukang dan kawan-kawan masih ingin memperjuangkan hak mereka ke pengadilan yang lebih tinggi.
Miko menulis berita dengan judul, “Kotak Ajaib, Nama Siapa, Hak Siapa?” Ia menuliskan kegelisahannya, karena ia paham pentingnya penghargaan atas karya dan nama, tapi juga mengerti kadang proses legalitas bisa bikin persahabatan jadi renggang. Miko akhirnya menutup tulisannya dengan pesan, “Di balik kotak ajaib, ada cerita panjang tentang mimpi, kerja sama, dan kadang… luka.”
Miko masih bingung, tapi ia sadar, tugasnya bukan memihak, melainkan menghadirkan cerita yang jujur dan adil untuk semua penghuni hutan musik.
“Yah, kok kita kalah lagi sih? Padahal aku udah bawa jimat dari dukun langganan!” Keluh Pak Kukang.
Mbak Panda menimpali, “Makanya, jangan cuma andelin jimat. Kita tuh kalah gara-gara mereka udah resmi di HAKI.”
Mbak Iguana berkata gusar, “Tapi kan, nama Kotak Ajaib itu penuh kenangan… kotak, penuh sudut segi empat yang luasnya sisi kali sisi.”
Pak Kukang berkata lagi, “Tenang aja, kita juga bakal bikin kenangan baru. Semangat sampai MA, Mahkamah Alamak.”
“Eh, tapi boleh lho kita bikin grup dangdut aja, terus bikin gaya joget kotak-kotak kita, lho!” Mbak Iguana berbinar mengeluarkan idenya.
“Joget kotak-kotak? Kita udah upgrade, sekarang joget kotak Rubik!” Mbak Panda mengomentari dengan sebal.
“Waduh, kalah teknologi nih. Tapi kita nggak akan nyerah! Siap-siap aja, kita naik banding ke pengadilan super tinggi!” Kata Pak Kukang semangat.
“Pengadilan super tinggi? Itu di lantai berapa, ya? Jangan-jangan harus naik lift sambil joget!” Mbak Iguana berjoget gemulai dan ditertawakan teman-temannya.
Miko, wartawan investigasi paling hits di kota, rupanya menguping pembicaraan trio lama ini di bangku kayu kantin pengadilan.
Miko sambil senyam-senyum sendiri sebenarnya mulai curiga. Dia nguping di warung kopi sambil pura-pura ngaduk es teh.
“Kenapa ya, trio lama segigih itu? Masa cuma gara-gara nama doang sampai bela-belain ke pengadilan super tinggi?” Kata Musang dalam hati.
Miko pun menyamar jadi tukang parkir di depan studio latihan Trio Lama.
“Permisi Kak Kukang, parkirnya marebu… Eh, ngomong-ngomong, kenapa sih harus banget nama Kotak Ajaib?”
“Aduh, jangan bilang-bilang ya, di dalam kotak itu sebenernya ada peta harta karun warisan kakek buyut!”
“Makanya, kita nggak mau ganti nama jadi Katok Ajaib. Masa peta harta karun disimpan di celana dalam? Nggak matching!”
“Iya, lagian nanti fans kita bingung. Masa band rock berubah jadi brand celana ajaib?”
Miko langsung mencatat di buku kecilnya, sambil ngakak dalam hati. Musang mulai berpikir dalam hati, “Wah, ternyata di balik nama Kotak Ajaib ada harta karun tersembunyi! Pantesan pada ngotot!”
Miko pusing tujuh keliling. Bagaimana ia mau menuliskan kisah band ini? Daripada pusing-pusing, ia mengambil kail pancingnya dan menuju ke sungai Bengawan Oslo.
Miko duduk di pinggir sungai yang dingin, kailnya nyemplung, matanya menerawang jauh. Sambil nunggu ikan nyangkut, dia merenung.
“Kenapa ya, Trio Lama tidak mau ganti nama jadi Katok Ajaib? Padahal, ada juga tuh band keren, Kancuters, yang namanya aja udah celana dalam banget, tapi tetap eksis dan punya fans!”
Dia garuk-garuk kepala, makin bingung sendiri.
“Apalah arti sebuah nama, ya? Kotak, katok, atau celana dalam… toh yang penting lagunya, persahabatan, dan petualangannya. Nama cuma tempelan, yang bikin spesial itu kenangan dan cerita di baliknya.”
Seekor ikan tiba-tiba nyangkut di kailnya, Musang senyum kecil.
“Mungkin hidup juga kayak mancing. Nama umpannya boleh beda, tapi yang penting ikannya tetap dapet. Hehe.”
Akhirnya, Miko pulang dengan hati ringan, siap menulis artikel, ‘Kotak, Katok, atau Celana Dalam, Yang Penting, Ceritanya Ajaib!’
Jadi, menurut kalian, para pembaca blog super ini, nama itu penting nggak sih?
Di Kutub Selatan yang hangat, hiduplah sekelompok penguin muda yang mulai kebanyakan gaya, nongkrong di bongkahan es sambil nge-vape dari cumi-cumi elektrik asap tinta hitam, balapan seluncur pakai perut, dan main salju sambil nyalain musik techno dari kerang bluetooth.
Pemimpin para penguin adalah Tuan Kademi, seekor penguin tua bijaksana, yang dulunya ikut migrasi besar zaman es. Kademi geleng-geleng kepala melihat kelakuan para bocah. Maka dikeluarkanlah kebijakan baru, siapa pun penguin muda yang membolos sekolah es, bikin bising di koloni, atau melempar salju ke guru, akan dimasukkan ke Barak Beku.
Barak Beku ini sebenarnya bukan tempat menyeramkan. Di dalamnya, para penguin remaja dilatih baris-berbaris di es, diajari memancing ikan pakai etika, dan diwajibkan push-up 10 kali. Pengajar utamanya seekor singa laut mantan marinir bernama Letkol Gusi.
Awalnya, para penguin muda ngambek. Tapi setelah seminggu di Barak Beku, mereka berubah, lebih disiplin, lebih kuat, dan… lebih jago menyelam. Bahkan ada yang bikin marching band pakai kerang dan tulang ikan.
Suatu hari, datang wartawan Burung Camar dari surat kabar Ekspose Es Pos. Dia tanya ke Pak Kademi, “Apakah ini melanggar hak penguin kecil?”
Kademi menjawab dengan santai, “Daripada mereka tumbuh jadi gangster salju, mending dilatih jadi pejuang es!”
Di tengah koloni, pagi yang cerah, tampak Ibu Penguin Salmah sedang mengejar anaknya, Bontot, yang tak mau mandi es.
“Bontot! Kau mau Ibu daftarkan ke Barak Beku kayak si Tono kemarin?!”
“Ampuuuun, Bu! Aku mandi, aku mandi! Tapi airnya dingin banget, bisa gak pake air anget?”
“Kita tinggal di kutub, Nak! Satu-satunya yang panas cuma tuna goreng kremes biduran full non-halal!”
Sementara itu, di rumah sebelah, Ibu Penguin Mince sedang mengintrogasi anaknya yang pulang telat.
“Kamu tadi main ke mana?!”
“Main salju, Bu…”
Ibu Mince menatap tajam anaknya.
“Main salju atau main-mainin hati penguin betina?! Awas ya, sekali lagi pulang telat, Ibu kasih formulir pendaftaran Barak Beku! Ada walrus galak lho di sana!”
“Letkol Gusi?! Nggak, Bu! Aku belum siap mental! Aku masih penguin lugu!”
Dari hari ke hari, para ibu penguin menjadikan Barak Beku sebagai senjata andalan. Di pasar ikan, terdengar percakapan begini, “Anakku kemarin berani bantah, langsung ku ancam, ‘Ayo, mau jadi anak baik atau jadi target latihan menyelam di barak?!’”
“Bagus! Barak Beku bukan tempat hukuman, tapi ancaman penuh kasih!”
Dan Letkol Gusi? Dia makin bingung tiap hari jumlah pendaftar naik.
“Saya ini pelatih atau pengasuh penitipan bocah ya?” gumamnya sambil menatap langit es yang mendung.
Begitulah, Barak Beku jadi mitos paling ampuh sejagat kutub selatan. Bahkan Bontot sampai mimpi dikejar Letkol Gusi sambil bawa sikat gigi.
Suatu hari di tengah badai salju yang santai, Ibu Penguin Surtini membuka aplikasi TokoTok. Tiba-tiba muncul live dari akun @KeyDMe_BekuBanget.
Dengan suara berat, Pak Kademi berkata, “Selamat malam para penguin. Bagi yang anaknya susah diatur, silakan japri. Barak Beku siap menampung. Seragam loreng sudah disiapkan. Pagi-pagi langsung apel, sore latihan menyelam sambil nyanyi mars kutub.”
Ibu Surtini langsung japri, “Pak Kademi, anak saya, Tumpi, tiap disuruh belajar malah main batu es.”
“Baik Bu, kirim koordinat iglo, tim penjemput siap. Tumpi siap dilatih hormat ke plankton.”
Pesan ini otomatis masuk feed publik. Viral seketika.
Di rumah Tumpi…
“Bu… Bu… itu barak beneran, ya? Aku janji, aku belajar. Aku bikin puisi tentang es, tabel nutrisi ikan, dan hafal nama semua jenis plankton malam ini juga!”
Ibu Surtini berpura-pura serius.
“Loh, barak bukan tempat main-main, Tumpi. Kau mau disuruh push-up di atas bongkahan es? Mau disuruh teriak ‘Saya penguin disiplin!’ 100 kali di tengah badai?”
Tumpi langsung pakai seragam sekolah dan sepatu hitamnya.
Sementara itu, di TokoTok live, Pak Kademi garuk-garuk kepala.
“Lho… saya becanda lho, becanda. Ini barak bukan pesantren es! Jangan beneran pada japri semua dong…”
Kolom komentar penuh.
@penguinemak2 : “Becanda bapak bikin anak saya tiba-tiba rajin nyapu iglo!”
@mamabeku : “Lanjutkan, Pak Kademi. Anak saya belajar salat tunduk ke arah freezer!”
Akhirnya, Kademi pasrah.
“Ya sudah… saya ganti profesi. Dari gubernur jadi motivator kutub. Salam dingin, salam disiplin!”
Dan begitulah, dari sekadar bercanda, Pak Kademi jadi legenda. Anak-anak takut, emak-emak bahagia.
Di sebuah rapat Zoom para pemimpin daerah kutub, Kademi muncul dengan baju putih dan topi bintang satu. Di layar muncul Walikota Kupu-Kupu Laut dari Selatan dan Lurah Lobster dari Pantai Timur.
Walikota Kupu-Kupu Laut berkata, “Pak Kademi, luar biasa efeknya! Anak saya yang biasanya merengek minta nonton TokoTok, sekarang tiap pagi push-up di atas spons laut!”
Lurah Lobster ikut komentar. “Saya juga, Pak. Anak-anak kampung saya langsung belajar naik sepatu sirip rapi setelah lihat video barak Bapak. Tolong kirim draft SOP-nya.”
Pak Kademi senyum puas.
“Wah, saya cuma bercanda lho waktu itu… Tapi kalau jadi tren nasional bawah laut, ya silakan. Kita bentuk Barak Nasional, Bekukan Emosi, Cairkan Disiplin!”
Lalu muncul Kepala Distrik Ikan Hiu dengan wajah serius.
“Saya keberatan. Anak-anak jadi takut makan. Mereka pikir nasi kelapa diselipin surat perintah barak!”
“Yah, itu risiko jadi viral, Pak. Tapi jangan khawatir, kami sudah rekrut pelatih dari sekolah militer udang.”
Moderator Zoom menengahi, “Kita sudahi saja, ini makin dingin suasananya. Dan tolong, yang ngirim anaknya ke barak jangan lupa bawa sarung tangan dan semangat hidup ya.”
Zoom ditutup dengan semua kepala daerah berdiri hormat ke layar sambil teriak, “Satu ikan, sejuta disiplin!”
Dan sejak itu, lahirlah istilah baru di dunia laut, “Kena barak, baru tobat.”
Di tengah salju kutub yang mulai mencair gara-gara debat panas, berlangsunglah konferensi pers bawah laut yang disiarkan langsung oleh channel “Kutub News Now!”. Di sana hadir pihak kontra yang tak kalah semangat.
Ketua Komisi Hak Anak Laut (KHAL), seekor Gurita berkacamata tebal, angkat tentakel.
“Kami protes! Anak-anak itu bukan alat uji coba! Mereka bukan mesin pengolah plankton! Mengancam tinggal kelas kalau gak ke barak? Itu pelecehan hak biologis dan psikologis!”
Juru bicara oposisi Pak Kademi, seekor cumi-cumi ikutan protes.
“Kademi itu gak logis! Masa anak nakal disuruh push-up 50x lalu disiram air es! Kami dulu nakal disuruh baca puisi dan ikut lomba menyulam karang!”
Tiba-tiba, mikrofon diambil oleh seekor Ikan Buntal, alumni barak militer.
“Saya alumni barak! Dulu saya pemalas, sekarang saya bisa nyapu es pakai sirip sambil hormat!”
“Tapi katanya kamu masih suka ngupil pakai ekor?”
“Itu refleks bawah laut! Beda urusan!”
Pak Kademi muncul lewat layar hologram.
“Saya tidak memaksa siapa pun. Tapi kalau pilihan antara tinggal kelas atau tinggal di barak, ya itu pilihan… agak ‘terpaksa’, sih, hahaha.”
Gurita KHAL berkata sambil bergetar.
“Hukum dasar laut menyebut, tidak boleh ada paksaan selain paksaan makan rumput laut tiap Senin!”
Akhirnya, konferensi ditutup oleh moderator Penyu tua yang bijak.
“Semua pihak silakan menenangkan diri. Ingat, sebelum ngasih hukuman, pastikan anaknya udah sarapan.”
Konferensi pun bubar. Anak-anak yang menonton dari rumah tetap berdebar… antara takut masuk barak atau takut mamanya lapor ke Kademi lewat livestream Tokotok lagi.
Di akhir kisah yang penuh salju, barak, dan drama, suasana pun mulai mencair, bukan karena pemanasan global, tapi karena testimoni penuh haru dan sedikit lucu dari Mama Penguin, penguin single parent dengan tiga anak bandel.
Mama Penguin berdiri di depan kerumunan penguin dan media laut sambil memegang mikrofon es.
“Awalnya saya pikir anak saya bakal jadi penguin kriminal. Lari-lari di es, nyolong ikan tetangga, dan ngetik komen jahat di postingan Pak Kademi. Tapi setelah masuk barak… Alhamdulillah.”
“Bagaimana perubahan yang paling terasa, Bu?” Tanya seekor wartawan Ikan Hering.
“Dulu kalau saya bilang ‘ayo mandi’, dia kabur ke celah es. Sekarang? Dia yang ngingetin saya mandi! Bahkan, tadi pagi dia nyetrika bulu saya!”
Anak Penguin malu-malu sambil pegang bendera barak.
“Ibu, kita kan janjian… jangan cerita bagian nyetrika, malu aku di depan wartawan.”
Pak Kademi tersenyum lewat layar hologram Tokotok sambil ngopi matcha imitasi dari rumput laut.
“Anak-anak bukan harus ditakuti, tapi diarahkan. Tapi kalau susah diatur… ya dikirim dulu ke barak, baru diatur!”
Seluruh penguin tertawa, lalu anak-anak barak serempak membacakan perjanjian.
“Aku berjanji Tidak akan nakal, Tidak akan ngupil di meja makan, Dan akan taat pada mama, papa, dan peraturan barak!”
Penyu Tua Moderator duduk sambil ngemil kerang. “Begitulah… kadang butuh salju yang dingin untuk membentuk hati yang hangat.”
Semua penguin bersorak gembira, lagu “Bersatu Dalam Barak” diputar, dan anak-anak barak berjoget senam militer versi kutub.
Cerita pun ditutup dengan tulisan besar di salju, “Barak bukan tempat menakutkan, tapi tempat menemukan versi terbaik dari kita.”
Suasana temaram di kantor konten TokoTok. Hanya ada satu admin kepercayaan Kademi tengah mengetik sesuatu di depan komputer. Asistennya PakKademi, Ikan Cupang.
“Pak Kademi, laporan masuk lagi, barak full pengajuan!”
Pak Kademi mengusap kepala yang bulunya mulai rontok, yang terpaksa ia tutupi ikat kepala putihnya.
“Astaga, lagi-lagi. Siapa sekarang? Anak ngambek lagi?”
“Bukan, Pak. Ini… warga laporin ibunya sendiri. Katanya ibunya suka ngutang ikan teri ke warung gurita tapi gak dibayar-bayar.” “Lah, itu masalah utang, bukan nakal! Suruh dia mediasi, jangan dikit-dikit barak!”
“Ada juga laporan dari istri penguin. Suaminya katanya terlalu cinta mancing udang krill. Sampai-sampai lupa ulang tahun pernikahan. Minta dikirim ke barak agar bisa merenung.”
“Barak itu bukan tempat bertapa, Bu! Itu buat anak-anak nakal, bukan buat suami yang lupa tanggal spesial!”
“Nah, ini laporan paling parah, Pak. Seorang penguin minta tetangganya masuk barak karena ketahuan main judi online… taruhan bola salju cumi.”
“Bola salju cumi?”
“Ada screenshot, Pak. Taruhannya 2 ember plankton dan seekor gurita muda.”
“Aduh… saya bikin barak buat mendisiplinkan anak, bukan biar warga nyuruh semua orang masuk sana kayak penitipan beban hidup!”
Tiba-tiba masuk chat Tokotok Live.
“Pak Kademi, boleh gak mertua saya masuk barak? Dia suka nyampah dan nyanyi dangdut volume 98 di pagi hari pakai sound horeg kapal di tengah laut!”
“Besok barak saya ganti jadi rumah terapi nasional penguin sekutub!”
“Mau saya cetak spanduknya, Pak?”
“Jangan! Nanti warga makin semangat nyetor calon peserta!”
Semua tertawa… kecuali Pak Kademi yang sibuk googling lowongan kerja di daerah tropis. Memang ada, tetapi lowongannya baru buka di tahun 2029.
Di tengah rimbunnya Hutan Serbaguna, semua binatang hidup damai dan saling bantu. Namun, sejak Kementerian Daun dan Digitalisasi (KDD) berdiri, dunia maya di hutan makin ramai. Tugas KDD awalnya adalah menjaga agar situs pornografi bisa diblokir. Namun, perkembangan berikutnya di Daun-Net muncul berbagai gambar dewa langit Zeus sambil di bawahnya tertera situs judi online. KDD punya tugas baru, membuat Daun-Net tetap bersih dari situs judi-judi online yang telah membuat tupai-tupai muda tergelincir utang pinjol daun kering.
Dan masalah muncul…Akibat ulah seekor musang bernama Musmin dan rekan-rekannya di KDD punya akses penuh ke Server Akar, pusat pemantauan seluruh jaringan Daun-Net.
“Eh, gimana kalau situs judi itu jangan diblokir semua,” bisik Musmin ke teman sekerjanya, Berang-berang ahli coding.
“Loh, itu tugas kita buat ngebersihin!”
“Iya… tapi kalau kita biarin satu-dua hidup, nanti kita dikirimi madu premium tiap bulan. Lumayan buat beli keyboard daun mekanikal.”
Akhirnya, 1.000 situs judi daun dibiarkan hidup. Bahkan diberi label palsu, “Website Pendidikan Daring, Cara Cepat Menang Undian Acak!”
Para tupai muda makin keranjingan, iguana tua mulai buka warung tepi hutan sambil buka taruhan ular vs tikus.
Musmin senyam-senyum sendiri karena notifikasi rekeningnya berbunyi terus tanda saldo masuk. Ia teringat tiga bulan yang lalu, Musmin, si pegawai Komdigi yang kala itu bertugas sebagai Direktur Pengamanan Daun-Net, yang hidupnya tampak sederhana. Ia mengenakan kemeja flanel, celana yang pinggangnya selalu diganjal ikat daun pisang karena lupa beli ikat pinggang beneran.
Saat itu angin sepoi, kelapa bakar mengepul, Musmin menyamar pakai kaos kasual biasa yang malah bikin dia makin mencurigakan. Sedangkan di hadapannya ada Bos Judi Online, Bang Ken Thir as known as Jack Pot, seekor Luwak paruh baya. Bang Ken Thir adalah pengusaha sangat fleksibel, pagi buka situs judi, siang buka warung kopi buat rapat rahasia. Dikenal sebagai Bandar Multitalenta, yang bisa memberi diskon deposit sekaligus nyanyi di hajatan warga. Ia punya moto hidup, “Kalahkan hidup dengan keberuntungan, bukan kerja keras.”
Bang Ken menyeruput sebentar air kelapa.
“Jadi begini, Pak Musmin… saya cuma pengusaha hiburan rakyat kecil. Situs saya cuma buat yang mau cari keberuntungan. Masa iya, keberuntungan harus diblokir?”
Musmin menggaruk kepala, padahal gak gatal.
“Iya, Bang Ken. Tapi aturan dari Komdigi sekarang ketat. Semua situs harus bersih dan sehat. Situs anda… yaaa… kayak gorengan seminggu gak digoreng ulang.”
Bang Ken geser amplop berisi daun kering mirip duit, “Aduh, Pak… masa sih situs saya harus dianggap penyakit digital? Padahal yang main juga pejabat…”
“Hush! Jangan sebut-sebut itu di sini! Warung ini ada CCTV, walau cuma tempelan stiker.”
“Gini deh, saya tambahin slot edukatif. Judulnya, “Pilih Gambar Paling Gagal Move On”, biar pemainnya sekalian belajar psikologi.”
“Slot edukatif? Itu bukan edukatif, itu jebakan!”
“Oke, oke. Saya nawar, Pak. Untuk satu tahun gak diblokir, saya siap setor… 10 juta daun hijau per bulan.”
Sambil pura-pura menolak, Musmin tersenyum, padahal matanya berbinar seperti kodok melihat lalat.
“Hmmm… terlalu kecil. Gaji saya segitu hanya bisa buat beli casing HP saja. Tambah dong.”
“Baiklah. Saya kasih 20 juta daun plus bonus token spin gratis tiap Jumat kliwon.”
Wajah Musmin tampak serius sejenak, lalu bisik pelan,
“Tapi jangan pernah masukin nama saya di log, ya. Saya alergi jejak digital, apalagi jejak dosa.”
Sambil nyengir, Bang Ken membalas, “Aman, Pak.”
Musmin pun menerima tawaran tersebut.
Hingga saat ini, untuk terakhir kalinya. Karena hati kecilnya mulai gelisah. Apalagi dompet mulai berat, tapi hati makin tipis.
Karena di sisi lain, istrinya, Darlina, justru tampil bak ratu influencer hutan Instagram.
Darlina dikenal se-hutan, tas kulit kelabang bermerek Kalpita, jam tangan dari tempurung kura-kura merek Rolls-Time, mobil balap daun bermesin kelapa tua, dan tentu saja, iPhone keluaran terbaru, meskipun sinyal di hutan lebih sering nyantol ke pohon ketimbang ke menara BTS.
“Dari mana uangnya, Bu Dar?” tanya Tupai pengantar logistik JENTE sambil heran karena Bu Derlina terlalu sering beli barang online yang diantar ke rumahnya. Tak ayal membuat kurir itu bertanya dan tanya.
“Ini berkat kerja keras suami saya di Komdigi,” jawabnya sambil senyum menyesatkan seperti tanda belok kiri tapi beloknya ke kanan.
Tapi seluruh warga hutan tahu, gaji pegawai Komdigi, bahkan yang eselon daun paling tinggi pun, tak akan sanggup beli casing iPhone yang asli, apalagi iPhonenya.
Rumor pun berkembang, Musmin terlibat dalam praktik perlindungan situs judi online. Situs yang katanya untuk hiburan digital, tetapi isinya lebih bikin susah dari pada main ular yang makan titik-titik di hape jadul.
Memang Nyonya Darlina menjalani hidup bak selebritas hutan. Tiap minggu ganti tas. Kuku dijepit diamond imitasi dari ikan lele kilap. Makan selalu unggah ke DaunGram dengan caption, “Makan siang sederhana dulu yaa… cuma abalone panggang di atas sarang semut Jepang #blessed #sederhanaTapiMevvah” di akunnya @Darlina_SpingaLova.
Sementara itu suaminya, Musmin makin gelisah. Awalnya ia cuma nutup mata soal sumber uang. Tapi lama-lama makin gak bisa tidur. Setiap malam dibayangi mimpi buruk, disidang di depan Dewan Etika Hutan oleh seekor buaya bermata dua dan burung hantu yang bawa CCTV.
Hari sial itu tiba. Moonkey J. Heart, seekor wartawan monyet dari situs hutan sebelah, HutanMelek.com menyelidiki aliran dana dari situs SlotDaun888 yang ternyata mengarah ke rekening atas nama istri Musmin, Darlina. Berita pun pecah, “Istri Pejabat Komdigi Dapat Transfer Rutin dari Situs Judol! Tas Mevvah Diduga dari Uang Haram!”
Masyarakat hutan gempar. Netizen daun melempar komentar sinis,
“Tasnya branded, moralnya expired.”
“Pakai uang judi tapi bilang syukur. Lah, syukurnya siapa?”
Musmin yang dulunya merasa yang penting gak ketahuan, kini dihantam rasa malu. Ia tak bisa membela diri. Istrinya pun masih belum ngeh dengan kondisi sekarang. Ia tampak lebih peduli pada koleksi kutek beraroma lavender ketimbang reputasi keluarga. Kebiasaan Darlina yang hobi pamer di medsos, suka pakai tas merek Louistonton, dan jago bikin konten unboxing iPhone tiap 3 minggu sekali semakin mejadi-jadi. Nama belakang akun DaunGramnya saja adalah Spingalova dia pakai sendiri biar terkesan seperti sosialita Eropa padahal tinggal di kompleks Griya Kapuk Indah.
Rekening Musmin makin gemuk, tapi rekening Darlina lebih gemuk lagi sampai-sampai pihak bank nanya, “Bu, ini saldo ibu udah melebihi berat total semua ikan paus di laut selatan. Kita khawatir, bukan bangga.”
Darlina hanya menjawab, “Alhamdulillah, rezeki anak solehah. Suamiku Musmin selalu kerja keras di Komdigi. Kadang sampai keringetan duduk!”
Sementara itu, Bang Ken sibuk kirim pesan ke Musmin..
Investigasi langsung terus berlangsung. Seekor tupai terbang reporter bernama Edward meneruskan penyelidikan dari Moonkey, semakin mencium gelagat tak beres. Ia menyamar jadi pelanggan, mengikuti aliran madu dan menemukan daftar panjang transfer madu premium ke akun bernama MusAngin123.
Edward meledakkan berita ini lewat kanal HutanTV. Dunia binatang geger. Tikus hutang, tupai stres, dan musang yang tadinya santai sekarang diburu oleh aparat Rusa Polisi.
Sidang diadakan Di Balairung Pohon Beringin, sidang digelar. Musmin berdiri gemetar.
“Saudara Musmin, mengapa anda melakukan ini?” tanya Hakim Gajah.
“Saya… hanya mencoba bertahan hidup dengan kreatif, Yang Mulia.”
“Kreatif bukan berarti menanam ladang dosa di server akar!” bentak Hakim Gajah sambil mengetukkan palu dari kayu jati asli.
Melihat kekacauan ini, Burung Hantu Tua, penasihat hutan, memberikan nasihat.
“Jangan biarkan penjaga gerbang memegang kunci emasnya sendiri. Pengawasan harus berlapis. Buatkan sistem transparan di mana siapa pun bisa melihat situs apa yang diblokir atau tidak. Kalau perlu, tiap pegawai KDD wajib disumpah di atas akar sakti dan diawasi oleh tim semut auditor.”
Akhirnya, semua pegawai KDD menandatangani Pakta Daun Integritas. Situs judi dibersihkan, dan Server Akar kini dijaga ketat oleh tim gabungan tupai, semut, dan seekor burung hantu dengan VPN.
Darlina saat di pengadilan, seekor burung hantu tua bijak yang bertanya, “Apakah benar semua tas mewah, gelang emas, dan iPhone yang dibeli Ibu berasal dari suap situs judol?”
Darlina berdiri dengan bulu megar, “Tidak, Yang Mulia. Itu semua rezeki dari konten TikTok saya. Saya kerja keras jadi influencer halal…”
Burung Hantu mengangkat satu alis bulu, “Tapi akun TikTok Ibu isinya cuma unboxing barang dari Musmin. Itu bukan kerja keras. Itu kerja menyedot dana rakyat.”
Darlina gugup, lalu tiba-tiba suaminya, Musmin si Musang, ikut maju. Dia berkata, “Saya hanya ingin membuat keluarga saya bahagia. Dan Om Ken bilang, ‘Bahagia itu bisa dibeli pakai chip 500 ribu.’ Saya terjebak, Yang Mulia…”
Sementara itu, Musmin, Darlina dan beberapa oknum KDD divonis hukuman sosial. Semua tas Darlina disita. Akun media sosialnya dibekukan. Musmin disuruh kerja jadi pengawas warnet edukatif di lapas.